ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Factors Associated with Nursing Documentation in Electronic Medical Records at RSUD Sawerigading Palopo, 2025 Pratiwi1*. Andi Sastria2. Asriadi2. Indra Amanah3 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Profesi Ners. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo *Correspondence: Pratiwi. Address: Jalan Andi pratiwibahar009@gmail. Ahmad. Kota Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia 91913. Email: Received: 23 Juni 2025 U Revised: 28 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT Nursing documentation in electronic medical records (EMR. is a critical component in enhancing the efficiency of nursing services and the quality of patient care. However, the implementation of EMRs in some hospitals still faces various challenges. Factors such as nursesAo knowledge, performance, and supervision are believed to influence the quality of nursing This study aimed to analyze the factors associated with nursing documentation in EMRs at RSUD Sawerigading Palopo. A quantitative study with a cross-sectional approach was conducted involving 40 nurses working in inpatient wards, selected through purposive sampling. The results showed that knowledge, performance, and supervision were significantly associated with the quality of nursing documentation in EMRs. These findings suggest that improving training and supervision for nurses may enhance the quality of nursing documentation in electronic medical records. ABSTRAK Dokumentasi keperawatan dalam rekam medik elektronik (RME) merupakan aspek penting dalam peningkatan efesiensi pelayanan keperawatan dan kualitas asuhan pasien. Namun, penerapan RME di beberapa rumah sakit mash menghadapi berbagai kendala. Faktor-faktor seperti pengetahuan,kinerja, dan supervisi perawat diduga berhubungan dengan kualitas dokumentasi keperawatan dalam RME. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan dokumentasi keperawatan dalam RME di RSUD Sawerigading Palopo. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 40 perawat yang bekerja diruang perawatan RSUD Sawerigading palopo, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengetahuan, kinerja, dan supervisi perawat berhubungan secara signifikan dengan dokumentasi keperawatan dalam RME di RSUD Sawerigading Palopo. Oleh karena itu, peningkatan pelatihan dan pengawasan terhadap perawat diharapkan dapat meningkatkan kualitas dokumentasi keperawatan dalam RME. Keywords: electronic medical records. nursing documentation. quality of care Pendahuluan Dokumentasi keperawatan dalam rekam medik elektronik merupakan catatan digital yang mencakup semua informasi dan tindakan yang berkaitan dengan perawatan pasien (Indah Kurniawati, 2. Penggunaan dokumentasi meningkatkan efesiensi dan kualitas perawatan pasien serta meningkatkan kolaborasi antara anggota tim kesehatan (Solehudin, 2. Dokumen ini biasanya berisi data identitas pasien, hasil pemeriksaan medis, diagnosis, rencana pengobatan, serta observasi yang dilakukan oleh 74 | E-ISSN: 2963-6434 perawat untuk memastikan perawatan sesuai dengan kebutuhan klien (Indah Kurniawati. Dokumentasi keperawatan sangat penting karena bisa menjadi alat pertanggung jawaban jika terjadi masalah hukum terkait perawatan yang diberikan serta memberikan bukti jika salah satu pihak mengajukan gugatan terkait pemberian layanan atau perawatan profesional (Daryana et , 2. Dokumentasi adalah catatan yang dapat diverifikasi atau dibuktikan dari segala jenis Perawat harus mampu mencatat dokumen A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Pratiwi et al. secara lengkap, jelas, dan dapat dimengerti oleh orang lain. Semua tenaga medis baik dokter, perawat, maupun tenaga medis lainnya yang terlibat dalam pengobatan bertanggung jawab untuk mendokumentasikan semua tindakan yang di lakukan. Dokumentasi keperawatan merupakan media komunikasi antara staf keperawatan dengan tenaga kesehatan lainnya (Nina Risdianty. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 Setiap menyelenggarakan rekam medis elektronik. fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat . terdiri atas, tempat praktir mandiri dokter, dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainya seperti Puskesmas. Klinik. Rumah Sakit. Apotek. Laboratorium Kesehatan. Fasilitas Pelayanan Kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri. Rekam Medis adalah dokumen yang berisikan data identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Dokumentasi keperawatan Rekam Medis Elektronik dilakukan sejak Pasien masuk sampai Pasien pulang, dirujuk, atau meninggal (Permenkes No. Rekam medik elektronik merupakan subsistem dari sistem informasi fasilitas pelayanan kesehatan dan terhubung dengan subsistem informasi lain yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, semua penyedia layanan kesehatan, termasuk staf perawat, harus mendokumentasikan semua perawatan dalam rekam medis elektronik. Semua kunjungan keperawatan diinformasikan melalui catatan tertulis yang mencakup ringkasan singkat kebutuhan keperawatan pasien dan prosedur yang dilakukan (Daryana. Iin Inayah. Gunawan Irianto. Blacius Dedi, 2. Namun, di Indonesia tidak semua institusi kesehatan mengadopsi sistem ini. Saat ini, terdapat 78 rumah sakit yang telah menggunakan 75 | E-ISSN: 2963-6434 teknologi rekam medik elektronik, meskipun sebagian besar belum memanfaatkan secara maksimal (Tuti Suryani. Freddy W. Wagey. Selain itu, penggunaan RME juga belum Contohnya, di salah satu rumah sakit tersbesar di indonesia. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), penerapan RME masih tergolong rendah akibat kurangnya standar operasional prosedur (SOP), sumber daya manusia, serta fasilitas dan infrastruktur yang diperlukan (Hilhami et al. , 2. Namun masih ada beberapa hal yang dapat memengaruhi kualitas rekam medik elektronik keperawatan. Kualitas dokumen perawat dapat di pengaruhi oleh banyak faktor, termasuk motivasi perawat, pelatihan, lingkungan kerja, sistem pembayaran dan hukuman beban kerja dan kompensasi (Niken Agustinah. Farid Agushybana, 2. Menurut laporan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) yang dilakukan pada awal tahun 2022, dari 2258 rumah sakit di Indonesia, 993 . %) belum menerapkan RME, 912 . ,4%) telah menerapkan, dan 353 . ,6%) baru menerapkan. Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara. Indonesia masih berada di rentang 40,4%. Menurut data terbaru dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan tahun 2022, sekitar 345 rumah sakit, atau 60% dari rumah sakit di Indonesia, telah menerapkan RME sepenuhnya (Maisya, 2. Menurut penelitian Fadilah . pada bulan maret tahun 2023 diRSUD pameungpeuk mulai menggunakan rekam medis elektronik dengan bantuan yayasan SIMRS khansa, yang sesuai dengan program pemerintahan provinsi jawa Menjelaskan . , dan sikap dapat memengaruhi dokumentasi tindakan keperawatan (Daryana. Iin Inayah. Gunawan Irianto. Blacius Dedi, 2. Pratiwi et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Menurut data dari Dinas kesehatan palopo Rekam medik elekronik telah di terapkan 100% di seluruh rumah sakit maupun puskesmas di kota Berdasarkan wawancara dan observasi di satu rumah sakit pemerintahan sawerigading Data yang didapatkan diruang sistem informasi manajemen rumah sakit sawerigading (SIMRS) adalah, telah di terapkan rekam medik elektronik pada akhir tahun 2019 tetapi belum maksimal hingga sekarang. Terdapat 115 jumlah komputer di rumah sakit sawerigading, yang di gunakan tersebar di setiap ruangan dan terdapat 242 perawat di rumah sakit sawerigading palopo yang masih belum maksimal menggunakan rekam medik elektronik. Dimana jumlah pasien dirumah sakit sawerigading memiliki jumlah pengunjung yang lebih banyak dari pada rumah sakit lainnya yang dapat mempengaruhi pendokumentasian dengan menyebabkan pendokumentasi sedikit terhambat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor dokumentasi keperawatan dalam RME di RSUD Sawerigading Palopo. Metode Jenis dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan bulan Januari-Februari 2025. Variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 variabel yaitu variabel independen dan dependen, variabel independen pengetahuan, kinerja perawat, supervisi sedangkan variabel dependen adalah dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik. Populasi dalam penelitian ini semua perawat yang bekerja diruang perawatan Anggrek,Dahlia. Cemara, dan Edelweis. Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan Teknik purposive Yaitu mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia sebanyak 40 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan data primer yang diambil langsung dari responden melalui pengisian kuesioner. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan editing, coding, entry data dan Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariate untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan taraf Signifikansi . <0. Hasil Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden . Karakteristik Umur 28-40 tahun 41-51 tahun Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan terakhir Ners Lama Bekerja >10 Berdasarkan tabel 1 dalam penelitian ini menunjukan bahwa persentase usia responden tertinggi adalah 41-51 tahun sebanyak 21 orang . ,5 %) dan paling rendah adalah usia 28-40 https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 76 Pratiwi et al. tahun sebanyak 19 orang . ,5%). Berdasarkan tabel diatas, yang terdiri dari responden berjenis kelamin laki- laki sebanyak 1 orang . ,5%) sedangkan responden yang berjenis kelamin perempuan 39 orang . ,5%), adapun Pendidikan terakhir responden yaitu Ners sebanyak 17 orang . ,5%). S1 10 orang . ,0%). D3 13 orang . ,5%). Selanjutnya mayoritas responden yang memiliki masa kerja 1-5 tahun 4 . ,0%), responden yang memiliki masa kerja 6 - 10 tahun . ,5%), dan responden yang memiliki masa kerja >10 tahun . ,5%). Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan, kinerja, supervise perawat dan dokumentasi keperawatan RME diruang perawatan rawat inap RSUD Sawerigading Palopo tahun 2025 . Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kinerja perawat Baik Cukup Supervisi perawat Sesuai Tidak Sesuai Dokumentasi keperawatan RME Sesuai Tidak Sesuai Berdasarkan tabel 2, dari 40 responden yang diteliti, diketahui bahwa mayoritas memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebanyak 23 responden . ,5%), sementara 17 responden . ,5%) memiliki pengetahuan cukup. Tingkat kinerja perawat juga menunjukkan hasil yang baik, dengan 31 responden . ,5%) memiliki kinerja yang baik dan 9 responden . ,5%) dengan kinerja Selain itu, dari 36 responden, sebagian besar telah melaksanakan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) sebanyak 33 responden . ,7%), dan hanya 3 responden . ,3%) yang belum sesuai SOP. Hasil lain menunjukkan bahwa dari 36 responden, sebanyak 33 orang . ,7%) keperawatan secara elektronik melalui Rekam Medis Elektronik (RME). Tabel 3. Hasil uji person chi-square antara pengetahuan dengan dekomentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap di RSUD Sawerigading Palopo . Dokumentasi keperawatan RME Pengetahuan Baik Cukup Total 77 | E-ISSN: 2963-6434 Dilakukan Tidak dilakukan Total P-Value 0,040 Pratiwi et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa responden dengan pengetahuan baik sekitar 22 . ,0%) dengan dokumentasi keperawatan RME yang dilakukan, dan responden dengan dokumentasi keperawatan RME yang tidak dilakukan sebanyak 1 . ,5%). Sedangkan responden dengan pengetahuan cukup yang melakukan dokumentasi keperawatan RME sebanyak 11 responden . ,5%) dan responden dengan pengetahuan cukup yang tidak melakukan dokumentasi keperawatan RME sebanyak 6 . ,0%) dari 40 responden. Dari hasil uji statistic menggunakan uji chisquare dengan melihat nilai fisherAos Exact test keperawatan rekam medik elektronik didapatkan nilai p-value sebesar 0,016, yang berarti <0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara pengetahuan perawat dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap Anggrek. Cemara. Dahlia dan Edelweiss di RSUD Sawerigading Palopo. Tabel 4. Hasil uji person chi-square antara kinerja perawat dengan dekomentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap di RSUD Sawerigading Palopo . Dokumentasi RME Total Kinerja perawat Dilakukan Tidak dilakukan P-Value Baik 55,0% 2,5% 0,016 Cukup 27,5% 15,0% Total 82,5% 17,5% Berdasarkan Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa responden dengan kinerja perawat baik sekitar 22 . ,0%) dengan dokumentasi keperawatan RME yang dilakukan, dan responden dengan kinerja perawat baik yang tidak melakukan dokumentasi keperawatan RME sebanyak 1 . ,5%). Sedangkan responden dengan kinerja perawat cukup yang melakukan dokumentasi keperawatan RME sebanyak 11 responden . ,5%) dan responden dengan kinerja perawat cukup yang tidak melakukan dokumentasi keperawatan RME sebanyak 11 . ,0%) dari 40 Dari hasil uji statistic menggunakan uji chisquare dengan melihat nilai fisherAos Exact test antara kinerja perawat dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik didapatkan nilai p-value sebesar 0,016, yang berarti <0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara kinerja perawat dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap Anggrek. Cemara. Dahlia dan Edelweiss di RSUD Sawerigading Palopo. Tabel 5. Hasil uji person chi-square antara supervise perawat dengan dekomentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap di RSUD Sawerigading Palopo . Dokumentasi keperawatan RME Supervisi Baik Cukup Total Dilakukan Tidak dilakukan Total P-Value 0,034 https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 78 Pratiwi et al. Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa Sebagian besar responden dengan supervisi baik sekitar 28 . ,0%) dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik yang dilakukan dan responden dengan supervisi cukup dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik yang tidak melakukan sebanyak 3 . ,5%) sedangkan responden yang memiliki supervisi cukup dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik yang dilakukan sebanyak 5 . ,5%) dan responden supervisi yang cukup dengan dokumentasi keperawatan RME yang tidak dilakukan sebanyak 4 . ,0%). Dari hasil uji statistic menggunakan Uji chisquare dengan melihat nilai fisherAos Exact test antara supervisi dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik menunjukkan bahwa nilai p- value sebesar 0,034% yang berarti <0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik Anggrek,Cemara,Dahlia dan Edelweiss di RSUD sawerigading palopo. Pembahasan Hubungan Pengetahuan Perawat dalam penerapan dokumentasi keperawatan rekam medik elektroni RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Sawerigading palopo tahun 2025, diperoleh data mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan perawat dengan pelaksanakan dokumentasi keperawatan dalam rekam medik dari 40 perawat yang menjadi pengetahuan baik sebanyak 23 responden . ,5%), sementara sisanya memiliki tingkat pengetahuan cukup, yakni 17 responden . ,5%). Dari hasil tabulasi silang menujukkan bahwa dari 79 | E-ISSN: 2963-6434 23 perawat yang memiliki tingkat pengetahuan . ,0%) melaksanakan dokumentasi keperawatan dalam RME, sedangkan 1 responden . ,5%) yang tidak melakukan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik. Sementara itu, dari 17 perawat dengan tingkat pengetahuan cukup, sebanyak 11 responden . ,5%) yang melakukan dokumentasi keperawatan RME, dan 6 responden . ,0%) tidak melakukan dokumentasi keperawatan RME. Dari hasil uji fisherAos Exact test pengetahuan dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik didapatkan nilai p-value sebesar 0,016, yang berarti <0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara pengetahuan perawat dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap di RSUD sawerigading Hasil penelitian Tuti Suryani. Freddy W. Wagey, . dapat dilihat dimana tingkat pengetahuan dominan baik dengan kelengkapan berkas rekam medis yang lengkap sebanyak 25 responden . 75%), dan tingkat pengetahuan yang kurang dengan pengisian rekam medis yang tidak lengkap 6 responden . 18%), dimana hasil uji analisis statistik dengan menggunakan chi square didapati adanya pengaruh yang signifikan antara variabel pengetahuan dengan kelengkapan berkas rekam medis dimana nilai p=0. 000 dengan nilai odd ratio 150, artinya bahwa pengetahuan 150 kali dapat mempengaruhi kelengkapan rekam Hasil ini sejalan dengan prinsip TAM, di mana semakin luas wawasan perawat mengenai RME, semakin besar kecenderungan mereka untuk menerima serta mengadopsi teknologi tersebut secara optimal. Pemahaman yang mendalam akan meningkatkan persepsi tentang manfaat serta kemudahan penggunaannya, yang pada akhirnya mendukung kepatuhan perawat Pratiwi et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan secara elektronik. Menurut Rusmianingsih . variabel yang mempengaruhi pengetahuan seseorang meliputi pendidikan dimana semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah mereka mendapatkan data, dan pada akhirnya semakin banyak pula informasi dan pengetahuan yang mereka miliki. Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang rendah maka akan sulit mendapatkan data dan nilai-nilai baru yang disajikan. Usia juga merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang mengingat seiring bertambahnya usia tingkat perkembangan dan kekuatan seseorang akan semakin matang dalam berpikir dan bekerja sehingga semakin banyak data dan pengalaman yang dapat diperoleh. Dari hasil penelitian Alis Mardianti & Budiman, . diperoleh bahwa dengan pengetahuan perawat yang kurang terkait dengan dokumentasi asuhan keperawatan jumlahnya masih cukup banyak yaitu 49 perawat. Hal ini menjadi tantang bagi bidang keperawatan dan pemahaman perawat melalui pelatihan internal, seminar dan edukasi mengenai pentingnya dokumentasi yang akurat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Rusmianingsih . yang menekankan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap pemahaman dokumentasi, namun berbeda dengan penelitian Tuti Suryani. Freddy Wagey, . yang menemukan bahwa mayoritas perawat telah memiliki pengetahuan yang baik Perbedaan ini dapat disebabkan oleh kebijakan pelatihan, fasilitas, dan supervisi yang berbeda di setiap rumah sakit. Selain itu, kurangnya pelatihan juga menjadi faktor utama, sesuai dengan Technology Acceptance Model (TAM) yang menyatakan bahwa penerimaan teknologi dipengaruhi oleh kemudahan dan manfaat penggunaannya. Untuk meningkatkan kualitas dokumentasi di RSUD Sawerigading Palopo, perlu dilakukan pelatihan rutin, peningkatan supervisi kepala ruangan, serta pendamping edukatif guna memperluas wawasan Selain itu, penyediaan SOP yang jelas dan pemanfaatan teknologi pendukung seperti modul digital dapat membantu meningkatkan pemahaman dan kepatuhan dalam penggunaan rekam medis elektronik, sehingga berdampak positif pada pelayanan pasien. Hubungan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik Di Ruang Perawatan Luka RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Sawerigading palopo tahun 2025, diperoleh data mengenai hubungan antara kinerja perawat dengan dokumentasi keperawatan dalam rekam medik elektronik. diperoleh data dari 40 perawat yang menjadi responden, mayoritas memiliki kinerja baik, yaitu sebanyak 23 responden . ,5%), sedangkan 17 responden . ,5%) memiliki kinerja cukup. Berdasarkan hasil tabulasi silang perawat dengan kinerja cukup sebanyak 11 responden ,5%) keperawatan RME, sementara 6 responden ,0%) keperawatan RME. Sementara itu, pada kelompok perawat dengan kinerja baik, 22 responden . keperawatan RME, dan 1 responden . ,5%) yang tidak melakukan dokumentasi keperawatan RME. Hasil uji fisherAos Exact test menunjukkan nilai pvalue=0,016 (<0,. , yang berarti terdapat hubungan signifikan antara kinerja perawat dan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik diruang perawatan rawat inap Anggrek. Cemara. Dahlia dan Edelweiss di RSUD Sawerigading Hal ini menunjukkan bahwa perawat dengan kinerja yang lebih baik memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melaksanakan dokumentasi keperawatan RME dibandingkan dengan perawat yang memiliki kinerja cukup. Hasil ini dapat dijelaskan menggunakan teori TAM yang menyatakan bahwa penerimaan https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 80 Pratiwi et al. dan penggunaan teknologi sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu persepsi manfaat teknologi, serta persepsi terhadap kemudahan penggunaan teknologi. Dalam penelitian ini, perawat yang memiliki kinerja tinggi cenderung lebih terbiasa dengan sistem dokumentasi elektronik dan memahami manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi kerja, akurasi pencatatan, serta pengurangan risiko kesalahan dalam Oleh karena itu, mereka lebih cenderung melakukan dokumentasi keperawatan dalam rekam medik elektronik secara lengkap dan Sebaliknya, perawat yang memiliki kinerja cukup mungkin mengalami kendala dalam RME, keterbatasan pengalaman, kurangnya pelatihan, atau kesulitan dalam mengadaptasi teknologi baru. Hal ini menyebabkan mereka lebih cenderung tidak melakukan dokumentasi atau melakukannya secara tidak optimal. Selain itu, teori TAM juga menyatakan bahwa semakin sering seseorang menggunakan teknologi, semakin mudah mereka Perawat dengan kinerja baik lebih terbiasa menggunakan sistem RME, sehingga lebih nyaman dan patuh dalam dokumentasi dibandingkan dengan perawat yang memiliki kinerja cukup. Hal ini selaras dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perawat dengan kinerja tinggi lebih banyak melakukan dokumentasi dibandingkan perawat dengan kinerja cukup. Dari hasil penelitian Achmad Sobari. Mappeaty Nyorong, . menunjukkan bahwa faktor kinerja memiliki nilai sig-p 0,018 < 0,05 artinya kinerja memiliki hubungan dengan catatan keperawatan rekam medis rawat inap di rumah sakit H. Adam Malik Medan. Penelitian yang dilakukan oleh Siswanto pada tahun 2018 mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan keperawatan menunjukkan bahwa rata-rata kelengkapan pendokumentasian masih rendah, yaitu 71,6%, sementara sebagian besar perawat 81 | E-ISSN: 2963-6434 memiliki kinerja yang tinggi, mencapai 52,2%. Kinerja dan beban kerja diidentifikasi sebagai faktor dominan yang memengaruhi kelengkapan Selain itu, terdapat hubungan antara masa kerja, kinerja, dan beban kerja dengan kelengkapan pendokumentasia. Dari hasil diatas peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja keperawatan rekam medik elektronik di ruang perawatan rawat inap di RSUD Sawerigading Palopo. Asumsi ini didukung oleh data yang menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan kinerja baik melakukan dokumentasi, sedangkan responden dengan kinerja kurang cenderung tidak melakukan dokumentasi. Hasil uji statistik juga menunjukkan nilai p-value sebesar 0,016, yang berpengaruh terhadap dokumentasi keperawatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Achmad Sobari. Mappeaty Nyorong, . yang menemukan bahwa kinerja perawat berpengaruh terhadap kelengkapan dokumentasi rekam medis, dengan nilai signifikan p=0,018. Selain itu, penelitian Siswanto . juga mengungkap bahwa meskipun sebagian besar perawat memiliki kinerja tinggi, kelengkapan dokumentasi masih rendah karena pengaruh beban kerja dan faktor Dengan demikian, peneliti berasumsi bahwa perlu dilakukan peningkatan kinerja perawat, melalui pelatihan rutin, serta optimalisasi teknologi pendukun seperti sistem digital yang lebih efisien, dapat membatu mempercepat pencatatan serta pengelolaan beban kerja yang dokumentasi keperawatan, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada mutu pelayanan Hubungan supervisi dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektroni RSUD Sawerigading Palopo Tahun 2025 Berdasarkan hasil penelitian ditemukan adanya hubungan antara supervisi dengan Pratiwi et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing dokumentasi rekam medik elektronik. Dari 40 perawat yang menjadi responden, diketahui bahwa mayoritas perawat, yaitu 31 responden . ,5%) memiliki kualitas dokumentasi keperawatan RME yang baik, sedangkan 9 responden . ,5%) memiliki kualitas dokumentasi keperawatan RME yang cukup. Berdasarkan hasil tabulasi silang dari 33 perawat yang mendapatkan supervisi, sebanyak 28 orang . ,0%) yang melakukan dokumentasi baik, dan 5 orang . ,5%) memiliki dokumentasi yang cukup. Sementara itu, dari 7 perawat yang tidak mendapatkan supervisi, hanya 3 orang . ,5%) yang memiliki dokumentasi yang baik, dan 4 orang . ,0%) memiliki dokumentasi yang Dari hasil uji statistic menggunakan uji fisherAos Exact test antara supervisi dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik menunjukkan bahwa nilai p- value sebesar 0,034% yang berarti <0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara supervisi dengan dokumentasi keperawatan rekam medik elektronik. Dengan demikian, supervisi berperan penting dalam meningkatkan kualitas dokumentasi keperawatan. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian kusumawati yusvida, feriana ira H, . menunjukkan sebanyak 14 responden ( 28%) memiliki kriteria supervisi kurang dan sisa 36 responden . %) memiliki kriteria baik hal ini di karenakan beberapa aspek seperti kepala ruangan memberikan penjelasan dengan kalimat yang mudah, bimbingan yang baik memberikan contoh dan juga memberikan apresiasi terhadap perawat pelaksana untuk melakukan pendokumentasian proses keperawatan sesuai standar yang ada serta mengevaluasi pendokumentasian proses keperawatan yang di Supervisi yang dilakukan secara langsung memungkinkan identifikasi hambatan dalam pelaksaan dokumentasi dan memberikan solusi yang tepat guna meningkatkan kepatuhan perawat dalam pencatatan rekam medik Hasil ini sejalan dengan teori TAM yang menyatakan bahwa penerimaan teknologi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu perceived usefulness . ersepsi kegunaa. dan perceived ease of use . ersepsi kemudahan Dalam konteks dokumentasi keperawatan RME, semakin tinggi persepsi perawat terhadap kegunaan sistem RME, semakin menggunakannya dengan baik. Sejalan dengan itu, jika perawat merasa bahwa sistem RME mudah digunakan, mereka akan lebih cenderung untuk menggunakannya secara optimal. Menurut hasil penelitian kusumawati yusvida, feriana ira H, . supervisi yang dilakukan secara langsung memungkinkan penemuan hambatan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di ruangan dengan memandang secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan p value sebesar 0. , yang artinya H ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan hubungan antara supervisi perawat. Selain itu menurut (Anggeria dan Maria, 2. dalam penelitian menunjukkan pentingnya hubungan supervisi dalam pendokumentasian yang dilakukan perawat sehinggan akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan termasuk dalam pendokumentasian asuhan Hal ini terlihat dari temuan bahwa sebagian besar perawat yang mendapatkan supervisi baik cenderung lebih patuh dalam melakukan dokumentasi dibandingkan dengan yang mendapatkan supervisi kurang. Sebaliknya, kurangnya supervisi dapat meningkatkan risiko ketidaksesuain atau kelalaian dalam dokumentasi, yang berpotensi berdampak pada kualitas asuhan Selain itu, supervisi yang dilakukan secara langsung memungkinkan kepala ruangan pelaksanaan dokumentasi serta memberikan bimbingan, masukan, dan evaluas terhadap perawat pelaksana. Dengan demikian, semakin baik supervisi, semakin tinggi kepatuhan perawat dalam mendokumentasikan keperawatan sesuai standar Berdasarkan temuan di atas, peneliti https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 82 Pratiwi et al. berasumsi bahwa supervisi yang baik berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan perawat dalam melakukan dokumentasi keperawatan pada rekam medik elektronik. Dengan demikian, penerapam teori TAM dalam penelitian ini mempengaruhi persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan dalam menggunakan RME oleh perawat. Jika supervise dijalankan dengan optimal, perawat akan lebih memahami manfaat dan kemudahan system RME, yang pada melakukan dokumentasi. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, mengadakan pelatihan rutin, serta memastikan pencatatan yang akurat. Selain itu, optimalisasi peran kepala ruangan dalam supervisi dapat membantu mengatasi hambatan dalam Langkah-langkah diharapkan meningkatkan kualitas dokumentasi dan pelayanan keperawatan. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan perawat memiliki korelasi yang signifikan dengan dokumentasi keperawatan dalam Rekam Medis Elektronik (RME) . = 0,. , di mana semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat tentang RME, maka semakin baik kualitas dokumentasi yang dihasilkan. Selain itu, kinerja perawat juga menunjukkan hubungan keperawatan elektronik . = 0,. , di mana perawat dengan kinerja yang baik cenderung lebih patuh dalam melaksanakan dokumentasi sesuai Supervisi juga berperan penting, dengan pengaruh signifikan terhadap dokumentasi keperawatan dalam RME . = 0,. , yang menunjukkan bahwa supervisi yang efektif mampu meningkatkan kepatuhan perawat terhadap standar dokumentasi yang telah Referensi