Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 11. November 2025 ISSN: 27342488 PENGARUH ANALISIS TRANSAKSIONAL TERHADAP SINDROM PETER PAN PADA SISWA SMA BERINISIAL C Cindy Azkhya1. Fadhilla Yusri2 Email: cindyazkhya3@gmail. com1 , fadhillayusri@gmail. UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi ABSTRAK Sindrom Peter Pan merupakan kecenderungan individu untuk menghindari tanggung jawab kedewasaan dan mempertahankan perilaku kekanak-kanakan. Pada remaja sekolah menengah, sindrom ini dapat muncul melalui pola komunikasi, pengambilan keputusan, dan keterikatan emosional yang tidak matang. Penelitian ini menganalisis pengaruh Analisis Transaksional (AT) terhadap perubahan pola komunikasi dan dinamika ego pada siswa SMA berinisial C yang menunjukkan perilaku dan cara berbicara kekanak-kanakan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi AT, khususnya melalui identifikasi posisi ego (ParentAe AdultAeChil. , mampu membantu subjek mengenali pola komunikasi Child yang dominan dan menggantinya secara bertahap dengan pola Adult. Penelitian ini menegaskan relevansi AT sebagai pendekatan konseling dalam menangani kecenderungan Peter Pan Syndrome pada remaja. (Smith & Lee, 2. Kata Kunci: Analisis Transaksional. Sindrom Peter Pan. Remaja. Pola Komunikasi. Ego State. Konseling. ABSTRACT Peter Pan Syndrome refers to an individualAos tendency to avoid adult responsibilities and maintain childlike behaviors. Among high school adolescents, this syndrome can manifest through immature communication patterns, decision-making, and emotional attachment. This study examines the influence of Transactional Analysis (TA) on changes in communication patterns and ego dynamics in a high school student, referred to as C, who exhibits childish behavior and speech characteristics. Using a qualitative case study approach, the research employed interviews, observations, and documentation techniques. The findings indicate that TA interventionsAiparticularly through identifying ego states (ParentAeAdultAeChil. Aihelped the subject recognize the dominance of the Child ego state and gradually replace it with the Adult state. This study highlights the relevance of TA as a counseling approach for addressing tendencies related to Peter Pan Syndrome in adolescents (Smith & Lee, 2. Keywords: Transactional Analysis. Peter Pan Syndrome. Adolescents. Communication Patterns. Ego State. Counseling. PENDAHULUAN Sindrom Peter Pan pada remaja menjadi fenomena yang semakin sering ditemukan dalam konteks pendidikan dan konseling karena berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk mengembangkan fungsi kedewasaan secara optimal. Pada siswa SMA, kondisi ini dapat terlihat melalui ketergantungan terhadap orang lain, penghindaran tanggung jawab akademik, serta penggunaan gaya bicara yang kekanak-kanakan. Manifestasi tersebut berdampak pada perkembangan sosial-emosional siswa dan bahkan dapat menghambat kematangan identitas remaja. Dalam konteks konseling, kondisi ini perlu dipahami dan ditangani melalui pendekatan yang selaras dengan perkembangan kepribadian remaja. (Hernandez & Cruz, 2. Salah satu pendekatan konseling yang efektif digunakan dalam memahami dinamika perilaku dan komunikasi remaja adalah Analisis Transaksional (AT). AT menekankan tiga struktur egoAiParent. Adult, dan ChildAiyang mempengaruhi cara individu berinteraksi dan merespons lingkungan. Pada siswa yang menunjukkan kecenderungan Peter Pan Syndrome, ego Child biasanya lebih dominan, baik dalam bentuk Natural Child yang spontan maupun Adapted Child yang mencari perhatian. Pola dominasi ini tercermin dalam gaya komunikasi kekanak-kanakan seperti yang ditunjukkan oleh subjek berinisial C. (Stewart & Joines, 2. Perilaku kekanak-kanakan pada C tampak dari penggunaan intonasi manja, pemilihan kosakata yang lebih mirip anak usia sekolah dasar, serta kecenderungan menghindari pembicaraan serius. Komunikasi semacam ini dapat menyulitkan proses belajar, interaksi sosial, dan penyelesaian konflik, sehingga intervensi yang mampu menyeimbangkan struktur egoAikhususnya penguatan posisi AdultAimenjadi sangat diperlukan bagi perkembangan (Rahmadani & Yusuf, 2. AT relevan digunakan karena dapat membantu konselor mengidentifikasi dari ego mana komunikasi C bersumber, menganalisis bentuk transaksinya, serta memfasilitasi perubahan menuju komunikasi yang lebih adaptif. Dengan demikian, penelitian ini berfokus pada bagaimana AT dapat menjadi pendekatan efektif untuk mengurangi ekspresi Peter Pan Syndrome pada siswa SMA. (Kurniawan & Sofwan, 2. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus karena fokus penelitian adalah mendalami fenomena Peter Pan Syndrome pada seorang siswa secara intensif dan mendalam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pola komunikasi, dinamika ego, serta pengalaman personal C dalam konteks kehidupan sekolahnya. (Creswell & Poth, 2. Subjek penelitian adalah siswa SMA berinisial C berusia 16 tahun yang menunjukkan gaya bicara kekanak-kanakan, ketergantungan pada teman dalam tugas sekolah, serta kecenderungan menghindari situasi yang menuntut kedewasaan. Pemilihan subjek dilakukan melalui teknik purposive sampling berdasarkan observasi awal guru BK. (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dengan C, observasi interaksi C di lingkungan kelas dan sekolah, serta analisis dokumentasi berupa catatan konseling. Teknik triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. (Braun & Clarke, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa C mendominasi komunikasi dengan ego Child baik dalam situasi formal maupun informal. Pada wawancara. C sering menggunakan nada lembut manja, tertawa tidak pada tempatnya, dan menghindari pertanyaan yang bersifat reflektif dengan mengganti topik. Hal ini menunjukkan ketidaksiapan subjek untuk masuk pada komunikasi yang lebih dewasa. (Han & Park, 2. Intervensi AT yang diberikan berupa analisis ego state melalui rekonstruksi percakapan harian C. Konselor menunjukkan momen-momen ketika C bertindak dari ego Child dan membantu subjek mengenali alternatif respon dari ego Adult. Setelah beberapa sesi. C mulai mampu mengidentifikasi emosinya dan mengurangi penggunaan nada bicara yang terlalu kekanak-kanakan ketika berkomunikasi dengan guru. (Wijaya & Rahayu, 2. Temuan lain menunjukkan adanya permainan psikologis AuI CanAot Do ItAy yang sering digunakan C untuk menghindari tugas sekolah. Dengan teknik AT, konselor membantu C menyadari dampak dari permainan tersebut sehingga subjek termotivasi untuk menggunakan strategi alternatif seperti mengambil waktu berpikir atau meminta instruksi tambahan dengan komunikasi yang tepat. (Sutopo & Hendra, 2. Secara keseluruhan, intervensi AT memberikan perubahan signifikan dalam pola komunikasi C. Subjek mulai menunjukkan peningkatan pada ego Adult, terutama dalam situasi yang mengharuskan tanggung jawab akademik. Perubahan tersebut memperkuat temuan bahwa AT efektif dalam menangani gejala Peter Pan Syndrome pada remaja. (Lee & Morgan, 2. KESIMPULAN Analisis Transaksional terbukti membantu subjek C mengenali dominasi ego Child dalam komunikasi dan perilakunya, terutama yang berhubungan dengan ciri Peter Pan Syndrome. Pendekatan AT mampu memfasilitasi transisi dari perilaku kekanak-kanakan menuju perilaku yang lebih dewasa melalui identifikasi ego state, analisis transaksional, dan koreksi permainan psikologis. Dengan demikian. AT dapat menjadi pendekatan yang tepat dalam konseling remaja yang mengalami ketidakmampuan berkembang menuju kedewasaan (Hassan & Miller, 2. DAFTAR PUSTAKA