Hal: HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KOPI TERHADAP GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) PADA MAHASISWA KESEHATAN DI DKI JAKARTA THE CORRELATION BETWEEN COFFEE CONSUMPTION AND GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) AMONG HEALTH STUDENTS IN DKI JAKARTA Gabriel Valmorrine Firdaus1*. Nia Rosliany1. Yarwin Yari1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rumah Sakit Husada Program Studi Ilmu Keperawatan *E-mail: gabycollegeacc@gmail. ABSTRAK Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah gangguan pencernaan yang cukup sering terjadi, salah satunya dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola konsumsi, termasuk konsumsi kopi. Kebiasaan minum kopi di kalangan mahasiswa cukup tinggi, meskipun mahasiswa kesehatan memiliki pemahaman mengenai dampak dari GERD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi terhadap kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 104 responden mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta diperoleh melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner GERD-Q dan kuesioner konsumsi kopi, lalu dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 21Ae24 tahun, mayoritas berjenis kelamin perempuan, dengan jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi instan, dan mayoritas baru mengkonsumsi kopi selama 0Ae1 tahun. Lebih dari separuh responden . ,9%) memiliki kemungkinan mengalami GERD. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD . =0,. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Hasil ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi mahasiswa untuk lebih bijak dalam mengkonsumsi kopi guna mencegah risiko GERD. Kata Kunci: Konsumsi kopi. GERD, mahasiswa kesehatan. DKI Jakarta. ABSTRACT Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a common digestive disorder, partly influenced by lifestyle and dietary habits, including coffee consumption. Coffee drinking habits among university students are quite high, even among health students who are aware of its potential impact. This study aims to determine the relationship between coffee consumption and GERD incidence among health students in DKI Jakarta. This was a quantitative study using a cross-sectional design. A total of 104 health students in DKI Jakarta were selected by purposive sampling. Data were collected using the GERD-Q questionnaire and a coffee consumption questionnaire, then analyzed using the chi-square The results showed that most respondents were aged 21Ae24 years, predominantly female, mainly consumed instant coffee, and had been drinking coffee for 0Ae1 year. More than half . 9%) were likely to experience GERD. Bivariate analysis showed a significant relationship between coffee consumption and GERD incidence . = 0. It can be Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. concluded that there is a significant relationship between coffee consumption and GERD incidence among health students in DKI Jakarta. These findings are expected to raise studentsAo awareness to consume coffee wisely to prevent GERD risk. Keywords: Coffee consumption. GERD, health students. DKI Jakarta. Pendahuluan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan saluran cerna akibat naiknya asam lambung ke esofagus yang menimbulkan gejala seperti nyeri ulu hati . , regurgitasi, batuk kronis, dan sensasi terbakar di dada. Kondisi ini terutama terjadi akibat kelemahan Lower Esophageal Sphincter (LES) mencegah refluks asam (Heickal et al. GERD tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani. Secara global, prevalensi GERD bervariasi antara 8Ae33% dengan angka tertinggi di Amerika dan Timur Tengah, serta terendah di Asia Timur (Makmun. Di Indonesia, prevalensi GERD pada tahun 2023 tercatat sebesar 27,4% dengan tren peningkatan sekitar 4% setiap tahun. Angka ini menunjukkan bahwa GERD menjadi masalah kesehatan yang cukup serius dan perlu mendapat perhatian, khususnya pada kelompok usia produktif. Salah satu faktor risiko yang paling sering dikaitkan dengan GERD adalah konsumsi kopi. Kopi merupakan minuman yang sangat populer di Indonesia, dengan 79% masyarakat tercatat mengonsumsi kopi secara rutin (Supardi et al. , 2. Kandungan kafein di dalam kopi dapat menurunkan tekanan LES sehingga memicu terjadinya refluks asam lambung (Patria. C, 2. Selain itu, cara konsumsi kopi yang umum, seperti diminum dalam keadaan perut kosong atau dalam jumlah berlebihan, semakin meningkatkan risiko iritasi pada lapisan esofagus. Tren konsumsi kopi juga semakin menguat di kalangan mahasiswa. Aktivitas minum kopi tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan akademik, seperti begadang, meningkatkan konsentrasi, atau mengatasi rasa kantuk, tetapi juga telah berkembang menjadi bagian dari budaya sosial. Kedai kopi kini menjadi ruang belajar, diskusi, bahkan sarana ekspresi diri, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta (Andina & Zulaikha, 2. Fenomena ini menyebabkan konsumsi kopi pada mahasiswa tetap tinggi meskipun mereka, memahami potensi risikonya terhadap sistem pencernaan. Mahasiswa termasuk kelompok rentan terhadap GERD karena gaya hidup yang kurang sehat, pola makan tidak teratur, tingkat stres tinggi, kebiasaan merokok, serta kecenderungan mengonsumsi kopi lebih dari 2Ae3 cangkir per hari (R Hartoyo et al. , 2. Penelitian Sawitri & Yuziani . menemukan bahwa sekitar 30% mahasiswa rutin mengonsumsi kopi lebih dari tiga kali dalam seminggu. Kondisi ini memperkuat asumsi bahwa mahasiswa berisiko lebih tinggi mengalami GERD dibandingkan kelompok usia lainnya. Sejumlah menunjukkan hasil yang beragam mengenai hubungan konsumsi kopi dengan GERD. Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan minum kopi dengan kejadian GERD (Dhillon et al. , 2024. Patria. C, 2. Perbedaan hasil ini menandakan adanya research gap yang penting untuk dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai risiko GERD pada kelompok mahasiswa, sekaligus memperkuat peran mereka sebagai agen edukasi kesehatan dalam masyarakat. Hal: 41-48 Hubungan Antara Konsumsi Kopi terhadap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Mahasiswa Kesehatan di DKI Jakarta Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif analitik dan pendekatan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada mahasiswa kesehatan di wilayah DKI Jakarta. Lokasi penelitian dilakukan di lima institusi pendidikan kesehatan yang mewakili masing-masing wilayah di Provinsi DKI Jakarta, yaitu Akademi Keperawatan Harum (Jakarta Utar. STIKes RS Husada (Jakarta Pusa. STIKes Sumber Waras (Jakarta Bara. Akper Pasar Rebo (Jakarta Timu. , dan STIKes Fatmawati (Jakarta Selata. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 104 mahasiswa yang ditentukan dengan teknik purposive Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif, berusia 18Ae24 tahun, mengonsumsi kopi . aik secara rutin maupun tidak ruti. , serta bersedia menjadi Kriteria eksklusi adalah mahasiswa yang tidak pernah mengonsumsi kopi, memiliki riwayat penyakit gastrointestinal lain selain GERD . isalnya gastritis kronis atau ulkus peptiku. , sedang mengonsumsi obatobatan yang memengaruhi produksi asam lambung, atau tidak mengisi kuesioner secara lengkap. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri atas tiga bagian. Pertama, kuesioner karakteristik responden yang mencakup data usia, jenis kelamin, jenis kopi yang dikonsumsi, durasi konsumsi, serta frekuensi konsumsi kopi. Kedua, kuesioner GERD-Q yang merupakan instrumen standar untuk menilai kemungkinan kejadian GERD. Instrumen ini telah divalidasi oleh Simadibrata di Jakarta. Bandung, dan Surabaya, dengan nilai reliabilitas CronbachAos Alpha sebesar 0,83 sehingga dinyatakan valid dan reliabel. Ketiga, kuesioner konsumsi kopi yang dimodifikasi dari penelitian Patria . Instrumen ini telah melalui uji validitas dengan hasil p<0,05, serta uji reliabilitas dengan nilai CronbachAos Alpha di atas 0,6, sehingga layak digunakan dalam penelitian Kategori konsumsi kopi ditetapkan berdasarkan frekuensi harian, yaitu ringan . Ae1 cangkir per har. , sedang . Ae3 cangkir per har. , dan tinggi (Ou4 cangkir per har. Kategorisasi memperoleh distribusi data yang lebih proporsional dan sejalan dengan literatur mengenai konsumsi kafein. Sementara itu, skor GERD Ou8 pada instrumen GERD-Q dipertimbangkan sebagai indikasi adanya kemungkinan GERD. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputerisasi SPSS versi 26. Analisis univariat digunakan untuk karakteristik responden, konsumsi kopi, dan kejadian GERD. Selanjutnya, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square atau FisherAos Exact Test . pabila syarat uji ChiSquare tidak terpenuh. untuk menilai hubungan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. Hasil Penelitian Analisa Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di DKI Jakarta Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Jenis Kopi. Durasi Konsumsi Kopi, dan Frekuensi Kopi Karakteristik Usia 18 Ae 20 Tahun 21 Ae 24 Tahun Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan Jenis Kopi Kopi Dekafeinasi Kopi Instan Kopi Murni Durasi Kopi 0 Ae 1 Tahun 2 Ae 4 Tahun Ou4 tahun Frekuensi Kopi 0 Ae 2 Cangkir sehari 2 Ae 4 Cangkir Sehari Ou 5 Cangkir Sehari . Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2025 Mayoritas responden berusia 21Ae24 tahun . ,8%), sedikit lebih banyak dibandingkan kelompok usia 18Ae20 tahun . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada fase akhir masa remaja menuju dewasa awal. Dari segi jenis kelamin, jumlah perempuan . ,4%) jauh lebih dominan dibandingkan laki-laki . ,6%), mencerminkan tren bahwa mahasiswa kesehatan di Jakarta lebih banyak didominasi perempuan. Jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi instan . ,5%), diikuti dekafeinasi . ,2%), dan kopi murni . ,4%). Pola ini menandakan preferensi mahasiswa terhadap kopi instan yang lebih Dari sisi durasi konsumsi, sebagian besar responden baru mulai minum kopi dalam 1 tahun terakhir . ,5%), sementara 37,5% sudah terbiasa mengonsumsi kopi lebih dari 4 tahun. Dilihat dari frekuensi harian, hampir seluruh responden . ,2%) mengonsumsi kopi O2 cangkir per hari. Hanya 3,8% yang minum 2Ae4 cangkir, dan tidak ada responden yang mengonsumsi Ou5 cangkir. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum tingkat konsumsi kopi mahasiswa masih relatif rendah. Tabel 2 Karakteristik Kejadian GERD Pada Mahasiswa Kesehatan di DKI Jakarta GERD Persentase (%) Kemungkinan GERD Tidak GERD Total 100,0% Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan tabel 2, dari total 104 responden. Lebih dari separuh responden . ,9%) memiliki kemungkinan GERD berdasarkan skor GERD-Q Ou8, meskipun selisihnya tipis dibandingkan dengan responden yang tidak GERD . ,1%). Temuan ini mengindikasikan bahwa GERD cukup tinggi prevalensinya di kalangan mahasiswa kesehatan. Hal: 41-48 Hubungan Antara Konsumsi Kopi terhadap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Mahasiswa Kesehatan di DKI Jakarta Tabel 3 Karakteristik Konsumsi Kopi Pada Mahasiswa Kesehatan di DKI Jakarta Konsumsi Kopi Persentase (%) Ringan Sedang Tinggi Sumber: Data Primer, 2025 Sebagian mengonsumsi kopi pada kategori ringan . ,9%) dan sedang . ,1%). Tidak ada responden yang termasuk kategori tinggi, sehingga mayoritas konsumsi kopi masih dalam batas yang dianggap moderat. Namun, kategori sedang tetap terbukti kemungkinan GERD. Analisa Bivariat Tabel 4 Hubungan Antara Minum Kopi Terhadap GERD pada Mahasiswa di DKI Jakarta Konsumsi Kopi Ringan Sedang Total Potensi GERD Odd ratio Kemungkinan Tidak GERD GERD ,6%) ,0%) ,4%) ,0%) Nilai Uji Statistik Chi-Square . =0. p O 0. P - value FisherAos Exact Sumber: Data Primer, 2025 Berdasarkan Tabel 4. Analisis bivariat menunjukkan bahwa konsumsi kopi berhubungan signifikan dengan kemungkinan GERD. Responden dengan konsumsi sedang . Ae3 cangkir/har. cenderung lebih banyak mengalami GERD ,4%) dibandingkan kelompok ringan . ,6%). Nilai odds ratio (OR = 4,. menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengonsumsi kopi sedang berpeluang hampir lima kali lebih besar mengalami kemungkinan GERD dibandingkan yang konsumsi kopinya Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 21Ae24 tahun . ,8%). Usia ini merupakan fase aktif perkuliahan yang erat kaitannya dengan tekanan akademik, kebiasaan begadang, dan pola hidup tidak peningkatan risiko gangguan pencernaan GERD. (Purdiani . melaporkan bahwa konsumsi kafein pada mahasiswa preklinik berkaitan erat dengan stres akademik. Hal serupa diungkapkan oleh Hikmah et al. bahwa mahasiswa pada usia 21Ae24 tahun cenderung mengonsumsi kopi menjelang ujian, sehingga memicu pola tidur yang Namun, penelitian Hurdawaty et al. dan Lin et al. menunjukkan bahwa konsumsi kopi tersebar merata di kelompok usia Gen Z, sehingga tidak hanya terbatas pada kelompok usia tertentu. Dominasi responden perempuan dalam penelitian ini . ,4%) sesuai dengan karakteristik institusi pendidikan kesehatan yang memang didominasi perempuan. Faktor hormonal juga dapat memengaruhi gejala GERD, misalnya saat menstruasi atau stres. Riera-Sampol et al. menjelaskan bahwa asupan kafein per berat badan cenderung lebih tinggi pada perempuan, sedangkan Lone et al. menambahkan bahwa perempuan memiliki motivasi emosional yang lebih besar dalam mengonsumsi kopi. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 Jenis kopi yang paling banyak dipilih responden adalah kopi instan . ,5%), karena sifatnya yang praktis dan terjangkau. Marlina . serta Rahmadani . menyebutkan bahwa kopi instan memang lebih populer di kalangan mahasiswa. Saygili et al. menegaskan bahwa meskipun kadar kafein dalam kopi instan relatif lebih rendah dibandingkan kopi seduh, konsumsi berulang tetap dapat memicu gejala GERD. Sebagian besar responden . ,5%) baru mengonsumsi kopi selama 0Ae1 tahun, yang kemungkinan besar terkait dengan kebutuhan akademik dan gaya hidup mahasiswa (Nuralam & Setiyadi, 2. Prevalensi kemungkinan GERD pada mahasiswa kesehatan dalam penelitian ini mencapai 51,9% berdasarkan skor GERDQ Ou8, angka yang tergolong tinggi. Hal ini konsisten dengan temuan Alhazmi et al. yang menyebutkan bahwa stres akademik dan konsumsi kafein merupakan faktor risiko penting timbulnya GERD. Analisis bivariat memperlihatkan hubungan signifikan antara konsumsi kopi dan kejadian GERD . =0,. , dengan odds ratio 4,816. Mahasiswa yang mengonsumsi kopi pada kategori sedang . Ae3 cangkir/har. memiliki risiko hampir lima kali lebih besar mengalami GERD dibandingkan yang konsumsi kopinya Patria . menegaskan bahwa bahkan konsumsi sedang pun dapat melemahkan Lower Esophageal Sphincter (LES) dan memicu iritasi lambung. Kafein sekresi asam lambung berlebihan sekaligus meningkatkan relaksasi LES, sehingga refluks asam lebih mudah terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan esofagitis atau komplikasi Risiko semakin tinggi ketika kopi dikonsumsi dalam keadaan perut kosong, menjelang tidur, atau sebagai pengganti Kebiasaan merokok yang terkadang menyertai konsumsi kopi juga berperan memperlemah LES, sebagaimana dilaporkan dalam literatur mengenai efek sinergis kafein dan nikotin. Dalam kesehatan, temuan ini penting karena menunjukkan bahwa meskipun mereka ISSN. memahami potensi risiko kafein terhadap kemungkinan GERD tetap tinggi. Tekanan akademik, pola tidur tidak teratur, dan budaya nongkrong di kedai kopi membuat kebiasaan minum kopi sulit dihindari. Oleh karena itu, edukasi mengenai konsumsi kopi yang bijak serta penerapan pola hidup sehat perlu lebih digiatkan, baik secara individual maupun melalui program institusi pendidikan kesehatan. Penelitian ini memiliki beberapa Pertama, kuesioner bersifat self-report, sehingga berpotensi menimbulkan bias subjektif dalam pelaporan konsumsi kopi maupun gejala GERD. Kedua, jumlah sampel relatif terbatas dan distribusi responden tidak merata di setiap institusi, sehingga hasil penelitian mungkin belum sepenuhnya mewakili populasi mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Keterbatasan ini dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya dengan metode yang lebih beragam dan jumlah sampel yang lebih Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dan kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Mayoritas mahasiswa yang mengalami gejala GERD memiliki pola konsumsi kopi dalam kategori sedang . Ae2 cangkir per har. , yang menunjukkan bahwa bahkan pada jumlah yang dianggap memengaruhi sistem pencernaan, terutama bila disertai gaya hidup yang kurang sehat. Jenis kopi yang dominan dikonsumsi, yaitu kopi instan, juga turut berperan karena kadar keasamannya dan kandungan aditif tertentu yang dapat memperparah gejala GERD. Selain itu, prevalensi GERD yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa kesehatan menunjukkan perlunya upaya preventif dan intervensi berbasis edukasi, mengingat mahasiswa kesehatan memiliki potensi sebagai agen promosi kesehatan di Hal: 41-48 Hubungan Antara Konsumsi Kopi terhadap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Mahasiswa Kesehatan di DKI Jakarta Saran Mahasiswa diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur konsumsi kopi, baik dari segi jumlah, jenis, maupun waktu, misalnya dengan menghindari kebiasaan minum kopi saat perut kosong atau menjelang tidur agar risiko GERD tidak Bagi institusi pendidikan, penting untuk menyediakan program edukasi mengenai gaya hidup sehat dan pencegahan gangguan pencernaan, yang dapat disampaikan melalui penyuluhan, seminar, ataupun integrasi ke dalam kegiatan akademik. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar memasukkan variabel tambahan seperti tingkat stres, pola tidur, dan kebiasaan makan, serta menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dengan cakupan institusi yang lebih Pendekatan longitudinal dan kolaborasi lintas bidang, seperti nutrisi, psikologi, dan kedokteran keluarga, juga pencegahan GERD pada kelompok usia muda dapat dirancang lebih komprehensif. Daftar Pustaka