https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 DOI: https://doi. org/10. 38035/jihhp. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Peran Budaya Pernikahan Adat Antara Hindu Bali dengan Hindu India Suku Tamil yang Berada di Indonesia Yogita Dewi1. Yuniar Rahmatiar,2 Muhamad Abas,3 Suyono Sanjaya,4 Universitas Buana Perjuangan Karawang. Indonesia. Yogitadewi@mhs. Universitas Buana Perjuangan Karawang. Indonesia, yuniar@ubpkarawang. Universitas Buana Perjuangan Karawang. Indonesia, muhamad. abas@ubpkarawang. Universitas Buana Perjuangan Karawang. Indonesia, suyono. sanjaya@ubpkarawang. Corresponding Author: Yogitadewi@mhs. Abstract: Indonesia is a multicultural country with ethnic, linguistic and cultural diversity. One form of cultural interaction is seen in the traditional marriage between Balinese Hindus and Tamil Indian Hindus. The author will discuss people's views on the practice of traditional marriage between Balinese Hindus and Tamil Indian Hindus in Indonesia, as well as its impact on the culture of marriage between Balinese Hindus and Tamil Indian Hindus in Indonesia with an attitude of tolerance. This research aims to understand the cultural dynamics in the marriage and its impact on the preservation of identity and tradition. The method used is qualitative with an empirical juridical approach through interviews and observations. Today, many wedding processions are simplified to adjust costs and time efficiency, but still reflect mutual respect and tolerance between cultures. Keyword: Balinese Hindu,Tamil Hindu Wedding Abstrak: Indonesia adalah negara multikultural dengan keragaman etnis, bahasa, dan budaya. Salah satu bentuk interaksi budaya terlihat pada pernikahan adat antara masyarakat Hindu Bali dengan masyarakat Hindu India Tamil. Penulis akan membahas pandangan masyarakat terhadap praktik perkawinan adat antara Hindu Bali dan Hindu India Tamil di Indonesia, serta dampaknya terhadap budaya perkawinan antara Hindu Bali dan Hindu India Tamil di Indonesia dengan sikap toleransi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika budaya dalam pernikahan tersebut dan dampaknya terhadap pelestarian identitas dan tradisi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris melalui wawancara dan Saat ini, banyak prosesi pernikahan yang disederhanakan untuk menyesuaikan biaya dan efisiensi waktu, namun tetap mencerminkan sikap saling menghormati dan toleransi antar Kata Kunci: pernikahan hindu bali,hindu tamil 4689 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 PENDAHULUAN Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah,serta agama yang berbeda-beda. (Rahmatiar et al. Kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia tercipta karena adanya saling pengertian dan toleransi antar individu yang menghargai perbedaan. (Dahlia 2. Agama Hindu Bali berasal dari pengaruh India kuno yang masuk melalui jalur perdagangan dan kerajaan Hindu-Buddha. Di Bali, ajaran ini berakulturasi dengan kepercayaan lokal, menghasilkan Hindu Dharma Bali yang khas dengan filosofi Tri Hita Karana dan pemujaan leluhur yang kuat. Pengaruh Majapahit juga berperan dalam tradisi ini. Karena relatif terisolasi. Bali mampu mempertahankan dan mengembangkan warisan Hindunya secara unik hingga kini. (Ketut Sedana Arta, 2. Bangsa Tamil adalah etnis yang berasal dari India Selatan. Kehadiran mereka di Medan terkait dengan sejarah perdagangan rempah-rempah antara India dan Indonesia melalui pelabuhan Medan, yang menarik banyak pedagang India Selatan, termasuk Tamil, ke kota tersebut. Suku Bali dan suku Tamil adalah dua kelompok etnis di Indonesia yang memiliki tradisi dan adat budaya yang khas dan unik. Seperti halnya suku Bali, suku bali merupakan pulau yang memiliki daya tarik karena kehidupan sehari-hari masyarakatnya masih dipengaruhi oleh budaya, di mana ritual dan gaya hidup mereka didasari oleh konsep Tri Hita Karana. Yang berarti "tiga penyebab kesejahteraan" (Tri yang artinya Tiga. Hita yaitu sejahtera. Karana yaitu seba. ,Tri Hita Karana terdiri dari tiga unsur, yaitu parhyangan . ingkungan spiritua. , pawongan . ingkungan sosia. , dan palemahan . ingkungan fisi. , tiga aspek ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat (Raka. Parwata, and Gunawarman 2. Kebudayaan Bali terbentuk dari hubungan antara masyarakat Bali dan lingkungan sekitar mereka, yang terbagi menjadi dua: ang tampa. dan niskala . ang tidak tampa. Sekala meliputi kehidupan sosial dan alam sekitar, sementara niskala berkaitan dengan dunia spiritual dan kekuatan Gaib. Setelah mengenal budaya bali maka kita juga harus mengenal budaya tamil, masyarakat India suku tamil yang paling banyak tinggal di kota medan dan di Jakarta, kota Medan maupun Jakarta kaya akan keberagaman etnis dan budaya. Bangsa tamil memiliki ciri khas budaya yang kuat, mereka menghargai kesenian tradisional seperti tari dan musik, ritual,festival serta seni rupa ukiran dan tenunan. Budaya Tamil masih kuat mewarnai kehidupan sehari-hari Contohnya, saat mengunjungi kuil, pria dan wanita Tamil mengenakan pakaian khas India seperti sari, kurti, kemeja, dan wetti. Mereka juga beribadah tiga kali sehari dengan membakar dupa dan mengoleskan vibuthi . bu suc. sebagai pengingat akan asal dan akhir manusia. Dalam interaksi sosial, sapaan "vanakam" atau "namaskaram" umum Tradisi makan menggunakan daun pisang masih diterapkan dalam acara tertentu, dan daun mangga sering dipasang di depan rumah sebagai simbol. Selain itu, budaya Tamil di Indonesia juga mempertahankan upacara khusus untuk menandai pubertas seorang gadis remaja, yang disebut Sedengesathe atau Waisuki Wanthepen. (Takari 2. selain itu Seni tari dan musik tradisional juga sangat khas, seperti Bharatanatyam, tarian klasik dari Tamil Nadu yang sering dipentaskan dalam acara keagamaan. Beberapa alat musik tradisional yang digunakan antara lain Thavil. Mridangam, dan Nadaswaram. (Subramanian 2. kemudian Seni rupa Tamil di Indonesia sangat menonjol dalam arsitektur kuil Hindu, terutama di Medan dan Jakarta. Kuil-kuil seperti Shri Mariamman (Meda. dan Shri Sanathana Dharma Aalayam (Jakart. menampilkan desain Tamil Selatan yang kaya simbolisme religius, dengan menara yang dihiasi patung dewa dan relief kisah Hindu. Setelah mengenal budaya Bali dan Tamil, penting juga untuk memahami adat pernikahan di antara kedua budaya ini. "pawiwahan" Secara etimologis, "pawiwahan" berasal dari kata dasar "wiwaha" Dalam Kamus Bahasa Indonesia, "wiwaha" diserap dari bahasa Sanskerta yang berarti pesta pernikahan. Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Pasal 1 menyatakan bahwa 4690 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 perkawinan adalah ikatan lahir batin antara pria dan wanita sebagai suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (K. Susila 2. Upacara pawiwahan merupakan sakralisasi di hadapan Tuhan dan masyarakat, menandai pengikatan diri dua individu sebagai suami istri yang bertanggung jawab bersama atas segala konsekuensi tindakan mereka. (Ningsih and Suwendra 2. Hindu Bali dan Hindu Tamil India adalah dua budaya utama agama Hindu yang berkembang secara unik di wilayahnya masing-masing. Meskipun berakar pada ajaran Hindu yang sama, pengaruh budaya lokal yang kuat di Bali dan India Selatan menghasilkan perbedaan signifikan dalam tradisi pernikahan keduanya. Pernikahan adat Hindu Bali dipengaruhi oleh filosofi dan spiritualitas masyarakat Bali yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Sementara itu, pernikahan Hindu Tamil yang berasal dari India Selatan masih mempertahankan banyak unsur tradisi India, meskipun telah beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Tamil di Indonesia. (Purna 2. Pada dasarnya, pelaksanaan perkawinan di Indonesia dipengaruhi oleh Hukum Adat yang beragam sesuai suku bangsa. Hukum Adat mengatur interaksi sosial sehari-hari, termasuk perkawinan. Meskipun Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi landasan hukum. Hukum Adat tetap memegang peranan penting, terutama bagi masyarakat pribumi Indonesia. (Wira 2. Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika interaksi budaya dalam konteks pernikahan adat antara Hindu bali maupun hindu india suku tamil yang berada di Indonesia, serta implikasinya terhadap pelestarian identitas dan praktik Berdasarkan uraian diatas maka peneliti perlu mengkaji tentang Bagaimana Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya pernikahan adat antara hindu bali dengan hindu india suku tamil yang berada di Indonesia. Bagaimana Dampak Terhadap Budaya pernikahan adat antara hindu bali dengan hindu india suku tamil yang berada di Indonesia dengan adanya sikap toleransi METODE Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah. Dimana peneliti sebagai instrumen kunci dan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi, kemudian menganalisis data dengan triangulasi atau member check. Jenis penelitian ini yuridis empiris, penelitian ini dilakukan terhadap keadaan sebenarnya atau keadaan nyata yang terjadi dilingkungan masyarakat dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan, teknik pengumpulan datanya menggunakan data primer dan data sekunder, data primer mencantumkan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 tahun 1997 Tentang Perkawinan, dan data sekuder didapat dari penjelasan terhadap data primer, yang didapat dari hasil-hasil penelitian, metode pengumpulan data dengan cara melakukan studi kepustakaan, wawancara dan observasi HASIL DAN PEMBAHASAN Pandangan Masyarakat Terhadap Budaya pernikahan adat antara hindu bali dengan hindu india suku tamil yang berada di Indonesia Di indonesia, masyarakat umat beragama hindu mengenal adanya budaya pernikahan adat, baik itu adat pernikahan hindu Bali maupun adat pernikahan hindu India dari suku tamil, yang masih dilestarikan hingga saat ini. budaya pernikahan antara Hindu Bali dan Hindu india Tamil di Indonesia umumnya sangat positif terutama pada aspek nilai dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Meskipun terdapat perbedaan dalam ritual dan simbolisme, kedua tradisi ini memiliki kesamaan dalam menekankan pentingnya komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga. Dalam tradisi Hindu Bali, perkawinan dianggap sebagai bagian dari Catur Asrama . mpat tahapan kehidupa. , khususnya tahap 4691 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 Grihastha . ehidupan berkeluarg. , yang merupakan kewajiban untuk mencapai keseimbangan spiritual dan sosial. (Made Suarjaya,SH. ,MH 2. Dalam tradisi Hindu Tamil, perkawinan juga dianggap sebagai ikatan sakral yang menyatukan dua keluarga besar. Ritual seperti Saptapadi . ujuh langka. dan persembahan kepada para dewa melambangkan komitmen pasangan untuk menjalani hidup bersama secara harmonis dan saling mendukung. Nilai-nilai moral yang ditekankan meliputi pentingnya kesetiaan, pengorbanan, dan tanggung jawab dalam memelihara keutuhan rumah tangga. Secara umum, masyarakat Indonesia menilai bahwa kedua tradisi pernikahan ini bukan sekedar upacara adat, melainkan juga sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai moral yang tinggi dalam kehidupan berkeluarga. Oleh karena itu, perkawinan dalam kedua tradisi ini dipandang sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai dan patut dilestarikan serta dihormati. (Dr. Kobalen. Phil 2. Kemudian menurut adat dan tradisi pernikahan hindu bali dan hindu india suku tamil pernikahan ini sangat kaya akan ritual dan simbolisme, seperti prosesi pernikahan dalam adat dan tradisi hindu bali yang berfokus pada penyucian melukat, persembahan kepada dewa dan leluhur serta pembentukan ikatan keluarga yang kuat, dan dalam proses rangkaian upacara pernikahan hindu bali cukup panjang dan melibatkan berbagai tahapan seperti sistem memadik/meminang,dimana pihak pria melamar pihak wanita, kemudian menentukan hari baik, pemilihan hari pernikahan berdasarkan perhitungan kalender bali, kemudian acara selanjutnya yaitu Ngekeb Dimana dalam beberapa hari menjelang pernikahan, calon pengantin Wanita dikurung, dan tidak diperbolehkan melihat matahari atau keluar rumah tujuannya untuk membersihkan diri secara spiritual dan fisik, serta melambangkan pelepasan masa lajang, selanjutnya penjemputan manten, pada hari pernikahan yang telah ditentukan pihak keluarga pria datang ke rumah pihak keluarga Wanita untuk menjemput calon pengantin Wanita, kemudian rombongan pria membawa berbagai seserahan . dan diiringi oleh musik tradisional bali, calon pengantin Wanita biasanya ditutupi oleh kain kuning . yang melambangkan bawasannya ia meninggalkan masa lajang dan menuju kehidupan baru. Kemudian acara selanjutnya mungkah lawang yaitu upacara pembukaan pintu sebagai simbol penerimaan pengantin Wanita. Kemudian upacara masegehagung. Dimana pengantin Wanita dibawa masuk dan disambut oleh keluarga pengantin pria, kemudian upacara Mekala-kalaan adalah upacara penyucian kepada kedua mempelai dan kedua mempelai di dudukan berdampingan dan di payungi dengan payung upacara, berbagai simbol dan mantra di ucapkan oleh pandita untuk membersihkan diri mereka dari energi negative dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan baru. Selanjutnya mewidhi widana upacara persembahan kepada dewa dan leluhur, dan kedua mempelai sama-sama melakukan persembahan sebagai ungkapan rasa Syukur dan memohon restu untuk kehidupan pernikahan mereka, berikutnya yaitu Mejamuan, dalam ritual ini Dimana kedua keluarga mempelai melakukan persembahan ke pura keluarga . anggah/meraja. untuk memberitahukan kepada leluhur mengenai pernikahan tersebut, dan memohon restu. Dan yang terakhir yaitu Pawiwahan . kad nikah di pur. , inti dari upacara pernikahan ini yaitu pernikahan biasanya dilakukan di pura keluarga atau pura desa, dan pandita akan memimpin upacara pernikahan dengan membacakan mantra-mantra suci dan memberikan nasihat pernikahan kepada kedua mempelai, dan kemudia kedua mempelai akan melakukan simbolis seperti mengikatkan kain Bersama dan menerima Tirta . ir suc. ,(Wardana. Sukrawati, and Putri 2. pernikahan dalam hindu tamil dilakukan dengan cara vivaha homom. Yang pertama Upacara melamar (Nicchaya. yaitu upacara dimana kedua mempelai khusus nya mempelai pria meminta persetujuan untuk meminang mempelai wanitanya, setalah upacara melamar di terima oleh mempelai wanita maka acara selanjunya yaitu Upacara Tunangan (Parusa. Upacara tunangan atau tukar cincin diadakan ditempat Perempuan atau di pura/kuil/mandhir. Dalam upacara tunangan ada ritual khusus yaitu Hantaran dibawa oleh pihak laki-laki terdiri dari 5,7 atau 9 talam/nampan. Kesemua talam tersebut dibawa dengan meletakkannya di 4692 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 Pundak kanan Wanita dari pihak laki-laki ketempat upacara. Yang ketiga Upacara perkawinan (Thirumana. Urutan upacara ritual perkawinan dalam adat hindu Tamil Yang pertama yaitu mapillai Thol. endamping mempelai pria, yang biasanya saudara laki-laki mempelai Wanit. akan menuntun mempelai pria ke mimbar pernikahan. Kemudian upacara Nalunggu yang Dimana kedua mempelai disucikan atau tolak bala, dan menanam pohon kehidupan mereka yaitu . ohon bod. Setelah itu Orang tua kedua mempelai akan diminta untuk duduk dihadapan anak-anak mereka, pendeta yang memimpin upacara akan memberikan Vibuthi Prasadam kepada orang tua kedua mempelai, dan kemudian thaali yang suci akan dililitkan pada kelapa dan dibawa mengelilingi para undangan untuk mendapat restu. Dan ayah Wanita mempelai akan melakukan AuKanniga DhanamAy. selanjutnya baik mempelai pria maupun Wanita akan melakukan AuPaatha PoojaAy bagi orang tua masing-masing, pendeta yang memimpin upacara akan menyerahkan Thaali kepada mempelai pria yang akan mengalungkan dan mengikatkan dileher mempelai Wanita sebanyak tiga kali ikatan, mengikuti bunyi AuKetti MelamAy. Kemudian setelah thaali diikatkan dileher mempelai Wanita maka selanjutnya yaitu (Dhana. menuntun mempelai Wanita dan menyerahkan kepada mempelai pria. ritual ini dikenal sebagai Kannika Dhanam. Setelah itu kedua mempelai melakukan saptha pathi/tujuh Langkah, ritual ini mengharuskan mempelai Wanita berjalan menginjak tujuh pijakan disekeliling lubang homa. Kemudian selanjutnnya upacara Laaja Homam (Upacara Agnihotr. pasangan suami istri itu akan mengelilingi dewa agni dilubang homa sebanyak tiga kali untuk menyelesaikan ritual tersebut. acara selanjutnya yaitu acara bertukar kalung bunga, selanjutnya yaitu mempelai Wanita menginjak batu giling/ ammi kalle. Ketika mempelai Wanita menginjak batu giling. mempelai pria akan mengarahkan kaki mempelai Wanita dan memasang cincin perak dijari kaki yang dikenal dengan AumettiAy setelah acara ini kita tidak memerlukan bukti lain tentang statusnya sebagai seorang istri yang beragama hindu, pemujaan dan ritual telah telah selesai dan sudah resmi menjadi suami istri. (Kobalen 2. Dalam pernikahan adat antara hindu bali dengan hindu india suku tamil terdapat adanya beberapa tekanan sosial seperti pengaruh tradisi dan adat keduanya sangat dipengaruhi oleh norma dan kebiasaan tradisional yang mengatur proses pernikahan, pemilihan pasangan dan kehidupan setelah menikah, jika melanggar tradisi dapat menimbulkan tekanan dari keluarga dan juga masyarakat. Seperti halnya dalam Pernikahan adat Bali mengandung berbagai tekanan sosial yang sangat dipengaruhi oleh norma dan tradisi setempat. Salah satu tekanan utama berasal dari sistem kasta, yang mengatur siapa yang diperbolehkan untuk menikah dengan Pernikahan antar kasta, terutama yang melibatkan pasangan dari kasta yang lebih tinggi dengan kasta yang lebih rendah,. isebut nyero. sering dianggap sebagai pelanggaran terhadap adat dan dapat berakibat pada pengucilan sosial. Selain itu, restu dari banjar . omunitas adat des. memiliki peranan yang sangat penting, karena tanpa persetujuan mereka, pernikahan dianggap tidak sah secara adat dan pasangan tidak dapat berpartisipasi dalam upacara atau kegiatan sosial lainnya. Tekanan ekonomi juga menjadi faktor signifikan, sebab keluarga diharapkan untuk melaksanakan serangkaian upacara adat yang memerlukan biaya besar dan rumit, agar pernikahan mereka dianggap sah dan terhormat dalam masyarakat. Di samping itu, perempuan dalam pernikahan adat Bali umumnya mengikuti sistem patrilokal, di mana mereka tinggal bersama keluarga suami dan menyesuaikan diri dengan adat serta kewajiban suami. Perempuan yang tidak memenuhi ekspektasi ini sering kali mendapat tekanan dari keluarga maupun masyarakat sekitar. Semua tekanan ini menimbulkan tantangan besar bagi individu yang ingin menikah sesuai dengan keinginan mereka, namun harus mempertimbangkan norma sosial yang sangat ketat. (Penelitian et al. Begitupun Pernikahan dalam budaya Hindu Tamil di Indonesia menghadapi berbagai tekanan sosial yang kuat, yang sangat dipengaruhi oleh norma-norma dan tradisi yang telah lama berkembang dalam komunitas. Salah satu tekanan terbesar adalah sistem perjodohan, yang masih sangat kental diterapkan di kalangan keluarga Tamil. Dalam praktik ini, orang tua 4693 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 atau keluarga besar memiliki peran yang sangat dominan dalam menentukan pasangan hidup anak mereka, dengan mempertimbangkan kesesuaian berdasarkan kasta, gotra . , serta latar belakang sosial dan budaya keluarga. Tekanan ini muncul karena orang tua merasa bertanggung jawab untuk menjaga keharmonisan keluarga dan kelestarian budaya mereka, serta menghindari pernikahan yang dianggap dapat merusak nilai-nilai tradisional yang dijunjung tinggi. Selain itu, meskipun secara hukum sistem kasta tidak diakui di Indonesia, tekanan sosial yang terkait dengan sistem kasta tetap berperan penting dalam masyarakat Hindu Tamil. Perkawinan antar kasta seringkali dianggap sebagai pelanggaran terhadap norma adat dan dapat mengakibatkan pengucilan sosial atau kehilangan status dalam komunitas. Tekanan ini sangat dirasakan oleh individu yang ingin menikah dengan pasangan yang tidak berasal dari kasta yang sama atau yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh keluarga. Tekanan ekonomi juga menjadi faktor signifikan, sebab keluarga diharapkan untuk melaksanakan serangkaian upacara adat yang memerlukan biaya besar dan rumit. (Utami. Syahminan,2. Kemudian Sikap masyarakat juga berperan penting dalam proses pernikahan tersebut, dimana kedua budaya ini menunjukan sikap yang saling menghormati dan menghargai, dalam budaya pernikahan adat hindu bali, masyarakat menunjukan sikap yang saling mendukung, dimana dalam proses acara dan upacara pernikahan, masyarakat adat bergotong royong untuk menyukseskan acara, tidak hanya itu masyarakatpun melestarikan dan menjalankan tradisi secara turun-temurun. Masyarakat bali tidak hanya mematuhi seluruh tahapan upacara pernikahan, tetapi juga menjadikan sebagai bentuk pengabdian spiritual dan sosial. Adanya keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat adat dalam setiap prosesi mencerminkan nilai yang tinggi, generasi muda pada umumnya menunjukan kebanggaan terhadap tradisi ini, sehingga pernikahan adat tetap hidup dan relevan meskipun ditengah pengaruh modernisasi dan (Windia and Sudantra 2. Begitupun juga dengan sikap masyarakat hindu india suku tamil terhadap budaya pernikahan adat, menunjukan sikap yang saling menghargai dan menjaga kelestarian budaya, masyarakat tamil cenderung menjaga kemurnian tradisi dari tanah asal, dengan melaksanakan upacara pernikahan sesuai dengan adat tamil yang khas dengan sarat makna keagamaan, masyarakat tamil biasanya menunjukan solidaritas yang kuat, terutama dalam mendukung dan menghadiri upacara pernikahan adat tamil. Tradisi pernikahan ini tetap di pertahankan oleh masyarakat tamil, meskipun terdapat pengaruh modernisasi terutama dikalangan generasi muda, pelaksanaan pernikahan adat tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur. (Devano Barus. Ritonga, and Ismail 2. Hal tersebut sejalan dengan hasil observasi penulis yakni wawancara bersama bapak Ketut,selaku masyarakat di pure Agung Wira Satya Buana, yang menganut agama hindu Bali penulis meminta pandangan narasumber terhadap budaya pernikahan adat, dan narasumber tersebut mengatakan bahwa budaya pernikahan ini kalau menurutnya sepanjang tidak melanggar kitab suci dan aspek-aspek seperti Mekala-kalaan dan adat penting lainnya, dan sepanjang itu dipenuhi itu tidak masalah dan yang lain-lainnya seharusnya disederhanakan saja, karena zaman pun sudah lebih modern dan beliau berharap jangan sampai masyarakat lain mengangap bahwasannya prosesi pernikahan hindu itu sangat kompleks. (Ketut 2. Begitupun dengan sumber lainnya yaitu bapak Komang Susila,sebagai salah satu masyarakat yang menganut agama hindu bali, beliau mengajar di Mahatma Gandhi School Tabing Kemayoran. Jakarta Pusat. beliau mengungkapkan bahwa budaya patut dilestarikan karena merupakan warisan leluhur yang adiluhung. Budaya menyimpan nilai luhur yang tidak ternilai harganya oleh karena itu sudah sepantasnya kita lestarikan,Namun dalam upaya pelestarian yang kita lakukan penting untuk bersikap bijaksana dengan senantiasa memperhatikan perkembangan zaman yang terus bergerak maju serta menjadikan selaras dengan aturan aturan yang ada di dalam kitab suci Weda, agar pelestarian budaya ini dapat 4694 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 berjalan secara harmonis dan memberikan manfaat yang baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. (Komang Susila 2. Sedangkan,menurut masyarakat yang menganut agama hindu india suku tamil yakni ibu Mayuri,tinggal di angkasa dalam 1 Kemayoran Jakarta Pusat dalam wawancaranya menyatakan budaya pernikahan menurutnya sangat penting dan harus dilestarikan karena pernikahan ini membawa pesan yang sangat sakral kepada kedua belah pihak, baik kepada masyarakat India tamil yang khusunya berada di indonesia. Setiap upacara pernikahan yang dilakukan di kuil-kuil yang tersebar di Indonesia dengan dipandu oleh Tirumana Pucari . dengan mengucapkan mantra-mantra hindu yang sangat sakral. (Mayuri 2. Begitupun menurut pendapat dari sumber lainnya seperti bapak Jaya Ganesa. ST yang bertempat tinggal di Palm Kondang Asri mengungkapkan bahwa pernikahan dengan budaya hindu tamil yang dilakukan oleh masyarakat tamil di Indonesia sampai saat ini, merupakan suatu hal yang menjadi dasar norma dalam berumah tangga sesuai dengan kaidah-kaidah agama hindu yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi. Berbagai macam ritual pernikahan yang dilakukan secara bertahap mulai dari upacara melamar, upacara tunangan, dan upacara Ketiga langkah-langkah tersebut, merupakan suatu hal yang sangat penting untuk menjadi sauatu tolak ukur dalam suatu pernikahan. Proses upacara yang dilakukan berdasarkan adat istiadat yang dilakukan juga di india sampai dengan saat ini. Dengan demikian dapat kita simpulkan proses adat pernikahan hindu tamil di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat penting dalam membangun mahligai rumah tangga. (Ganesa 2. Dampak Terhadap Budaya pernikahan adat antara hindu bali dengan hindu india suku tamil yang berada di Indonesia dengan adanya sikap toleransi Pernikahan antara hindu bali dan hindu suku tamil dapat memiliki dampak yang signifikan,terutama dalam hal perbedaan budaya,adat istiadat,dan praktik agama. seperti ini dapat menjadi media untuk pertukaran budaya dan pemahaman,namun juga dapat menimbulkan tantangan dalam hal persetujuan keluarga,norma sosial,dan praktik ritual. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pandita Made Suarjaya SH. ,MH beliau adalah salah satu Pandita di Pure Agung Wira Satya Buana Jakarta Pusat, beliau adalah ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesi. , dalam wawancarnya beliau mengatakan berdasarkan penjelasan kitab Manawa Dharmasastra tersebut bahwa sistem/bentuk perkawinan ada delapan jenis yaitu: Brahma Wiwaha. Daiwa Wiwaha. Arsa Wiwaha. Prajapati Wiwaha. Asura Wiwaha. Gandharwa Wiwaha. Raksasa Wiwaha, dan Paisaca Wiwaha. Meskipun demikian, di Bali. Gandharwa Wiwaha . ernikahan atas dasar suka sama suk. adalah yang paling lazim. Selain itu, dikenal pula Asura Wiwaha, di mana pria memberikan mas kawin atas inisiatif sendiri kepada wanita dan ayahnya. Di beberapa daerah kecil Bali, terdapat juga Arsa Wiwaha yang mengharuskan pihak pria memberikan satu atau dua pasang lembu atau babi kepada pihak wanita agar pernikahan dapat dilangsungkan. Dalam wawancaranya. Bapak Pandita juga menyebutkan beberapa jenis pernikahan lain yang masih kuat dalam adat Bali, seperti sistem memadik/meminang, ngerorod/ngerangkat . awin lar. , nyentana, dan melegandang. Dan dalam pelestarian budaya balinya setidak-tidaknnya hampir mendekati sama dan masih sesuai Dampak pernikahan hindu bali menurut pandita Made Suarjaya SH. ,MH menyatakan, tentunya berdampak kepada budaya yang ada di bali, karna jenis pernikahan tersebut disusun berdasarkan waktu yang lampau dimana nilai-nilai kemasyarakatan pada saat itu sudah sangat berbeda dengan nilai-nilai di masyarakat saat ini yang menjungjung tinggi HAM . ak asasi manusi. ,sebagai jenis pernikahan sebagaimana diuraikan di atas hanya kita ketahui dari literatur saja tanpa praktik, namun hal tersebut sejalan dengan penghormatan terhadap nilainilai HAM khususnya terhadap kedudukan wanita dalam pernikahan yang tidak menjadi korban dari nafsu atau keinginan sekelompok orang. (Made Suarjaya SH. ,MH 2. Selanjutnya menurut sudut pandang bapak Dr. Kobalen,S. E,M. Phil,Ph. Beliau adalah satu tokoh agama hindu suku tamil sekaligus pendiri Temple/Kuil Shri Sanathana 4695 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 Dharma Alayam di jakarta, menyatakan bahwa dalam Ashta Vivaham Dalam Sastra Hindu Terdapat Delapan Jenis Perkawinan yaitu Brahma. Arsham. Daiva. Prajaapatya. Asura. Ghaandarva. Raat/Chasa. Paisaasam. Dalam wawancaranya, beliau menjelaskan bahwa dari delapan jenis pernikahan yang disebutkan, hanya Brahma. Daiwa. Arsham, dan Prajapatya yang umumnya dipraktikkan. Namun, di kalangan masyarakat Hindu Tamil, pernikahan Brahma menjadi yang paling sering dilakukan karena melibatkan upacara Veda, mendapatkan restu dari kedua pihak keluarga, dan dilaksanakan dengan penuh keagungan sesuai sastra. Lebih lanjut, pernikahan dalam tradisi Hindu Tamil dilakukan melalui ritual Vivaha Homam. Dan pelaksanaan perkawinan terdiri dari tiga. Upacara melamar ( Nicchaya. Upacara tunangan (Parusa. Upacara perkawinan (Thirumana. Adat perkawinan Tamil masih dibilang sangat kental, namun di Indonesia banyak mengalami penyederhanaan tanpa menghilangkan maknanya. Jika mengikuti tradisi di India Selatan, pernikahan bisa berlangsung hingga tujuh hari atau minimal tiga hari dengan seluruh rangkaian Namun, karena keterbatasan waktu, ekonomi, dan kondisi di Indonesia, dilakukan penyederhanaan agar pernikahan tetap bermakna meski dilaksanakan lebih sederhana. Pelestarian budaya Tamil dalam pernikahan di Indonesia masih sangat sesuai hingga kini. Contohnya, wanita Tamil yang menikah wajib memakai Taali . sebagai simbol perkawinan, minji . incin kak. , bertukar kalung, dan menerima sindur dari suami sebagai penanda pernikahan. Selain itu, wanita Tamil yang sudah menikah dan jika keluar rumah harus mengenakan sindur. Dampak pernikahan hindu tamil menurut bapak Dr. Kobalen,S. E,M. Phil,Ph. sangat ada dampak namun dampak nya positif, seperti menguatkan ikatan antar keluarga dan komunitas, menjaga kelestarian budaya serta adat istiadat, dan menanamkan nilai-nilai moral serta spiritual. Selain itu, upacara ini juga menjadi dasar terbentuknya keluarga yang harmonis dan memberikan teladan bagi generasi muda mengenai arti penting komitmen dan tanggung jawab, menurutnya dampak negatifnya karena sebagian orang dengan adanya modernisasi yang sekarang ada beberapa dari mereka yang sudah jarang memakai sindur keluar rumah, minji sudah tidak dipakai menurut beliau negatif nya itu, dan sebagian adat itu sudah mulai hilang, karena tidak ada yang menjelasan kepada generasi muda,sehingga beberapa dari mereka tidak tahu maknanya. Di perkawinan masyarakat Tamil sebenarnya paling banyak tersimpan makna-makna, simbol-simbol dan pesan-pesan. (Dr. Kobalen,S. E,M. Phil 2. Setelah mengetahui dampak dari pernikahan antara dua suku antara hindu bali dengan hindu india suku tamil, bahwa diketahui dampak positif yaitu adanya peningkatan toleransi yakni pernikahan beda budaya dapat menjadi contoh nyata dari toleransi dan Toleransi ini memungkinkan terjadinya pelestarian tradisi masing-masing dengan penyesuaian yang harmonis, toleransi dalam pernikahan tersebut turut membentuk generasi yang menjunjung nilai-nilai multikultural, terbuka terhadap perbedaan, serta mampu menjadi jembatan antar budaya dalam kehidupan bermasyarakat. KESIMPULAN budaya pernikahan antara Hindu Bali dan Hindu india Tamil di Indonesia umumnya sangat positif terutama pada aspek nilai dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Meskipun terdapat perbedaan dalam ritual dan simbolisme, kedua tradisi ini memiliki kesamaan dalam menekankan pentingnya komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga. Pernikahan adat Hindu Bali dan Hindu Tamil merupakan rangkaian upacara sakral yang sarat makna spiritual dan simbolis. Kedua tradisi memiliki tahapan penting yang menandai ikatan suci antara kedua mempelai. Pernikahan ini dipengaruhi oleh tekanan sosial, seperti sistem kasta, restu keluarga, dan beban ekonomi, yang membatasi kebebasan memilih pasangan. Namun, masyarakat dari kedua budaya secara aktif melestarikan tradisi tersebut dengan semangat menghargai dan menyesuaikan pelaksanaannya sesuai 4696 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 5, 2025 perkembangan zaman dan ajaran kitab suci, sehingga tradisi pernikahan adat tetap hidup dan Pernikahan antara komunitas Hindu Bali dan Hindu Tamil di Indonesia mencerminkan dinamika interaksi budaya yang kompleks namun konstruktif. Meskipun terdapat perbedaan dalam adat, budaya, dan praktik keagamaan, pernikahan ini menjadi sarana pertukaran nilai dan pelestarian tradisi. Penyesuaian terhadap nilai-nilai modern, seperti penghormatan terhadap hak asasi manusia dan peran perempuan, menunjukkan bahwa budaya dapat berkembang seiring waktu tanpa kehilangan esensinya. Baik dalam adat Bali maupun Tamil, simbol dan ritual tetap dijaga maknanya meskipun mengalami penyederhanaan. Dampaknya, pernikahan ini memperkuat ikatan sosial, mendorong toleransi, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberagaman budaya di tengah arus modernisasi. REFERENSI