Hubungan Paparan Promosi Kesehatan dengan Perubahan Perilaku Merokok pada Mahasiswa Sri Umriani Alisi1*. Nanda Labado2 Program Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia1,2 Received : 21/09/2025 Revised : 17/10/2025 Accepted : 25/11/2025 Published : 31/12/2025 Corresponding Author: Author Name*: Sri Umriani Alisi Email*: sriumrianialisi@gmail. DOI: A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Phone*: 082244256635 Abstrak: Perilaku merokok pada mahasiswa merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan serius melalui strategi promosi kesehatan yang efektif dan terukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat paparan promosi kesehatan terkait bahaya merokok pada mahasiswa dan menganalisis hubungannya dengan perubahan perilaku merokok. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 120 mahasiswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada tingkat paparan promosi kesehatan kategori sedang . ,0%), dengan media sosial sebagai saluran paparan yang paling dominan . ,5%), sementara penyuluhan langsung terbukti menghasilkan pemahaman pesan kesehatan tertinggi . ,1%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan promosi kesehatan dengan perubahan perilaku merokok pada mahasiswa . = 0,003. koefisien kontingensi = 0,. Disimpulkan bahwa promosi kesehatan berperan penting dalam mendorong perubahan perilaku merokok mahasiswa, namun perlu diperkuat melalui pendekatan multikomponen yang mengintegrasikan intervensi komunikasi aktif, penguatan regulasi kawasan tanpa rokok, dan pemberdayaan komunitas mahasiswa secara berkelanjutan. Kata Kunci: Promosi Kesehatan. Perilaku Merokok. Mahasiswa. Paparan Media. Perubahan Perilaku. Pendahuluan Merokok merupakan salah satu masalah kesehatan global yang hingga kini masih menjadi tantangan serius bagi dunia kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahunnya, di mana lebih dari 7 juta kematian disebabkan oleh konsumsi tembakau secara langsung dan sekitar 1,2 juta kematian akibat paparan asap rokok pada perokok pasif (WHO, 2. Indonesia sendiri menempati posisi yang sangat memprihatinkan sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok aktif terbesar di dunia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menunjukkan bahwa prevalensi perokok aktif di Indonesia mencapai 28,8% dari total penduduk, ___________ How to Cite: Alisi. , & Labado. Hubungan paparan promosi kesehatan dengan perubahan perilaku merokok pada mahasiswa. Jurnal Promosi. Komunikasi dan Kesehatan (J-SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. dengan kecenderungan usia pertama kali merokok yang semakin muda, yakni pada rentang usia 10Ae18 tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam situasi darurat tembakau yang memerlukan respons komprehensif dari berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di tingkat nasional, kelompok usia mudaAikhususnya mahasiswaAi menjadi segmen populasi yang paling rentan terhadap perilaku merokok. Masa transisi dari remaja menuju dewasa yang dialami mahasiswa kerap diiringi oleh perubahan lingkungan sosial, tekanan akademik, serta pengaruh kelompok sebaya yang secara signifikan mendorong inisiasi dan kontinuitas perilaku Survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia melaporkan bahwa prevalensi merokok pada kelompok usia 15Ae24 tahun mencapai angka yang mengkhawatirkan, dengan laki-laki muda sebagai kelompok dominan (GATS, 2. Studi yang dilakukan oleh Rachmat. Thaha, dan Syafar . menemukan bahwa mahasiswa yang terpapar lingkungan sosial perokok memiliki kecenderungan dua kali lebih besar untuk menjadi perokok aktif dibandingkan mahasiswa yang tidak terpapar. Fenomena ini diperparah dengan mudahnya akses terhadap produk rokok, harga yang relatif terjangkau, serta kurangnya penegakan regulasi kawasan tanpa rokok di lingkungan perguruan tinggi, yang menjadikan kampus sebagai salah satu ruang sosial dengan tingkat paparan asap rokok yang tinggi. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, promosi kesehatan telah lama diposisikan sebagai strategi utama dalam upaya pengendalian tembakau. Promosi kesehatan mencakup berbagai intervensi edukatif, seperti kampanye media massa, penyuluhan langsung, pemasangan label peringatan bergambar pada kemasan rokok, hingga pemanfaatan platform digital dan media sosial untuk menyebarluaskan pesan-pesan kesehatan. Notoatmodjo . menegaskan bahwa promosi kesehatan yang efektif tidak hanya meningkatkan pengetahuan seseorang, tetapi juga mampu mengubah sikap dan pada akhirnya mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan. Namun demikian, dalam konteks perilaku merokok pada mahasiswa, efektivitas promosi kesehatan masih menunjukkan hasil yang inkonsisten. Beberapa penelitian melaporkan bahwa paparan pesan kesehatan anti-rokok berhasil meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang bahaya merokok, tetapi tidak secara otomatis diikuti oleh perubahan perilaku merokok yang nyata (Amalia. Susanna, & Kusuma, 2. Kesenjangan antara peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini mengindikasikan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang turut berperan dalam Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. memediasi hubungan antara paparan promosi kesehatan dan perubahan perilaku Gap empiris dalam penelitian ini terletak pada minimnya studi yang secara spesifik mengukur hubungan antara intensitas dan jenis paparan promosi kesehatan dengan perubahan perilaku merokok pada populace mahasiswa di Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa. Sebagian besar penelitian yang telah ada cenderung berfokus pada pengukuran tingkat pengetahuan dan sikap sebagai variabel antara, tanpa secara langsung menghubungkan frekuensi serta jenis media promosi kesehatan yang diterima dengan perubahan perilaku merokok yang terukur. Selain itu, penelitian terdahulu umumnya dilakukan di lingkungan perkotaan besar dengan infrastruktur promosi kesehatan yang lebih mapan, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan pada konteks mahasiswa di daerah seperti Sulawesi Utara, yang memiliki karakteristik sosial budaya dan aksesibilitas media kesehatan yang berbeda. Padahal, data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara . menunjukkan bahwa prevalensi perokok aktif di provinsi ini masih berada di atas rata-rata nasional. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan guna mengisi kekosongan bukti ilmiah tersebut dan memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi promosi kesehatan yang lebih tepat sasaran, efektif, dan kontekstual bagi mahasiswa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosectional . otong lintan. , yaitu suatu rancangan penelitian yang mengukur variabel bebas dan variabel terikat secara bersamaan pada satu titik waktu tertentu, sehingga memungkinkan peneliti untuk menganalisis hubungan antara paparan promosi kesehatan sebagai variabel independen dengan perubahan perilaku merokok sebagai variabel dependen dalam waktu yang efisien dan terstruktur (Notoatmodjo, 2. Pendekatan cross-sectional dipilih karena dinilai sesuai untuk penelitian epidemiologi perilaku yang bertujuan mengetahui prevalensi suatu fenomena sekaligus menganalisis hubungan antar variabel pada populasi tertentu (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif yang terdaftar di perguruan tinggi, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yakni pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, di antaranya mahasiswa berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan yang memiliki riwayat merokok atau pernah terpapar promosi kesehatan terkait bahaya rokok (Dharma, 2. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner terstruktur yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas, mencakup skala pengukuran paparan promosi kesehatanAimeliputi frekuensi, jenis media, dan pemahaman pesanAi Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. serta skala pengukuran perubahan perilaku merokok yang mengacu pada tahapan perubahan perilaku dalam Transtheoretical Model (TTM) yang dikembangkan oleh Prochaska dan DiClemente, yang membagi perubahan perilaku ke dalam lima tahap yaitu precontemplation, contemplation, preparation, action, dan maintenance (Prochaska & Velicer, 1. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan tingkat paparan promosi kesehatan, serta analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square guna menguji ada tidaknya hubungan yang signifikan antara paparan promosi kesehatan dengan perubahan perilaku merokok pada mahasiswa, dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. (Hastono, 2. Hasil Penelitian Tingkat Paparan Promosi Kesehatan Terkait Bahaya Merokok Pada Mahasiswa Hasil analisis univariat terhadap tingkat paparan promosi kesehatan terkait bahaya merokok pada mahasiswa menunjukkan distribusi yang bervariasi berdasarkan jenis media, frekuensi paparan, dan pemahaman terhadap pesan kesehatan yang diterima. Dari total 120 responden mahasiswa yang menjadi sampel penelitian, diperoleh gambaran bahwa sebagian besar mahasiswa telah terpapar setidaknya satu bentuk promosi kesehatan anti-rokok dalam tiga bulan terakhir, namun tingkat paparan yang dikategorikan tinggi yakni terpapar secara rutin melalui lebih dari dua jenis media hanya ditemukan pada sebagian kecil Secara keseluruhan, paparan promosi kesehatan pada mahasiswa dikategorikan menjadi tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang, dan rendah, berdasarkan skor kumulatif yang diperoleh dari kuesioner terstruktur yang telah Notoatmodjo . menegaskan bahwa tingkat paparan terhadap informasi kesehatan merupakan salah satu faktor determinan utama yang membentuk pengetahuan, sikap, dan pada akhirnya perilaku kesehatan seseorang, sehingga pengukuran tingkat paparan ini menjadi langkah krusial dalam memahami dinamika perubahan perilaku merokok pada populasi Distribusi tingkat paparan promosi kesehatan secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Distribusi Tingkat Paparan Promosi Kesehatan pada Mahasiswa . Tingkat Paparan Frekuensi . Persentase (%) Tinggi Sedang Rendah Total Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Ditinjau dari jenis media promosi kesehatan yang paling banyak diakses oleh mahasiswa, media digitalAikhususnya media sosial seperti Instagram. YouTube, dan TikTokAimenempati posisi tertinggi sebagai sumber paparan promosi kesehatan anti-rokok yang paling sering ditemui. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72,5% responden menyatakan pernah melihat konten promosi kesehatan terkait bahaya rokok melalui platform media sosial, diikuti oleh label peringatan bergambar pada kemasan rokok . ,3%), poster atau spanduk di lingkungan kampus . ,2%), penyuluhan langsung atau seminar kesehatan . ,3%), serta leaflet dan brosur . ,5%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Pertiwi. Masfiah, dan Suharyo . yang menyatakan bahwa media sosial telah menggeser peran media konvensional sebagai saluran utama penerimaan informasi kesehatan pada generasi muda, terutama mahasiswa yang memiliki intensitas penggunaan internet yang tinggi dalam kehidupan seharihari. Namun demikian, tingginya akses terhadap konten digital tidak serta-merta menjamin kualitas pemahaman pesan kesehatan yang diterima, mengingat konten di media sosial kerap bersaing dengan konten hiburan dan promosi produk rokok yang juga masif beredar di platform yang sama. Distribusi jenis media yang menjadi sumber paparan promosi kesehatan pada responden disajikan pada tabel Tabel 2. Distribusi Jenis Media Paparan Promosi Kesehatan pada Mahasiswa . Jenis Media Promosi Kesehatan Frekuensi Persentase . (%) Media sosial (Instagram. YouTube. TikTo. Label peringatan bergambar pada kemasan Poster/spanduk di lingkungan kampus Penyuluhan langsung/seminar kesehatan Leaflet dan brosur Berkaitan dengan frekuensi paparan, hasil penelitian mengungkapkan bahwa mayoritas mahasiswa . ,0%) hanya terpapar promosi kesehatan antirokok secara tidak rutin atau kadang-kadang, yakni kurang dari dua kali dalam seminggu, sementara hanya 23,3% yang terpapar secara rutin lebih dari empat kali dalam seminggu. Rendahnya frekuensi paparan yang bersifat terencana dan intensif ini menjadi perhatian serius, mengingat teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Bandura . menyatakan bahwa perubahan perilaku memerlukan paparan yang berulang, konsisten, dan disertai penguatan positif Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. agar internalisasi pesan kesehatan dapat terjadi secara efektif. Dalam konteks promosi kesehatan anti-rokok, frekuensi paparan yang rendah dan tidak terstruktur cenderung menghasilkan efek yang bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk mengatasi pengaruh norma sosial kelompok sebaya yang mendukung perilaku merokok di lingkungan kampus. Kondisi ini mencerminkan bahwa program promosi kesehatan yang berjalan selama ini masih bersifat sporadis dan belum terintegrasi secara sistematis dalam ekosistem pendidikan tinggi, sebagaimana dikritisi oleh Kholid . yang menekankan pentingnya kesinambungan dan intensitas pesan dalam setiap program promosi kesehatan agar mampu menghasilkan dampak perilaku yang terukur dan berkelanjutan. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Paparan Promosi Kesehatan pada Mahasiswa . Frekuensi Paparan Frekuensi . Persentase (%) Rutin (Ou4 kali/mingg. Kadang-kadang . Ae3 kali/mingg. Jarang (O1 kali/mingg. Total Dari aspek pemahaman terhadap pesan promosi kesehatan, hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara tingkat paparan dengan tingkat pemahaman pesan yang diterima mahasiswa. Meskipun sebagian besar responden . ,3%) menyatakan pernah melihat label peringatan bergambar pada kemasan rokok, hanya 41,7% yang menyatakan benar-benar memahami pesan kesehatan yang terkandung di dalamnya secara Sementara itu, dari 38,3% responden yang pernah mengikuti penyuluhan atau seminar kesehatan, sebesar 76,1% di antaranya melaporkan tingkat pemahaman yang lebih baik dibandingkan kelompok yang hanya terpapar melalui media pasif. Fenomena ini mengkonfirmasi temuan Hammond . yang menyimpulkan bahwa label peringatan bergambar pada kemasan rokok memiliki efektivitas yang terbatas dalam mengubah persepsi risiko perokok muda apabila tidak didukung oleh intervensi komunikasi kesehatan yang lebih aktif dan Lebih lanjut. Green dan Kreuter . dalam model PRECEDEPROCEED menekankan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap pesan kesehatan hanya dapat dicapai melalui kombinasi antara paparan media yang intensif dengan fasilitasi pembelajaran aktif, yang dalam konteks mahasiswa dapat diwujudkan melalui integrasi pendidikan kesehatan dalam kurikulum akademik maupun kegiatan kemahasiswaan. Tabel 4. Tingkat Pemahaman Pesan Promosi Kesehatan Berdasarkan Jenis Media . Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Jenis Media Penyuluhan langsung/seminar Media sosial Poster/spanduk Leaflet dan brosur Label peringatan kemasan rokok Terpapar . Memahami Pesan dengan Baik . Persentase Pemahaman (%) Secara keseluruhan, hasil penelitian terkait rumusan masalah pertama ini memberikan gambaran yang komprehensif bahwa tingkat paparan promosi kesehatan terkait bahaya merokok pada mahasiswa berada pada kategori sedang, dengan media sosial sebagai saluran paparan yang paling dominan, namun dengan frekuensi paparan yang belum optimal dan tingkat pemahaman pesan yang masih perlu ditingkatkanAiterutama pada media-media yang bersifat pasif dan satu arah. Kondisi ini mencerminkan perlunya reorientasi strategi promosi kesehatan yang lebih adaptif terhadap karakteristik mahasiswa sebagai kelompok sasaran, dengan mengoptimalkan kombinasi antara media digital yang sudah akrab digunakan mahasiswa dengan metode penyuluhan aktif yang terbukti menghasilkan pemahaman lebih baik. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO . dalam dokumen MPOWER yang mendorong negara-negara anggota untuk mengintensifkan kampanye anti-rokok melalui berbagai saluran komunikasi secara simultan dan berkesinambungan, dengan mempertimbangkan karakteristik demografis dan perilaku media dari kelompok sasaran, khususnya generasi muda yang merupakan populasi paling rentan terhadap inisiasi perilaku Hubungan Antara Paparan Promosi Kesehatan Dengan Perubahan Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat paparan promosi kesehatan dengan perubahan perilaku merokok pada mahasiswa, dengan nilai p = 0,003 . < 0,. dan nilai koefisien kontingensi sebesar 0,412 yang mengindikasikan kekuatan hubungan dalam kategori sedang. Dari 28 responden dengan tingkat paparan tinggi, sebesar 78,6% . berada pada tahap action dan maintenance dalam Transtheoretical Model (TTM), yang berarti mereka telah melakukan upaya nyata untuk mengurangi atau berhenti merokok. Sebaliknya, dari 38 responden dengan tingkat paparan rendah, hanya 13,2% . yang berada pada tahap tersebut, sementara mayoritas . ,5%) masih berada pada tahap Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. precontemplation, yakni belum memiliki niat sama sekali untuk mengubah perilaku Temuan ini secara statistik mengkonfirmasi hipotesis penelitian bahwa semakin tinggi tingkat paparan promosi kesehatan yang diterima mahasiswa, semakin besar kemungkinan mereka mengalami perubahan perilaku merokok ke arah yang lebih positif. Prochaska dan Velicer . menegaskan bahwa individu yang secara konsisten terpapar pesan-pesan kesehatan yang relevan dan persuasif cenderung bergerak lebih cepat melalui tahapan perubahan perilaku, terutama apabila pesan tersebut mampu meningkatkan persepsi risiko sekaligus memperkuat efikasi diri untuk berubah. Distribusi tahap perubahan perilaku merokok berdasarkan tingkat paparan promosi kesehatan disajikan secara rinci pada tabel berikut. Tabel 5. Hubungan Tingkat Paparan Promosi Kesehatan dengan Tahap Perubahan Perilaku Merokok pada Mahasiswa . Tingka Precontemplatio Contemplatio Preparatio Action & Tota n n (%) n n (%) n n (%) Maintenanc Papara e n (%) (%) Tinggi 2 . Sedang 18 . Rendah 23 . Total Uji Chi-Square: p = 0,003 | Koefisien Kontingensi = 0,412 Meskipun hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, analisis yang lebih mendalam mengungkapkan bahwa hubungan antara paparan promosi kesehatan dan perubahan perilaku merokok tidak bersifat linear secara sempurna, melainkan dimoderasi oleh sejumlah faktor kontekstual yang kompleks. Hasil analisis stratifikasi menunjukkan bahwa pada kelompok mahasiswa dengan tingkat ketergantungan nikotin tinggiAiyang diukur menggunakan Fagerstrym Test for Nicotine Dependence (FTND)Aihubungan antara paparan promosi kesehatan dan perubahan perilaku merokok menjadi jauh lebih lemah, dengan nilai p = 0,047 dan koefisien kontingensi hanya 0,198. Hal ini mengindikasikan bahwa promosi kesehatan, meskipun efektif pada populasi perokok ringan hingga sedang, menghadapi tantangan yang jauh lebih besar Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. dalam memengaruhi perubahan perilaku pada perokok berat yang telah mengalami ketergantungan fisik terhadap nikotin. Temuan ini sejalan dengan penelitian Fiore et al. yang menyimpulkan bahwa intervensi promosi kesehatan berbasis komunikasi saja tidak cukup untuk menginduksi perubahan perilaku pada perokok dengan ketergantungan nikotin tinggi, dan perlu dikombinasikan dengan intervensi farmakologis serta konseling intensif agar menghasilkan dampak yang bermakna. Lebih lanjut, faktor norma subjektif kelompok sebaya juga terbukti berperan sebagai variabel perancu yang signifikan, di mana mahasiswa yang tinggal di lingkungan dengan mayoritas perokok aktif cenderung tidak mengalami perubahan perilaku meskipun telah menerima paparan promosi kesehatan yang memadai, sebagaimana dijelaskan oleh Ajzen . dalam Theory of Planned Behavior bahwa norma sosial yang berlaku di lingkungan terdekat individu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk dan mempertahankan perilaku kesehatan. Tabel 6. Hubungan Paparan Promosi Kesehatan dengan Perubahan Perilaku Merokok Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Nikotin . Tingkat Ketergantungan pKoefisien Kekuatan Nikotin Kontingensi Hubungan Rendah (FTND skor 0Ae. 0,001 0,531 Kuat Sedang (FTND skor 4Ae. 0,018 0,324 Sedang Tinggi (FTND skor 7Ae. 0,047 0,198 Lemah Ditinjau dari jenis media promosi kesehatan yang paling berkontribusi terhadap perubahan perilaku merokok, hasil analisis menunjukkan bahwa penyuluhan langsung dan seminar kesehatan memiliki kontribusi terbesar terhadap perubahan perilaku merokok ke arah tahap action dan maintenance, dengan 76,1% peserta penyuluhan melaporkan adanya perubahan perilaku yang nyata pascaintervensi. Sebaliknya, meskipun media sosial merupakan jenis media dengan tingkat paparan tertinggi, kontribusinya terhadap perubahan perilaku aktual relatif lebih rendah dibandingkan penyuluhan langsung, yakni hanya 34,5% dari responden yang terpapar konten anti-rokok di media sosial melaporkan adanya perubahan perilaku yang terukur. Kesenjangan efektivitas antara media aktif dan pasif ini dapat dijelaskan melalui teori Health Belief Model yang dikembangkan oleh Rosenstock . , yang menekankan bahwa perubahan perilaku kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang menerima informasi, tetapi juga oleh sejauh mana informasi tersebut mampu membangun persepsi kerentanan pribadi . erceived susceptibilit. dan persepsi keseriusan dampak . erceived severit. yang kuat dalam diri individuAidua Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. komponen yang lebih efektif dibangun melalui interaksi komunikasi dua arah seperti dalam penyuluhan dibandingkan konsumsi konten pasif di media sosial. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Noar. Benac, dan Harris . yang melalui meta-analisis terhadap 57 kampanye promosi kesehatan menyimpulkan bahwa intervensi yang bersifat interpersonal dan disesuaikan dengan karakteristik individu . ailored interventio. secara konsisten menghasilkan efek perubahan perilaku yang lebih besar dibandingkan kampanye massal yang bersifat umum dan satu arah. Tabel 7. Kontribusi Jenis Media Promosi Kesehatan terhadap Perubahan Perilaku Merokok . Jenis Media Terpapar Mengalami Persentase p. Perubahan (%) Perilaku . Penyuluhan 0,001 langsung/seminar Leaflet dan brosur 0,023 Poster/spanduk 0,031 Media sosial 0,042 Label peringatan 0,048 kemasan rokok Secara kritis, temuan penelitian ini memberikan implikasi yang sangat penting bagi pengembangan kebijakan dan program promosi kesehatan di lingkungan perguruan tinggi. Hubungan yang signifikan namun dengan kekuatan sedang antara paparan promosi kesehatan dan perubahan perilaku merokok mengindikasikan bahwa promosi kesehatan memang berperan penting, namun tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu-satunya instrumen pengendalian perilaku merokok pada mahasiswa. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan multikomponen yang mengintegrasikan promosi kesehatan dengan penguatan regulasi kawasan tanpa rokok di kampus, peningkatan aksesibilitas layanan konseling berhenti merokok, serta pelibatan aktif organisasi kemahasiswaan sebagai agen perubahan perilaku di tingkat peer-to-peer. Hal ini selaras dengan kerangka Ottawa Charter for Health Promotion yang dirumuskan Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. oleh WHO . yang menegaskan bahwa promosi kesehatan yang efektif harus mencakup lima aksi utama secara sinergis, yaitu membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan . uild healthy public polic. , menciptakan lingkungan yang mendukung . reate supportive environment. , memperkuat aksi komunitas . trengthen community actio. , mengembangkan keterampilan personal . evelop personal skill. , dan mereorientasi layanan kesehatan . eorient health service. Ai sebuah pendekatan ekologis yang jauh lebih holistik dibandingkan sekadar penyampaian pesan kesehatan melalui berbagai media kepada individu secara terpisah dari konteks sosial dan lingkungan tempat mereka hidup dan Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan dalam kedua rumusan masalah di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat paparan promosi kesehatan terkait bahaya merokok pada mahasiswa secara umum berada pada kategori sedang . ,0%), dengan media sosial sebagai saluran paparan yang paling dominan diakses . ,5%), namun frekuensi paparan yang bersifat rutin dan intensif masih tergolong rendah, serta terdapat kesenjangan yang signifikan antara tingkat paparan dengan tingkat pemahaman pesan kesehatan yang diterimaAidi mana penyuluhan langsung terbukti menghasilkan pemahaman terbaik . ,1%) dibandingkan media pasif lainnya. selain itu, secara analitik ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara paparan promosi kesehatan dengan perubahan perilaku merokok pada mahasiswa . = 0,003, koefisien kontingensi = 0,. dengan kekuatan hubungan dalam kategori sedang, di mana mahasiswa dengan tingkat paparan tinggi memiliki kecenderungan jauh lebih besar untuk berada pada tahap action dan maintenance dalam perubahan perilaku merokok dibandingkan mahasiswa dengan paparan rendah, meskipun hubungan tersebut dimoderasi oleh faktor tingkat ketergantungan nikotin dan norma sosial kelompok sebaya, sehingga dapat ditegaskan bahwa promosi kesehatan merupakan instrumen yang penting namun perlu diperkuat melalui pendekatan multikomponen yang mengintegrasikan intervensi komunikasi aktif, penguatan regulasi kawasan tanpa rokok di kampus, dan pemberdayaan komunitas mahasiswa secara sinergis dan berkelanjutan guna menghasilkan perubahan perilaku merokok yang lebih bermakna dan lestari. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, direkomendasikan kepada pihak institusi perguruan tinggi agar segera merumuskan dan Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. mengimplementasikan kebijakan kawasan tanpa rokok yang lebih tegas dan konsisten di seluruh area kampus, disertai dengan penyediaan layanan konseling berhenti merokok yang mudah diakses oleh mahasiswa, serta mengintegrasikan pendidikan kesehatan terkait bahaya rokok secara sistematis ke dalam kurikulum akademik maupun program orientasi mahasiswa baru. kepada pengelola program promosi kesehatan dan puskesmas setempat direkomendasikan untuk merancang intervensi promosi kesehatan yang bersifat multikomponen dengan mengoptimalkan kombinasi antara penyuluhan langsung yang terbukti paling efektif meningkatkan pemahaman dengan pemanfaatan platform media sosial yang sudah menjadi ekosistem digital mahasiswa, melalui konten yang kreatif, relevan, dan disesuaikan dengan karakteristik serta nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sasaran. kepada organisasi kemahasiswaan direkomendasikan untuk berperan aktif sebagai agen promosi kesehatan berbasis peer-to-peer dengan membentuk komunitas atau gugus tugas anti-rokok di tingkat program studi maupun fakultas yang mampu menyebarluaskan pesan kesehatan secara lebih personal dan persuasif kepada sesama mahasiswa. serta kepada peneliti selanjutnya direkomendasikan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal guna mengukur efektivitas jangka panjang berbagai jenis intervensi promosi kesehatan terhadap perubahan perilaku merokok, sekaligus mengeksplorasi variabel-variabel mediator dan moderator lainnya seperti efikasi diri, motivasi intrinsik, dukungan keluarga, dan faktor kepribadian yang belum dianalisis secara mendalam dalam penelitian ini, sehingga dapat menghasilkan peta bukti ilmiah yang lebih komprehensif sebagai landasan pengembangan kebijakan pengendalian tembakau yang berbasis data di lingkungan pendidikan Referensi