37 REGISTER BAHASA MANA SUKA BLANTIK SAPI DI MOJOKERTO Erni Wijayanti SMP Negeri 1 Sooko Mojokerto ew@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui register blantik sapi di pasar Pon daerah Kedondong kabupaten Mojokerto. Penulis memaparkan pola interaksi verbal atau karakteristik pemakaian bahasa yang digunakan para blantik sapi dalam kegiatan berkomunikasi sehari-hari di komunitas tertentu. Landasan teori penelitian ini mengacu pada sejumlah teori dalam sosiolinguistik, yaitu seputar bahasa dan Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa data percakapan sehari-hari. Sumber data adalah informan dan peristiwa atau Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah criterion-based selection dan teknik internal sampling. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung adalah teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Wawancara mendalam dilakukan dengan cara wawancara individual, wawancara dengan informan inti, dan wawancara Analisis data ini bersifat kontekstual dengan model analisis interaktif, yaitu menggunakan langkah-langkah reduksi data, sajian data, dan verifikasi. Hasil dari penelitian ini mencakup dua hal. Pertama, penggunaan bahasa yang digunakan para blantik sapi dalam wujud interaksi verbal secara umum terklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu komunikasi yang bersifat internal dan eksternal. Kedua, register yang digunakan blantik sapi di komunitas tertentu, yakni di lingkungan pasar Pon, daerah Kedondong Kabupaten Mojokerto. Kata kunci: pasar Pon, register, pola interaksi verbal PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang memunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa bersifat arbitrer yang dapat diartikan Asewenangwenang, berubah-ubah, tidak tetap, dan mana suka. Oleh karena itu, bahasa sangat terkait dengan budaya dan sosial ekonomi suatu masyarakat penggunanya. Adapun fungsi bahasa yang utama adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi dilakukan oleh manusia yang merupakan makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu dituntut untuk berinteraksi dengan manusia yang lain. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan untuk hidup berhubungan dengan orang lain. Proses ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 interaksi tersebut membutuhkan alat bantu untuk berhubungan dengan individu yang Semua gagasan, ide, maupun maksud dari penutur disampaikan melalui bahasa. Seiring dengan perkembangan zaman, terkait dengan sifat bahasa yang bersifat arbitrer . ana suk. , ada beberapa hal yang ditemukan dari keunikan bahasa yang digunakan oleh sebagian masyarakat. Terutama dalam bidang tertentu danhanya komunitas itu yang dapat memahami bahasa mana suka tersebut. Atas dasar hal itu, penulis ingin meneliti tentang AiRegister Bahasa Mana Suka Blantik Sapi di MojokertoAn, dikarenakan bahasa yang dipakai sangat menarik dan unik. Suwito . menyatakan bahwa masyarakat bahasa . peech communit. adalah suatu masyarakat atau sekelompok orang yang memunyai verbal repertoire relative sama dan memunyai penilaian sama terhadap norma-norma bahasa yang dipergunakan dalam masyarakat itu. Masyarakat bahasa bukan hanya kelompok orang yang menggunakan bahasa sama, tapi sekelompok orang yang juga memunyai norma sama dalam memakai bentuk-bentuk bahasa. Oleh karena itu, setiap kelompok dalam masyarakat yang karena tempat, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan sebagainnya. Menggunakan bahasa sama serta memunyai penilaian sama terhadap norma-norma pemakaian bahasanya dapat membentuk masyarakat tutur atau masyarakat bahasa. Pendapat Suwito memiliki kesamaan dengan pendapat kloss yang menyatakan bahwa masyarakat bahasa adalah keseluruhan penutur yang berbahasa ibu sama dan memiliki bersama diasistem tertentu dalam perbedaan dialektikal dan sosiolektikal. Kloss lebih menekankan pentingnya satu istilah untuk keseluruhan manusia yang memiliki bahasa-bahasa ibu yang sama dan membentuk keadaan tersebut. Kloss mengusulkan istilah komunitas reportorium atau paguyuban reportorium . loss dalam Depdikbud, 1995:. Berdasar paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kelompok blantik sapi yang dijadikan objek penelitian ini merupakan salah satu masyarakat bahasa karena kelompok tersebut menggunakan sistem tanda bahasa yang sama terhadap normanorma pemakaian bahasanya. Dalam hal ini, blantik sapi termasuk dalam masyarakat bahasa yang memiliki variasi bahasa yang saling memahami . utual intelligibilit. Terkait dengan variasi bahasa, terdapat istilah register. Register Merupakan salah satu bentuk gejala variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan bidang pemakaian. Register merupakan proses atau hasil dari pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 dengan jenis pekerjaan maupun kelompok sosial tertentu. Suwito . mengemukakan bahwa register sebagai bentuk variasi bahasa yang disebabkan sifat khas kebutuhan pemakainya. Register dengan kata lain dapat diartikan sebagai suatu bahasa yang biasa dipergunakan pada saat ini, bahasa yang bergantung pada apa saja yang dikerjakannya dan sifat kegiatannya mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial yang biasanya melibatkan masyarakat tertentu. Sejalan dengan hal tersebut. Chaedar . menyatakan bahwa ragam bahasa yang dipergunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial dan regional . ang bervariasi karena Register muncul disebabkan oleh banyak hal kebahasaan, salah satunya variasi Kedua hal tersebut merupakan dua bagian yang saling berhubungan dan saling memengaruhi. Register sendiri merupakan salah satu bentuk gejala variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan bidang pemakaian. Register merupakan proses atau hasil dari pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun kelompok sosial tertentu. Konsep register menurut Wardaugh . adalah pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun kelompok social tertentu. Ciri-ciri register secara umum adalah, pertama register hanya mengacu pada pemakaian kosa kata khusus yang berkaitan dengan kelompok pekerja yang berbeda. Kedua, bahasa register sesuai dengan situasi komunikasi yang terjadi berulang secara teratur dalam suatu masyarakat yang berkenaan dengan partisipan, tempat, fungsifungsi komunikatif. Ketiga, register digunakan oleh suatu kelompok ataupun masyarakat tertentu sesuai dengan profesi dan keahlian yang sama. Register dibedakan menjadi dua bagian menurut Halliday . , yaitu AiterbatasAn atau restricted languages dan Aibahasa untuk tujuan khususAn atau language for special purposes. Bahasa terbatas atau restricted languagesjarang dimengerti oleh orang lain yang tidak berkecimpung di bidang yang sama seperti penutur. Bahasa tersebut disampaikan cenderung dalam bentuk ringkas, dan cenderung susah Bahasa untuk tujuan khusus atau language for specialpurposes dapat ditemukan dalam komunikasi sehari-hari. Misalnya saja bahasa yang dilakukan dalam percakapan sehari-hari saat bercanda, bermain, sehingga tanpa ikut dalam kegiatan tersebut penutur mudah untuk dimengerti oleh penutur. Register ini terbentuk dari ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 wacana yang dipakai suatu kelompok masyarakat yang setiap bidang kegiatannya memiliki ciri register yang berbeda. Istilah register dilihat dari tingkat keformalannya menurut Pateda . 7:64-. adalah pemakaian bahasa yang berhubungan dengan pekerjaan seseorang. Dikemukaan pula ada lima jenis register, yakni register beku, register formal, register casual, register konsultatif, dan register intimate. Register beku atau oratorical adalah register yang dipakai oleh pembicara yang profesional sehingga orang tertarik dengan , sedangkan register deliberative atau register formal yang ditujukan kepada pendengar untuk memperluas pembicaraan yang disengaja. Register consultativeatau konsultatif adalah register yang terdapat dalam transaksi perdagangan, dimana terjadi dialog karena membutuhkan persetujuan antara Register casual atau kasual yaitu register yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman, biasanya digunakan untuk menghilangkan kekakuan bahasa yang terjadi antara dua orang yang sedang berbincang, dan register intimateatau akrab digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti dipergunakan dalam suasana kekeluargaan. Ragam ini menggunakan bahasa yang kurang lengkap dengan artikulasi kurang jelas. Hudson . menyatakan register as varieties according to user Aregister adalah variasi bahasa berdasarkan penggunaannya sejalan pendapat Spolsky . yang berpendapat bahwa, register is variety associated with a specific function A register adalah variasi bahasa yang dihubungkan dengan fungsi khusus. Berdasarkan paparan di atas kesimpulannya adalah register menunjukkan bahasa yang khas atau khusus dalam pemakainnya. Bahasa blantik sapi yang diteliti oleh penulis ini memiliki kekhasan sehingga tepat dianalisis dengan variasi register. METODE Data penelitian ini berupa wacana dialog antara pedagang . sapi yang satu dengan pedagang . yang lain. Data tersebut dikumpulkan dengan pengamatan . elalui perekaman dan pencatata. dan wawancara. Perekaman dilakukan untuk memeroleh data secara lengkap. Perekaman menggunakan alat rekam Handphone android merk Lenovo tipe S880. Data dianalisis dengan menggunakan metode penelitian deskrptif kualitatif. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, yaitu teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Wawancara mendalam dilakukan dengan cara wawancara individual, wawancara dengan informan inti, dan wawancara kelompok. Analisis data ini bersifat kontekstual dengan model analisis interaktif yaitu dengan menggunakan langkahlangkah reduksi data, sajian data dan verifikasi. Data penelitian ini dilakukan di pasar Pon, daerah Kedondong kabupaten Mojokerto, tempat salah satu pasar sapi. Penelitian ini juga dilakukan di salah satu rumah penyembelihan sapi . agal sap. di Dsn. Kupang. Ds. Kupang. Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Informan penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria berikut: . terlibat langsung, . memunyai waktu yang cukup, . nonanalitis, . Berdasarkan kriteria tersebut didapatkan empat informan, antara lain . Abdul Muttholib . , . Hj. Mujiati . , . Rois . , dan Abdul Rozak . Penelitian ini menganalisis tentang pola interaksi verbal atau karakteristik pemakaian bahasa dan memaparkan bentuk register blantik sapi di Mojokerto yang digunakan berkomunikasi sehari-hari di komunitas tertentu atau dalam menghadapi PEMBAHASAN Pola interaksi verbal blantik sapi Penggunaan bahasa yang digunakan para blantik sapi dalam wujud interaksi verbal secara umum terklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu bahasa internal dan Bahasa internal adalah bahasa yang digunakan para blantik sapi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini digunakan sebagai mediator blantik sapi yang satu dan blantik sapi yang lain. Perlakuan sikap bahasa bergantung konteks personal yang dihadapi. Misalnya, bahasa yang digunakan antarblantik sapi yang seusia, biasanya menggunakan bahasa jawa ngoko. Sebagai contoh dapat dilihat pada percakapan ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 MT : AiJi, arep menyang ngendi?An AJi, mau pergi ke mana?Ao AiArep nang warung, sik. An Amau ke warung dulu. Ao AiAwakmu mau wes nang pasar opo?An Aapa kamu sudah ke pasar?Ao AiGorong. MalesA! Lha saiki regane sapi regane larang tenan. Rugi Mendingtenguk-tenguk ndok warung. Abelum. Malas. Lha sekarang sapi harganya sangat mahal. Mendingan duduk-duduk di Ao AiOhA. awakmu iku ji. pancet ae. Yo wes ngunu iku nyambut ono kalene bathi. yoono kalane rugi. An Aoh. kamu itu jiAtetap Ya seperti itu bekerja. ada kalanya untung, adakalanya rugi. Ao AiLha iku lak awakmu. An Alha itukan kamu. Ao AiEhm,awakmu iku dikandani kok ngeyel. An AehmAkamu itu dikasih masukan kok malah gak mau nerima. AiYowes lek unu. semprul! aku tak menyang pasar dhewean. An A ya udah kalau begitu, biar aku ke pasar sendirian. Ao Tampak dari data, bahasa yang digunakan antarblantik sapi adalah bahasa jawa Tuturan di atas diucapkan oleh dua orang blantik sapi yang berusia sebaya yang memiliki hubungan kedekatan akrab, dan bersifat informal. P . dalam konteks situasi tersebut sedang semangat menjalani pekerjaan yang biasa ditekuni sehari-hari, yaitu berangkat ke pasar sapi untuk mencari sapi yang akan dijual lagi. Sementara MT . itra tutu. sudah pesimis soalnya sudah lelah menghadapi harga pasar jual beli sapi yang mahal dan rugi. Begitu P melihat MT di warung, maka P bertanya mengapa kok tidak ke pasar sapi, tapi MT menjawabnya dengan tidak baik. P berusaha memberikan sebuah masukan Akalau bekerja ya ada kalanya rugi dan untungAo. Tapi MT tetap tidak menghiraukannya. Lalu P tetap pergi ke pasar dengan berkata,AoAo yowes lek unu. semprul! aku tak menyang pasar dhewean. A ya udah kalau begitu, biar aku ke pasar sendirian. Ao Tuturan tersebut diucapkan dengan intonasi tinggi yang menandakan kemarahan. Dalam tuturan tersebut kata semprul merupakan pengiasan untuk menggambarkan sifat seseorang pembangkang. P berlaku seperti itu karena emosi, marah, dan kecewa terhadap MT sehingga keluarlah makiannya dengan kata semprul. Warna emosi yang dihasilkan penutur dipengaruhi adanya situasi yang kurang atau tidak menyenangkan. Karena P merasa dikecewakan MT. dalam hal ini MT menolak saran dari P. Bahasa eksternal adalah bahasa yang digunakan para blantik sapi dalam berkomunikasi dengan masyarakat luar, misalnya dengan pelanggan. Sebagai contoh dapat dilihat pada percakapan berikut. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 : AiNgapunten pakA. ! Pripun? Sios ta tumbas sapi niki?Ay Abagaimana pakA! Apa jadi beli sapi ini?Ao MT : AiKensek mas, aku tak rundingan disek karo bojoku. Kuwatir An Asebentar mas, saya mau berunding dulu dengan istri Khawatir kemahalan. Ao : AiEnggeh pakAmonggo! Menawi rayat panjenengan setujuAtolong hubungi no niki. AyA iya pakA. silahkan! kalau istri bapak setuju, tolong hubungi saya ke no ini. Ao MT : AiEnggeh masA!An A iya mas. Dari tuturan data tersebut masing-masing penutur memberikan kontribusi Dalam arti P memberitahukan kepada MT secara tidak langsung tentang harga sapi. Hanya bertanya apakah MT jadi untuk membeli sapi tersebut atau tidak. Namun MT langsung dapat memahami pertanyaan P. tanpa melakukan transaksi harga jual beli sapi tersebut. Tapi MT belum memberikan kepastian apakah jadi beli sapi dari P atau tidak. MT sebenarnya memberikan kalimat penolakan tetapi secara samar dengan menggunakan alasan kalau harus berunding dahulu dengan salah satu Register Blantik Sapi Bentuk keunikan register bahasa mana suka blantik sapi di Mojokerto ini adalah dengan membalikkan kosa kata, ada yang mengacak hurufnya dengan cara mengurangi atau menambah salah satu hurufnya, dan ada juga yang keluar dari kosa kata aslinya. Berikut ini adalah contoh register bahasa mana suka blantik sapi di Mojokerto. Kosa kata yang dibalik : ipas : rasap : itab : kanyab : uyap : orip : utem ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 : ugir sapi cilik . api keci. : ipas licek sapi gede . api besa. sapi lanang . api janta. : ipas nganal sapi meteng . api hami. : ipas ngetem gak gelem . idak ma. : gak meleg satus seket ( seratus lima pulu. : sutar tekes ipas edeg wolu puluh limo . elapan puluh lim. : utip omil papat . : tapap telu . : agit songo (Sembila. : ongos selaweh . ua puluh lim. : helawes kaji. : ijak kosa kata yang diacak . itambah atau dikurangi salah satu hurufny. : ulop wolu puluh limo . elapan puluh lim. ulop omil : ngambit sapi wedok . api betin. : ipas kodep : sepuluh kosa kata yang keluar dari kata aslinya larang . : ngarir wonge . : ngope ditukoni. : diuputi Berikut hasil pengamatan penulis terhadap dialog antarblantik sapi yang menggunakan register bahasa unik di salah satu pasar sapi di daerah Kedondong kabupaten Mojokerto. Dialog 1 : AiOrip ukute?Ay . iro tukune?) Aberapa belinya?Ao MT : AiNgambit BahA!Ay . imbang BahA!)Amenimbang Bah!Ao : AiItab ta?Ay . ati ta?) Aapakah untung?Ao STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 MT : AiNgope lho kanyab. An A orangnya lho banyak. Ao Dari dialog di atas. P memberikan pertanyan kepada MT dengan menggunakan register khusus blantik sapi, yaitu orip ukute. erapa beliny. , sedangkan MT memberikan jawaban spontan, tanpa memerhatikan apakah jawabannya sesuai atau MT juga membalas dengan register khusus blantik sapi dengan menggunakan kata ngambit( nimban. Tetapi meskipun begitu. P selaku pemberi pertanyaan memahami maksud jawaban yang diberikan MT selaku pemberi jawaban. Ada register khusus lagi yang kembali diucapkan P, yaitu kata itab . itu bermaksud membalas jawaban dari MT. Ngope lho kanyab . rangnya lho banya. Register khusus itu dituturkan terakhir oleh MT untuk mengakhiri percakapan dengan P. Di bawah ini juga terdapat dialog antarblantik sapi yang sangat menarik. Dialog 2 : AiItab ta rek?Ay . ati ta rek?) Aapakah untung?Ao MT : AiOpo cakAngambit kok!Ay . po cakAnimbang kok!)A apa masA. menimbang kok!Ao : AiEnak gak ugirAy. nak gak rug. Aenak tidak rugiAo. MT : AiYoA. saiki ndolek o wong seng diajak ngabit ae!Ay . oAsaiki ndolek o wong sengdiajak nimbang ae!) AyaAsekarang mencari orang yang mau diajak menimbang aja!) : AiGak ono seng meleg kok cakA!Ay . ak ono seng gelem kok cak. Atidak ada yang mau kok mas. !Ao Dari dialog di atas, antara P dan MT sedang melakukan percakapan bahwa MT sedang mencari orang yang akan diajak kerja sama untuk menimbang sapi. Maksudnya, dalam hal perdagangan seperti ini khususnya blantik sapi, apabila sapi dijual lagi ke blantik yang lain dan petani . elanggan yang bukan blantik sapi melainkan yang berprofesi sebagai petan. , maka banyak mengalami kerugian. Petani tidak berani dengan harga yang ditawarkan oleh penjual . lantik sap. Tetapi jika ngabit . , itu bekerja sama dengan jagal sapi . enjual daging sap. Sistem kerja samanya, ada dua orang yang menanggung untung dan ruginya. Antara si blantik sapi dan si jagal sapi. Dialog 3 : AiOrip ipasmu sing nganal iku?Ay . iro sapimu sing lanang iku?) ABerapa sapimu yang jantan itu?Ao ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 MT : AiSing nganal agit tekes ewuAy. ( Sing lanang telu seket ewu. ) A yang jantan tiga ratus lima puluh ribuAo. : AiSing kodep tapap ewuAy. (Sing wedok petang ew. Ayang betina empat ribuAo. Dari dialog di atas, ada hal yang menarik. Selain register bahasa blantik sapi, ada juga bahasa yang diucapkan secara implisit . P di atas menuturkan kata Orip ipasmu sing nganal iku? . iro sapimu sing lanang iku?) ABerapa sapimu yang jantan itu?Ao kalau dilihat di situ, orang lain pasti menafsirkan berapa banyak sapi yang dipunyai MT yang berjenis jantan. Padahal maksud P adalah menanyakan berapa harga sapi yang berjenis kelamin jantan. Kemudian MT menjawab Sing nganal agit tekes sewu. (Sing lanang telu seket ewu. ) Ayang jantan tiga ratus lima puluh ribuAo. sangat memahami pertanyaan dari P bahwa yang dimaksud adalah menanyakan Terakhir. P bertanya Sing kodep tapap ewu. (Sing wedok petang ew. Ayang betina empat ribuAo. P Menawarkan lagi bahwa dia memunyai sapi berjenis betina yang harganya empat ribu. Maksud dari kata bilangan ribuan itu juga unik. Maksud dari tiga ratus lima puluh ribu dan empat ribu adalah tiga juta lima ratus ribu rupiah dan empat juta rupiah. Dialog 4 : AiehA. isap ndok rasap sek kenek diuputi ta?Ay. hAsapi seng ndok pasar kenek ditukoni ta?) AehAsapi di pasar apa masih dibeli?Ao MT : AuNgarir BahA. !Ay. arang BahA!) Aimahal BahA!Ao Dialog di atas masih memaparkan tentang harga sapi di pasar, tapi tidak menggunakan kata bilangan secara langsung. P menanyakan harga sapi di Pasar, tapi menggunakan kalimat implisit. AiehA. isap ndok rasap sek kenek diuputi ta?Ay. hAsapi seng ndok pasar kenek ditukoni ta?) AehAsapi di Pasar apa masih dibeli?Ao kemudian MT menjawab sesuai dengan maksud pertanyaan P. AuNgarir BahA. !Ay. arang BahA!) Aimahal BahA!Ao maksudnya, sapi di Pasar harganya mahal dan kalau bisa, membeli sapi di petani saja, harganya lebih murah daripada di Pasar. Kosa kata khusus yang ada di empat dialog di atas, merupakan register bahasa mana suka yang dituturkan para blantik sapi. Pelanggan pun tidak akan faham dengan dialog tersebut, kecuali antarblantik sapi. Register digunakan bertujuan untuk STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 merahasiakan transaksi jual beli antara blantik sapi dan pelanggannya. Para blantik sapi hanya menggunakan register bahasa tersebut dengan blantik sapi lainnya. PENUTUP Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa karakteristik pemakaian bahasa blantik sapi di Pasar Pon, daerah Kedondong Kabupaten Mojokerto tidak terlepas dari adanya dua wujud interaksi, yaitu interaksi internal . esama komunitas blantik sap. dan interaksi eksternal . ntara blantik sapi dengan pelangga. Pilihan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa Jawa. Ragam bahasa yang digunakan adalah bahasa informal. Dalam masyarakat tutur blantik sapi juga ditemukan bentuk-bentuk register blantik sapi dalam bahasa lisan yang tidak ditemukan di masyarakat lain. Bentuk-bentuk register yang ditemukan, ada yang membalikkan kosa kata, misalnya . api: ipas, pasar: rasap, bati . : itab, akeh . : kanyab, payu . : uyap, piro . : orip, metu . : utem, rugi : ugi. Ada register blantik sapi yang mengacak hurufnya dengan cara mengurangi atau menambah salah satu hurufnya, misalnya . ngambit, sapi wedok . api betin. : ipas kodep, sakholop: sepulu. Ada juga yang keluar dari kosa kata aslinya, misalnya . : ngarir, wonge . ngope, ditukoni . : diuputi. DAFTAR RUJUKAN Chaedar. Alwasilah. Pengantar Sosiologi Bahasa. Angkasa: Bandung. Depdikbud. Teori dan Metode Sosiolinguistik II. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Halliday dan Ruqaiyya Hasan. Bahasa. Konteks, dan Teks. Gajah Mada University Press: Yogyakarta. Pateda. Mansoer. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa. ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016