Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 25 No. 3 (September 2. Halaman: 277 Ae 290 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Peran Work Engagement Dalam Memediasi Kecerdasan Emosional. Spiritual. Dan Intelektual Terhadap Kinerja Dosen: Efek Moderasi Dukungan Organisasi Enny Istanti 1,*. Amiartuti Kusmaningtyas 2. Siti Mujanah 2. Achmad Daengs Gatot Suherman 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bhayangkara Surabaya. e-mail: ennyistanti@ubhara. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. e-mail: amiartuti@untag-sby. id, sitimujanah@untag-sby. Fakultas Ekonomi. Universitas 45 Surabaya. e-mail: bumigora80@gmail. * Korespondensi: e-mail: ennyistanti@ubhara. Submitted: 20/08/2025. Revised: 25/08/2025. Accepted: 01/09/2025. Published: 30/09/2025 Abstract This study uses organizational support as a moderating variable and job engagement as a mediating variable to examine how lecturers' performance is affected by their emotional, spiritual, and intellectual intelligence. The discrepancy of earlier research on the relative contributions of these three forms of intelligence to performanceAiespecially in private universitiesAiis the primary concern addressed. This study used a correlational design and a quantitative methodology. Purposive sampling was used to choose 130 permanent lecturers for the sample. Standardized questionnaires that were modified from pre-existing instruments were used to gather data on work engagement, perceived organizational support, emotional, spiritual, and intellectual intelligence, as well as performance indicators for lecturers. Structural Equation ModelingAePartial Least Squares (SEM-PLS) was used to analyze the data. The findings show that while spiritual intelligence has a detrimental impact on work engagement, emotional and intellectual intelligence have a good impact. Since work engagement was shown to have no discernible impact on lecturers' performance, the spiritual intelligence route was only partially responsible for its mediating role. Performance was significantly impacted directly by organizational support, but the relationship between engagement and performance was not According to the study's findings, it is crucial to improve concrete organizational support, match spiritual values with performance goals, and boost lecturers' emotional and intellectual intelligence. Practically speaking, the study's conclusions offer guidance for university human resource management practices, while theoretically it advances the Job DemandsAeResources model in the context of private higher education. Keywords: EI. II. Organizational support. SI. Work engagement Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan intelektual memengaruhi kinerja seorang dosen. keterlibatan di tempat kerja dianggap sebagai variabel moderasi, dan dukungan organisasi dianggap sebagai variabel mediasi. Temuan sebelumnya yang tidak konsisten tentang kontribusi ketiga kecerdasan tersebut terhadap kinerja adalah masalah utama. Ini terutama berlaku untuk perguruan tinggi swasta. Studi ini melakukan penelitian kuantitatif dengan desain Sampel penelitian terdiri dari 130 dosen tetap yang dipilih secara purposive. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner terstandar yang telah dimodifikasi, meliputi tes kecerdasan emosional, spiritual, intelektual, skala keterikatan kerja, persepsi dukungan organisasi, dan indikator kinerja dosen. Analisis data dilakukan dengan metode Structural Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Enny Istanti. Amiartuti Kusmaningtyas. Siti Mujanah. Achmad Daengs Gatot Suherman Equation ModelingAePartial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual berdampak negatif terhadap keterikatan kerja, sedangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual berdampak positif. Karena keterikatan kerja tidak mempengaruhi kinerja dosen secara signifikan, peran mediasi hanya muncul secara parsial melalui jalur kecerdasan spiritual. Terbukti bahwa kinerja dosen dipengaruhi secara langsung oleh dukungan organisasi. namun, hubungan antara keterikatan kerja dan kinerja tidak Penelitian ini menemukan bahwa meningkatkan kecerdasan emosional dan intelektual dosen, menyelaraskan nilai spiritual dengan tujuan kinerja, dan mendapatkan dukungan organisasi yang lebih besar sangat penting. Secara teoritis, penelitian ini membantu mengembangkan model Job DemandsAeResources di institusi pendidikan tinggi swasta. Namun, secara praktis, temuan-temuan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk kebijakan manajemen sumber daya manusia di perguruan tinggi. Kata kunci: KE. KI. Dukungan organisasi. KS. Keterikatan kerja Pendahuluan Dalam era globalisasi dan transformasi pendidikan peningkatan kualitas kinerja dosen menjadi kunci untuk mencapai keunggulan institusional. Karena globalisasi bisnis yang berkembang sangat kompetitif (Enny Istanti et al, 2. Saat ini, era globalisasi, pertumbuhan ekonomi dan teknologi telah meningkat pesat (Wiyasa et al. , 2. Secara internasional tekanan untuk publikasi, akreditasi, dan inovasi pembelajaran semakin meningkat, sedangkan di tingkat nasional, data Kemendikbudristek . menunjukkan skor rata-rata kinerja dosen pada banyak PTS masih di bawah indeks minimal Sinta-2. Hal ini menandakan pentingnya strategi penguatan profesionalisme dosen melalui pendekatan psikososial yang holistic kombinasi kemampuan emosional, spiritual, dan intelektualAisebagai landasan peningkatan kinerja akademik. Secara global, kecerdasan emosional (EI) telah terbukti berkontribusi positif terhadap performance dalam konteks akademik maupun korporat. Misalnya, meta-analisis terbaru dari BMC Medical Education menunjukkan korelasi signifikan antara spiritual intelligence, emotional intelligence, dan prestasi akademik (Zhou et al. , 2. Konteks lokal juga mendukung: penelitian di Institut Nalanda (Indonesia, 2. menemukan bahwa kecerdasan emosional dan spiritual bersama-sama menyumbang hingga 61,664,9% terhadap kinerja dosen (Kelvin Kelvin et al. , 2. Temuan ini menguatkan urgensi mengintegrasikan ketiga kecerdasan dalam model kinerja dosen. Work engagement (WE) sebagai unsur psikologis positif yang mendorong motivasi dan produktivitas kerja juga telah terbukti menjadi mediator penting. Studi di Tangerang (Indonesia, 2. menemukan bahwa perceived organizational support (POS) berdampak langsung terhadap kinerja dosen, sekaligus melalui mediasi work engagement (Novitasari, 2. Namun penelitian di sektor pendidikan tinggi swasta yang menguji model kombinasi antara kecerdasan engagement kinerja, serta penguatan oleh POS masih sangat terbatas. Perceived Organizational Support (POS) sendiri memainkan peran moderasi penting dalam memperkuat hubungan antara antecedents . eperti career development, commitmen. dan kinerja. Porwani et al. , . menunjukkan POS memperkuat hubungan antara Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 Ae 290 (September 2. Peran Work Engagement Dalam Memediasi KecerdasanA pengembangan karier dan kinerja dosen vokasi. Namun, peran POS dalam konteks kecerdasan personal dan engagement akademik belum banyak diteliti, sehingga belum tersedia bukti empiris untuk mendasari kebijakan manajerial PTS. Berdasarkan tinjauan teori Ability Model of Mayer et al. , . , teori spiritual intelligence, dan Cognitive-Learning perspectives menjelaskan bagaimana kecerdasan psikologis memengaruhi engagement dan kinerja. Teori Social Exchange menurut Emerson, . dan Organisational Support University Rhoades & Eisenberger, . mendukung peran POS dalam memperkuat investasi psikologis dosen terhadap institusi. Namun integrasi teori ini dalam model mediasi WE serta moderasi POS, khususnya untuk dosen PTS, masih jarang ditemukan dalam literatur akademik. Dengan . mengembangkan model komprehensif yang mengintegrasikan kecerdasan emosional, spiritual, dan intelektual sebagai predictor. menjelaskan mediating mechanismAiwork engagementAi dalam memengaruhi kinerja dosen. menjajaki peran POS sebagai moderator yang memperkuat efek mediasi. Model ini diharapkan melengkapi kekosongan teori dan memberikan implikasi praktis untuk pengembangan strategi penguatan kinerja di PTS. Tujuan utama penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana kecerdasan emosional (KE), spiritual (KS), dan intelektual (KI) secara bersamaan memengaruhi kinerja dosen. Penelitian juga akan menyelidiki peran moderasi persepsi dukungan organisasi (POS) dalam model tersebut. Berdasarkan kerangka ini, hipotesis yang diajukan meliputi: H1AiKE. KS. KI masing-masing berpengaruh positif terhadap WE. H2AiWE berpengaruh positif terhadap kinerja H3AiWE memediasi pengaruh KE. KS. KI terhadap kinerja. H4AiPOS memperkuat pengaruh KE. KS. KI terhadap WE. Kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi, memahami, dan mengelola emosi mereka sendiri dan orang lain dikenal sebagai kecerdasan emosional (EI). Peter Salovey, . melalui ability model menjelaskan bahwa EI terdiri atas empat dimensi: persepsi emosi, pemahaman emosi, fasilitasi berpikir, dan regulasi emosi. Dalam konteks pendidikan tinggi, dosen dengan EI tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan akademik, berinteraksi dengan mahasiswa, serta menjaga hubungan kerja dengan rekan sejawat, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja akademik (Khassawneh et al. , 2. Kecerdasan spiritual . piritual intelligence/SI) berkaitan dengan kapasitas individu untuk memberikan makna hidup, nilai, dan tujuan dalam pekerjaannya. Yin & Liu, . menegaskan bahwa SI memberikan kontribusi positif terhadap keterikatan kerja . ork engagemen. karena dosen dengan spiritualitas yang kuat akan melihat pekerjaannya sebagai ibadah dan panggilan. Dalam penelitian manajemen sumber daya manusia. SI sering diposisikan sebagai variabel psikologis yang memperkuat motivasi intrinsik dan orientasi jangka panjang karyawan. Kecerdasan intelektual . ntellectual intelligence/II) merujuk pada kemampuan kognitif, analitis, dan logis yang diperlukan untuk memecahkan masalah akademik dan administratif. Penelitian oleh Komarudin et al. , . menunjukkan bahwa II berhubungan dengan efektivitas Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 - 290 (September 2. Enny Istanti. Amiartuti Kusmaningtyas. Siti Mujanah. Achmad Daengs Gatot Suherman dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan produktivitas dosen. II menjadi landasan dasar kompetensi akademik, tetapi agar efektif dalam kinerja, perlu ditopang EI dan SI agar lebih bermakna secara sosial dan spiritual. Keterlibatan kerja adalah kondisi psikologis yang positif yang ditandai oleh vitalitas, komitmen, dan absorption (Abidin et al. , 2. Work engagement memediasi hubungan antara kecerdasan individu dengan kinerja karena menghubungkan potensi psikologis dengan aktualisasi kerja. Misalnya dosen yang memiliki EI. SI, dan II tinggi tetapi tidak terlibat penuh dalam pekerjaannya akan tetap menunjukkan kinerja yang rendah. Dengan demikian, work engagement menjadi jembatan antara potensi dan performa aktual. Kinerja dosen terdiri pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada Menurut Ayodele & Nasiru, . , faktor psikologis seperti engagement, motivasi, dan dukungan organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Kinerja yang tinggi tidak hanya diukur dari output akademik, tetapi juga kualitas interaksi dan kontribusi dosen terhadap Dukungan organisasi yang dilihat individu adalah persepsi bahwa organisasi menghargai kerjanya dan peduli dengan kebahagiaannya. Studi terbaru oleh Yongxing et al. menunjukkan bahwa POS memperkuat hubungan antara work engagement dan kinerja, karena dosen yang merasa didukung cenderung lebih berdedikasi dan bersemangat. Dengan kata lain. POS berperan sebagai variabel moderator yang meningkatkan efektivitas faktor psikologis terhadap hasil kerja. Penelitian oleh Khassawneh et al. , . menemukan bahwa EI secara positif berkorelasi dengan keterlibatan dan kinerja di bidang pendidikan. Hasil berbeda ditemukan oleh Nagalingam et al. , . , yang menunjukkan bahwa pengaruh EI melemah ketika individu tidak mendapatkan dukungan organisasi yang memadai. Hal ini menunjukkan perlunya analisis yang mempertimbangkan variabel moderasi POS. Penelitian lain terkait SI dan engagement dilakukan oleh Nagalingam et al. , . , yang menemukan bahwa SI memengaruhi engagement melalui peningkatan makna kerja. Akan tetapi, dalam konteks korporasi, kontribusi SI tidak selalu signifikan Malik & Tariq, . Perbedaan hasil ini menunjukkan adanya gap dalam literatur mengenai konsistensi pengaruh SI terhadap engagement dalam berbagai konteks, termasuk perguruan tinggi. Butkovic et al. , . menunjukkan bahwa II berperan penting dalam meningkatkan kinerja teknis dan administratif dosen. Namun, hubungan langsung II dengan engagement masih jarang diuji. Celah ini penting karena dosen sebagai tenaga akademik membutuhkan integrasi antara kemampuan kognitif dan keterikatan emosional untuk mencapai performa optimal. Berdasarkan kajian pustaka di atas dapat disusun kerangka pemikiran bahwa EI. SI, dan II berpengaruh terhadap kinerja dosen melalui work engagement sebagai mediator, dengan dukungan organisasi sebagai moderator. Model konseptual ini mengisi gap literatur dengan mengintegrasikan tiga bentuk kecerdasan dalam kerangka engagementAeperformance serta memperluas pemahaman tentang bagaimana POS memperkuat hubungan tersebut. Penelitian Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 Ae 290 (September 2. Peran Work Engagement Dalam Memediasi KecerdasanA ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis pada literatur manajemen pendidikan tinggi sekaligus implikasi praktis bagi kebijakan universitas. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional, spiritual, dan intelektual dengan kinerja dosen, dengan keterlibatan kerja sebagai mediasi dan dukungan organisasi sebagai moderasi. (Creswell. , & Creswell, 2. Penelitian ini menggunakan data primer dari kuesioner responden serta data sekunder berupa laporan kinerja, dokumentasi institusi, dan publikasi terkait. data primer menjamin validitas kontekstual, sedangkan data sekunder memperkuat reliabilitas eksternal. (Snyder, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui survei online Google Form dengan skala Likert 1Ae 5, dipilih karena efektif menjangkau dosen di berbagai universitas sesuai praktik riset manajemen pendidikan tinggi. (Hair. Joseph, 2. Penelitian ini melibatkan 130 dosen tetap Universitas Bhayangkara Surabaya sebagai sampel, dipilih berdasarkan kriteria masa kerja minimal dua tahun dan aktif dalam Tri Dharma. (Hair. Joseph, 2. Instrumen penelitian disusun melalui adaptasi skala standar: kecerdasan emosional diukur dengan MSCEIT yang dimodifikasi, kecerdasan intelektual dengan indikator analitis dan pemecahan masalah, serta kecerdasan spiritual dengan SISRI-24. (Komarudin et al. , 2. Engagement kerja diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale (UWES-. , kinerja dosen dengan indikator Tri Dharma, dan dukungan organisasi dengan skala dukungan organisasi. Rhoades & Eisenberger, . yang dimodifikasi. Validitas isi diuji melalui penilaian tiga pakar manajemen pendidikan, sedangkan validitas konstruk dievaluasi dengan CFA. Reliabilitas dinilai menggunakan Composite Reliability dan CronbachAos Alpha, dengan nilai Ou 0,70 sebagai indikator konsistensi internal yang (Hair. Joseph, 2. Analisis data dilakukan dalam dua tahap: statistik deskriptif untuk menggambarkan profil responden dan distribusi data, serta statistik inferensial dengan SEMPLS untuk menguji hubungan langsung, mediasi, dan moderasi antar variabel (Hair. Joseph. Pengujian hipotesis dilakukan dengan bootstrapping SEM-PLS pada taraf signifikansi 5% . > 1,96. p < 0,. , dengan analisis moderasi melalui dampak tidak langsung dan analisis mediasi melalui variabel interaksi dalam model. (Harter. Schmidt. , & Hayes, 2. Hasil dan Pembahasan Statistik Deskriptif Dari 130 responden dosen tetap, diperoleh gambaran bahwa tingkat kecerdasan emosional (KE) memiliki nilai rata-rata 3,97 (SD = 0,. , kecerdasan spiritual (KS) 4,11 (SD = 0,. , kecerdasan intelektual (KI) 3,89 (SD = 0,. , work engagement (WE) 4,06 (SD = 0,. , dukungan organisasi (POS) 3,95 (SD = 0,. , serta kinerja dosen 4,07 (SD = 0,. Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 - 290 (September 2. Enny Istanti. Amiartuti Kusmaningtyas. Siti Mujanah. Achmad Daengs Gatot Suherman Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Mean Min Max Kecerdasan Emosional (KE) 4,12 0,63 Kecerdasan Spiritual (KS) 4,25 0,58 Kecerdasan Intelektual (KI) 4,05 0,66 Work Engagement (WE) 4,18 0,61 Perceived Organizational Support (POS) 3,97 0,72 Kinerja Dosen (Y) Sumber: Hasil Penelitian . Tabel 1 Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa dosen PTS memiliki tingkat kecerdasan, keterikatan kerja, dan kinerja yang tinggi, dengan kecerdasan spiritual (M = 4,. sebagai aspek tertinggi, sedangkan dukungan organisasi (M = 3,. menjadi yang terendah sehingga masih perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan kinerja. Validitas Dan Reliabilitas Konstruks Tabel 2. Validitas dan Reliabilitas Konstruk CronbachAos Composite Composite Average Variance . Extracted (AVE) 1,018 0,566 0,507 0,129 Hasil Tidak reliabel . erlu perbaikan indikato. 0,844 0,852 0,895 0,682 Reliabel & valid 0,783 0,789 0,874 0,697 Reliabel & valid 0,811 0,830 0,888 0,727 Reliabel & valid POS 0,658 0,764 0,847 0,736 Cukup reliabel & valid 0,790 0,829 0,878 0,709 Reliabel & valid Sumber: Hasil Penelitian . Tabel 2 Hasil uji reliabilitas dan validitas menunjukkan bahwa hampir semua variabel penelitian memenuhi kriteria yang baik, dengan nilai alfa Cronbach lebih dari 0,7, reliabilitas komposit lebih dari 0,7, dan AVE lebih dari 0,5. Variabel Kecerdasan Emosional (KE). Kecerdasan Intelektual (KI). Kecerdasan Spiritual (KS). Work Engagement (WE), serta Perceived Organizational Support (POS) dinyatakan reliabel dan valid meskipun POS hanya berada pada kategori cukup reliabel. Sementara itu, variabel Kinerja Dosen (KD) menunjukkan nilai CronbachAos alpha yang sangat rendah . , menandakan adanya kelemahan reliabilitas internal sehingga indikatornya perlu diperbaiki. Secara keseluruhan, sebagian besar konstruk sudah memenuhi syarat analisis lebih lanjut, kecuali KD yang perlu penyesuaian indikator Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 Ae 290 (September 2. Peran Work Engagement Dalam Memediasi KecerdasanA Korelasi Antar Variabel Tabel 3. Analisis Korelasi Pearson (Latent Variable Correlation. POS x Variabel POS 0,752 0,751 0,773 0,865 0,689 0,62 0,752 0,81 0,833 0,751 0,761 0,697 0,751 0,81 0,794 0,767 0,912 0,593 0,773 0,833 0,794 0,71 0,677 0,634 POS 0,865 0,751 0,767 0,71 0,748 0,648 0,689 0,761 0,912 0,677 0,748 0,679 0,62 0,697 0,593 0,634 0,648 0,679 1,672 POS x Sumber: Hasil Penelitian . Tabel 3 hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian memiliki hubungan positif yang kuat. Kecerdasan Emosional (KE) berkorelasi tinggi dengan Kecerdasan Spiritual (KS) dan Kecerdasan Intelektual (KI), sedangkan Work Engagement (WE) memiliki korelasi sangat kuat dengan KI dan cukup tinggi dengan KE. Perceived Organizational Support (POS) juga berkorelasi positif dengan semua variabel, terutama dengan Kinerja Dosen (KD), serta interaksi POS y WE turut memperkuat hubungan dengan variabel utama. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa kecerdasan dosen berhubungan erat dengan keterikatan kerja dan kinerja, serta dukungan organisasi berperan penting memperkuat pengaruh tersebut. Hasil SEM-PLS Tabel 4. Uji Hipotesis Hipotesis Jalur Koefisien (O) t-stat p-value Hasil H1a KE Ie WE 0,19 2,415 0,016 Diterima H1b KS Ie WE -0,225 3,403 0,001 Diterima . rah negati. H1c KI Ie WE 0,936 14,264 Diterima WE Ie KD -0,091 0,658 0,511 Ditolak H3a KE Ie KD . ia WE) 0,029 0,295 0,768 Ditolak H3b KS Ie KD . ia WE) 0,275 2,357 0,018 Diterima H3c KI Ie KD . ia WE) 0,101 0,803 0,422 Ditolak H4a POS x WE Ie KD 0,011 0,172 0,863 Ditolak H4b POS Ie KD 0,631 4,788 Diterima Sumber: Hasil Penelitian . Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 - 290 (September 2. Enny Istanti. Amiartuti Kusmaningtyas. Siti Mujanah. Achmad Daengs Gatot Suherman Tabel 4 hasil uji SEM-PLS menunjukkan bahwa KE dan KI berpengaruh positif signifikan terhadap Work Engagement (WE), sedangkan KS berpengaruh signifikan dengan arah negatif. Jalur WE Ie Kinerja Dosen (KD) tidak signifikan, namun KS Ie KD signifikan, sementara KE dan KI tidak berpengaruh langsung. Uji mediasi mengonfirmasi bahwa hanya KS yang berpengaruh terhadap KD melalui WE, sedangkan KE dan KI tidak. Dari sisi moderasi. POS berpengaruh signifikan terhadap KD, tetapi tidak memperkuat hubungan WE Ie KD. Secara keseluruhan. KE dan KI penting bagi engagement. KS berpengaruh langsung terhadap kinerja, dan POS menjadi faktor dominan dalam meningkatkan kinerja dosen. Uji R-Square Tabel 5. R-Square R-square R-square adjusted 0,801 0,791 0,846 0,842 Sumber: Hasil Penelitian . Tabel 5 Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kuadrat R untuk Kinerja Dosen (KD) adalah 0,801, dengan nilai kuadrat yang disesuaikan adalah 0,791. Ini menunjukkan bahwa 80,1% variasi kinerja dosen disebabkan oleh variabel-variabel independen yang termasuk dalam model. Faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian memengaruhi 19,9% dari variasi tersebut. Namun demikian, nilai R-square untuk Work Engagement (WE) sebesar 0,846 dengan nilai adjustment 0,842 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, spiritual, dan intelektual secara keseluruhan dapat bertanggung jawab atas 84,6% perbedaan dalam keterlibatan kerja dosen. Berdasarkan kriteria Hair et al. , nilai R-square di atas 0,67 termasuk kategori kuat, sehingga model ini memiliki daya jelaskan yang sangat baik. Uji F-Square Tabel 6. F-Square f-square KE -> KD 0,001 KE -> WE 0,058 KI -> KD 0,005 KI -> WE 1,687 KS -> KD 0,088 KS -> WE 0,087 POS -> KD 0,682 WE -> KD 0,006 POS x WE -> KD 0,001 Sumber: Hasil Penelitian . Tabel 6 hasil uji f-square memperlihatkan besaran kontribusi masing-masing jalur dalam memengaruhi variabel dependen. Pengaruh KI Ie WE . A = 1,. menunjukkan ukuran Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 Ae 290 (September 2. Peran Work Engagement Dalam Memediasi KecerdasanA efek yang sangat besar, menegaskan bahwa kecerdasan intelektual adalah prediktor dominan bagi work engagement. Sementara itu. POS Ie KD . A = 0,. termasuk kategori besar, yang berarti dukungan organisasi memiliki peran kuat dalam meningkatkan kinerja dosen. Di sisi lain, pengaruh KS Ie KD . A = 0,. dan KS Ie WE . A = 0,. berada pada kategori kecil hingga sedang, menunjukkan kontribusi signifikan namun terbatas. Adapun jalur KE Ie WE . A = 0,. hanya menunjukkan pengaruh kecil, sedangkan jalur lainnya . isalnya KE Ie KD. KI Ie KD. WE Ie KD. POS y WE Ie KD) memiliki f-square < 0,02, sehingga dianggap lemah atau hampir tidak Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa KI dan POS merupakan variabel yang paling dominan dalam model ini, sedangkan variabel lainnya memiliki kontribusi relatif Interpretasi Hasil H1a : Kecerdasan Emosional berpengaruh terhadap Work Engagement. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecerdasan Emosional (KE) meningkatkan keterlibatan kerja secara signifikan (WE) ( = 0,190. p = 0,. Ini berarti dosen yang mampu mengelola emosi, berempati, dan menjaga regulasi diri cenderung lebih antusias dan berdedikasi pada Temuan ini mendukung Job DemandsAeResources (JD-R) yang menempatkan personal resources seperti kecerdasan emosional sebagai prediktor utama engagement (Behavior et al. , 2. Hasil ini juga sejalan dengan studi Yenit et al. , . dan Myrida-Lypez & Extremera, . yang menemukan bahwa kecerdasan emosional guru meningkatkan keterikatan kerja. Dengan demikian. H1a diterima. H1b : Kecerdasan Spiritual berpengaruh terhadap Work Engagement. Berbeda dari prediksi. Kecerdasan Spiritual (KS) justru berpengaruh negatif signifikan terhadap WE ( = 0,225. p = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi spiritualitas dosen tidak selalu meningkatkan keterikatan kerja, bahkan dapat menurunkannya. Hasil ini bertentangan dengan penelitian Chouhan, . yang menemukan spiritualitas kerja berkorelasi positif dengan Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh ketidakselarasan nilai . alueAerole misfi. di PTS, di mana makna dan tujuan kerja dosen tidak sepenuhnya terakomodasi oleh sistem administrasi dan indikator kinerja formal. Artinya, spiritualitas tinggi tanpa dukungan sistem yang selaras dapat melemahkan engagement. Maka. H1b diterima dengan arah berlawanan. H1c: Kecerdasan Intelektual berpengaruh terhadap Work Engagement. Temuan menunjukkan Kecerdasan Intelektual (KI) berpengaruh positif sangat kuat terhadap WE ( = 0,936. p < 0,. Ini berarti dosen yang memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, dan pemecahan masalah lebih mudah merasa bersemangat, berdedikasi, dan tenggelam dalam Hasil ini konsisten dengan konsep JD-R 3. 0 Li et al. , . yang memasukkan kemampuan kognitif sebagai personal resource penting. Dengan demikian. H1c diterima. H2: Work Engagement berpengaruh terhadap Kinerja Dosen. Hasil menunjukkan bahwa Work Engagement (WE) tidak mempengaruhi kinerja dosen secara signifikan (KD) ( = 0,091. p = 0,. Ini berarti meskipun dosen bersemangat dan berdedikasi, hal itu belum tentu terwujud dalam luaran tridarma yang terukur. Hasil ini bertentangan dengan meta-analisis Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 - 290 (September 2. Enny Istanti. Amiartuti Kusmaningtyas. Siti Mujanah. Achmad Daengs Gatot Suherman Mazzetti et al. , . dan Corbeanu & Iliescu, . yang menyimpulkan engagement biasanya meningkatkan kinerja. Penjelasan kemungkinan adalah: . indikator kinerja pada penelitian ini reliabilitasnya rendah sehingga jalur menjadi lemah, atau . kinerja dosen lebih dipengaruhi faktor struktural . ukungan organisasi, beban kerj. dibanding faktor individual. Sehingga. H2 ditolak. H3a: Kecerdasan Emosianal Berpengaruh terhadap Kinerja Dosen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalur KE Ie WE signifikan, namun jalur WE Ie KD tidak signifikan. Hal ini berarti keterikatan kerja tidak mampu menjadi perantara pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja dosen. Temuan ini bertentangan dengan JD-R Theory Behavior et al. , . yang biasanya menegaskan peran engagement sebagai mekanisme utama peningkat kinerja. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh konteks PTS, di mana faktor organisasi lebih dominan memengaruhi kinerja dibanding aspek personal. Dengan demikian. H3a ditolak. H3b : Kecerdasan Spiritual Berpengaruh terhadap Kinerja Dosen. Hasil analisis menunjukkan bahwa KS Ie WE adalah signifikan negatif dan WE Ie KD adalah signifikan Pola ini menunjukkan bahwa keterlibatan kerja tidak efektif sebagai penghubung positif antara KS dan kinerja. Sebaliknya pengaruh KS terhadap kinerja lebih kuat melalui jalur Temuan ini berbeda dengan penelitian Chouhan, . yang menemukan spiritualitas meningkatkan engagement, lalu berdampak pada kinerja. Kondisi ini dapat dijelaskan oleh kemungkinan adanya ketidaksesuaian nilai . alue misfi. di PTS, di mana dosen dengan spiritualitas tinggi merasa kurang selaras dengan target administratif kampus, sehingga engagement justru berkurang. Namun, secara langsung, spiritualitas tetap mendorong dosen bekerja dengan dedikasi penuh. Maka. H3b hanya didukung melalui jalur langsung, bukan melalui mediasi WE. H3c : Kecerdasan Intelektual Berpengaruh terhadap Kinerja Dosen. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun KI Ie WE sangat kuat dan signifikan, tetapi WE Ie KD tetap tidak signifikan. Artinya, kemampuan intelektual dosen memang meningkatkan engagement, tetapi keterikatan ini tidak secara nyata mendorong kinerja tridarma. Temuan ini bertentangan dengan meta-analisis Mazzetti et al. , . yang menunjukkan engagement sebagai penghubung utama antara sumber daya kognitif dan kinerja. Kemungkinan besar, hal ini dipengaruhi oleh indikator kinerja dosen yang lemah reliabilitasnya, atau karena kinerja lebih bergantung pada faktor struktural seperti dukungan institusi. Dengan demikian. H3c ditolak. H4: Perceived Organizational Support berpengaruh terhadap Kinerja Dosen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Organizational Support (POS) tidak terbukti memoderasi hubungan antara Work Engagement (WE) dan Kinerja Dosen (KD) ( = 0,011. Hal ini berarti dukungan organisasi yang dirasakan dosen tidak memperkuat ataupun memperlemah pengaruh keterikatan kerja terhadap kinerja. Temuan ini menolak asumsi teori Dukungan Organisasi Rhoades & Eisenberger, . dan juga berbeda dengan perspektif Job Demands-Resources (JD-R) Theory Bakker & de Vries, . yang menyatakan bahwa sumber daya organisasi dapat memperkuat pengaruh keterikatan kerja terhadap kinerja. Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 Ae 290 (September 2. Peran Work Engagement Dalam Memediasi KecerdasanA Perbedaan hasil ini dapat dijelaskan oleh kondisi di perguruan tinggi swasta (PTS), di mana dukungan organisasi lebih banyak berperan langsung terhadap pencapaian kinerja . isalnya penyediaan fasilitas penelitian atau insenti. , dibandingkan sebagai faktor pendorong tambahan untuk memperkuat pengaruh keterikatan kerja. Dengan demikian. POS dalam penelitian ini berfungsi sebagai quasi moderator, yaitu berpengaruh langsung signifikan terhadap kinerja, tetapi tidak berperan dalam memperkuat hubungan WE Ie KD. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kinerja dosen, dukungan organisasi sebaiknya difokuskan pada bentuk nyata seperti penghargaan, insentif, dan fasilitas, bukan semata-mata dalam rangka memperkuat engagement. 8 Implikasi Praktis Penelitian ini memberikan implikasi praktis yang penting bagi pengelolaan PTS. Dukungan organisasi terbukti berperan besar dalam meningkatkan knowledge sharing, sehingga pimpinan perlu memperkuat kebijakan berupa dana riset, pengurangan beban Selain pengembangan kapasitas dosen melalui pelatihan kecerdasan emosional . eperti regulasi emosi, empati, dan komunikas. serta kecerdasan intelektual . emecahan masalah, metode riset, dan analisis dat. perlu diprioritaskan untuk menjaga dan meningkatkan work Temuan bahwa knowledge sharing berdampak negatif terhadap engagement menunjukkan perlunya penyelarasan misi, visi, dan indikator kinerja dengan makna kerja dosen melalui insentif sosial, ruang refleksi, dan desain beban kerja yang sesuai nilai pribadi. Dari sisi teoritis, penelitian ini memperkuat model JD-R dengan menekankan peran personal resources, namun juga menyoroti keterbatasan jalur engagementAeperformance di konteks pendidikan tinggi Indonesia, sehingga memberikan kontribusi kontekstual pada pengembangan literatur JDR 3. Keterbatasan Penelitian ini memiliki keterbatasan pada desain potong lintang, penggunaan data selfreport tunggal, reliabilitas rendah pada konstruk knowledge sharing, serta keterbatasan sampel yang hanya mencakup beberapa PTS. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal, data multi-sumber atau luaran objektif, revisi indikator tridarma, serta replikasi lintas PTS dan provinsi. Arah riset ke depan juga dapat menguji moderasi struktural, mediasi ganda, dan pendekatan multilevel pada level unit atau program studi. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional dan intelektual berpengaruh positif terhadap work engagement, sedangkan kecerdasan spiritual justru berpengaruh negatif, meski tetap berdampak positif langsung pada kinerja dosen. Work engagement tidak terbukti meningkatkan kinerja, sehingga peran mediasi hanya parsial melalui jalur kecerdasan spiritual. Dukungan organisasi berpengaruh kuat terhadap kinerja, tetapi tidak memoderasi hubungan engagement dengan kinerja, sehingga perannya lebih bersifat langsung. Temuan ini Copyright A 2025 Jurnal Karya Ilmiah 25 . : 277 - 290 (September 2. Enny Istanti. Amiartuti Kusmaningtyas. Siti Mujanah. Achmad Daengs Gatot Suherman mendukung sebagian hipotesis yang diajukan serta menegaskan perlunya penyesuaian teori JD-R pada konteks perguruan tinggi swasta di Indonesia. Secara praktis, hasil ini menekankan pentingnya peningkatan dukungan organisasi, pengembangan kecerdasan emosional dan intelektual dosen, serta penyelarasan nilai spiritual dengan target kinerja. Prospek penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan replikasi pada konteks lebih luas, penggunaan indikator kinerja yang lebih reliabel, serta pendekatan longitudinal untuk menguji hubungan kausal secara lebih mendalam. Daftar Pustaka