JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 PENGARUH PENGUNGKAPAN LAPORAN KEBERLANJUTAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN Nathaniel Erald Lesar1. Erwin Saraswati2 1,2 Program Studi Akuntansi. Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia e-mail: lesarerald@gmail. com, erwin_saraswati@yahoo. Diterima:13-04-2025 Disetujui:29-04-2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan sektor manufaktur yang terdafar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2018-2022, terdapat 22 perusahaan manufaktur yang dipilih menjadi sampel penelitian berdasarkan purposive sampling. Pengungkapan laporan keberlanjutan dinilai melalui dua perspektif, yaitu kuantitas dan kualitas dari item pengungkapan sedangkan kinerja keuangan dinilai menggunakan return on asset. Penelitian ini menggunakan regresi data panel dengan aplikasi Eviews12 sebagai alat pengolahan data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan dari perspektif kuantitas memberikan dampak yang positif terhadap kinerja keuangan perusahaan, sedangkan pengungkapan dari perspektif kualitas sebaliknya. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberi implikasi bagi studi terhadap pengungkapan keberlanjutan melalui penilaiannya terhadap aspek kuantitas dan kualitas pengungkapan, serta dapat memberikan perspektif baru bagi perusahaan manufaktur dalam meningkatkan kinerja keuangannya melalui pelaporan keberlanjutan. Kata kunci: Teori Pemangku Kepentingan. Teori Legitimasi. Laporan Keberlanjutan. Kinerja Keuangan Abstract This study aims to examine the effect of sustainability report disclosure on company financial The population of this study include manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange between 2018 Ae 2022, from which the samples of 22 companies are selected through purposive sampling. Sustainability report disclosure is assessed through two perspectives: the quantity and quality of disclosure, and financial performance is assessed using return on assets. The data are analyzed by panel data regression processed by Eviews12. The results of this study exhibit that the sustainability report disclosure from the quantity perspective has a positive effect on the companiesAo financial performance, and from the quality perspective has the opposite result. The findings of this study are expected to provide implications for the study of sustainability disclosure by incorporating both quantitative and qualitative assessment and can provide new perspective for manufacturing companies in improving their financial performance through strategic sustainability reporting. Keywords : Stakeholder Theory. Legitimacy Theory. Sustainability Report. Financial Performance JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 66 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Pendahuluan Kinerja keuangan memberikan posisi yang penting terhadap pengembangan dan keberlangsungan usaha perusahaan (Le Thi Kim et al. , 2. Menurut Suhadak et al. kinerja keuangan memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan yang sedang dialami perusahaan, sehingga melalui gambaran tersebut dapat tercermin informasi mengenai perkembangan serta potensi pertumbuhan perusahaan kedepannya. Menurut Kawulur dan Kala . , kinerja keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian terhadap kinerja Perusahaan untuk menilai sehat atau tidaknya suatu Perusahaan. Dengan demikian, kinerja keuangan yang tinggi selalu menjadi perhatian utama bagi setiap perusahaan. Kinerja perusahaan yang besar, unggul, dan mutakhir memberikan kontribusi yang tinggi dalam pertumbuhan suatu negara (Khazaei et al. , 2. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, selama lima tahun terakhir . kinerja perusahaan sektor manufaktur selalu memberikan kontribusi yang paling tinggi terhadap tingkat PDB (Produk Domestik Brut. di Indonesia. Akan tetapi, apabila dilihat dari laju pertumbuhan PDB atas sektor manufaktur di Indonesia pada lima tahun yang sama, kinerja perusahaan sektor manufaktur cenderung mengalami penurunan. Data dari Badan Pusat Statistik tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2018 kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih menunjukkan angka 19,88, kemudian angka ini terus menurun setiap tahun secara berturut-turut 19,86, 19,70, 19,25, dan kemudian pada tahun 2022 menunjukkan angka terendah sebesar 18,34. Selaras dengan isu tersebut, angka Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) sebagai gambaran mengenai kinerja Perusahaan juga memperlihatkan kecenderungan penurunan kinerja pada sektor manufaktur. Berdasarkan angka tersebut pada tahun 2018 angka PMI-BI masih menunjukkan angka 51. 9, kemudian sama dengan angka PDB sektor manufaktur, angka tersebut terus menurun setiap tahun secara berturut-turut 51,5, 47,3, 50,2, dan kemudian pada tahun 2022 menyentuh angka 50,1. Penurunan terhadap nilai kinerja sektor manufaktur yang dilihat dari kontribusinya terhadap angka PDB serta dilihat dari nilai PMI-BI menunjukkan bahwa dalam upaya mencapai tujuannya, perusahaan mengahadapi berbagai faktor yang dapat mengarah pada penurunan kinerja. Dengan demikian, penting bagi perusahaan agar supaya memiliki kemampuan untuk dapat mengendalikan kinerja keuangan yang dimilikinya. Dalam penelitiannya Baah et al. menunjukkan bahwa tuntutan dari para pemangku kepentingan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Hal ini dikarenakan dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan berinteraksi dengan berbagai para pemangku kepentingan dan membutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan untuk keberlangsungan kegiatan usahanya. Oleh karena itu, perusahaan memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan dari para pemangku kepentingan tersebut. Saat ini dengan semakin nyatanya dampak dari kerusakan lingkungan terhadap kehidupan manusia, maka para pemangku kepentingan mulai meningkatkan kesadarannya akan tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan (Alsahlawi et al. , 2. Hal tersebut dikarenakan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, perusahaan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kerusakan lingkungan. Sejalan dengan peningkatan kesadaran tersebut, para pemangku kepentingan mulai meningkatkan tuntutan bagi perusahaan agar dapat mengadopsi bisnis yang berkelanjutan dan beretika agar supaya dapat mempertahankan posisinya untuk tetap menguntungkan (KPMG, 2. Bagi Perusahaan manufaktur, tuntutan tersebut memberikan tantangan tersendiri, karena dalam menjalankan bisnisnya perusahaan manufaktur cenderung memberikan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan melalui penggunaan energi yang tinggi, produksi limbah, dan emisi gas rumah kaca (Brundage et al. , 2. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan manufaktur untuk dapat menjawab tuntutan dari para pemangku kepentingan tersebut dengan cara melegitimasi bahwa dirinya melakukan adopsi bisnis yang berkelanjutan dan beretika, serta untuk dapat membangun hubungan yang baik dengan para pemangku JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 67 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Salah satu cara untuk melegitimasi dirinya tersebut adalah dengan mengungkapkan laporan keberlanjutan (Sebrina et al. , 2. Laporan keberlanjutan merupakan sebuah sarana bagi Perusahaan untuk memberikan laporan kepada pemangku kepentingan menggunakan pendekatan AuTriple Bottom LineAy agar tidak hanya berfokus pada kinerja keuangan, namun juga memperhatikan aspek non-finansial yaitu aspek sosial, ekonomi, dan keuangan untuk keberlangsungan jangka panjang perusahaan (Elkington, 1. Berbagai penelitian terdahulu telah meneliti pengaruh dari pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap kinerja keuangan, namun masih memberikan hasil yang tidak Sampong et al . dan Pham et al . menemukan bahwa pengungkapan keberlanjutan perusahaan memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Namun, berbeda dengan temuan tersebut. Laskar . menemukan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan memberikan hasil yang kontradiktif diantara dua populasi penelitian yang berbeda, artinya pada satu populasi menunjukkan hasil yang positif dan signifikan, sedangkan pada populasi lain menunjukkan hasil yang negatif dan signifikan. Troy Chua & Byun . , menemukan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh secara negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, penelitian dari Ching et al. , . menemukan bahwa pengungkapan keberlanjutan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Dari sudut pandangan teori pemangku kepentingan, pengungkapan laporan keberlanjutan dipandang sebagai sebuah strategi yang dilakukan perusahaan untuk menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan melalui pemenuhan kebutuhan informasi tentang bagaimana perusahaan memberikan penciptaan nilai terhadap para pemangku kepentingan (Hyrisch et al. , 2. Kemudian, dari sudut pandangan teori legitimasi, pengungkapan laporan keberlanjutan dipandang sebagai sebuah alat untuk mendapatkan status AulegitimasiAy dari masyarakat dengan mengelola dan memanipulasi hubungan perusahaan dengan masyarakat untuk menunjukkan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan perusahaan sudah sesuai dengan harapan masyarakat (Deegan, 2. Hubungan dari pengungkapan laporan keberlanjutan dan kinerja keuangan perusahaan dapat dipahami dari teori pemangku kepentingan dan teori legitimasi (Troy Chua & Byun, 2. Hal ini disebabkan pada suatu kesepakatan dari kedua teori tersebut, bahwa dalam menjalankan kegiatan bisnisnya perusahaan sangat bergantung pada para pemangku kepentingan . i dalamnya masyaraka. , sehingga menjadi kewajiban bagi perusahaan untuk dapat menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan melalui berbagai tindakan yang dapat melegitimasi bahwa kegiatan bisnis yang dilakukannya memberikan penciptaan nilai bagi para pemangku kepentingan serta sudah berjalan sesuai dengan harapan Dengan demikian, pengungkapan laporan keberlanjutan dipandang sebagai strategi yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan dukungan dari para pemangku kepentingan dalam menjalankan proses bisnisnya. Pada akhirnya, dukungan tersebut membantu perusahaan dalam mencapai tujuan utamanya, yaitu mencapai hasil dari kegiatan bisnis yang optimal melalui peningkatan kinerja. Berbagai penelitian terdahulu telah memberikan bukti empiris terkait pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap kinerja keuangan perusahaan (Ching et al. Laskar, 2019. Sampong et al. , 2018. Pham et al. , 2021. Troy Chua & Byun, 2. Melalui kedua teori tersebut, pengungkapan laporan keberlanjutan dinilai dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan dengan melegitimasi tindakan yang dilakukannya, serta menyediakan informasi non-keuangan yang penting bagi pemangku kepentingan tentang penciptaan nilai yang dilakukan perusahaan (Sampong et al. , 2. Sama dengan hal itu. Pham et al . , menilai bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan melalui promosi atas akses ke sumber daya keuangan perusahaan, meningkatkan reputasi, serta menawarkan manfaat ekonomi yang mempengaruhi nilai perusahaan. JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 68 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Selain itu, menurut Laskar . , pengungkapan laporan keberlanjutan dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan dalam suatu kurun waktu tertentu. Hal tersebut dikarenakan dengan melakukan pengungkapan perusahaan dinilai berhasil dalam melegitimasi dirinya, sehingga melalui proses legitimasi tersebut pada akhirnya perusahaan dapat menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan. Meskipun demikian, praktik tersebut cenderung mengurangi kinerja keuangan perusahaan dalam kurun waktu tertentu, namun biaya tersebut cenderung hanya sebagai biaya awal yang harus dikeluarkan. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih menekankan pada pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan secara umum terhadap kinerja keuangan perusahaan, belum secara ekspilist membedakan antara aspek kuantitas dan kualitas dari pengungkapan laporan keberlanjutan. Padahal dalam laporan keberlanjutan, pengungkapan yang tinggi secara kuantitatif tidak selalu mencerminkan kualitas dari informasi yang disajikan, sebaliknya, pengungkapan yang rendah secara kuantitatif bisa jadi memiliki kualitas yang Berdasarkan pertimbangan terhadap berbagai hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara terpisah antara pengaruh kuantitas dan kualitas pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap kinerja keuangan perusahaan khususnya pada sektor manufaktur yang selama ini diketahui memiliki dampak besar terhadap lingkungan dan menjadi sorotan utama para pemangku kepentingan. Dengan demikian, penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut: H1a: Kuantitas item pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. H1b: Kualitas item pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Metode Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang bersifat asosiatif, artinya penelitian dirancang untuk menganalisis seberapa besar pengaruh suatu variabel independen terhadap variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu tahun 2018-2022 dengan total populasi sejumlah 227 perusahaan. yang kemudian diambil sampel berdasarkan teknik purposive sampling, dengan kriteria: . Perusahaan yang bergerak dalam industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2022. Perusahaan manufaktur yang sudah melakukan pengungkapan keberlanjutan baik dalam bentuk laporan tahunan atau laporan yang berdiri sendiri menggunakan standar GRI atau POJK 51/2017 sebagai pedoman. Perusahaan manufaktur yang melakukan pengungkapan laporan keberlanjutan berturutturut dari tahun 2018 hingga 2022. Berdasarkan kriteria tersebut maka ditemukan 22 perusahaan yang layak dijadikan sampel penelitian, dengan jumlah 110 data observasi. Untuk menjelaskan variabel dependen, yaitu kinerja keuangan, berbagai penelitian terdahulu cenderung menggunakan profitabilitas sebagai indikator pengukuran dengan menggunakan return on assets (Ching et al. , 2017. Laskar, 2019. Sampong et al. , 2018. Pham et al. , 2021. Troy Chua & Byun, 2. Penggunaan return on assets ini dianggap tepat, dikarenakan melalui return on assets dapat tergambarkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dalam rangka menghasilkan laba yang pada akhirnya dapat menggambarkan kondisi keuangan yang sedang dialami perusahaan. Return on asset diukur dengan membagi laba bersih setelah pajak dengan total aset. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah pengungkapan laporan keberlanjutan yang dinilai dari kualitas dan kuantitas item yang diungkapkan dalam laporan keberlanjutan seperti yang dikembangkan oleh Raar . Menurut Naukoko et al. , penilaian menggunakan Raar . dinilai tepat dalam menilai pengungkapan laporan keberlanjutan di Indonesia, dikarenakan pengungkapan laporan keberlanjutan di Indonesia masih bersifat JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 69 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 variatif, yaitu dalam laporan tahunan ataupun laporan keberlanjutan yang berdiri sendiri . erpisah dari laporan tahunan perusahaa. Penilaian terhadap kuantitas item pengungkapan laporan keberlanjutan dilakukan dengan menilai seberapa banyak informasi yang diberikan Perusahaan dalam menjelaskan salah satu dari kedelapan indikator pengungkapan yang sudah ditentukan dengan rentang skor 1 sampai dengan 5 . ihat Tabel . Artinya, apabila salah satu skema kategori yang terdapat pada tabel 2 dijelaskan dalam bentuk hanya kalimat saja, maka diberi nilai 1 untuk kuantitas, apabila disajikan dalam bentuk 1 paragraf utuh maka diberi nilai 2, dan seterusnya sesuai dengan definisi skor pengungkapan kuantitas dalam tabel 1. Kemudian, penilaian terhadap kualitas item pengungkapan laporan keberlanjutan tersebut dinilai dengan memberikan skor 1 sampai dengan 7 . ihat Tabel . untuk setiap item yang diungkapkan dalam laporan keberlanjutan dengan 8 kategori sebagai indikator . ihat Tabel . Sama seperti penilaian kuantitas, apabila salah satu skema kategori yang terdapat pada tabel 2 dijelaskan hanya dalam bentuk moneter, sesuai dengan definisi kualitas, maka diberi nilai 1, apabila disajikan dalam bentuk angka saja . erat, ukuran, volum. tanpa ada satuan moneter maka diberikan nilai 2, dan seterusnya sesuai dengan definisi kualitas dalam Tabel 1. Definisi kuantitas dan kualitas pengungkapan Skor Pengungkapan Skor Pengungkapan Definisi Kualitas Kuantitas Kualitas 1 = Kalimat 1 = Moneter 2 = Paragraf 2 = Non-moneter 3 = Setengah halaman A4 3 = Hanya secara kualitatif 4 = 1 halaman A4 4 = Secara kualitatif dan 5 = Secara kualitatif dan non-moneter Ou1 halaman A4Ou1 halaman A4 6 = Moneter dan nonmoneter 7 = Secara kualitatif, moneter, dan non-moneter Pengungkapan dalam satuan moneter . Pengungkapan dalam bentuk angka . erat, ukuran, volum. , namun bukan termasuk satuan uang. Pengungkapan dalam bentuk paragraf Pengungkapan dalam bentuk paragraf deskripsi dan satuan uang. Pengungkapan dalam bentuk paragraph deskripsi dan angka. Pengungkapan dalam satuan uang dan Pengungkapan dalam bentuk campuran antara paragraph deskripsi, angka, dan satuan uang. Sumber: Penelitian Raar . Tabel 2. Skema Kategori Dan Definisi Pengungkapan CSR Kategori dan Kode Key Indicators Profile Policies External Relation Deskripsi Definisi isu lingkungan sosial dan dampak yang berasosiasi dengan produk operasional atau jasa. Indikator antisipasi kinerja lingkungan. Input atau emisi terkait energi, bahan, limbah, air, bahan padat, bahan bakar, tolak ukur efisiensi ekosistem udara terkait aktivitas perusahaan. Dampak dan siklus kehidupan suatu produk. Struktur organisasi. Jenis produk. Grup jenis industri. Pernyataan misi, nilai perusahaan, sistem manajemen lingkungan, sertifikasi eksternal, standar pengukuran kinerja, kriteria penilaian risiko, audit, dan Kriteria pemangku kepentingan, komunikasi pemangku kepentingan, benchmarking, dan isu konsultasi serta informasi. JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 70 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Management Hal-hal yang berkaitan dengan kepatuhan, mencakup: Performance Penalti dan penghargaan yang sesuai dengan deklarasi internasional atau perjanjian nasional dan lokal. Biaya remediasi, liabilitas lingkungan, tumpahan minyak, kecelakaan, dan emisi karbon. Kinerja standar internal, penghargaan, dan rekognisi. Occupational Health Komentar yang terkait dengan isu keselamatan kerja, meliputi perencanaan, and Safety tujuan, target, dan kinerja. Product Performance Berkaitan dengan dampak dari siklus hidup produk, inisiatif, dan kinerja pengelolaan produk, serta indikator yang terkait dengan produk atau jasa Sustainability Integrasi antara nilai dan tujuan sosial-ekonomi yang dihubungkan dengan pengambilan keputusan jangka panjang dan isu kinerja. Sumber: Penelitian Raar . Kemudian, untuk mempertimbangkan berbagai faktor lain yang mempengaruhi penelitian, maka digunakanlah variabel kontrol sebagai alat untuk memeriksa faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian selain dari variabel independen, sehingga melalui variabel kontrol dapat dipastikan bahwa bias dalam penelitian tidak disebabkan oleh faktorfaktor lain di luar penelitian (Sampong et al. , 2. Dalam penelitian ini variabel kontrol yang diukur menggunakan logaritma natural total aset, leverage yang diukur dengan debt to equity ratio, dan growth yang diukur dengan pertumbuhan penjualan perusahaan. Hasil dan Pembahasan Tabel 3. Hasil Analisis Deskriptif Maximum Minimum Mean Median 40,00000 34,00000 Kuantitas 40,00000 39,09091 56,00000 38,00000 Kualitas 50,00000 49,41818 0,173310 -0,876100 ROA 0,038482 0,049700 26,74743 20,61902 Size 23,5085 23,70192 10,52000 0,023000 Leverage 1,447821 0,946890 0,849302 -0,331516 Growth 0,095870 0,071426 Keterangan. Kuantitas = jumlah informasi yang diungkapkan. kualitas = kualitas informasi yang diungkapkan. ROA = laba setelah pajak dibagi dengan total aset. Size = ukuran Leverage = rasio utang perusahaan dibagi ekuitas. Growth = peningkatan penjualan perusahaan. Dari hasil pengujian statistik deskriptif yang disajikan pada Tabel 3, menunjukkan bahwa nilai dari kuantitas item pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki nilai terendah sebesar 34,00000, dan untuk nilai tertinggi adalah 40,00000, sedangkan nilai rata-rata kuantitas pengungkapan sebesar 39,09091 dengan median 40,00000. Nilai dari kualitas item pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki nilai terendah sebesar 38,00000, dan untuk nilai tertinggi adalah 56,00000, sedangkan nilai rata-rata kuantitas pengungkapan sebesar 49,41818 dengan median 50,00000. Nilai dari ROA memiliki nilai terendah sebesar -0,876100, dan untuk nilai tertinggi adalah 0,173310, sedangkan nilai rata-rata ROA sebesar 0,038482 dengan median 0,038482. Nilai dari size memiliki nilai terendah sebesar 20,61902, dan untuk nilai tertinggi adalah 26,74743, sedangkan nilai rata-rata size sebesar 23,50851 dengan median 23,50851. Nilai dari leverage memiliki nilai terendah sebesar 0,023000, dan untuk nilai tertinggi adalah 10,52000, sedangkan nilai rata-rata leverage sebesar 1,447821 dengan median 0,946890. Nilai dari growth memiliki nilai terendah sebesar -0,331516, dan untuk nilai tertingi adalah 0,849302, sedangkan nilai rata-rata leverage sebesar 0,095870 dengan median 0,071426 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 71 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Pada penelitian ini, untuk menentukan model terbaik yang akan digunakan dalam regresi maka dilakukanlah uji chouw, uji hausman, dan uji lagrange multiplier. Melalui ketiga uji tersebut, ditemukan bahwa random effect model merupakan model terbaik yang dapat digunakan untuk mengestimasi model regresi pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Menurut Gujarati & Porter . , metode estimasi data panel dari random effect model menggunakan metode generalized least square, sehingga sudah tidak diperlukan uji asumsi klasik. Tabel 4. Hasil Analisis Regresi Data Panel Variabel Coef. Prob Kuantitas 0,0245 0,022948 Kualitas 0,0106 -0,007246 Size 0,000913 0,9244 Leverage -0,001941 0,7820 Growth 0,140796 0,005 Prob (F-statisti. 0,001919 Adjusted R-Squared 0,124736 Keterangan. Kuantitas = jumlah informasi yang diungkapkan. kualitas = kualitas informasi yang diungkapkan. ROA = laba setelah pajak dibagi dengan total aset. Size = ukuran Leverage = rasio utang perusahaan dibagi ekuitas. Growth = peningkatan penjualan perusahaan. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi pada Tabel 4, diketahui bahwa model penelitian memiliki nilai adjusted r square sebesar 0. 124736 atau sebesar 12%. Artinya, kemampuan pengungkapan laporan keberlanjutan yang diuraikan menjadi kuantitas dan kualitas pengungkapan, size, leverage, dan growth dalam menjelaskan kinerja keuangan perusahaan adalah sebesar 12%. Hal ini menunjukan bahwa 88% dari variabel yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Pengujian hipotesis pertama dengan menggunakan Random Effect Model menunjukkan nilai koefisien dari kuantitas pengungkapan sebesar 0,022948 dengan nilai probabilitas sbesar 0,0245 (<0,. Hasil analisis ini menyatakan bahwa setiap kenaikan 1% dari nilai kuantitas akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan sebesar 0,022948. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kuantitas dari pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Dari sudut pandangan teori pemangku kepentingan, para pemangku kepentingan dapat melakukan berbagai tindakan yang berpengaruh terhadap proses bisnis perusahaan, sehingga perusahaan harus menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan agar supaya para pemangku kepentingan memberikan dukungan terhadap proses bisnis tersebut. Dukungan dari para pemangku kepentingan tersebut dapat diterima perusahaan apabila perusahaan memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan, yaitu kebutuhan akan informasi terkait penciptaan nilai yang dilakukan perusahaan terhadap para pemangku Pengungkapan laporan keberlanjutan dipandang sebagai sebuah strategi operasi yang tepat bagi perusahaan untuk menjaga hubungannya dengan para pemangku kepentingan melalui pemenuhan informasi yang dibutuhkan dari para pemangku kepentingan. Dengan demikian, melalui pemenuhan informasi tersebut, perusahaan dinilai berhasil dalam menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan. Pada akhirnya, hubungan tersebut membantu perusahaan dalam mencapai tujuan utamanya, yaitu mencapai hasil dari kegiatan bisnis yang optimal melalui peningkatan kinerja akibat dari dukungan dari berbagai pemangku kepentingan terhadap proses bisnis yang dilakukannya. JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 72 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 Temuan pada pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan yang dinilai dari kuantitas item pengungkapan ini mendukung temuan dari (Sampong et al. , 2. yang menyatakan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan dapat membantu perusahaan dalam mempengaruhi persepsi dari para pemangku kepentingan tentang perusahaan, sehingga melalui pembentukan persepsi tersebut, para pemangku kepentingan cenderung mengambil tindakan yang mendukung kegiatan bisnis yang dijalankan perusahaan. Selain itu, temuan ini mendukung temuan dari (Pham et al. , 2. yang menilai bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan memberikan promosi atas akses ke sumber daya keuangan perusahaan, peningkatan reputasi, dan memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan, sehingga pengungkapan laporan keberlanjutan cenderung memberikan dampak yang positif bagi kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, pengujian hipotesis kedua dengan menggunakan Random Effect Model menunjukkan nilai koefisien dari kualitas pengungkapan sebesar -0,007246 dengan nilai probabilitas sebesar 0,0106 (<0,. Hasil analisis ini menyatakan bahwa setiap kenaikan 1% dari nilai kuantitas akan menurunakn kinerja keuangan perusahaan sebesar 0,007246. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kualitas dari pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Dari sudut pandang teori legitimasi, untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu kinerja keuangan yang baik, perusahaan harus dapat memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukannya sudah sesuai dengan keinginan masyarakat. Hal ini didasari pada ide Aykontrak sosialAy yang berarti bahwa perusahaan merupakan bagian integral dari sistem sosial dan tidak memiliki hak inheren atas sumber daya yang dibutuhkannya dalam menjalankan kegiatan Dengan demikian, perusahaan memerlukan AylegitimasiAy dari sistem sosial tersebut untuk dapat menggunakan sumber daya yang dibutuhkannya. Pada saat ini, di tengah peningkatan tuntutan dari masyarakat atas kegiatan bisnis yang berkelanjutan, maka perusahaan dituntut untuk dapat melakukan adopsi bisnis yang berprinsip Oleh karena itu, untuk melegitimasi bahwa dirinya melakukan adopsi bisnis berkelanjutan kepada masyarakat, perusahaan melakukan pengungkapan laporan keberlanjutan untuk memberikan informasi atas kegiatan bisnis yang dilakukannya. Informasi yang diungkapkan dalam laporan keberlanjutan tersebut harus dapat mencerminkan kegiatan sebenarnya yang dilakukan perusahaan, sehingga untuk dapat memberikan informasi yang berkualitas pada pengungkapan laporan keberlanjutan, maka perusahaan harus dapat melalukan adopsi bisnis berkelanjutan yang berkualitas. Adopsi bisnis yang berkelanjutan ini menuntut perusahaan agar mengorbankan berbagai biaya yang berkaitan dengan kegiatan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Berbagai biaya tersebut cenderung mempengaruhi profitabilitas perusahaan, sehingga pada akhirnya berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, dari perspektif kualitas item pengungkapan dapat disimpulkan bahwa proses legitimasi yang dilakukan perusahaan mengorbankan berbagai biaya yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan, sehingga proses legitimasi tersebut berpengaruh secara negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Temuan pada pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan yang dinilai dari kualitas item pengungkapan laporan keberlanjutan ini mendukung temuan Laskar . dan Troy Chua & Byun . , yang menyatakan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki dampak negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan melalui pengorbanan biaya yang berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan dalam bentuk pelatihan, kualitas dan keamanan produk, serta investasi dalam teknologi yang dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Kesimpulan dan Saran Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh pengungkapan laporan keberlanjutan yang ditinjau dari kuantitas dan kualitas pengungkapan terhadap kinerja JAIM: Jurnal Akuntansi Manado | 73 JAIM: Jurnal Akuntansi Manado. Vol. 6 No. 1 April 2025 keuangan perusahaan yang dinilai melalui rasio profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2018 hingga 2022. Untuk menggambarkan populasi perusahaan manufaktur tersebut, maka terpilih 22 perusahaan berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Penelitian ini menemukan bahwa kuantitas dari item pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini dikarenakan, melalui kuantitas dari pengungkapan laporan keberlanjutan yang tinggi, maka perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan melalui pemenuhan kebutuhan informasi yang dibutuhkan para pemangku Dengan demikian, pengungkapan laporan keberlanjutan dianggap sebagai strategi dan operasi yang tepat dalam menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan, sehingga para pemangku kepentingan dapat membantu perusahaan dalam mencapai tujuan utamanya melalui penciptaan kondisi bisnis yang optimal. Sebaliknya, kualitas dari item pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini dikarenakan, dalam memberikan informasi kegiatan bisnis yang berkelanjutan dalam laporan keberlanjutan, maka perusahaan harus dapat mengadopsi bisnis berkelanjutan yang berkualitas juga. Adopsi bisnis tersebut cenderung mengorbankan berbagai biaya yang dapat berpengaruh terhadap kinerja keuangan Dengan adanya penelitian ini, diharapkan agar perusahaan manufaktur lebih terdorong untuk melakukan pengungkapan yang dinilai baik secara kuantitas pengungkapan laporan keberlanjutan, sekaligus dapat meningkatakan kualitas dari adopsi bisnis berkelanjutan yang dilakukannya, tanpa harus mengorbankan berbagai biaya yang mempengaruhi kinerja keuangan melalui efisiensi biaya. Selain itu, dalam penelitian ini, masih ditemukan adanya keterbatasab, yaitu pengukuran terhadap kuantitas dan kualitas pengungkapan menggunakan analisis konten yang mengandung subjektivitas tinggi dengan demikian diharapkan agar penelitian berikutnya dapat menggunakan staf peneliti dalam melakukan penilaian terhadap pengungkapan laporan keberlanjutan untuk mengurangi subjektivitas yang ditimbulkan tersebut. Daftar Pustaka