AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies P-ISSN: 2622-9897 E-ISSN: 2622-9838 Vol. No. 1, 2026, 219-236 DOI: https://doi. org/10. 58223/al-irfan. The Tragedy Of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes Nafidzah Hishosul Abawani Sunan Gunung Djati State Islamic University. Indonesia nafidzahha53@gmail. Khomisah Sunan Gunung Djati State Islamic University. Indonesia A khomisah@uinsgd. Ihin Sholihin Sunan Gunung Djati Islamic University. Indonesia ihinsolihin@uinsgd. Keywords: Tragic love. Andalusian Abstract This study addresses the problem of how the tragedy of love and exile in Qasidah Nniyyah by Ibn Zaydun is constructed as a system of meaning that operates not only emotionally but also ideologically. Previous studies have predominantly emphasized its aesthetic and romantic dimensions, leaving its symbolic and mythological structures insufficiently explored. Therefore, this research aims to analyze the construction of tragic love and exile through the semiological framework of Roland Barthes, particularly his three levels of signification: denotation, connotation, and myth. Employing a qualitative descriptive method with textual analysis, this study examines selected verses containing major symbols such as night, tears, longing, fire, and exile. The findings indicate that at the denotative level, these symbols refer to literal experiences of separation and displacement. At the connotative level, they represent psychological suffering and identity fragmentation. At the mythological level, however, tragedy is naturalized as AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 a process of spiritual purification and moral legitimation, where suffering becomes a sign of loyalty and dignity. The contribution of this research lies in demonstrating the applicability of Barthesian semiology to classical Arabic literature and revealing the ideological dimension embedded within Andalusian poetic symbolism. Kata Kunci: tragedi cinta, mitos, sastra Andalusia Abstrak Penelitian ini berangkat dari permasalahan bagaimana tragedi cinta dan pengasingan dalam Qasidah Nniyyah karya Ibn Zaydun dikonstruksi sebagai sistem makna yang tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga ideologis. Selama ini, kajian terhadap puisi tersebut cenderung menitikberatkan pada aspek estetika dan romantisme, sehingga dimensi simbolik dan mitologisnya belum sepenuhnya dianalisis secara sistematis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi makna tragedi cinta dan pengasingan melalui pendekatan semiologi Roland Barthes, khususnya pada tiga tingkat signifikasi: denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis tekstual terhadap bait-bait puisi yang memuat simbol-simbol utama seperti malam, air mata, rindu, api, dan pengasingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotatif, simbol-simbol tersebut merujuk pada makna literal yang berkaitan dengan pengalaman perpisahan dan keterasingan. Namun pada tingkat konotatif, simbol berkembang menjadi representasi kondisi psikologis dan krisis identitas penyair. Lebih jauh lagi, pada tingkat mitologis, tragedi dinaturalisasi sebagai mekanisme pemurnian jiwa dan legitimasi moral, sehingga penderitaan dikonstruksi sebagai bukti kesetiaan dan Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan relevansi pendekatan semiologi dalam kajian sastra Arab klasik serta pengungkapan dimensi ideologis yang tersembunyi di balik struktur simbolik puisi Andalusia. Received: 07-01-2026. Revised: 20-02-2026. Accepted: 07-03-2026 A Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin 220 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Pendahuluan Sastra Arab klasik merupakan ruang representasi yang mempertemukan ekspresi estetis, pengalaman emosional, dan dinamika sosial-politik dalam satu konstruksi simbolik yang kompleks. Dalam konteks sejarah Islam, terutama pada periode Andalusia, puisi tidak sekadar menjadi medium ekspresi individual, melainkan juga sarana artikulasi identitas, legitimasi status sosial, serta refleksi atas perubahan politik yang intens. Andalusia sebagai wilayah yang mengalami pergolakan kekuasaan, konflik elite, dan pergeseran struktur sosial melahirkan tradisi sastra yang sarat dengan nuansa eksistensial. Di tengah kondisi tersebut, figur penyair tidak hanya berperan sebagai seniman, tetapi juga sebagai representasi simbolik kehormatan, kesetiaan, dan martabat aristokratik. Salah satu karya yang menonjol dalam tradisi tersebut adalah Qasidah Nniyyah karya Ibn Zaydun. Puisi ini lahir dari pengalaman personal penyair yang terlibat dalam dinamika politik Cordoba abad ke-11 serta kisah cintanya yang terkenal dengan Walladah bint al-Mustakfi. Dalam historiografi sastra Arab. Nniyyah sering diposisikan sebagai representasi paling puitis dari cinta yang terhalang sekaligus refleksi batin atas pengasingan politik. Namun demikian, pembacaan terhadap karya ini kerap berhenti pada dimensi biografis dan romantik, tanpa menggali secara mendalam bagaimana pengalaman tersebut dikonstruksi melalui sistem simbol yang bekerja secara ideologis. Secara tekstual, puisi ini tidak menyampaikan tragedi melalui narasi linear atau pengakuan langsung. Sebaliknya, ia membangun medan makna melalui simbol-simbol alam dan ruang seperti malam, laut, angin, air mata, api, rumah, perjalanan, dan padang pasir. Simbol-simbol tersebut berfungsi bukan hanya sebagai ornamen retoris, tetapi sebagai perangkat semiotik yang membentuk struktur makna berlapis. Tragedi cinta dan pengasingan tidak tampil sebagai peristiwa historis semata, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang dimediasi oleh bahasa simbolik. Di sinilah letak kompleksitas teks: makna tidak hadir secara eksplisit, tetapi diproduksi melalui relasi tanda yang berulang dan terstruktur. 221 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Dalam kajian sastra Arab klasik, sejumlah penelitian telah membahas karya Ibn Zaydn dari berbagai perspektif. Sebagian studi menekankan aspek balaghah dan keindahan retorika, terutama pada kekuatan metafora dan musikalitas qafiyah. Kajian lain berfokus pada dimensi historis-biografis, dengan melihat puisi sebagai refleksi langsung dari kisah cinta penyair dan konflik politik yang dialaminya. Pendekatan filologis juga dilakukan untuk menelusuri keaslian teks dan varian manuskrip. Selain itu, terdapat penelitian yang mengaitkan puisi Andalusia dengan tradisi cinta Aoudhr dalam sastra Arab klasik, yang menempatkan penderitaan sebagai bukti kesucian perasaan. Meskipun demikian, kajian yang secara khusus membaca simbol-simbol tragedi dalam Qasidah Nniyyah sebagai sistem tanda ideologis masih relatif Sebagian besar penelitian masih berhenti pada level tematikAi mengidentifikasi cinta, rindu, atau pengasingan sebagai tema dominanAitanpa menganalisis bagaimana tema tersebut diproduksi melalui mekanisme signifikasi yang kompleks. Padahal, dalam perspektif teori tanda modern, makna tidak pernah netral. ia selalu berada dalam jaringan relasi budaya yang memproduksi dan menaturalisasi nilai tertentu. Dengan kata lain, simbol-simbol dalam puisi tidak hanya menyampaikan emosi penyair, tetapi juga membangun konstruksi nilai tentang kesetiaan, kehormatan, dan kemuliaan dalam Di sinilah relevansi pendekatan semiologi menjadi signifikan. Dalam kerangka pemikiran Roland Barthes, tanda tidak berhenti pada relasi antara penanda dan petanda pada tingkat denotasi. Ia berkembang ke tingkat konotasi, dan lebih jauh lagi ke tingkat mitos sebagai sistem semiologis kedua yang bekerja secara ideologis. Mitos, dalam pengertian Barthes, bukanlah cerita fiktif, melainkan mekanisme kultural yang menjadikan konstruksi sosial tampak alamiah dan tak terbantahkan. Melalui mekanisme ini, nilai-nilai tertentuAi seperti kemuliaan dalam pengorbanan atau kehormatan dalam kesetiaanAidapat dinaturalisasi melalui representasi simbolik. 222 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Pendekatan semiologi Barthes telah banyak digunakan dalam kajian budaya populer, media, dan sastra modern. Namun penerapannya dalam kajian sastra Arab klasik, khususnya puisi Andalusia, masih relatif jarang. Padahal, teks sastra klasik memiliki potensi semiotik yang sangat kaya karena sarat dengan simbol dan konvensi budaya. Oleh karena itu, penggunaan kerangka Barthes dalam membaca Qasidah Nniyyah membuka kemungkinan interpretasi yang lebih mendalam, tidak hanya pada level estetika, tetapi juga pada level ideologis. Melalui pendekatan ini, tragedi cinta dan pengasingan dapat dipahami sebagai konstruksi simbolik yang merefleksikan struktur nilai masyarakat Andalusia abad ke-11. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana simbol-simbol dalam Qasidah Nniyyah bekerja sebagai sistem tanda yang memproduksi dan menaturalisasi makna tragedi cinta dan Secara lebih spesifik, penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan: . bagaimana makna denotatif dari simbol-simbol utama dalam puisi tersebut. bagaimana makna konotatifnya berkembang melalui asosiasi emosional dan kultural. bagaimana pada tingkat mitologis simbolsimbol tersebut membangun ideologi tentang kesetiaan, kehormatan, dan pemurnian identitas melalui penderitaan. Adapun kebaruan . penelitian ini terletak pada dua aspek utama. Pertama, penelitian ini memposisikan Qasidah Nniyyah bukan sekadar sebagai teks romantik atau dokumen biografis, melainkan sebagai sistem tanda yang memproduksi makna ideologis. Kedua, penelitian ini mengintegrasikan teori semiologi Barthes ke dalam kajian sastra Arab klasik secara sistematis dan Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperluas horizon interpretasi terhadap karya Ibn Zaydn, tetapi juga memperkaya metodologi kajian sastra Arab melalui pendekatan interdisipliner antara teori tanda modern dan teks klasik. Secara akademik, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam tiga hal. Pertama, mempertegas pentingnya pembacaan semiologis dalam 223 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 memahami lapisan makna teks sastra Arab klasik. Kedua, menunjukkan bahwa tragedi dalam puisi Andalusia bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi konstruksi simbolik yang merepresentasikan sistem nilai budaya. Ketiga, membuka ruang dialog antara teori sastra Barat modern dan khazanah sastra Arab klasik secara produktif dan kritis. Dengan demikian, pendahuluan ini menegaskan bahwa kajian terhadap tragedi cinta dan pengasingan dalam Qasidah Nniyyah bukan hanya upaya memahami pengalaman personal penyair, melainkan usaha mengungkap bagaimana bahasa simbolik bekerja membangun mitos tentang cinta yang agung, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan kehormatan yang dimurnikan melalui penderitaan. Di sinilah tragedi tidak lagi dipahami sebagai kehancuran, tetapi sebagai proses pemaknaan yang mengangkat subjek liris ke ranah eksistensial dan ideologis yang lebih luas. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis yang berorientasi pada pembacaan tekstual mendalam. Pendekatan kualitatif dipilih karena objek penelitian berupa teks sastra yang mengandung sistem makna simbolik dan tidak dapat direduksi menjadi angka atau variabel kuantitatif. Analisis dilakukan secara interpretatif dengan menempatkan teks sebagai sistem tanda yang memproduksi makna melalui relasi simbolik dan konteks budaya. Dalam kerangka ini, penelitian tidak bertujuan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk mengungkap struktur pemaknaan yang bekerja dalam Qasidah Nniyyah. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah teks Qasidah Nniyyah karya Ibn Zaydn yang terdapat dalam DwAn Ibn Zaydn edisi cetak Beirut: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah. Data penelitian berupa bait-bait puisi yang memuat simbol-simbol yang merepresentasikan tragedi cinta dan pengasingan. Simbol tersebut mencakup citraan alam, metafora ruang, serta diksi yang berulang dan memiliki potensi makna konotatif kuat. Sumber data sekunder diperoleh dari 224 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 literatur teori semiologi, khususnya karya Roland Barthes seperti Mythologies. Elements of Semiology, dan Image. Music. Text, serta referensi pendukung terkait teori semiotika, sastra Arab klasik, dan kajian tragedi dalam sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dengan metode simak dan catat. Peneliti membaca teks secara berulang untuk mengidentifikasi kata, frasa, dan metafora yang memiliki intensitas simbolik. Proses ini dilakukan secara sistematis dengan menandai unit-unit linguistik yang menunjukkan relasi makna di luar arti literalnya. Data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan kategori tematik, yaitu simbol yang Teknik analisis data menggunakan kerangka semiologi Barthes yang menempatkan tanda sebagai relasi antara penanda dan petanda dalam dua tingkat signifikasi, kemudian diperluas pada tingkat mitos sebagai sistem semiologis tingkat kedua. Pada tahap pertama, dilakukan analisis denotatif untuk mengidentifikasi makna literal dari simbol yang muncul dalam teks. Tahap kedua adalah analisis konotatif, yaitu menafsirkan makna tambahan yang muncul melalui asosiasi emosional, kultural, dan historis. Tahap ketiga adalah analisis mitos, yaitu mengkaji bagaimana makna konotatif tersebut dinaturalisasi menjadi ideologi yang tampak wajar dan universal dalam konteks budaya Andalusia. Proses analisis dilakukan secara hermeneutik, yakni melalui dialog antara teks dan teori. Peneliti tidak hanya mengidentifikasi simbol, tetapi juga menempatkannya dalam jaringan makna yang lebih luas, termasuk latar historis kehidupan penyair dan sistem nilai masyarakat Andalusia. Dalam tahap ini, interpretasi dilakukan secara reflektif dengan mempertimbangkan koherensi internal teks serta relevansinya dengan kerangka teoretis yang digunakan. Untuk menjaga validitas penelitian, dilakukan triangulasi teori dengan membandingkan temuan analisis dengan literatur semiotika dan kajian sastra Arab klasik. Selain itu, konsistensi interpretasi diuji melalui pembacaan berulang 225 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 dan pengujian argumentatif terhadap kemungkinan makna alternatif. Dengan demikian, hasil analisis tidak bersifat spekulatif, melainkan memiliki dasar teoretis dan tekstual yang jelas. Melalui metode ini, penelitian berupaya mengungkap bagaimana tragedi cinta dan pengasingan dalam Qasidah Nniyyah tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi emosional, tetapi sebagai konstruksi semiologis yang membangun mitos tentang kesetiaan, kehormatan, dan pemurnian identitas. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang lebih komprehensif terhadap teks sebagai sistem tanda yang kompleks dan ideologis. Pembahasan dan Diskusi Analisis Semiologis Simbol Tragedi Cinta dan Pengasingan Analisis ini berangkat dari pendekatan semiologi yang menempatkan teks puisi sebagai sistem tanda yang berlapis. Secara teoretis, kerangka ini dapat ditautkan dengan pemikiran Roland Barthes tentang tiga tingkat signifikasi: akna pertam. , konotatif . akna kedu. , dan mitologis/ideologis . akna yang telah dinaturalisasi dalam sistem buday. Pada lapisan denotatif, tanda berfungsi secara literal. Pada lapisan konotatif, tanda mengalami perluasan makna melalui asosiasi psikologis dan emosional. Adapun pada lapisan mitologis, makna konotatif tersebut dilembagakan menjadi AukebenaranAy budaya yang seolah-olah alamiah. Dalam konteks puisi yang dianalisis, tragedi cinta dan pengasingan dibangun melalui jaringan simbol yang saling menopang. Malam, air mata, pengasingan, rindu, api, dan penjara tidak berdiri sebagai elemen terpisah, melainkan membentuk struktur makna yang koheren. Keenam simbol ini menghadirkan narasi penderitaan cinta sebagai pengalaman eksistensial yang bukan hanya personal, tetapi juga ideologis. Berikut adalah analisis mendalam pada masing-masing simbol. 226 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Simbol Malam (A)EEcaOeEA. Penggalan puisi: AEaO Ca eEaOA a aANA e a AEEca eO aE Oa eaa A a a AA Denotatif (A)e EOEOA: Secara literal. A EEcaOeEAberarti waktu setelah matahari terbenam hingga terbit kembali. Ia adalah fase kegelapan dalam siklus harian. Frasa A( O NAmembentangkan tirainy. secara denotatif merujuk pada peristiwa alam: langit yang gelap menutupi cahaya siang. Pada tingkat ini, tidak ada makna metaforis. malam hanyalah fenomena temporal. Konotatif (A)e EIOA: Namun demikian, penggunaan kata kerja AOA . dan nomina A( NAtirai-tirainy. menggeser makna literal ke ranah psikologis. Malam dipersonifikasikan sebagai subjek aktif yang AumenyelimutiAy hati penyair. Hati (A )CEOAmenjadi ruang batin yang tertutup oleh Konotasi yang muncul adalah kesunyian, isolasi, dan keterasingan Dalam tradisi puisi Arab klasik, malam kerap menjadi ruang kontemplasi dan ratapan. Kegelapan eksternal mencerminkan kegelapan Dengan demikian, malam bukan sekadar latar waktu, melainkan kondisi batin yang terhenti dalam kesedihan. Secara semiologis, relasi antara penanda . dan petanda . menghasilkan tanda baru: malam sebagai metafora penderitaan cinta. Ia menandai ketidakhadiran kekasih dan absennya kehangatan relasi. Mitologis/Ideologis (AEOOA A)eA: Pada dinaturalisasi sebagai ruang autentik bagi pecinta sejati. Dalam sistem budaya Arab klasik, dialog dengan malam adalah tanda kesungguhan cinta. Pecinta yang terjaga sepanjang malam dianggap memiliki kedalaman perasaan yang Mitos yang dibangun adalah bahwa cinta sejati identik dengan kesanggupan menanggung kesunyian. Malam bukan lagi sekadar waktu, melainkan ujian spiritual. Dengan demikian, teks ini mereproduksi ideologi romantik: penderitaan adalah legitimasi kesetiaan. Kesedihan dinilai bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai bukti kemurnian jiwa. 227 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Simbol Air Mata (A)E ca aIOA. Penggalan puisi: AOA a AaOE ca aIOA ac A aaO aE EaEA ac aA eO aE AaO aICA Denotatif: A E ca aIOAberarti cairan yang keluar dari mata akibat emosi atau rangsangan fisik. Kata kerja A OEAmenunjukkan pergerakan cairan yang mengalir, sedangkan A( EEOEAseperti banji. adalah perbandingan hiperbolik. Secara literal, ini menggambarkan seseorang yang menangis deras. Konotatif: Konotasi muncul melalui metafora AubanjirAy. Air mata tidak lagi sekadar tanda kesedihan ringan, tetapi representasi intensitas emosional yang Banjir melambangkan ketakterkendalian dan kekuatan destruktif. Dengan demikian, air mata menjadi simbol cinta yang melampaui batas rasional. Dalam sistem tanda puisi, air mata adalah ekspresi fisik dari penderitaan batin. Ia menghubungkan dimensi tubuh dan jiwa. Tangisan menjadi bahasa alternatif ketika kata-kata tak lagi memadai. Mitologis: Dalam mitologi puisi Arab, tangisan pecinta adalah legitimasi Pecinta yang tidak menangis dianggap tidak sungguh-sungguh. Semakin deras air mata, semakin tinggi kualitas cintanya. Di sini, penderitaan dinaturalisasi sebagai standar evaluasi cinta. Mitos ini mengonstruksi paradigma bahwa cinta yang tidak menyakitkan adalah cinta yang dangkal. Dengan kata lain, air mata menjadi simbol ideologis yang meneguhkan romantisasi Simbol Pengasingan (A)Ea eaA. Penggalan puisi: AC aE a caO a U acAaO AaO Ea ea a aOCa eEaO aIaEA a a Denotatif: A EAberarti hidup jauh dari tanah air atau kampung halaman. Secara literal, ini adalah kondisi geografis: seseorang berada di tempat asing. Konotatif: Namun, frasa A( CEO IEC EOAhatiku tergantung pada kampung halama. menunjukkan keterbelahan identitas. Hati tidak berada di ruang fisik yang sama dengan tubuh. Konotasinya adalah dislokasi psikologis. Penyair hidup secara fisik di satu tempat, tetapi secara emosional di tempat lain. Pengasingan menjadi simbol keterputusan relasi. Ia merepresentasikan jarak antara subjek dan objek cinta. Dalam konteks tragedi cinta, jarak fisik diperluas menjadi jarak batin. 228 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Mitologis: Pada tingkat mitos, pengasingan adalah takdir pecinta sejati. Dalam narasi budaya, cinta yang diuji oleh jarak dianggap lebih luhur. Pengasingan Mitos mengideologisasikan penderitaan sebagai proses pemurnian. Jarak tidak dilihat sebagai kegagalan relasi, melainkan sebagai ujian yang meninggikan derajat a AC aE aI aeEa aE EIca a E aA Simbol Rindu (A)E ecaOCA. Penggalan puisi: AA a AOaeEaEaIaO E ecaOA a AA Denotatif: A EOCAberarti kerinduan atau keinginan kuat untuk bertemu. Secara literal, ia adalah emosi. Konotatif: Rindu dipersonifikasikan sebagai subjek aktif yang AumemakanAy Metafora api yang memakan kayu menekankan daya destruktif rindu. Ia menggerogoti eksistensi subjek. Konotasi ini memperlihatkan rindu sebagai kekuatan dominan yang menguasai diri. Penyair menjadi objek yang tak berdaya di hadapan emosinya sendiri. Mitologis: Dalam sistem mitologis, rindu bukan sekadar penderitaan, tetapi energi spiritual. Ia membakar ego dan memurnikan jiwa. Rindu menjadi sarana transformasi eksistensial. Dengan demikian, teks ini membangun mitos bahwa penderitaan emosional adalah jalan menuju kedewasaan batin. Rindu diposisikan sebagai api penyucian. Simbol Api (A)EIcaA. Penggalan puisi: A AaO ae aaO aaE a e aI aA aca AIa a E aA Denotatif: A EIAadalah unsur panas yang membakar. Secara literal, ia adalah fenomena fisik. Konotatif: Api cinta melambangkan hasrat yang tak padam. menyakitkan namun memberi cahaya. Dualitas ini menunjukkan ambivalensi cinta: destruktif sekaligus memberi makna hidup. Konotasi api menekankan intensitas dan kontinuitas perasaan. Api yang tidak padam berarti cinta yang Mitologis: Pada tingkat mitos, api adalah simbol penyucian. Seperti logam dimurnikan dalam api, jiwa pecinta dimurnikan melalui penderitaan. Api menjadi metafora spiritualitas cinta. 229 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Simbol Penjara (A eIA a AaO aEaIcaIaO AaOA ac a A)EA. Penggalan puisi: A e aI E a e aI aaE a aO Aa e UA Denotatif: A EIAadalah tempat kurungan. Secara literal, ia merujuk pada ruang tertutup bagi tahanan. Konotatif: Penjara kesedihan menunjukkan keterbatasan batin. Penyair merasa terkurung dalam duka tanpa harapan fajar (A)E O AA. Fajar melambangkan harapan yang tertunda. Konotasi ini memperlihatkan kondisi stagnasi emosional. Penyair terjebak dalam lingkaran penderitaan. Mitologis: Pada tingkat mitos, penjara adalah ruang pembentukan Penderitaan tidak menghancurkan, melainkan membentuk kedalaman Seperti tokoh-tokoh besar yang dimuliakan melalui ujian, pecinta dimuliakan melalui kesedihan. Sintesis Struktural Jika keenam simbol ini dibaca secara struktural, terlihat bahwa semuanya mengarah pada satu poros makna: romantisasi penderitaan sebagai legitimasi cinta sejati. Malam . , air mata . , pengasingan . , rindu . , api . , dan penjara . membentuk jaringan tanda yang saling menguatkan. Tabel 1: Analisis Semiologis Simbol Tragedi Cinta dan Pengasingan Simbol Malam (A)EEcaOeEA Air Mata (A)E ca aIOA Pengasingan (A)Ea eaA Denotatif (Makna Litera. Waktu setelah hingga terbit. fase kegelapan Cairan yang keluar dari deras seperti Hidup jauh dari tanah air. Konotatif (Makna Psikologi. Mitologis/Ideologis (Makna Buday. Metafora kesunyian batin, isolasi emosional, dan ketiadaan kekasih Ruang sakral pecinta penderitaan malam sebagai bukti kesetiaan Luapan emosi yang tak Tangisan sebagai legitimasi moral cinta. cinta yang mendalam semakin menderita semakin autentik Dislokasi psikologis. keterbelahan identitas dan jarak batin Jarak sebagai ujian sebagai proses pemurnian 230 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Rindu (A)E ecaOCA Api (A)EIcaA Penjara (A)E eIA ac Perasaan ingin Kekuatan destruktif yang AumemakanAy diri. dominasi emosi Energi spiritual yang memurnikan jiwa. penderitaan sebagai transformasi batin Unsur panas Hasrat cinta yang Simbol penyucian yang membakar intens dan tak padam. ambivalensi destruktif- dimuliakan melalui Ruang Keterkungkungan Ujian pembentukan jiwa. kurungan bagi penderitaan sebagai jalan dalam kesedihan pendewasaan emosional Pada tingkat denotatif, simbol-simbol seperti malam (A)EEcaOeEA, air mata (A)E ca aIOA, ac A)EA, api (A)EIcaA, dan penjara (A )Ecae IAmerujuk pada pengasingan (A)Ea e aA, rindu (A eOCA realitas konkret: waktu gelap, cairan yang mengalir dari mata, kondisi jauh dari tanah air, perasaan kerinduan, unsur pembakar, dan ruang kurungan. Pada lapisan ini, tanda-tanda masih berada dalam fungsi referensialnya. Namun, pada tingkat konotatif, seluruh simbol tersebut mengalami perluasan makna ke ranah psikologis dan emosional. Malam menjadi metafora kesunyian batin. air mata menjadi tanda intensitas cinta. mencerminkan keterbelahan identitas. rindu tampil sebagai kekuatan destruktif yang menggerogoti diri. api melambangkan hasrat yang tak padam. dan penjara merepresentasikan keterkungkungan eksistensial dalam kesedihan. Dengan demikian, tragedi cinta dalam puisi ini tidak hanya dipresentasikan sebagai peristiwa naratif, tetapi sebagai pengalaman batin yang total dan menyeluruh. Lebih jauh lagi, pada tingkat mitologis/ideologis, simbol-simbol tersebut membentuk konstruksi makna yang lebih dalam: penderitaan dinaturalisasi sebagai legitimasi cinta sejati. Malam menjadi ruang sakral kesetiaan. menjadi bukti kemurnian. jarak menjadi ujian yang memuliakan. rindu menjadi sarana pemurnian jiwa. api menjadi simbol spiritualitas cinta. dan penjara kesedihan dipahami sebagai proses pendewasaan emosional. Pada tahap ini, teks tidak lagi sekadar menggambarkan pengalaman individual, melainkan mereproduksi mitos budaya tentang romantisasi penderitaan. 231 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 Struktur tanda yang terbentuk menunjukkan adanya pola konsisten: seluruh simbol bergerak dari dimensi fisik menuju dimensi psikologis, kemudian Artinya, ditransformasikan menjadi narasi universal tentang cinta yang diuji oleh kesunyian, jarak, dan luka batin. Penderitaan bukan diposisikan sebagai kegagalan relasi, melainkan sebagai prasyarat autentisitas dan kedalaman cinta. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis semiologis terhadap simbol-simbol tragedi cinta dan pengasingan dalam puisi yang dikaji, dapat disimpulkan bahwa teks tersebut membangun sistem makna yang berlapis melalui tiga tingkat signifikasi: denotatif (A)e EOEOA, konotatif (A)e EIOA, dan mitologis/ideologis ( AeA A)EOOA. Kerangka ini selaras dengan konsep mitos dalam semiologi Roland Barthes, yang menjelaskan bahwa tanda tidak berhenti pada makna literal, melainkan berkembang menjadi sistem makna tingkat kedua yang kemudian dinaturalisasi sebagai AukebenaranAy budaya. Secara keseluruhan, dapat ditegaskan bahwa tragedi cinta dan pengasingan dalam puisi ini merupakan konstruksi semiologis yang kompleks. Melalui jaringan simbol yang saling berkaitan, teks membangun wacana bahwa cinta sejati tidak terlepas dari penderitaan, bahkan justru dimuliakan melalui penderitaan tersebut. Dengan demikian, puisi ini tidak hanya merefleksikan pengalaman emosional penyair, tetapi juga mengukuhkan ideologi romantik yang menempatkan luka, jarak, dan kesunyian sebagai jalan menuju kemurnian dan keabadian cinta. Meskipun analisis ini berhasil memetakan lapisan denotatif, konotatif, dan mitologis secara sistematis, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu Pertama, pembacaan semiologis yang berfokus pada konstruksi mitos berpotensi mengabaikan konteks historis, biografis, dan sosiokultural penyair yang mungkin turut memengaruhi kemunculan simbol-simbol tersebut. Kedua, penafsiran yang menekankan romantisasi penderitaan sebagai legitimasi cinta 232 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 sejati cenderung bersifat generalisasi, sehingga kemungkinan adanya makna tandingan atau ironi dalam teks kurang dieksplorasi. Ketiga, analisis ini belum membandingkan simbol-simbol yang sama dalam karya lain atau dalam tradisi puisi yang lebih luas, sehingga dimensi intertekstualitasnya belum tergali secara Oleh karena itu, penelitian lanjutan yang mengintegrasikan pendekatan historis, psikologis, atau komparatif diperlukan agar pemaknaan terhadap tragedi cinta dan pengasingan dalam puisi tersebut menjadi lebih komprehensif dan tidak semata-mata bertumpu pada kerangka semiologis tunggal. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sunan Gunung Djati State Islamic University yang telah memberikan dukungan akademik serta lingkungan ilmiah yang kondusif sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Apresiasi juga disampaikan kepada para kolega dan penelaah yang telah memberikan masukan, saran, dan kritik konstruktif selama proses penulisan artikel ini. Ucapan terima kasih turut penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian penelitian ini. Pernyataan Kontribusi Penulis Nafidzah Hishosul Abawani berperan dalam konseptualisasi penelitian, pengumpulan dan analisis data, serta penyusunan draf awal manuskrip. Khomisah berkontribusi dalam perancangan desain penelitian, penguatan kerangka teori, serta revisi kritis terhadap substansi naskah. Ihin Sholihin bertindak sebagai pembimbing penelitian, memberikan arahan metodologis, serta melakukan penelaahan akhir terhadap isi intelektual manuskrip. Seluruh penulis telah membaca dan menyetujui versi akhir artikel serta bertanggung jawab atas keseluruhan isi penelitian ini. 233 | Nafidzah Hishosul Abawani. Khomisah. Ihin Sholihin. The Tragedy of Love And Exile In AoAoQashidah NuniyyahAoAo By Ibn Zaydun: A Semiological Analysis By Roland Barthes AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2026, 219-236 References