ISSN : 2798-1118 Vol. 4 No. 2 (Desember, 2. The Relationship Between Body Shaming and Self-Confidence Levels in Junior High School Students Wanda Hamidah1. Meti Agustini1. Muhammad Syafwani1 1Program Studi S1 Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Email: meti. ners@umbjm. ABSTRACT Body shaming often occurs in adolescents, the act of body shaming affects the mentality that influencing The confidence of adolescents. The purpose of this study is to find out the relationship between body shaming and self-confidence in junior high school students (SMP) Negeri 6 Banjarmasin. The design of this study is an analytical quantitative correlation with a cross sectional approach. Selected by simple random sampling the sample of this study was 178 students of Junior High School (SMP) 6 Banjarmasin. Data collection uses body shaming and confidence questionnaires. The results of this research test using the spearman rank test obtained a p value . < 0. this research concluded that there is a relationship between body shaming and confidence in female students. Therefore, it is hoped that the school can provide education about mental health related to body shaming and it is hoped that there will be discipline, especially related to appearance, to reduce the incidence of body shaming in schools. Keywords : Adolescentents. Body Shaming. Self Confidence PENDAHULUAN Era globalisasi merupakan perubahan global yang mempengaruhi penyebaran nilai-nilai lokal sehingga menyebabkan pergeseran norma-norma masyarakat. Pergeseran ini dapat berdampak signifikan terhadap persepsi dan sikap masyarakat terhadap berbagai aspek, termasuk standar kecantikan masyarakat (Rahmawati dan Zuhdi, 2. Fenomena standar tubuh ideal menimbulkan tekanan sosial bagi remaja yang harus memenuhi ekspektasi tersebut agar terhindar dari penilaian masyarakat. Ketidaksesuaian dalam mencapai standar tubuh di anggap ideal sering kali menyebabkan masalah seperti body shaming, yang sering dialami terutama oleh remaja (Rahardaya, 2. Body Shaming merupakan suatu Tindakan mengejek seseorang karena memiliki penampilan atau kondisi tubuh yang dinilai cukup berbeda pada umumnya. Pada awalnya, body shaming digunakan sebagai bahan lelucon, tetapi seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi serius dan mengarah pada pengejekan terhadap individu, menyebabkan ketidaknyamanan bagi yang menjadi sasarannya. Jika body shaming terus berlangsung dalam waktu yang lama, dapat berdampak negatif terhadap harga diri dan kepercayaan diri seseorang (Fadhila et al. , 2. Body shaming cenderung sering terjadi pada remaja, karena pada fase ini individu sedang mencari identitas diri. Berdasarkan fenomena yang terjadi saat memasuki usia remaja, remaja akan mengalami perubahan yang signifikan baik perubahan secara emosional, intelektual maupun perubahan bentuk fisik. Perubahan fisik remaja dianggap penting bagi mereka karena itu remaja sangat menjaga, merawat dan memperhatikan penampilan fisiknya. Pada masa remaja inilah seputar gaya hidup dan penampilan fisik mudah dan cepat berkembang karena remaja sangat mudah mengikuti dan terbawa arus perubahan. semakin berkembangnya mode tentang gaya hidup dan penampilan fisik, maka akan memunculkan banyak tindakan pembulian, tindakan tersebut berhubungan dengan penampilan fisik seseorang atau body shaming (Freshtin et al. , 2. Di dunia pendidikan dan media sosial kasus body shaming dilaporkan sebanyak 2. 473 kasus dan diperkirakan akan terus meningkat. Menurut Sindo . di Indonesia, permasalahan ini menempati https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 4 No. 2 (Desember, 2. peringkat tertinggi dibandingkan dengan Vietnam dan Nepal, dengan presentase sekitar 79% kasus yang dilaporkan dan diurutan berikutnya Kamboja sebesar 73%. Pakistan sebesar 43% (Daerang et al. , 2. Menurut hasil survei Body Peace Recollection oleh Yahoo Health yang melibatkan 2. 000 remaja usia 13-14 tahun, sebanyak 94% remaja perempuan dan 64% remaja laki-laki pernah mengalami body shaming. Hasil penelitian oleh Alini dan Meisyalla, ada 206 kasus body shaming yang dilaporkan ke polisi pada tahun 2015 dan naik menjadi 966 pada tahun 2018 (Mailiza et al. , 2022. Schlyter et al. , 2. Menurut (Nabila Erica Ristanti, 2. terdapat beberapa bentuk body shaming: fat shaming, yaitu mengomentari seseorang karena kelebihan berat badan seperti gemuk atau obesitas, skinny shaming, yaitu mengomentari seseorang karena tubuh yang kurus, tubuh berbulu, yaitu mengomentari tubuh berbulu karena jumlah rambut yang berlebih atau sedikit di tubuh, dan warna kulit, yaitu, mengomentari warna kulit, seperti kulit hitam atau albino. Oleh karena itu, perlakuan body shaming dapat menyebabkan gangguan psikologis dan membawa dampak negatif terhadap individu. Salah satu dampak negatifnya adalah menurunkan tingkat kepercayaan diri individu secara signifikan(Rahmawati dan Zuhdi, 2. Menurut Haryati . dalam (Fadhila et al. , 2. kepercayaan diri merupakan keyakinan akan kemampuan pribadi yang membuat seseorang merasa lebih tenang, mempunyai kebebasan untuk bertindak sesuai keinginan mereka, bertanggung jawab atas tindakan mereka, berinteraksi secara sopan dengan orang lain, mempunyai keinginan untuk mencapai prestasi, dan mampu mengidentifikasi baik dan buruk dalam diri mereka sendiri. Menurut Lilishanty dan Maryatmi . dalam (Dianningrum dan Satwika, 2. penampilan fisik adalah salah satu factor yang mempengaruhi terhadap rendahnya kepercayaan diri remaja. Ketika penampilan fisik tidak sesuai harapan, hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi sasaran perlakuan perundungan terhadap penampilan fisik yang dikenal sebagai body shaming. Menurut Fathi mengatakan bahwa perilaku body shaming dapat menyebabkan korban merasa malu, marah, tersinggung, dan stres. Sejalan dengan penelitian (Ayu et al. , 2. mengemukakan bahwa ketika seseorang terus menerus mengalami body shaming dalam waktu lama maka akan membuat seseorang rentan terhadap stres dan depresi (Ayu et al. , 2. Studi pendahuluan yang lakukan peneliti, di dapatkan hasil dari wawancara kepada 10 siswi yang menduduki kelas VII yaitu dari 10 siswi mengatakan sering mengalami perilaku body shaming dalam bentuk hinaan fisik seperti kurus, gendut, pesek, dan hitam oleh teman sebaya. Kemudian 7 dari 10 siswi mengatakan tidak percaya diri karena dia malu atas dirinya. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas terkait body shaming sebagai faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri, maka peneliti tertarik meneliti tentang Auhubungan antara body shaming dengan kepercayaan diriAy. METODE Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 320 siswi. Pengambilan sample pada penelitian ini menggunakan simple random sampling, dengan jumlah sample 178 siswi kelas 7 dan 8 di SMP Negeri 6 Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan pada bulan desember-juli 2024. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner body shaming sebanyak 26 pertanyaan dengan aspek mengkritik penampilan orang lain didepan orang tersebut, membandingkan fisik diri sendiri, mengkritik fisik orang lain didepan orang tersebut dan kuesioner kepercayaan diri sebanyak 20 pertanyaan dengan aspek keyakinan pada diri sendiri, sikap optimis, cara pandang objektif, tanggung jawab dan rasional. Pengumpulan data melalui kuesioner body shaming dan kepercayaan diri menggunakan uji spearman rank. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1 Karakteristik Usia Responden Usia 12 Tahun 13 Tahun 14 Tahun 15 Tahun Total https://journal. id/index. php/jnhs Frekuensi (F) Presentase (%) ISSN : 2798-1118 Vol. 4 No. 2 (Desember, 2. Berdasarkan karakteristik usia, rentang usia remaja yang menjadi sample adalah 12 sampai 15 tahun. Pada usia 12 tahun mengalami body shaming rendah sebanyak 2 responden, dan 1 responden mengalami body shaming sedang, pada usia 13 tahun mengalami body shaming rendah sebanyak 25 responden, mengalami body shaming sedang sebanyak 36 responden, dan yang mengalami body shaming tinggi sebanyak 1 responden, pada usia 14 tahun mengalami body shaming rendah sebanyak 19 responden, dan 78 responden mengalami body shaming sedang, pada usia 15 tahun mengalami body shaming rendah sebanyak 2 responden, mengalami body shaming sedang sebanyak 13 responden, dan yang mengalami body shaming tinggi sebanyak 1 responden. Berdasakan hasil karakteristik usia tersebut yang paling banyak adalah remaja berusia 14 tahun sebanyak 97 responden . ,5%). Sebanyak 97 responden . ,5%) di usia 14 tahun mengalami body shaming. Di rentang usia remaja responden termasuk usia remaja yang sedang mengalami masa transisi, dimana individu tidak bisa dianggap sebagai anak kecil, namun belum mencapai kedewasaan baik secara fisik maupun mental. Sejalan dengan penelitian (Kusumawati dan Nur Kamilah, 2. yang menyatakan bahwa masa remaja sering kali mengalami storm dan stres, dimana terjadi pergolakan emosi yang tidak stabil disertai dengan pertumbuhan fisik yang cepat dan perkembangan psikologis yang sangat rentan pengaruh lingkungan. Body Shaming Tabel 2 Body Shaming Body Shaming Frekuensi (F) Body Shaming rendah Body Shaming sedang Body Shaming tinggi Total Presentase (%) Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil penelitian body shaming pada siswi SMP Negeri 6 Banjarmasin, dari data yang didapatkan bahwa yang paling banyak adalah body shaming tingkat sedang. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti lokasi sekolah dan lingkungan. jika diliat dari lokasi sekolah terletak di kota sehingga untuk akses internet akan lebih mudah di jangkau dan akan mudah mengikuti tren standar tubuh ideal sehingga apabila seseorang memiliki tubuh yang di anggap tidak ideal akan berpotensi untuk mengalami body shaming. Selanjutnya berdasarkan lingkungan juga mempengaruhi terjadinya body shaming apabila lingkungan tersebut memiliki nilai-nilat tertentu terhadap penampilan fisik. maka individu yang dianggap tidak memenuhi nilai tersebut akan cenderung mengalami body shaming. Menurut Wijaya . dalam (Daerang et al. , 2. dampak negatif yang dialami korban body shaming adalah termasuk menimbulkan ketidakpercayaan diri dalam lingkungan sosialnya, yang menyebabkan mereka kesulitan dalam berinteraksi di masyarakat. Selain hilangnya rasa percaya diri, dampak dari body shaming salah satunya akan menyebabkan depresi, stres, serta perasaan tertekan karena merasa tidak diterima karena bentuk tubuhnya yang dianggap berbeda atau tidak memenuhi standar idela masyarakat. Dampak lainnya yang ditimbulkan dari perlakuan body shaming termasuk perasan sedih, marah dan kecewa, serta mungkin mengalami gangguan makan dan tidur. Bahkan, dampak yang lebih serius adalah munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan memikirkan untuk bunuh diri (Agustini et al. Berdasarkan komponen indikator body shaming menurut (Gani dan Jalals, 2. yaitu mengkritik penampilan orang lain di depan orang tersebut, membandingkan fisik diri sendiri dan mengkritik fisik orang lain di depan orang tersebut. Skor tertinggi dalam penelitian ini terdapat pada kategori mengkritik penampilan orang lain di depan orang tersebut pada pernyataan Auteman saya mengkritik cara berpakaian saya menurut teman saya terlalu pendek/terlalu ketat/tidak pantas/anehAy. Apabila seseorang mendapatkan komentar negatif terhadap dirinya biasanya rentan mengalami perasaan malu terhadap dirinya. Akibat dari rasa malu yang dimiliki individu, mereka cenderung mengikuti pendapat orang lain terutama terkait dengan kondisi tubuh mereka sendiri. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya kepercayaan diri, merasa kurang menarik dan bahkan merasa tidak cocok dalam lingkungan sosial mereka. Tidak hanya itu, body shaming juga mempengaruhi pola pikir seseorang dengan menghasilkan penilaian negatif terhadap dirinya sendiri (Hidayat et al. , 2. Sejalan dengan penelitian Marta . dalam (Hidayat et al. , 2. perlakuan body shaming merupakan pengalaman emosional dimana individu merasa bahwa tindakan atau penampilannya tidak memenuhi harapan baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Body shaming bukan sekedar pengalaman emosional https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 4 No. 2 (Desember, 2. tetapi juga merupakan penilaian diri yang timbul karena ketidakpuasan terhadap penampilan atau kondisi yang dimiliki oleh individu. Sehingga perlakuan body shaming ini memiliki rasa malu, dan rasa malunya tersebut menjadikan seseorang kurang menghargai terhadap tubuhnya sendiri dan faktor utama yang dialami dari perlakuan body shaming adalah terlalu memasukan kata-kata orang lain ataupun temannya sehingga menyebabkan kepercayaan diri rendah. Berdasarkan hasil penelitian body shaming, skor terendah pada pernyataan yang terdapat dalam indikator mengkritik fisik orang lain didepan orang tersebut Auteman saya sering membandingkan fisik saya dengan orang lainAy. Pernyataan tersebut mendefinisikan bahwa sebagian besar responden pernah mengalami perlakuan dibandingkan fisiknya dengan orang lain yang mana salah satu faktornya karena dianggap memiliki fisik yang tidak mencapai standar ideal yang ada. Anggapan negatif inilah yang akan menyebabkan seseorang cenderung dibandingkan atau dikritik oleh orang lain. Sehingga dampak yang didapatkan ketika dibandingkan yaitu menimbulkan perasaan cemas, malu dan muak terhadap diri sendiri apabila sering dikritik atau dibandingkan oleh orang lain. Penelitian Syaifudin dan darmawan . dalam (Nurfitri et al. , 2. yang berpendapat bahwa ketika individu sering memperhatikan penilaian lingkungan terhadap penampilan fisik mereka, hal ini dapat memunculkan rasa kurang bersyukur terhadap diri sendiri dan semakin tidak tidak puas dengan penampilan fisik yang dimiliki. Seseorang yang mendapatkan perlakuan body shaming cenderung mengalami dampak yang lebih banyak pada hal-hal negatif. Salah satu contohnya ketika individu tersebut mengalami body shaming karena dibandingkan fisiknya dengan orang lain maka akan menyebabkan individu tersebut merasa malu dan merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri Kepercayaan Diri Tabel 3 Kepercayaan Diri Kepercayaan Diri Kepercayaan Diri rendah Kepercayan Diri sedang Kepercayaan Diri tinggi Total Frekuensi (F) Presentase (%) Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil penelitian kepercayan diri pada siswi SMP Negeri 6 Banjarmasin, dari data yang didapatkan bahwa siswi yang memiliki kepercayaan diri rendah sebanyak 5 responden . ,8%), siswi yang memiliki kepercayaan diri sedang sebanyak 105 responden . ,0%), dan siswi yang memiliki kepercayaan diri tinggi sebanyak 68 responden . ,2%). Dari data yang diperoleh, sebagian besar remaja mengalami kepercayaan sedang pada usia 14 tahun. Menurut Purnawan . dalam (Febiola dan Fitriani, 2. mendeteksi sejumlah alasan kurangnya kepercayaan diri disebabkan karena faktor seperti pengaruh lingkungan, sering diremehkan dan dikucilkan oleh teman sebaya, pola asuh yang traumatis, merasa tidak berharga karena pernah dipermalukan didepan umum dan merasa memiliki bentuk fisik yang tidak sempurna. Berdasarkan komponen indikator kepercayaan diri menurut Lauster dalam (Safitri dan Rizal, 2. yaitu keyakinan pada diri sendiri, sikap optimis, cara pandang objektif, tanggung jawab, rasional dan realistis. Skor tertinggi dalam penelitian ini terdapat pada kategori sikap optimis pada pernyataan Ausaya memiliki cita-cita yang tinggi walaupun masih bersekolahAy. Pernyataan tersebut mendefinisikan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung akan bersikap semangat dalam menjalani hidup dan bangkit kembali dengan cara memperbaiki kualitas diri. Sejalan dengan penelitian menurut Hakim . dalam (Febiola dan Fitriani, 2. mengatakan individu yang mempunyai kepercayaan diri cenderung memiliki sifat optimis dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Sifat optimis ini memberikan kemampuan untuk mengatasi rasa takut, terus berusaha dan fokus masa depan yang lebih cerah. Berdasarkan hasil penelitian kepercayaan diri, skor terendah pada pernyataan yang terdapat dalam indikator sikap optimis dan tanggung jawab pada pernyataan Ausaya tidak mampu menceritakan keadaan saya apa adanyaAy dan Ausaya suka menunda- nunda mengerjakan tugasAy. Pada kedua pernyataan tersebut mendefinisikan bahwa seseorang yang mengalami penurunan kepercayaan diri akan cendurung menjadi seseorang yang pemalu, rendah diri serta memilih menghindar untuk bersosialisasi dengan orang https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 4 No. 2 (Desember, 2. Menurut asumsi peneliti individu yang memiliki kepercayaan diri lebih cenderung memiliki sifat optimis untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Salah satu dari sifat optimis yaitu memikirkan masa depan. Adapun individu yang memiliki kepercayaan diri rendah akan cenderung menjadi individu yang pemalu, rendah diri sampai memilih menghindari untuk bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Hubungan Body Shaming dan Kepercayaan Diri Tabel 4 Hasil Analisis Bivariat Body Shaming Rendah Sedang Rendah Kepercayaan Diri Sedang Tinggi Total Responden yang memiliki kepercayaan diri rendah rentan mengalami body shaming baik rendah, sedang maupun tinggi. Pada dasarnya apabila seseorang mengalami body shaming rendah dan sedang lambat laun akan berangsur-angsur menjadi body shaming tinggi jika tetap dibiarkan tanpa diberikan edukasi tentang dampak dari perlakuan body shaming, karena akan menyebabkan korban dari body shaming tersebut stres, depresi dan gangguan psikologis lainnya bahkan sampai berakibat pada bunuh diri. Adapun dari data yang peneliti dapatkan di lapangan, beberapa responden yang memiliki kepercayaan diri tinggi memiliki kecenderungan mengalami body shaming baik dari body shaming rendah maupun sedang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terdapat juga hasil bahwa individu yang mengalami body shaming sedang memiliki kepercayaan diri tingkat sedang. Berdasarkan penelitian oleh (Aprilia Yolanda, 2. mengatakan bahwa setiap individu memiliki kepercayaan diri yang berbeda-beda, sebagian individu ada yang penuh dengan percaya diri, sedangkan individu yang lain merasa kurang percaya diri. Kepercayaan diri individu tidak bisa di sama ratakan. Menurut penelitian oleh (Freshtin et al. , 2. berpendapat bahwa apabila individu memiliki kepercayaan diri yang rendah maka akan mudah terpengaruh dengan apa yang disampaikan oleh orang lain, sebaliknya individu dengan tingkat kepercayaan diri tinggi biasanya memandang positif kemampuan yang dimiliki dan juga memahami bahwa setiap individu memiliki kelemahan termasuk dirinya, sehingga individu akan lebih banyak memiliki keberaniaan dalam menghadapi permasalahan khususnya berkaitan dengan interaksi Sejalan dengan penelitian (Dyas et al. , 2. mengatakan Individu yang memiliki kepercayaan diri biasanya tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dapat menerima apa adanya dirinya serta merasa mampu menghadapi segala situasi, sehingga memungkinkan individu untuk berpikir realistis dalam menghadapi persoalan yang tidak sesuai dengan harapannya Adapun faktor yang menyebabkan timbulnya kepercayaan diri pada individu adalah adanya konsep diri, harga diri dan juga pengalaman. Menurut asumsi peneliti berdasarkan pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan apabila individu mengalami perlakuan body shaming tetapi kepercayaan dirinya masih baik, hal itu disebabkan karena individu tersebut memiliki kepercayaan diri yang baik sehingga memiliki sifat toleransi dan kepuasaan terhadap penampilan fisiknya sendiri secara keseluruhan dan mereka memiliki keberanian untuk menghadapi dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Hasil uji statistik spearman rank menunjukkan hasil dengan nilai signifikan sebesar 0,001 . < 0,. yang berarti terdapat hubungan antara body shaming dengan kepercayaan diri di SMP Negeri 6 Banjarmasin. Hubungan diantara kedua variabel ini memiliki arah korelasi negatif dengan kekuatan sedang, nilai koefisien korelasi yaitu - 0,426. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perlakuan body shaming maka semakin rendah tingkat kepercayaan diri. Berlaku sebaliknya semakin rendah perlakuan body shaming maka semakin tinggi tingkat kepercayaan diri. Penelitian yang dilakukan (Alini dan Meisyalla, 2. memaparkan akibat adanya perlakuan body shaming ini akan berdampak pada kehidupan sehari-hari yang dapat dan dapat mengurangi kepercayaan diri mereka didepan orang lain. Apabila seseorang menerima komentar negatif, seperti penghinaan fisik, kepercayaan diri mereka akan berubah menjadi negatif. Kepercayaan diri dapat menjadi negatif karena peristiwa kehidupan yang buruk. Perlakuan body shaming tanpa disadari memiliki dampak negatif yang signifikan bagi korban, termasuk kerugian fisik, stress emosional, gangguan psikologis dan rendahnya kepercayan diri. Perilaku ini juga dapat mengakibatkan dampak negatif baik secara singkat maupun dalam jangka panjang seperti depresi, kecemasan dan penurunan kepercayaan diri. https://journal. id/index. php/jnhs ISSN : 2798-1118 Vol. 4 No. 2 (Desember, 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa body shaming dengan kepercayaan diri memiliki hubungan yang signifikan. body shaming memiliki dampak dalam menurunkan kepercayaan diri remaja, karena tingkat body shaming yang tinggi dapat berpengaruh negatif terhadap kepercayaan diri mereka baik terhadap diri sendiri teman dan lingkungan sekitarnya. Menurut peneliti adapun untuk mempertahankan kepercayaan diri yang positif adalah dengan cara menerima apa adanya diri sendiri tanpa membanding dengan orang lain. Sehingga dengan adanya penerimaan terhadap diri sendiri maka terwujudnya kepuasan terhadap harga diri yang sesungguhnya. Sejalan dengan penelitian (Febiola dan Fitriani, 2. remaja yang merasa puas dengan kualitas dirinya akan cenderung merasa aman, bukan kecewa. Remaja yang percaya diri juga lebih mungkin memiliki citra diri yang positif dan konsep diri yang baik. Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 6 Banjarmasin siswi yang mengalami body shaming ditemukan mengalami rasa malu pada dirinya sendiri. Peneliti juga menemukan bahwa responden yang mengalami body shaming merasa tidak percaya diri dengan dirinya dan sering membandingkan tubuhnya dengan orang lain yang menurutnya ideal. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara body shaming dengan kepercayaan diri pada siswi SMP Negeri 6 Banjarmasin DAFTAR PUSTAKA