Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 1576-1584 Factors Related (Bivariat. to Stigma in Pulmonary TB Patients at Community Health Centers in Gorontalo City Faktor-Faktor yang Berhubungan (Bivaria. dengan Stigma pada Pasien TB Paru di Puskesmas Kota Gorontalo Nur Rasdianah a*. Jihan A. Gubali a. Moh. Reski Manno a. Endah N. Djuwarno a. Ariani H. Hutuba a a Department of pharmacy. Faculty of Sports and Health. Gorontalo State University. Gorontalo. Indonesia. *Corresponding Authors: nur. rasdianah@ung. Abstract Background: Tuberculosis (TB) remains a global health problem that not only affects physical health but also has psychological and social impacts, particularly stigma experienced by patients. Stigma can lead to delayed diagnosis, poor treatment adherence, and reduced social support. However, data on the level and factors associated with stigma among pulmonary TB patients in Gorontalo City are still limited. Objective: This study aimed to determine the level of stigma and the factors associated with stigma among pulmonary TB patients at three community health centers in Gorontalo City. Methods: This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach, conducted from January to April 2026. A total of 107 pulmonary TB patients from the North City. Dungingi, and Central City Community Health Centers were selected using purposive sampling. Data were collected using a validated Van RieAos stigma questionnaire and analyzed using descriptive statistics and bivariate analysis . hi-square tes. Results: The majority of patients . had a moderate level of stigma. Bivariate analysis revealed that only age was significantly associated with the level of stigma . = 0. , while gender, education level, occupation, duration of treatment, and number of household members showed no significant relationship . > 0. Based on the mean score analysis of stigma dimensions, disclosure/fear stigma was the most dominant type experienced by patients . ean = 1. , indicating patientsAo fear of disclosing their disease status due to concerns about rejection, ostracism, and social discrimination. Conclusion: Disclosure/fear stigma was identified as the most dominant type of stigma among pulmonary TB patients, and age was a significant associated Stigma remains a challenge in TB management. Future research is expected to explore other factors such as knowledge about TB, family support, and community awareness, as well as local cultural contexts using qualitative Keywords: Stigma. Tuberculosis. Tuberculosis Patients. Abstrak Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan global yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis dan sosial, terutama stigma yang dialami pasien. Stigma dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, kepatuhan pengobatan yang buruk, dan berkurangnya dukungan sosial. Namun, data mengenai tingkat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan stigma pada pasien TB paru di Kota Gorontalo masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stigma serta faktor-faktor yang berhubungan dengan stigma pada pasien TB paru di tiga puskesmas di Kota Gorontalo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan pada Januari hingga April 2026. Sebanyak 107 pasien TB paru dari Puskesmas Kota Utara. Dungingi, dan Kota Tengah dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner stigma Van Rie yang telah tervalidasi dan dianalisis secara deskriptif serta bivariat . ji chi-squar. Hasil: Sebagian besar pasien . ,3%) berada pada kategori stigma sedang. Analisis bivariat menunjukkan bahwa hanya faktor usia yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat stigma . = 0,. , sedangkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama pengobatan, dan jumlah anggota keluarga tidak menunjukkan hubungan bermakna . > 0,. Berdasarkan analisis nilai mean pada setiap dimensi stigma, stigma disclosure/takut merupakan yang paling dominan dialami pasien . ean = 1,. , yang mengindikasikan ketakutan pasien dalam mengungkapkan status penyakitnya akibat kekhawatiran terhadap penolakan, pengucilan, dan diskriminasi sosial. Kesimpulan: Stigma disclosure/takut teridentifikasi sebagai jenis stigma yang paling dominan dialami pasien TB paru, dan usia merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan. Stigma masih menjadi permasalahan pada tata laksana TB paru. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain seperti pengetahuan tentang TB, dukungan keluarga, dan kesadaran masyarakat, serta konteks budaya lokal melalui pendekatan kualitatif. Kata Kunci: Stigma. Tuberkulosis. Pasien Tuberkulosis. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NC-SA 4. License Article History: Received: 21/03/2026. Revised: 01/06/2026 Accepted: 01/06/2026. Available Online: 04/06/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui droplet saat penderita batuk atau bersin . World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa hampir 1,6 juta orang meninggal akibat TB setiap tahunnya sehingga penyakit ini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global . Pada tahun 2020, sekitar 10 juta orang di dunia menderita TB yang terdiri atas 5,6 juta laki-laki, 3,3 juta perempuan, dan 1,1 juta anak-anak . Indonesia termasuk dalam lima negara dengan beban TB tertinggi di dunia dan menempati urutan ketiga dalam klasifikasi High Burden Countries . Tuberkulosis paru umumnya ditandai dengan batuk berkepanjangan, nyeri dada, sesak napas, demam, penurunan berat badan, dan keringat malam. Selain berdampak pada kesehatan fisik. TB juga memengaruhi kondisi psikologis dan sosial pasien. Tuberkulosis turut memengaruhi kehidupan sosial penderitanya, di mana munculnya stigma di masyarakat dapat berujung pada pengucilan atau isolasi sosial . Stigma terhadap TB merupakan pandangan negatif masyarakat kepada penderita TB yang dapat berkembang menjadi stigma diri. Kondisi ini menyebabkan pasien merasa rendah diri, takut dijauhi, dan enggan mengungkapkan status penyakitnya kepada orang lain . Stigma juga dapat memengaruhi kepatuhan pengobatan, keterlambatan diagnosis, serta terbatasnya dukungan sosial yang diterima pasien. Oleh karena itu, stigma menjadi salah satu hambatan dalam keberhasilan program pengendalian TB. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Gorontalo tahun 2025, jumlah penderita TB tertinggi terdapat di Kecamatan Kota Utara sebanyak 78 orang, diikuti Kecamatan Kota Tengah sebanyak 59 orang, dan Kecamatan Dungingi sebanyak 48 orang. Tingginya jumlah kasus tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap stigma yang dialami pasien TB. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat stigma serta faktor-faktor yang berhubungan dengan stigma pada pasien TB paru di Puskesmas Kota Utara. Dungingi, dan Kota Tengah Kota Gorontalo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan intervensi untuk menurunkan stigma, meningkatkan kepatuhan pengobatan, serta mendukung keberhasilan program pengendalian TB. Metode Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kota Utara. Dungingi, dan Kota Tengah Kota Gorontalo pada bulan Januari-April 2026. Lokasi ini dipilih karena mewakili wilayah urban, peri-urban, dan suburban serta memiliki jumlah kasus TB tertinggi berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Gorontalo tahun 2025. Data tahun 2025 merupakan data terbaru yang tersedia pada saat proposal penelitian disusun, dan tidak terdapat intervensi atau kebijakan perubahan signifikan dalam pengendalian TB yang dapat memengaruhi prevalensi stigma selama periode penelitian berlangsung. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien TB paru yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Kota Utara. Kecamatan Dungingi, dan Kota Tengah pada periode Januari-September 2025. Jumlah populasi pasien TB paru di wilayah Puskesmas Kota Utara. Puskesmas Dungingi dan Puskesmas Kota Tengah sebanyak 147 orang. Sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling dipilih Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. karena pengambilan sampel dilakukan dengan kriteria tertentu yaitu pasien TB paru yang sedang aktif menjalani pengobatan, sehingga tidak memungkinkan dilakukan secara acak. Adapun kriteria inklusi meliputi : pasien TB Paru usia produktif (Ou18 tahu. , pasien TB Paru yang sedang menjalani pengobatan, dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang tidak bisa membaca dan menulis. Instrumen dan Pengumpulan Data Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Van RieAos. Kuesioner yang digunakan telah diuji validitas dan reliabilitas oleh Fuady dkk 2023 terdiri dari 11 item pernyataan yang mengukur tiga dimensi stigma, yaitu disclosure fear, isolation, dan guilty. Setiap item dinilai menggunakan skala Likert dengan skor 0 . angat tidak setuj. , 1 . idak setuj. , 2 . , dan 3 . angat setuj. , sehingga total skor berkisar antara 0Ae33 . Kategorisasi stigma ditentukan berdasarkan rumus interval kelas, yaitu skor maksimum dikurangi skor minimum dibagi jumlah kategori . Ae. y 3 = 11, sehingga diperoleh kategori rendah . Ae. , sedang . Ae. , dan tinggi . Ae. Selain itu, data karakteristik responden seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, lama menderita TB, lama menjalani pengobatan, dan jumlah anggota keluarga serumah turut dikumpulkan. Analisis Data Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi karakteristik responden dan tingkat stigma pasien TB paru. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan tingkat stigma. Etika Penelitian Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Penelitian Kesehatan STIKES Guna Bangsa Yogyakarta dengan nomor surat etik 011/PRO/KEPK/IV/2026. Selain itu, penelitian juga telah memperoleh izin dari instansi terkait dan dilaksanakan sesuai dengan prinsip etik penelitian. Hasil dan Diskusi Karakteristik Responden Table 1. Karakteristik Responden Pasien Tuberkulosis Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Umur Ou60 Tingkat Pendidikan SMP SMA Tidak Sekolah Pekerjaan Tidak Bekerja Pelajar/Mahasiswa Pedagang/Wiraswasta Pegawai Negeri/ASN Lama Menjalani Pengobatan <1 Bulan 1-3 Bulan 4-6 Bulan >6 Bulan Jumlah Keluarga Serumah 1-3 Orang 4-5 Orang Ou6 Orang Pasien . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Jenis Kelamin Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 66 orang . ,7%). Perbedaan kejadian tuberkulosis antara laki-laki dan perempuan dapat dipengaruhi oleh faktor biologis dan perilaku. Secara biologis, hormon estrogen pada perempuan berperan dalam meningkatkan respons imun, sedangkan testosteron pada laki-laki memiliki efek perlindungan yang lebih rendah terhadap infeksi . Selain itu, laki-laki cenderung memiliki faktor risiko lebih tinggi seperti merokok, konsumsi alkohol, dan paparan lingkungan kerja yang berisiko. Temuan ini sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2023 yang menunjukkan bahwa kasus tuberkulosis lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Usia Sebagian besar responden berada pada kelompok usia 18Ae44 tahun sebanyak 47 orang . ,9%), sedangkan kelompok usia Ou60 tahun merupakan yang paling sedikit sebanyak 24 orang . ,4%). Tuberkulosis lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif karena tingginya mobilitas dan aktivitas sosial yang meningkatkan risiko paparan infeksi. Selain itu, pada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh yang menyebabkan individu lebih rentan terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis . Pendidikan Pada tingkat pendidikan, mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA sebanyak 50 orang . ,7%), sedangkan yang paling sedikit adalah S2 sebanyak 1 orang . ,0%). Tingkat pendidikan terbukti menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kejadian tuberkulosis. Seseorang dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyerap informasi seputar kesehatan serta lebih proaktif dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan penyakit . Meskipun teori menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah risiko terinfeksi tuberkulosis, namun pendidikan formal hingga jenjang SMA belum cukup memberikan perlindungan yang optimal apabila tidak disertai dengan pemahaman kesehatan yang memadai. Hal ini didukung oleh bukti bahwa kegiatan edukasi kesehatan yang ditujukan untuk mereduksi stigma terhadap TBC terbukti mampu meningkatkan minat masyarakat dalam mengikuti skrining TBC, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi atau yang mengalami gejala . Pekerjaan Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar responden tidak bekerja sebanyak 52 orang . ,6%), sedangkan yang paling sedikit adalah pelajar/mahasiswa sebanyak 4 orang . ,7%). Status sosial ekonomi yang tercermin dari pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Individu yang tidak bekerja cenderung memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan informasi kesehatan sehingga berpotensi meningkatkan risiko penyakit . Lama Menjalani Pengobatan Pada lama menjalani pengobatan, sebagian besar responden berada pada rentang 4Ae6 bulan sebanyak 51 orang . ,7%). Kondisi ini sesuai dengan pedoman pengobatan TB yang menyatakan bahwa terapi standar tuberkulosis berlangsung minimal selama 6 bulan yang terdiri atas fase intensif dan fase lanjutan . Jumlah Anggota Keluarga yang Tinggal Serumah Berdasarkan jumlah anggota keluarga serumah, sebagian besar responden tinggal bersama 1Ae3 orang sebanyak 52 orang . ,6%). Dukungan keluarga dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana, bantuan biaya pengobatan, serta kesediaan anggota keluarga untuk mendampingi pasien saat berobat maupun dalam aktivitas sehari-hari di rumah dan lingkungan sekitar . Stigma Diri Table 2. Tingkat Stigma Pasien TB Tingkat Stigma Tinggi Sedang Rendah Pasien . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 3. Dimensi Stigma Kelompok Stigma Disclosure/ Takut Isolation/ Isolasi Guilty / Rasa Bersalah Mean 1,77 1,24 1,28 Standar Deviasi 0,72 0,70 0,76 Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa dari total 107 responden, sebagian besar memiliki stigma diri kategori sedang yaitu sebanyak 57 orang . ,3%). Kondisi ini menggambarkan bahwa pasien masih merasakan adanya persepsi negatif terhadap dirinya akibat penyakit yang diderita, meskipun sebagian dari mereka masih mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Berdasarkan hasil analisis nilai mean pada setiap kelompok stigma, diperoleh bahwa kelompok disclosure/takut memiliki nilai mean tertinggi dibandingkan kelompok isolation/isolasi dan guilty/rasa bersalah. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk stigma yang paling dominan dialami pasien TB adalah ketakutan dalam mengungkapkan status penyakitnya kepada orang lain. Ketakutan tersebut dapat dipengaruhi oleh adanya kekhawatiran pasien terhadap penolakan, pengucilan sosial, maupun perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar. Stigma terhadap TB dapat muncul dalam berbagai bentuk seperti pengucilan sosial, pembatasan akses pendidikan atau pekerjaan, hingga perlakuan diskriminatif oleh tenaga kesehatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada psikologis dan kesejahteraan pasien, tetapi juga menjadi penghambat dalam diagnosis dini, kepatuhan pengobatan, serta reintegrasi sosial setelah sembuh . Sebagian penderita TB merasa harus menyembunyikan penyakitnya karena takut terhadap Mereka cenderung menutup diri, merasa bersalah sebagai sumber penularan, dan tidak memberitahu orang lain tentang kondisi mereka. Akibatnya, ruang untuk memperoleh dukungan sosial menjadi terbatas karena pasien memilih menghindari interaksi sosial . Di banyak komunitas, penderita TB juga mengalami diskriminasi, pengucilan, dan kehilangan dukungan sosial . Hubungan Karakteristik Responden dengan Stigma Diri Table 4. Hubungan Karakteristik Responden dengan Tingkat Stigma Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia Ou60 Pendidikan SMP SMA Pekerjaan Tidak Bekerja Pelajar/Mahasiswa Pedagang/Wiraswasta Pegawai Negeri/ASN Lama Menjalani Pengobatan <1 Bulan 1-3 Bulan 4-6 Bulan >6 Bulan Jumlah Keluarga Serumah 1-3 Orang 4-5 Orang Ou6 Orang Rendah n (%) Tingkat Stigma Sedang n (%) Tinggi n (%) Total p-value 18 . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hubungan Jenis Kelamin dengan Tingkat Stigma Berdasarkan Tabel 3, sebagian besar responden, baik laki-laki maupun perempuan, berada pada kategori stigma sedang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,447 . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat stigma pada pasien TB paru. Secara deskriptif, dominasi stigma sedang pada kedua kelompok menunjukkan bahwa persepsi stigma terhadap TB cenderung dialami secara merata tanpa memandang jenis kelamin. Tidak ditemukannya hubungan ini dapat disebabkan oleh faktor lain yang lebih berpengaruh, seperti kurangnya pengetahuan, ketakutan terhadap penularan, serta persepsi negatif masyarakat terhadap penderita TB. Stigma pada pasien TB lebih dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, persepsi, kondisi psikologis, dan faktor sosial budaya dibandingkan karakteristik jenis kelamin . Hubungan Usia dengan Tingkat Stigma Pada kelompok usia dewasa . Ae44 tahu. dan pra lansia . Ae59 tahu. , sebagian besar responden berada pada kategori stigma sedang. Sementara itu, pada kelompok lansia (Ou60 tahu. , distribusi stigma cenderung merata antara kategori rendah dan sedang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value = 0,000 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat Secara deskriptif, kelompok usia dewasa dan pra lansia didominasi oleh stigma sedang, sedangkan pada kelompok lansia distribusi stigma cenderung lebih merata antara kategori rendah dan sedang. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pola stigma pada setiap kelompok usia. Hubungan antara usia dan tingkat stigma dapat dipengaruhi oleh pengalaman, kematangan emosional, serta tingkat pemahaman individu terhadap penyakit. Usia produktif memiliki tingkat mobilitas yang lebih tinggi, interaksi sosial yang lebih luas, serta paparan terhadap lingkungan yang lebih banyak. Dari interaksi sosial inilah yang dapat memperbesar risiko penularan penyakit termasuk TB paru, karena bakteri TB dapat dengan mudah menyebar melalui droplet saat seseorang batuk atau bersin . Hubungan Pendidikan dengan Tingkat Stigma Sebagian besar responden pada setiap tingkat pendidikan didominasi oleh kategori stigma sedang, sedangkan pada tingkat pendidikan S2 seluruh responden berada pada kategori stigma rendah. Hasil uji chisquare menunjukkan nilai p-value = 0,218 . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat stigma. Secara deskriptif, sebagian besar responden pada setiap tingkat pendidikan, baik SD. SMP. SMA, maupun S1, didominasi oleh kategori stigma Pada tingkat pendidikan S2, seluruh responden berada pada kategori stigma rendah, namun jumlahnya sangat sedikit sehingga belum dapat mewakili kondisi secara umum. Tidak ditemukannya hubungan antara tingkat pendidikan dan stigma menunjukkan bahwa stigma terhadap TB tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh faktor lain seperti pengetahuan tentang penyakit. Individu dengan pendidikan tinggi belum tentu memiliki pemahaman yang baik mengenai TB apabila tidak didukung oleh informasi kesehatan yang memadai. Hal ini didukung oleh bukti bahwa upaya pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan mengenai TBC dinilai efektif dalam menurunkan stigma sekaligus mendorong masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis. Keberhasilan strategi edukasi dan kampanye kesadaran ini tidak terlepas dari sinergi yang terjalin antara institusi akademik, pemerintah. LSM, dan komunitas setempat. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan program pendidikan kesehatan secara menyeluruh dan terstruktur dapat mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam skrining TBC. Hubungan Pekerjaan dengan Tingkat Stigma Sebagian besar responden pada setiap kelompok pekerjaan didominasi oleh kategori stigma sedang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,554 . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan tingkat stigma. Secara deskriptif, sebagian besar responden pada berbagai kelompok pekerjaan, baik tidak bekerja, pelajar/mahasiswa, pedagang/wiraswasta, maupun pegawai negeri/ASN, didominasi oleh kategori stigma sedang. Hal ini menunjukkan bahwa stigma terhadap TB cenderung dialami secara merata pada berbagai jenis pekerjaan. Tidak ditemukannya hubungan antara pekerjaan dan tingkat stigma menunjukkan bahwa stigma lebih dipengaruhi oleh persepsi sosial, pengetahuan tentang penyakit, serta sikap masyarakat terhadap TB dibandingkan dengan status pekerjaan individu. Lingkungan sosial juga berperan penting dalam membentuk stigma, sehingga individu dari berbagai jenis pekerjaan tetap berpotensi mengalami stigma yang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Penderita TB masih sering mengalami diskriminasi dan pengucilan yang berdampak pada menurunnya motivasi dalam menjalani pengobatan . Hubungan Lama Menjalani Pengobatan dengan Tingkat Stigma Sebagian besar responden pada setiap kategori lama menjalani pengobatan didominasi oleh kategori stigma sedang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,721 . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama menjalani pengobatan tuberkulosis dengan tingkat stigma. Secara deskriptif, sebagian besar responden pada setiap kategori lama pengobatan didominasi oleh stigma sedang. Hal ini menunjukkan bahwa stigma terhadap TB cenderung dialami secara relatif konsisten, tanpa dipengaruhi oleh lamanya responden menjalani pengobatan. Tidak ditemukannya hubungan antara lama pengobatan dan tingkat stigma menunjukkan bahwa faktor lain lebih berperan dalam membentuk stigma, seperti pengetahuan, persepsi masyarakat, dan dukungan sosial, sehingga lama pengobatan bukan merupakan faktor utama dalam menentukan tingkat stigma pada pasien TB. Durasi pengobatan TB Paru yang panjang disertai kerumitan regimen terapeutik dan berbagai komplikasi yang menyertainya berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan bagi penderita. Konsumsi obat dalam jangka waktu yang lama kerap memunculkan keluhan fisik seperti pusing, gangguan nafsu makan, dan insomnia, sekaligus menimbulkan kecemasan yang menetap. Lebih jauh, penderita TB Paru sering mengalami perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, rendah diri, serta kecenderungan untuk mengisolasi diri dari lingkungan sosial akibat kekhawatiran akan penularan penyakit kepada orang-orang di sekitarnya . Hubungan Jumlah Anggota Keluarga Serumah dengan Tingkat Stigma Sebagian besar responden pada setiap kategori jumlah anggota keluarga didominasi oleh kategori stigma sedang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,182 . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah anggota keluarga yang tinggal serumah dengan tingkat stigma. Secara deskriptif, sebagian besar responden pada setiap kategori jumlah anggota keluarga, baik kecil, sedang, maupun besar, didominasi oleh kategori stigma sedang. Hal ini menunjukkan bahwa stigma terhadap TB cenderung dialami secara relatif merata, tanpa dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga yang tinggal serumah. Tidak ditemukannya hubungan antara jumlah anggota keluarga dan tingkat stigma menunjukkan bahwa faktor lain lebih berperan dalam membentuk stigma. Selain itu, banyaknya anggota keluarga tidak selalu mencerminkan adanya dukungan sosial yang baik. Kualitas interaksi serta pemahaman keluarga terhadap penyakit TB justru lebih menentukan dalam memengaruhi stigma yang dialami pasien. Keluarga berperan sebagai support system yang penting dalam mendukung pasien dan memberikan edukasi terkait TB, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan dan mengurangi stigma . Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu analisis yang digunakan hanya bivariat yang bersifat eksploratif, sehingga belum dapat mengidentifikasi faktor yang secara independen berhubungan dengan stigma setelah mengendalikan variabel lain. Analisis multivariat tidak dilakukan karena keterbatasan jumlah sampel, sehingga hasil penelitian ini lebih bersifat eksploratif dan perlu dikonfirmasi oleh penelitian Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pasien TB paru berada pada tingkat stigma sedang. Hasil analisis menunjukkan bahwa disclosure atau takut terhadap stigma diidentifikasi sebagai jenis stigma yang paling dominan dialami oleh pasien dan usia memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat stigma pada pasien TB paru . < 0,. , di mana kelompok usia dewasa dan pra lansia lebih banyak mengalami stigma sedang dibandingkan kelompok lansia. Sementara itu, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menderita TB, lama menjalani pengobatan, dan jumlah anggota keluarga yang tinggal serumah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat stigma . > 0,. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji lebih dalam konteks budaya lokal Gorontalo yang dapat memengaruhi stigma pada pasien TB paru, seperti peran sistem kekerabatan . , norma agama, serta persepsi masyarakat setempat Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. terhadap penyakit menular. Faktor-faktor budaya lokal tersebut berpotensi menjadi faktor protektif maupun pemicu stigma yang perlu dieksplorasi melalui pendekatan kualitatif. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan bahwa tidak terdapat konflik kepentingan dalam bentuk apa pun, baik yang bersifat finansial maupun nonfinansial. Ucapan Terima Kasih Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada staf Puskesmas Kota Utara. Dungingi, dan Kota Tengah atas bantuan yang diberikan, serta kepada seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. References . World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis module 3: Rapid diagnostics for tuberculosis detection. Geneva: World Health Organization. World Health Organization. Global tuberculosis report 2022. Geneva: World Health Organization. Sunarmi, & Kurniawaty. Hubungan karakteristik pasien TB paru dengan kejadian tuberkulosis. Jurnal Aisyiyah Medika, 7. , 182Ae187. Available At: https://doi. org/10. 36729/jam. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan program penanggulangan tuberkulosis tahun Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Husnaniyah. Lukman. , & Susanti. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga diri . elf estee. penderita tuberkulosis paru di wilayah eks Kawedanan Indramayu. The Indonesian Journal of Health Science, 9. Available At: https://doi. org/10. 32528/the. Gauba. Tuberculosis related stigma and discrimination in India. International Journal of Advanced Research, 12. , 666Ae669. Available At: https://doi. org/10. 21474/IJAR01/18436 Fuady. Arifin. Yunita. Rauf. Fitriangga. Sugiharto. Yani. Nasution. Putra, . Mansyur. , & Wingfield. Stigma towards people with tuberculosis: A crosscultural adaptation and validation of a scale in Indonesia. BMC Psychology, 11. , 1Ae11. Andayani. Prediksi kejadian penyakit tuberkulosis paru berdasarkan jenis kelamin. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 8. , 135Ae140. https://doi. org/ 10. 36085/jkmu. Pangaribuan. Perwitasari. Tejayanti. , & Lolong. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tuberkulosis pada umur 15 tahun ke atas di Indonesia (Analisis data survei prevalensi tuberkulosis di Indonesia 2013Ae2. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 22, 10Ae17. Konde. Asrifuddin. , & Lang. Hubungan antara umur, status gizi dan kepadatan hunian dengan tuberkulosis paru di Puskesmas Tuminting Kota Manado. Jurnal Kesmas, 9. , 106Ae113. Lestari. Kusumaningtiyas. , & Priastana. Hubungan dukungan sosial keluarga dengan motivasi penderita dalam mencegah penularan TB paru di Kecamatan Negara. Pustaka