Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Original Article The Effect Of Boiled Bitter Melon Fruit On Reducing Blood Sugar Levels In Type 2 Diabetes Mellitus Patients Pengaruh Rebusan Buah Pare Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Maharani Eka Putri1. Andre Utama Saputra2. Erik Rosadi3. Sasono Mardiono4 1,2,3,4 S1 Keperawatan. Fakultas Kebidanan dan Keperawatan. Universitas Kader Bangsa Palembang *Corresponding Author: Andre Utama Saputra S1 Keperawatan. Kebidanan dan Keperawatan. Universitas Kader Bangsa Palembang Email: 07@gmail. Keyword: Bitter Melon. Diabetes Mellitus Kata Kunci: Buah Pare. Diabetes Melitus A The Author. 2025 Abstract Diabetes Mellitus is where the glucose level experiences an abnormal increase reaching above Ou 200 mg/dl and there can be a risk of complications up to death. The aim of the study was to examine the effect of consuming bitter melon stew on lowering blood glucose for people with Type 2 Diabetes. In this analysis, a Quasy Experimental design was used using the Two Group method, involving an intervention group and a control group, and measurements were taken before (Pre-Tes. and after (Post-Tes. the intervention. The total number of samples in this study was 44 respondents. This study applies the Purposive Sampling technique in sampling selection and was carried out in the period 2 to 17 July This research analyzed data using the Paired T-Test and the Independent Samples TTest. The impact of this study indicates that the p value = 0. 000 < 0. 05, which is intended to explain the existence of a substantial effect on blood glucose in people with Type II Diabetes after consuming bitter melon boiled fruit. Abstrak Article Info: Received : October 13, 2024 Revised : March 6, 2025 Accepted : April 13, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Diabetes Melitus merupakan dimana keadaan glukosa mengalami peningkatan yang abnormal dengan capaian diatas Ou 200 mg/dl dan dapat beresiko terjadinya komplikasi sampai meninggal. Tujuan studi guna menelaah efek konsumsi rebusan buah pare tentang menurunkan glukosa darah bagi pengidap dengan Diabetes Tipe 2. Pada analisis ini digunakan desain Quasy Eksperiment memakai metode Two Group, yang melibatkan kelompok intervensi dan kelompok kontrol, serta diadakan pengukuran sebelum (PreTes. dan sesudah (Post-Tes. Jumlah total sampel dalam studi ini adalah 44 Studi ini menerapkan teknik Purposive Sampling pada pemilihan sampling serta dilaksanakan pada periode 2 hingga 17 Juli 2024. Penelitian ini menganalisis data menggunakan Uji Paired T-Test dan Uji Independent Samples T-Test. Dampak studi ini menandakan kalau nilai p = 0. 000 < 0. 05, dimaksud menjelaskan eksistensi efek substansial mengenai glukosa darah pada pengidap Diabetes Tipe II setelah mengonsumsi rebusan buah pare. PENDAHULUAN Menurut WHO . , diabetes melitus ialah satu di antara gangguan kesehatan bukan penyakit menular namun kondisi ini terjadi hampr di seluruh dunia. Diabetes melitus muncul lantaran reaksi pankreas yang kurang kompeten mengeluarkan insulin dalam jumlah yang memadai didalam badan 1. Menurut ADA . pada tahun 2019 pravelensi diabetes di Amerika Serikat mencapai 37,3 juta orang. Sekitar 1,9 juta termasuk sekitar 244. 000 anak-anak dan Setiap tahunnya, sekitar 1,4 juta orang Amerika mengalami diabetes2. Pada tahun 2019, penyakit diabetes merupakan penyebab kematian utama ke-7 di Amerika Serikat 3. Berdasarkan data Regional Asia Tenggara. Indonesia berada pada peringkat ke-3 degan prevelansi diabetes melitus sebesar 11,3%. Sepanjang tahun 2019. Indonesia menjadi negara Asia yang masuk ke dalam 10 negara dengan pengidap diabetes terbesar dengan jumlah mencapai 10,7 dengan usia rata-rata 65-79 tahun 4. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Berdasakan statistik Dinas Kesehatan Sumatera Selatan pada Tahun 2022, jumlah pengidap diabetes melitus di Sumatera Selatan mencapau 434,461 jiwa dan mengalami peningkatan sebanyak 279,345 jiwa. Jumlah penderita diabetes melitus meningkat setiap tahunnya mulai dari tahun 2020 sampai 2022. Hal ini menunjukkan bahwa kasus diabetes di Kota Palembang hampir selalu meningkat setiap tahun 17. Prevalansi pengidap diabetes melitus di puskesmas 23 Ilir Kota Palembang sejak bulan Januari 2024 terdapat 65 penderita diabetes melitus, yang meningkat menjadi 80 penderita pada Februari 2024 18. Glukosa dalam darah dapat dikendalikan lewat transformasi kebiasaan hidup yang lebih bugar dan penggunaan obat anti hiperligkemia oral 5. Metformin menjadi pilihan pertama dalam pengobatan jika perubahan gaya hidup tidak sehat. Penyuntikan insulin dilakukan ketika segala obat-obatan oral tidak dapat mengontrol hiperlikemia 6. kadar gula darah adalah menggunakan obat herbal/bahan alami seperti jahe, kunyit, serta buah pare. Buah pare (Momordica charanti. termasuk tanaman pengobatan tradisional karena efektif menurunkan glukosa darah. Kandungan buah pare seperti charatin, polipeptida, insulin, serta lektin yang terbukti dapat menurunkan glukosa darah 7. Berdasarkan temuan studi yang diadakan Rahmasari Ikrima . memperoleh nilai P sebesar 0,026. Usia 40 tahun dianggap berisiko tinggi terkena DM karena ketidaksediaan gula darh dan langkah menua, yang disebabkan oleh penurunan kapasitas sel beta pankreas dalam memproduksi insulin Sejalan pendapat penelitian Rahmasari Ikrima . , diperoleh nilai p sebesar 0,026. Usia 40 tahun ke atas dikategorikan sebagai kelompok berisiko tinggi terkena Diabetes Melitus (DM) ketidaksediaan gula darh dan langkah menua, yang berhubungan dengan pengurangan kegunaan sel beta pankreas dalam mengola insulin 8. Penelitian Susianti . menunjukkan bahwa nilai tengah glukosa darah sewaktu responden selepas intervensi adalah 170,940 di kelompok eksperimen dan 177,487 di kelompok kontrol, melalui selisih mean sebesar 6,54. Nilai p sebesar 0,013 terhadap alpha 5% mengindikasikan eksistensi efek penting terhadap glukosa darah pengidap diabetes setelah pemberian jus buah pare pada kelompok eksperimen 9. Selanjutnya, penulis tertarik untuk meneliti dengan judul "Pengaruh Rebusan Buah Pare terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang Tahun 2024. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan quasieksperimen, menerapkan metode twogroup pre-test dan post-test. Desain ini melibatkan dua kelompok, yakni kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Studi ini melibatkan 44 responden yang didistribusi menjadi dua kelompok, yaitu 22 responden dalam Kelompok Intervensi dan 22 responden dalam Kelompok Kontrol. Teknik purposive sampling digunakan dalam proses pengambilan Studi ini menetapkan ketentuan inklusi sebagai berikut: . Responden telah didiagnosis dengan Diabetes Melitus Tipe 2. Berusia antara 20 hingga 79 . Memiliki kelebihan berat badan . Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 selama minimal 1 bulan hingga 5 Sementara itu, kriteria eksklusi di studi ini meliputi: . Responden yang menderita Diabetes Melitus Tipe 1. Wanita yang sedang hamil atau menyusui. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Responden yang sedang perawatan di rumah sakit. univariat dilakukan menggunakan tabel mendeskripsikan ciri-ciri data. Disisi lain. Independent Samples T-Test, yakni metode statistik parametrik yang digunakan untuk membandingkan perbedaan antara dua Sebelum menyelesaikan uji statistik, peneliti pada awalnya melaksanakan uji normalitas untuk menegaskan kalau data berdistribusi normal. Setelah itu, uji Dependent T-Test diterapkan dengan derajat kepercayaan = 0,05 guna menganalisis ketidaksamaan glukosa darah sebelum dan sesudah Studi ini terlaksana di Kota Palembang, secarakhusus di Puskesmas 23 Ilir, pada tanggal 2 hingga 17 Juli 2024. Intervensi yang diberikan berupa konsumsi rebusan buah pare sebanyak dua kali per minggu selama dua minggu. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi yang mencatat informasi seperti nama, usia, jenis kelamin, lama menderita diabetes, serta hasil pre-test dan post-test kadar gula darah responden. Glukosa Darah Sewaktu (GDS) diklasifikasikan sebagai normal kalau <200 mg/dl serta tinggi kalau Ou200 mg/dl. HASIL PENELITIAN Pengolahan data dalam studi ini meliputi Analisa Univariat analisis univariat dan bivariat. Analisis Tabel 1 Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia Total Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Lama Menderita DM 2 bulan Ae 1 tahun 1,5 Tahun Ae 4 Tahun Total Tabel 1. Dapat dilihat bahwa kelompok intervensi terdiri dari 22 responden, dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan . dan laki-laki . Sementara itu, kelompok kontrol juga memiliki 22 responden dengan distribusi jenis kelamin yang sama, yaitu 14 perempuan dan 8 laki-laki. Hal ini menandakan kalau rasio jenis kelamin mengenai kedua kelompok seimbang. Kriteria usia dibagi menjadi dua kategori, yaitu usia 28-50 tahun, yang mencakup 16 Kelompok Intervensi (Rebusan Buah Par. Kelompok Kontrol 31,60% 68,40% 36,40% 63,4% 31,70% 63,30% 36,40% 63,60% 40,80% 59,20% responden dari total 44 orang, dan usia 5170 tahun, yang terdiri dari 28 responden. Sementara itu, berdasarkan kriteria lama menderita Diabetes Melitus (DM), di responden yang telah menderita DM selama 2 bulan hingga 1 tahun, serta 13 responden yang telah mengidap DM selama 1,5 hingga 4 tahun. Sedangkan dikelompok kontrol, ditemukan 7 responden dengan lama menderita 2 bulan hingga 1 tahun, serta 15 responden dengan lama mengidap 1,5 hingga 4 tahun. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Tabel 2 Nilai Rata-rata Sebelum dan Sesudah diberikan Rebusan Buah Pare Kelompok Pre Intervensi Kontrol Mean Min Max 42,78 Post 30,46 Pre 41,42 Post 39,72 Berdasarkan hasil pengumpulan data, diperoleh bahwa rata-rata skor . glukosa darah Pre-Test pada kelompok intervensi yakni 275,4, melaluui rentang nilai minimal 203 dan maksimal 367. Lalu, dikelompok kontrol, nilai rata-rata . glukosa darah Pre-Test yakni 269,8, dengan nilai minimal 214 dan maksimal Untuk hasil Post-Test, nilai tengah . glukosa darah dikelompok intervensi menghadapi penyusutan menjadi 186, melalui rentang nilai minimal 126 dan Di sisi lain, kelompok kontrol memiliki nilai tengah . glukosa darah Post-Test yakni 224,3, dengan nilai minimal 167 dan maksimal Tabel 3 Uji Normalitas Kelompok Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol Berdasarkan Tabel 3, hasil uji normalitas menunjukkan bahwa benar kelompok intervensi begitu pula kelompok kontrol mendapatkan distribusi data yang normal. Pada kelompok intervensi, nilai krusial Pre-Test adalah 0. 258, sedangkan PostTest yakni 0. Sementara itu, pada kelompok kontrol, nilai krusial Pre-Test Sig. Pre Post 105, dan Post-Test yakni 0. Sebab semua nilai krusial lebih dari 0. diperoleh kesimpulan kalau data pada kedua kelompok terdistribusi secara Analisa Bivariat Tabel 4 Hasil Uji Paired T-Test Kategori Intervensi Kontrol GDS Pre Post Mean Mean 275,41 42,78 186,06 30,46 269,82 41,42 224,32 39,72 Berdasarkan Tabel 5. 4 diatas hasil uji Paired T-Test dikedua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol, menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 < 0,05. Rata-rata glukosa darah pada Selisih Mean P Value 89,31 45,50 0,000 0,000 kelompok intervensi adalah 275,41, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 269,82. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Perbedaan penyusutan glukosa darah yang diperoleh yakni 89,31 dikelompok intervensi dan 45,50 dikelompok kontrol. Hasil pemberian rebusan buah pare berperan untuk penurunan glukosa darah pada penderita Diabetes Melitus Tipe II. Tabel 5 Hasil Uji Independent Samples T-Test Kategori Mean Beda Mean P Value Intervensi Kontrol 186,06 224,32 30,46 39,72 34,353 0,001 Tabel 5 menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam penurunan rata-rata glukosa darah sewaktu dikelompok intervensi dan kelompok kontrol, melalui P-Value = 0,001 < 0,05. Hal ini menegaskan mendapatkan efek di perubahan glukosa PEMBAHASAN Kebanyakan responden berusia 28-50 tahun, dengan jumlah 16 orang, sedangkan 28 responden berada dalam rentang usia 51-70 tahun. Pada kelompok intervensi, sebanyak 9 responden telah menderita diabetes mellitus selama 2 bulan hingga 1 tahun, mengidapnya selama 1,5 tahun hingga 4 Di sisi lain, dikelompok kontrol, diperoleh 7 responden yang mengidap diabetes selama 2 bulan hingga 1 tahun, serta 15 responden yang sudah mengidap selama 1,5 hingga 4 tahun. Sebagian besar responden distudi ini berjenis kelamin perempuan, yakni sebanyak 28 orang, sedangkan 16 responden berjenis kelamin laki-laki. Seluruh glibenclamide, yaitu obat hiperglikemia Hasil penelitian di Puskesmas 23 Ilir menunjukkan kalau masalah Diabetes Melitus lebih banyak diidap pada laki-laki. Temuan ini selaras dengan studi sebelumnya yang dijalankan oleh Pangestu et al. Hasil studi membuktikan kalau pada responden telah menderita Diabetes Melitus (DM) selama 2 bulan hingga 1 tahun, sementara 13 responden lainnya mengalami DM selama 1,5 hingga 4 tahun. Di sisi lain, pada kelompok kontrol, terdapat 7 responden yang menderita DM dalam rentang waktu 2 bulan hingga 1 tahun, sedangkan 15 responden lainnya telah mengalaminya selama 1,5 hingga 4 Pencapaian ini selaras dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Kriswiastiny . menegaskan kalau durasi seseorang Diabetes Melitus (DM) menunjukkan rentang waktu sejak diagnosis pertama kali ditegakkan. Seiring bertambahnya waktu, risiko terjadinya berbagai komplikasi akibat DM juga Berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh, didapatkan ketidaksamaan di kelompok intervensi dan kelompok kontrol, di mana kelompok intervensi memiliki rata-rata 89,31, akan tetapi dikelompok kontrol memiliki rata-rata 45,50. Hasil studi ini sama dengan studi yang dilakukan oleh Susianti . mengungkapkan bahwa konsumsi buah pare mendapati dampak kursial terhadap penurunan glukosa darah, dengan nilai P-Value sebesar 0,00. Selain itu, rata-rata kadar gula darah sebelum mengonsumsi jus buah pare tercatat https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 188,267, yang kemudian mengalami penurunan menjadi 170,940 setelah Berdasarkan analisis bivariat dalam penelitian ini, terdapat transformasi glukosa darah sebelum dan sesudah pemberian air rebusan buah pare disetiap Rata-rata perubahan glukosa darah dikelompok intervensi adalah 89,31, sementara itu dikelompok kontrol sebesar 45,50. Selanjutnya, untuk mengukur kuarsial statistik melalui ketidaksamaan antara pengukuran sebelum dan sesudah intervensi, diterapkan uji Paired T-Test Hasil uji dikelompok intervensi menunjukkan transformasi yang sangat kursial dengan nilai p < 0,000. Hasil penelitian ini juga mendukung temuan yang diperoleh dalam studi Farhan . uji statistik mendapatkan nilai p = 0,000 dengan tingkat signifikansi p < 0,05, yang mengindikasikan kalau konsumsi jus buah pare mendapati efek signifikan terhadap glukosa darah pada pengidap Diabetes Melitus Tipe II 12. Hasibuan . menemukan bahwa ratarata kadar gula darah setelah intervensi pada kelompok eksperimen adalah 172,14, sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 259,48, dengan selisih rata-rata 87,34. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 pada alpha 5%, yang menegaskan pemberian rebusan buah pare dalam kelompok eksperimen 13. Pada uji Independent Samples T-Test yang dilakukan buat menyandingkan hasil posttest dikelompok intervensi dan kelompok kontrol, ditemukan bahwa penurunan ratarata glukosa darah sewaktu pada kelompok intervensi mencapai 89,31, sementara pada kelompok kontrol hanya sebesar 45,50. Dengan p-value = 0,001 (< 0,. , hasil analisis menunjukkan kalau hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HC. diterima, yang menandakan eksistensi selisih yang kursial trhadap penurunan glukosa antara kedua kelompok. Hasil studi ini konsisten dengan studi yang icapai oleh Susanti et al. uji Independent T-Test menghasilkan p-value = 0,044 (< 0,. , yang memperlihatkan kalau HCA ditolak. Ini membuktikan adanya perbedaan kursial dalam efektivitas penurunan glukosa darah antara mahkota dewa dan pare 9. Menurut Susanti dan Sari . , buah mengurangin glukosa darah karena kandungannya yang kaya akan saponin, flavonoid, dan polifenol, yang berperan sebagai antioksidan kuat. Selain itu, pare juga mengandung glikosida cucurbitacin, berkontribusi terhadap penyusutan kadar gula darah 14. Menurut penelitian Afifah et . , senyawa-senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, dan alkaloid yang terdapat pada buah pare dapat membantu meningkatkan produksi insulin dengan cara merangsang sel-sel pancreas Charantin, yang juga terdapat dalam buah pare, memiliki peran penting dalam merangsang sel beta pankreas untuk menciptakan lebih banyak insulin. Daripada itu, charantin turut menambah sintesis glikogen di hati serta memperbaiki proses penyerapan glukosa di sel hati dan Menurut Rahmasari . , penyeduhan air rebusan buah pare dilakukan dengan merebus 2 buah pare berukuran sedang selama 10 hingga 15 menit hingga air rebusan berubah menjadi warna kuning. Setelah itu, air rebusan pare dapat dikonsumsi secara berkala sebanyak 2 kali seminggu selama 2 minggu 8. Menurut penelitian Farhan . , cara pembuatan rebusan buah pare melibatkan penggunaan 1 buah pare dengan berat sekitar 200 gram. Pare tersebut dibersihkan, dipotong dadu, lalu direbus dengan 200 ml air. Setelah itu, rebusan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 pare tersebut dapat dikonsumsi secara rutin selama 2 minggu12. KESIMPULAN Pemberian air rebusan buah pare berdampak positif selama menurunkan glukosa darah pada pengidap diabetes melitus tipe 2, di mana perubahan glukosa menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan temuan ini, penggunaan air rebusan buah pare dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terapi tambahan untuk mengelola glukosa darah pada pengidap diabetes melitus tipe 2, melalui catatan bahwa studi lebih lanjut diperlukan untuk validasi jangka panjang dan pengendalian variabel yang lebih ketat. SARAN Penelitian ini dituju bisa menjadi tolak ukur atau referensi untuk penelitian selanjutnya yang mengkaji pengaruh pemberian rebusan buah pare terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2. DAFTAR PUSTAKA