RITORNERA: JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA Vol 05. No 01. April 2025. Hal: 60-76 ISSN (Online: 2797-717X) (Print:2797-7. Available at: pspindonesia. Transformasi Kehidupan Rohani Jemaat dalam Era Digital: Implikasi Digital Religion terhadap Pendidikan Agama Kristen Daniel Pesah Purwonugroho Sekolah Tinggi Teologi Baptis. Semarang danielpesahedu@gmail. Abstract This paper is designed to explore the transformation of church spiritual life in the digital era and the implications of digital religion for Christian religious education. Digital religion is a phenomenon that arises due to the rapid development of technology. Digital religion presents religious interactions in the digital space. Digital religion also changes the spiritual life of the congregation where worship celebrations, transmission of religious messages and pastoral care also experience significant changes. Through a descriptive qualitative approach, the author tries to explore how digital religion has implications for Christian religious education including transforming the spiritual life of the congregation. The author argues that churches, church leaders and Christian educators need to prepare themselves to equip congregants and learners about this digital religion phenomenon. This paper offers a practical attitude for church leaders and Christian educators to prepare themselves in facing digital religion so that the spiritual life of the congregation can be optimized properly. Keywords: Transformation. Digital Age. Digital ReligionA Christian Religious Education Abstrak Tulisan ini dirancang untuk menelusuri transformasi kehidupan rohani jemaat dalam era digital dan implikasi digital religion terhadap pendidikan agama Kristen. Digital religion merupakan fenomena yang muncul dikarenakan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Digital religion menghadirkan interaksi-interaksi keagamaan di ruang digital. Digital religion juga mengubah kehidupan rohani jemaat dimana perayaan ibadah, transmisi pesan keagamaan dan pastoral juga mengalami perubahan yang signifikan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mencoba untuk mengeksplor bagaimana digital religion memberikan implikasi terhadap pendidikan agama Kristen termasuk mentransformasikan kehidupan rohani Penulis menyatakan bahwa gereja, pemimpin gereja dan pendidik Kristen perlu mempersiapkan diri untuk memperlengkai jemaat dan peserta didik tentang fenomena digital religion ini. Tulisan ini menawarkan sebuah sikap praktis bagi pemimpin gereja dan pendidik Kristen untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi digital religion agar kehidupan rohani jemaat dapat teroptimalisasi dengan baik. Kata Kunci: Transformasi. Era Digital. Digital ReligionAPendidikan Agama Kristen PENDAHULUAN Transformasi digital telah merubah sendi-sendi kehidupan masyarakat pada umumnya. Transformasi tersebut juga merubah cara manusa berhubungan. Jarak sudah bukan lagi menjadi CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia masalah yang berarti melalui transformasi digital. Ickson. Manda dan Backhouse menjelaskan bahwa fenomena transformasi digital telah melahirkan masyarakat yang saling berhubungan secara global, memfasilitasi peluang dan mengubah standar hidup melalui kemajuan 1 Transformasi digital merubah cara manusia berkomunikasi. Dengan transformasi digital, jarak bukan lagi menjadi masalah dan hal tersebut merubah cara berkomunikasi masyarakat modern. Transformasi digital juga merubah gaya hidup perayaan agama. Aisyah menyatakan bahwa metamorfosis digital dalam perayaan agama telah melahirkan prospek termasuk penjangkauan yang luas, peningkatan efisiensi dalam penyebaran pesan, dan keterkaitan internasional, sementara secara bersamaan menghadirkan hambatan seperti penyalahgunaan dan literasi digital yang tidak memadai. 2 Transformasi digital membawa perkembangan yang masif terhadap transmisi pesan-pesan keagamaan. Penyebaran pesan keagamaan dapat berkembang dengan cepat dikarenakan jarak di dalam transformasi digital bukanlah sebuah masalah. Namun, transformasi digital dalam perayaan agama juga mendatangkan tantangan-tantangan seperti penyalahgunaan konten pesan keagamaan. Tantangan tersebut ialah tanpa literasi digital yang sesuai, masyarakat dapat mengalami salah informasi melalui penyebaran pesan keagamaan yang masif melalui transformasi digital. Transformasi digital mengangkat sebuah kemajuan media sebagai sarana di dalam transformasi Media secara pasti mengubah praktek keagamaan menjadi lebih canggih dari Constantin menjelaskan bahwa mediatisasi mengacu pada pengaruh media pada berbagai aspek kehidupan, termasuk agama. Ini telah mengubah praktik keagamaan dengan memperkenalkan format media baru yang menantang kegiatan komunal tradisional. Pergeseran ini telah menyebabkan rekonfigurasi otoritas agama, dengan influencer mendapatkan keunggulan dibandingkan pemimpin agama konvensional karena jangkauan dan daya tarik mereka yang lebih luas. 3 Transformasi digital membawa peran media menjadi lebih penting. Peran media tersebut mengkonfigurasi ulang praktik keagamaan. Peran media dalam transformasi digital juga membawa perubahan pada otoritas transmisi pesan keagamaan yang semula dibawakan oleh para pemimpin agama. Media dan transformasi digital membuka ruang yang luas bagi para influencer non pemimpin agama untuk dapat mentransmisikan pesan-pesan Hal tersebut dimungkinkan karena para influencer lihai untuk memanfaatkan media di era transformasi digital ini. Dengan demikian, transformasi digital mendatangkan perubahan dalam aspek kehidupan manusia termasuk pada praktik keagamaan dimana pola keagamaan tradisional mulai termodifikasi secara pasti melalui eksplorasi media di era transformasi digital. Transformasi digital mendatangkan sebuah fenomena baru di dalam kehidupan Fenomena tersebut bernama digital religion. Digital religion memberikan sebuah perubahan signifikan di dalam kehidupan beragama termasuk juga dalam keyakinan kristiani. Lebih dari itu, digital religion membawa peluang dan tantangan bagi pendidikan agama More Ickson. Judy Manda, and Backhouse. AuDigital Transformation for Inclusive Growth in South Africa: Challenges and Opportunities in the 4 Th Industrial,Ay in 2nd African Conference on Information Science and Technology. Cape Town. South Africa, 2021, 10Ae11. Siti Aisyah. AuTRANSFORMATION OF ISLAMIC THOUGHT IN THE DIGITAL ERA CHALLENGES AND OPPORTUNITIES,Ay International Journal Multidisciplines and The Development of Science 1, no. : 160Ae169. Natasha Constantin et al. AuRelgious Transformation in Digital Era: Mediatization Impact on Religious Practice,Ay Eduvest 4, no. : 8977Ae8989. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Kristen. Digital religion menjembatani praktik keagamaan secara online. Campbell dan Evolvi menyatakan bahwa Digital religion mengeksplorasi persinggungan antara teknologi digital yang sedang berkembang dan praktik keagamaan, memeriksa bagaimana ruang dan praktik keagamaan online dan offline dijembatani, dicampur, dan dikaburkan dalam budaya digital. Digital religion menggunakan kendaraan teknologi digital untuk melaksanakan praktik keagamaan secara online. Hal ini dapat memberikan peluang yang positif yaitu mempersatukan orang-orang percaya tanpa dibatasi oleh jarak dan ruang. Orang-orang percaya melalui ruang online keagamaan dapat di persatukan secara online dan dengan mudah mendapatkan pesan Namun, hal tersebut juga memberikan tantangan yaitu kaburnya budaya keagamaan yang tidak dapat dikerjakan secara online yaitu kebersamaa dengan saudara Di satu sisi, digital religion kompleksivitas platform yang harus dipersiapkan. Lebih lanjut lagi, digital religion membutuhkan platform online serta media sosial untuk mengembangkan ruang online keagamaan. Maylenova menegaskan bahwa Platform online dan media sosial telah menjadi penting dalam membentuk praktik keagamaan, memungkinkan pelaksanaan ritual, khotbah, dan doa di ruang digital. Hal ini telah membuat pengalaman keagamaan lebih mudah diakses oleh mereka yang mungkin tidak memiliki sarana fisik atau keuangan untuk berpartisipasi dalam pengaturan tradisional. 5 Digital religion menemukan tempat untuk melaksanakan ritus keagamaan dengan platform online serta media sosial. Platform online dan media sosial juga dapat menjadi sarana bagi transmisi pesan keagamaan. Hal tersebut menghadirkan kemudahan akses keagamaan. Namun, hal tersebut mengikis adanya komunikasi natural manusia pada umumnya. Platform online serta media sosial tidak dapat membawa kedalaman komunikasi dan interaksi antar jemaat dimana hal tersebut hanya dapat dicapai secara offline. Selain itu, digital religion mengubah kebiasaan manusia untuk hanya dapat beribadah secara online tanpa ada batasan jarak dan ruang. Nainggolan dan Pabisa menegaskan bahwa pergeseran ke layanan ibadah online telah memperluas akses ke ajaran agama, memungkinkan individu untuk berpartisipasi dari mana saja di dunia. Namun, kenyamanan ini sering kali datang dengan mengorbankan kedalaman spiritual yang berkurang dan hubungan interpersonal yang melemah di dalam jemaat, karena sifat komunal dan sakral dari ibadah tradisional diubah oleh format digital. 6 Digital religion membawa kemudahan akses pesan keagamaan tanpa harus berada di tempat ibadah. Namun, hal ini juga mendatangkan ancaman serius. Kesakralan ibadah akan terdegradasi dengan pasti dan interaksi jemaat satu dengan yang lain juga akan melemah. Oleh karena itu, digital religion merupakan sebuah fenomena yang baru dalam kehidupan keagamaan terutama agama Kristen dimana fenomena tersebut memiliki peluang dan tantangan yang spesifik. Digital religion memodifikasi kehidupan rohani jemaat. Melalui digital religion, kehidupan rohani jemaat tidak hanya terbatas pada ruang fisik gereja saja. Digital religion membawa kehidupan rohani jemaat menjadi terkumpul di ruang digital. Hal ini memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Potgieter menjelaskan bahwa meskipun aksesibilitas Heidi A. Campbell and Giulia Evolvi. AuContextualizing Current Digital Religion Research on Emerging Technologies,Ay Human Behavior and Emerging Technologies, 2020. Farida Maylenova. AuIncorporating Internet Technologies and Artificial Intelligence Robots Into Religious Practices,Ay in Science and Human Phenomena in the Era of Civilizational Macroshift, 2023, 661Ae674. Daniel Maniur Nainggolan and Djonny Pabisa. AuExploring New Dimensions of Christian Faith from Traditionto Digital Transmission in CyberspaceAy 1, no. : 468Ae481. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia meningkat, ibadah digital dapat melemahkan pengalaman spiritual dan melemahkan hubungan interpersonal di dalam jemaat. Kurangnya kehadiran fisik dan kegiatan komunal dapat menyebabkan rasa isolasi dan berkurangnya rasa kebersamaan. 7 Secara praktis, ibadah digital lebih mudah diakses tanpa harus datang ke gereja. Namun, hal ini dapat mengurangi interaksi sesama orang percaya. Interaksi sesama orang percaya yang semestinya dilaksanakan secara langusung menjadi interaksi yang tidak organik. Interaksi orang percaya di dalam ruang digital dapat memunculkan perasaan terisolasi dan mengikis rasa kebersamaan. Selain itu, digital religion mengalami tantangan yang sigifinikan karena adanya kesenjangan teknologi. Amenyedzi menjelaskan bahwa kesenjangan digital tetap menjadi penghalang yang signifikan, karena tidak semua jemaat memiliki akses yang sama ke teknologi atau internet, berpotensi mengecualikan beberapa anggota dari berpartisipasi dalam layanan online. 8 Tidak semua orang Kristen memiliki hak istimewa untuk menikmati kecanggihan teknologi serta akses internet yang memadai. Dengan adanya kesenjangan tersebut, maka penyebaran praktek digital religion hanya terpusat di daerah dengan fasilitas teknologi yang memadai. Selain itu, digital religion menghadirkan sebuah kekhawatiran teologis yang tidak dapat dihindari begitu saja. Kekhawatiran teologis tersebut berupa validitas upacara gereja. Cooper menyatakan bahwa kekhawatiran teologis muncul mengenai validitas upacara gereja yang diberikan secara online, seperti komuni dan baptisan, yang secara tradisional membutuhkan kehadiran fisik dan partisipasi komunal. 9 Upacara gereja seperti baptisan tidak dapat ditransformasikan secara Baptisan air merupakan upacara gereja yang harus dihadiri secara langsung. Di satu sisi, perjamuan kudus juga tidak dapat dilakukan secara online. Dengan demikian, digital religion membawa kekhawatiran teologis mengenai upacara gereja seperti baptisan air dan perjamuan kudus. Maka dari itu, digital religion mengubah pola kehidupan rohani jemaat yang tidak lagi terbatas pada ruang fisik gereja saja. Namun hal tersebut memberikan tantangan tersendiri seperti lemahnya hubungan interpersonal orang percaya, adanya kesenjangan teknologi dan validitas teologis dari upacara gereja yang tidak dapat dikerjakan secara online. Digital religion memunculkan masalah serius di dalam kehidupan orang percaya pada zaman modern ini. Era digital memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan rohani jemaat. Orogun dan Pillay menyatakan bahwa penggunaan teknologi digital memungkinkan jangkauan yang lebih luas dan mudah kepada audiens, pelatihan online, pemberian persembahan online, peningkatan teknologi suara dan pencahayaan, serta iklan yang lebih efektif untuk tugas-tugas Namun, interaksi dengan teknologi digital saja tidak cukup untuk layanan misi yang 10 Meskipun digital religion memberikan penguatan dalam penggunaan teknologi digital, namun digital religion tidak dapat memberikan kecukupan interaksi dalam layanan misi yang efektif. Selain itu, fenomena digital religion memberikan implikasi terhadap pendidikan agama Kristen. Pariama menyatakan bahwa Mengintegrasikan literasi digital ke dalam Pendidikan Agama Kristen secara signifikan meningkatkan keterlibatan siswa, kinerja Annette Potgieter. AuDigitalisation and the Church Ae a Corporeal Understanding of Church and the Influence of Technology,Ay STJ | Stellenbosch Theological Journal 5, no. : 561Ae576. Seyram B. Amenyedzi. AuDisability and Digital Ecclesiology: Towards an Accessible Online Church,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 80, no. Anthony-Paul Cooper et al. AuThe Reconfiguration of Social. Digital and Physical Presence: From Online Church to Church Online,Ay Hts Teologiese Studies-theological Studies 77, no. : 9. Daniel O. Orogun and Jerry Pillay. AuA Historical Survey of the African Neo-PentecostalsAo Response to Digital Transformation,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 79, no. 1 (February 2. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia akademik, dan pengembangan moral dan etika, tetapi tantangan seperti infrastruktur yang tidak memadai, kurangnya pelatihan, dan resistensi terhadap perubahan menghambat 11 Integrasi digital pada pendidikan Kristen membawa tantangan tersendiri yaitu tantangan infrastruktur yang timpang meskipun membawa peningkatan keterlibatan siswa lebih lanjut. Di satu sisi, gereja harus dapat menyambut fenomena tersebut dan meletakannya secara tepat bagi kepentingan umat. Arifianto. Suharijono dan Sujaka menjelaskan bahwa gereja dapat menggunakan media sosial untuk menciptakan ruang suci yang mendorong komunitas dan eksplorasi spiritual. Pendekatan ini membutuhkan kreativitas dan pergeseran paradigma dalam bagaimana spiritualitas dirasakan dan dipraktikkan dalam konteks digital. 12 Gereja tidak dapat lalai dalam merespon fenomena digital religion. Gereja dapat memanfaatkan fenomena tersebut untuk mendorong komunitas jemaat dalam mengekspresikan kehidupan spiritualnya. Hal ini membawa jemaat untuk dapat mengeksplorasi kontemplasi spiritual dan membawanya ke ruang digital untuk dapat memberikan inspirasi bagi orang percaya yang lain dalam ruang digital. Oleh karena itu, era digital memberikan pengaruh pada kehidupan rohani jemaat dan juga pendidikan agama Kristen. Namun, era digital ini mendatangkan tantangan tersendiri dalam gereja dan pendidikan Kristen serta gereja harus merespon fenomena digital religion secara tepat dan cermat. Tulisan ini memiliki tujuan yaitu untuk melakukan analisa terhadap transformati kehidupan rohani jemaat dalam konteks era digital. Selain itu, ada implikasi yang dapat diidentifikasi dalam kaitan tentang digital religion terhadap pendidikan agama Kristen. Lebih lanjut lagi, tulisan ini juga memberikan wawasan teologis dan praktis untuk pendidikan agama Kristen di era digital. Penulis mengingat masalah tersebut serta penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara teknologi dan agama13 serta penjelasan mendalam mengenai pendidikan Kristen14 masih ada gap penelitian dalam mengintegrasikan pendidikan agama Kristen dengan fenomena digital religion. Penulis menyatakan bahwa harus ada langkah strategis yang dilakukan dalam menyambut digital religion dimana langkah tersebut dapat membawa manfaat dan transformasi kehidupan rohani jemaat dalam fenomena digital religion. Tulisan ini memberikan sebuah wawasan baru mengenai bagaimana melihat peluang dan strategi pendidikan agama Kristen melalui fenomena digital religion. METODE PENELITIAN Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data studi pustaka. Penelitian kualitatif deskriptif adalah pendekatan metodologis umum yang digunakan untuk menyelidiki dan memahami pengalaman, persepsi, dan fenomena dengan Leonardo Stevy Pariama. AuIntegrating Digital Literacy in Christian Religious Education: A Study of Student in Politeknik Negeri Ambon,Ay International Education Trend Issues 2, no. : 214Ae224. Yonatan Alex Arifianto. Jirmia Dofi Suharijono, and Adi Sujaka. AuEksplorasi Rohani Sebagai Pertumbuhan Spiritualitas Dalam Ruang Virtual: Misi Kekristenan Di Era Digital,Ay Teleios 4, no. : 64Ae Daniel Pesah Purwonugroho. AuPeran Gereja Dalam Membangun Keimanan Gen Y & Z Pada Era Revolusi Industri 4. 0 & Society 5. 0,Ay Ritornera-Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 3, no. : 182Ae192. Daniel Pesah Purwonugroho. AuGereja Dan Pendidikan Rohani: Kajian Teologis 1 Timotius 4: 7-8 Terhadap Pengembangan Kehidupan Rohani Jemaat,Ay MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen dan Gereja 7, no. : 42Ae60. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kedalaman yang substansif. 15 Studi pustaka, juga dikenal sebagai tinjauan literatur atau kajian pustaka, adalah metode penelitian yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik penelitian tertentu. Proses ini meliputi pencarian, identifikasi, dan evaluasi kritis terhadap literatur yang ada, seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dan sumber-sumber terpercaya lainnya. 16 Penulis akan menggunakan literatur teologis yang terkait dengan digital religion serta literatur akademik tentang pendidikan agama Kristen. Penulis juga menggunakan artikel, jurnal, buku dan materi akademik yang relevan. Penulis melakukan analisa untuk memahami hubungan antara digital religion, pendidikan agama Kristen dan kehidupan rohani jemaat. Kemudian, penulis akan melakukan penarikan kesimpulan secara induktif berdasarkan kajian teori dan data yang HASIL DAN PEMBAHASAN Digital Religion: Sebuah Paradigma Baru dalam Kehidupan Keagamaan Digital religion membentuk sebuah paradigma baru dalam kehidupan keagamaan. Digital religion muncul sebagai dampak dari perkembangan teknologi digital yang semakin Perkembangan teknologi digital tersebut merubah perayaan keagamaan. Perayaan keagamaan yang pada awalnya bersifat offline, dapat tergantikan melalui fenomena digital Digital religion merupakan bentuk ekspresi agama di era kontemporer ini. Campbell menyatakan bahwa digital religion didefinisikan sebagai studi tentang bagaimana media dan teknologi digital mempengaruhi dan membentuk keyakinan, praktik, komunitas, dan ekspresi agama di dunia kontemporer. Ini menyelidiki ruang konseptual, teknologi, dan budaya di mana bidang keagamaan online dan offline berpotongan dan mengintegrasikan. 17 Digital religion mengeksplorasi sebuah kombinasi modern antara agama dan perkembangan teknologi digital. Kombinasi modern ini membentuk praktek dan perayaan keagamaan. Selain itu, kombinasi modern tersebut juga berpengaruh kepada komunitas agama yang juga berdampak pada ekspresi keagamaan dalam era sekarang ini. Ada perpotongan irisan antara keagamaan secara offline serta digital religion. Irisan tersebut yaitu ibadah yang dapat dilaksanakan secara online tanpa mewajibkan kehadiran jemaat secara fisik. Hal tersebut merupakan praktik yang lazim ditemukan di dalam digital religion. Selain itu, praktek-praktek keagamaan di ruang digital dapat didekati melalui media di era digital ini. Mustofa. Mamnunah dan Rospitasari menyatakan bahwa digital religion dan media memiliki kecenderungan simbiosis mutualistik, dengan studi agama mendapatkan manfaat dari pendekatan studi media dan studi media menggunakan teori-teori agama untuk memahami praktik dan ritual spiritual di lingkungan 18 Digital religion merupakan fenomena yang muncul dengan melibatkan ruang media terutama media digital. Media digital mengalami perkembangan pesat di era kontemporer ini. Anugerah Ayu Sendari. AuMengenal Jenis Penelitian Deskriptif Kualitatif Pada Sebuah Tulisan Ilmiah,Ay ilustrasi penelitian . Wahyudin. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka Dan Studi Lapangan,Ay Pre-print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung 6, no. : 1Ae6. Heidi A Campbell. AuLooking Backwards and Forwards at the Study of Digital Religion,Ay Religious Studies Review 50, no. : 83Ae87. Mahmud Yunus Mustofa. Mamnunah, and Marina Rospitasari. Au Book Review: Heidi A Campbell and Ruth Tsuria (Ed. Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media ,Ay Sociology 57, no. : 993Ae994. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Perkembangan tersebut juga membentuk digital religion untuk membawa praktik-praktik keagamaan ke dalam ruang digital. Maka dari itu, digital religion didefinisikan sebagai sebuah fenomena berpindahnya praktek keagamaan ke dalam ruang digital dimana fenomena tersebut muncul akibat dari perkembangan teknologi dan media digital di era kontemporer ini. Digital religion membawa sebuah perubahan pola interaksi keagamaan jemaat. Perubahan tersebut terjadi melalui platform digital. Fenomena digital religion mengikis masalah jarak dan ruang di dalam interaksi keagamaan jemaat. Nenosaban dan Tari menjelaskan bahwa proliferasi komunitas keagamaan online telah memungkinkan orang percaya untuk berpartisipasi dalam diskusi dan praktik keagamaan tanpa kendala lokasi fisik, sehingga memperluas jangkauan ajaran agama. 19 Platform digital memiliki fleksibilitas yang Fleksibilitas tersebut dapat memotong permasalahan jarak dan ruang. Jarak dan ruang di dalam platform digital dapat teratasi karena platform digital hanya membutuhkan ruang maya yang berasal dari internet. Dengan demikian, banyak orang dengan mudah melibatkan diri dan berpartisipasi dalam diskusi dan praktik keagamaan tanpa terhalang oleh jarak dan Selain itu, platform digital berpotensi untuk memunculkan sebuah komunitas baru. Dewantri menyatakan bahwa platform digital memungkinkan munculnya jenis komunitas agama baru yang melampaui keterbatasan geografis. Komunitas virtual ini sering memprioritaskan koneksi interpersonal, menumbuhkan rasa memiliki dan identitas kolektif di antara anggotanya. 20 Platform digital yang menjadi basis dari digital religion ini membawa sebuah rasa yang baru di tengah komunitas virtual. Adanya rasa saling memiliki muncul dikarenakan masing-masing anggota komunitas merasa AudekatAy secara virtual meskipun kenyataannya masing-masing anggota komunitas berada ditempat yang jauh. Meskipun platform digital dapat mempersatukan anggota keagamaan tanpa adanya batasan geografis, namun tetap saja ada ancaman yang muncul melalui platform digital. Ancaman tersebut bernama ancaman post-truth. Purwonugroho menegaskan bahwa platform digital tersebut memberikan sebuah ancaman post-truth yang akan melemahkan kebenaran absolut di antara interaksi keagamaan melalui platform digital. 21 Platform digital mengandung berbagai informasi yang mengalir deras. Tanpa filter dan verifikasi kebenaran yang jelas, maka kebenaran akan dikaburkan oleh derasnya informasi yang terasa AubenarAy namun keliru Tanpa filter dan verifikasi kebenaran, maka informasi keagamaan yang bersifat misleading akan terasa menjadi kebenaran karena derasnya informasi yang serupa. Maka dari itu, fenomena digital religion membawa sebuah perubahan interaksi anggota keagamaan ke dalam sebuah platform digital yang tidak terbatas pada letak geografis. Namun, hal tersebut juga mendatangkan bahaya post-truth yang mengancam posisi kebenaran absolut di antara interaksi keagamaan tersebut. Sakheus Junias Nenosaban and Ezra Tari. AuDigital Literacy Based on Christian Education as a Formation Tool Characteristics of Lentera Harapan Middle School and High School Students in Kupang-NTT,Ay Journal of Scientific Research. Education, and Technology (JSRET) 2, no. : 1393Ae1400. Puja Dewantri. AuCreating Religious Relationality in Digital Media Platform,Ay Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat 7, no. : 13Ae30. Daniel Pesah Purwonugroho. AuMembangun Integritas Dan Moralitas: Fondasi Kepemimpinan Kristen Menghadapi Era Post-Truth,Ay Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 29Ae45. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Implikasi Digital Religion terhadap Pendidikan Agama Kristen Digital religion memiliki potensi melalui media digital sebagai sarana pendidikan agama Kristen. Media digital tersebut dapat berbentuk e-learning, aplikasi alkitab, podcast Media digital tersebut memberikan pengaruh yang kuat dan positif. Telaumbanua dan Butarbutar menjelaskan bahwa media dan teknologi dalam strategi Pendidikan Agama Kristen berdampak positif pada perubahan sosial dan menyampaikan pesan Tuhan, meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengajaran. 22 Media digital memberikan dampak positif berupa adanya nilai efektivitas yang muncul untuk menyampaikan pesan Tuhan. Nilai efektif tersebut muncul karena tidak ada batasan geografis dalam media digital serta jangkauan pemberitaan pesan Tuhan dapat terbuka lebar. Media digital juga dapat membawa perubahan sosial melalui pesan Tuhan karena media digital dapat dengan mudah diakses oleh banyak orang sehingga banyak orang dengan mudah terekspos dengan pesan Tuhan. Selain itu, media digital juga dapat berpengaruh dalam mengembangkan kehidupan spiritual. Lema dan Pius menyatakan bahwa platform sosial digital menyajikan konteks yang lancar untuk instruksi kateketik, memungkinkan Gereja untuk melibatkan demografis yang lebih luas dan menumbuhkan lingkungan yang hidup untuk perkembangan spiritual. 23 Perkembangan gereja yang memakai platform sosial dapat mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan tersebut muncul dikarenakan platform sosial digital tidak terbatas pada satu tempat saja. Platformt sosial digital memiliki kemudahan akses dimana semakin banyak orang dapat mengakses pesan Tuhan Oleh karena itu, media digital memiliki potensi yang besar sebagai sarana pendidikan agama Kristen karena platform digital tidak memiliki batasan jarak, ruang dan geografis sehingga memudahkan penyebaran pesan Tuhan dalam rangka pendidikan agama Kristen secara massif dan luas. Platform digital yang menjadi basis dari fenomena digital religion mendatangkan sebuah tantangan tersendiri. Tantangan tersebut ialah tentang pertahanan nilai-nilai iman ditengah era informasi yang serba cepat dan kompleks. Tantangan ini dapat dijawab dengan penguatan pendidikan Kristen yang berhubungan dan bertarget karakter. Nababan menjelaskan bahwa pendidikan Kristen memainkan peran penting dalam membentuk karakter remaja dan membimbing mereka dalam penggunaan teknologi yang bijaksana. Dengan menanamkan nilainilai seperti kedamaian batin, pengendalian diri, dan penetapan tujuan yang bermakna, ajaran Kristen membantu remaja menavigasi tekanan digital dan mempertahankan integritas moral. Pendidikan Kristen mampu membentuk karakter remaja dan karakter tersebut membuat remaja memiliki kekuatan secara mora untuk menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab. Karakter remaja yang dibentuk melalui pendidikan Kristen akan mencegah remaja terekspos dengan berita bohong ataupun berita yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Remaja yang dibentuk melalui pendidikan Kristen dapat memiliki filter verifikasi yang kuat sehingga tidak terpengaruh dengan berita bohong dan sejenisnya. Selain itu, pendidikan Kristen tersebut juga dapat memberikan sebuah nilai kedamaian batin dimana derasnya informasi yang muncul di Arozatulo Telaumbanua and Rikardo Dayanto Butarbutar. AuMisi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Digital Di Tengah Masyarakat Plural,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. : 86Ae99. Margareta Vera Lema and Intansakti Pius X. AuPeran Media Sosial Dalam Katekese Guna Membangun Iman Di Era Digital,Ay Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik 2, no. : 239Ae250. Samuel Nababan et al. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Dalam Mengatasi Dampak Penggunaan Teknologi Bagi Remaja Di Era Digital,Ay Harati: Jurnal Pendidikan Kristen 3, no. : 205Ae217. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia platform digital tidak mempengaruhi ketenangan dan kedamaian batin remaja. Lebih lanjut lagi, pendidikan Kristen sanggup membangun nilai integritas dan moralitas di dalam diri remaja dalam berselancar di dalam platform digital. Di satu sisi, masyarakat digital yang merupakan orang percaya juga harus dididik agar memiliki sikap etis dan menghadapi tantangan derasnya informasi dalam platform digita. Waruwu dan Lawalata menyatakan bahwa nilai-nilai Kristen seperti kejujuran, keadilan, dan cinta dapat diintegrasikan ke dalam masyarakat digital untuk mengatasi tantangan etis. 25 Sikap-sikap luhur seperti kejujuran dapat membentengi orang percaya masyarakat digital dalam mentransmisikan pesan-pesan kristiani dalam platform digital. Sikap seperti cinta juga dapat memunculkan empati antar orang percaya melalui platform digital. Hal tersebut mempromosikan persatuan yang kesatuan yang tidak terbatas oleh jarak dan ruang. Oleh karena itu, perlu muncul sikap-sikap luhur yang terbentuk dari pendidikan Kristen untuk mempersiapkan remaja Kristen dan orang percaya yang berbagian dalam masyarakat digital untuk menjagai nilai iman ditengah era informasi yang serba cepat. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan oleh para pendidik Kristen untuk mengajarkan iman Kristen. Pendidik Kristen dapat melakukan pembimbingan secara digital atau virtual maupun secara langsung. Tarigan menyatakan bahwa Pendidik agama Kristen memainkan peran penting dalam membimbing siswa melalui era digital, membantu mereka menavigasi tantangan penggunaan gadget yang berlebihan dan memastikan bahwa teknologi digunakan secara bertanggung jawab. 26 Pendidik Kristen perlu melakukan pendampingan untuk mempersiapkan peserta didik memiliki tanggung jawab yang besar di era digital ini. Sikap tanggung jawab tersebut memberikan penguatan kepada peserta didik untuk berselancara maupun mentransmisikan informasi dari platform digital tanpa menegasikan sikap moral. Tanggung jawab yang dididik oleh pendidik Kristen akan membantu siswa didik menavigasi penggunaan gadget oleh peserta didik menjadi lebih teratur dan lebih efisien tanpa dikuasai oleh gadget secara berlebihan. Selain itu, pendidik Kristen juga perlu mengikuti pelatihan yang membuat pendidik Kristen percaya diri di era digital ini. Esterani menyatakan bahwa pendidik membutuhkan pelatihan yang memadai untuk mengintegrasikan teknologi dengan percaya diri ke dalam pengajaran mereka. Pengembangan profesional yang berkelanjutan sangat penting untuk mengikuti kemajuan teknologi dan secara efektif menggunakan alat digital dalam konteks pendidikan Kristen. 27 Pelatihan yang diikuti pendidik Kristen membantu para pendidik Kristen mengikuti kemajuan teknologi tersebut. Dengan demikian, pendidik Kristen dapat menggunakan teknologi dalam rangka mendidik peserta didik lebih efisien dan bertanggung Selain itu, pendidik Kristen juga dapat memahami fenomena yang terjadi dalam platform digital dan mempersiapkan peserta didik untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang terjadi melalui platform digital. Oleh karena itu, para pendidik Kristen berperan sentral untuk menggunakan teknologi digital dalam rangka mengajar peserta didik secara etis dan moral agar muncul peserta didik yang bertanggung jawab dalam menggunakan gadget mereka. Elfin Warnius Waruwu and Mozes Lawalata. AuMembangun Masyarakat Digital Yang Beretika: Mengintegrasikan Nilai-Nilai Kristen Di Era Teknologi Digital 5. 0,Ay Didache: Journal of Christian Education 5, 1 . : 22Ae46. Ellyatun Tarigan. AuPeran Guru PAK Terhadap Etika Peserta Didik Menghadapi Era Digital,Ay Ungu Madah. STAK Abdi Wacana 1, no. : 24Ae35. Esterani Esterani et al. AuThe Role of IT Media Optimization in Christian Religious Education Learning at SMP N 1 Ledo,Ay INTELEKTIUM 5, no. : 32Ae43. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Transformasi Kehidupan Rohani Jemaat di Era Digital Ruang digital di era modern ini memberikan pengaruh siginifikan terhadap nilai spiritualitas dan kehidupan jemaat. Platform digital masa kini mampu melibatkankan otoritas agama dalam keseharian umat. Praditpta dan Tedjoworo menyatakan bahwa platform digital telah memfasilitasi keterlibatan otoritas agama dalam katekese digital modern, memungkinkan mereka untuk terhubung dengan audiens di seluruh dunia dan memajukan tujuan Gereja melalui metodologi baru. Strategi ini membantu para pemimpin agama dalam merevitalisasi insentif spiritual mereka dan memodifikasi ajaran mereka agar sesuai dengan lingkungan digital, sehingga memelihara hubungan yang lebih mendalam dengan umat berbakti di seluruh 28 Platform digital yang dimanfaatkan oleh Gereja memberikan sebuah perluasan pesan keagamaan yang tidak dibatasi oleh letak geografis. Hal ini dapat memberikan kemajuan terhadap pengaruh gereja ke dalam kehidupan umat. Selain itu, platform digital dapat membawa kedekatan antara umat dengan gereja yang berdampak pada pelestarian kehidupan rohani umat. Pelesatarian kehidupan rohani tersebut dapat membuat umat memiliki makna kehidupan rohani yang mendalam dikarenakan gereja dapat hadir di dalam kehidupan umat tanpa adanya jarak. Selain itu, platform digital juga berfungsi secara unik dalam kaitanya dengan praktik keagamaan. Echchaibi menyatakan bahwa Ruang digital berfungsi sebagai Auruang ketiga,Ay di mana praktik keagamaan dan spiritual dinegosiasikan dan didefinisikan Ruang-ruang ini memungkinkan terciptanya makna dan praktik keagamaan baru yang melampaui dikotomi tradisional dan digital, menawarkan kemungkinan alternatif untuk iman dan spiritualitas. 29 Ruang digital dapat berfungsi sebagai praktif keagamaan yang dapat meningkatkan kualitas spiritual umat. Praktik keagamaan seperti ibadah online dan persekutuan online dapat terjadi di ruang digital dan memberi dampak yang lebih luas lagi. Dampak tersebut ialah jangkauan praktik keagamanan tidak dibatasi oleh ruang dan jarak. Oleh karena itu, ruang digital memberikan sebuah pengaruh signifikan di dalam kehidupan jemaat karena praktik keagamaan dapat terjadi melalui ruang digital. Ruang digital memungkinkan terjadinya praktik keagamaan. Kemudahan melakukan praktik keagamaan melalui ruang digital memberikan sebuah persepktif teologis yang baru dimana Tuhanpun hadir dalam ruang digital. Salurante menyatakan bahwa gagasan tentang ruang suci virtual menyatakan bahwa alam digital dapat dikuduskan untuk tujuan ibadah dan pertemuan dengan ilahi. Sudut pandang ini berpendapat bahwa karena Yang Ilahi dapat menguduskan aspek penciptaan apa pun untuk tujuan suci, lingkungan digital sama-sama mampu berfungsi sebagai tempat untuk persekutuan ilahi. 30 Allah dapat hadir di dalam pertemuan-pertemuan keagamaan melalui sarana ruang digital. Persekutuan-persekutuan digital juga tidak menghalangi kinerja Allah yang maha suci. Allah dapat menguduskan ruang digital demi pertumbuhan umat yang sedang bersekutu melalui ruang digital. Perspektif teologis tersebut menunjukkan bahwa adanya potensi perluasan dari kemaha-hadiran Tuhan. Haecker menyatakan bahwa beberapa teolog memandang ruang digital sebagai potensi Gregorius Dimas Arya Pradipta and Hadrianus Tedjoworo. AuSpiritualitas Pelayanan Dan Pewartaan Di Dunia Digital Oleh Kaum Religius Dan Rohaniwan,Ay Melintas 38, no. : 230Ae253. Nabil Echchaibi et al. AuThird Spaces. Religion and Spirituality in the Digital Age,Ay AoIR Selected Papers of Internet Research . Tony Salurante et al. AuA Virtual Sacred Space,Ay Proceedings of the 2nd International Conference on Social Science. Humanity and Public Health (ICOSHIP 2. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia perluasan dari kemahahadiran Tuhan. Konsep hiperdigital menunjukkan bahwa dunia digital dapat menjadi jalan untuk mengalami yang ilahi, bukan di luar teknologi tetapi melaluinya dengan potensi tertinggi. 31 Umat juga dapat mengalami hadirat Tuhan melalui runag digital yang digunakan sebagai persekutuan orang percaya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhanpun hadir melalui ruang digital. Hal ini diperkuat pasca adanya pandemi COVID-19 yang telah melumpuhkan pertemuan-pertemuan ibadah secara tatap muka. Penggunaan platform digital untuk ibadah selama pandemi COVID-19 telah menunjukkan potensi ruang-ruang ini untuk memfasilitasi pengalaman keagamaan dan pembangunan komunitas, meskipun ada pemisahan 32 Pandemi COVID-19 telah mengubah tata ibadah yang pada mulanya dilakukan secara offline, kini dapat terjadi secara online. Hal tersebut menunjukkan potensi ruang digital untuk memberikan fasilitas pengalamaan keagamaan. Pengalaman keagamaan tersebut dapat membangun komunitas orang percaya meskipun tanpa harus tatap muka. Oleh karena itu, secara pasti dapat dikatakan bahwa ruang digital yang diperuntukkan untuk pelaksanaan ibadah memiliki perspektif teologis yang kuat dimana Allah hadir menjumpai umatNya melalui ruang Pemanfaatan media digital sebagai sarana pertumbuhan rohani merupakan hal yang lazim di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Pertumbuhan rohani tidak hanya difasilitasi melalui perkabaran pesan Tuhan melalui gereja setiap minggu. Namun, pertumbuhan rohani dapat difasilitasi oleh media digital yang sekarang berkembang semakin Ibadah digital memberikan pengalaman yang positif di dalam kehidupan orang percaya. LaziN menjelaskan bahwa ibadah digital dan layanan online Kristen dapat memperkaya pengalaman komunal dan menjembatani kesenjangan antara alam offline dan online, menumbuhkan persatuan dan pengalaman spiritual bersama. 33 Ada perasaan bersatu saat terlibat di dalam ibadah digital serta persekutuan digital. Lebih lagi, layanan online Kristen dapat mengatasi kesenjangan yang ada secara offline. Jemaat orang percaya lebih mudah menikmati layanan online yang membuat pengalaman spiritual jemaat meningkat. Namun, perlu diwaspadai bahwa media digital juga membawa resiko yang signifikan bagi kehidupan orang percaya. Ibadah digital serta persekutuan online juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan sosial orang percaya. Hondro dan Yusuf menegaskan bahwa streaming langsung dan format digital lainnya, sambil meningkatkan aksesibilitas, dapat mengurangi interaksi pribadi yang penting untuk mempertahankan nilai-nilai komunitas spiritual. 34 Ibadah digital dapat mengikis rasa interaksi antar orang percaya di dalam ruang digital tersebut. Kikisan interaksi tersebut akan menegasikan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Meskipun dapat merasakan pengalaman spiritual bersama melalui ibadah digital, namun tidak dapat dihindari adanya ancaman degradasi interaksi pribadi antar jemaat apabila hanya mengandalkan ibadah digital. Ryan Haecker. AuVia Digitalis: From the Postdigital to the Hyperdigital,Ay Postdigital Science and Education 5, no. 3 (September 2. : 823Ae850. Fomina and N. Emikh. AuDigitalization of Religious Space: A Philosophical View of the Problem,Ay The Bulletin of Irkutsk State University. Series Political Science and Religion Studies 43 . : 116Ae Tihomir LaziN. AuAn Abductive Study of Digital Worship through the Lenses of Netnography and Digital Ecclesiology,Ay in Music and Spirituality: Theological Approaches. Empirical Methods, and Christian Worship (Open Book Publishers, 2. , 327Ae354. Menas Misahati Hondro and Etni Grace Andi Yusuf. AuPenyampaian Khotbah Melalui Media Live Streaming Sebagai Upaya Membangun Spiritualitas Di Era Digital,Ay Philoxenia 3, no. : 54Ae65. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Maka dari itu, selalu saja ada kesempatan dan resiko yang harus dipertimbangan saat jemaat memanfaatkan media digital sebagai sarana pertumbuhan rohani. Peluang dan Strategi Pendidikan Agama Kristen di Era Digital Pendidikan agama Kristen di era digital ini perlu untuk menyusun strategi yang efektif dan efisien demi melihat peluang yang ada. Strategi yang dapat disusun dalam rangka membangun pendidikan Kristen di era digital ialah meningkatkan literasi digital di kalangan Pariama menyatakan bahwa meningkatkan literasi digital di kalangan siswa dan pendidik sangat penting. Studi menunjukkan bahwa literasi digital yang lebih tinggi meningkatkan keterlibatan siswa dan kinerja akademik dalam Pendidikan Agama Kristen. Meningkatkan literasi digital kepada siswa Kristen dapat membawa siswa Kristen memiliki kinerja akademik yang meningkat. Pendidik Kristen juga dapat mengajar secara efektif dan efisien menggunakan platform digital bagi siswa didik. Melalui literasi digital, siswa terlibat aktif di dalam interaksi pendidikan di era digital ini. Selain peningkatan literasi digital, perlu ada peningkatan infrastruktur teknologi untuk menunjang kelangsungan pendidikan Kristen di era digital ini. Nenomataus. Rantung dan Naibaho menyatakan bahwa Peningkatan infrastruktur teknologi diperlukan untuk mendukung integrasi digital. Ini termasuk menyediakan akses ke alat dan platform digital, yang dapat membantu mengatasi hambatan seperti infrastruktur yang tidak memadai dan resistensi terhadap perubahan. 36 Dengan meningkatkan infrastruktur teknologi, maka kelancaran dalam pendidikan agama Kristen di era digital dapat dimaksimalkan dengan baik. Peningkatan pengajaran Kristen berbasis digital dapat terjadi karena adanya upgrade yang krusial seperti upgrade software, hardware dan skill. Dengan demikian, literasi digital dan peningkatakn infrastruktur teknologi menolong pendidikan agama Kristen dalam digital religon berlangsung dengan lancar tanpa hambatan yang signifikan. Digital religion juga melibatkan pendekatan pastoral yang berbasis digital untuk dapat menghadirkan dukungan ke dalam kehidupan rohani jemaat. Pendekatan pastoral berorientasi digital memiliki peranan yang signifikan bagi kaum muda. Bheka menyatakan bahwa penerapan pendekatan pastoral yang berorientasi digital sangat penting untuk terhubung secara efektif dengan kaum muda, yang sering memiliki gaya komunikasi dan persyaratan spiritual yang berbeda. Strategi ini mencakup modifikasi perawatan pastoral ke lingkungan digital, menggunakan platform yang selaras dengan preferensi individu muda untuk menumbuhkan hubungan yang signifikan dan membantu mereka dalam perkembangan spiritual mereka. Pendekatan pastoral melalui digital mampu memeluk kaum muda dengan gaya digitalnya pada masa kini. Perawatan pastoral melalui dunia digital seperti pesan Tuhan via digital lebih mudah ditangkap oleh para kaum muda masa kini. Perawatan pastoral melalui dunia digital memberikan penguatan terhadap perkembangan spiritual kaum muda. Selain itu, pendampingan spiritual dapat memberikan penguatan tanpa adanya batasan ruang. Enrique Pariama. AuIntegrating Digital Literacy in Christian Religious Education: A Study of Student in Politeknik Negeri Ambon. Ay Ade Epatri Nenomataus. D Rantung, and Lamhot Naibaho. AuIntegrasi Etika AI Dalam Pendidikan Agama Kristen: Tantangan Dan Peluang,Ay NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan 5, no. : 1387Ae T Bheka. AuProblematika Pastoral Kaum Muda: Starategi Pastoral Berbasis Digital Dalam Pastoral Kaum Muda,Ay Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik Vol. 2, no. No. : 322Ae332. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia menyatakan pendamping spiritual virtual dapat memfasilitasi dialog dan pembangunan komunitas, memungkinkan individu untuk mengeksplorasi iman mereka dan menemukan makna dalam masyarakat berjaringan. Namun, sangat penting untuk menyeimbangkan interaksi virtual dengan koneksi dunia nyata untuk mempertahankan kehidupan spiritual 38 Pendampingan spiritual secara virtual memiliki nilai fleksibilitas yang tinggi. Nilai fleksibilitas tersebut membukan kemungkinan untuk orang percaya dapat mengeksplorasi iman secara fleksibel dan konstruktif. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa interaksi virtual tidak dapat menggantikan interaksi fisik. Dengan demikian, perlu ada keseimbangan antara interaksi virtual dan interaksi fisik untuk optimalisasi pertumbuhan rohani orang percaya. 39 Maka dari itu, pendekatan pastoral berbasis digital memberikan dukungan penuh kepada kehidupan rohani jemaat baik kaum muda maupun orang percaya lainnya. Program rohani berbasis teknologi memberikan implikasi praktis bagi gereja. Implikasi ini membawa manfaat di dalam pertumbuhan keaktifan kaum muda. Rakhmatova menyatakan bahwa mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan spiritual dapat secara efektif melibatkan kaum muda, mendorong pertumbuhan pribadi dan koneksi spiritual. Gereja-gereja harus merangkul strategi inovatif untuk memenuhi kebutuhan spiritual generasi muda. 40 Kaum muda Kristen memiliki kedekatan yang intens dengan teknologi digital. Gereja perlu memberdayakan kaum muda Kristen untuk dapat melakukan exposure pesan Tuhan dari gereja yang ditransmisikan ke dalam ruang digital. Dengan demikian, keaktifan kaum muda dapat terjalin dengan baik sehingga kaum mudapun dapat mengalami pertumbuhan pribadi secara 41 Selain itu, pemimpin gereja dan pendidik juga dapat mengambil bagian dalam pembentukan spiritual kaum muda di era digital ini. Nainupu menegaskan bahwa lembaga gerejawi, dalam hubungannya dengan wali dan pendidik, mengambil fungsi yang signifikan dalam mengarahkan evolusi spiritual kaum muda dalam konteks pengaruh teknologi. Ini mencakup penetapan parameter dan penggunaan teknologi untuk menanamkan prinsip-prinsip Kristen. 42 Prinsip-prinsip kristiani perlu dikembangkan di dalam kehidupan kaum muda untuk memperlengkai kaum muda dapat menghadapi pengaruh teknologi yang semakin deras. Kaum muda tidak akan mudah terombang-ambingkan dengan derasnya informasi di dalam ruang Kaum muda akan memiliki benteng yang kuat untuk melindungi dirinya menghadapi derasnya informasi yang mengalir di ruang digital. Dengan menanamkan prinsip Kristen, maka penggunaan teknologi untuk mentransmisikan program rohani dapat dilakukan dengan baik tanpa terpengaruh dengan derasnya arus informasi dalam dunia digital. Oleh karena itu, gereja dapat merancang program rohani berbasis teknologi dengan melibatkan kaum muda dan memperlengkai kaum muda dengan prinsip rohani sehingga penggunaan teknologi menjadi tepat guna dan tepat sasaran. Edgar Enrique Velysquez Camelo. AuVirtual Spiritual Accompaniment: Scope and Limits,Ay Theologica Xaveriana 71, no. : 1Ae26. Ruhut Parningotan Tambunan. Yonatan Alex Arifianto, and Reni Triposa. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Dalam Mengembangkan Karakter Siswa Di Era Digital,Ay Lentera Nusantara 4, no. : 30Ae47. Mekhrinoz Majitovna Rakhmatova. AuEffectiveness of the Technological Approach in the Spiritual Life of Young People,Ay International journal on integrated education 7, no. : 8Ae11. Carolina Etnasari Anjaya and Yonatan Alex Arifianto. AuManifestasi Amanat Agung Tuhan Yesus Dalam Kehidupan Virtual Remaja Kristen,Ay Alucio Dei 6, no. : 93Ae108. Astrid Maryam Yvonny Nainupu. AuMendidik Anak-Anak Yang Bermoral Rohani Di Era Teknologi Informasi Sesuai Dengan Iman Kristen,Ay Didache: Journal of Christian Education 5, no. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia KESIMPULAN Digital religion merupakan fenomena yang muncul akibat dari pesatkan perkembangan teknologi masa kini. Digital religion membawa dampak positif bagi orang percaya untuk mendekatkan orang percaya dengan pesan keagamaan tanpa adaya batasan ruang dan Namun, digital reigion membawa dampak negatif yaitu terdegradasinya interaksi sesama orang percaya. Selain itu juga keabsahan sakramen yang dilakukan secara digital juga patut dipertanyakan keabsahannya dari perspektif teologis. Digital religion muncul dengan basis platform digital. Platform digital ini dapat dimanfaatkan di dalam pendidikan agama Kristen. Pendidik Kristen perlu memperlengkapi diri untuk siap berinteraksi dengan peserta didik Kristen melalui platform digital. Pendidik Kristen juga perlu membentengi peserta didik Kristen dengan kebenara-kebenaran Firman Tuhan agar tidak terpengaruh fenomena post-truth yang muncul melalui penyebaran informasi digital yang masif. Gereja juga harus mempersiapkan diri dalam penggunaannya dengan platform digital. Gereja harus memanfaatkan platform digital semaksimal mungkin namun juga harus menekankan pentingnya interaksi sosial secara offline di antara jemaat orang percaya. Gereja juga dapat memperdayakan anak-anak muda yang sangat amat dekat dengan teknologi digital. Melalui keterlibatan anak-anak muda, maka kondisi spiritual anak-anak muda dapat terjagai dengan baik oleh karena keterlibatan anak-anak muda dan pemimpin gereja dalam memanfaatkan platform digital. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa perlu adanya kesiapan oleh gereja dan pendidik Kristen dalam menyambut era digital religion untuk membawa transformasi ke dalam kehidupan rohani jemaat. DAFTAR PUSTAKA