Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor Koesworo Setiawan1* Muhammad Rasyid Anwar1 Program Studi Sains-Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Djuanda. Bogor. Provinsi Jawa Barat. Indonesia Korespondensi: koesworo. setiawan@unida. Tel: 62-812-9292-353 Diterima: 25 Maret 2024 . Disetujui: 30 Oktober 2024. Diterbitkan: 15 November 2024 Abstrak: Pengembangan potensi diri anak penyandang disabilitas menjadi perhatian penting di tengah masih lemahnya pemenuhan dan perlindungan hak-hak mereka. Penelitian ini menelaah prinsip berbasis nilai . ocial virtu. sebagai landasan guru . dalam mengembangkan keterampilan seni siswa-siswi disabilitas intelektual . di sekolah luar biasa (SLB). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan data sekunder yang relevan. Informan sebanyak empat orang pendamping dan dua orangtua klien sebagai triangulasi yang ditetapkan berdasarkan prinsip purposive sampling. Materi wawancara diturunkan dari tiga konsep operasional: interpersonal skill, peran dan efektifitas komunikasi. Data dikategorikan, diseleksi, diurutkan, dan dikodekan sesuai dengan formulasi konsep dalam menjawab pertanyaan penelitian. Hasilnya. Ausocial virtueAy ditemukan di hampir semua proses intervensi baik pada area pengetahuan, sikap, maupun Kesimpulannya, prinsip Ausocial virtueAy menjadi basis, katalis dan motivator pendamping dalam pengembangan keterampilan seni klien. Kata kunci: Pendamping sosial. Komunikasi interpersonal. Disabilitas intelektual Abstract: The development of self-potential must be given full attention to fulfill the needs and rights of children with intellectual disabilities. This research examines value-based principles . ocial virtu. as a foundation for teachers . in improving the art skills of students with intellectual disabilities . in special schools (SLB). Data were collected through observation, in-depth interviews, and from relevant secondary sources. The informants were four assistants and two parents as triangulation based on the principle of purposive sampling. Interview materials were derived from three operational concepts: interpersonal skills, roles, and communication effectiveness. The data were categorized, selected, sorted, and coded according to the concept formulation in answering the research questions. As a result, "social virtue" was found in almost all intervention processes at the area of knowledge, attitude, and behavior. In conclusion, the principals of "social virtue" became the assistants' basis, catalyst, and motivator in developing clients' art skills. Keywords: Social assistant. Interpersonal communication. Intellectual Pendahuluan Saat ini populasi disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 juta jiwa atau 8,5% dari jumlah penduduk 000 . ,33%) merupakan anak penyandang disabilitas (Kementerian pA, 2. Mengacu Pasal 59. UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, negara wajib memberikan perlindungan kepada anak penyandang disabilitas sebagai kelompok rentan. Perlindungan diperlukan karena anak penyandang disabilitas rentan terhadap ancaman, stigma, kekerasan fisik, psikis, seksual, dan diskriminasi. Mereka juga menghadapi ketidaksetaraan dalam pemenuhan kebutuhan dasar, yakni pendidikan dan pengembangan diri (Kemdikbud RI, 2021. Kementerian pA, 2. Pendidikan inklusif menghadapi keterbatasan aksesibilitas, selain juga keterbatasan pada kapasitas guru dan juga sarana dan prasarana (Kemdikbud RI, 2. Di tingkat Pendidikan Anak Usia https://ejournal. id/index. php/jsk/article/view/3396 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 -279 Dini (PAUD). Angka Partisipasi Kasar (APK) kelompok disabilitas sebesar 25,09, dibandingkan 35,36 pada kelompok nondisabilitas tahun 2022 (BPS, 2. Kesenjangan juga tampak pada persentase partisipasi sekolah penduduk di atas usia 5 tahun 2022. Pada kategori 'tidak/belum pernah sekolah' anak nondisabilitas mencapai 5,41% dan disabilitas 17,64%. 'masih bersekolah' nondisabilitas 5,41% dan disabilitas 24,20%. dan 'tidak bersekolah lagi' nondisabilitas 70,39% dan disabilitas 78,05% (BPS. Di unit sosial terkecil yakni keluarga, rendahnya pengetahuan membuat orangtua tidak paham bagaimana mengasuh atau memberi stimulus yang tepat bagi anak disabilitas. Alih-alih menjadi lingkungan yang ramah, keluarga bisa menjadi ranah isolasi dan diskriminasi karena kuatnya pandangan bahwa anak disabilitas adalah aib (Saputri et al. , 2. Mengakarnya stigma membuat orangtua abai memberikan layanan sosial dasar, seperti kesehatan, pendidikan, dan gizi layak, kebutuhan fisik, psikis, dan psikososialnya (Gea et al. , 2023. Vani et al. , 2. Pemberdayaan anak penyandang disabilitas menjadi tugas semua pihak melalui berbagai bentuk, termasuk dengan menyelenggarakan layanan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan potensi anak, salah satunya melalui Sekolah Luar Biasa (SLB). Guru di SLB menjalankan fungsi dan peran pekerja sosial . untuk tugas pemberdayaan sosial . terhadap klien . iswa-siswi SLB). Pemberdayaan merupakan proses melalui mana kelompok miskin, rentan, dan marjinal mendapatkan kendali dan kekuasaan diri, baik pengetahuan, sikap dan perilaku, sehingga mereka mendapatkan keberfungsian sosial dan perbaikan kualitas hidup (DuBois & Miley, 2019. Miley et al. Spann et al. , 2. Pendamping mengembangkan interpersonal skills dengan memperhatikan kondisi emosional, psikis, dan kebutuhan klien lainnya (DuBois & Miley, 2. Kualitas interpersonal dicirikan adanya empati, kehangatan, keaslian dan kompetensi budaya. Empati tidak hanya sensitif dan memahami kebutuhan klien, namun juga mengkomunikasikannya dengan bahasa efektif dan sikap proaktif. Hangat merupakan bahasa non-verbal melalui sikap cinta, hormat, pelayanan tulus dan ikhlas (Potocky & Guskovict, 2. Keaslian dicirikan dengan sikap spontan, tanpa kepentingan, dan otentik. Keaslian artinya apa yang tampak memang apa yang sesungguhnya, tidak modifikasi atau manipulasi. Kompetensi budaya merujuk pada sikap memahami, menghormati dan menjaga sistem nilai, norma, dan budaya terkait. Aspek budaya mencakup penguasaan pengetahuan . , keterampilan . , nilai . , etik . , dan membantu memecahkan masalah klien (Mazza, 2. Orientasi berpikir, motif dan tindakan nyata untuk meningkatkan value orang lain, dapat dikategorikan sebagai social vitue mengacu pada penelitian ini. Dengan pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan, pendamping mengumpulkan informasi untuk mendapatkan solusi yang dihadapi klien. Pendamping dan klien bersama keluarganya membuka diskusi kolaboratif untuk mengklarifikasi masalah, mengenali kekuatan, mendiskusikan opsi, dan mengidentifikasi tindakan potensial. Tiga jenis peran pendamping adalah: fasilitator . , pemungkin . , dan perencana . (Miley et al. , 2012. Setiawan, 2022. Fasilitator . memberikan bimbingan, kemudahan, atau mempercepat jalan bagi orang lain mencapai tujuan. Pembimbingan merupakan relasi antara seseorang . dengan kelebihan . isik, pengetahuan, kearifan, kebajikan, pengalamana. kepada pihak terbimbing yang Pembimbingan mensyaratkan adanya saling percaya, timbal balik, kerelaan dan keikhlasan kedua belah pihak. Pendamping mendorong perubahan pada klien dengan sikap moderat, memegang kendali namun terukur, mendorong perubahan namun tidak memaksa, rasional namun memahami budaya (Parcell & Collison, 2009. Schuman, 1996. Tiberg et al. , 2. Dalam peran sebagai pemungkin . , pendamping membantu klien menemukan potensi, kelebihan dan kemampuan dirinya, membantu memecahkan masalah sehingga lebih mandiri, mengarahkan minat dan mencapai kualitas kehidupan lebih baik (Adams, 2017. DuBois & Miley, 2019. Mart\Ao\i-Gil et al. , 2013. Peavy, 1996. Thorne & Dryden, 1. Pendamping memilih pendekatan interdisiplin, menggunakan data dan informasi yang valid sebagai basis intervensi secara profesional. Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 - 279 Proses kerja dalam intervensi kepada klien dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada prosedur dan tahapan baku dan telah teruji. Seorang perencana . memulai tugasnya dari tahapan penetapan tujuan, menetapkan hasil, intervensi dengan melibatkan klien dan keluarganya. Dilakukan pula monitoring selama program berjalan dan diterapkan evaluasi di akhir program. Beberapa jenis penyandang disabilitas berhadapan dengan masalah komunikasi dan pengembangan potensi diri. Anak disabilitas intelektual (DI) menghadapi keterhambatan fungsi kognitif, terbatas merespon stimulus, baik pada tahap menerima dan memproses informasi, memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan (Shree & Shukla, 2. DI mengalami keterbatasan signifikan dalam fungsi intelektual, perilaku dan keterampilan adaptif, konseptual, sosial, praktis, serta defisit keterampilan hidup sehari-hari . akan, berpakaian, komunikasi, berpartisipasi dalam kegiatan kelompo. (Aziz et al. , 2. Pendamping menggunakan komunikasi interpersonal selama tahapan intervensi kepada klien . e Sousa Pereira-Guizzo et al. , 2019. Hardina, 2013. Ross, 2016. Setiawan, 2022. Komunikasi interpersonal tidak hanya peristiwa pertukaran pesan verbal, namun juga melibatkan simbol-simbol non-verbal melalui gestur atau media tertentu, yang membentuk ikatan emosional, saling tergantung, saling percaya, dan terbuka untuk mencapai tujuan bersama. Hubungan yang dekat dan kuat, menjadi landasan komunikasi efektif dengan prinsip Au4cAy: yakni credible, content, channel, dan clarity (Broom & Sha, 2013. Setiawan, 2. Komunikan . terhadap komunikator . didasarkan atas niat baik . , melayani . dan mampu menyakinkan bahwa ia memilki Komunikan dapat menerima pesan . dengan baik . karena teknik penyampaian dapat dipahami, atau pilihan terhadap media . yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, proses intervensi pendamping dipahami dari tiga aspek: pengetahuan, sikap dan perilaku. Pendamping merupakan sumber pengetahuan dan keterampilan yang membantu pemberdayaan klien. Sikap pendamping dilandasi nilai-nilai kebajikan . , yakni penghormatan, niat baik, pengabdian, pengorbanan, ketulusan, keikhlasan, dan kepekaan terhadap kondisi klien. Dengan pengetahuan dan sikap, pendamping membimbing klien mencapai tujuan bersama, yakni perubahan perilaku menuju hidup lebih baik. Inilah seperangkat nilai kebajikan dan keutamaan yang disebut sebagai Ausocial virtueAy. Studi dengan topik pendampingan terhadap anak penyandang disabilitas intelektual dapat dikelompokkan pada tiga ranah umum yakni teknis dan tata kelola selama proses pendampingan (Roslina & Rahayu, 2. , penguatan keterampilan penerima manfaat . otorik dan kogniti. (Satria et , 2. , dan efektifitas dukungan dalam proses pendampingan (Di Lorito et al. , 2. Kebaruan penelitian ini terletak pada dua aspek, yakni pada penggunaan metoda pencarian pengetahuan dan pada penggunaan teori yang sesuai. Penelitian ini menggunakan cara berpikir induktif yakni berawal dari aktivitas pendampingan untuk kemudian dimaknai . berdasarkan konsep operasional . ocial virtu. Tiga jenis penelitian sebelumnya menetapkan rumusan konseptual untuk kemudian ditelaah secara deskriptif berdasarkan temuan di lapangan . Kedua, penelitian ini menambahkan teori perubahan perilaku . ttutide theor. dan konsep komuniksi interpersonal intuk mengidentifikasi dan menjelaskan bagaimana karakteristik Ausocial virtueAy dalam proses pembimbingan terhadap klien. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai Ausocial virtueAy selama tugas pendampingan dan bagaimana perannya dalam meningkatkan perubahan perilaku klien dengan pendekatan kualitatif (Hancock et al. , 2001. Hennink et al. , 2020. Setiawan, 2022. Kerangka konseptual pemberdayaan terhadap klien berbasis Ausocial virtueAy dapat dijelaskan pada Gambar 1. Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 -279 Gambar 1. Kerangka Konseptual Pemberdayaan Klien Berbasis AuSocial VirtueAy Sumber: (DuBois & Miley, 2019. Miley et al. , 2012. Spann et al. , 2. , diolah Pada Gambar 1, tugas pendamping adalah meningkatkan kualitas hidup klien melalui metoda Proses intervensi oleh pendamping dapat diamati dari tiga dimensi, yakni keterampilan . mpati, keaslian, kehangatan, dan kompetensi buday. , peran . asilitator, pemungkin, dan perencan. , serta bagaimana kualitas komunikasi yang terjalin di antara pendamping dan klien . redible, content, channel, dan clarit. Penelitian ini ingin menjelaskan sejauh mana tiga konsep utama kebajikan sosial . ocial virtu. yakni pengetahuan, sikap dan perilaku dapat diidentifikasi selama proses pendampingan berjalan. Akan dapat diketahui pada bagian selanjutnya dalam penelitian ini, apakah indikator dalam setiap konsep seluruhnya dapat ditemukan pada setiap dimensi selama tugas interveni dilakukan, atau hanya sebagian. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami dan mengkonstruksikan makna dari perspektif partisipan, baik dari pemikiran, sikap, perilaku, peristiwa, maupun obyek. Data dikumpulkan melalui observasi pada proses pembimbingan dan wawancara mendalam dan terpandu . uided intervie. terhadap enam informan yang ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip purposive Informan adalah empat guru SLB Fitria Kota Bogor yang mengetahui dan atau aktif melaksanakan tugas pendampingan terhadap klien . nforman 1, 2, 3, dan . Dua informan lain sebagai triangulasi adalah orangtua/wali murid . nforman 5 dan . untuk memenuhi validitas data. Materi wawancara terstruktur merupakan deskripsi dari tiga konsep operasional yakni interpersonal skill, peran pendamping dan komunikasi efektif. Wawancara dan observasi dilakukan di lokasi penelitian di SLB Fitria Kota Bogor, kurang lebih selama dua pekan. Sebagian wawancara dilakukan melalui telepon terutama untuk keterangan yang memerlukan pembaruan data dan pendalaman pada Agustus-September 2023. Hasil wawancara dan pengamatan dilakukan proses seleksi, eliminasi, kategorisasi, dan abstraksi (Gerring, 2. Data hasil analisis diberikan kode . (Gambar . untuk memudahkan memahami dan memastikan kesesuaiannya dengan karakteristik Ausocial virtueAy . , y, dan . pada setiap tahapan dalam proses intervensi . , b, dan . ihat Gambar 1 dan Tabel . Kode juga memudahkan tahapan interpretasi dan penarikan kesimpulan. Istilah AopendampingAo merujuk pada fungsi guru dalam proses pendampingan, dan AoklienAo untuk siswa-siswi SLB Fitria Kota Bogor. Untuk memfokuskan arah penelitian, studi ini hanya meneliti populasi penyandang disabilitas Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 - 279 Yang dimaksud perubahan perilaku adalah fase penguasaan keterampilan seni klien melalui proses atau tahapan pembimbingan oleh pendamping. Hasil SLB Fitria Kota Bogor menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan bakat seni anak-anak penyandang disabilitas. Sebanyak 27 orang mengikuti pembinaan seni di SLB Fitria, yakni dua orang penyandang disabilitas rungu-wicara dan 25 orang penyandang disabilitas intelektual. Jenis kegiatan yang ditekuni siswa-siswi adalah membuat kue dan olahraga, serta kegiatan seni berupa melukis, bernyanyi, dan menari. Keterampilan seni diberikan pada jam-jam akhir pelajaran utama . ahasa, mengenal angka, dan menyusun balo. Pembinaan kesenian tidak hanya sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar, namun juga dipersiapkan untuk kompetisi. Siswa-siswi SLB Fitria Kota Bogor telah berkiprah di berbagai pentas seni di level Kota Bogor, di antaranya AuPentas Seni dan Budaya oleh DisabilitasAy, dan AuPergelaran Karya Seni Anak DisabilitasAy, keduanya di Kota Bogor. Intervensi berupa bimbingan dan pembinaan keterampilan berkesenian, tidak begitu saja diterapkan kepada klien . iswa-sisw. Pada tahap awal, pendamping sosial melakukan diskusi kolaboratif baik dengan cara mengamati dan membuka komunikasi dengan klien, dan bahkan juga dengan melibatkan orangtua/wali. Melalui diskusi kolaboratif, pendamping dan orangtua/wali berbagi pemahaman tentang tantangan yang dihadapi selama proses intervensi, dimana kekuatannya, bagaimana mengoptimalkan potensi dan minat klien, dan sebagainya. Diskusi kolaboratif dilakukan oleh pendamping dengan orangtua/wali dengan tujuan untuk memdapatkan informasi yang lengkap tentang klien, baik terkait sifat/kepribadian, kesukaan, kebutuhan, kepekaan tertentu, kebiasaan, atau mungkin hal-hal sensitif. Pada intinya, informasi tersebut mencakup indentifikasi terhadap kekuatan/kelebihan dan kelemahan klien, baik yang tampak di permukaan . alam perkataan dan perbuata. , maupun yang laten . idak tampa. Kekuatan klien penting untuk dikelola dan dikembangkan, untuk mempercepat tercapainya tujuan pembimbingan yakni meningkatkan kualitas hidup klien. Namun kekuatan bisa jadi tersembunyi, yang akan menjadi tugas pendamping untuk menemukan dan mentransformasikan menjadi pendorong perubahan. Hal-hal yang sensitif dalam diri klien, tentu menjadi area yang patut diperhatikan lebih serius, meskipun tidak selalu berdampak negatif. Bila didapatkan pendekatan yang tepat, sensitifitas klien tidak akan menjadi kendala dalam usaha pendamping mencapai sasaran Bagi anak yang hiperaktif maka anak tersebut diarahkan untuk latihan menari. endamping/informan . kalo dari kesenian Alhamdulilah banyak yang meminati karena mereka para siswa lebih cepat menangkap pelajaran seni dan olahraga seperti senam, menari, dan juga menggambar. A anak tersebut melihat sebuah karya mereka sudah hapal ketika mereka tampil mereka sudah rapih. endamping /informan . Pendamping dan orangtua/wali bekerja sama menetapkan tujuan yakni bagaimana mengoptimalkan bakat seni, menempuh tahapan dan bagaimana proses yang harus dilakukan untuk mencapai hasil (Gea et al. , 2. Selama proses diskusi kolaboratif, orangtua klien juga tidak bisa diasumsikan memahami sepenuhnya sifat, dan karakter anaknya. Berbagai keterbatasan baik pengetahuan dan pengalaman orangtua, membuat informasi yang didapat pendamping dari diskusi kolaboratif bisa jadi tidak cukup memadai. Adanya hambatan psikologis, seperti mungkin perasaan malu atau minder dengan anak berkebutuhan khusus, sedikit atau banyak dapat mempengaruhi kelengkapan dan akurasi informasi dari orangtua kepada informan (Saputri et al. , 2. Di lain pihak, karakteristik manusia yang unik membuat tidak ada pendekatan yang generik untuk setiaap individu Ae terlebih terhadap anak berkebutuhan khusus. Anak DI mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan memusatkan perhatian yang berdampak pada keterbatasan dalam menyimpan informasi. Ia juga kesulitan mengingat, yakni mencari dan mengenali kembali informasi yang telah ia simpan (Gea et al. , 2. Anak DI terbatas dalam memahami struktur pesan yang rumit. Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 -279 seperti berhitung, atau pesan bertingkat. Keterbatasan dalam mengakumulasi pengetahuan dan pengalaman membuat anak DI juga memiliki hambatan dalam mengekspresikan dan menerapkan informasi sebagai bentuk tanggapan dari lingkungan. Faktor pendukung yang A sangat penting dari orangtua A kepada anak dari hal yang kecil seperti menjemput anak ke sekolah, berinteraksi di dalam rumah, dan mengulang metode pelajaran yang sudah diajarkan di dalam kelas . endamping/informan . A di rumah, anak saya ajak mengulangi pelajaran di sekolah dengan melihat situasi . rangtua klien/informan . Pendamping menghadapi tantangan dalam pemberdayaan terhadap penyandang disabilitas Anak disabilitas intelektual lebih lamban dalam merespon stimulus, misalnya saat diajak berbincang. Mereka merespon pertanyaan dengan jawaban pendek-pendek. Beberapa kesempatan pendamping tidak mampu menangkap maksud dari jawaban klien. Apa yang menjadi instruksi atau arahan pendamping tidak serta merta dilaksanakan atau dipatuhi klien . Dalam pengamatan peneliti, pendamping menunjukkan sikap sabar dan tidak ada sikap marah, kesal atau putus asa dalam menghadapi situasi seperti tergambar pada observasi 2 dan keterangan orangtua klien/informan 6. Pendamping membangun situasi gembira selama relasi dengan klien berlangsung. Pendamping menunjukkan sikap bersahabat: ramah, senyum, mengajak bermain, dan memberikan sentuhan kasih . saya melihat bapak ibu guru sangat sabar dan telaten . endamping/informan . Pendamping menyatakan, dalam menjalankan tugasnya mereka dilandasi prinsip kerelaan dan Faktor pedukung anak disabilitas untuk berkembang yaitu dari guru yang sukarela dalam membantu anak tersebut untuk berkembang . endamping/informan 1. pendamping/informan . Dengan segala keterbatasan, anak DI tidak otonom dan membutuhkan bantuan orang lain (Gea et al. , 2. Oleh karena itu, diskusi pendamping-orangtua berjalan dengan prinsip-prinsip interpersonal pula. Intervensi yang dilaksanakan pendamping juga berpedoman pada kepentingan Pendamping menghindari berbagai sikap dan tindakan yang bersifat memaksakan kehendak kepada klien. Pembelajaran dan pengembangan kemampuan seni dilakukan dengan memperhatikan dan menyesuaikan kemampuan klien. Mereka belajar seperti pada umumnya seperti menulis, membaca dan berhitung sesuai dengan kadar kemampuan apa yang diserap oleh siswa . endamping/informan . A tidak bisa dipaksakan, karena mereka kan memang memiliki keterbatasan . endamping/informan . Pertukaran pesan antara pendamping dengan klien melalui komunikasi verbal tidak berjalan mudah karena respon klien pendek-pendek sehingga pesan tidak mudah dimengerti. Klien juga menunjukkan kondisi emosional dan psikologis yang tidak selalu stabil. Setiap anak disabilitas mempunyai moodnya tersendiri terkadang anak itu sedang tidak mau belajar maka anak tersebut tidak akan mengikuti . endamping/informan . Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 - 279 Bekerja sama dengan orangtua/wali, pendamping menggali profil termasuk potensi klien di bidang seni. Indikasi awal klien tertarik dengan seni, diuji dengan teknik modelling atau imitasi yakni memberikan contoh gerakan atau demo jenis seni tertentu. Teknik komunikasi secara nonverbal ini dianggap lebih memudahkan proses coding dan decoding yang dapat dipahami kedua belah pihak. Guru mencontohkan beberapa gerakan dan anak diarahkan untuk mengikuti gerakan menari. Apabila anak itu mulai tertarik maka anak tersebut diarahkan untuk latihan menari A . endamping/informan A kalo kita mengenali anak itu bagaimana cara menggambar dan anak itu mulai tertarik maka anak tersebut diarahkan untuk fokus dalam bidang menggambar . endamping/informan . Pendamping memilih kata-kata sederhana atau mudah dipahami dan mengulangnya beberapa kali . untuk memastikan klien memahami pesan di dalamnya. Artikulasi pesan disampaikan pendamping secara perlahan, dan dengan memperhatikan mood klien. Pada saat mood klien kurang baik atau tantrum, pendamping memilih menahan diri. Pembelajaran juga dilakukan dengan mengenal karya orang di luar sekolah, seperti kunjungan ke museum, pameran karya seni, dan lain Orangtua/wali memperkuat pemahaman yang diterima anak selama belajar di kelas saat tiba di rumah. Pengulangan bisa dilakukan dengan kembali mengajak anak mengerjakan kegiatan mewarnai atau gerakan menari. Selama pengasuhan di rumah, orangtua/wali menjaga suasana bersahabat, meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan tidak memaksakan kehendak terhadap para guru harus rajin-rajin mengajak ngobrol anak-anak satu persatu agar dekat dan dapat memotivasi mereka sesuai dengan keadaan mereka. endamping/informan . Hasil pengumpulan data telah mencakup tiga dimensi Ausocial virtueAy yakni pengetahuan, sikap dan perilaku dengan butir-butir nilai . di dalamnya. Temuan dari pengumpuulan data yang terurai pada bagian ini selanjutnya akan dianalisis secara konsetual teoritis dengan berpanduan pada permasalahan penelitian, pada bagian pembahasan di bawah. Pembahasan 1 Pengetahuan Sebagai perencana . , pendamping bertanggung jawab memastikan tahapan pemberdayaan berjalan sesuai rencana. Orangtua/wali mengambil peran penting dengan menjaga situasi emosional dan psikologis anak yang baik dan mengulang materi pelajaran dari pendamping untuk dipraktikkan di rumah . endamping/informan . Diskusi interaktif dengan orangtua/wali klien, sebagai langkah awal mengetahui potensi klien, berbasis kuat pada pengetahuan dan pengalaman pendamping. Anak disabilitas yang secara fisik dan psikis rapuh, membutuhkan hadirnya sistem pendukung . upporting syste. dari lingkungan terdekat. Keluarga tentu merupakan supporting system pertama dan penting bagi klien, karena di sanalah ia lahir, tumbuh, mendapatkan perhatian dan kasih saying (Saputri et al. , 2. Anggota keluarga seperti ayah, ibu, saudara kandung dan anggota keluarga lainnya merupakan sumber dukungan alamiah. Sistem lain yang dapat memberikan dukungan adalah tempat mereka belajar, yakni sekolah. Pelibatan orangtua/wali juga menunjukkan bahwa pendamping menghormati nilai dan budaya, baik itu karakteristik, kebiasaan, pola hidup dan hubungan yang berkembang di tengah-tengah keluarga klien . Untuk memperkuat kemampuan klien memecahkan masalah dan beradaptasi, pendamping perlu memahami minat, ketertarikan dan kebiasaan klien sebagai dasar menentukan rencana dan tindakan yang paling tepat membantu klien . Indikasi klien hiperaktif, misalnya, disalurkan pendamping pada kegiatan menari . endamping/informan . Daya tangkap yang kuat dan cepat hafal . endamping/informan . , menjadi modal penting dalam mengubah perilaku penyandang disabilitas intelektual . Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 -279 2 Sikap Keterbatasan fungsi kognitif dan respon terhadap stimulus pada klien, diatasi pendamping dengan mengembangkan komunikasi non-verbal. Pendamping memberikan contoh . gerakan menari . dan mengulang beberapa kali . Ae termasuk oleh orangtua/wali di rumah . endamping/informan . Penelitian ini sejalan dengan studi (Savita & Sharma, 2. bahwa pembelajaran dengan media visual lebih efektif bagi anak disabilitas intelektual. Sikap ramah, hangat, ketulusan, otentik, dan dengan sentuhan fisik dapat dikatakan sebagai bentuk komunikasi non-verbal. Memahami keterbatasan fisik, turun dan naiknya kondisi emosional, dan menyesuaikan respon terhadap kebiasaan klien, merupakan kualitas inti dalam konseling, yakni pemahaman empatik dan rasa hormat terhadap klien. Pada Bagan 1, sikap pendamping sejalan dengan beberapa indikator pada dimensi sikap, yakni penghormatan, ketulusan, keikhlasan, dan kepekaan . 1,y5,y6, dan y. Sikap simpatik dan penghormatan bisa terungkap sebagai pesan verbal bila pendamping mengekspresikan secara terbuka kepada klien. Namun tumbuhnya perasaan tenang, nyaman, gembira, semangat, dan akrab pada diri klien, mengindikasikan klien telah menangkap pesan nonverbal dari sikap yang ditunjukkan pendamping. Merujuk pada observasi 1, hal ini memperkuat ikatan emosional, meningkatkan kedekatan dan saling bergantung . Nilai empati, bertindak untuk kepentingan dan demi meningkatkan kualitas hidup klien, ditunjukkan dengan kesediaan pendamping mencermati kondisi emosional, psikis, dan kebutuhan klien dan menahan diri saat klien tidak mood atau tantrum ( a1-4. 3 Perilaku Pendamping mengoptimalkan potensi klien, seperti minat melukis, menari, atau potensi lain . endamping/informan . Pada tahapan ini, pendamping telah menemukan jalan untuk melakukan perubahan pada diri klien (Mazza, 2. Klien menerima kehadiran pendamping sebagai sosok yang dipercaya . karena mereka . ecara forma. adalah para guru yang mendampingi klien selama proses belajar. Di sinilah peran penting supporting system kedua . ang pertama adalah keluarg. yang lingkungan sekolah, dengan peran para pendamping di dalamnya. Meskipun tidak memiliki ikatan biologis, para pendamping juga memainkan peran melalui berbagai peran dan fungsinya. Intensitas interaksi yang intensif dan kedekataan emosional membuat pertukaran pesan di antara mereka berjalan relatif baik. Pesan verbal maupun non-verbal dibentuk oleh sikap ramah, suasana menyenangkan, sentuhan kasih sayang . , sehingga pesan lebih mudah dipahami klien . Data observasi menunjukkan, klien mengekspresikan perasaan senang, nyaman, percaya, dan akrab selama interaksi dengan pendamping. Respon positif klien menunjukkan bahwa dalam diri klien telah tumbuh kepercayaan dan harga diri, perasaan diterima dan diakui keberadaannya di lingkungan terdekat, merasa diberikan kasih sayang, dan perasaan setara dengan orang sekelilingnya yang nondisabilitas. Pendamping telah menggunakan metoda yang tepat dalam melaksanakan tugas konseling. Materi pembelajaran melalui teknik media gambar, demo menari atau belajar di museum merupakan channel yang meningkatkan efektifitas komunikasi. Secara psikologis, komunikasi nonverbal tersebut membangun ikatan kuat di antara mereka yang dirasakan sebagai sikap tulus melayani (Potocky & Guskovict, 2. Temuan ini memperkuat studi (Barbe, 2017. Delgado et al. , 2. tentang efektivitas komunikasi dengan teknik visual. Tindakan terukur dan tidak memaksakan kehendak . tercermin pada temuan observasi dan wawancara yang menunjukkan pendamping menahan diri tidak meneruskan proses pembelajaran bila klien dalam kondisi marah atau tantrum. Metoda pembelajaran lain menjadi opsi, dalam hal ini mengajak klien mengenal karya orang di luar sekolah dengan kunjungan ke museum. Opsi lainnya Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 - 279 adalah mengoptimalkan peran orangtua/wali sebagai pihak yang sangat paham karakteristik dan kondisi psikologis klien, untuk mengulangi materi pembelajaran di rumah . endamping/informan 2 dan orangtua/informan . Dari ketiga dimensi di atas, yakni pengetahuan, sikap dan perilaku, dapat divisualisasikan keberadaan masing-masing selama proses intervensi oleh pendamping pada Tabel 1. Tabel 1. Sebaran butir-butir social virtue selama proses intervensi Social virtue Pengetahuan Temuan dalam proses intervensi Oe seluruh butir pengetahuan . 1 Ae . Oe seluruh butir peran . 1 Ae . Oe dua butir skill: empati dan kompetensi budaya . 1 dan a. Oe satu butir komunikasi : credible . Sikap Oe seluruh butir sikap . 1 Ae . Oe seluruh butir skill . 1 Ae . Oe seluruh butir peran . 1 Ae . Oe seluruh butir komunikasi . 1 Ae . Perilaku Oe seluruh butir perilaku . 1 - . Oe seluruh butir skill . 1 Ae . Oe dua butir peran: fasilitator dan pemungkin . 1 dan b. Oe seluruh butir komunikasi . 1 Ae . Sumber: analisis dan interpretasi data Merujuk pada Tabel 1, dalam setiap tugas intervensi oleh pendamping melibatkan hampir seluruh butir-butir dimensi social virtue, kecuali sebagian dari dimensi pengetahuan dan perilaku. Pada dimensi pengetahuan, peranan butir credible . , dan butir empati dan kompetensi budaya lebih, memainkan peran dominan. Kesimpulan Perubahan perilaku menuju kualitas hidup klien yang lebih baik merupakan sikap dasar yang menjadi landasan pendamping dalam setiap fase intervensi yang dilakukan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendamping mendedikasikan pengetahuan, pengalamannya, keterampilan, dan sumber daya yang dimilikinya. Prinsip-prinsip Ausocial virtueAy dapat ditemukan di hampir semua fase intervensi pendamping terhadap klien, baik pada dimensi pengetahuan, sikap, maupun perilaku. Ketiga dimensi tersebut, bukan merupakan fakta yang terpisah dan saling asing satu dengan yang lain. Pada sikap yang diambil pendamping, di dalamya dibentuk oleh seperangkat pengetahuan dan informasi yang diperolah dari pengalaman sebelumnya. Pada sikap pula, terkandung orientasi yang diproyeksikan untuk perubahan perilaku atau perbaikan kualitas hidup dalam diri klien. Demikian pula pada pengetahuan, menjadi landasan rasional untuk sikap dan basis argumen untuk perubahan perilaku, dan seterusnya. Sementara di dalam pengetahuan, sikap, dan perubahan perilaku, terdapat kualitaskualitas virtue baik dari unsur interpersonal skill, peran pendamping maupun komunikasi efektif. AuSocial virtueAy sebagai prinsip-prinsip moral hadir sebagai landasan, katalis, dan motivator pada setiap fase intervensi pendamping terhadap klien. Saran Penelitian ini diharapkan memperkaya khazanah studi pekerjaan sosial . ang secara umum banyak mengadopsi pendekatan sosiologis dan psikologi. dengan telaah pada aspek komunikasi Koesworo Setiawan. Muhammad Rasyid Anwar Prinsip AuSocial VirtueAy dalam Pengembangan Potensi Diri Anak Penyandang Disabilitas Intelektual di SLB Fitria Kota Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 269 -279 dalam proses pendampingan terhadap klien. Dari topik penelitian ini, sarjana ilmu komunikasi dapat mengkaji aspek lain yang belum tercakup dalam studi ini. Ucapan terima kasih. Penulis berterima kasih dan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Kepala Sekolah SLB Fitria Kota Bogor, para guru dan orangtua/wali murid yang telah memberikan dukungan sehingga penelitian ini berjalan lancar. Terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang baik kepada pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Djuanda, dan M. Rasyid Anwar selama penyelesaian penelitian ini. Daftar Pustaka