Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 PERTUMBUHAN SETEK MIKRO KAWISTA (Limonia acidissim. AKIBAT JENIS EKSPLAN DAN KONSENTRASI BAP Growth of Cawista (Limonia acidissim. Micro Cuttings According to Different Types of Explants and BAP Concentration Siti Hafidhah1. Rd Selvy Handayani2*. Nasruddin2. Nilahayati2 . Jamidi2 Mahasiswa Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh *Corresponding author: selvy@unimal. ABSTRAK Kawista merupakan salah satu jenis tanaman suku Rutaceae yang memiliki banyak Populasi tanaman kawista semakin berkurang karena adanya alih fungsi lahan, minat masyarakat berkurang untuk membudidayakannya, serta kendala perbanyakan baik secara vegetatif maupun generatif. Salah satu solusi untuk memperbanyak tanaman kawista adalah dengan teknik setek mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksplan dan penggunaan zat pengatur tumbuh BAP dalam perbanyakan tanaman pada kawista secara setek Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap dua faktor yaitu eksplan daun (E. dan tunas (E. Faktor kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP, yaitu: B0= BAP 0 ppm. B1= BAP 1 ppm. B2= BAP 2 ppm dan B3= BAP 3 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan eksplan berpengaruh tehadap semua peubah yang diamati. Eksplan tunas merupakan jenis eksplan terbaik. Perlakuan Benzyl Amino Purine berpengaruh terhadap semua peubah yang diamati. Konsentrasi BAP 1 ppm merupakan konsentrasi terbaik. Tidak ada interaksi antara faktor jenis eksplan dan konsentrasi BAP di semua peubah yang diamati. Kata kunci: daun, in vitro, planlet, steril, tunas ABSTRACT Kawista is one type of plant that belongs to the family Rutaceae and has many benefits. The population of Kawista plants is decreasing due to land conversion, reduced public interest in cultivating them, and propagation constraints, both vegetatively and generatively. One solution to propagate these plants is to use the micro-cutting technique. This study aimed to determine the effect of explants and the use of growth regulator BAP in the propagation of Kawista plants by micro cuttings. This research used a two-factor completely randomized The first factor was different explants, leaf and shoot explants. The second factor was the concentration of BAP, 0, 2, 3 ppm. The results showed that explant treatment affected all variables observed. Bud explant was the best type of explant. Benzyl amino purine treatment affected all variables observed. A BAP concentration of 1 ppm was the best concentration. There was no interaction between explant type and BAP concentration in all observed variables. Keywords: leaves, in vitro, planlet, sterile, shoot Rutaceae adalah tanaman kawista. Tanaman kawista yang memiliki nama latin Limonia acidissima L. dikenal masyarakat dengan berbagai nama lain. Masyarakat Aceh sedangkan di Bima dan Dompu NTB menyebutnya kawi. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber keanekaaragaman hayati seperti flora. Jenis flora yang banyak ditemui di Indonesia salah satunya adalah suku Rutaceae atau suku jeruk-jerukan. Salah satu tanaman yang termasuk suku Jurnal Agrium online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 Buah kawista dapat dikonsumsi secara lansung maupun diolah. Tanaman kawista mengandung senyawa-senyawa yang mempunyai khasiat pengobatan, yang dikenal sebagai senyawa fitokimia. Buah kawista mengandung senyawa alkaloid, saponin, fenol, dan flavonoid. Pemanfaatan tanaman kawista dalam pengobatan adalah untuk astringent, obat disentri, dan diare. Selain itu buah kawista bisa diolah menjadi sirup, limun, madu mongso, kecap dan selai (Suhada et al. , 2. Populasi tanaman kawista semakin berkurang karena adanya alih fungsi lahan dan berkurangnya minat masyarakat untuk Perbanyakan kawista memiliki kendala secara vegetatif maupun Pada perbanyakan secara vegetatif diperlukan sumber batang atas ataupun batang bawah yang banyak, sehingga dapat membahayakan tanaman induk bila dilakukan dalam jumlah besar (Purnadyanti. Kendala perbanyakan secara generatif adalah biji tanaman kawista sulit berkecambah secara konvensional. Salah satu solusi untuk perbanyakan tanaman kawista adalah dengan metode setek mikro pada kultur in vitro. Kultur in vitro atau kultur jaringan mengisolasi bagian tanaman . el, jaringan, orga. dalam media yang sesuai dan kondisi yang aseptik sehingga bagian tersebut dapat memperbanyak diri menjadi tanaman sempurna (Ziraluo, 2. Setek mikro menggunakan batang tanaman yang berukuran mini (Fauziah, 2. Setek mikro ini dapat menghasilkan jumlah bibit yang besar dengan menggunakan bahan tanam yang sedikit serta memiliki sifat seperti induknya ( Sari et al. , 2. Faktor keberhasilan dalam setek mikro diantaranya yaitu eksplan yang digunakan, media dan zat pengatur tumbuh. Eksplan yang digunakan dapat berupa setek daun maupun tunas. Berdasarkan penelitian Tyas . , tunas pamelo dapat terbentuk secara lansung dari eksplan tunas maupun Selain itu, keberhasilan setek mikro salah satunya ditentukan oleh pemberian sitokinin seperti BAP. Pada penelitian Handayani . , pemberian BAP dapat September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al mempengaruhi pertumbuhan eksplan biji pamelo secara in vitro. Penelitian Nabila et . menyatakan bahwa perlakuan BAP menunjukkan hasil terbaik pada peubah jumlah tunas pada eksplan nilam varietas tapak tuan. Hasil penelitian Tyas (Tyas, 2. , pemberian BAP 1 ppm juga menyebabkan eksplan membentuk tunas secara lansung. Tujuan penelitian ini adalah untuk pemberian BAP terhadap perbanyakan setek mikro kawista secara in vitro. Keberhasilan penelitian ini sangat bermanfaat untuk mendukung konservasi dan pelestarian tanaman kawista yang populasinya semakin Selain itu, teknik perbanyakan secara in vitro ini juga berpotensi sebagai solusi teknologi untuk memenuhi kebutuhan bibit kawista unggul secara massal tanpa merusak tanaman induk. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Aceh Utara yang terletak pada ketinggian 18 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2024. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah LAFC (Laminar air flow cabine. , botol kultur, cawan petri, gelas kimia, pinset, gelas ukur, timbangan analitik, autoclave, oven, bunsen, scapel, saringan, magnetik stirrer, hot plate, labu takar, camera dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman steril kawista hasil penelitian sebelumnya, aquades, alkohol, kertas steril, bayclin, agar-agar, gula pasir, plastik bening, karet gelang, deterjen cair, aquades steril dan tissue gulung, media MS (Murashige and Skoo. , dan BAP (Benzyl amino purin. Metode Penelitian Percobaan dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor. Faktor Jurnal Agrium online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 pertama adalah jenis eksplan yaitu E1= yaitu eksplan daun dan E2= eksplan Faktor kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP, yaitu: B0 = 0 ppm. B1 = 1 ppm. B2 = 2 ppm dan B3 = 3 ppm. September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al kultur diberi label dengan keterangan perlakuan dan tanggal tanam. Botol kultur yang telah ditanami eksplan disimpan di rakrak inkubasi pada suhu 24-26AC. Pengamatan dan Analisis Data Peubah yang diamati dalam penelitian ini yaitu: waktu tumbuh tunas, jumlah tunas, persentase tumbuh tunas, waktu tumbuh daun, jumlah daun. Data hasil penelitian menggunakan uji F. bila hasil yang diperoleh pada sidik ragam berbeda nyata pada taraf 5%, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji DMRT (DuncanAos multiple range tes. taraf 5%. Pelaksanaan Penelitian Tahap awal dilakukan sterilisasi alat dan bahan penelitian, serta pembuatan media tanam dalam botol kultur sesuai perlakuan. Penanaman eksplan kawista dilakukan di dalam Laminar Air Flow Cabinet (LAFC). Botol kultur yang berisi planlet kawista steril yang berasal dari perbanyakan kultur jaringan dimasukkan ke dalam LAFC. Planlet kawista yang masih berada di dalam botol kultur dipilih yang masih hijau dan Tunas kawista dipotong kemudian diletakkan di atas cawan petri yang sudah dilapisi kertas steril. Eksplan daun yang dipilih adalah daun dengan kriteria daun yang sudah membuka sempurna. Daun dipotong dibagian tengah sepanjang tulang daun dengan ukuran 1x1 cm. Eksplan tunas dipotong 1 cm dengan kriteria memiliki 1 mata tunas. eksplan ditanam pada media tanam sesuai perlakuan, 2 eksplan per botol Setiap botol kultur yang telah berisi eksplan kawista ditutup dengan rapat. Botol HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Waktu Tumbuh Tunas Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan eksplan secara tunggal sangat berpengaruh terhadap peubah waktu tumbuh tunas. Perlakuan BAP secara tunggal tidak berpengaruh terhadap peubah waktu tumbuh tunas. Hasil uji lanjut waktu tumbuh tunas akibat perlakuan jenis eksplan dan konsentrasi BAP disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rataan Waktu Tumbuh Tunas pada Setek Mikro Kawista Secara In vitro Akibat Jenis Eksplan dan Konsentrasi BAP Perlakuan Waktu Tumbuh Tunas (HST) Jenis Eksplan E1 (Dau. 47,33 . a E2 (Tuna. 16,33 . b Konsentrasi Benzyl Amino Purine (BAP) B0 . 9,80 . c B1 . 13,63 . b B2 . 31,83 (,. a B3 . 48,00 . a Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji DMRT taraf 5 %. Angka dalam kurung adalah data hasil transformasi Log . Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan jenis eksplan secara tunggal sangat berpengaruh terhadap peubah waktu tumbuh tunas. Jenis ekplan tunas (E. menunjukkan waktu tumbuh tunas tercepat yaitu pada 16,33 HST. Sedangkan, eksplan daun menunjukkan waktu tumbuh tunas lebih lama yaitu 47,33 HST. Perlakuan BAP menunjukkan adanya pengaruh terhadap waktu tumbuh tunas pada setek mikro kawista. Waktu tumbuh tunas tercepat didapatkan pada perlakuan BAP 0 ppm yaitu 9,80 HST, sedangkan waktu tumbuh tunas paling lama ditunjukkan pada perlakuan BAP 3 ppm yaitu 48,00 HST. Tunas eksplan kawista Jurnal Agrium online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 secara in vitro akibat berbagai perlakuan September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al disajikan pada Gambar 1. Gambar 1. Pertumbuhan eksplan kawista pada 12 MST. Eksplan daun tanpa BAP, . Eksplan daun dan BAP 1 ppm, . Eksplan tunas tanpa BAP, . eksplan tunas dan BAP 1 ppm Gambar 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan eksplan setek mikro kawista pada jenis eksplan yang berbeda. Gambar 1a pertumbuhan eksplan daun tanpa pemberian BAP tidak tumbuh tunas. Gambar 1b menunjukkan pertumbuhan eksplan daun dengan pemberian BAP 1 ppm tumbuh tunas pada bagian pangkal daun. Gambar 1c menunjukkan eksplan tunas tanpa BAP tumbuh tunas pada bagian mata tunas. Gambar 1d menunjukkan eksplan tunas dengan pemberian BAP 1 ppm tumbuh tunas lebih banyak serta terbentuk daun. Jumlah dan Persentase Tumbuh Tunas Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis eksplan secara tunggal berpengaruh terhadap peubah jumlah tunas dan persentase tumbuh tunas setek mikro kawista. Perlakuan konsentrasi BAP secara tunggal berpengaruh terhadap jumlah tunas setek mikro kawista. Hasil uji lanjut jumlah tunas dan persentase tumbuh tunas akibat perlakuan jenis eksplan dan konsentrasi BAP dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Pengaruh Jenis Eksplan dan BAP Terhadap Jumlah dan Persentase Tumbuh Tunas pada Setek Mikro Kawista Secara In vitro 12 MST Jumlah Tunas Persentase Tumbuh Tunas (%) Jenis Eksplan : E1 (Dau. 0,17 . b 10,00 . b E2 (Tuna. 1,20 . a 57,50 . a B0 . B1 . 0,65 . b 40,00 . ,4. b 1,55 . a 65,00 . a B2 . 0,40 . bc 20,00 . c Perlakuan Konsentrasi BAP : B3 . 0,15 . c 10,00 . c Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji DMRT taraf 5 %. Angka dalam kurung adalah data hasil transformasi Log . Berdasarkan Tabel 2, eksplan daun (E. memiliki jumlah tunas lebih sedikit dibandingkan eksplan tunas. Demikian halnya persentase tumbuh tunas eksplan tunas lebih tinggi daripada eksplan daun. Perlakuan BAP menunjukkan perbedaan pada peubah jumlah dan persentase tumbuh tunas. Konsetrasi B1 (BAP 1 pp. merupakan perlakuan terbaik dibandingkan perlakuan Waktu Tumbuh Daun Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis eksplan dan BAP Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 berpengaruh terhadap peubah waktu tumbuh daun setek mikro kawista. Hasil uji lanjut waktu tumbuh daun akibat perlakuan jenis eksplan dan konsentrasi BAP dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rataan Waktu Tumbuh Daun pada Setek Mikro Kawista Secara In vitro Akibat Jenis Eksplan dan Konsentrasi BAP Perlakuan Jenis Eksplan E1 (Dau. E2 (Tuna. Konsentrasi Benzyl Amino Purine (BAP) Waktu Tumbuh Daun (HST) 54,66 . a 19,60 . b 15,60 . b B0 . B1 . 17,72 . b B2 . 35,25 . a B3 . 54,00 . a Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji DMRT taraf 5 %. Angka dalam kurung adalah data hasil transformasi Log . Berdasarakan Tabel 3 didapatkan bahwa eksplan tunas (E. menunjukkan waktu tumbuh daun lebih cepat daripada eksplan daun (E. Perlakuan BAP secara tunggal berpengaruh terhadap waktu tumbuh daun setek mikro kawista. Perlakuan B0 . anpa BAP) menghasilkan menunjukkan waktu tumbuh daun tercepat dibandingkan perlakuan lainnya, keuali dengan B1 (BAP 1 pp. Jumlah Daun Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis eksplan dan konsentrasi BAP secara tunggal sangat berpengaruh terhadap peubah persentase jumlah daun setek mikro kawista. Hasil uji lanjut jumlah daun akibat perlakuan jenis eksplan dan konsentrasi BAP dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Pengaruh Jenis Eksplan dan BAP Terhadap Jumlah Daun pada Setek Mikro Kawista Secara In vitro Perlakuan Jumlah daun 6 MST Jumlah daun 12 MST Jenis Eksplan E1 (Dau. 0,12 . b 1,97 . b E2 (Tuna. 3,25 . a 7,05 . a B0 . B1 . 2,05 . b 3,05 . b 3,25 . a 11,70 . a B2 . 1,20 . bc 2,70 . b Konsentrasi BAP B3 . 0,25 . c 0,60 . b Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan Uji DMRT taraf 5 %. Angka dalam kurung adalah data hasil transformasi Log . Berdasarkan Tabel 4, eksplan tunas (E. memiliki jumlah daun lebih banyak daripada tanaman yang berasal dari eksplan daun (E. Pada perlakuan BAP menunjukkan bahwa B1 . adalah perlakuan yang menghasilkan jumlah daun terbanyak dibandingkan perlakuan lainnya. Pembahasan Jurnal Agrium online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 Hasil bahwa jenis eksplan secara tunggal sangat berpengaruh tehadap peubah yang diamati. Perlakuan jenis eksplan tunas (E. menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan eksplan daun (E. pada seluruh peubah Eksplan tunas mengandung jaringan meristematik aktif yang memiliki potensi tinggi untuk memperbanyak diri dan berdeferensiasi menjadi organ baru, sehingga lebih cepat menunjukkan respons terhadap media kultur. Jaringan meristem yang memiliki pertumbuhan paling cepat berada pada tahap awal pertumbuhan sehingga sangat baik digunakan sebagai eksplan dalam kultur jaringan (Anggraeni. Eksplan tunas diketahui memiliki aktivitas fisiologis dan metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan eksplan lainnya seperti daun atau batang. Jaringan meristem pada tunas memiliki tingkat pembelahan sel yang tinggi dan mampu merespons hormon tumbuh seperti sitokinin dengan lebih Penggunaan eksplan tunas selain untuk merangsang pembentukan tunas, juga dapat memengaruhi jumlah daun yang Daun sebagai organ hasil keberadaan tunas yang aktif. Dalam hal ini, eksplan tunas tidak hanya mendukung pembentukan organ baru tetapi juga memberikan sinyal hormonal dan sumber nutrien lokal yang mendukung pembentukan Menurut Hartmann et al. organogenesis yang baik dalam kultur in vitro membutuhkan jaringan eksplan dengan potensi totipotensi tinggi, seperti yang dimiliki oleh tunas muda. Tunas merupakan salah satu organ tanaman yang memiliki titik tumbuh dan disusun oleh jaringan meristem. Hasanuddin et al. menyatakan bahwa jaringan meristem disusun oleh sel sel yang tetap embrional, yaitu mampu terus-menerus membelah diri sehingga berpotensi lebih unggul untuk meningkatkan tinggi tunas. Respons cepat dari eksplan tunas dalam memunculkan tunas baru berkaitan erat dengan kandungan hormon endogen, terutama auksin dan sitokinin, yang seimbang untuk mendukung organogenesis. September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al Eksplan yang berasal dari tunas memiliki keseimbangan hormonal yang sesuai untuk pembentukan tunas dan daun (Thorpe. Daun merupakan organ tanaman yang terdiri atas jaringan parenkim. Menurut Hasanuddin et al. , jaringan parenkim merupakan jaringan yang paling sedikit melakukan pembelahan dibandingan dengan jaringan meristem. Jaringan parenkim umumnya tersusun oleh sel-sel yang masih hidup dan sedikit mengalami diferensiasi. Pada penelitian ini, eksplan daun (E. belum mampu menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan eksplan tunas. Hal tersebut dapat terjadi karena kemampuan pembelahan sel yang berbeda pada setiap eksplan (Saptiani et al. , 2. Selain itu, eksplan daun diduga memiliki kandungan sitokinin endogen yang lebih rendaah sehingga regerenasi eksplan tunas menjadi lebih optimal (Suminar et al. , 2. Hasil bahwa perlakuan konsentrasi Benzyl Amino Purine (B) secara tunggal sangat berpengaruh terhadap semua peubah yang Perlakuan konsentrasi BAP 1 ppm (B. menunjukkan hasil terbaik pada seluruh peubah pengamatan. BAP merupakan golongan hormon sitokinin yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tunas dari tanaman yang dikulturkan (Widodo, 2. Peningkatan jumlah tunas akibat pemberian BAP 1 ppm diduga karena BAP mampu memacu pembelahan dan diferensisasi sel menuju pembentukan tunas. Sejalan dengan hasil penelitian Nabila et al. bahwa pemberian BAP dengan konsentrasi 1 ppm merupakan perlkuan terbaik pada peubah jumlah tunas Nilam Aceh varietas tapak Hal ini karena peran fisiologis sitokinin BAP berpengaruh pada kultur in vitro untuk mendorong pembelahan sel dan pertunasan serta memicu jumlah tunas (Yanti & Isda, 2. Pemberian BAP dimanfaatkan dalam kultur jaringan untuk merangsang pembentukan tunas karena memiliki efektivitas yang tinggi, lebih stabil. Jurnal Agrium September, 2025 Vol. No 3. Hal. 281- 288 Author. Siti Hafidhah,et al online version : https://ojs. id/index. php/agrium P-ISSN 1829-9288. E-ISSN 2655-1837 dan lebih tahan terhadap proses oksidasi dibandingkan jenis sitokinin lainnya (NiAomah, 2. Selain itu. BAP juga tidak mengalami kerusakan akibat pemanasan selama proses sterilisasi dan mudah diuraikan oleh enzim yang dihasilkan dari sel tanaman yang mengalami kerusakan, sehingga dapat mempercepat proses induksi dan multiplikasi tunas (Bhowmik & Rahman, 2. Menurut Hardarani et al. penambahan BAP pada media kultur in vitro dapat mempengaruhi kemampuan eksplan dalam menginduksi pembentukan tunas. Pada penelitian ini, pemberian BAP 1 ppm menunjukkan persentase tumbuh tunas tertinggi pada eksplan kawsita. Hal ini sejalan dengan penelitian Restanto et al. menyatakan bahwa pemberian BAP berpengaruh terhadap persentase tumbuh tunas pada multiplikasi tanaman nilam aceh secara in vitro. Menurut hasil penelitian Raihana et al. menyatakan bahwa BAP pembelahan sel dan mendorong proses induksi tunas dan proliferasi eksplan Curcuma Mangga secara in vitro. Hasil bahwa terdapat interaksi antara perlakuan jenis eksplan dan BAP pada peubah yang Hal ini menunjukkan pada beberapa peubah yang diamati, kedua faktor belumm dapat berinteraski dengan baik untuk meningkatkan pertumbuhan tunas mikro. Akan tetapi pengaruhnya dapat sajat terlihat pada peubah yang berbeda. Embriogenik Tanaman Tebu (Saccharum officinaru. Var. Kidang Kencana Terhadap Berbagai Modifikasi Media Kultur Dalam Proses Induksi Akar. Agritrop: Jurnal IlmuIlmu Pertanian (Journal of Agricultural Scienc. , 18. : 217Ae224. Bhowmik. & Rahman. Micropropagation of commercially Dendrobium palpebrae Lindl. through in vitro developed pseudobulb culture. Journal of Advanced Biotechnology and Experimental Therapeutics, 3. : 225Ae Fauziah. Efektivitas beberapa jenis auksin (NAA. IAA dan IBA) terhadap pertumbuhan stek juwet (Syzygium cumini (L. ) Skeels. ) melalui (Doctoral Disertation. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahi. Handayani. Organogenesis berbagai eksplan pamelo (Citrus maxima . ) mer. lokal aceh yang dikecambahkan secara in vitro. Program Sudi Pascasarjana Agroekoteknologi. Universitas Malikussaleh. Hardarani. Zahra. Wahdah. Juharni. Respon Eksplan Buku Durian Lahung (Durio dulci. terhadap Konsentrasi BAP (Benzil Amino Puri. pada Media WPM (Woody Plant Mediu. : Response of Durian Lahung (Durio dulci. Nodus Explant to BAP (Benzyl Amino Purin. Concentration on WPM (Woody Plant Mediu. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 10. : 235Ae KESIMPULAN Perlakuan eksplan berpengaruh tehadap semua peubah yang diamati. Eksplan tunas merupakan jenis eksplan terbaik. Perlakuan Benzyl Amino Purine berpengaruh terhadap semua peubah yang diamati. Konsentrasi BAP 1 ppm merupakan konsentrasi terbaik. Tidak ada interaksi antara faktor jenis eksplan dan konsentrasi BAP di semua peubah yang diamati. Hartmann. Kester. Davies. & Geneve. Plant propagation: principles and practices. th ed. ) ed. Syo Paulo,: SP: PrenticeHall. Hasanuddin. Muhibbuddin. Wardiah. Mulyadi. Anatomi Tumbuhan. Syiah Kuala University Press. DAFTAR PUSTAKA