Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia , 2025, 101-110 Available at: https://lp3mzh. id/index. php/asmaraloka/index Model Speaking Dell Hymes dalam Dialog Inews AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy Winda Pramesti Naibaho1. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak2. Natal Eliazer Girsang3. Maretha Damai Simanjuntak4 Universitas Katolik Santo Thomas. Medan. Indonesia e-mail: windapramestinaibaho23@gmail. com1, saptadairi@gmail. com2, natalgirsang22122004@gmail. marethadamaisimanjuntak@gmail. Received: a. Revised: a. Accepted: a Abstract: This study aims to analyze verbal communication in the television discussion AuThree Reported JokowiAos Diploma TestifiesAy using Dell HymesAo SPEAKING model within the framework of communication ethnography. This study investigates how communication elements, namely setting, participants, goals, sequence of actions, key, instrumentality, norms, and genre, construct the dynamics of interaction in digital political discourse. qualitative approach was applied, utilizing discourse analysis based on ethnographic Data were collected from a live broadcast aired on iNews on 29 April 2025, consisting of one full episode with a total duration of 2 hours 2 minutes 56 seconds, which was transcribed for analysis. The research findings reveal that the program functions not only as an informative platform but also as a discursive arena for identity negotiation, ideological contestation, and representation of power. Each component of the SPEAKING model contributes uniquely: for example, setting and key influence formality and tone. reflect power relations. goals and sequence of actions guide persuasive strategies. norms and instruments reveal the ethical and ideological foundations of the dialogue. This study concludes that an ethnographic communication approach is highly effective in examining speech acts in the context of digital politics, showing how verbal interactions are structured and shaped by social hierarchies, communicative norms, and competing ideological positions embedded in each element of the SPEAKING model. Keywords: Speaking model. ethnography of communication. political discourse. live broadcast. How to Cite: Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak. Model Speaking Dell Hymes dalam Dialog Inews AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi Bersaksi. ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan sastra Indonesia. Vol 3 (Issue . , 101-110. https://lp3mzh. id/index. php/asmaraloka/index Pendahuluan Wacana merupakan praktik kebahasaan yang tidak hanya merepresentasikan realitas sosial, tetapi juga berperan dalam pembentukan identitas dan relasi kekuasaan. Eriyanto . menyatakan bahwa wacana adalah konstruksi makna yang dibentuk melalui interaksi verbal dan nonverbal, sementara Fairclough . menekankan bahwa wacana berfungsi sebagai proses sosial yang mampu mereproduksi atau mengubah struktur ideologi masyarakat. Dalam konteks Indonesia, perkembangan media digital dan penyiaran televisi dalam satu dekade terakhir turut mendorong dinamika wacana publik, khususnya dalam isu-isu politik dan hukum. Program diskusi dan debat yang disiarkan secara langsung menjadi arena strategis dalam membingkai opini publik. Media tidak hanya menjadi saluran penyampai informasi, tetapi juga memproduksi makna This is an open access article under the CCAeBY license. https: https://doi. org/10. 21067/jpm. ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak melalui pilihan bahasa, struktur interaksi, serta narasi yang mengandung muatan ideologis (Kitley, 2020. Sudibyo, 2. Salah satu bentuk wacana yang dominan dalam media adalah dialog, yang dalam konteks komunikasi massa tidak sekadar percakapan biasa, tetapi sarat akan kepentingan, kekuasaan, dan representasi sosial. Dalam media penyiaran, dialog menjadi ajang negosiasi makna dan arena penegasan posisi ideologis aktor-aktor publik. Menurut (Tannen & Trester, 2. , dialog dalam media digital bersifat interaktif, multimodal, dan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial-politik yang melingkupinya. Hal ini sejalan dengan pandangan Tagg et al . yang menyebutkan bahwa dialog di ruang publik digital tidak terlepas dari dinamika konflik, strategi retoris, dan pembentukan identitas politik. Oleh karena itu, analisis terhadap dialog media perlu memperhatikan struktur interaksional dan intensi komunikatif yang tersembunyi di balik ujaran-ujaran yang tampak spontan. Untuk menganalisis kompleksitas komunikasi dalam wacana dialogis seperti ini, pendekatan etnografi komunikasi yang dikembangkan oleh Hymes et al . sangat relevan digunakan. Hymes memperkenalkan model SPEAKING sebagai kerangka analisis yang tidak hanya memperhatikan aspek kebahasaan, tetapi juga mengkaji konteks sosial-budaya yang membentuk komunikasi. Hymes memperkenalkan model SPEAKING yang terdiri dari delapan komponen utama yakni AuSAy (Settin. merujuk pada tempat, waktu, dan suasana komunikasi. AuPAy (Participant. merujuk pada siapa saja yang terlibat dalam komunikasi, termasuk pembicara, pendengar, dan pihak lain yang hadir. AuEAy (End. merujuk pada tujuan dan hasil yang ingin dicapai dari interaksi tersebut. AuAAy (Act Sequenc. merupakan isi dan urutan ujaran. AuKAy (Ke. merupakan nada, suasana, atau sikap yang digunakan selama IAy (Instrumentalitie. merupakan saluran dan kode komunikasi seperti lisan, tulisan, atau AuNAy (Norm. merupakan aturan atau norma yang berlaku. Terakhir AuGAy (Genr. merupakan jenis atau bentuk komunikasi yang digunakan, seperti narasi, dialog, pidato, debat, wawancara, dan Model ini membantu dalam memahami komunikasi tidak hanya dari aspek linguistik semata, tetapi juga dari konteks sosial budaya yang melingkupinya. Pendekatan ini sangat tepat untuk mengurai interaksi dan strategi komunikasi dalam siaran langsung yang mengandung muatan politis dan sosial seperti tayangan yang menjadi fokus penelitian ini. Objek kajian dalam penelitian ini adalah tayangan AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy, sebuah episode dari program Rakyat Bersuara yang disiarkan oleh stasiun televisi iNews. Episode ini menampilkan diskusi antara tiga tokoh, yakni Roy Suryo. Dr. Tifauzia Tyassuma, dan Rismon Sianipar, yang terlibat langsung dalam pelaporan dan klarifikasi isu dugaan pemalsuan ijazah Presiden Joko Widodo. Tayangan ini dipandu oleh Aiman Witjaksono dan disiarkan secara langsung, menjadikannya bagian dari wacana digital-politik yang menyita perhatian publik. Tayangan ini penting untuk dikaji karena memuat dinamika komunikasi yang tidak hanya bersifat argumentatif, tetapi juga mengandung strategi retoris untuk membentuk citra, mempertahankan kredibilitas, dan mengarahkan opini publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana unsur-unsur dalam model SPEAKING bekerja secara simultan dalam membentuk makna dalam wacana politik yang tersaji secara langsung di televisi dan disebarluaskan melalui media sosial. Melalui pendekatan etnografi komunikasi, artikel ini menawarkan pembacaan kritis terhadap praktik komunikasi dalam ruang media digital, dengan menyoroti bagaimana relasi kuasa, kepentingan politis, dan identitas sosial dimanifestasikan melalui pilihan bahasa dan struktur dialog. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan metodologis dalam kajian wacana politik kontemporer Indonesia, khususnya dalam format siaran Bauman & Sherzer . dalam penelitiannya berjudul Explorations in the Ethnography of Speaking: Expanded Edition. Buku ini secara mendalam membahas pendekatan etnografi komunikasi dengan menekankan bahwa praktik tutur selalu terikat oleh konteks sosial budaya. Bauman dan Sherzer meneliti komunitas tutur yang sangat beragam dari berbagai belahan dunia, dengan tujuan menunjukkan bahwa ujaran tidak dapat dipahami hanya dari segi linguistik, melainkan juga harus dilihat dari nilai. ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak norma, dan struktur sosial yang mengiringinya. Persamaannya dengan artikel ini adalah keduanya samasama menekankan pentingnya unsur-unsur sosial dalam praktik tutur, menggunakan kerangka etnografi Namun, perbedaan utamanya terletak pada lingkup fokus. Bauman dan Sherzer lebih menyoroti variasi global dalam komunitas tutur, sedangkan artikel ini fokus pada wacana politik digital dalam konteks Indonesia. Secara metodologis, mereka menggunakan observasi lapangan dan wawancara partisipatif sebagai pendekatan kualitatif. Kontribusinya bagi artikel ini terletak pada penguatan analisis komprehensif terhadap unsur-unsur model SPEAKING, serta pemahaman mendalam mengenai bagaimana nilai-nilai sosial membentuk strategi komunikasi lisan. Selanjutnya. Tannen & Trester . dalam bukunya yang berjudul Discourse 2. 0: Language and New Media. Buku ini membahas perubahan cara manusia berkomunikasi dalam era digital, terutama melalui media sosial dan platform daring. Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menjelaskan bagaimana struktur wacana tradisional berubah dalam lingkungan digital yang bersifat interaktif, cepat, dan multimodal. Artikel ini memiliki kesamaan dengan buku ini dalam hal perhatian terhadap komunikasi digital yang kompleks, termasuk bagaimana ujaran dibentuk dan diterima oleh publik daring. Perbedaannya. Tannen dan Trester lebih banyak meneliti media sosial secara umum, sedangkan artikel ini fokus pada siaran langsung yang bersifat politis. Mereka menggunakan pendekatan analisis wacana multimodal dan studi kasus sebagai teknik utamanya. Kontribusi dari buku ini sangat penting dalam mendukung adaptasi model SPEAKING terhadap realitas media digital, khususnya dalam menjelaskan komponen instrumentalities dan genre yang semakin beragam dalam praktik komunikasi Tagg et al . dalam bukunya yang berjudul Taking Offence on Social Media. Buku ini menyelidiki bagaimana konflik dan kontroversi muncul serta dikelola dalam ruang media sosial, terutama dalam konteks politik. Dalam kajiannya, mereka menunjukkan bahwa media digital adalah medan diskursif yang sarat konflik, di mana bahasa sering digunakan untuk membangun, menyerang, atau mempertahankan identitas politik. Artikel ini memiliki kemiripan karena sama-sama menganalisis wacana digital yang mengandung elemen politis dan argumentatif. Namun. Tagg dkk. lebih fokus pada wacana polemik berbasis teks di media sosial, sementara artikel ini mengkaji strategi komunikasi dalam siaran langsung yang lebih bersifat oral dan spontan. Mereka menggunakan teknik analisis wacana kritis berbasis data media sosial. Kontribusi pentingnya terletak pada penekanan analisis terhadap elemen norms dan key dalam model SPEAKING, terutama bagaimana norma sosial dan nada bicara digunakan dalam membingkai pesan politis dalam ruang digital. Zienkowski . dalam karyanya Discursive Pragmatism, yang memadukan teori pragmatik dan analisis wacana kritis untuk menyoroti bagaimana bahasa digunakan sebagai alat ideologi dan Zienkowski memandang bahwa wacana bukan hanya sarana komunikasi, melainkan juga alat untuk membentuk dan mempertahankan relasi kekuasaan. Ini sejalan dengan fokus artikel yang juga membahas dinamika politik dalam praktik komunikasi digital. Perbedaannya terletak pada Zienkowski memakai lensa pragmatik kritis, sedangkan artikel ini tetap berlandaskan pada etnografi komunikasi Dell Hymes. Teknik analisis yang digunakan mencakup konstruksi makna dan relasi kuasa dalam interaksi linguistik. Kontribusi buku ini sangat membantu memperluas pemahaman terhadap elemen ends dan norms dalam model SPEAKING, khususnya dalam konteks bagaimana kekuasaan dan ideologi memengaruhi arah serta hasil komunikasi dalam wacana politik. Terakhir, menurut Situmorang et al . , tindak tutur dalam komunikasi audiovisual dapat membentuk makna sosial dan memperkaya unsur humor melalui interaksi verbal yang terjadi dalam sketsa komedi. Dalam penelitiannya yang berjudul AuSpeaking Dell Hymes terhadap Tindak Tutur dalam Tayangan Video Akun YouTube AoMain Hakim SendiriAoAy, digunakan model SPEAKING Dell Hymes untuk mengkaji komunikasi dalam video YouTube bergenre komedi dengan latar ruang sidang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa unsur-unsur seperti setting, participants, ends, dan key mampu mengungkap tujuan sosial dari tuturan yang disampaikan secara lucu dan satiris. Jika dibandingkan ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak dengan penelitian kami yang berjudul AuModel SPEAKING Dell Hymes dalam Dialog iNews: Tiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy, terdapat sejumlah persamaan dan perbedaan yang signifikan. Persamaannya terletak pada penggunaan model SPEAKING dan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis etnografi komunikasi, serta kesamaan objek kajian berupa tayangan video sebagai media komunikasi publik. Namun perbedaannya cukup mencolok dalam hal konteks dan tujuan komunikasi. penelitian tersebut mengkaji interaksi fiktif dalam sketsa humor, sedangkan penelitian kami berfokus pada debat politik nyata yang melibatkan tokoh publik dan narasi hukum di televisi. Jika dalam sketsa tindak tutur digunakan untuk menyampaikan kritik sosial secara halus, maka dalam kajian kami tindak tutur digunakan untuk mempertahankan kredibilitas, menyerang lawan, serta membentuk opini publik secara terbuka dan argumentatif. Dengan demikian, meskipun sama-sama menggunakan model SPEAKING, kontribusi masing-masing penelitian berada pada ruang komunikasi yang berbeda: hiburan dan kritik sosial dalam sketsa, serta debat politik dan legitimasi dalam ruang media formal. Kedua penelitian ini membuktikan bahwa model SPEAKING sangat fleksibel dan relevan untuk menganalisis komunikasi dalam berbagai konteks sosial dan media. Fokus utama dari penelitian ini adalah analisis model komunikasi verbal dalam siaran langsung digital menggunakan pendekatan etnografi komunikasi dengan mengacu pada model SPEAKING yang dikembangkan oleh Dell Hymes. Penelitian ini mengkaji bagaimana unsur-unsur komunikasi mulai dari konteks tempat dan waktu, peserta, tujuan, urutan tindak tutur, nada bicara, medium komunikasi, norma sosial, hingga jenis wacana saling berinteraksi dan membentuk makna dalam siaran langsung bertema politis yang viral di media sosial. Dalam hal ini, tayangan AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy dianalisis sebagai wacana digital-politik yang kompleks, di mana ujaran tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga sebagai alat retoris, ideologis, dan representasi kekuasaan. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Putra & Padmadewi . yang menggunakan model SPEAKING untuk menganalisis pesan dalam pertunjukan wayang di YouTube, menunjukkan bahwa unsur-unsur komunikasi dapat diidentifikasi secara sistematis dalam konteks digital. Studi oleh Aziz & Qalyubi . menekankan pentingnya memahami faktor-faktor metalinguistik dalam komunikasi, seperti siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam konteks apa, dan dengan tujuan apa, yang semuanya tercakup dalam model SPEAKING. Selain itu, penelitian oleh Xu & Warkentin . menunjukkan bahwa interaksi politik di media sosial sering kali dipengaruhi oleh toksisitas bahasa dan polarisasi emosi, yang dapat dianalisis melalui komponen-komponen dalam model SPEAKING untuk memahami dinamika komunikasi politik digital secara lebih mendalam. Penelitian ini menelaah bagaimana wacana politik digital direpresentasikan melalui pilihan bahasa, gaya komunikasi, serta respons partisipan, dengan mempertimbangkan konteks sosiokultural yang melatarbelakangi ujaran-ujaran dalam siaran tersebut. Model SPEAKING digunakan sebagai kerangka untuk membongkar unsur-unsur komunikasi yang eksplisit maupun implisit, termasuk relasi kuasa, identitas sosial, dan kepentingan politis yang mungkin tersembunyi di balik ujaran. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana berbasis etnografi komunikasi. Rancangan ini dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti untuk mengkaji praktik komunikasi secara holistik, baik dari segi bahasa maupun konteks sosial, budaya, dan politik yang melingkupinya. Objek dalam penelitian ini adalah praktik komunikasi verbal dalam tayangan siaran langsung berjudul AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy yang ditayangkan oleh iNews TV dan disebarluaskan melalui platform media sosial, seperti YouTube. Subjek penelitian mencakup partisipan aktif dalam tayangan tersebut, yaitu Roy Suryo. Dr. Tifauzia Tyassuma. Rismon Sianipar sebagai narasumber, serta Aiman Witjaksono sebagai host. Peneliti menggunakan instrumen berbentuk panduan observasi dan analisis berdasarkan model SPEAKING dari Hymes et al . , yang terdiri dari delapan komponen utama: Setting. Participants. Ends. Act Sequence. Key. Instrumentalities. ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak Norms, dan Genre. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi rekaman video tayangan yang diunduh dari kanal resmi iNews, dilanjutkan dengan proses transkripsi secara verbatim, yakni mencatat tuturan sesuai apa yang diucapkan oleh para partisipan tanpa perubahan. Data primer berupa percakapan dalam tayangan. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi unsur-unsur dalam model SPEAKING, kemudian menginterpretasikan fungsi, strategi, dan makna komunikasi yang terbangun dalam interaksi tersebut, khususnya dalam membingkai citra, memperkuat legitimasi, dan menyampaikan kepentingan politik secara retoris. Seluruh prosedur dilakukan secara sistematis untuk mengungkap dinamika komunikasi politis dalam wacana digital yang berkembang melalui siaran langsung televisi dan platform media sosial. Hasil dan Pembahasan Model SPEAKING yang diperkenalkan oleh Hymes et al . merupakan pendekatan etnografi komunikasi yang bertujuan untuk memahami praktik berbahasa secara utuh dalam konteks kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Model ini tidak hanya menyoroti aspek linguistik dari suatu tuturan, tetapi juga mencakup dimensi kontekstual seperti latar tempat dan waktu, peran peserta komunikasi, tujuan interaksi, alur percakapan, nada atau gaya tutur, media yang digunakan, norma sosial yang berlaku, serta jenis atau bentuk wacana yang muncul. Dengan memanfaatkan delapan komponen utama yang terangkum dalam akronim SPEAKING (Setting and Scene. Participants. Ends. Act Sequence. Key. Instrumentalities. Norms, dan Genr. , analisis komunikasi dapat dilakukan secara menyeluruh dan mendalam. Oleh karena itu, model ini sangat tepat digunakan untuk mengkaji bentuk komunikasi publik yang kompleks, seperti yang tersaji dalam tayangan dialog berita Inews berjudul AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy, yang memuat unsur politis, hukum, dan media dalam satu peristiwa komunikasi yang berlangsung di ruang publik. Berikut ini adalah hasil analisis tayangan berdasarkan masing-masing unsur: S (Setting and Scenc. Setting dalam dialog ini adalah studio MNC Conference Hall. Jakarta, disiarkan secara langsung oleh iNews TV melalui program Rakyat Bersuara pada 29 April 2025. Scene yang dibangun bersifat resmi namun terbuka, dengan nuansa debat politis yang tegang namun terkendali. Situasi menjadi konfrontatif karena menyangkut tuduhan serius atas keaslian dokumen akademik Presiden Jokowi. Tayangan ini dirancang sebagai forum publik yang memberikan ruang bagi klarifikasi, pembelaan, serta pembuktian ilmiah atau hukum. Konteks dalam dialog ini adalah ketengangan antara kritik terhadap pejabat publik dan risiko kiminalisasi pendapat diakhir masa pemerintahan Jokowi, di tengah tuntutan transparansi dan demokrasi. P (Participant. Model SPEAKING dari Dell Hymes, unsur Participants mengacu pada siapa saja yang terlibat dalam peristiwa komunikasi, baik sebagai penutur, pendengar, maupun penonton yang memiliki peran sosial tertentu dalam interaksi tersebut. Dalam dialog "Tiga Terlapor Ijazah Jokowi Bersaksi" yang disiarkan oleh program Rakyat Bersuara, unsur Participants ini sangat nyata dan dapat diidentifikasi dengan jelas. Moderator acara. Aiman Witjaksono, bertindak sebagai pemimpin diskusi yang menjaga alur percakapan, menjaga netralitas, dan memancing argumen dari para narasumber secara kritis. Tiga narasumber utama yang menjadi terlapor dalam kasus dugaan penyebaran hoaks ijazah Presiden Joko Widodo adalah Roy Suryo . akar telematik. Dr. Tifauzia Tyassuma . okter dan pegiat media sosia. , dan Rismon Sianipar . akar digital forensi. Mereka hadir untuk memberikan pembelaan dan klarifikasi atas tuduhan tersebut. Di sisi lain, hadir pula tiga tokoh yang mewakili pihak pelapor dan pembela Presiden, yakni Rusdiansyah selaku kuasa hukum relawan Jokowi. Fredy Alex Damanik selaku Wakil Ketua Umum Projo, dan Zfrin Boy Kanu sebagai Ketua Umum Peradi Bersatu. Ketiganya bertugas menyampaikan dasar hukum dan pembelaan terhadap integritas Presiden. Tak kalah penting, publik atau pemirsa yang menonton secara langsung maupun melalui media sosial turut menjadi ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak partisipan pasif yang mempengaruhi arah dan atmosfer diskusi, serta menjadi bagian dari dinamika opini Seluruh peserta yang hadir mewakili kelompok sosial yang berbeda mulai dari akademisi, ahli forensik, aktivis, advokat, hingga pendukung politik yang memperkaya isi dan intensitas debat. Keberadaan mereka membuktikan bahwa unsur Participants dalam model SPEAKING terpenuhi secara lengkap dan mencerminkan struktur sosial dalam komunikasi publik yang kompleks. E (End. Dalam model SPEAKING dari Dell Hymes, unsur Ends merujuk pada maksud dan tujuan dari suatu tindak tutur atau peristiwa komunikasi. Dalam tayangan dialog "Tiga Terlapor Ijazah Jokowi Bersaksi" yang disiarkan oleh program Rakyat Bersuara, unsur Ends ini tercermin sangat jelas melalui struktur dan dinamika perbincangan yang terjadi antara pihak terlapor, pelapor, dan moderator. Tujuan eksplisit dari tayangan ini adalah memberi ruang kepada ketiga terlapor untuk mengklarifikasi tudingan penyebaran hoaks terhadap keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Ini juga dibarengi dengan hadirnya pihak pelapor yang menjelaskan dasar hukum pelaporan mereka, sehingga publik memperoleh gambaran dari dua sisi secara langsung. Sementara itu, terdapat pula tujuan implisit yang dapat diuraikan dari sikap dan pernyataan para peserta. Terlapor menunjukkan usaha mempertahankan kredibilitas keilmuannya sebagai akademisi dan ahli digital forensik, serta menegaskan bahwa mereka bertindak sebagai peneliti independen. Hal ini tampak dalam kutipan dialog seperti. AuKami bertiga ini punya tanggung jawab ilmiah. Ini bukan sekadar opini, tapi kajian forensic dan anatomi. Ay Di sisi lain, pelapor ingin menjaga nama baik Presiden serta menegakkan dasar hukum atas dugaan penyebaran informasi Sedangkan media sebagai penyelenggara dialog memiliki tujuan memfasilitasi perdebatan publik yang sehat dan mendorong keterbukaan informasi, sebagaimana disiratkan dari sikap moderator yang memberi ruang seimbang bagi kedua pihak. Pernyataan seperti AuSaya minta data dari sini ya. Bahwa foto yang di sebelah kanan ini. yang diklaim sebagai Pak Jokowi itu ternyata adalah orang lainAAy menjadi bukti bahwa peristiwa komunikasi ini memiliki muatan tujuan yang kompleks, baik secara eksplisit maupun implisit, sehingga dapat dikategorikan sebagai unsur Ends dalam kerangka model SPEAKING milik Dell Hymes. A (Act Sequenc. Komponen Act Sequence dalam model SPEAKING mengacu pada urutan tindakan atau struktur alur percakapan yang terjadi dalam suatu interaksi komunikasi. Dalam tayangan AuRakyat BersuaraAy di Inews yang membahas tentang AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy, struktur komunikasi berlangsung secara sistematis dan terbagi dalam tiga fase utama, yaitu pembukaan . pening sequenc. , interaksi utama . ain interactio. , dan penutupan . losing sequenc. Fase pembukaan dimulai dengan pernyataan moderator Aiman Witjaksono yang menyapa penonton, memperkenalkan program, topik utama, serta para narasumber yang hadir. Aiman menyatakan. AuSelamat malam. Anda menyaksikan Rakyat Bersuara. Malam ini kita akan bahas tentang laporan terhadap tiga orang narasumber yang dianggap menyebarkan informasi tidak benar terkait ijazah Presiden Jokowi. Ay Pernyataan ini disampaikan secara eksplisit sebagai pengantar topik dan menciptakan kerangka awal diskusi. Aiman kemudian menyebutkan nama-nama narasumber, seperti Roy Suryo. Dr. Tifauzia Tyassuma, dan Rismon Sianipar, serta menyampaikan bahwa mereka hadir untuk menjelaskan maksud dari pernyataan-pernyataan sebelumnya. Ini mempertegas fungsi pembukaan sebagai penataan konteks bagi pemirsa. Fase kedua yaitu interaksi inti, terdiri dari tiga bagian penting: pemaparan narasumber, sanggahan pihak pelapor, dan adu argumen yang bersifat konfrontatif. Dalam bagian pemaparan. Dr. Tifauzia menjelaskan temuannya dengan menggunakan pendekatan anatomi wajah. Ia mengatakan. AuKami punya data perbandingan lima parameter wajah, dan hasilnya menunjukkan ada ketidaksesuaian antara foto ijazah dan wajah Pak Jokowi yang sekarang. Ay Sementara itu. Rismon menyampaikan temuan forensik digital, menyatakan bahwa font yang digunakan dalam skripsi tersebut adalah Times New Roman yang belum tersedia pada tahun 1985. Kedua narasumber ini mencoba membangun otoritas ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak ilmiah atas klaim mereka. Namun, interupsi dan penolakan kemudian muncul dari pihak pelapor. Fredy Damanik dari Projo dengan tegas menyanggah. AuApa hak Anda menyatakan itu palsu? Anda bukan UGM, bukan pengadilan. Ay Zfrin Boy Kanu dari Peradi Bersatu juga menegaskan bahwa penyebaran informasi tanpa otoritas dapat dikenakan proses hukum. Puncak dari konfrontasi ini muncul ketika moderator Aiman menginterupsi dengan pertanyaan tajam. AuPernah lihat ijazah aslinya langsung?Ay Roy Suryo menjawab bahwa mereka belum pernah melihat dokumen aslinya, tetapi menggunakan data terbuka di media. Aiman melanjutkan. AuJadi, tanpa pegang dokumen asli. Anda simpulkan palsu?Ay Ini merupakan titik intens dari dialog, di mana argumen diuji secara logis dan etis di hadapan publik. Fase terakhir adalah penutupan, yang ditandai dengan refleksi dari moderator dan penyampaian penyeimbang narasi. Aiman menegaskan bahwa publik memiliki hak untuk tahu, tetapi juga berhak atas informasi yang valid. Ia menyatakan. AuSiapa pun harus bertanggung jawab atas pernyataannya. Ay Ucapan ini menunjukkan penegasan terhadap prinsip kehati-hatian dalam ruang publik. Aiman mengakhiri acara dengan menyatakan. AuTerima kasih kepada seluruh narasumber. Biarlah publik yang menilai, dan biarlah proses hukum yang berjalan. Ay Kalimat ini menandai penutupan formal sekaligus memperlihatkan posisi netral media. Keseluruhan struktur ini menunjukkan bahwa alur komunikasi dalam tayangan tersebut disusun secara sistematis, dengan pengelolaan wacana yang memungkinkan keterbukaan, konfrontasi, dan tanggung jawab dalam batas etika jurnalistik dan ruang publik demokratis. Dengan demikian, rangkaian percakapan dalam tayangan ini memperlihatkan struktur komunikasi yang jelas dan terarah, dimulai dari pembukaan yang informatif, interaksi inti yang penuh dinamika, hingga penutupan yang reflektif dan netral. Struktur ini mendukung keberlangsungan diskusi publik yang tetap berada dalam koridor jurnalistik yang bertanggung jawab. K (Ke. Unsur Key dalam tayangan AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy mencerminkan variasi nada, sikap, dan gaya penyampaian dari masing-masing tokoh yang memengaruhi arah dan intensitas Moderator Aiman Witjaksono tampil dengan nada netral namun provokatif. Pertanyaannya seperti. AuSaya tanya jujur. Anda sudah pegang ijazah aslinya? Belum? Lalu kenapa menyimpulkan palsu?Ay memperlihatkan gaya komunikasinya yang tajam dan menggugah klarifikasi. Roy Suryo menyampaikan nada defensif dan argumentatif, misalnya saat berkata. AuKami bukan asal bicara. Data kami jelas. Publik juga punya hak tahu,Ay yang menunjukkan usaha mempertahankan posisi sebagai penyampai kebenaran berbasis data. Dr. Tifauzia tampil dengan nada emosional dan idealistik. Pernyataannya. AuBangsa yang membiarkan kebohongan menjadi fondasi kepemimpinannya sedang menggali kuburnya sendiri,Ay menunjukkan gaya moralistik yang menekankan kepentingan bangsa. Berbeda. Rismon Sianipar memilih nada tenang dan akademis. Ia menegaskan. AuKami bekerja berdasarkan data. Tidak ada emosi di sini,Ay dan berfokus pada bukti teknis, seperti penggunaan font dalam dokumen. Dari pihak pelapor. Zfrin Boy Kanu menunjukkan gaya tegas dan legalistik. Ucapannya. AuAnda bukan kampus. Anda bukan Tapi Anda menyatakan palsu?Ay menyudutkan lawan dari aspek legitimasi hukum. Fredy Damanik berbicara dengan nada emosional dan ideologis, membela Presiden secara personal, seperti dalam pernyataan. AuIni bukan soal font. Ini soal fitnah yang bisa membakar opini publik. Ay Dari analisis unsur Key ini dapat disimpulkan bahwa dialog dalam tayangan tersebut tidak hanya menjadi ruang debat rasional, tetapi juga wadah ekspresi ideologis, teknis, hukum, dan emosional. Nada dan gaya berbicara setiap tokoh mencerminkan posisi, kepentingan, dan tujuan komunikasi mereka masing-masing, yang secara keseluruhan memengaruhi intensitas dan arah diskusi publik yang terjadi dalam forum tersebut. I (Instrumentalitie. Dalam tayangan AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy di iNews, saluran dan kode komunikasi yang digunakan sangat beragam dan kompleks. Tayangan ini disiarkan melalui media televisi secara langsung, namun juga diperkuat dengan interaksi dan distribusi ulang melalui media ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak sosial, terutama platform X/Twitter, yang menjadi tempat penyebaran awal dokumen dan analisis yang Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia formal, namun kerap diselingi dengan istilah teknis, seperti anatomi wajah, morfologi wajah, skripsi, digital forensic, algoritma, dan bahkan menyebut nama font seperti Times New Roman, yang menjadi bagian dari bukti teknis. Komunikasi visual juga memainkan peran penting, dengan digunakannya dokumen digital, foto-foto pembanding, ijazah, hasil forensik, serta tangkapan layar media sosial sebagai bukti pendukung yang ditampilkan ke layar untuk memperkuat argumen masing-masing pihak. Dari sisi gaya bicara, para partisipan menggunakan pendekatan yang retoris, persuasif, dan analitis, namun dalam beberapa bagian juga tampak emosional dan defensif, terutama ketika menghadapi serangan atau sanggahan dari lawan debat. Keragaman saluran dan kode ini memperlihatkan bahwa komunikasi dalam dialog tersebut berlangsung secara multimodal dan penuh muatan makna, tidak hanya dalam bentuk verbal tetapi juga visual dan N (Norm. Dalam tayangan "Tiga Terlapor Ijazah Jokowi Bersaksi", terdapat norma kesopanan yang muncul dalam dinamika dialog para partisipan. Dalam diskusi publik seperti yang berlangsung di acara Rakyat Bersuara, norma kesopanan sangat penting untuk menjaga komunikasi tetap produktif dan saling Norma pertama adalah menghormati pendapat orang lain, yaitu dengan memberi kesempatan bicara tanpa menyela. Hal ini dicontohkan oleh moderator Aiman yang berkata. AuSilakan, saya beri waktu untuk menjawab. Tolong jangan dipotong,Ay yang menunjukkan penghargaan terhadap hak berbicara. Sebaliknya, serangan pribadi seperti ucapan Fredy Alex Damanik: AuNgacau. Ngacau. Ngacu,Ay dan AuCoba publik nilai. Bagaimana kualitas orang-orang ini?Ay merupakan pelanggaran, karena menyerang karakter, bukan argumen. Norma lain adalah bersikap tenang dan tidak emosional. Ketika Zfrin Boy Kanu mengatakan. AuAnda belum masuk TV. Saya sudah masuk TV. Mas,Ay ia membawa popularitas pribadi ke dalam diskusi, yang tidak relevan dan merendahkan lawan bicara. Ucapan Roy Suryo. AuIjazah ini palsu. Jelas palsu,Ay juga melanggar kesopanan karena menyimpulkan sesuatu yang seharusnya diputuskan oleh lembaga hukum, bukan disampaikan sepihak di ruang publik. Tuduhan kepada institusi seperti. AuUGM Wakil Rektor bohong,Ay tanpa bukti sah, juga tidak etis karena merusak reputasi lembaga. Selain itu, menggunakan gelar akademik sebagai alat untuk menekan, seperti pernyataan Dr. Tifa: AuIlmu saya jelas. Doktornya asli lagi,Ay dapat menciptakan kesan superioritas yang tidak konstruktif. Diskusi seharusnya fokus pada substansi, bukan status sosial, sebagaimana ketika Zfrin kembali menyatakan. AuSaya sudah masuk TV. Mas. Ay Sikap tubuh dan ekspresi juga perlu dijaga. Menunjuk, menyela, atau nada tinggi dalam dialog menunjukkan kurangnya pengendalian diri dan dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman. Norma-norma ini perlu ditegakkan karena diskusi publik adalah ruang bersama untuk belajar, menyampaikan pendapat, dan menghormati orang lain. Jika norma kesopanan diabaikan, diskusi dapat berubah menjadi konflik, memperburuk kualitas informasi, dan merusak kehormatan individu maupun institusi yang terlibat. G (Genr. Genre atau jenis komunikasi yang terdapat pada video tersebut adalah dialog investigasi politis dengan campuran debat hukum, diskusi akademik, dan opini terbuka. Berikut adalah bukti bahwa komunikasi yang terdapat pada video bersifat dialog investigasi politis dengan campuran debat hukum, diskusi akademik, dan opini terbuka: Genre dialog investigasi politis, terlihat dari pernyataan pembuka: AuHari ini diundang ketiganya lengkap ada di siniA Ada apa ini? Nah, ini kita akan saksikan nanti. Ay Dialog ini menunjukkan bahwa forum dibuka sebagai eksplorasi publik atas dugaan pemalsuan ijazah Presiden, menyerupai penyelidikan terbuka di media. ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak Genre debat hukum muncul melalui pernyataan: AuKalau ilmiah bukan menghasut dongA ini persoalan hukum, bukan persoalan ilmiah lagi,Ay dan AuTidak bisa Anda mengklaim di sini bahwa itu sah secara hukum. Ay Ini mencerminkan pertentangan antara analisis akademik dan batas legal formal, dengan fokus pada otoritas untuk menyatakan keabsahan dokumen. Unsur diskusi akademik tampak dari kutipan: AuFake document analysis, fake audio analysisA itu dalam ruang akademik,Ay serta AuKami itu ilmiah. Harus dilawan dengan kajian ilmiah. Ay Penggunaan istilah ilmiah menunjukkan bahwa sebagian argumen disampaikan dengan pendekatan riset dan forensik digital, meskipun dibawa ke forum publik. Sementara itu, genre opini terbuka muncul dari ungkapan seperti: AuTerserah kalian suka atau tidak sukaA itu yang harus kita hargai,Ay dan AuBanyak dari kitaA sekarang jadi ragu-ragu. Ay Dialog ini mengandung ekspresi pribadi dan keraguan publik, memperlihatkan karakter forum sebagai ruang partisipasi bebas. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap tayangan AuTiga Terlapor Ijazah Jokowi BersaksiAy menggunakan model SPEAKING dari Dell Hymes, dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang terjadi dalam dialog tersebut mencerminkan praktik wacana publik yang kompleks, multimodal, dan sarat nilai sosial-politik. Setiap elemen dalam model SPEAKING seperti setting, participants, ends, hingga genre berkontribusi secara signifikan dalam membentuk makna komunikasi yang berlangsung. Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi dalam tayangan bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan praktik komunikasi strategis yang dibentuk oleh konteks, posisi sosial, tujuan politik, dan strategi linguistik. Tayangan ini menjadi representasi nyata bahwa media massa berperan sebagai arena produksi makna, di mana bahasa digunakan untuk membangun narasi, mempertahankan kredibilitas, dan memengaruhi opini publik. Model SPEAKING terbukti efektif dalam mengungkap dinamika sosial dan ideologis dalam ruang media politik Indonesia. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan pada fokus data yang hanya diambil dari satu tayangan dan tidak membandingkan dengan program serupa dari media lain, sehingga generalisasi temuan masih bersifat terbatas. Selain itu, penelitian ini belum mengeksplorasi secara mendalam respons audiens atau efek komunikasi terhadap persepsi publik. Untuk itu, arah penelitian selanjutnya disarankan memperluas objek kajian dengan melibatkan komparasi antarprogram, menambahkan analisis respons publik melalui media sosial, serta mengintegrasikan pendekatan multimodal guna menangkap kompleksitas visual, gestural, dan prosodik dalam komunikasi televisi dan daring. ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Linguistik dan Sastra Indonesia ISSN 3025-4647 . | 3025-4191 . ASMARALOKA: Jurnal Pendidikan. Lingustik dan Sastra Indonesia 3 . , 2025, 101-110 Winda Pramesti Naibaho. Dairi Sapta Rindu Simanjuntak. Natal Eliazer Girsang. Maretha Damai Simanjuntak Daftar Pustaka