Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Uji Aktivitas Antibakteri Madu Fermentasi Ragi Tempe terhadap Pertumbuhan Escherichia coli pada Agar Plate dan Tinjauan dalam Perspektif Islam The Antibacterial Activity of Tempeh Yeast-Fermented Honey Against Escherichia coli on Agar Plate and a Review from an Islamic Perspective Muhammad Ammar1. Ike Irmawati Purbo Astuti2. Pratami Adityaningsari3. Muhammad Fazlurrahman Anshar4 1Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 2,3 Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 4Bagian Agama Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Koresponden: wingstar@gmail. KATA KUNCI Madu Fermentasi. Ragi Tempe. Escherichia coli. Aktivitas Antibakteri. Thibbun Nabawi. ABSTRAK Penyakit diare sering terjadi, salah satu penyebabnya adalah infeksi bakteri Escherichia coli. Madu, yang dikenal sebagai obat tradisional, memiliki potensi sebagai antibakteri untuk menekan pertumbuhan bakteri tersebut, dan penambahan metode fermentasi dapat meningkatkan fungsinya dalam kesehatan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakterial madu fermentasi ragi tempe terhadap pertumbuhan bakteri E. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan desain post-test only control group design. Uji efektivitas dilakukan dengan metode difusi agar cara cakram menggunakan variasi konsentrasi madu fermentasi ragi tempe . %, 50%, 75%, 100%) dan kontrol positif (Ciprofloxaci. serta kontrol negatif . adu tanpa fermentas. Parameter yang diamati adalah diameter zona hambat pertumbuhan bakteri pada media MHA. Hasil: Berdasarkan hasil, madu fermentasi ragi tempe pada semua konsentrasi . %, 50%, 75%, dan 100%) tidak menunjukkan adanya zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Zona hambat pada kontrol positif (Ciprofloxaci. sebesar 36,66 mm, menunjukkan kategori sangat sensitif. Simpulan: Madu fermentasi dengan ragi tempe tidak menunjukkan aktivitas antibakteri secara langsung . n-vitr. terhadap pertumbuhan E. Namun, ditinjau dari pandangan Islam, status madu sebagai Syifa' . dalam Al-Qur'an dan Thibbun Nabawi tetap tidak terbantahkan, dan proses fermentasi untuk peningkatan manfaat Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 dapat dibenarkan melalui prinsip Istihalah untuk menghasilkan produk yang thayyib KEYWORDS Fermented Honey. Tempe Yeast. Escherichia coli. Antibacterial Activity. Thibbun Nabawi. ABSTRACT Introduction: Diarrheal disease is common, and one of its causes is infection by the bacterium Escherichia coli. Honey, known as a traditional medicine, has potential as an antibacterial agent to suppress bacterial growth, and adding a fermentation method can enhance its function in human health. This study aims to determine the antibacterial activity of tempeh yeast-fermented honey against E. Method: This study is an experimental laboratory with a posttest only control group design. The effectiveness test was conducted using the agar disc diffusion method with variations in fermented honey concentrations . %, 50%, 75%, 100%), a positive control (Ciprofloxaci. , and a negative control . on-fermented hone. The observed parameter was the diameter of the bacterial growth inhibition zone on MHA media. Result: Based on the results, tempeh yeastfermented honey at all concentrations . %, 50%, 75%, and 100%) showed no inhibition zone against the growth of Escherichia coli. The inhibition zone for the positive control (Ciprofloxaci. 66 mm, indicating a very sensitive category. Conclusion: Fermented honey with tempeh yeast did not show direct antibacterial activity . n-vitr. against coli growth. However, from the Islamic perspective, the status of honey as a Syifa' . in the Qur'an and Thibbun Nabawi remains undisputed, and the fermentation process for enhancing benefits can be justified through the principle of Istihalah to produce a thayyib . ood and beneficia. PENDAHULUAN Krisis diakibatkan oleh infeksi sering terjadi, dan salah satunya adalah penyakit Indonesia memiliki prevalensi diare yang tinggi (Kemenkes RI, 2. , dan salah satu bakteri penyebabnya adalah Escherichia coli (E. , yang menginfeksi usus. Meskipun E. secara normal berada di saluran pencernaan, bakteri ini dapat menjadi patogen dan menyebabkan diare, yang Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pertumbuhan E. coli (Wineri et al. Madu telah dikenal sebagai salah satu pengobatan tradisional tertua dan dianjurkan dalam agama Islam sebagai penyembuh (Syifa') (Yunus et al. , 2. Fenolik dan karotenoid dalam madu berperan sebagai antimikroba (Alamsyah et al. Penggunaan metode fermentasi pada madu, seperti dengan ragi tempe, telah diteliti dapat meningkatkan fungsi madu dalam kesehatan manusia (Aziz et al. , 2. Oleh karena itu. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 penelitian ini bertujuan untuk menguji fermentasi ragi tempe terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli METODOLOGI Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan menggunakan desain post-test only control group design untuk mengamati efek madu fermentasi terhadap pertumbuhan Escherichia coli. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian Mikrobiologi Universitas Yarsi pada bulan Juni 2025. Alat dan Bahan Bahan utama yang digunakan adalah madu lengkeng ari api sebagai bahan dasar fermentasi, ragi tempe sebagai starter Escherichia coli. Media yang digunakan meliputi Muller Hinton Agar (MHA) dan Nutrient Agar (NA). Prosedur Penelitian Pembuatan Media MHA: Bubuk MHA ditimbang, dilarutkan dengan akuades, disterilisasi dalam autoclave pada 121oC selama 15 menit, dan dicetak pada cawan petri. Pembuatan Variabel Konsentrasi: Larutan madu fermentasi ragi tempe dibuat dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Persiapan Suspensi Bakteri Uji: Suspensi koloni E. dibuat dalam media BHI dan dengan standar 0,5 McFarland . ekitar 1,5 x 108 CFU/mL)41. Pengujian Antibakteri (Metode Difusi Agar Cara Cakra. a Media MHA dipulaskan merata dengan suspensi bakteri a Disk kosong direndam selama 15 . onsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%), kontrol positif (Ciprofloxaci. , dan kontrol negatif . adu tanpa a Disk ditempelkan pada media MHA dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam a Pengamatan dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat . aerah benin. di sekitar kertas cakram menggunakan penggaris dengan satuan milimeter . Analisis Data Data dianalisis dengan Uji Normalitas (Shapiro-Wil. dan Uji ANOVA Satu Arah (One-Way ANOVA) untuk menguji perbedaan signifikan antara rata-rata diameter zona hambat pada berbagai konsentrasi madu fermentasi. HASIL Penelitian antibakteri madu fermentasi ragi tempe terhadap Escherichia coli dilakukan dengan metode difusi pada media MHA. Hasil pengukuran diameter zona hambatan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil pengukuran diameter zona hambatan yang ditimbulkan oleh madu Fermentasi lengkeng ari api Kontrol Kontrol Madu Madu Madu Madu 0 mm 36,66 0 mm 0 mm 0 mm 0 mm 0 mm 36,66 0 mm 0 mm 0 mm 0 mm 0 mm 36,66 0 mm 0 mm 0 mm terhadap Escherichia coli Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Berdasarkan Tabel 1, madu fermentasi ragi tempe pada semua konsentrasi . %, 50%, 75%, dan 100%) menunjukkan total zona Hasil mengindikasikan bahwa larutan madu fermentasi ragi tempe tidak terhadap pertumbuhan Escherichia Sebaliknya, zona hambat pada (Ciprofloxaci. sebesar 36,66 mm, yang mengacu pada standar CLSI, menunjukkan an Gambar Zona konsentrasi 25%, 50%, kontrol -, bahwa bakteri berada dalam kategori sangat sensitive terhadap antibiotic Pengukuran menggunakan jangka sorong, seperti diilustrasikan pada Gambar 1 dan 2 yang diameter zona hambatan yang ditimbulkan oleh madu Fermentasi lengkeng ari api terhadap Escherichia Gambar 2. Zona hambatan pada konsentrasi 75%, 100%, kontrol positf, kontrol negatif PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan tidak ada zona hambat yang terbentuk fermentasi ragi tempe . Padahal, madu murni secara alami memiliki sifat antibakteri yang disebabkan oleh efek peroksida, dan senyawa bioaktif . lavonoid dan fenoli. (Alamsyah et , 2024. Yuliati, 2. Senyawasenyawa ini diketahui dapat melawan patogen seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa (Yuliati, 2. , dan telah diuji juga terhadap Escherichia coli (Aisyah et al. , 2. Ketiadaan daya hambat pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya pengenceran madu dasar . adu lengkeng ari ap. , di mana mengandung sekitar 1,25 mL madu murni dalam total volume 5 mL. Pengenceran yang tinggi ini dapat menurunkan komponen antimikroba alami madu di bawah batas efektif. Selain itu, mekanisme penghambatan pada produk fermentasi umumnya lebih didominasi oleh asam organik . eperti asam aseta. yang dihasilkan Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 oleh bakteri asam asetat selama fermentasi, yang merusak dinding sel bakteri (Afriani et al. , 2. Karena ketiadaan zona hambat, diduga proses fermentasi yang dilakukan dalam penelitian ini belum menghasilkan kadar agen antibakteri yang cukup . isalnya asam organik yang dominan atau kadar alkohol yang memada. untuk menghambat E. coli secara invitro. Meskipun madu fermentasi ragi tempe tidak efektif sebagai antibakteri langsung dalam penelitian ini, madu sendiri dikenal sebagai sinbiotik prebiotik . dan probiotik (Lactobacillus dan Bifidobacteriu. (Abd El-Gawad M. El-Sayed. A, 2. Prebiotik pertumbuhan mikrobiota usus yang bermanfaat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesehatan usus dan pertahanan terhadap patogen. Hal ini sejalan dengan peran madu sebagai Syifa' yang mencakup pencegahan dan pemeliharaan kesehatan holistik. Dalam Islam, madu dipandang sebagai manifestasi kekuasaan Allah SWT dan obat yang menyembuhkan (Syifa') bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nahl: 69 (Azizah & Rabbani, 2. Anjuran profetik ini didukung secara ilmiah oleh aktivitas antibakteri madu melawan patogen melalui mekanisme osmotik, keasaman, dan produksi hidrogen peroksida (Aisyah et al. Mengenai madu fermentasi, dicontohkan secara eksplisit dalam Thibbun Nabawi, pengembangannya dapat dibenarkan melalui prinsip makanan yang baik . Proses meningkatkan nutrisi dan potensi sinbiotik madu (Aziz. Kunaedi, & Amelia, 2. Konsensus menyatakan bahwa produk fermentasi pangan yang tidak menghasilkan kadar alkohol yang memabukkan . eperti fermentasi dengan Rhizopus pada temp. dianggap halal dan suci karena manfaat kesehatannya nyata. Oleh karena itu, madu fermentasi yang digunakan dalam penelitian ini, yang kesehatan, selaras dengan tujuan utama madu sebagai Syifa'. SIMPULAN Madu fermentasi dengan ragi . enggunakan lengkeng ari ap. pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara invitro. Dari tinjauan Islam, meskipun madu fermentasi ragi tempe tidak terbukti memiliki daya hambat antibakteri secara langsung dalam penelitian ini, status madu sebagai Syifa' . dalam Al-Qur'an dan Thibbun Nabawi tetap valid. Proses fermentasi untuk meningkatkan manfaat kesehatan dibenarkan melalui prinsip Istihalah untuk menghasilkan produk yang thayyib . aik dan bermanfaa. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Para pembimbing Bu Ike Irmawati Purbo Astuti. Bu Pratami Adityaningsari serta Ustadz Muhammad Fazlurrahman Anshar. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 membimbing dan membantu hingga selesai penelitian ini dibuat. Semoga Allah lipatkan kebaikan, keberkahan, dan kemudahan diberbagai urusan baik dunia maupun di akhirat. Terima kasih juga untuk kedua orang tua serta teman saya yang sudah mendukung penelitian yang saya buat. DAFTAR PUSTAKA