ISSN : 1410 Ae 7104 Implementasi First Hop Redundancy Protocol (FHRP) Pada Jaringan Data Untuk Meningkatkan Availibility Pada Pelanggan Implementation of First Hop Redundancy Protocol (FHRP) on Data Networks to Increase Customer Availibility Djoko Suprijatmono1 dan Andre Siswadi2 E-mail : 1djokojte@istn. id, 2 andresiswadi8@gmail. Abstrak--- FHRP merupakan suatu protokol yang berguna untuk jaringan agar selalu dalam kondisi on dengan cara menyediakan jalur . redundancy pada dua atau lebih perangkat physically yang di konfigurasi menjadi satu perangkat virtual, salah satu perangkat akan menjadi jalur active . dan yang lain standby atau jalur cadangan . ackup lin. apabila jalur utama down, contoh dua perangkat menjadi satu interface virtual jadi pada dua perangkat tersebut akan sepakat hanya ada satu gateway pada dua link . dan pada link tersebut ada yang active dan backup. Tujuan pada penulisan ini adalah bagaimana mengimplementasikan protocol FHRP pada jaringan data, untuk mengatasi single point of failure dari switch layer 3. Hal ini dibutuhkan karena untuk meminimimalisir downtime yang terjadi di pelanggan sesuai Standard Level Agreement (SLA) yang telah disetujui dengan availability 99. 8% perbulan yang jika dikalkulasikan adalah maksimal downtime perbulannya adalah 1jam 30menit per lokasi. Kata Kunci--- FHRP. Redundancy. Downtime Abstract--- FHRP is a protocol that is useful for the network so that it is always on condition by providing a redundancy link on two or more physically configured devices into one virtual device, one of the devices will be the active . and the other standby or backup path . ackup lin. when the main line is down, the example of two devices becomes one virtual interface so the two devices will agree there is only one gateway on the two links . and the link is active and backup. The purpose of writing this is how to implement the FHRP protocol on the data network, to overcome single point of failure of the layer 3 switch. This is needed because to minimize the downtime that occurs at the customer according to the approved Standard Level Agreement (SLA) 8% availability monthly which if calculated is the maximum monthly downtime is 1 hour 30 minutes per Keywords--- FHRP. Redundancy. Downtime PENDAHULUAN Kestabilan jaringan komputer sangat dibutuhkan oleh sebuah perusahaan yang melakukan transaksi antar cabang. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi dan memiliki beberapa kantor cabang di kota-kota besar di Indonesia tentunya sangat membutuhkan jaringan komputer yang stabil antar kantor cabang. Downtime jaringan komputer pada perusahaan yang disebabkan masalah pada Switch Cisco utama dan perangkat ISP yang sering terjadi, bahkan dalam tiap minggu selalu ada kasus downtime. Untuk menunjang jaringan komputer yang stabil antar kantor cabang, hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya link down harus diminimalisir seminimal mungkin dan lamanya link down juga harus diminimalisir. Banyak metode yang digunakan dan salah satu metode yang akan digunakan untuk meminimalisir penyebab dan lamanya link down adalah First Hop Redundancy Protocol (FHRP). First Hop Redundancy Protocol (FHRP) adalah sebuah protokol yang menyediakan jaringan yang tinggi ketersediaan . igh availabilit. dan menyediakan hardware hampir seketika fail-over tanpa intervensi administrator. Ini menghasilkan sebuah hot standby router group, termasuk routerutama yang meminjamkan jasa untuk setiap paket yang ditransfer ke alamat router-siaga. Jika router utama gagal, maka akan digantikan oleh routersiaga. Semua router yang berpartisipasi dalam FHRP diasumsikan berjalan sesuai IP protocol routing dan memiliki set konsisten rute. Pembahasan protokol yang sesuai dan apakah routing yang konsisten dalam situasi tertentu adalah di luar lingkup spesifikasi ini. Ketersediaan jaringan komputer sangat diperlukan sehingga dibutuhkan sistem First Hop Redundancy Protocol (FHRP). METODA First Hop Redundancy Protocol (FHRP) FHRP merupakan suatu protocol yang berguna untuk network agar selalu dalam kondisi ON dengan cara menyediakan jalur (Lin. Redudancy pada dua atau lebih perangkat Phisiccally yang di konfigurasi menjadi satu perangkat virtual, salah satu perangkat akan menjadi jalur active . dan yang lain Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 Standby atau jalur cadangan (Backup Lin. apabila jalur utama Down, misal: dua perangkat menjadi satu interface virtual jadi pada dua perangkat tersebut akan sepakat hanya ada satu gateway pada dua Link . dan pada Link tersebut ada yang active dan Backup. Yang masuk pada Protocol FHRP ini adalah HSRP. VRRP. GLBP jadi semua berhubungan, berikut ini contoh gambarnya: Gambar 1. Konfigurasi FHRP Gambar 1 menjelaskan proses detail pada konfigurasi Protocol FHRP adalah sebagai berikut: Forwarding/Active Router mengirim Hello packet ke Standby Router tiap beberapa detik2. Secara Default Router yang menyala duluan akan menjadi Forwarding Router3. Apabila Active Router lagi Down dan tidak mengirim Hello paket ke Standby Router maka otomatis Standby Router Active dan menjadi forwarding Router. Secara Default apabila Active Router UP lagi maka dia akan menjadi Standby Router dan posisinya sudah di ambil alih, . ecuali nilai Priority masih tertinggi maka dia akan jadi Active Router lag. Graphic Network Simulator (GNS. GNS3 adalah simulator alat-alat jaringan Cisco yang sering digunakan sebagai media pembelajaran dan pelatihan dan juga dalam bidang penelitian simulasi jaringan komputer. Program ini dibuat oleh Cisco Systems dan disediakan gratis untuk fakultas, siswa dan alumni yang telah berpartisipasi di Cisco Networking Academy. Tujuan utama GNS3 adalah untuk menyediakan alat bagi siswa dan pengajar agar dapat memahami prinsip jaringan komputer dan juga membangun skill di bidang alat-alat jaringan Cisco. GNS3 terbaru yaitu versi 5. Dalam versi ini dapat mensimulasikan Application layer protocols. Routing dasar RIP. OSPF, and EIGRP, sampai tingkat yang dibutuhkan pada kurikulum CCNA yang berlaku, sehingga bila dilihat sekilas software ini bertujuan untuk kelas CCNA. Target GNS3 yaitu menyediakan simulasi jaringan yang real, namun ter dapat beberapa batasan berupa penghilangan beberapa perintah yang digunakan pada alat aslinya yaitu pengurangan command pada Cisco IOS. Dan juga GNS3 tidak bisa digunakan untuk memodelkan jaringan produktif/aktif. Dengan keluarnya versi 5. beberapa fitur ditambahkan, termasuk fitur BGP. BGP memang bukan termasuk kurikulum CCNA, akan tetapi termasuk kurikulum CCNP. GNS3 biasanya digunakan siswa Cisco Networking Academy melalui sertifikasi Cisco Certified Network Associate (CCNA). Dikarenakan batasan pada beberapa fiturnya, software ini digunakan hanya sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti Cisco routers dan switches. GNS3 merupakan salah satu aplikasi keluaran Cisco sebagai simulator untuk merangkai dan sekaligus mengkonfigurasi suatu jaringan . Sama halnya dengan simulatorAesimulator jaringan lainnya seperti GNS3. Dynamips. Dynagen maupun simulator lain yang khusus digunakan pada Simulasi PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI JARINGAN Dalam jurnal penelitian dilakukan pada jaringan existing yang berlokasi di Menara Jamsostek dengan topology jaringan existing yang ditunjukan pada Gambar 2 berikut: ISAT Switch Layer 3 ALI Branch 2 Head Quarter Tower PE ISAT PE ISAT ISAT Switch Layer 3 ALI Branch 1 Fiber Optic Indosat Gambar 2. Topology existing pada AXA General Insurance Indonesia Setelah dilakukan analisa ditemukan adanya satu buah layer 3 switch sebagai gateway yang tentunya masih bersifat single point of failure. Masalah availability ini merupakan fokus perusahaan dalam pengembangan jaringan kali ini untuk menunjang business perusahaan yang sedang menuju era digital. Maka dari itu akhirnya disarankan agar merubah network existing dengan teknologi FHRP dengan rencana sebagai berikut pada gambar 3. Customer Site PE ISAT PE ISAT Head Quarter Tower BRANCH 1 BRANCH 2 ISAT ISAT FHRP LA FHRP Fiber Optic Indosat Fiber Optic Lintasarta PE LA PE LA Gambar 3. Rencana jaringan baru Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 Pada gambar 3 masih belum terlihat dimana lokasi virtual router yang akan diimplementasikan. Router ini nantinya akan digunakan sebagai default gateway sebagai primary router ketika jaringan sudah diimplementasikan. Selanjutnya pada gambar 4 adalah lokasi dimana router virtual yang telah Fiber Optic Indosat Perancangan Jaringan Simulasi Topology Jaringan Sebelum dilakukan implementasi ke real network, simulasi ini dimaksudkan untuk melihat kinerja awal dari network yang akan dibangun. Tools/software yang digunakan untuk simulasi ini adalah GNS3. Topologi jaringan komputer pada simulasi ini sesuai dengan desain topologi jaringan komputer pada gambar 6. Customer Site OTB PE ISAT Customer FHRP OTB Fiber Optic Lintasarta PE L A Virtual Router ber fungsi sebag ai vir tual gateway Gambar 4. Router Virtual Baru Topology Perencanaan Jaringan Dalam merancang jaringan diperlukan tahapantahapan untuk membantu dalam proses perancangan. Gambar 5 merupakan gambar flowchart dari perancangan jaringan pada jurnal ini. Proses perancangan jaringan dari memulai proses setelah itu masuk proses selanjutnya yaitu melakukan perhitungan parameter-parameter pada rancangan Kemudian setelah mendapatkan hasil perhitungan parameter jaringan, selanjutnya memasuki proses setting atau pengaturan hasil parameter ke dalam simulasi. Setelah semua hasil parameter di masukkan ke dalam simulasi, dilakukan proses sampai mendapatkan hasilnya. Gambar 6. Simulasi Topology di GNS3 Pada gambar 6 hubungan antar router dilakukan dengan menggunakan kabel RJ-45 yang akan menghubungkan interface Fast Ethernet dengan yang dapat mendukung bandwidth sampai dengan 100 Mbps. Pemilihan interface Fast Ethernet karena kebutuhan akan jaringan backbone yang berkecepatan tinggi dan setidaknya mendukung bandwidth tertinggi yang berada pada kantor pusat. Koneksi yang dilakukan pada antar router dilakukan dengan kabel crossover yang diwakili garis hitam putus-putus dan koneksi antara router ke switch dan switch ke PC dilakukan memakai kabel RJ-45 dengan konfigurasi straight-through yang diwakili garis hitam lurus. Bulatan berwarna merah tersebut menunjukkan bahwa interface Fast Ethernet pada router masih dalam keadaan shutdown dan belum Gambar 7. Pengalokasian IP di GNS3 Gambar 5. Perencanaan Topology Jaringan Gambar 7 adalah pengalokasian alamat IP untuk interface pada GNS3. Dalam hal ini interface berupa router harus dialokasikan IP dengan perencanaan yang baik, agar dapat menghubungkan router satu dengan lainnya. Untuk pengalokasian IP dalam interface ini harus dibuat seefisien mungkin sebagai penggunaan sumber daya berupa alamat IP. Alokasi IP dipilih berdasarkan karakteristik dari router dimana pada pada koneksi pada interface suatu router ke router lain harus berada pada subnet yang sama. Sebagai contoh, port FastEthernet0/0 dari Router3 dengan alamat IP 13. 1 dihubung Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 kan dengan FastEthernet1/0 dari Router1 dengan alamat IP 13. 2, dimana kedua alamat ini ber ada pada satu subnet. Pengalokasian IP berikutnya dilakukan untuk host yang berada pada masingAemasing lokasi. Tabel 1 menunjukkan alokasi alamat IP pada masingAe masing lokasi kantor cabang. Pengalamatan IP addresses di masingAemasing lokasi disesuaikan dengan jumlah host yang ada. Hal ini dilakukan untuk mengefisiensikan penggunaan sumber daya berupa alamat IP jika nantinya akan ada user / pengguna baru. Tabel 1. Distribusi alamat IP untuk Interface Ae Interface Router Konfigurasi Protocol FHRP Pada GNS3 Langkah awal implementasi melakukan konfigurasi dasar router seperti pemberian IP address dan routing, kemudian dilakukan pengetesan ping, jika test ping masih belum berhasil, cek kembali konfigurasi dasar setelah itu test ping kembali. Selanjutnya adalah melakukan konfigurasi FHRP. Ketika konfigurasi sudah berhasil, kemudian dilakukan pengetesan ping, jika setelah dilakukan konfigurasi FHRP ternyata test ping gagal, lakukan kembali pengecekan konfigurasi FHRP pada router setelah itu lakukan test ping ulang dan dilanjut dengan pengunggahan data dari FTP server. Ketika sedang proses pengunggahan dilakukan test failover atau mematikan router yang sedang beroperasi, dan dilakukan pengukuran dan pengambilan data. Gambar 8. Flowchart Implementasi FHRP Dari data yang sudah diperoleh dilakukan analisa untuk menentukan berapa nilai performansi jaringan komputer yang dapat ditingkatkan dengan fitur FHRP dan dapat dilihat pada flowchard pada Setelah dilakukan konfigurasi FHRP kedua router berada dalam status awal. Kedua router akan saling mengecek IP virtual dan group, apakah kedua router memiliki IP virtual dan group yang sama. Jika kedua router memiliki IP virtual dan group yang berbeda maka masing-masing router akan dalam status active tetapi tidak saling mem-backup dan hanya router yang memili IP virtual sebagai gateway host yang dapat meneruskan paket data. Sebaliknya jika kedua router memiliki IP virtual dan group yang sama, akan lanjut ke langkah berikutnya yaitu router akan saling mengecek priority, dan router yang memiliki priority tertinggi akan menjadi active router dan lainnya menjadi standby router. Ketika sudah ditentukan active dan standby router untuk pertama kalinya, kedua router akan terus saling mengirim hello messages untuk saling mengetahui status dari kedua router. Ketika standby router tidak menerima hello messages yang bisa dikarenakan matinya router, putusnya link, dan penyebab lainnya sehingga terjadi gangguan pada router maka standby router akan berubah stastusnya dari standby menjadi init. Ketika menerima status router tidak berubah, tetap dalam status standby. Tidak diterimanya hello messages pada standby router dan menyebabkan perubahan status pada standby router tidak akan mengganggu proses komunikasi data karena data diteruskan melalui active router. Ketika active router tidak menerima hello messages yang bisa dikarenakan matinya router, putusnya link, dan penyebab lainnya sehingga terjadi gangguan pada router maka status active router akan berubah menjadi init dan standby router berubah statusnya menjadi active router dan mengambil alih kerja active router sebelumnya. Ketika router yang berada pada kondisi init kembali menerima hello messages maka status router akan berubah menjadi standby router dan kembali mengirimkan hello messages. Konfigurasi akan dilakukan dengan menggunakan IOS command pada router-router yang menjadi IOS command sendiri merupakan bahasa pemrograman yang digunakan untuk mengkonfigurasi device-device jaringan. Pada langkah selanjutnya adalah mengkonfigurasi router yang berada di kantor pusat agar dapat terhubung dengan router yang berada di kantor cabang, untuk detail konfigurasi pada router3 . outer kantor pusa. adalah sebagai berikut : Setelah router primary (R. selesai di konfigurasi, selanjutnya lakukan hal yang sama pada router secondary (R. dengan konfigurasi yang sama tetapi dibedakan dalam pengalamatan IP addressnya sesuai yang telah dibagi pada tabel 1. Setelah melewati prosesAeproses berupa pengaktifan interface, pengalokasian IP dan pengkonfigurasian routing protocol berupa FHRP, maka jaringan yang semula belum aktif seperti ditunjuk- Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 kan pada gambar 7 akan menjadi aktif. Pada jaringan yang telah aktif ini, bulatanAebulatan merah yang semula berada pada jalur penghubung router, switch, dan host akan berubah menjadi bulatanAe bulatan hijau yang menandakan interface telah aktif dan konektivitasnya dengan interface pada device lain telah terbangun, seperti ditunjukkan pada Jaringan yang sudah aktif ini akan diujicoba untuk melihat unjuk kerja jaringan yang menggunakan routing protocol FHRP dengan pengujian berupa ping, traceroute, kemampuan akses NMS dan kemampuan fault tolerant. Gambar 9. Jaringan siap uji coba IMPLEMENTASI JARINGAN Untuk membuat jaringan infrastruktur FHRP, maka dibutuhkan peralatan seperti yang tertera di bawah ini : Komputer untuk kebutuhan pengguna layanan jaringan Router untuk jaringan backbone Switch untuk sambungan antara pengguna dan Router Adapun gambar dari jaringan fisik untuk jaringan ini dapat dilihat pada gambar 10. NMS AXA HQ. Kuningan City. Jakarta PE ISAT ISAT NEW VPRN ALI MAIN LINK PE ISAT ISAT C 2921 MS by ISAT Branch FHRP AXA DRC Jatiluhur. Purwakarta C 2921 MS by ISAT NEW VPRN ALI BACK UP LINK PE LA PE LA Gambar 10. Jaringan Fisik FHRP Gambar 10 di atas menunjukkan jaringan fisik yang dibangun berdasarkan jaringan logika yang ditunjukkan oleh Gambar 9 jaringan mempunyai topology ring yang artinya router tersebut dihubung kan satu sama lain tanpa harus berhubungan secara full mesh. Walaupun secara logika komputer pada masing- masing tempat secara logika berhubungan secara full mesh. Alokasi IP pada router dapat dilihat dari tabel 2. di bawah ini : Tabel 2. Alokasi IP pada kantor cabang Masing-masing pengguna menggunakan gateway yang sama dengan IP pada port Gigabit Ethernet router terdekat dengan pengguna itu sendiri. Pemberian IP gateway ini bertujuan untuk mengetahui alamat dari port selanjutnya yang akan dituju. Pengujian Analisa Jaringan FHRP Ujicoba Menggunakan GNS3 Ujicoba unjuk kerja jaringan dilakukan pada jaringan FastEthernet yang sudah dibangun dengan GNS3 yang menggunakan routing protocol FHRP. Ujicoba unjuk kerja akan dilakukan dengan menggunakan skenarioAeskenario yang didukung oleh GNS3 sebagai berikut : Tracert Ping Fault tolerant 2 Uji Coba Tracert Perintah tracert digunakan untuk mencari jalur yang akan dilalui paket data. Tracert menggunakan protokol ICMP (Internet Control Messaging Protoco. ICMP sendiri merupakan protocol yang digunakan jaringan berbasis IP untuk manajemen dan messaging antar device-device penyusun Cara kerja tracert adalah dengan mengirim kan ICMP messages yang disebut IP datagrams dengan parameter waktu yang disebut timeout. Nilai dari timeout ini akan terus meningkat seiring dengan jumlah hop yang dilakukan. Apabila yang dibutuhkan untuk mencapai alamat yang dituju ini melebihi timeout, maka alamat tersebut akan dinyatakan tak dapat dicapai . Jaringan yang akan diujicoba dengan perintah tracert sama seperti pada gambar 11 namun dimodifikasi dengan ditambahkan host berupa PC1. Parameter yang ingin diamati dari pengujian tracert ini adalah jumlah hop dan interface yang dilewati untuk mencapai alamat interface yang berada pada host tujuan. Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 Gambar 11. Jaringan untuk ujicoba dengan Pada pengujian ini perintah tracert diketikkan pada command prompt dari sebuah host, dengan format sebagai berikut: lamat IP tujua. Contoh tampilan hasil eksekusi perintah tracert yang diketikkan pada command prompt dari host PC1 ditunjukkan pada gambar 12, dimana diperlukan satu kali hop bagi primary router untuk menemukan alamat IP 100. Gambar 12. Tampilan hasil eksekusi perintah Untuk melihat perbandingan pencarian jalur tempat lewat dengan perintah tracert pada protokol FHRP, maka diambil sampel satu host yang akan melakukan tracert dan host tersebut adalah PC1. Host PC1 akan melakukan tracert ke router yang berada di AXA Tower. Jumlah hop dan interface yang dilalui oleh PC1 untuk mencapai host tujuan akan ditunjukkan pada gambar 13 berikut: Gambar 13. Tampilan trace route ke AXA Tower 2 Ujicoba Dengan Ping Ping merupakan kependekan dari Packet Internet Groper. Perintah ping digunakan untuk memeriksa ketersambungan sebuah interface pada suatu jaringan dengan cara mengirimkan paket data ICMP echo request kepada interface tersebut lalu menunggu balasan paket data yang disebut ICMP echo response. Apabila ICMP echo response diterima oleh interface pengirim perintah ping, maka interface yang dikirimi ping telah tersambung. Perintah ping akan menghasilkan parameter berupa round trip dan packet loss. Round trip merupakan lama perjalanan paket data ICMP echo request dari interface pengirim sampai interface tujuan yang diukur dalam millidetik, sementara packet loss merupakan persentase hilangnya paket data . acket los. , nilai packet loss 0% menandakan interface pengirim dan interface tujuan telah tersambung dengan baik. Pengujian ping dilakukan sebagai kelanjutan dari pengujian tracert, dimana pada pengujian tersebut hanya difokuskan untuk mengetahui jalur yang diambil untuk mencapai PC tujuan, dengan perintah ping jalur yang telah ditentukan maka konektivitas interface PC tujuan dapat Pengujian ping dilakukan dengan cara mengetikkan perintah ping pada command prompt dari host dengan format sebagai berikut: lamat IP tujua. Contoh hasil eksekusi perintah ping yang diketikkan pada command prompt dari host PC1 ditunjukkan pada gambar 15. Pada Gambar 15 dapat dilihat bahwa PC1 melakukan ping kealamat IP 1 dengan paket data sepanjang 32 bytes sebanyak 5 kali dan dari 5 kali pengiriman data, persentase hilangnya paket data . acket los. adalah sebesar 0%. Lamanya round trip adalah 46. 598 ms, seperti ditunjukkan pada gambar 14. Gambar 14. Hasil test ping ke AXA Tower Konektivitas yang baik dinyatakan dengan persentase packet loss sebesar 0%, yang berarti paket data ICMP request yang dikirim oleh sebuah host semuanya diterima oleh host tujuan. Uji konektivitas ini akan dilakukan untuk semua host yang ada sehingga dapat benarAebenar dipastikan bahwa jaringan yang dibangun dapat menghubung kan semua host. 3 Ujicoba Kemampuan Fault Tolerant Fault tolerant adalah kemampuan jaringan untuk mengatasi gangguan yang dialami saat jaringan tersebut beroperasi secara normal. Kemampuan ini diperlukan sebuah jaringan untuk tetap dapat melayani user sambil menunggu kerusakan yang terjadi diperbaiki. Uji coba fault tolerant akan dilaksanakan dengan skenario berikut Pertama akan diambil data dari ujicoba tracert yang telah dilakukan lebih awal, gunanya untuk mengetahui jalur yang akan dilalui oleh paket data IP datagrams. Setelah itu diadakan ujicoba tracert Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 secara normal untuk memverifikasi jalur yang dipilih untuk sampai ke tujuan. Lalu diadakan uji tracert dimana pada saat pengujian sedang berjalan, kabel yang menghubungkan router yang akan menjadi jalur dihilangkan sebelumnya hop-nya mencapai router tersebut. Hal ini akan membuat routing protocol harus membuat routing table baru karena jalur yang tadinya ada menjadi tidak ada. Skenario ini mensimulasikan kegagalan yang mungkin terjadi apabila kabel antar router backbone tanpa sengaja terputus atau tercabut dari port Fast Ethernet. Ilustrasi dari skenario ini dapat ditunjukkan pada Gambar 16, dimana kabel yang mengubungkan antara Router Primary ke AXA Tower terjadi gangguan . Gambar 17. Perpindahan Jalur Ke Secondary Link Sehubungan dengan adanya gangguan pada Router Primary pada Gambar 17 maka jalur akan otomatis berpindah ke router secondary. Kemudian akan ada notification pada R-Secondary sebagai Setelah jalur berpindah secara otomatis ke router secondary lakukan trace route pada PC1. Lalu jalur berubah melewati router secondary: Gambar 18. Trace Route Dalam Keadaan Fault / Ada Outage Ketika terjadi perubahan terjadi secara seamless atau tidak ada effect yang dialami oleh user karena perpindahan routing yang sangat cepat. Gambar 15. Ilustrasi kegagalan jaringan Skenario kegagalan untuk jaringan dengan protokol FHRP yang akan disimulasikan adalah sebagai berikut : Tracert dari PC user, lalu ditengah berjalannya proses tracert kabel antara Router Secondary dan Router AXA Tower dihilangkan. Tracert dari PC user, lalu ditengah berjalannya proses tracert kabel antara Router Primary dan Router AXA Tower dihilangkan. Perbandingan Kemampuan Fault Tolerant Pada FHRP Dari dua skenario kegagalan yang telah didefinisikan, rute alternatif yang dipilih protokol FHRP ditunjukkan pada Gambar 16. Gambar di bawah ini adalah trace route dalam keadaan normal ketika belum terjadi gangguan. Gambar 16. Trace route dalam keadaan normal Jika terjadi gangguan maka dari R-Primary akan muncul notification yang ditunjukan pada Gambar 1. 7 yang menunjukan bahwa jalur telah berpindah dari primary ke secondary router. Gambar 19. Hasil Test Ping Ketika Terjadi Fault/Outage 3 Implementasi Pada Internet Service Provider 1 Ujicoba Menggunakan Provider Indosat dan Lintasarta Ujicoba unjuk kerja jaringan dilakukan pada jaringan Fast Ethernet yang sudah dibangun dengan provider Indosat dan provider Lintasarta yang menggunakan routing protocol FHRP. Ujicoba unjuk kerja akan dilakukan dengan menggunakan skenarioAeskenario yang sebagai berikut : C Redaman fiber optic C Tracert C Ping C Latency C Fault tolerant 2 Pencarian Core Fiber Optic Yang Available Dikarenakan bandwidthnya yang besar, untuk link ini infrastrukturnya menggunakan full link fiber optic dalam pengaplikasiannya. Pengukuran fiber optic dilakukan antara ruang server pelanggan dan Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 node handhole terdekat yang dimiliki oleh PT Indosat dan PT Lintasarta yang dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Agustus 2017. Pelaksana pengukuran adalah team backbone Indosat dan backbone Lintasarta. Pengukuran fiber optic didampingi oleh PIC dari sisi pelanggan. Pengukuran yang dilakukan pada fiber optic bertujuan untuk mencari core available sesuai standard yang akan dipakai untuk mendelivered link. Berikut adalah hasil survey dan terminasi fiber optic yang dilakukan di sisi Indosat dan di ruang server pelanggan. Gambar 22. Rack di sisi pelanggan dan di sisi Gambar 20. OTB pada sisi pelanggan dan sisi Setelah dilakukan instalasi fiber optic pada server BTS dan server pelanggan langkah selanjutnya adalah melakukan pencarian core yang available dan sesuai standard yang telah ditentukan. Pengukuran yang dilakukan menggunakan optical power meter untuk mencari core dengan redaman yang paling sesuai. Gambar 21 adalah contoh ketika team melakukan pengukuran dalam mencari core ter baik yang akan digunakan. Langkah terakhir dari semua rangkaian kegiatan ini adalah installasi router di sisi pelanggan. Router yang sudah disiapkan untuk link primary dan secondary segera kita install dan uji performance router sebelum router digunakan. Device router dapat dilihat pada gambar 23. Gambar 23. Router pelanggan dan router Setelah semua fasilitas siap, link via provider Indosat dan provider Lintasarta siap digunakan dan diintegrasikan ke kantor pusat di AXA Tower. Gambar 21. Hasil pengukuran redaman fiber optic di kedua provider 3 Ujicoba Tracert Pada pengujian trace route kali ini trace route dilakukan dari sisi router provider yang mengarah ke AXA Tower. Parameter yang ingin diamati dari pengujian tracert ini adalah jumlah hop dan interface yang dilewati untuk mencapai alamat inter face yang berada pada host tujuan ketika jaringan Berikut hasil trace route yang didapatkan pada kedua provider Indosat pada Gambar 24. Pencarian core telah selesai dilakukan untuk langkah selanjutnya adalah survey rack perangkat di sisi provider dan pelanggan. Survey ini diperlukan untuk penempatan perangkat fiber optic dan router setelah semua infrastruktur tersedia. Gambar 24. Trace route pada provider Indosat Lakukan hal yang sama pada provider Lintasarta untuk mengetahui jumlah hop yang didapat Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 ketika melakukan trace route yang akan ditunjukan pada gambar 25. Gambar 25. Trace route pada provider Lintasarta Dikarenakan jumlah hop nya yang sedikit, maka provider Indosat dijadikan sebagai primary link dikarenakan jumlah hop nya yang lebih sedikit dengan asumsi latency yang semakin bagus juga. Gambar 26 menunjukan bahwa provider Indosat telah dipilih sebagai jalur primary. Gambar 26. Provider Lintasarta sebagai secondary link dengan state standby 4 Ujicoba Dengan Ping Setelah semua link selesai diintegrasikan dan sudah ditentukan router primary dan secondarynya untuk langkah selanjutnya adalah melakukan test ping dari masing-masing router menuju Router AXA Tower. Berikut adalah hasil test ping yang di lakukan dari router pelanggan yang menuju ke arah AXA Tower menggunakan provider Indosat: Gambar 28. Test ping menggunakan provider Lintasarta Jika dilihat dari test ping kedua provider, latency terbaik dimiliki oleh Indosat dengan latency 1/2/12ms berbanding dengan 1/2/24ms yang dimiliki oleh provider Lintasarta. Hal ini membuat pelanggan semakin yakin bahwa primary link diputuskan kepada provider Indosat. 5 Ujicoba Kemampuan Fault Tolerant Untuk scenario ujicoba menggunakan fault tolerant tidak dapat digunakan karena link yang sudah live dan digunakan oleh pelanggan. Mengacu pada percobaan fault tolerant yang dilakukan pada GNS3 hasil dari fault tolerant dapat dipastikan sama karena command yang dimasukkan sama. Untuk hasil yang yang didapat pada simulasi GNS3 perpindahan jalur antara router primary ke secondary adalah <1 detik. Hal ini sudah memenuhi SLA yang dijanjikan kepada pelanggan dengan avaibility 80% setiap bulannya atau setelah dikonversi dalam bentuk jam adalah 1 jam 38 menit maksimal downtime perbulannya. Sambil menunggu perbaikan link jika ada gangguan jaringan user masih bisa memakai jaringan karena masih ter-backup oleh 1 router virtual dan 1 router secondary dengan adanya fitur FHRP. Hasil perbandingan dari simulasi pada GNS3 dan implementasi dapat dilihat pada Tabel 3. Perbandingan GNS3 dan Implementasi Gambar 27. Test ping menggunakan provider Indosat Lakukan hal yang sama pada provider Lintasarta juga sebagai bentuk uji kelayakan jaringan yang sudah diimplementasikan. Pada gambar 28 adalah test ping yang dilakukan pada jaringan mengguna kan link provider Lintasarta SIMPULAN Dari pengujian dan analisis terhadap jaringan Fast Ethernet yang dibangun dengan software GNS3 dan diimplementasikan secara langsung pada branch AXA Jamsostek dapat dijelaskan sebagai berikut : Routing protocol FHRP di design agar tidak ter jadi single point of failure yang ada di kantor cabang agar business tetap berjalan meskipun sempat ada outage/downtime pada salah satu internet service Sainstech Vol. No. Juli 2019 ISSN : 1410 Ae 7104 . Dari pengujian availability/fault tolerant diketahui bahwa FHRP mempunyai kemampuan untuk mengantisipasi kegagalan yang terjadi pada jaringan primary dengan secara otomatis berpindah ke jaringan secondary tanpa user sadari (<1 secon. , di bawah standard failover maximum 60 second. Terdapat perbedaan jumlah hop . imulasi 1 hop dan implementasi Indosat 4 hop. Lintasarta 5 ho. hal tersebut disebabkan oleh karena perbedaan infrastruktur di setiap provider disamping itu tingginya latency pada simulasi GNS3 tergantung pada jenis device laptop/komputer yang digunakan saat GNS3 membutuhkan RAM yang besar yang ada pada device ketika digunakan. Pada sisi latency hasil yang didapatkan provider Indosat adalah 1/2/12ms lebih baik daripada provider Lintasarta yaitu 1/2/24ms. Dari hasil ujicoba kedua provider di atas hasil yang didapat sangat baik karena jauh di bawah standard latency yang ditentukan yaitu 60ms. Jaringan membutuhkan bandwidth yang sama antara link primary dan secondary dikarenakan fungsinya agar dapat saling mem-backup. Dengan hasil-hasil yang diperoleh telah dibuktikan bahwa routing protocol FHRP dapat memenuhi avaibility yang diharapkan oleh pelanggan. Harpreet Chadha. AyWant high availability in Metro Ethernet networks?Resiliency is keyAy. Diakses dari http://w. showArticle. jhtml?articleID=189400440 pada bulan Juni 2008. Iftekhar Hussain. AyFault Tolerant IP and MPLS NetworksAy. Cisco Press. Jim Guichard. Ivan Pepelnjak. AyMPLS and VPN ArchitecturesAy,Cisco Press. Martin P. Clark. AuData Networks. AuIP and the InternetAy. John Willey & Sons. DAFTAR PUSTAKA