Peran Pengetahuan Orang Tua dalam Tindakan Swamedikasi Demam Akut pada Anak Fauzia Endri Ariani,1 Husnia Auliyatul Umma,2 Dewinda Candrarukmi2 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Surakarta Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Surakarta Latar belakang. Demam adalah gejala umum pada anak-anak dan keputusan orang tua dalam merawat demam anak mereka dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan anak. Pengetahuan orang tua tentang tindakan swamedikasi untuk demam akut diidentifikasi sebagai faktor penting dalam pengambilan keputusan perawatan. Tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah menyelidiki hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan tindakan swamedikasi demam akut pada anak. Metode. Penelitian ini menggunakan dengan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling untuk memilih subjek penelitian dengan jumlah 58 orang. Data primer dikumpulkan dengan pengisian kuesioner oleh subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Analisis menggunakan univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan uji Regresi Logistik Berganda dengan perangkat lunak analisis statistik. Hasil. Terdapat 58 subjek untuk dianalisis terdapat korelasi antara tingkat pengetahuan orang tua dengan tindakan swamedikasi demam akut pada anak . =0,000. OR=24,583. IK95%=2,845-193,. Selain itu, terdapat faktor lain yang memiliki hubungan signifikan dengan tindakan swamedikasi yaitu pekerjaan orang tua pekerjaan orang tua . =0,018. OR=7,904. IK95%=1,435-43,. dan pendidikan orang tua . =0,028. OR=17,423 IK95%=1,360-223,. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan tindakan swamedikasi demam akut pada anak. Terdapat faktor lain yang memiliki hubungan dengan tindakan swamedikasi yaitu pekerjaan orang tua dan pendidikan orang tua. Sari Pediatri 27. :159-65 Kata kunci: demam, swamedikasi, tingkat pengetahuan The Role of Parental Knowledge in Self-Medication for Acute Fever in Children Fauzia Endri Ariani,1 Husnia Auliyatul Umma,2 Dewinda Candrarukmi2 Background. Fever is a common symptom in children, and parentsAo decisions in treating their childAos fever can impact the childAos health and well-being. Parental knowledge of self-medication measures for acute fever was identified as an important factor in treatment decision-making. Objective. The aim of this study was to investigate the relationship between parentsAo knowledge level and self-medication for acute fever in Methods. This study used an observational analytic research design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling to select research subjects, with a total of 58 people. Primary data was collected by having subjects who met the inclusion and exclusion criteria fill out questionnaires Analysis used univariate, bivariate with the chi-square test and the multivariate with Multiple Logistic Regression test using statistical analysis software. Result. There were 58 subjects to analyze, there was a correlation between the level of parental knowledge and self-medication for acute fever in children . =0. OR=24,583. CI95%=2. In addition, there are other factors that have a significant relationship with self-medication, namely parental occupation . =0. OR=7. CI95%=1. and parental education . =0. OR=17. CI95%=1. Conclusion. There is a relationship between the level of parental knowledge and self-medication for acute fever in children. There are other factors that have a relationship with self-medication, namely parental employment and parental education. Sari Pediatri 2025. :159-65 Keywords: fever, self-medication, level of knowledge Alamat korespondensi: Fauzia Endri Ariani. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Jalan Ir. Sutami 36A Kentingan. Jebres. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia. Email: fauziaendriariani@student. Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Fauzia Endri dkk: Peran pengetahuan orang tua dalam tindakan swamedikasi demam akut emam adalah gejala yang umum pada anakanak, terjadi ketika suhu tubuh meningkat di atas kisaran normal, yaitu 36,5-37,5AC. 2,3 Data dari World Health Organization pada tahun 2017 menunjukkan bahwa kejadian demam pada anak di bawah usia lima tahun di Indonesia masih tinggi, dengan proporsi anak yang mengalami demam dan mencari konseling atau pengobatan mencapai 89,8%. Demam pada anak biasanya ditangani pertama kali oleh orang tua melalui praktik swamedikasi sebelum mencari bantuan medis profesional. Swamedikasi ini dapat mengurangi beban fasilitas kesehatan dan membuat perawatan lebih terjangkau, tetapi jika dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai, dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak tepat, hasil pengobatan yang tidak memuaskan, efek samping yang tidak diinginkan, dan risiko resistensi antibiotik. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat antipiretik seperti parasetamol, ibuprofen, dan aspirin, serta antibiotik, sering kali menjadi pilihan dalam swamedikasi demam pada anak. Namun, perilaku penggunaan antibiotik yang tidak tepat masih umum Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penanganan demam dan penggunaan obat yang tepat menjadi faktor penting dalam praktik swamedikasi. 12,18 Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan orang tua tentang swamedikasi demam akut dan hubungannya dengan praktik pengobatan yang mereka lakukan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai pengetahuan orang tua, dapat dikembangkan strategi edukasi yang lebih efektif untuk mengelola demam pada anak secara aman dan efektif Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan JuliAeAgustus 2023 di wilayah kerja Puskesmas Jayengan. Metode purposive sampling digunakan untuk pengambilan sampel, di mana Sampel dipilih dari orang tua . bu atau aya. yang pernah berkunjung ke puskesmas tersebut. Kriteria inklusi mencakup orang tua . bu atau aya. yang memiliki anak usia 1-12 tahun, pernah mengalami gejala demam, dan bersedia mengisi Kriteria eksklusi mencakup responden yang berdomisili di luar wilayah Puskesmas Jayengan. Sebanyak 58 partisipan memenuhi kriteria dan bersedia terlibat dalam penelitian. Variabel dependen adalah tingkat pengetahuan orang tua dan tindakan swamedikasi demam akut, sedangkan variabel independen utamanya adalah tingkat pengetahuan orang tua. Variabel perancu yang diteliti meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan pengalaman swamedikasi orang tua. Pengambilan data primer dilakukan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat, dilanjutkan dengan analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji Regresi Logistik Berganda. Data dianggap bermakna jika nilai p<0,05. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS 26. 0 for Windows. Hubungan antar variabel dianggap signifikan apabila nilai p-value < 0,05. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan nomor registrasi. VII/HREC/2023. Hasil Sebanyak 58 orang tua yang memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi dalam penelitian ini. Karakteristik demografi dan praktik swamedikasi subjek penelitian tertera pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1, mayoritas partisipan adalah perempuan . ,4%) yang berusia dewasa . -44 tahu. ,6%). Sebagian besar partisipan memiliki tingkat pendidikan tinggi . ,9%), tidak bekerja . ,2%), dan berstatus ekonomi rendah . ,8%). Hampir semua partisipan . ,3%) memiliki pengalaman dalam melakukan swamedikasi untuk menangani demam anak Distribusi tingkat pengetahuan orang tua dan tindakan swamedikasi tertera pada Tabel 2. Sebanyak 36 orang tua . ,1%) memiliki pengetahuan yang baik tentang swamedikasi demam akut. Namun, dari segi tindakan, mayoritas orang tua . ,5% atau 38 oran. masih melakukan swamedikasi yang tidak tepat. Hasil uji chi-square (Tabel . menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan tindakan swamedikasi demam Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Fauzia Endri dkk: Peran pengetahuan orang tua dalam tindakan swamedikasi demam akut Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian Karakteristik Usia 19-44 tahun . 45-59 tahun (Pra-lanjut usi. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah anak Tingkat pendidikan Rendah Tinggi Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Status ekonomi Rendah Tinggi Pernah melakukan swamedikasi Tidak pernah Pernah Pengalaman sebagai alasan tindakan swamedikasi Tidak pernah Pernah Jenis tindakan swamedikasi Membawa anak ke dokter ketika demam > 3 hari Tidak Pengobatan ampuh demam dengan antibiotik Tidak Pemberian obat demam ketika suhu tubuh anak >38 AC Tidak Menghentikan pemberian obat setelah suhu tubuh anak sudah turun Tidak Sudah mengerti cara penyimpanan dan masa simpan obat tidak perlu membaca ulang pada kemasan Tidak Mengompres menggunakan air dingin dibandingkan air hangat Tidak Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Frekuensi . Fauzia Endri dkk: Peran pengetahuan orang tua dalam tindakan swamedikasi demam akut Karakteristik Frekuensi . Dosis obat anak separuh dari dosis obat untuk orang dewasa Tidak Pemberian parasetamol 3-4x sehari sampai obatnya habis Tidak Sebelum memberikan obat membaca dosis dan petunjuk penggunaan obat Tidak Obat yang menimbulkan efek samping dan dapat diatasi sendiri maka tidak harus dihentikan Tidak Tabel 2. Distribusi tingkat pengetahuan orang tua dan swamedikasi demam akut Kategori Frekuensi . Pengetahuan Kurang baik Baik Tindakan swamedikasi Tidak tepat Tepat Tabel 3. Uji chi-square hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan tindakan swamedikasi demam akut Tingkat Tindakan swamedikasi demam akut Total p-value IK . %) Pengetahuan Tidak tepat Tepat Kurang baik Baik 62,1 0,000 24,583 2,845-193,611 Total akut pada anak . =0,. Orang tua dengan tingkat pengetahuan yang baik memiliki peluang 24,583 kali lebih besar untuk melakukan tindakan swamedikasi yang tepat dibandingkan dengan orang tua yang berpengetahuan kurang baik (OR=24,583. IK95%=2,845-193,. Analisis bivariat terhadap variabel perancu (Tabel . menunjukkan bahwa pekerjaan . =0,. , pendidikan . =0,. , dan status ekonomi . =0,. memiliki hubungan yang signifikan dengan ketepatan tindakan Ketiga variabel ini, bersama dengan variabel pengetahuan, kemudian dimasukkan ke dalam analisis multivariat. Hasil analisis regresi logistik berganda (Tabel . membuktikan bahwa setelah dikontrol oleh variabel lain, pengetahuan, pekerjaan, dan pendidikan orang tua secara independen tetap berhubungan signifikan dengan tindakan swamedikasi yang tepat. Orang tua dengan pengetahuan yang baik memiliki peluang 24,583 kali . =0,. , orang tua yang bekerja memiliki peluang 7,904 kali . =0,. , dan orang tua dengan pendidikan tinggi memiliki peluang 17,423 kali . =0,. lebih Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Fauzia Endri dkk: Peran pengetahuan orang tua dalam tindakan swamedikasi demam akut Tabel 4. Uji chi-square variabel perancu dengan variabel terikat Variabel Tindakan swamedikasi demam akut Tidak tepat Tepat Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Total Pendidikan Rendah Tinggi Total Status ekonomi Rendah Tinggi Total Usia Dewasa Pra-lanjut usia Total Pengalaman Tidak pernah Pernah Total Total p-value 3,938 0,017 0,008 11,083 0,031 3,422 0,638 0,464 IK . %) 1,240-12,507 1,335-91,982 1,096-10,690 1,947 0,115-32,883 Tabel 5. Uji regresi logistik berganda hubungan tingkat pengetahuan, pekerjaan, pendidikan dan status ekonomi orang tua dengan tindakan swamedikasi demam akut pada anak Variabel Nilai B p-value IK . %) Pengetahuan 3,202 0,007 24,583 2,379-253,989 Pekerjaan 2,067 0,018 7,904 1,435-43,545 Pendidikan 2,858 0,028 17,423 1,360-223,179 Status ekonomi -0,167 0,839 0,846 0,169-4,229 besar untuk melakukan swamedikasi yang tepat. Variabel status ekonomi tidak lagi signifikan dalam model multivariat ini . =0,. Pembahasan Tingkat pengetahuan orang tua merupakan faktor penentu dalam ketepatan swamedikasi demam akut pada anak. Orang tua dengan pengetahuan baik cenderung melakukan swamedikasi yang tepat. Sebaliknya, pengetahuan yang kurang, berhubungan dengan tindakan yang tidak tepat. Temuan ini Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 didukung penelitian Nurliana dkk14 dan Jolie dkk9 yang menegaskan peran pengetahuan dalam swamedikasi. Dengan demikian, peningkatan pengetahuan orang tua menjadi kunci dalam pelaksanaan swamedikasi yang Pekerjaan orang tua memengaruhi ketepatan swamedikasi demam akut pada anak. Orang tua yang bekerja cenderung mengambil keputusan swamedikasi yang lebih tepat, sesuai dengan temuan Karatas dkk10 mengenai hubungan signifikan antara status pekerjaan dengan tindakan swamedikasi. Hal ini diduga terkait dengan waktu yang terbatas pada orang tua bekerja serta pengalaman profesional yang mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam penanganan masalah Fauzia Endri dkk: Peran pengetahuan orang tua dalam tindakan swamedikasi demam akut Secara teori, aktivitas bekerja dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman yang mendukung 7,16 Namun, temuan ini berbanding terbalik dengan penelitian Chusun dkk4 yang justru melaporkan tidak adanya hubungan antara pekerjaan dengan Pada penelitian tersebut, orang tua bekerja dianggap memiliki waktu terbatas untuk pengasuhan, sementara pendapatan yang lebih tinggi justru membuat mereka cenderung langsung membawa anak ke fasilitas Kesehatan. 16 Tingkat pendidikan orang tua terbukti memengaruhi ketepatan swamedikasi demam akut pada anak. Temuan ini sejalan dengan penelitian Haafizah dkk 5 mengenai swamedikasi diare pada Pendidikan yang lebih tinggi berimplikasi pada peningkatan pengetahuan dan perilaku kesehatan yang lebih rasional. Orang tua yang berpendidikan tinggi cenderung lebih hati-hati, logis dalam memilih obat, rutin membaca label, dan tidak mudah terpengaruh iklan dalam praktik swamedikasi. Status ekonomi orang tua memengaruhi pola swamedikasi pada anak, meskipun dengan motivasi yang berbeda. Pada kalangan berstatus ekonomi tinggi, swamedikasi cenderung lebih sering dilakukan dan terkadang disertai praktik tidak rasional seperti membeli obat berlebihan, menimbun, atau menggunakan obat tanpa resep. 19 Sebaliknya, pada kelompok berpendapatan rendah, swamedikasi justru dipilih sebagai alternatif pengobatan yang lebih hemat biaya. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Chusun dkk4 yang menyatakan bahwa status ekonomi . aik tinggi maupun renda. memang memengaruhi kebiasaan swamedikasi, meskipun tidak selalu menunjukkan hubungan yang linier dengan tingkat pendapatan. Dengan demikian, status ekonomi lebih mencerminkan perbedaan motivasi dan pola dalam praktik swamedikasi, bukan sekadar ada atau tidak adanya praktik tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa usia orang tua tidak berhubungan signifikan dengan ketepatan swamedikasi demam akut pada anak. Temuan ini sejalan dengan penelitian Luh11 pada swamedikasi diare, yang juga menunjukkan tidak adanya hubungan antara usia dan ketepatan pemilihan obat. Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan usia tidak secara otomatis menjamin pengetahuan yang lebih baik dalam praktik swamedikasi, sebagaimana dikemukakan oleh Fanillah8 dan Farida. 7 Penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara pengalaman orang tua dengan ketepatan swamedikasi demam akut pada anak. Swamedikasi yang mengandalkan pengalaman pribadi justru berisiko menyebabkan kesalahan diagnosis dan penanganan yang tidak tepat. 10 Temuan ini bertolak belakang dengan penelitian Fadilla dkk7 yang menyatakan pengalaman sebelumnya justru menjadi faktor penting dalam swamedikasi karena orang tua cenderung menggunakan kembali obat yang pernah berhasil diberikan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan dalam interpretasi Pertama, jumlah sampel yang relatif kecil dan penggunaan teknik purposive sampling pada satu Puskesmas membatasi generalisasi temuan. Kedua, desain cross-sectional yang digunakan tidak memungkinkan untuk menyimpulkan hubungan kausal antara variabel. Ketiga, data dikumpulkan menggunakan kuesioner self-reported yang berisiko bias ingatan dan kecenderungan memberikan jawaban yang diharapkan secara sosial. Meskipun demikian, temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berharga dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi swamedikasi demam akut pada anak. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan orang tua dan praktik swamedikasi demam akut. Orang tua dengan pengetahuan yang lebih baik cenderung melakukan swamedikasi yang lebih tepat dan efektif. Edukasi dan penyuluhan yang tepat di fasilitas kesehatan penting untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam menangani demam pada anak. Edukasi yang ditargetkan dapat membantu mengurangi risiko kesalahan dalam swamedikasi dan meningkatkan kesehatan anak secara keseluruhan. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi metode edukasi yang paling efektif dan untuk mengukur dampak jangka panjang dari peningkatan pengetahuan orang tua terhadap praktik swamedikasi. Ucapan terima kasih Peneliti ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada para dosen pembimbing dan penguji beserta seluruh staff departemen ilmu kesehatan anak dan Puskesmas Jayengan yang telah membantu dan membimbing Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Fauzia Endri dkk: Peran pengetahuan orang tua dalam tindakan swamedikasi demam akut dalam proses penyusunan dan pengumpulan data untuk penelitian ini. Daftar pustaka Aswad PA. Kharisma Y. Andriane Y. Respati T. Nurhayati Pengetahuan dan perilaku swamedikasi oleh ibu-ibu di Kelurahan Tamansari Kota Bandung. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains 2019 31. 1:107-13. Ayuningtyas G. Hasan M. Nuryudani A. Binti Mat S. Determinant factor of knowledge to fever management in preschool children in the Bambu Apus Area. Pamulang District. Jakarta. Indonesia. Malay J Med Health Sci 16(SUPP. :2636-9346. Carlson. Kurnia B. Tatalaksana demam pada anak. Fak Kedokteran. Univ Kristen Krida Wacana. Jakarta. Indones. CDK 2020. 47:698-702. Chusun C. Lestari NS. Gambaran pengetahuan masyarakat dalam pengobatan sendiri . untuk obat analgesik. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia 2020 24. 2:227-36. Haafizah Dania. Ihsan M. Relation of knowledge and level of education to the rationality of self-medication on childhood diarrhea on the Code River banks in Jogoyudan. Jetis. Yogyakarta. IOP conference series 2017 . 259:012015-5. Haris ImroAoatul Husna. Damaranie Dipahayu. Pengaruh pengetahuan masyarakat terhadap rasionalitas penggunaan analgesik oral non steroid anti-inflamatory drug golongan non selective COX-1 dan COX-2 Secara swamedikasi. J Pharm Sci 2. :24-9. Fadilla RF. Gayatri A. Pengetahuan orang tua dan faktor-faktor yang mempengaruhi dengan pola swamedikasi demam pada anak di DKI Jakarta. Generics J Res Pharm 2022. 2:113-8. Fanillah N. Farida F. Faktor determinan kepuasan kerja karyawan PT Sarana Scientifa Systemindo. Sosio e-Kons 15:212. Jolie F. Susanto DH. Risk factors associated with fever selfmedication in children in lubuk empelas village. Muara Enim District. South Sumatra Province. Jurnal Ukrida Medscientiae. 2:90-7. Karatas Y. Khan1 Z. Oz1 E. Sena E, ynzagil1 G. Bura Abussuutolu1 A, dkk. Pengobatan sendiri oleh orang tua dan faktor-faktor terkait pada anak-anak: studi cross-sectional Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 di Turki. Jurnal Penelitian Pelayanan Kesehatan Farmasi. XX:1Ae8. Luh L. Hubungan tingkat pendidikan dengan ketepatan pemilihan obat swamedikasi diare anak di apotek Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, tesis. Fakultas KedokteranUniversitas Brawijaya. Malang: 2017. Lingga HN. Intannia D. Rizaldi M. Perilaku penggunaan antibiotik pada masyarakat di wilayah Kabupaten Banjar. Pros Semin Lingkung Lahan Basah 2021. 6:2-6. Mandala MS. Inandha LV. Hanifah IR. Hubungan tingkat pendapatan dan pendidikan dengan perilaku masyarakat melakukan swamedikasi gastritis di Kelurahan Nunleu Kota Kupang. J Sains Kes 2022. 4:2407-6082. Nurliana L. Machron Chairulfakah. Agung Budiyanto. The relationship between parentsAo knowledge level and rationality of drug use in drug self-medication management in children with fever in Pulomerak Banten. J Industrial Eng Manag Res 4:53-61. Rafila R. Miyarso CS. Tingkat Pengetahuan swamedikasi dalam penanganan demam pada anak oleh Ibu di Rw 5 Dusun Sidoharum Sempor Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan 2019 . 14:8-11 Restiyono A. Analisis faktor yang berpengaruh dalam swamedikasi antibiotik pada ibu rumah tangga di Kelurahan Kajen Kebupaten Pekalongan. J Promosi Kesehat Indones 11:14. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Badan penelitian dan pengembangan kesehatan Kementerian RI tahun 2018. Diakses Februari 2023. Didapat dari: http://w. id/resources/download/infoterkini/materi_rakorpop_20 18/ Hasil Riskesdas 2018. Sudibyo DG. Anindra RP. Gihart Y El. NiAoazzah RA. Kharisma N. Pratiwi SC, dkk. Pengetahuan ibu dan cara penanganan demam pada anak. J Farm Komunitas 2020. 7:69. Utari D. Setiono W. Hubungan status ekonomi keluarga dengan perilaku pengobatan sendiri . elf-medicatio. Media Ilmu Kesehatan 2016. 5:7-13. WHO. Proportion of children under five years of age with fever for whom advice or treatment was sought [Interne. ited 2023 Maret . Didapat dari: https:// int/data/maternal-newborn-child-adolescent-ageing/ indicator-explorer-new/mca/proportion-of-children-under-fiveyears-of-age-with-fever-for-whom-advice-or-treatment-wassought