AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN : 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : dx. org/10. 35931/am. TAFSIR BI RAAoYI DI ERA KLASIK DAN MODERN Siska Maryana Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu siskamaryana@gmail. Heni Rumiatun Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu heni64608@gmail. Pirman Syah Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu pirmansyah31082000@gmail. Abstrak Sebagai pedoman al Quran harus dipahami secara benar dan tepat. Upaya untuk memahami al Quran telah dilakukan oleh umat manusia pada setiap zaman, terkhusus oleh setiap mufasir. Hal ini kemudian melahirkan metodologi tafsir al Quran yang terdiri dari berbagai jenis metode tafsir, mulai dari tafsir yang menggunakan metode penafsiran ada: metode ijmali ( metode globa. , metode tahlili . etode analisi. , metode muqarin . etode perbandinga. , metode maudhuAoi . etode temati. dan berdasarkan sumber pengetahuan ada dua yaitu tafsir bi al-maAotsur . afsir berdasarkan riwayat atau tek. dan tafsir bi raAoyi . afsir berdasarkan opini atau penafsiran pribad. Artikel ini membahas secara mendalam tentang tafsir bi raAoyi pada era klasik dan tafsir biAoraAoyi era modern. Pembahasan ini meliputi pengertian, tokoh-tokoh, kitakitab yang dihasilkan serta perpedaan dan persamaan pada penafsiran bi raAoyi era kalsik dan Untuk itu artikel ini menggunakan metode penelitian studi pustaka dengan pendekatan kualitatif. Tafsir klasik lebih terfokus pada kaidah-kaidah kebahasaan dan syariat secara fundamental, sementara tafsir modern berupaya lebih kontekstual dan relevan dengan isu-isu kontemporer, sembari tetap menjaga prinsip-prinsip dasar penafsiran dan nilai-nilai agama. Kata Kunci: Tafsir Bi RaAoyi. Klasik. Modern Abstract As a guide, the Quran must be understood correctly and accurately. Efforts to understand the Quran have been made by mankind in every era, especially by every exegete. This then gave rise to the methodology of Quranic exegesis, which consists of various types of exegesis methods, ranging from exegesis using the following methods: the ijmali method . lobal metho. , the tahlili method . nalytical metho. , the muqarin method . omparative metho. , the maudhu'i method . hematic metho. , and based on sources of knowledge, there are two types: tafsir bi al-ma'tsur . xegesis based on tradition or tex. and tafsir bi ra'yi . xegesis based on opinion or personal interpretatio. This article discusses in depth tafsir bi ra'yi in the classical era and tafsir bi'ra'yi in the modern era. The discussion covers the definition, figures, books produced, and the differences and similarities between tafsir bi ra'yi in the classical and modern eras. For this purpose, this article uses a literature study research method with a qualitative approach. Classical tafsir is more focused on fundamental linguistic and sharia principles, while modern tafsir strives to be more contextual and relevant to contemporary issues, while still upholding the basic principles of interpretation and religious values. Keywords: Tafsir Bi Ra'yi. Classical. Modern Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Al QurAoan merupakan mukjizat terbesar bagi umat islam yang bersifat abadi. Al QurAoan juga sebagai pedoman hidup manusia dari Allah, di dalamnya menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Dengan segala keistimewaan al QurAoan inilah dapat memecahkan berbagai persoalan-persoalan kemanusiaan di berbagai aspek kehidupan. al-QurAoan yang dijadikan landasan oleh manusia selalu relevan sepanjang zaman. Dengan demikian, al QurAoan bersifat aktual di setiap waktu dan tempat. Maka dengan keagungan dan kemuliaan al QurAoan inilah umat islam dapat menjadikannya segala pedoman dalam menjalani kehidupan serta mengetahui pesan-pesan yang dikandungnya. Peran mufassir sangatlah diperlukan dalam ilmu pemahaman dan penafsirannya yang benar pada ayat demi ayat al QurAoan. Sehingga mufassir dapat membantu menyampaikan maksud al QurAoan melalui penafsirannya yang benar kepada umat islam yang masih haus akan ilmu agama. Kemudian semakin majunya zaman maka penafsiran dari al QurAoan sendiri mengalami kemajuan, baik dari penafsirannya itu sendiri maupun dari bentuk penafsiran yang ada. Sehingga dalam penafsiran bi raAoyi era klasik dan modern tentu saja mengalami perkembangan juga Maka artikel ini membahas secara mendalam tentang tafsir bi raAoyi pada era klasik dan tafsir biAoraAoyi era modern yang meliputi pengertian, tokoh-tokoh, kita-kitab yang dihasilkan serta perpedaan dan persamaan pada penafsiran bi raAoyi era kalsik dan modern. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah library research . enelitian pustak. karena sasaran penulis ini adalah literature-literature yang berkaitan dengan objek penelitian, yaitu beberapa kitab-kitab tafsir yang menjelaskan tentang tema yang diangkat dalam penelitian ini. Karena jenis penelitian ini adalah library research, maka teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dengan metode dokumentasi literatur. Artinya data-data yang dijadikan rujukan penelitian diperoleh dari sumbersumber tertulis seperti buku, jurnal, kitab dan lain sebagainya. 1 Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah . ebagai lawannya adalah eksperime. yang mana penulis adalah sebagai kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trigulasi atau gabungan. Fadjrul Hakam Chozin. Cara Mudah Menulis Karya Ilmiah (TK: Alpha, 1. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Tafsir Bi RaAoyi RaAoyi secara etimologi yaitu keyakinan, analogi, dan ijtihad. Sedangkan secara terminology, tafsir bi raAoyi ialah tafsir yang di dalamnya menjelaskan maknanya atau maksudnya, dimana seorang mufassir hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, serta menarik kesimpulan yang dilandaskan pada logika. Dengan demikian dapat diambil garis besarnya bahwa tafsir bi RaAoyi yaitu menafsirkan al Quran melalui pemikiran trilogy ilmiah yang terbagi menjadi rasional, objektif . idak ada kepemihaka. , dan argumentatif . endapat yang didasari argumen yang kua. Tafsir bir raAoyi yang dilarang adalah yang berdasarkan hawa nafsu, karena ijtihad yang benar dan sesuai dalil itu diperbolehkan, karena para sahabat banyak menafsirkan ayat yang tidak ada pada masa nabi. Seputar mengenai tafsir bi raAoyi, dalam penerimaan penggunaan tafsir ini para ulama terbagi menjadi dua golongan pendapat, yaitu: Kelompok yang melarang. Ulama yang menolak menggunakan tafsir bi RaAoyi ini mengemukakan argumentasinya sebagai berikut:4 Menafsirkan al Quran berdasarkan raAoyi berarti membicarakan firman Allah tanpa dasar Sehingga hasil penafsirannya hanya bersifat perkiraan semata. Allah berfirman dalam QS. al Isra ayat 36: a a AyA AE E I eINa I eaeOUaEA AOA AEA AA OEe aA aEE aO ai A A E A a aE eCA AE aNn eEI I E eI OEe A AA I EeO A Artinya: Audan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Ay Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2. Syaikh Manna Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Alquran, trans. oleh Aunur Raafiq El-Mazni (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kausar, 2. Muhammad Shabrun Algifari. AuSelayang Pandang Tafsir Bi Al RaAoyi,Ay Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 3, no. , https://dx. org/10. 15575/jis. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Yang berhak menjelaskan al Quran adalah Nabi Muhammad saw, berdasarkan firman Allah QS. an Nahl ayat 44: a a A OE a OIeIe aEOA a AcO EaEIA AyA A I IaE aEeO aN eI OE E aN eI O AE aeO IA aEe OaaI a a e A AE E a eE Ea A Artinya: AuKeterangan-keterangan . dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkanAy. Sudah merupakan tradisi di kalangan sahabat dan para tabiAoin untuk berhati-hati dalam berbicara mengenai penafsiran al Quran. Kelompok yang memperbolehkan Mereka mengemukakan argumentasinya sebagai berikut:5 Di dalam al Quran banyak ditemukan ayat ayat yang menyerukan untuk mendalami kandungan-kandungan al Quran, seperti dalam firman Allah dalam QS. Muhammad ayat s AA aE O eO I Ee aC I eI EO CaEaOA AyA A Ce A aaEA a AA Artinya: AuMaka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?Ay Serta dalam QS. An-Nisa ayat 83: a AOa NI I aII eaEI aI aO eOA AA a eO aNna OE eO eONa a E E a eOaE Oa eE a aOE eaE eI a aIeI aN eIA e A a e e a A eAA AEEa EeO aE eI O eeaNn aE ea aI EeO I aaEA AEA a AaEA AOA AEA AOA AIA ANA AIA AIA ANA AIA AOA AIA AE Ea INa E aOe I O e e ae A a a e Ae a e e A ACEaeO UaE yA Artinya: Au. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya . kan dapa. mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amr. Ay Afrizal Nur. Muatan Aplikatif Tafsir Bi AlMaAotsur & Bi Al-RaAoyi (Yogyakarta: Kalimedia, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Berdasarkan ayat diatas, menurut mereka ayat pertama secara jelas menyeru untuk merenungkan dan memikirkan al Quran. Sedangkan pada ayat kedua bermaksud bahwa di dalam al-QurAoan terdapat maksud yang bisa ditangkap secara pemikiran akal dari hasil ijtihad bersama. Para sahabat sudah biasa berbeda argumen mengenai penafsiran suatu ayat karena mereka menafsirkan dengan raAoyinya. Mengenai hal tersebut, para ulama sepakat untuk membatasi dari penggunaan tafsir bil raAoyi ini, yaitu dapat diterima selama menghindari hal-hal berikut . Memaksakan diri mengetahui makna yang dikehendaki Allah pada suatu ayat, sedangkan ia tidak memenuhi syarat untuk itu . Mencoba menafsirkan ayat yang maknanya hanya diketahui Allah semata. Menafsirkan ayat dengan disertai hawa nafsu dna sikap subjekrifitas. Menafsirkan ayat untuk mendukung suatu mazhab yang salah dengan menjadikan faham mazhab tersebut sebagai dasar, serta penafsirannya mengikuti mazhab tersebut. Menafsirkan ayat dengan memastikan bahwa makna yang dimaksud Allah tanpa didukung dalil atau hujjah. Selama mufassir bil raAoyi dapat menghindari hal ini dengan disertai niat ikhlas karena Allah, maka penafsirannya dapat diterima dan pendapatnya dapat dikatakan Namun, sebaliknya jika tidak dapat menghindari kelima hal tersebut maka penafsirannya ditolak dan tidak dapat diterima karena menyimpang dari persyaratan yang telah disepakati. Syarat-Syarat Menjadi Mufassir Bi RaAoyi Seorang mufassir al Quran perlu memiliki kualifikasi atau syarat-syarat dan berbagai bidang ilmu pengetahuan secara mendalam untuk menjadi seorang mufassir yang diakui. Maka seorang mufassir harus memiliki kemampuan dalam segala bidang. Imam Al Suyuthi menyebutkan syarat-syarat dasar sebelum seseorang memulai tafsir al Quran, sebagai berikut: Pengetahuan bahasa Arab dan kaidah-kaidah bahasa. Ilmu Retorika, . lmu maAoani, al-bayan, dan al-badiAo. Ilmu Ushul fiqh, . Aoaam, mujmal, dan mufashsha. Ilmu asbab al-nuzul . atarbelakang dan hal-hal yang berkenaan dengan turunnya wahy. Ilmu nasikh dan mansukh. Ilmu Qiraah Al-QurAoan. Rosihon Anwar. Pengantar Ulumul QurAoan (Bandung: Pustaka Setia, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Ilmu al-mauhibah. Kriteria-kriteria diatas haruslah dipenuhi mufassir, agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam menafsirkan al Quran. Disamping keyakinan dan kemampuan ijtihad yang kuat, seorang mufasir yang menerapkan metode tafsir bi raAoyi harus memenuhi syarat-syarat terpuji berikut:8 Memiliki kapabilitas sebagai seorang mufasir dan berakhlak yang baik. Mesti mendasari penafsirannya dengan ilmu-ilmu asas. Menjauhi segala bentuk celah kesalahan dan kekeliruan dalam penafsiran yang telah digariskan ulama. Mendasarinya dengan disiplin ilmu Al-Quran. Mengosongkan motif penafsiran dari hawa nafsu, karena nafsi akan menutupi kebenaran Penafsiran tidak boleh bertentangan dengan ayat Al Quran. Penafsiran tidak boleh menyimpang dari kaidah bahasa. Penafsiran tidak boleh dipengaruhi dan didasari dengan pemikiran dan mazhab yang terlarang yang juga dianut oleh orang kafir. Tidak memastikan bahwa penafsiran bi ar-raAoyi-lah yang menjadi maksud yang dituju dari pemahaman ayat tersebut. Menyampaikan pendapat tersebut dengan penuh tawaduk. Selama mufassir bi al raAoyi memenuhi persyaratan dan menjauhi keenam hal tersebut, dibarengi pula dengan niat dan tujuan yang ikhlas karena Allah, maka penafsirannya dapat diterima dan pendapatnya dikatakan rasional. Namun bila ia tidak memenuhi kriteria di atas berarti ia telah menyimpang dan oleh karena itu penafsirannya ditolak. Di samping persyaratan di atas, tafsir bi al raAoyi juga harus sesuai dengan tujuan syaraAo, jauh dari kesesatan dan kebodohan, serta bersandar pada sesuatu yang wajib dijadikan sandaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh as-Suyuthi bahwa sandaran yang harus dipedomani tersebut Periwayatan dari Rasullullah, berpegang pada hadis-hadis yang bersumber dari Rasullullah saw, dengan ketentuan ia harus waspada terhadap riwayat yag dhaif . dan maudhuAo . Perkataan sahabat, berpegang pada ucapan sahabat Nabi, karena yang mereka ucapkan menurut peristilahan hadis, hukumnya mutlak marfuAo . hahih atau hasa. , khususnya yang berkaitan dengan asbab an nuzul dan hal-hal yang tidak dapat dicampuri oleh raAoyu. Kusnadi dan Raidatun Nisa. AuEksistensi Tafsir Bil RaAoyi,Ay Al Mubarak : Jurnal Kajian Al-Quran & Tafsir Vol 7, no. , https://doi. org/10. 47435/al-mubarak. Nur. Muatan Aplikatif Tafsir Bi AlMaAotsur & Bi Al-RaAoyi. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Berpegang pada kaidah bahasa Arab, dan harus senantiasa berhati-hati untuk tidak menafsirkan ayat-ayat yang meyimpang dari makna lafadz yang semestinya. Mengambil berdasarkan ucapan yang populer di kalangan orang Arab serta sesuai dengan ketentuan syara. Dari uraian di atas terlihat jelas kompleksnya kualifikasi yang harus dimiliki oleh para mufassir bi al-RaAoyi, sehingga bisa dikatakan bahwa mereka harus memiliki nilai lebih dari mufassir biasa, karena selain harus memiliki keahlian di bidang ilmu tafsir mereka juga harus memiliki daya nalar yang tinggi. Tafsir Bi Ra'yi Era Klasik Setelah Rasulullah saw wafat, estafet kepemimpinan Islam digantikan oleh khulafa' alrasyidin . halifah-khalifah yang mendapat petunju. , yaitu Abu Bakar as-Shidiq. Umar bin khattab. Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib. Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib, muncul berbagai macam konflik internal diantaranya konflik dengan Aisyah dalam perang Jamal dan konflik perebutan kekuasaan dengan MuAoawiyah bin Abi sufyan, yang selanjutnya kepemimpinan diambil alih oleh MuAoawiyah yang menjadi awal kekuasaan Daulah Umayyah. Gerakan oposisi yang dilakukan oleh kaum SyiAoah yang menuntut balas terhadap perlakuan MuAoawiyah terhadap Ali bin Abi Talib yang bekerja sama dengan Ali bin Abdullah . ucu Abbas bin Abd al-Mutali. ditambah dengan rasa ketidakpuasan rakyat Persia terhadap khalifah daulah Umayyah menjadi faktor kehancuran daulah Umayyah, yang selanjutnya tampuk kepemimpinan diambil alih oleh Abu Abbas al-Safah yang menjadi cikal bakal lahirnya Daulah Abbasiyah. Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah inilah merupakan representasi dari kejayaan Islam klasik, dimana pada masa ini, ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang pesat melalui tiga pengembangan ilmu yaitu diskusi ilmiah, penerjemahan buku-buku secara besarbesaran kedalam bahasa Arab dan didirikannya perpustakaan. Pengembangan ilmu tersebut meliputi berbagai macam cabang ilmu, termasuk juga diantaranya ilmu tafsir. Tafsir pada masa ini mengalami perkembangan yang pesat, dimana pada masa ini dilakukan pemisahan antara tafsir al Quran dengan hadith. Diceritakan bahwa Umar bin Bukair telah meminta Al-FarraAo untuk membuat sebuah buku yang berisikan keterangan mengenai ayat-ayat al Quran, yang akan menjadi bahan rujukan apabila ditanya oleh Amir al-Hasan bin Sahl jika ada masalah. Al-FarraAo menyetujui permintaan tersebut dan meminta seorang muazin di sebuah masjid yang menghafal Al-qurAoan untuk membaca surah demi surah dan Al-FarraAo menafsirkan ayat-ayatnya sampai Muhammad Arsad Nasution. AuPendeatan dalam Tasir (Tafsir bi al matsur, tafsir bi al raAoyi, tafsir bi al isyar. ,Ay Yurisprudentia vol 4, no. Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2. Syamruddin Nasution. Sejarah Peradaban Islam (Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau, 2. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern selesai keseluruhan ayat al Quran. Tafsir karya Al-FarraAo inilah yang merupakan tafsir yang pertama kali tersusun menurut susunan ayat-ayat al Quran dan sebagai perintis jalan kepada para mufassir setelahnya. Penafsiran al Quran sudah berlangsung pada masa Rasulullah saw, meskipun dalam skala yang terbatas karena al Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab yang dimengerti oleh masyarakat Arab waktu itu, dan setiap ada problem yang terjadi di masyarakat dapat ditanyakan langsung kepada Rasulullah. Pada masa sahabat, penafsiran al Quran masih didominasi oleh tafsir bi al-maAothur . yang kental dengan nalar bayani. Dan penafsirannya masih bersifat parsial serta kurang mendetail sehingga sulit untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pandangan al Quran terhadap suatu masalah tertentu. Pada periode klasik tafsir bi raAoyi umumnya dimulai sejak masa pembukuan dan kodifikasi ilmu tafsir secara mandiri. Ini terjadi setelah periode Nabi Muhammad SAW. Sahabat, dan Tabi'in, di mana tafsir masih bersifat lisan atau tercampur dengan riwayat hadis. Era klasik mencapai puncaknya hingga abad ke 7 atau ke 8 H sekitar abad ke 13 atau ke14 M. Penafsiran al Quran mengalami perubahan yang berbeda baik ditinjau daru sumber, metode ataupun isi Adapun karakteristik tafsir periode klasik yaitu yang ditinjau dari sumber penafsiran terbagi menjadi dua yaitu Tafsir bi al-maAothur dan bi al-raAoyi. Namun disini kami hanya membahas tentang tafsir bi al raAoyi. Tafsir bil ra'yi berarti menafsirkan al Quran dengan ijtihad setelah mufassir memahami bahasa Arab, menguasai makna-maknanya. sehingga dalam penafsiranya konsep raAoyu yang digunakan dalam memahami ayat al Quran harus didasarkan dengan adanya ilmu pengetahuan. Sesungguhnya barang siapa yang berkata tentang al Quran dengan pendapatnya sendiri, sungguh ia telah membebani dirinya dengan suatu yang tidak diketahuinya dan menempuh jalan yang tidak diperintahkan. Tafsir bil raAoyi dibagi dalam dua kategori, tafsir yang terpuji . dan tafsir yang tercela . Penjelasannya ialah sebagai beriku: Tafsir bil raAoyi al Mahmudah (Terpuj. Tafsir yang terpuji ialah tafsir al Quran yang didasarkan dari ijtihad yang jauh dari kebodohan dan penyimpangan. Selain itu tafsir ini tergantung pada metodologi yang tepat dalam memahami al Quran. Barangsiapa yang menafsirkan al Quran berdasarkan pikirannya, dengan memenuhi persyaratan dan berdasarkan kepada makna-makna al Quran, penafsiran seperti ini diperbolehkan dan dapat diterima. Tafsir semacam ini selayaknya disebut tafsir yang terpuji atau yang sah. Fahrur Rozi. AuTafsir Klasik: Analisis Terhadap Kitab Tafsir Era Klasik,Ay Jurnal: KACA Vol 9, no. Rozi. Wely Dozan. AuEpistemologi Tafsir Klasik: Studi Analisis Pemikiran Ibnu Katsir,Ay Jurnal: Falasifa Vol 10, no. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Tafsir bil raAoyi al Mahmudah memiliki beberapa syarat, antara lain sebagi berikut: Ijtihad yang dilalkukan tidak keluar dari nilai-nilai al Quran dan As Sunnah Tidak berseberangan penafsirannya dengan penafsiran bil maAotsur Seorang mufassir harus menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir dan perangkatperangkatnya. Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan jenis ini diantaranya adalah Tafsir al Qurtubi. Tafsir Jalalain dan Tafsir Al Baidhawi. Sebagai contoh adalah dalam menafsirkan kata AuAl-QalamAy yang terdapat dalam Q. S Al-Alaq ayat 4 dan Q. S Al-Qalam ayat 2. Para mufassir sepakat mengartikan kata AuAl-QalamAy sebagai AuPenaAy. Penafsiran demikian tentunya tidaklah salah, mengingat yang dikenal dahulu adalah pena. Tetapi untuk menafsirkan kata Auqalamun atau al-qalamAy dengan alat-alat tulis yang lain, seperti sekarang pensil, pena, spidol, mesin tik, komputer atau bisa juga laptop . etika digunakan untuk menulis atau mengetik penafsiran lain ini tidak juga salah, karena mengingat arti dari pena sendiri adalah sebagai alat untuk menulis. Pada zaman dahulu menggunakan pena atau spidol, pada zaman kini sudah bisa menggunakan mesin tik atau komputer untuk menulis. Jadi lebih tepat memang jika menafsirkan kata al-qalam dengan alat-alat tulis yang menggambarkan kemajuan dan keluasan wawasan alquran tentang ilmu pengetahuan dan teknologi daripada sekedar mengartikannya dengan pena yang bisa jadi hanya menyimbolkan kesederhanaan dunia tulis-menulis di saat-saat alquran mengalami proses penurunannya. Jika pengertian pena untuk kata qalamun/al-qalam ini masih tetap dipertahankan hingga sekarang, maka seolah-olah hanya menggambarkan keterbatasan dan kejumudan dunia tulis menulis yang pada akhirnya menunjukkan kebekuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Tafsir bil raAoyi al Madzmumah (Tercel. Tafsir yang tercela ialah tafsir al Quran tanpa didasari dengan pengetahuan yang Jadi, tafsir ini hanya didasarkan kepada keinginan seseorang dengan mengabaikan peraturan dan persyaratan tata bahasa serta kaidah-kaidah hukum islam. Selain itu penjelasan dari kalamullah atas dasar pikiran atau aliran yang sesat dan penuh dengan bidAoah atau inovasi yang menyimpang karena bertumpu pada penafsiran makna dengan pemahamannya sendiri dan istinbath . engambilan huku. hanya menggunakan akal atau logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Adapun sumber-sumber utama dari tafsir yang tercela ini, seperti yang disebutkan oleh Al-Zarkasyi terdapat empat sumber utamanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Thameem Ushama dalam bukunya Metodologi Tafsir al-QurAoan, yaitu: Thameem Ushama. Metodologi Tafsir Al-QurAoan (Jakarta: Riora Cipta, 2. Sri Indah Triani. AuMemahami Pesan Al-QurAoan dalam Pnedekatan Tafsir Bil RaAoyi,Ay Jurnal: AlAkhbar Vol 8, no. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Cerita tentang rasul, meskipun cerita tersebut lemah dan palsu Kecenderungan kepada perkataan para sahabat Kecenderungan kepada bahasa, karena al-QurAoan diturunkan dalam bahasa Arab Menganggap fenomena-fenomena itu sesuai dengan pemahaman orang-orang Arab. Contoh penafsiran bi ar-raAoyi al mazmum: Ayat Al-Quran yang jika ditafsirkan oleh orang yang bodoh akan menjadi rusak maksudnya. Firman Allah SWT dalam Q. Al-Isra : 72 AyA AE aeO UaEA AOI eI E I eaA n ea eIO A aN O aA eaE aa eIO O A Artinya: AuBarang siapa yang buta . di dunia ini, niscaya di akhirat . ia akan lebih buta . dan lebih tersesat dari jalan yang benar. Ay Ia menetapkan bahwa setiap orang yang buta adalah celaka dan rugi serta akan masuk neraka jahanam. Padahal yang dimasud dengan buta di sini bukan mata, tetapi buta hati berdasarkan alasan firman Allah dalam Q. S Al-Hajj: 46 aA A aEO I aEI CaEaO O aCEaO I aae O I OIO I aa o AA AA aA AaEA AOA AIA AaEA AacIA Ae e A Ae ae A e AAE eI O aeOeO aA eaEe a e ae e e e A A E ea aA EA a eOaA a AOEE eI e IO Ee aCEa eOA Artinya: AuAAKarena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati dalam dada. Ay Beberapa kitab dan tokoh tafsir bi ra'yi pada era modern antara lain sebagai berikut: Kitab Tafsir al-Jalalain karya Jalaluddin Muhammad Al-Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi. Kitab Tafsir Al-Baidhawi karya Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Ali al-Baidhawi. Kitab Tafsir Al-Fakhrur Razy karya Imam Fakhruddin Razi atau biasa dikenal dengan sultan al-mutakallimin. Kitab Tafsir Abu Suud ditulis oleh Abu Suud Al-Imadi. Kitab Tafsir An-Nasafy karya Abdullah bin Ahmad bin Mahmud an-nasafy. Kitab Tafsir Al-Khatib karya Abd Al-Hamid ibn Ahmad al-Khatib Ibn Abd Al-Latif alMinangkabawi al-Makki. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Kitab Tafsir Al-Khazin ditulis oleh khazin. Tafsir Bi Ra'yi Era Modern Periode tafsir modern umumnya dimulai sekitar abad 12 H sekitar abad ke-19 Masehi. hingga sekarang, dilatarbelakangi oleh tuntutan pembaharuan pemikiran Islam atau semakin majunya ilmu-ilmu keislaman18 dan relevansi al Quran dengan tantangan zaman. Era modern dalam tafsir, yang sering disebut juga era pembaharuan atau kontemporer, muncul sebagai respons terhadap tantangan pemikiran modern dan kolonialisme Barat. Ini mendorong para pemikir untuk mencari solusi dan kebangkitan kembali melalui Al-Qur'an. Perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat Barat memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang menuntut jawaban dari perspektif Islam. Hal ini memicu upaya untuk menafsirkan Al-Qur'an secara ilmiah atau selaras dengan penalaran modern. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh yang wafat pada tahun 1905 M dengan karyanya Tafsir Al-Manar sering dianggap sebagai pelopor utama tafsir Pemikiran dan metodenya menjadi tonggak penting perubahan. Kemudian fokus pada relevansi Al-Qur'an dengan realitas kontemporer pada era ini para mufasir berusaha menjawab isu-isu sosial, politik, ilmiah, dan peradaban modern melalui Al-Qur'an. Tafsir tidak hanya terbatas pada masalah akidah dan fikih, tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk kemajuan umat dengan adanya penekanan pada aspek sosial dan kemasyarakatan . l-tafsir al-ijtima'. Untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, tafsir pada era modern disajikan dengan gaya bahasa yang lebih sederhana dan populer sehingga lebih mudah dipahami. Selain itu ada upaya untuk membersihkan tafsir dari kisah-kisah Israiliyyat yang tidak sahih dan menyerukan ijtihad kembali. Sehingga pada era modern ini dapat terlihat perubahan signifikan dalam pendekatan, metodologi, dan tujuan tafsir yang menjadi penanda transisi dari era klasik ke era modern. Ciri-ciri tafsir bi ra'yi modern meliputi: Pendekatan Tematik (Maudhu'. : Munculnya metode tafsir tematik yang berupaya mengkaji Al-Qur'an secara menyeluruh mengenai suatu masalah, bukan hanya per ayat. Mufasir mengumpulkan semua ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan satu topik tertentu, lalu menganalisisnya, metode ini menjadi populer di era modern. Pendekatan Ilmiah dan Kontekstual: Mufasir modern berusaha menyelaraskan ayat-ayat AlQur'an dengan teori-teori ilmiah atau aspek metafisika alam, serta mengaitkan penafsiran Agus Rifky Ridwan. Azzah Ulia Rona, dan Indri Julianti. AuKlasifikasi Tafsir Berdasarkan Sumber . Tafsir Bir RaAoyi Definisi. Contoh Kitab dan Contoh Penafsiran,Ay Stasi Vol 2, no. https://doi. org/10. 1234/sell. Ridwan. Rona, dan Julianti. Fauzan Azima dan Syabuddin. AuSignifikasi Tafsir Bil RaAoyi di Era Modern,Ay Stasi SELL : Social. Education. Learning And Language Vol 2, no. , https://doi. org/10. 1234/sell. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern dengan isu-isu dan problem kemanusiaan kontemporer. Mereka mencoba untuk menafsirkan Al-Qur'an agar relevan dengan tuntutan kehidupan modern. Pemurnian dari Israiliyyat dan Hadis Lemah: Ada upaya kuat untuk membersihkan tafsir dari pengaruh Israiliyyat . isah-kisah dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang masuk ke dalam tafsi. yang seringkali tidak relevan atau bertentangan dengan semangat Islam dan hadis-hadis yang tidak kuat sanadnya diganti dengan menggunakan hadis yang sahih. Menekankan Aspek Sosial dan Kemasyarakatan: Tafsir modern cenderung lebih berorientasi pada penyelesaian masalah-masalah sosial dan kemasyarakatan dengan petunjuk Al-Qur'an. Gaya Bahasa yang Mudah Dimengerti: Penafsiran disampaikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum, lebih sederhana dan komunikatif namun tetap indah dan lugas. Memadukan Tradisi dan Modernitas: Beberapa tafsir modern mencoba memadukan pendekatan bil ma'tsur dan bi ra'yi, seperti yang disebut shahih al-manqul wa sharih al-ma'qul . enggunakan riwayat yang benar dan nalar yang bagu. Meskipun disebut tafsir bi ra'yi, mufasir modern tetap menghargai dan menggunakan riwayat ma'tsur yang sahih sebagai Namun, para mufasir tidak terjebak pada taklid dan tetap membuka ruang bagi ijtihad tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar agama. Beberapa kitab dan tokoh tafsir bi ra'yi pada era modern antara lain sebagai berikut: Kitab Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh . dan Rasyid Ridha . 1935 M). Sebagai pelopor tafsir era modern, corak yang disajikan dalam kitab ini menekankan pada tujuan sosial, kemasyarakatan, dan pembaharuan. 21 Mengkritik taklid. Israiliyyat, dan Mereka berupaya menjawab tantangan peradaban modern dengan semangat AlQur'an. Muhammad Abduh menulis sebagian besar kitab tafsir ini yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya yaitu Rasyid Ridha. Kitab Tafsir Al-Tahrir wa al-Tanwir karya Syekh Muhammad Tahir Ibn 'Asyur . 1973 M) Kitab tafsir ini merupakan karya yang sangat komprehensif, yakni memadukan aspek kebahasaan yang mendalam . eperti Az-Zamakhsyar. , fikih, dan hikmah syariat, namun dengan semangat modernitas. Syekh Muhammad Tahir Ibn 'Asyur dikenal sebagai salah satu ulama Azhar yang paling cemerlang di abad ke-20. Azima dan Syabuddin. Subhan. AuEksistensi Tafsir Al-Manar Sebagai Tafsir Modern,Ay Al-Din : Jurnal Dakwah dan Sosial Keagamaan Vol 4, no. , https://10. 35673/ajdsk. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Kitab Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an karya Sayyid Qutb . 1966 M) Penafsirannya Sayyid Qutb menekankan pada aspek haraki atau gerakan dan i'jazi atau kemukjizatan Al-Qur'an, serta urgensi penerapan syariat dalam kehidupan. 22 Kitab tafsir ini memiliki nuansa dakwah dan kebangkitan umat. Kitab Tafsir Al-Azhar karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih sering dikenal dengan nama Hamka . 1981 M) Kitab ini merupakan salah satu tafsir bi ra'yi modern paling populer di Indonesia. Yang menekankan aspek akhlak, sosial, dan sejarah . l adabi ijtimaAo. 23 Selain itu tafsir ini disajikan dengan gaya bahasa yang indah dan mudah dipahami, sehingga sangat relevan dengan konteks keindonesiaan. Kitab Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab (Lahir 1944 M) Salah satu tafsir kontemporer di Indonesia yang mencoba memadukan kekayaan tafsir klasik dengan kebutuhan modern dan menggunakan corak budaya kemasyarakatan serta bahasa atau lughawi. 24 Menekankan pada konteks, kemukjizatan Al-Qur'an dan relevansi dengan berbagai disiplin ilmu. Kitab Tafsir Al Furqan karyaSayyid Ahmad Khan . 1905 H). Kitab tafsir ini berusaha untuk menyelaraskan pemahaman Al-QurAoan dengan fenomena alam dan berbagai disiplin ilmu, termasuk sains modern yaitu mengaitkan ayat-ayat Al-QurAoan dengan temuan-temuan ilmiah. Perbedaan Tafsir Bi RaAoyi Era Klasik dan Modern Perbedaan antara tafsir bi ra'yi di era klasik dan modern dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari konteks historis, tujuan, metodologi, hingga fokus penafsirannya. Berikut adalah perbandingan dari kedua era ini: Periode Waktu dan Latar Belakang Klasik: Periode ini umumnya dimulai dari abad ke-3 H hingga abad ke-7 atau ke-8 H atau sekitar abad ke-9 Masehi sampai abad ke-13 atau ke-14 Masehi. Dilatar belakangi oleh perkembangan pesat berbagai disiplin ilmu Islam . ikih, kalam, filsafat, bahas. , kodifikasi ilmu tafsir, serta kebutuhan untuk mengisi kekosongan riwayat ma'tsur dan menjelaskan kompleksitas bahasa Al-Qur'an. Mutia Lestari dan Susanti Vera. AuMetodologi Tafsir Fi Zhilal al-QurAoan Sayyid Qutb,Ay Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 1, no. , https://doi. org/10. 15575/jis. Syaripah Aini. AuStudi Corak Adabi IjtimaAoi Dalam Tafsir Al-Azhar Karya Hamka,Ay Al-Kauniyah Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, no. , https://doi. org/10. 56874/alkauniyah. Yusuf Budiana. AuKekhasan Manhaj Tafsir Al- Misbah Karya M. Quraish Shihab,Ay Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 1, no. , https://doi. org/10. 15575/jis. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Modern: Sedangkan periode modern umumnya dari abad ke-13 H atau sekitar abad ke19 Masehi hingga sekarang. Penafsiran bi raAoyi pada masa ini disebabkan oleh kemunduran peradaban Islam, dominasi kolonialisme Barat, munculnya gerakan pembaharuan . , pengaruh sains dan rasionalisme Barat, serta kebutuhan untuk merelevansikan Al-Qur'an dengan tantangan sosial dan politik kontemporer. Tujuan Utama Penafsiran Klasik: Penafsiran era klasik lebih berorientasi pada penjelasan makna bahasa, hukum syariat, akidah, dan retorika Al-Qur'an secara rinci berdasarkan disiplin ilmu yang digeluti Tujuannya adalah untuk memahami teks secara mendalam sesuai dengan kaidah keilmuan yang ada saat itu. Terfokus untuk memperdalam pemahaman teks Al-Qur'an dari sudut pandang ahli fikih, ahli kalam, ahli bahasa, dan lain-lain. Modern: Pada era modern ini penafsiran lebih berorientasi pada pembaharuan pemikiran Islam, membangkitkan umat dari keterpurukan, menunjukkan relevansi Al-Qur'an untuk setiap zaman dan tempat . halih li kulli zaman wa maka. , serta mencari solusi atas problem-problem kemanusiaan dan sosial kontemporer yang dihadapi zaman tersebut. 25 Selain itu juga berupaya menerapkan nilai-nilai Al-Qur'an pada realitas kehidupan, mencari petunjuk bagi kemajuan peradaban dan membersihkan Islam dari pemahaman yang kaku atau salah. Metodologi dan Pendekatan Klasik: Metode penafsiran yang digunakan pada umumnya adalah metode tahlili . perayat atau bagian, di mana mufasir membahas setiap ayat secara berurutan dalam mushaf, menjelaskan aspek bahasa, hukum, dan pandangan ulama terdahulu. Pendekatan yang digunakan cenderung linier dan detail, dengan fokus pada tafsir bil ma'tsur sebagai dasar, lalu dilengkapi dengan ra'yi yang ketat. Pembahasan seringkali melibatkan debat antar mazhab. Modern: Pada era modern penafsiran populer dengan metode maudhu'i . , di mana mufasir mengumpulkan ayat-ayat dari berbagai surah yang membahas satu topik tertentu, lalu menganalisisnya secara komprehensif. Metode tahlili tetap ada dan digunakan, namun seringkali dengan pendekatan baru. Sealin itu pendekatan yang dipakai lebih bersifat holistik, kontekstual, dan terkadang interdisipliner atau mengaitkan dengan sains, filsafat. Ada upaya untuk memadukan riwayat bi ma'tsur yang sahih dengan bi ra'yi yang rasional . hahih al-manqul wa sharih al-ma'qu. Corak dan Orientasi Klasik: Corak penafsiran beragam dan spesifik sesuai disiplin ilmu mufasir seperti tafsir fikih . , tafsir kalam . , tafsir lughawi . , tafsir sufi . , dan lain Faisal Amir Toedin dan Alwizar. AuTasir Bi Al-MaAotsur. Tafsir Bil Al-RaAoyi. Tafsir Bil AlIsyari,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai Vol 8, no. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern Era klasik lebih berorientasi ke dalam yaitu internal disiplin ilmu keislaman, memperkaya khazanah keilmuan Islam dari berbagai sudut pandang. Modern: Sedangkan era modern penafsiran dominan bercorak sosial . , ilmiah . , dan haraki . erakan/aks. Masa modern lebih berorientasi ke luar yakni menghadapi tantangan eksternal, menjadikan Al-Qur'an sebagai solusi praktis untuk masalah-masalah Sikap terhadap Israiliyyat dan Taklid Klasik: Sebagian mufasir klasik masih memasukkan Israiliyyat, meskipun ada yang selektif dan mengkritik. Namun, belum ada gerakan sistematis untuk membersihkannya secara Kemudian adanya pembatasan ijtihad di akhir periode klasik, yang menyebabkan kecenderungan taklid pada madzhab tertentu. Modern: Terdapat gerakan kuat dan sistematis untuk membersihkan tafsir dari Israiliyyat dan riwayat dhaif yang tidak sahih. Menyerukan kembali pintu ijtihad dan mengkritik taklid buta, mendorong pemikiran kritis dan mandiri. Gaya Bahasa dan Audiens Klasik: Gaya bahasa yang digunakam cenderung ilmiah, lugas dan seringkali menggunakan istilah-istilah ilmu tafsir atau disiplin ilmu lainnya. Umumnya hanya dipahami oleh para ulama, penuntut ilmu, atau kalangan terpelajar. Modern: Gaya bahasa lebih sederhana, mudah dipahami, populer, dan komunikatif, seringkali disajikan dalam bentuk serial atau jilid yang terpisah. Sasaran pembaca lebih luas, mencakup masyarakat awam, intelektual Muslim, hingga mahasiswa. Persamaan Tafsir Bi Ra'yi Era Klasik dan Modern Meskipun memiliki banyak perbedaan, tafsir bi ra'yi di era klasik dan modern juga memiliki beberapa persamaan mendasar yang menjadikannya sebagai satu kategori penafsiran: Penggunaan Akal (Rasi. dan Ijtihad Ini adalah inti dari tafsir bi ra'yi. Baik di era klasik maupun modern, mufasir menggunakan akal dan penalaran . untuk memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an, terutama ayat-ayat yang tidak memiliki penjelasan langsung dari nash atau membutuhkan interpretasi lebih lanjut untuk relevansi. Ini membedakannya dari tafsir bil ma'tsur yang murni berbasis riwayat. Berpegang pada Kaidah Bahasa Arab Kedua era ini sama-sama mengakui dan menjadikan kaidah bahasa Arab . ahwu, sharaf, balagha. sebagai landasan utama penafsiran. Pemahaman yang mendalam tentang tata Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern bahasa, retorika, dan gaya bahasa Al-Qur'an sangat esensial untuk validitas tafsir bi ra'yi. Tanpa penguasaan bahasa Arab, ijtihad bisa menyimpang. Tidak Bertentangan dengan Prinsip Dasar Syariat Baik mufasir klasik maupun modern sepakat bahwa ijtihad dan penafsiran bi ra'yi tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat Islam . aqashid syaria. dan ayat-ayat muhkam . yang telah disepakati maknanya. Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih tetap menjadi otoritas tertinggi. Upaya Menggali Makna Al-Qur'an yang Lebih Dalam Pada dasarnya, tafsir bi ra'yi di kedua era ini merupakan upaya untuk menggali kekayaan makna Al-Qur'an yang tidak hanya terbatas pada pemahaman tekstual. Mufasir mencoba menemukan hikmah, pesan, dan petunjuk yang lebih luas dari ayat-ayat suci. Pentingnya Kualifikasi Mufasir Meskipun ada perbedaan dalam definisi kualifikasi, kedua era menekankan bahwa tafsir bi ra'yi harus dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi keilmuan yang memadai. Mufasir tidak boleh sembarangan menafsirkan berdasarkan hawa nafsu. KESIMPULAN Tafsir bi RaAoyi yaitu menafsirkan al Quran melalui pemikiran trilogy ilmiah yang terbagi menjadi rasional, objektif . idak ada kepemihaka. , dan argumentatif . endapat yang didasari argumen yang kua. Dalam menafsirkan al Quran dengan metode ini mufasir diharuskan memenuhi syarat-syarat dan pedoman yang sudah ditentukan. Tafsir bi raAoyi era klasik umumnya dimulai sejak masa pembukuan dan kodifikasi ilmu Ini terjadi setelah periode Nabi Muhammad SAW. Sahabat, dan Tabi'in, di mana tafsir masih bersifat lisan atau tercampur dengan riwayat hadis. Era klasik mencapai puncaknya hingga abad ke 7 atau ke 8 H sekitar abad ke 13 atau ke 14 M, yang ditandai dengan munculnya kitabkitab tafsir monumental dengan berbagai corak seperti tafsir bil ma'tsur, tafsir bi ra'yi, tafsir fikih, tafsir sufistik, dan lain-lain. Tafsir bi raAoyi terbagi menjadi dua bagian, yaitu tafsir bil raAoyi mahmudah atau terpuji merupakan tafsir boleh dan dapat diterima, kemudian tafsir bil raAoyi madzmumah atau tercela merupakan tafsir ayang tidak bisa diterima karena hanya menggunakan akal atau logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Pembahasan tafsir bi ra'yi di era klasik menunjukkan dinamika keilmuan yang tinggi dalam Islam, meskipun menggunakan akal, tetapi sangat berhati-hati dan disiplin. Para mufasir berusaha memahami setiap aspek ayat mulai dari makna bahasa, gramatika, balaghah . , hingga implikasi hukum, akidah, atau tasawuf berdasarkan keahlian ilmu masing-masing. Akal berfungsi sebagai alat analisis dan sintesis yang bertujuan untuk menggali dan menjelaskan Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Januari - Juni 2025 Siska Maryana. Heni Rumiatun. Pirman Syah: Tafsir Bi RaAoyi di Era Klasik dan Modern kekayaan makna yang terkandung dalam lafaz Al-Qur'an secara rinci, namun tetap dalam bingkai tradisi keilmuan yang telah mapan sehingga melahirkan karya-karya monumental yang menjadi rujukan penting hingga saat ini. Tafsir bi raAoyi era modern tidak hanya menjelaskan teks, tetapi juga berupaya mengaplikasikan dan menghubungkan makna Al-Qur'an dengan realitas sosial, politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan di era mereka. Akal digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan baru, membersihkan pemahaman Islam dari distorsi, dan membimbing umat menuju kemajuan. Ada semangat untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an itu shalih li kulli zaman wa makan atau relevan di setiap waktu dan tempat, bukan hanya sebagai kitab sejarah atau teori. Mufasir lebih fokus pada bagaimana teks itu bisa menyelesaikan masalah masa kini serta membuka kembali ijtihad untuk kebangkitan umat. Secara umum, perbedaan utama antara tafsir bi ra'yi klasik dan modern terletak pada fokus, metodologi, dan konteks penafsiran. Tafsir klasik lebih terfokus pada kaidah-kaidah kebahasaan dan syariat secara fundamental, sementara tafsir modern berupaya lebih kontekstual dan relevan dengan isu-isu kontemporer, sembari tetap menjaga prinsip-prinsip dasar penafsiran dan nilai-nilai agama. Jika era klasik ditandai dengan konsolidasi disiplin ilmu dan corak tafsir yang beragam, maka pada era modern lebih berfokus pada relevansi Al-Qur'an dengan kehidupan kekinian dan upaya untuk menghidupkan kembali semangat ijtihad. DAFTAR PUSTAKA