Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2025, 44-56 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Optimalisasi POSBINDU Penyakit Tidak Menular melalui Pelatihan dan Pendampingan Kader di Sidoluhur. Godean. Sleman Agil Dhiemitra Aulia Dewi1. Agustina Rahmawati2*. Wiwik Kusumawati3 Program Studi Gizi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Jalan Lingkar Selatan Siliwangi No. Mlangi. Nogotirto. Gamping. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55292 Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Jalan Lingkar Selatan Siliwangi No. Mlangi. Nogotirto. Gamping. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55292 Program Studi Magister Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Gedung Pascasarjana lt 2 Kampus Terpadu UMY JL. Brawijaya. Kasihan. Bantul. Yogyakarta 55183 E-mail : agildhiemitra@unisayogya. Abstrak Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia . mencatat prevalensi hipertensi 30,8% dan diabetes 11,7%. Di wilayah kerja Puskesmas Godean I. Sleman, jumlah lansia dengan hipertensi cukup tinggi. Permasalahan yang ditemukan di Desa Sidoluhur meliputi kegiatan POSBINDU yang masih insidental, pencatatan kesehatan manual, keterbatasan alat pemeriksaan, serta belum tersedianya media edukasi PTM. Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini bertujuan mengoptimalkan POSBINDU melalui pemberdayaan Kader Majelis Kesejahteraan Sosial Aisyiyah dan kelompok swabantu lansia dengan prinsip Audari, oleh, dan untuk kitaAy. Metode kegiatan meliputi pelatihan, pendampingan, evaluasi, dan penyediaan fasilitas kesehatan. Pelatihan kader dilaksanakan oleh mahasiswa dengan media edukasi yang disiapkan bersama dosen, kemudian dilakukan pendampingan saat pelaksanaan POSBINDU. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian IKU 2 . embelajaran di luar kampu. dan IKU 5 . enerapan hasil kerja dosen bagi masyaraka. Program berhasil membentuk kelompok swabantu kader lansia, meningkatkan kapasitas kader dalam mengelola POSBINDU, serta menyediakan media edukasi dan alat pemeriksaan kesehatan lansia. Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader, ditunjukkan oleh skor post-test lebih tinggi dibandingkan pre-test, serta ketersediaan fasilitas kesehatan yang mendukung keberlanjutan POSBINDU PTM. Kata Kunci : Kelompok Swabantu. Lansia. Posbindu. Penyakit Tidak Menular. Pemberdayaan Kader. Aisyiyah Abstract Non-Communicable Diseases (NCD. are the leading cause of morbidity and mortality in Indonesia. The 2023 Indonesian Health Survey recorded a prevalence of hypertension of 30. 8% and diabetes of 11. In the working area of the Godean I Community Health Center. Sleman, the number of elderly people with hypertension is quite Problems identified in Sidoluhur Village include incidental POSBINDU activities, manual health records, limited examination tools, and the lack of NCD educational media. This Student Community Service Program (PMM) aims to optimize POSBINDU by empowering Aisyiyah Social Welfare Council cadres and elderly selfhelp groups with the principle of "from, by, and for us. " The activity methods include training, mentoring, evaluation, and provision of health facilities. Cadre training is carried out by students using educational media prepared in collaboration with lecturers, followed by mentoring during POSBINDU implementation. This activity also supports the achievement of IKU 2 . ff-campus learnin. and IKU 5 . mplementation of lecturers' work results for the communit. The program successfully established self-help groups for elderly cadres, increased their capacity to manage POSBINDU (Public Health Post. , and provided educational media and health screening tools for the elderly. Evaluations showed improved knowledge and skills among cadres, demonstrated by higher posttest scores compared to pre-test scores, as well as the availability of healthcare facilities to support the sustainability of POSBINDU PTM. Keywords: Self-Help Groups. Elderly. Posbindu. Non-Communicable Diseases. Cadre Empowerment. Aisyiyah This is an open access article under the CCAeBY-SA license. https://doi. org/10. 33292/mayadani. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 PENDAHULUAN Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) 'Aisyiyah adalah salah satu majelis dalam struktur organisasi 'Aisyiyah yang fokus pada bidang kesejahteraan sosial, termasuk pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan pengentasan kemiskinan. MKS 'Aisyiyah Kecamatan Godean. Kabupaten Sleman, aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan diantaranya dalam kegiatan masyarakat di Desa Sidoluhur Godean Sleman. Salah satu program prioritas MKS adalah pemberdayaan masyarakat khususnya kelompok lansia untuk dapat mandiri terkait pencegahan dan penanganan Penyakit Tidak Menular (PTM). Angka kejadian PTM terus menunjukkan peningkatan secara global dan telah menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa PTM seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung dan kanker menyumbang lebih dari 74% kematian global pada tahun 2022 (WHO, 2. Sebagian besar kasus PTM terjadi pada kelompok lanjut usia yang memiliki faktor risiko multiple dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan sebagai upaya Hal ini menegaskan bahwa upaya deteksi dini dan pengendalian faktor risiko PTM harus diperkuat terutama di wilayah komunitas tingkat desa. Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 30,8% dan diabetes sebesar 11,7% (RI, 2. Angka ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dengan kelompok lansia sebagai kelompok yang paling rentan karena adanya perubahan fisiologis, pola konsumsi serta aktivitas fisik yang menurun. Data 10 Penyakit Tidak Menular di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes menduduki posisi tertinggi dan di Kecamatan Godean menunjukkan peringkat 3 teratas kasus PTM (D. Dinkes, 2. (S. Dinkes, 2. Desa Sidoluhur termasuk dalam cakupan pelayanan Puskesmas Godean I. Kecamatan Godean. Kabupaten Sleman memiliki jumlah penduduk lansia dengan hipertensi yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survey kesehatan di Desa Sidoluhur pada bulan Februari 2025, menunjukkan dari 52 lansia, 27 . ,9%) mengalami hipertensi, 16 . ,8%) mengalami pre-hipertensi, dan 9 lansia . ,3%) memiliki tekanan darah yang normal. Studi sebelumnya menujukkan bahwa kurangnya edukasi kesehatan, minimnya pelatihan kader serta terbatasnya alat pemeriksaan menjadi hambatan utama. Selain itu banyak lansia belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan kesehatan secara rutin sehingga faktor risiko PTM tidak terpantau secara Peningkatan kasus PTM jika tidak ditangani secara sitematis akan berdampak pada menurunnya kualitas hidup, peningkatan angka kecacatan hingga tingginya beban pembiayaan kesehatan bagi keluarga maupun pemerintah. Dampak sosial ekonomi seperti ketergantungan lansia pada anggota keluarga dan menurunnya produktivitas komunitas menjadi dampak tambahan yang dapat memperparah situasi (Widyaningsih et al. , 2. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengembangkan program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) sebagai strategi dekteksi dini di masyarakat, namun implementasi di lapanagan masih belum optimal dan belum mampu menjangkau seluruh kelompok Hal ini tergambar dari permasalahan mitra MKS AoAisyiyah di Sidoluhur Godean menujukkan tingginya kasus hipertensi dan diabetes melitus namun kepatuhan skrining kesehatan rutin masih rendah dan partisipasi masyarakat untuk kegiatan posbindu belum optimal. Berdasarkan evaluasi oleh MKS Aisyiyah Godean, permasalahan yang ditemukan di lokasi mitra Desa Sidoluhur adalah kegiatan posbindu yang terlaksana masing bersifat insidental, belum rutin dilaksanakan, manajemen pendataan kesehatan lansia masih berupa pencatatan manual, masih jarang dilakukan edukasi terkait PTM meliputi manajemen gizi, manajemen stress, terapi modalitas dan terapi konseling, belum tersedianya alat-alat kesehatan khusus untuk pemeriksaan kesehatan lansia dan media edukasi untuk PTM juga belum METODE Metode pelaksanaan yang digunakan dalam program pengabdian ini adalah metode Participatory Learning and Action (PLA). Metode ini sebagai bentuk upaya pelibatan mahasiswa sebagai agen pembaharu dengan pembelajaran di luar kampus yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam pemberdayaan masyarakat . dan partisipasi masyarakat . ommunity participatio. (Darmawan et al. , 2020. Kholik, 2. Langkah-langkah pelaksanaan program pengabdian sebagai Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 berikut: . Persiapan dan Sosialisasi meliputi koordinasi tim pengabdian dengan mahasiswa KKN yang terlibat dalam program. Kordinasi dan sosialisasi tim pengabdian dengan mitra pengurus MKS Aisyiyah Godean. Menyiapkan materi pelatihan dan teknologi inovasi: edukasi gizi, pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan lansia. Menyusun jadwal pelaksanaan, kuisioner pre-posttest, kelengkapan administrasi kegiatan. Sosialiasi pada seluruh anggota mitra untuk rencana kegiatan, jadwal pelaksanaan, pembagian peran dan tugas mitra. Pelatihan meliputi Pelatihan Kelompok Lansia Swabantu (KLAS) Sidoluhur : kelompok swabantu lansia dalam manajemen gizi, pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan lansia serta teknik komunikasi dan dukungan dalam kelompok swabantu. Pelatihan Kader MKS : manajemen pengelolaan posbindu dan praktik 5 meja posbindu dan pelatihan lansia dalam manajemen gizi dan pola hidup sehat . Penerapan Teknologi meliputi Pengembangan paket edukasi PTM: video keterampilan manajemen gizi, video pola hidup sehat, video teknik konseling dan edukasi, panduan gizi, panduan KLAS Sidoluhur kelompok swabantu: teknik komunikasi, teknik dukungan. Pengadaan fasilitas kesehatan meliputi pengadaan alat kesehatan dan media edukasi gizi di lingkungan posbindu . oster, banne. Pendampingan dan Evaluasi, meliputi Pelaksanaan program kelompok Lansia swabantu. Pelaksanaan kegiatan deteksi dini PTM dan pemeriksaan kesehatan rutin oleh posbindu. Pengukuran peran kelompok swabantu dan kemampuan lansia dalam mengelola PTM. Evaluasi bersama mitra terkait hasil implementasi. Menyusun rencana tindak lanjut bersama mitra untuk pemberdayaan kelompok swabantu secara mandiri dan pendampingan oleh pengurus majelis kesejahteraan sosial HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program optimalisasi POSBINDU Penyakit Tidak Menular di Kelurahan Sidoluhur dilaksanakan melalui empat tahap utama yaitu persiapan dan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, serta pendampingan dan evaluasi. Tahapan tersebut konsisten sesuai dengan prinsip pemberdayaan masyarakat dan dilakukan dalam beberapa kegiatan pengabdian masyarakat sebelumnya terkaitdeteksi dini PTM di Indonesia (Hosni et al. , 2020. Kumalasari et al. , 2. (AM. Al Fath Sabiliy Haq1. Bella Regita Az-Zahra2 & Kumalasari, 2024. Kumalasari et al. , 2023, 2024. Sabri et al. , 2. Seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas kader dan lansia serta ketersediaan fasilitas pendukung pelaksanaan POSBINDU di tingkat komunitas. Tahap persiapan diawali dengan koordinasi antara tim pengabdian, mahasiswa PMM, dan Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) AoAisyiyah Godean untuk menyusun jadwal kegiatan, materi pelatihan, instrumen evaluasi . reAepost tes. , serta kelengkapan administrasi program. Sosialisasi kepada mitra dilakukan untuk membagi peran kader, menetapkan jadwal kegiatan, serta menyiapkan lansia peserta POSBINDU. Pada tahap ini dilakukan pula pengadaan teknologi inovasi berupa modul edukasi PTM, media edukasi, serta paket alat kesehatan POSBINDU, termasuk tensimeter, alat tes GCU, peak flow meter, timbangan, mikrotoa, dan kit antropometri. Hasil program menunjukkan bahwa pemberdayaan kader melalui pelatihan berjenjang dan pendampingan lapangan mampu meningkatkan kapasitas kader dalam mengelola POSBINDU PTM di tingkat desa. Hal ini sejalan dengan temuan (Nugraheni & Hartono, 2018. Widyaningsih et al. , 2. bahwa keterbatasan edukasi, minimnya pelatihan, dan kurangnya alat pemeriksaan merupakan hambatan utama pelaksanaan POSBINDU di tingkat komunitas. Intervensi yang diberikan dalam program ini mampu mengatasi hambatan tersebut melalui penyediaan alat kesehatan, modul edukasi, dan praktik lapangan yang terstruktur. Studi sebelumnya menegaskan bahwa ketersediaan sarana dan media edukasi merupakan faktor kunci keberhasilan kegiatan POSBINDU, karena mendukung akurasi pemeriksaan dan efektivitas edukasi kesehatan (AM. Al Fath Sabiliy Haq1. Bella Regita Az-Zahra2 & Kumalasari. Hosni et al. , 2. Pelatihan dilaksanakan dalam dua tahap. Pelatihan tahap 1 . Agustus 2. manajemen gizi PTM . ipertensi dan diabete. , manajemen stres . erapi tertawa, teknik relaksas. , terapi modalitas dan senam lansia. Pelatihan ini diikuti oleh 15 kader lansia. Hasil preAepost test menunjukkan peningkatan skor sebesar 1 poin, yang mencerminkan peningkatan pemahaman awal mengenai pola hidup sehat dan pengelolaan PTM khususnya dalam manajemen gizi, manajemen stress, dan terapi fisik atau modalitas. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, pendekatan komprehensif yang mencakup perbaikan pola makan, penguatan dukungan keluarga, serta penerapan aktivitas fisik terstruktur memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kesehatan dan pengendalian penyakit kronis di Masyarakat (Ridwan & Dewi, 2024. Salmiyati & Rahmawati, 2021. Wahyuni et al. , 2. Pelatihan Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 tahap 2 . Agustus 2. meliputi: deteksi dini PTM . engukuran tekanan darah dan tes darah cepa. , pelatihan konselor sebaya, praktik 5 meja POSBINDU . egistrasi, asesmen, pemeriksaan antropometri, pemeriksaan tekanan darah dan GCU, serta konselin. Pelatihan tahap kedua diikuti oleh 29 kader dan Terdapat peningkatan skor post-test sebesar 9 poin yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi teknis kader dalam pelaksanaan POSBINDU. Hasil Pretest dan Post Test Pelatihan Pretest Posttest Pelatihan 1 Pretest Pelatihan 2 Posttest Gambar 1. Hasil pre dan post test Pelatihan 1 dan Pelatihan 2 Peningkatan skor pengetahuan pada pelatihan tahap pertama dan kedua menunjukkan bahwa metode pembelajaran partisipatif dan praktik langsung efektif dalam meningkatkan kemampuan kader. Ini sesuai dengan pendekatan PLA yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan partisipasi aktif, sehingga kader merasa memiliki dan berperan dalam kegiatan komunitas. Pelatihan konseling sebaya dan pembentukan kelompok swabantu juga mendukung perubahan perilaku lansia, sebagaimana terbukti efektif pada penelitian self-help group untuk PTM pada lansia di Myanmar (Sandar et al. , 2. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pelatihan terstruktur dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam skrining PTM dan konseling (Roswita et al. , 2024. Sukmawati et al. , 2. Selanjutnya kegiatan praktek pelaksanaan Posbindu dilaksanakan pada 6 September 2025 dan dihadiri oleh 23 kader serta 60 lansia. Kegiatan meliputi senam lansia, edukasi Lansia Sehat, pemeriksaan kesehatan, serta pengukuhan Kelompok Lansia Setaman AuAdz DzakiraatAy sebagai kelompok swabantu yang akan menjadi sistem pendukung internal bagi lansia dalam pengelolaan PTM. Pelaksanaan 5 meja POSBINDU menunjukkan kader sudah mampu mengoperasikan alat kesehatan, melakukan asesmen risiko PTM, serta memberikan konseling dasar kepada peserta. Literasi kader serta ketepatan deteksi dini PTM meningkat sejalan dengan capaian program sejenis yang menggabungkan skrining kesehatan, edukasi, dan senam lansia sebagai pendekatan komprehensif pengendalian PTM (Sujarwoto & Maharani, 2. (AM. Al Fath Sabiliy Haq1. Bella Regita Az-Zahra2 & Kumalasari, 2024. Kumalasari et al. , 2024. Wihastuti et al. , 2. Gambar 2. Pelatihan Manajemen Gizi Lansia Gambar 3. Pelatihan Manajemen Stres Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Pendampingan dilakukan selama kegiatan POSBINDU dan pertemuan kelompok lansia. Evaluasi menunjukkan: Kader mampu menjalankan seluruh langkah 5 meja POSBINDU secara mandiri. Peningkatan skor pengetahuan pada seluruh materi pelatihan. Lansia menyatakan media edukasi mudah dipahami dan membantu perubahan perilaku. Fasilitas kesehatan tersedia secara lengkap dan siap digunakan pada kegiatan POSBINDU berikutnya. Hasil ini menunjukkan peningkatan kapasitas kader dalam manajemen PTM dan pelaksanaan POSBINDU secara mandiri dan pembentukan kelompok swabantu lansia dapat meningkatkan keberlanjutan program kesehatan berbasis komunitas(Muhsinah & Misbah, 2023. Romadhon et al. , 2. Dokumentasi rangkaian kegiatan pelatihan kader ditujukan pada gambar berikut: Gambar 3. Pelatihan dan Pendampingan Konselor Lansia Sebaya Gambar 4. Pelatihan Deteksi PenyakitTidak Menular (Hipertensi. Obesita. Gambar 5. Pelatihan Pengelolaan Posbindu Gambar 6. Praktek konselor lansia sebaya Produk teknologi yang diterapkan meliputi: 6 modul edukasi: diet hipertensi/diabetes, manajemen stres, pengelolaan POSBINDU, konseling sebaya, deteksi dini PTM, serta buku kartu menuju lansia poster dan lembar balik edukasi: alur 5 meja POSBINDU, pola makan sehat, terapi tertawa, senam PTM. paket alat kesehatan POSBINDU. paket bantuan gizi lansia . eras, telur, pisang, gula rendah Teknologi ini digunakan langsung oleh kader selama praktik POSBINDU dan mendapat respon positif dari peserta karena media mudah dipahami dan aplikatif. Penerapan teknologi berupa modul edukasi, poster, dan lembar balik terbukti mempermudah pemahaman lansia, terutama terkait diet sehat, manajemen stres, serta aktivitas fisik. Media visual terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan lansia, sesuai dengan temuan Sari et al. bahwa media bergambar mampu meningkatkan pemahaman Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 lansia tentang tekanan darah dan pola makan (Sari et al. , 2. Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Utami et al. , 2. yang menunjukkan bahwa edukasi dengan media sederhana yang mudah digunakan kader dapat meningkatkan kepatuhan lansia terhadap pemantauan kesehatan. Pembentukan Kelompok Lansia Setaman AuAdz DzakiraatAy sebagai kelompok swabantu memperkuat keberlanjutan program. Sebagaimana diungkapkan (Widianti et al. , 2. , kelompok swabantu efektif meningkatkan kapasitas anggota melalui dukungan sesama, terutama dalam mengatasi risiko kesehatan kronis pada lansia. Konsep ini menjadi penting dalam konteks Desa Sidoluhur yang memiliki angka hipertensi cukup tinggi . ,9%). Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa program pelatihan dan pemberdayaan kader yang didukung oleh alat kesehatan dan media edukasi mampu mengoptimalkan pelaksanaan POSBINDU PTM di Desa Sidoluhur. Model ini dapat direplikasi di wilayah lain sebagai strategi penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat dalam menghadapi beban PTM yang semakin SIMPULAN Program optimalisasi POSBINDU PTM di Desa Sidoluhur berhasil meningkatkan kapasitas kader dan partisipasi lansia melalui pelatihan berjenjang, pendampingan, serta penyediaan media edukasi dan alat kesehatan yang lengkap. Peningkatan skor pengetahuan, kemampuan kader dalam menjalankan 5 meja POSBINDU, serta terbentuknya kelompok swabantu AuAdz DzakiraatAy menunjukkan bahwa intervensi ini efektif mengatasi hambatan pelaksanaan POSBINDU yang umum ditemukan di komunitas. Secara keseluruhan, kegiatan ini mampu memperkuat deteksi dini dan pengelolaan PTM berbasis masyarakat, serta layak direplikasi di wilayah lain untuk mendukung pengendalian PTM secara komprehensif. UCAPAN TERIMA KASIH