Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2023 e-ISSN: 2962-8695 ANALISIS KESULITAN GURU DALAM MENYUSUN MODUL AJAR BERBASIS KURIKULUM MERDEKA BELAJAR Taufik1. Andang2. Nur Imansyah3 1. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. STKIP Yapis Dompu. Indonesia 2 Pendidikan Matematika. STKIP Bima. Indonesia 3 Pendidikan Teknologi Informasi. STKIP Yapis Dompu. Indonesia e-mail: taufikbima25@gmail. com1, andangumm@gmail. com2, mnurimansyah000@gmail. (Naskah Masuk : 29 Desember 2023, diterima untuk diterbitkan : 31 Desember 2. Abstrak: : Pelaksanaan kurikulum merdeka di sekolah memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan guru dalam menyusun modul ajar. Guru diharuskan memiliki keterampilan untuk menyusun modul ajar secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah tentang Analisis Kesulitan Guru Dalam Menyusun Modul Ajar Berbasis Kurikulum Merdeka Belajar di SMP Negeri 2 Woja Kabupaten Dompu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh guru ketika menyusun modul ajar. Ada tiga kriteria kesulitan yang diidentifikasi dalam penelitian ini, yaitu: . sebanyak 30% guru memahami modul ajar beserta komponennya. sebanyak 25% guru memahami modul ajar namun kurang memahami komponennya. sebanyak 45% guru tidak memahami modul ajar beserta komponennya. Menghadapi kondisi seperti ini, setiap guru yang mengalami kesulitan dalam pemahaman modul ajar menjadi tanggung jawab sekolah untuk memberikan bimbingan dan pendampingan, karena kualitas guru memiliki dampak signifikan terhadap implementasi kurikulum merdeka belajar. Kata Kunci: kesulitan guru, modul ajar, merdeka belajar Abstract: The implementation of an independent curriculum in schools is closely related to the teacher's ability to prepare teaching modules. Teachers are required to have the skills to compose teaching modules effectively. This research aims to answer the problem formulation regarding the Analysis of Teacher Difficulties in Developing Teaching Modules Based on the Independent Learning Curriculum at SMP Negeri 2 Woja. Dompu Regency. This research uses a descriptive qualitative approach. Based on the research results, various difficulties faced by teachers were found when compiling teaching modules. There are three difficulty criteria identified in this research, namely: . as many as 30% of teachers understand the teaching module and its . as many as 25% of teachers understand the teaching module but do not understand its components. as many as 45% of teachers do not understand the teaching module and its components. Facing conditions like this, every teacher who experiences difficulties in understanding teaching modules is the school's responsibility to provide guidance and assistance, because the quality of teachers has a significant impact on the implementation of the independent learning curriculum. Keywords: Integrated Learning. Webbed Model. Critical Thinking Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2023 e-ISSN: 2962-8695 PENDAHULUAN Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk memanusiakan manusia melalui pendidikan Pemerintah berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar menghasilakan sumber daya manusia yang unggul untuk modal dasar pembangunan Indonesi dimasa depan. Guru merupakan individu yang menempati posisi yang memegang peran penting dalam Selain itu juga guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan, karena keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh kepribadian, dan kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar mengajar. Seperti pemilihan strategi pembelajaran sangat menentukan kesuksesan dalam kegiatan belajar (Andang. Nurwidiawati. Amirulmukminin. Yasser Arafat, 2. Menurut (Taufik et al. , 2. bahwa Peran serta usaha dari guru yang dilakukan secara sadar dalam upaya membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar agar terciptanya aktivitas pembelajaran yang aktif, efektif dan efisien. Pembelajaran dimaksudkan sebagai pembelajaran yang membekali para siswanya dengan pengetahuan dalam berbagai tatarannya dalam hal ini terkait dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia (Taufik & M. Nur Imansyah, 2. Pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas berkaitan langsung dengan kurikulum yang ada di sekolah. Namun pembelajaran bahasa Indonesia saat ini harus mengikuti kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka yang merupakan peralihan dari kurikulum 2013 (Prihatien et al. , 2. Kurikulum merupakan pedoman pelaksanaan pendidikan. Kurikulum di masa depan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang ada agar pendidikan di Indonesia dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas (Hafiluddin & Wahyudin, 2. Pendidikan di Indonesia saat ini sedang mengalami transformasi kurikulum dari kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka belajar yang dirancang oleh Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Kurikulum merdeka belajar memberikan keleluasaan kepada guru dan peserta didik untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang mereka miliki. Dalam pelatihan, nilai lebih dari keterampilan dan kemampuan tersebut akan lebih Menurut (Faridahtul Jannah & Thooriq IrtifaAo Fathuddi, 2. Kurikulum merdeka memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk dapat secara bebas memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Namun, tetap memperhatikan 3 komponen inti pada pembuatan RPP, yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. Modul ajar merupakan salah satu perangkat pembelajaran atau rancangan pembelajaran yang berlandaskan pada kurikulum yang berlaku yang diaplikasikan dengan tujuan untuk mencapai standar kompetensi yang telah Secara ideal, guru perlu menyusun modul ajar secara maksimal, namun kenyataannya banyak guru yang belum paham betul teknik menyusun dan mengembangkan modul ajar, terlebih pada kurikulum merdeka belajar. Proses pembelajaran yang tidak merencanakan modul ajar dengan baik sudah dapat dipastikan penyampaian konten kepada siswa tidak sistematis, sehingga pembelajaran terjadi tidak seimbang antara guru dan siswa. Dapat dipastikan hanya guru yang aktif atau sebaliknya dan pembelajaran yang dilaksanakan terkesan kurang menarik karena guru tidak mempersiapkan modul ajar dengan baik (Indarti. Modul ajar memiliki peran utama untuk membantu guru dalam merancang Pada penyusunan perangkat pembelajaran yang berperan penting adalah guru. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2023 e-ISSN: 2962-8695 guru akan diasah kemampuan berpikirnya untuk dapat berinovasi dalam modul ajar yang dibuatnya (Maulinda, 2. Oleh karena itu dalam membuat modul ajar kompetensi pendagogik guru perlu dikembangkan, hal ini agar teknik mengajar guru di dalam kelas lebih efektif, efisien, dan tidak keluar pembahasan dari indikator pencapaian. Namun kenyataannya banyak guru yang belum paham betul teknik menyusun dan mengembangkan modul ajar, terlebih pada kurikulum merdeka belajar. Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan diantaranya yaitu guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah,seperti saat ini ketika harus mengimplementasikan kurikulum merdeka. Kemudian guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan beban, seringnya juga peseerta didik yang mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana Dalam kurikulum merdeka, peran guru sangat penting dalam penyusunan modul ajar, namun kenyataannya masih banyak guru yang belum paham betul teknik menyusun dan mengembangkan modul ajar. Proses pembelajaran yang tidak merencanakan modul ajar dengan baik sudah dapat dipastikan ketika penyampaian konten kepada peserta didik nantinya tidak akan sistematis, sehingga pembelajaran yang terjadi tidak seimbang antara guru dan peserta didik (Indarti, 2. Dapat dipastikan juga pembelajaran yang dilaksanakan akan terkesan kurang menarik karena guru tidak mempersiapkan modul ajar dengan baik. Merdeka Belajar versi Mendikbud dapat diartikan sebagai pengaplikasikan kurikulum dalam proses pembelajaran haruslah menyenangkan, ditambah dengan pengembangan berfikir yang inovatif oleh para guru. Hal itu dapat menumbuhkan sikap positif peserta didik dalam merespon pembelajaran (Merta sari et al. , 2. Dari permasalahan diatas upaya yang dilakukan adalah membahas modul ajar secara kompherensif yang disusun oleh guru berbasis modul ajar disekolah. Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan mengkaji lebih dalam mengenai modul ajar berbasis kurikulum merdeka, sehingga guru tidak akan kebingungan lagi saat menyusun modul ajar. Dengan begitu, kurikulum merdeka belajar ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan kepribadian atau pendidikan karakter peserta didik. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan analisi deskriptif (Taufik et al. , 2. Jenis penelitian deskriptif kualitatif menampilkan data apa adanya tanpa proses manipulasi atau perlakuan-perlakuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan gambaran secara lengkap mengenai suatu kejadian atau dimaksudkan untuk mengekspos dan mengklarifikasi suatu fenomena yang terjadi. Analisis deskriptif pada penelitian ini akan mengkaji Analisis Kesulitan Guru dalam Menyusun Modul Ajar Berbasis Kurikulum Merdeka Belajar . Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Woja Kabupaten Dompu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik: . observasi atau pengamatan, . wawancara, dan . Doukumentasi. (Taufik. Leni Marlina, 2. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kisi-kisi pedoman wawancara dan lembar wawancara yang telah melalui tahap validasi serta dinyatakan valid untuk proses penelitian ini. Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup beberapa tahapan. e-ISSN: 2962-8695 Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2023 Pengumpulan data, . Data yang sudah terkumpul dilakukan proses reduksi data denga mengidentifikasi dan mengklasifikasikan . Melakukan tahap penyajian data dari hasil analisis, dan . Menarik kesimpulan dari hasil interpretasi setelah data disajikan. Pengumpulan data merupakan langkah utama dalam melakukan penelitian, karena esensi dari penelitian adalah mengumpulkan data (Taufik et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan dari kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka belajar telah menimbulkan kesulitan bagi guru dalam melaksanakannya, yang juga berdampak pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Untuk mengoptimalkan penerapan kurikulum merdeka, diperlukan dukungan berupa tunjangan fasilitas sekolah dan pemanfaatan sumber daya manusia yang tersedia di sekolah, baik dari segi guru maupun peserta didik. Sebagai panduan dalam proses mengajar, modul ajar menjadi salah satu perangkat pembelajaran yang penting. Penyusunan modul ajar juga menjadi tolok ukur kompetensi guru, terutama dalam aspek kompetensi pedagogik. Pemahaman guru terhadap modul ajar sangat krusial dalam konteks ini dapat dilihat pada diagram berikut ini: Diagram Pemahaman Guru Terkait Modul Ajar Paham dengan modul ajar beserta Paham dengan modul ajar tapi paham komponennya Tidak paham dengan modul ajar beserta Gambar 1. Diagram pemahaman guru terkait modul ajar Berdasarkan data diagram di atas, terdapat beberapa pembahasan dan alasan mengapa para guru masih mengalami kesulitan dalam merancang modul ajar. Kesulitan yang dihadapi oleh guru-guru kelas VII dalam menyusun modul dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, terdapat kelompok guru, seperti guru IPA, guru IPS, guru Informatika, dan guru Matematika, yang memiliki pemahaman mendalam terhadap modul ajar beserta komponenkomponennya. Kedua, ada kelompok guru, seperti guru Bahasa Inggris dan guru Seni Budaya, yang memahami modul ajar namun memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai komponenkomponennya. Ketiga, terdapat kelompok guru, seperti guru Bahasa Indonesia dan guru Pendidikan Agama Islam, yang mengalami kesulitan dalam menyusun modul ajar karena Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2023 e-ISSN: 2962-8695 kurang familiar dengan komponen-komponen dalam modul, seperti profil pelajar pancasila, dimensi-dimensi, capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, serta asesmen yang Meskipun demikian, kelompok ini memiliki pemahaman mengenai model dan metode pembelajaran. Guru Bimbingan Konseling menghadapi kendala dalam merancang modul ajar karena kurang familiar dengan beberapa komponen inti, seperti capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, model pembelajaran yang diterapkan, dan asesmen yang terdapat dalam modul Guru PKn juga mengalami kesulitan dalam membaca atau memahami capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, serta tidak memiliki pengetahuan mengenai dimensidimensi yang ada pada profil pelajar pancasila. Sementara itu. Guru Olahraga mengalami kesulitan karena kurang memahami modul ajar dan komponennya secara menyeluruh. Guru Bahasa Inggris, di sisi lain, menghadapi kesulitan dalam menyusun modul ajar karena tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai komponen-komponen dalam modul, dengan hanya mengetahui tentang capaian pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil identifikasi dari penjelasan diagram di atas, terdapat beberapa kesulitan lain yang dihadapi oleh para guru ketika mereka sedang menyusun modul ajar. Pertama, terdapat kelompok guru yang mengalami kesulitan dalam menentukan model pembelajaran dan metode pembelajaran. Contohnya. Guru Matematika menghadapi kesulitan dalam menentukan model pembelajaran karena keterbatasan waktu yang tersedia. Guru IPS juga mengalami kesulitan dalam memilih model dan metode pembelajaran karena sebagian besar peserta didik menghadapi kesulitan dalam memahami materi IPS dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Guru Informatika, di sisi lain, mengalami kesulitan dalam merancang model pembelajaran karena keterbatasan media pembelajaran, seperti keterbatasan penggunaan komputer di sekolah. Kedua, terdapat kelompok guru yang mengalami kesulitan dalam menyusun modul ajar karena kurang pemahaman mengenai asesmen. Sebagai contoh, guru BK mengalami kesulitan dalam merancang asesmen formatif dan sumatif karena perbedaan kemampuan awal peserta didik, sehingga diperlukan analisis kondisi peserta didik untuk memastikan pengukuran pencapaian belajar peserta didik menjadi maksimal. Guru Seni Budaya juga salah mengartikan pengertian asesmen yang digunakan dalam kurikulum merdeka Ketiga, terdapat kelompok guru yang kesulitan dalam menyusun modul ajar, terutama dalam merancang proyek yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan sesuai dengan profil pelajar pancasila. Kesulitan ini dihadapi oleh Guru Pendidikan Agama Islam dan Guru Bahasa Indonesia. Dalam situasi seperti ini, terlihat bahwa banyak guru menghadapi sejumlah kesulitan ketika mereka berusaha menyusun modul ajar. Situasi ini menimbulkan tantangan bagi pihak sekolah untuk memberikan bimbingan dan dukungan kepada para guru yang menerapkan kurikulum merdeka belajar di SMP Negeri 2 Woja. Kabupaten Dompu. Keberhasilan sekolah dalam menerapkan kurikulum merdeka sangat bergantung pada kualitas guru yang secara langsung terlibat dalam proses pembelajaran. KESIMPULAN Pelaksanaan kurikulum merdeka di sekolah memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan guru dalam menyusun modul ajar. Guru diharuskan memiliki keterampilan untuk menyusun modul ajar secara efektif. Modul ajar ini berfungsi sebagai salah satu alat Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2023 e-ISSN: 2962-8695 pembelajaran yang berasal dari kurikulum merdeka, berperan sebagai panduan bagi guru dalam menjalankan kegiatan pembelajaran. Implementasi kurikulum merdeka belajar ternyata dihadapkan pada berbagai kendala, termasuk kesulitan dalam penyusunan modul ajar. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh guru ketika menyusun modul ajar. Ada tiga kriteria kesulitan yang diidentifikasi dalam penelitian ini, yaitu: sebanyak 30% guru memahami modul ajar beserta komponennya. sebanyak 25% guru memahami modul ajar namun kurang memahami komponennya. sebanyak 45% guru tidak memahami modul ajar beserta komponennya. Menghadapi kondisi seperti ini, setiap guru yang mengalami kesulitan dalam pemahaman modul ajar menjadi tanggung jawab sekolah untuk memberikan bimbingan dan pendampingan, karena kualitas guru memiliki dampak signifikan terhadap implementasi kurikulum merdeka belajar. DAFTAR PUSTAKA