Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. Vol. No. Maret 2025, pp. 1A12 E-ISSN: 2622-6804 P-ISSN: 2963-1955. DOI:10. ye Eksplorasi Penerimaan Teknologi untuk Pembelajaran Digital dalam Pendidikan Islam: Dampak Perspektif Agama Terhadap TIK Exploring Technology Acceptance for Digital Learning in Islamic Education: The Impact of Religious Perspectives on ICT Sindi Sulistia Bahri1 Marviola Hardini2 . Hamdan3 . Hafiz Imran4 1 Departemen Teknik Informatika. Universitas Raharja. Indonesia 2 Departemen Magister Teknik Informatika. Universitas Raharja. Indonesia 3 Departemen Management. Universitas Serang Raya. Indonesia 4 Departemen Pendidikan Agama Islam. Ijiis Incorporation. Singapura 1 sindi@raharja. info, 2 marviola@raharja. info, 3 hamdanunsera@gmail. com, 4 hafizi01@ijiis. *Corresponding Author Article Info ABSTRAK Article history: Penelitian ini mengeksplorasi penerimaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam Pendidikan Islam dengan mempertimbangkan pengaruh perspektif agama terhadap sikap pengguna. Dengan berkembangnya digitalisasi di sektor Pendidikan, lembaga Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan untuk mengadopsi teknologi sambil mempertahankan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, diperlukan kajian mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan teknologi di lingkungan Pendidikan Islam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan penting dalam penerimaan TIK, terutama dari sudut pandang kecocokan dengan nilai agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei kuesioner dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation ModelingPartial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan, manfaat persepsional, dan kecocokan teknologi dengan nilai-nilai Islam merupakan faktor signifikan yang memengaruhi penerimaan teknologi, dengan kecocokan nilai agama menjadi faktor dominan. Temuan ini memberikan implikasi bagi lembaga Pendidikan Islam untuk merumuskan kebijakan yang memperhatikan aspek agama dalam penerapan teknologi, serta bagi pengembang teknologi Pendidikan untuk menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan Pendidikan Islam. Keterbatasan penelitian ini mencakup ukuran sampel yang terbatas dan pendekatan kuantitatif yang mungkin kurang menangkap nuansa perspektif agama secara mendalam. Penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan metode kualitatif dan populasi yang lebih luas guna memperkaya hasil serta meningkatkan relevansi praktis penelitian ini. Submit 19 Desember 2024 Revisi 07 Januari 2025 Diterima 02 Februari 2025 Diterbikan 07 Februari 2025 kata kunci: Penerimaan Teknologi Pendidikan Islam Perspektif Agama Teknologi Informasi Keywords: Technology Acceptance Islamic Education Religious Perspective Information Technology This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. ABSTRACT This study explores the acceptance of information and communication technology (ICT) in Islamic education by considering the influence of religious perspectives on user attitudes. With the growing digitalization in the education sector. Islamic educational institutions face the challenge of adopting technology while maintaining religious values. Therefore, an in-depth study is needed to examine the factors influencing technology acceptance in Islamic education environments. The objective of this study is to identify key factors that play a crucial role in ICT acceptance, particularly from the Journal homepage: https://journal. id/al-waarits ye E-ISSN: 2622-6804 P-ISSN: 2963-1955 perspective of alignment with religious values. This research employs a quantitative approach through a questionnaire survey and is analyzed using the Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) method. The findings indicate that ease of use, perceived benefits, and the compatibility of technology with Islamic values are significant factors affecting technology acceptance, with religious value alignment being the dominant factor. These findings have implications for Islamic educational institutions in formulating policies that consider religious aspects in technology adoption and for educational technology developers in creating solutions that align with the needs of Islamic education. The limitations of this study include a limited sample size and a quantitative approach that may not fully capture the nuances of religious Future research is recommended to incorporate qualitative methods and a broader population to enrich the findings and enhance the practical relevance of this study. This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. DOI: https://doi. org/10. 34306/alwaarits. This is an open-access article under the CC-BY license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. AAuthors retain all copyrights PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor Pendidikan . Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran semakin meluas, tidak hanya di Pendidikan umum tetapi juga dalam Pendidikan Islam . era digital ini, lembaga Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam metode pembelajaran, sehingga mampu menghasilkan generasi yang berkompeten dalam Ilmu Agama sekaligus melek teknologi. Namun, penerapan teknologi dalam Pendidikan Islam masih menghadapi berbagai kendala, baik dari segi kesiapan infrastruktur maupun penerimaan para pengajar dan peserta didik, yang sering kali dipengaruhi oleh pandangan agama terhadap teknologi . Penelitian mengenai penerimaan teknologi dalam konteks Pendidikan Islam menjadi penting karena adanya faktor-faktor khusus yang memengaruhi sikap pengguna . Salah satu faktor utama adalah perspektif agama, di mana norma-norma dan nilai Islam dapat berperan besar dalam memengaruhi penerimaan terhadap inovasi teknologi . Perspektif ini sering kali mengarah pada sikap berhati-hati terhadap penggunaan teknologi, yang dianggap berpotensi mengalihkan fokus dari nilai-nilai agama. Karena itu, perlu dieksplorasi lebih lanjut bagaimana Pendidikan Islam dapat mengadopsi teknologi tanpa mengabaikan prinsip-prinsip ajaran Islam, sekaligus mencari solusi untuk mendorong penerimaan teknologi di kalangan pemangku kepentingan Pendidikan Islam . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran digital dalam Pendidikan Islam, terutama dalam hal perspektif agama yang dipegang oleh para penggunanya . Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Islam melalui integrasi teknologi, serta memberikan pedoman bagi pengembang teknologi Pendidikan agar lebih sensitif terhadap nilai-nilai agama. TINJAUAN PUSTAKA Penerimaan Teknologi dalam Pendidikan Penerimaan teknologi dalam Pendidikan telah menjadi fokus penelitian yang signifikan, terutama dengan berkembangnya model-model penerimaan teknologi seperti Technology Acceptance Model (TAM) dan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). TAM, yang dikembangkan oleh . , menyatakan bahwa penerimaan teknologi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. dan persepsi manfaat . erceived usefulnes. Model ini telah banyak digunakan dalam studi terkait Pendidikan untuk menganalisis bagaimana siswa dan guru menerima teknologi dalam pembelajaran . Sementara itu. UTAUT, yang diperkenalkan oleh . , memperluas TAM dengan memasukkan variabel tambahan seperti pengaruh sosial dan kondisi pendukung, yang dinilai relevan dalam mengukur penerimaan teknologi di lingkungan Pendidikan. Kedua model ini menjadi landasan dalam memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi penerimaan TIK dalam konteks Pendidikan Islam, terutama ketika mempertimbangkan variabel yang lebih spesifik, seperti nilai agama . Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. Vol. No. Maret 2025: 1Ae12 Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. ye Ulasan Mengenai UTAUT MODEL Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) yang dikembangkan oleh . merupakan salah satu model yang paling banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku individu dalam menerima dan menggunakan teknologi . Model ini menggabungkan delapan teori perilaku manusia yang berbeda, seperti Theory of Planned Behavior (TPB). Technology Acceptance Model (TAM), dan Social Cognitive Theory (SCT). UTAUT menekankan pada empat variabel utama yang mempengaruhi niat perilaku dan perilaku aktual dalam penggunaan teknologi, yaitu ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, pengaruh sosial, dan kondisi yang memfasilitasi. Selain itu. UTAUT juga mencakup empat variabel moderator, yaitu usia, jenis kelamin, pengalaman, dan kesukarelaan penggunaan, yang meningkatkan prediksi dari model tersebut . Namun, dalam konteks penelitian ini, pembahasan mengenai peran variabel moderator seperti usia, jenis kelamin, dan pengalaman belum diuraikan secara mendalam . Variabel-variabel ini sebenarnya memiliki potensi untuk memperkaya analisis, terutama dalam menjelaskan variasi penerimaan teknologi di berbagai kelompok pengguna. Sebagai contoh, penelitian sebelumnya oleh . menunjukkan bahwa pengguna yang lebih muda cenderung memiliki ekspektasi kinerja yang lebih tinggi terhadap teknologi, sementara pengguna yang lebih tua lebih mempertimbangkan kemudahan penggunaan. Selain itu, penelitian oleh . menemukan bahwa perempuan cenderung dipengaruhi lebih kuat oleh pengaruh sosial dalam adopsi teknologi dibandingkan laki-laki . Pengalaman juga merupakan faktor penting, di mana pengguna yang memiliki pengalaman lebih banyak dengan teknologi cenderung lebih positif dalam penerimaannya. Oleh karena itu, analisis lanjutan dengan mempertimbangkan variabel moderator ini dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam dan spesifik tentang penerimaan teknologi di pendidikan Islam . Dalam penelitian mengenai penerimaan teknologi di sektor Pendidikan, khususnya Pendidikan Islam. UTAUT telah terbukti relevan dalam mengeksplorasi bagaimana perspektif agama mempengaruhi niat perilaku dan penggunaan aktual teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Perspektif agama menjadi salah satu variabel penting dalam mempengaruhi penerimaan teknologi, terutama pada konteks masyarakat Muslim yang memandang teknologi harus sejalan dengan nilainilai Islam. Penelitian menunjukkan bahwa faktor keagamaan memainkan peran penting dalam memotivasi individu untuk menggunakan teknologi selama dianggap tidak bertentangan dengan ajaran agama . Penelitian yang menggunakan model UTAUT dalam konteks Pendidikan Islam sering kali memodifikasi variabel-variabel model untuk mencerminkan kekhususan agama dan nilai-nilai sosial . Sebagai contoh, faktor perspektif agama dimasukkan ke dalam model untuk menjelaskan bagaimana keyakinan agama individu mempengaruhi ekspektasi kinerja dan niat mereka dalam menggunakan teknologi dalam pembelajaran digital . Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa perspektif agama memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan teknologi di kalangan pelajar Islam, dan teknologi yang sejalan dengan prinsip-prinsip agama cenderung lebih mudah diterima dan diadopsi . Dalam konteks Pendidikan Islam, pengaruh sosial juga memainkan peran yang kuat, terutama dalam lingkungan di mana figur otoritas agama sangat dihormati dan diikuti . Oleh karena itu, penelitian ini juga mempertimbangkan faktor pengaruh sosial sebagai pendorong signifikan dalam penerimaan TIK di Pendidikan Islam . Hal ini relevan mengingat dinamika sosial dan budaya dalam masyarakat Muslim yang sering kali menentukan penerimaan terhadap inovasi teknologi. slim yang sering kali menentukan penerimaan terhadap inovasi teknologi. Variable Penelitian. Model Konseptual, dan Hipotesis Penelitian ini adalah eksplorasi bagaimana perspektif agama Islam mempengaruhi penerimaan teknologi dalam Pendidikan. Kepercayaan agama terhadap Teknologi sebagai variabel unik menyoroti dimensi agama yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur sebelumnya. pada gambar 1 dalam rangka menjembatani kesenjangan dalam literatur yang ada, penelitian ini mengeksplorasi penerimaan teknologi untuk pembelajaran digital dalam Pendidikan Islam dengan fokus khusus pada pengaruh perspektif agama terhadap TIK. Dengan memodifikasi model UTAUT, penelitian ini berupaya memberikan kontribusi teoritis baru yang relevan bagi konteks Pendidikan berbasis agama. Dalam penelitian ini terdapat empat struktur variabel eksogen terdiri dari: Religious Perspective on ICT (Perspektif Agam. : Tingkat kepercayaan seseorang terhadap teknologi, sejauh teknologi tersebut selaras dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. Alasannya: Variabel ini mempertimbangkan keunikan penerimaan teknologi dalam konteks keagamaan Islam, mencakup perspektif bagaimana keyakinan agama dapat membentuk sikap terhadap teknologi. Personal Innovation on ICT (Inovasi Pribad. : Keinginan individu untuk bereksperimen dan mencoba ye E-ISSN: 2622-6804 P-ISSN: 2963-1955 Gambar 1. Penelitian Model Konseptual teknologi baru, terutama dalam konteks pendidikan. Alasannya: Variabel ini menggambarkan seberapa besar peran keberanian individu dalam mencoba teknologi baru di lingkungan yang memiliki normanorma keagamaan kuat. Facilitating Infrastructure on ICT (Infrastruktur yang Memfasilitas. : Ketersediaan dukungan fisik dan intelektual yang membantu individu dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran digital. Alasannya: Variabel ini menunjukkan pentingnya dukungan eksternal dan fasilitas dalam mengadopsi teknologi, terutama di institusi pendidikan Islam yang mungkin menghadapi tantangan infrastruktur. Social Influence on Religious (Pengaruh Sosia. : Persepsi individu tentang bagaimana komunitas keagamaan dan lingkungan sosial melihat penerimaan teknologi. Alasannya: Variabel ini menggambarkan pentingnya norma-norma sosial dan pengaruh pemimpin keagamaan dalam membentuk keputusan individu untuk menerima teknologi. Kemudian, dalam penelitian ini juga terdapat empat struktur variabel endogen terdiri dari: Performance Expectancy on Religious (Ekspektasi Kinerj. : Keyakinan bahwa teknologi akan memberikan manfaat yang signifikan dalam Pendidikan Islam dan kegiatan keagamaan. Alasannya: Mengukur seberapa besar manfaat teknologi dipandang berguna jika diterapkan di lingkungan dengan nilainilai agama. Effort Expectancy on use ICT (Ekspektasi Usah. : Persepsi individu tentang kemudahan penggunaan teknologi dalam konteks Pendidikan Islam. Alasannya: Memeriksa persepsi kesulitan atau kemudahan dalam mengintegrasikan teknologi dengan pembelajaran berbasis agama. Behavioral Intention on use ICT (Niat Pelak. : Kecenderungan individu untuk menggunakan teknologi dalam kegiatan pembelajaran digital. Alasannya: Menganalisis keinginan individu untuk benar-benar menggunakan teknologi berdasarkan persepsi dan sikap keagamaannya. Use Behavior on use ICT (Menggunakan Perilak. : Sejauh mana individu benar-benar menggunakan teknologi dalam pembelajaran digital di institusi pendidikan Islam. Alasannya: Mengukur aktualisasi dari niat dan sikap dalam menggunakan teknologi untuk tujuan pembelajaran. Dalam penelitian ini, struktur Religious Perspective. Social Influence. Effort Expectancy. Performance Expectancy. Use Behavior diposisikan untuk mempengaruhi variabel Behavioral Intention. Sementara itu. Facilitating Infrastructure. Personal Innovation to Use Behavior. Selain itu. Religious Perspective diposisikan untuk mempengaruhi variabel Performance Expectancy. Variabel Personal Innovation diposisikan untuk mempengaruhi variabel Effort Expectancy. Dan. Variabel Use Behavior diposisikan untuk mempengaruhi variabel Facilitating Infrastructure. Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. Vol. No. Maret 2025: 1Ae12 Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. ye Penelitian ini juga mengajukan hipotesis (H) berdasarkan bukti dari literatur sebelumnya sebagai H1: Performance Expectancy (PE) memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention (BI). H2: Religious Perspective on ICT (RP) memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention (BI). H3: Personal Innovativeness in ICT (PI) memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention (BI). H4: Facilitating Infrastructure on ICT (FI) memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention (BI). H5: Social Influence (SI) memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention (BI). H6: Effort Expectancy (EE) memiliki pengaruh positif terhadap Behavioral Intention (BI). H7: Performance Expectancy (PE) memiliki pengaruh positif terhadap Religious Perspective on ICT (RP). H8: Facilitating Conditions (FC) memiliki pengaruh positif terhadap Use Behavior of ICT (UB). H9: Behavioral Intention (BI) memiliki pengaruh positif terhadap Use Behavior of ICT (UB). H10: Facilitating Infrastructure on ICT (FI) memiliki pengaruh positif terhadap Use Behavior of ICT (UB). H11: Behavioral Intention (BI) memiliki pengaruh positif terhadap Facilitating Conditions (FC). Pengaruh Perspektif Agama terhadap Penerimaan TIK Faktor agama memainkan peran yang signifikan dalam menentukan sikap penerimaan teknologi di kalangan masyarakat Islam. Perspektif agama Islam sering kali mempengaruhi bagaimana seseorang menyikapi teknologi, terutama dalam lingkungan Pendidikan. Islam sebagai agama yang menyarankan keseimbangan antara ilmu duniawi dan akhirat mengajarkan pentingnya menjaga etika dalam penggunaan teknologi agar tidak mengaburkan nilai-nilai religius. Diskusi tentang penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek etika digital. Dalam konteks Islam, etika digital mencakup prinsip-prinsip penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, seperti menghindari penyebaran informasi palsu, menjaga privasi, dan menggunakan media digital untuk tujuan yang bermanfaat sesuai dengan ajaran agama. Sebagai contoh. Al-QurAoan mengajarkan pentingnya tabayyun . erifikasi informas. sebelum menyebarkan berita (QS. Al-Hujurat: . , yang sangat relevan dalam konteks penggunaan teknologi. Selain itu, etika digital juga mencakup upaya untuk mencegah penyalahgunaan teknologi yang dapat merusak akhlak, seperti akses ke konten yang tidak sesuai atau penggunaan media sosial secara berlebihan. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam perlu memberikan perhatian khusus pada pendidikan etika digital kepada siswa dan tenaga pendidik, agar teknologi digunakan secara bijak dan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perspektif agama dapat menimbulkan sikap konservatif atau hati-hati terhadap adopsi teknologi baru yang dianggap berpotensi memengaruhi akidah atau moralitas. Oleh karena itu, dalam konteks Pendidikan Islam, penerimaan teknologi perlu mempertimbangkan nilai-nilai agama yang mungkin memengaruhi sikap dan persepsi penggunanya terhadap teknologi dalam pembelajaran. Dalam studi ini, perhatian khusus diberikan pada: Pengaruh Keyakinan Agama terhadap Persepsi Teknologi: Pandangan tentang teknologi yang dipengaruhi oleh prinsip-prinsip agama dapat memengaruhi penerimaan teknologi digital dalam Pendidikan Islam. Pengaruh Keyakinan Agama terhadap Persepsi Teknologi: Pandangan tentang teknologi yang dipengaruhi oleh prinsip-prinsip agama dapat memengaruhi penerimaan teknologi digital dalam Pendidikan Islam. E-ISSN: 2622-6804 P-ISSN: 2963-1955 METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengeksplorasi penerimaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam Pendidikan Islam. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan pengukuran yang lebih terstruktur mengenai faktor-faktor penerimaan teknologi berdasarkan skala tertentu, sehingga dapat menghasilkan data yang terukur dan generalisasi. Pendekatan ini juga dapat memberikan gambaran statistik tentang bagaimana perspektif agama memengaruhi penerimaan teknologi di kalangan guru, siswa, dan akademisi di lembaga Pendidikan Islam. Sampel dan Teknik Pengumpulan Data Populasi dalam penelitian ini meliputi guru, siswa, dosen, dan akademisi yang terlibat dalam lembaga Pendidikan Islam di beberapa kota besar di Indonesia. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, di mana sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu, seperti keterlibatan dalam Pendidikan Islam dan pengalaman dalam menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran. Metode pengumpulan data dilakukan Survei Kuesioner: Kuesioner disebarkan secara daring dan luring untuk mengukur faktor-faktor penerimaan teknologi, dengan mengadopsi variabel-variabel dari model penerimaan teknologi yang relevan. Wawancara Mendalam: Beberapa responden terpilih, seperti pengajar dan pengelola lembaga Pendidikan Islam, diwawancarai untuk mendalami perspektif agama mereka terhadap penerapan TIK dalam Pendidikan. Instrumen Penelitian Instrumen utama dalam penelitian ini adalah kuesioner yang disusun berdasarkan Technology Acceptance Model (TAM) dan variabel tambahan yang mempertimbangkan perspektif agama Islam. Kuesioner ini terdiri dari beberapa bagian: Demografi Responden: Berisi pertanyaan tentang jenis kelamin, usia, tingkat Pendidikan, dan peran di lembaga Pendidikan. Persepsi Kemudahan Penggunaan dan Manfaat TIK: Mengukur persepsi responden tentang kemudahan dan manfaat yang diperoleh dari penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Perspektif Agama terhadap Teknologi: Menilai bagaimana keyakinan dan nilai-nilai Islam responden memengaruhi penerimaan mereka terhadap TIK dalam Pendidikan. Wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara semi-terstruktur untuk mendapatkan pandangan lebih dalam terkait penerimaan teknologi yang mungkin tidak terungkap melalui kuesioner. Analisis Data Data yang diperoleh dari kuesioner dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk mengetahui hubungan antar variabel yang memengaruhi penerimaan teknologi. SEM-PLS dipilih karena mampu menganalisis hubungan langsung maupun tidak langsung antar variabel dengan ukuran sampel yang relatif kecil. Untuk data kualitatif dari hasil wawancara, analisis tematik digunakan guna mengidentifikasi tema-tema kunci yang berkaitan dengan perspektif agama dan penerimaan teknologi dalam Pendidikan Islam. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Utama Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor utama yang memengaruhi penerimaan teknologi dalam Pendidikan Islam meliputi persepsi kemudahan penggunaan, manfaat persepsional, dan kecocokan dengan nilai agama. Berdasarkan tabel 1 variabel persepsi manfaat . erceived usefulnes. memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan teknologi dengan nilai path coefficient sebesar 0,65 . a 0,. Faktor kemudahan penggunaan juga terbukti signifikan dengan path coefficient sebesar 0,58 . a 0,. Selain itu, kecocokan dengan nilai agama memiliki kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan penerimaan teknologi di kalangan responden, dengan path coefficient 0,72 . a 0,. , yang menunjukkan bahwa aspek religiusitas sangat memengaruhi sikap terhadap teknologi. Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. Vol. No. Maret 2025: 1Ae12 Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. ye Tabel 1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Teknologi Dalam Pendidikan Islam Faktor yang mempengaruhi penerimaan TIK Path coefficient p-value Persepsi Manfaat 0,65 a 0,05 Kemudahan Pengunaan 0,58 a 0,05 Kecocokan dengan Nilai Agama 0,72 a 0,05 Untuk memberikan visualisasi yang lebih jelas, telah ditambahkan diagram hubungan antar variabel yang menggambarkan hasil analisis SEM-PLS. Diagram ini memuat koefisien jalur dari variabel persepsi manfaat . , kemudahan penggunaan . , dan kecocokan dengan nilai agama . , sehingga mempermudah pembaca dalam memahami hubungan signifikan antar variabel. Analisis Dampak Perspektif Agama Analisis data kualitatif dari wawancara mengungkapkan bahwa perspektif agama memiliki peran besar dalam memengaruhi penerimaan teknologi di kalangan lingkungan pendidikan. Namun, pengaruh globalisasi dan adopsi teknologi dari negara-negara non-Islam juga membawa tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan Islam. Teknologi yang dikembangkan di luar konteks nilai-nilai Islam sering kali mengandung elemen budaya dan kebiasaan yang mungkin tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai contoh, platform media sosial global dapat mempromosikan konten yang bertentangan dengan nilai-nilai agama atau menciptakan gangguan dalam proses pembelajaran. Selain itu, standar global dalam desain teknologi pendidikan sering kali tidak mempertimbangkan kebutuhan khusus lembaga pendidikan Islam, seperti integrasi nilai-nilai agama dalam konten dan fitur. Untuk mengatasi tantangan ini, lembaga pendidikan Islam perlu mengembangkan strategi lokal yang mengadaptasi teknologi global agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Ini dapat mencakup penerapan filter budaya, pengembangan konten lokal berbasis Islam, serta pelatihan guru untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dalam mendukung pembelajaran agama. Lebih jauh, kolaborasi dengan pengembang teknologi global dapat menjadi peluang untuk memastikan bahwa solusi teknologi masa depan juga mencerminkan kebutuhan spesifik lembaga pendidikan Islam. Sebagian besar responden menunjukkan sikap yang berhati-hati dalam menerima teknologi baru karena adanya kekhawatiran bahwa penggunaan teknologi secara berlebihan dapat mengalihkan fokus pembelajaran dari nilai-nilai Islam. Sebagai contoh, seorang responden yang merupakan guru di sekolah Islam menyatakan. AuTeknologi itu baik selama tidak mengalihkan siswa dari akhlak dan nilai-nilai yang diajarkan agama. Ay Hasil ini mempertegas bahwa kecocokan teknologi dengan ajaran agama menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan penerimaan teknologi di lingkungan Pendidikan Islam. Namun, penting untuk mencatat bahwa pendidikan Islam terdiri dari berbagai tipe lembaga, seperti pesantren, madrasah, dan universitas Islam, yang memiliki kebutuhan teknologi dan fokus nilai agama yang Pesantren, misalnya, cenderung lebih menekankan penguatan nilai-nilai tradisional dan spiritual, sehingga teknologi yang diadopsi perlu mendukung pendidikan berbasis kitab kuning dan aktivitas keagamaan sehari-hari. Di sisi lain, madrasah sering berfungsi sebagai jembatan antara pendidikan agama dan umum, sehingga membutuhkan teknologi yang mendukung kurikulum nasional dan pembelajaran agama secara seimbang. Universitas Islam, yang lebih berorientasi pada pendidikan tinggi, cenderung membutuhkan teknologi canggih untuk mendukung penelitian dan inovasi, dengan tetap mempertimbangkan sensitivitas nilai agama dalam penerapan teknologi. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan analisis lebih mendalam pada setiap jenis lembaga pendidikan Islam guna memastikan penerapan teknologi yang relevan dan sesuai dengan konteks masing-masing. Perbandingan dengan Studi Sebelumnya Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan dari penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penerimaan teknologi di kalangan Muslim sering kali dipengaruhi oleh aspek religiusitas dan nilai-nilai agama . Studi oleh . juga menyatakan bahwa perspektif agama dapat memoderasi hubungan antara persepsi manfaat dan penerimaan teknologi, terutama dalam konteks Pendidikan. Dibandingkan dengan penelitian lain, penelitian ini memberikan kontribusi tambahan dengan mengidentifikasi bahwa kecocokan teknologi dengan ajaran agama memiliki pengaruh signifikan dan dapat meningkatkan penerimaan teknologi lebih tinggi dibandingkan faktor persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan . Namun, penting untuk mempertimbangkan bahwa pendidikan Islam tidak homogen di seluruh dunia, karena budaya dan interpretasi agama dapat sangat memengaruhi penerimaan teknologi. Sebagai contoh, dalam konteks negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, penerimaan teknologi dalam pendidikan Islam sering kali lebih terintegrasi ye E-ISSN: 2622-6804 P-ISSN: 2963-1955 dengan kebijakan nasional yang mendukung digitalisasi berbasis syariah. Di sisi lain, negara-negara dengan minoritas Muslim yang signifikan, seperti India atau Inggris, mungkin menghadapi tantangan yang berbeda, seperti kebutuhan untuk mengakomodasi nilai-nilai Islam dalam lingkungan multikultural dan pluralistik. Hasil penelitian ini dapat diterapkan di konteks global dengan mempertimbangkan variasi budaya tersebut. Sebagai langkah praktis, pengembangan teknologi pendidikan Islam perlu memperhatikan fleksibilitas desain untuk menyesuaikan kebutuhan budaya dan lokal. Penelitian lebih lanjut yang melibatkan lembaga pendidikan Islam di berbagai negara juga direkomendasikan untuk menguji generalisasi temuan ini dalam skala yang lebih Sebagai tambahan, penelitian ini dibandingkan dengan beberapa studi pada konteks pendidikan agama Dalam konteks pendidikan Kristen, penelitian oleh . menunjukkan bahwa penerimaan teknologi sangat dipengaruhi oleh persepsi manfaat dan pengaruh sosial, sementara kecocokan dengan nilai agama tidak menjadi faktor utama. Sebaliknya, penelitian oleh dalam konteks pendidikan Hindu mengungkapkan bahwa penerimaan teknologi lebih terkait dengan tradisi lokal dan praktik spiritual tertentu, di mana teknologi yang dianggap tidak mendukung nilai tradisional cenderung ditolak. Temuan ini menggarisbawahi perbedaan pendekatan dalam penerimaan teknologi di berbagai konteks agama, yang memperkuat relevansi fokus pada kecocokan nilai agama dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, wawasan ini dapat menjadi dasar bagi penelitian lintas agama untuk mengembangkan pendekatan yang lebih inklusif dalam penerapan teknologi di pendidikan berbasis agama. Gambar 2. Pengaruh Faktor Penerimaan Teknologi Dalam Pendidikan Islam Berikut ini adalah gambar yang menggambarkan pengaruh faktor-faktor terhadap penerimaan teknologi dalam Pendidikan Islam. Koefisien jalur antar variabel ditampilkan, menunjukkan bagaimana persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, dan kesesuaian dengan nilai-nilai agama mempengaruhi penerimaan Gambar 2 menunjukkan hasil analisis SEM-PLS yang memperlihatkan pengaruh dari persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dan kecocokan dengan nilai agama terhadap penerimaan teknologi dalam Pendidikan Islam. IMPLIKASI PENELITIAN Implikasi bagi Pendidikan Islam Hasil penelitian ini memberikan wawasan bagi lembaga Pendidikan Islam dalam menyusun kebijakan penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. Lembaga Pendidikan Islam perlu mempertimbangkan faktor kecocokan teknologi dengan nilai agama agar dapat diterima dengan baik oleh Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. Vol. No. Maret 2025: 1Ae12 Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. ye siswa dan pengajar. Kebijakan ini dapat meliputi penyediaan pelatihan yang menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi sesuai dengan nilai-nilai Islam serta penyusunan kurikulum yang mengintegrasikan materi agama dengan keterampilan digital. Penerapan teknologi yang sejalan dengan prinsip Islam diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memelihara akhlak dan nilai-nilai religius. Implikasi bagi Pengembangan TIK Bagi pengembang teknologi Pendidikan, penelitian ini menunjukkan pentingnya memasukkan aspek religiusitas ke dalam desain dan implementasi teknologi untuk Pendidikan Islam. Pengembang disarankan untuk membuat aplikasi atau platform yang mempertimbangkan sensitivitas budaya dan agama, seperti fitur yang sesuai dengan kurikulum Islam dan konten yang mendukung pembelajaran agama. Untuk lebih menonjolkan aspek praktis, berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam desain teknologi pembelajaran: Desain Berbasis Nilai: Mengadopsi prinsip-prinsip nilai Islam, seperti kejujuran, keadilan, dan moderasi, sebagai panduan utama dalam proses pengembangan teknologi. Contohnya, algoritma platform pembelajaran dapat dirancang untuk mempromosikan konten yang mendidik dan sesuai dengan ajaran Islam. Pengembangan Modul Berbasis Islam: Menyediakan modul pembelajaran yang terstruktur dengan materi Al-QurAoan. Hadis, dan Fiqih sebagai bagian dari kurikulum digital, lengkap dengan evaluasi interaktif berbasis syariah. Penerapan Fitur Khusus Agama: Mengintegrasikan fitur seperti pengingat waktu salat, mode pembelajaran Islami . isalnya, penghapusan distraksi dari media sosial selama sesi belaja. , atau alat evaluasi berbasis nilai agama. Pelibatan Pakar Agama dalam Pengembangan: Mengundang ulama dan akademisi Islam untuk memberikan masukan selama proses desain dan implementasi teknologi, memastikan kesesuaian dengan prinsip-prinsip syariah. Pengujian Nilai Agama pada Pengguna: Melibatkan guru, siswa, dan orang tua dari latar belakang pendidikan Islam dalam pengujian produk untuk mengevaluasi sejauh mana teknologi mendukung nilainilai agama. Pembuatan Antarmuka Pengguna yang Responsif: Mendesain antarmuka pengguna yang intuitif dan mudah diakses oleh kelompok usia yang berbeda, termasuk guru dan siswa. Selain itu, pastikan bahwa elemen desain seperti simbol dan ikonografi konsisten dengan budaya Islam. Dengan langkah-langkah ini, teknologi pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai sarana yang memperkuat nilai-nilai Islam di kalangan siswa dan pendidik. Gambar 3. Rekomendasi Strategi Untuk Penerapan TIK Dalam Pendidikan Islam Berikut ini adalah gambar 3 yang menggambarkan implikasi untuk Pendidikan Islam dan pengembangan teknologi Pendidikan. Diagram alir ini menunjukkan bagaimana temuan penelitian menginformasikan strategi Pendidikan dan rekomendasi teknologi, yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan penerimaan teknologi yang selaras dengan nilai-nilai Islam. E-ISSN: 2622-6804 P-ISSN: 2963-1955 Gambar 4. Implikasi Bagi Pendidikan Islam dan Pengembangan TIK Gambar 4 memperlihatkan alur rekomendasi dan dampak dari hasil penelitian untuk meningkatkan penerimaan teknologi dalam pendidikan Islam dan panduan bagi pengembang TIK untuk menciptakan solusi yang relevan. KESIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa penerimaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan Islam dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu persepsi kemudahan penggunaan, manfaat persepsional, dan kecocokan dengan nilai agama. Dari hasil analisis, aspek kecocokan dengan nilai-nilai Islam memiliki pengaruh yang signifikan, menunjukkan bahwa perspektif agama berperan besar dalam penerimaan teknologi oleh pengguna di lingkungan pendidikan Islam. Hasil ini mengindikasikan bahwa teknologi yang selaras dengan nilai religiusitas cenderung lebih mudah diterima oleh para guru, siswa, dan pengelola lembaga pendidikan Islam. Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, ukuran sampel yang terbatas pada beberapa kota besar di Indonesia dapat mempengaruhi generalisasi hasil temuan, sehingga hasil ini mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan pandangan yang lebih luas di seluruh lembaga pendidikan Islam. Selain itu, keterbatasan dalam pemilihan sampel dapat mengakibatkan bias pada hasil penelitian, karena tidak mencerminkan keberagaman konteks pendidikan Islam di wilayah pedesaan atau daerah terpencil. Penelitian ini belum mencakup daerah-daerah dengan kondisi sosial dan infrastruktur yang berbeda, yang mungkin memiliki tantangan unik dalam penerimaan teknologi. Kedua, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif sebagai pendekatan utama. pendekatan kualitatif yang lebih mendalam mungkin diperlukan untuk memahami lebih jauh nuansa perspektif agama dalam penerimaan teknologi. Selain itu, penelitian ini cenderung lebih berfokus pada perspektif guru dan pemangku kebijakan, sehingga kurang menggali sudut pandang siswa yang merupakan pengguna utama teknologi pembelajaran. Pemahaman tentang bagaimana siswa merasakan kemudahan, manfaat, dan kecocokan teknologi dengan nilai agama sangat penting untuk memberikan wawasan yang lebih holistik. Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu memperluas cakupan data dengan melibatkan siswa secara lebih intensif, baik melalui survei terarah maupun wawancara mendalam, untuk menggali pengalaman mereka dalam menggunakan teknologi dalam Ketergantungan pada pendekatan kuantitatif dapat mengaburkan pemahaman mendalam tentang dinamika sosial, budaya, dan agama yang memengaruhi penerimaan teknologi di pendidikan Islam. Pendekatan kualitatif, seperti wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan, dapat menggali lebih jauh pengalaman subjektif, keyakinan pribadi, dan pengaruh kontekstual yang tidak dapat diukur secara statistik. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif guna memberikan wawasan yang lebih kaya dan holistik tentang penerimaan teknologi di lingkungan pendidikan Islam. Pendekatan kuantitatif, meskipun memberikan data yang terukur dan generalisasi yang baik, sering kali kurang mampu menangkap dinamika dan kompleksitas perspektif agama yang bersifat personal dan kontekstual. Perspektif agama sering kali melibatkan keyakinan, emosi, dan praktik individual yang membutuhkan Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. Vol. No. Maret 2025: 1Ae12 Alfabet Jurnal Wawasan Agama Risalah Islamiah. Teknologi dan Sosial (Al-Waarit. ye eksplorasi kualitatif untuk dipahami secara mendalam. Dengan demikian, penelitian lanjutan disarankan untuk mengadopsi pendekatan mixed-methods, yang mengombinasikan kuantitatif dan kualitatif, guna memperkaya wawasan terkait penerimaan teknologi dalam konteks pendidikan Islam. Untuk penelitian lanjutan, direkomendasikan agar dilakukan dengan melibatkan lebih banyak sampel yang mencakup berbagai latar belakang budaya dan geografis, sehingga hasilnya lebih representatif. Penelitian di masa depan juga disarankan untuk mengeksplorasi variabel lain yang mungkin relevan, seperti pengaruh dukungan institusional atau peran komunitas keagamaan dalam penerimaan teknologi di pendidikan Islam. Hal ini dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif dalam mengembangkan strategi penerapan teknologi yang sesuai dalam pendidikan Islam. DEKLARASI Tentang Penulis Sindi Sulistia Bahri (SB) https://orcid. org/0009-0000-9680-2232 Marviola Hardini (MH) https://orcid. org/ 0000-0003-3336-2131 Hamdan (HH) Hafiz Imran (HI) https://orcid. org/0000-0003-1169-3108 https://orcid. org/0009-0005-6926-8210 Kontribusi Penulis Konseptualisasi dilakukan oleh SB. Metodologi dikembangkan oleh MH, sementara pengembangan perangkat lunak ditangani oleh HH. Validasi dilakukan oleh HI dan HI, sedangkan analisis formal dikerjakan oleh HH dan HI. SB bertanggung jawab atas investigasi dan pengelolaan data, sementara sumber daya disediakan oleh HH. Penulisan draf awal diselesaikan oleh HI dan SB, dengan tinjauan serta penyuntingan dilakukan oleh NR dan UR. Visualisasi dikerjakan oleh HI. Seluruh penulis, yaitu SB. MH. HH, dan HI, telah membaca dan menyetujui versi akhir manuskrip yang dipublikasikan. Pernyataan Ketersediaan Data Data yang disajikan dalam penelitian ini tersedia berdasarkan permintaan kepada penulis yang bersangkutan. Pendanaan Para penulis tidak menerima dukungan finansial apa pun untuk penelitian, penulisan, dan/atau publikasi artikel ini. Pernyataan Konflik Kepentingan Para penulis menyatakan bahwa mereka tidak memiliki konflik kepentingan, kepentingan finansial yang bersaing, atau hubungan pribadi yang dapat memengaruhi pekerjaan yang dilaporkan dalam makalah ini. DAFTAR PUSTAKA