Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BRAIN AND COOPERATIVE HEART LEARNING PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MTS MUHAMMADIYAH 15 MEDAN FITRI WARDANI Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara email: pitriwardani82@gmail. Abstrak Penelitian ini berjudul AuPenerapan Model Pembelajaran Brain and Cooperative Heart Learning Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 MedanAy Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perencanaan dan penerapan model pembelajaran Brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 Medan dan sekaligus lebih mengetahui apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat bagi pendidik dalam melakukan model pembelajaran ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif study kasus yang dimana teknik analisis yang dilakukan yaitu dengan pengumpulan data observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah, guru Aqidah akhlak sudah menerapkan model pembelajaran Brain and Cooperative Heart Learning Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak disetiap kelas, dan sangat diterima oleh siswasiswa dengan antusias. Adapun faktor penghambat dari keberhasilan dalam penerapan model pembelajaran ini hanya terletak pada sarana dan prasarana yang tersedia dan juga faktor internal dan eksternal pada siswa itu sendiri. Namun pendidik sudah sangat maksimal dalam menerapkan model pembelajaran ini dengan kreatif dan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia dengan sebaik mungkin. Dan faktor pendukung pada model pembelajaran ini terletak pada praktek-praktek kegiatan yang rutin dilakukan oleh sekolah contohnya adalah shalat duha 2 rakaat setiap pagi, membaca alquran dan buku setiap hari sebelum dimulainya proses pembelajaran. Kata Kunci : Aqidah Akhlak. Model Pembelajaran This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Menurut Kamus Bahasa Indonesia kata Pendidikan berasal dari kata AodidikAo dan mendapat imbuhan AopeAo dan akhiran AoanAo, maka kata ini mempunyai arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan merupakan suatu proses yang mencakup tiga dimensi, individu, masyarakat atau komunitas nasional dari individu tersebut, dan seluruh kandungan realitas, baik material maupun spiritual yang memainkan peranan masyarakat dalam menentukan sifat, nasib, bentuk manusia maupun masyarakat . ukholis, 2. Pada kurikulum 2013 ini guru hanya sebagai fasilitator dan murid yang harus banyak mencari dan Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 belajar dari lingkungan sekitarnya baik itu lingkungan sekolah atau lingkungan hidupnya dan pada kurikulum 2013 ini peran orang tua juga tak kalah penting dalam mendidik karakter anaknya untuk membantu guru dalam mendidik karakter muridnya. Hal ini sangat penting untuk mencapai tujuan Pendidikan itu sendiri yaitu untuk menciptakan seseorang yang berkhualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang diharapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat didalam berbagai lingkungan. Karena Pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Disekolah MTs Muhammadiyah 15 Medan sudah menerapkan model pembelajaran yang baik, yaitu penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Otak merupakan salah satu organ terpenting dalam manusia karena otak merupakan pusat dari seluruh aktivitas manusia, seperti berpikir, mengingat, berimajinasi, menyelidiki, belajar, dan sebagainya. Sebagaimana dalam given, bahwa otak mengembangkan lima system pembelajaran yang primer yaitu emosional, sosial, kognitif, fisik, dan reflektif. Lima system tersebut merupakan satu kesatuan. Salah satu komponen system tersebut tidak akan berkembang optimal jika tidak melibatkan komponen system lain (Jensen, 2. Penggunaan paradigma pembelajaran berbasis otak (Brain Based Learnin. haruslah berdasarkan tifografi siswa, tidak hanya satu bagian otak saja, tetapi kedua bagian atau hemisfer otak sekaligus. Jika tidak melibatkan kedua fungsi otak tersebut ketidakseimbangan akan terjadi pada diri siswa, karna itu guru harus menyeimbangkan strategi dan model pembelajaran yang bisa melibatkan fungsi otak kiri dan otak kanan siswanya. Alat pembelajaran manusia yang terdapat didalam otak jika tidak disederhanakan terdiri dari bagian utama itu kemampuan kreatif, kemampuan berfikir/ nalar, dan kemampuan mengingat/ Namun Sebagian besar system Pendidikan kita dirancang untuk melatih dan mengembangkan kemampuan memori siswa atau dengan kata lain Pendidikan berbasis hafalan, padahal kemampuan tertinggi yang dimiliki manusia disbanding mahkluk apapun dimuka bumi ini adalah kemampuan berpikir, bukan kemampuan hafalan atau memori Kecendrungan umum yang hadir di ruang kelas kita adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang relative hanya memfungsikan otak kecil semata, dimana proses pembelajaran bersifat teacher centered dengan menjadikan siswa sebagai objek mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Praktik pembelajaran yang terjadi selama ini adalah bila guru mengajar maka diasumsikan pada saat itu siswa akan mengajar. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 salah satu asumsi yang salah dan menyesatkan. Kahadiran seorang guru dan sejumlah pembelajar didalam kelas, tidak berarti proses Pendidikan berlangsung secara otomatis. Bila ada proses pengajaran, tidak berarti pasti diikuti dengan proses pembelajaran. Kedua proses ini merupakan dua kegiatan yang berbeda, meskipun diusahakan untuk bisa dicapai secara Agar pembelajaran terjadi, kondisi . pembelajaran harus diorkesrasikan tercipta lebih dahulu, dan pikiran (Ota. siswa harus di AuOnAy kan (Hamruni, 2. Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak buruk bagi siswa, dimana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa merasa apa yang mereka kerjakan bukan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu diluar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi ini jelas merupakan sebuah hal yang kontraproduktif terhadap terciptanya kegiatan pembelajaran yang bermakna bagi siswa . ufidah, 2. Peran guru sangat dibutuhkan didalam kelas. Guru berperan untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar siswa dapat terlihat aktif dalam proses pembelajaran baik secara fisik maupun mental. Namun kenyataannya dalam proses pembelajaran masih sering ditemui adanya kecendrungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih bersifat pasif sehingga siswa lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. Seorang guru harus pandai merencanakan siasat dan kiat yang berkenaan dengan segala persiapan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran dengan lancar dan tujuan yang berupa hasil belajar bisa tercapai secara optimal. Dalam hal ini model pembelajaran Brain Based Learning bisa disatukan dengan Model pembelajaran Cooperative Heart Learning. Cooperative Heart Learning merupakan model pembelajaran yang pada saat ini banyak diterapkan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar melibatkan keatifan anak. Melalui Cooperative Learning, proses pembelajaran akan berpusat pada anak (Student Oriente. jadi akan sangat membantu dalam mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan siswa yang tidak peduli terhadap temannya yang lain. Beberapa ciri Cooperative Heart learning menurut isjoni adalah : . Setiap anggota memiliki peran. Terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya. Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Mengacu pada ciri-ciri diatas dapat disimpulkan bahwa Cooperative Heart Learning memungkinkan terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa lainnya, setiap anggota siswa dalam model pembelajaran ini memiliki peran dalam kelompoknya. Pembelajaran ini dikatakan berhasil apabila semua anggota kelompok dapat memahami konsep materi yang dipelajari, jadi apabila terdapat salah satu anggota kelompok yang tidak memahami konsep materi, maka anggota kelompok yang lainnya turut bertanggung jawab. Penguatan akidah akhlak melalui keteladanan sahabat Nabi, merupakan suatu upaya untuk membangkitkan intuisi agama dan kesiapan rohani dalam mencapai pengalaman Model Cooperatif Heart Learning dalam pembelajaran Pendidikan Pendidikan Agama Islam adalah cara menyajikan pembelajaran dengan belajar bersama berbentuk kelompok kecil yang terstruktur didalamnya peserta didik melakukan aktivitas belajar saling membantu guna meningkatkan kemampuan kognitif, efektif, dan psikomotorik dalam memahami materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif sesuai dengan indicator pembelajaran Pendidikan agama islam yang ditetapkan. Metode Cooperative Heart Learning dapat memotivasi peserta didik untuk berfikir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yakni problem solving atau pengajuan masalah-masalah yang diajukan dalam bentuk pertanyaan. Permasalahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diupayakan untuk dicari jawabannya baik secara individu maupun bersama. Penerapan Cooperative Heart Learning ini tidak hanya memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang akan guru sampaikan, namun juga akan dapat menguatkan akidah akhlak serta keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di MTs Muhammadiyah 15 Medan dengan metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif study kasus. Adapun tujuan dari metode penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara utuh dan mendalam tentang realitas sosial dan berbagai fenomena yang terjadi dimasyarakat yang menjadi subyek penelitian sehingga tergambarkan ciri, karakter, sifat dan model dari fenomena tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah . Wawancara, yang dilakukan kepada beberapa sumber seperti, kepala sekolah, guru mata pelajaran Aqidah Akhlak dan Siswa-siswa. Observasi dengan masuk kekelas dan melihat secara langsung bagaimana guru Aqidah Akhlak menerapkan model Pembelajaran brain and cooperative heart learning dikelas. Dokumentasi yang digunakan untuk mengumpulkan data-data arsip dan administrasi kepustakaan sekolah. Data-data yang diperoleh oleh peneliti melalui dua sumber yaitu, data primer dan data sekunder. Data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi yang dirancang khusus dengan tujuan penelitian. Data Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 sekunder diperoleh dari dokumentasi, arsip-arsip, buku dan jurnal. Teknik analisis data yang peneliti lakukan dilapangan mengikuti Langkah-langkah yang direkomendasikan, seperti yang dikutip Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan, kesimpulan dan verifikasi. HASIL Model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Perencanaan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 Medan. Pada dasarnya setiap guru memiliki rencana pembelajaran yang akan diterapkan dikelas atau lebih dikenal dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Fungsi dari rencana pelaksanaan pembelajaran atau disingkat dengan RPP adalah sebagai pegangan seorang guru dalam mengajar didalam kelas. RPP dibuat oleh guru untuk membantunya dalam mengajar agar sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar pada hari tersebut. RPP mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar. Untuk memudahkan penyampaian pembelajaran kepada peserta didik juga dibutuhkan sebuah model pembelajaran, yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas. Ada banyak sekali bentuk dan jenis-jenis dari model pembelajaran. Dalam penelitian kali ini, model pembelajaran yang diangkat adalah model pembelajaran Brain and cooperative heart learning. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan mengenai model pembelajaran ini diketahui bahwa sekolah MTs Muhammadiyah 15 Medan sudah menerapkan model pembelajaran Brain and Cooperative Heart Learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak, seperti yang diungkapkan oleh Bapak M. Syahri. Ag yang merupakan seorang guru mata pelajaran Aqidah Akhlak. AuModel pembelajaran seperti itu sudah diterapkan disekolah ini, yang dimana awalnya dilakukan oleh mahasiswa magang disekolah ini hingga bertahan sampai hari ini, hanya saja nama model pembelajarannya yang berbeda. Tetapi model pembelajaran ini sangat bagus dalam menumbuhkan minat serta semangat siswa-siswi untuk mengikuti pembelajaran. Selain bervariasi dan kreatif, model pembelajaran yang penuh dengan motivasi serta menggunakan media pembelajaran ini membuat suasana kelas tidak membosankan. Adapun salah satu materi yang pernah diterapkan adalah mengenai Kisah Teladan Para Nabi yaitu pada saat kelas berlangsung saya menggunakan media pembelajaran laptop dan speaker kemudian memutar film kisah teladan Nabi Ibrahim diyoutube, setelah film selesai maka Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 siswa-siswi yang sebelumnya sudah dibentuk kelompoknya untuk menuliskan apa saja yang mereka dapatkan setelah menonton film ini dan harus dipersentasikan kedepan kelas sesuai kelompoknyaAy (Syahri,2. Dari hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam menubuhkan semangat siswa belajar sangat dibutuhkannya media pembelajaran yang mendukung untuk mencegah rasa bosan siswa dalam belajar. Model pembelajaran Brain and Cooperative heart learning yang mengedepankan motivasi belajar yang bukan hanya sekedar dipahami secara teori saja, tapi diwajibkan untuk mengambil serta menerapkan pembelajaran yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran seperti ini sangat menyenangkan dan dibutuhkannya kreatifitas serta variasi yang dilakukan oleh pendidik tanpa menghilangkan makna dan tujuan yang hendak dicapai pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Penerapan model pembelajaran Brain and Cooperative Heart Learning sejauh ini hanya dilakukan oleh guru mata pelajaran Aqidah Akhlak, selain banyak materi yang mendukung, guru mata pelajaran Aqidah akhlaknya juga menyukai proses pembelajaran yang menyenangkan didalam kelas, sehingga penerapan pada model pembelajaran ini sangat memuaskan dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dan juga memperolah antusias pada siswa-siswi untuk belajar. Seperti dalam wawancara dengan seorang siswa yang mengatakan bahwa. Adengan belajar menggunakan media pembelajaran, kami (Sisw. lebih semangat dalam belajar. Kadang karna serunya kami suka ga terasa kalau waktu belajar sudah mau Karna memang tidak ada bosannya. Biasanya kalau mata pelajaran yang lain selalu menggunakan metode pembelajaran ceramah, jadi keadaan kelas jadi ga kondusif. (Siswa,2. , hal ini dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 1. Perencanaan media pembelajaraan sebelum kelas dimulai. Adapun variasi guru pada implementasi model pembelajaran terletak pada kreatifitas media pembelajarannya. Dikarenakan model pembelajaran Brain and Cooperative heart learning adalah model pembelajaran yang mengedepankan motivasi terhadap pelajaran yang sudah dilakukan dan diharapkan dapat diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu bukan hal mudah dalam memberikan nasehat terhadap peserta didik, untuk itu sangat Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 diperlukan model pembelajaran yang menyenangkan, sehingga menumbuhkan semangat peserta didik untuk terus belajar, bertanya, berfikir, mencari tahu kemudian menerapkannya. dan diterima dengan baik. Selain itu, dengan model pembelajaran ini siswa dapat menyadari akan pentingnya pelajaran Aqidah Akhlak, melalui observasi yang dilakukan, penyadaran yang dimaksud dalam hal ini adalah, seorang guru bisa menyadarkan siswa tentang pentingnya mata pelajaran Aqidah Akhlak dalam kehidupan sehari-hari, dimana materi-materi yang terdapat pada mata pelajaran Aqidah Akhlak semua sudah tertulis didalam Al-Quran. Al-Quran selain sebagai pedoman hidup manusia . juga termasuk media pembelajaran yang lengkap untuk digunakan didalam kegiatan proses pembelajaran disekolah. Berdasarkan hasil penelitian, variasi yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Aqidah akhlak adalah menggunakan tipe belajar kelompok dan dikemas dengan media pembelajaran, karena hampir keseluruhan siswa mengeluh tentang mata pelajaran yang membosankan dan monoton, cenderung menerima teori tanpa memasukkan unsur kreatifitas dalam proses pembelajarannya hingga tak jarang membuat siswa merasa jenuh dan tidak semangat dalam mendengarkan maupun menerima pembelajaran dengan baik, maka alasan ini pula yang pada akhirnya membuat Pak Syahri selaku guru mata pelajaran Aqidah Akhlak mengubah suasana belajar menjadi lebih menyenangkan secara bervariasi dan kreatif kemudian diterapkannya didalam kelas, seperti penuturannya dalam sesi wawancara. AuMetode ceramah memang sangat penting dalam memahamkan teori yang sedang diajarkan, namun alangkah lebih baik jika metode ceramah itu dikemas dengan kreatifitas didalamnya, dengan menciptakan suasana kelas yang berbeda dan menggunakan banyak media pembelajaran. Didalam suasana belajar yang seperti ini maka siswa tidak akan merasa sedang diceramahi, tetapi berjalan dengan sendirinya. Karna kan tidak semua peserta didik cepat memahami pelajaran dengan mendengarkan saja, ada juga dengan cara merasa dan melihat langsung dengan panca indranya, jadi menurut saya model pembelajaran ini sudah mengemas banyak metode yang bisa dengan mudah peserta didik terima dan juga pahamiAy. (Syahri,2. Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa adanya kesadaran siswa mengenai pentingnya mata pelajaran Aqidah akhlak untuk dipelajari untuk kehidupan seharihari, mengenai pentingnya aqidah sebagai muslim itu sendiri, serta memahami materi-materi akhlak yang pada dasarnya selalu berhubungan dengan kehidupan peserta didik itu sendiri. Karna pelajaran yang dipelajari di sekolah hendaknya memang harus diterapkan dalam kehidupan, baik itu dari peserta didik membuka mata, hingga menutup mata kembali, semuanya tidak lepas dari aqidah dan akhlak. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Berdasarkan hasil observasi wawancara yaitu adanya peningkatan minat belajar siswa dalam memahami materi pembelajaran Aqidah Akhlak karna pada proses pembelajaran tidak hanya melibatkan guru saja, tetapi juga siswa dan kemudian didukung dengan media pembelajaran yang bervariasi dan tidak membosankan. Semua siswa berhak mengeluarkan pendapat dan pemikiran yang mereka rasakan dan pahami dari proses pembelajaran yang sedang berlangsung, tentunya apa yang mereka lakukan mendapatkan reward dari pendidik. Hal ini sesuai dengan proses evaluasi yang dilakukan, yaitu pada saat ujian, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Pak Syahri dalam sesi wawancara. AuTentu saja yang mereka sampaikan mendapatkan reward dari pendidik, ada 3 penilaian yang dilakukan, saat belajar dikelas, saat ujian dilaksanakan, dan yang terakhir penilaian diri sendiri dan teman, nah salah satu penerapan pembelajaran aqidah akhlak dalam kehidupan sehari-hari termasuk dari reward yang ketiga ini, yaitu tentang kejujuran, mereka saya minta untuk jujur dan mampu menilai kemampuan diri sendiri dan teman-temannya secara objective dengan sejujur-jujurnya. nah penilaian ini tidak pernah saya beritahu menggunakan angka yang mereka peroleh langsung didalam kelas, tetapi hanya dengan kata-kata motivasi dan pujian secara keseluruhan terhadap peserta didik untuk terus semangat belajar dan sekaligus menerapkannya, nah penilaian angka hanya ada didalam hasil akhir belajar mereka, yaitu (Syahri,2. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah yaitu berdasarkan data hasil penelitian diatas, maka dapat dianalisis bahwa penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 Medan dalam penerapannya sangat dibutuhkan keterlibatan peran antara pendidik dan peserta didik dengan sangat baik, agar memperoleh hasil yang maksimal sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan yaitu paham dengan baik teori dan juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik untuk pendidik dan juga peserta didik. Model pembelajaran yang berisi motivasi mendasar dan dikemas dengan penerapan model pembelajaran yang bervariasi, kreatif dan inovatif sehingga terwujud keadaan kelas yang menyenangkan, membuat siswa dan pendidik sama-sama semangat dalam belajar dan mengajar. Penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada siswa kelas VII di MTs Muhammadiyah 15 Medan. Penerapan model pembelajaran merupakan perencanaan dan pengaplikasian model pembelajaran brain and cooperative heart learning dikelas. Penerapan model pembelajaran yang biasanya dilakukan oleh guru hanya seputaran dari ceramah dalam memberikan teori dan ditutup dengan tanya jawab. Hal ini terkesan monoton dan tak jarang membuat peserta didik menjadi jenuh dan bosan. Namun dalam model pembelajaran brain and cooperative heart learning adalah model pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 sehingga proses pembelajaran sangat kreatif dan tidak membuat peserta didik cepat bosan dan jenuh. Apalagi jika dilakukan pada kelas VII, kelas VII adalah masa peralihan dari anak kelas 6 SD menjadi SMP, maka model pembelajaran yang harus diterapkan adalah bermain sambil belajar. Maka akan terlihat keadaan kelas sangat aktif dalam menyampaikan berargumen tentang materi yang mereka pelajari. Berdasarkan data yang ditemukan oleh peneliti saat melakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 Medan dikelas VII sebagai berikut : Dalam setiap proses pembelajaran yang akan berlangsung tentunya guru harus mempersiapkan segala persiapan dengan matang guna mendukung dan menunjang hasil belajar yang efektif dan efisien. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, sesuai dengan apa yang Bapak Syahri tuturkan bahwasanya : AuTentu saja guru akan mempersiapkan perencanaan yang matang sebelum melakukan proses pembelajaran, khusus untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak tentunya selain mempersiapkan RPP materi apa saja yang akan berikan, maka saya selalu menyiapkan media pembelajaran yang akan di tampilkan, dan disamping itu, saya selalu mengemas proses pembelajaran dengan motivasi-motivasi yang berhubungan dengan materi yang Model pembelajaran menjadi salah satu hal penting bagi guru, dikarenakan model pembelajaran merupakan bagian yang paling penting, agar materi yang kita berikan sampai kepada siswa dengan baikAy (Syahri,2. Dari hasil wawancara di atas disimpulkan bahwa setiap guru yang menyampaikan materi untuk diajarkan, terlebih dahulu guru harus mempersiapkan bahan ajar berupa RPP, model pembelajaran yang efektif. Dan pada mata pelajaran Aqidah Akhlak ini guru harus mempersiapkan berbagai macam media pembelajaran yang menunjang semangat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, dan tak lupa hal yang paling penting motivasimotivasi yang mendalam yang akan disampaikan selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Aqidah Akhlak bahwa banyak sekali motivasimotivasi yang telah disampaikan kepada peserta didik, sesuai dengan materi yang terdapat pada mata pelajaran Aqidah Akhlak itu sendiri, contohnya untuk kelas VII, seperti yang disampaikan oleh Pak Syahri. AuBanyak sekali motivasi-motivasi yang sudah diberikan kepada siswa, berbicara tentang Aqidah itu sendiri, kita harus memahamkan bahwa ketuhanan itu esa, dengan tidak membiarkan mereka menyalahpahami dengan adat istiadat yang melanggar norma agama, dan bahkan sampai tanpa sadar berbuat syirik, dengan percaya kepada dukun, takhayul, kurafat dan berbagai macam penyimpangan lainnya. Setelah itu berbicara tentang motivasi akhlak kepada peserta didik, saya selalu menanamkan perbuatan-perbuatan terpuji kepada Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 siswa, tentang cara menghormati guru, berbuat baik kepada teman, rajin, jujur, dan saya melihat hasilnya bahwa peserta didik secara keseluruhan sudah memahami pentingnya aqidah akhlak didalam kehidupan, gambaran yang terlihat di sekolah merupakan gambaran yang mungkin mereka juga lakukan di rumah, karna kita guru tidak mungkin memantau perilaku peserta didik sampai kerumah, tetapi motivasi-motivasi yang diberikan sudah sangat baik untuk mereka terima dan terapkanAy (Syahri,2. Dapat kita simpulkan dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart kearning sudah mampu membuat peserta didik menjadi lebih baik, dikarenakan selain teori yang diberikan motivasi juga menjadi hal yang paling penting diberikan kepada peserta didik dalam memahami pentingnya beraqidah dan berakhlak sebagai seorang muslim. Adapun salah satu hal yang mendukung minat dari peserta didik untuk belajar, pastinya terletak pada keadaan kelas saat pembelajaran berlangsung. Hal ini disampaikan oleh bapak syahri dengan melihat antusiasnya peserta didik jika menerima pelajaran Aqidah Akhlak dikelas, seperti yang disampaikan sebagai berikut. AuSetiap belajar, siswa sangat antusias. Selain dengan belajar secara berkelompok kemudian berdiskusi, peserta didik juga menyukai media pembelajaran yang dihadirkan, ada banyak media pembelajaran yang sudah saya berikan, sesuai dengan sarana dan prasarana yang mendukung, salah satunya laptop dan speaker serta infokus untuk memutarkan film-film yang dapat mereka pelajari, contohnya video-video pembelajaran yang penuh hikmah, filmfilm yang dapat diambil pelajarannya, serta media pembelajaran pendukung yang terkadang saya hadirkan untuk menunjang proses pembelajaran yang efektif kepada peserta didik. Sebelum dimulai dengan media pembelajaran, tentunya saya sebagai guru pasti menyampaikan teori-teori yang mereka harus pahami, disertai motivasi-motivasi kepada peserta didik, setelah proses pembelajaran menggunakan media pembelajaran, maka saya meminta setiap kelompok untuk mendiskusikan dan menuliskan apa hikmah yang mereka bisa ambil dan pahami, setelah itu dipaparkan perkelompok kedepan, dan bisa ditanggapi. Disini peserta didik selain dituntut harus bisa mengeluarkan pendapat dan pemikiran yang mereka pahami, dan tugas saya sebagai guru yang meluruskan jika peserta didik mengalami kesulitan, dan yang paling penting, tentu ada reward dari saya sebagai guru setiap harinya untuk perkembangan peserta didikAy(Syahri,2. Seperti yang terlihat pada gambar 4. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Gambar 2 Melakukan pembelajaran menggunakan media pembelajaran Kantung Ilmu untuk kelas VII pada materi aqidah akhlak. Dari hasil dokumentasi diatas, peserta didik melakukan pembelajaran Aqidah Akhlak menggunakan media pembelajaran kreatif yang bernama kantung ilmu. Yang dimana diatas kertas kartun ditempel kertas yang berbentuk kantung. Adapun isi dari kantung-kantung tersebut adalah pertama sebuah tebak-tebakan lucu yang menambah ilmu, kedua pertanyaan seputar materi aqidah akhlak, dan yang terakhir adalah kertas motivasi. Cara bermainnya menggunakan cabut nomor oleh peserta didik yang tertulis diatas kantung. Dan peserta didik yang mendapatkan nomor dikantung, harus menjawab dari semua pertanyaan yang ada didalam kantung. Dalam proses pembelajaran seperti ini, peserta didik sangat antusias dan terlatih keberanian, kreativitas dan kemampuan nya dalam menyampaikan pemikirannya. Dan dari hasil wawancara diatas juga dapat disimpulkan bahwa guru Aqidah Akhlak sudah melakukan perencanaan dan penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dikelas VII sudah sangan baik dalam penerapannya, semua sudah tersusun dengan sistematis dan terencana dengan sangat baik, didukung dengan adanya antusiasme peserta didik dalam memperhatikan, mendengarkan dan menerima serta berdiskusi untuk mengeluarkan pemikiran dan pendapat masing-masing siswa dan sekaligus bukan hanya untuk dipahami, juga diterapkan dalam kehidupan seharihari siswa itu sendiri. Berdasarkan hasil observasi pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilakukan pada materi Asmaul husna, pembelajaran dilakukan dengan penyampaian materi oleh guru terlebih dahulu agar peserta didik pahami, setelah itu dibagi perkelompok untuk mendiskusikan materi yang disampaikan menggunakan media pembelajaran, setelah itu peserta didik diberikan kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah mereka diskusikan, dan kelompok lainnya harus menanggapi dan bertanya. Kemudian guru harus melakukan penilaian atas hasil belajar siswa, serta mengevalusasi perkembangan siswa-siswi setiap harinya dengan pujian serta Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan. Adapun isi materi serta hasil yang peserta didik pahami sebagai berikut. Siswa dapat mengenal Asmaul Husna dengan baik. Siswa dapat menjelaskan makna Asmaul husna beserta artinya. Siswa dapat memberikan contoh yang berkaitan dengan Asmaul Husna didalam kehidupan sehari-hari. Siswa mampu mengambil hikmah dari Asmaul husna yang merupakan namanama Allah yang indah untuk semakin memperkuat aqidah dan akhlak mereka sebagai seorang muslim. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada guru Aqidah Akhlak dapat diketahui bahwa : AuSiswa akan menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sangat baik, yang didalamnya terdapat pemikiran serta pendapat yang sudah mereka diskusikan secara Hal ini juga tanpa sadar sudah mengasah keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat dan ide pemikirannyaAy(Syahri,2. Guru Aqidah Akhlak juga mengatakan bahwa pada proses pelaksanaan model pembelajaran brain and cooperative heart learning, guru menggunakan salah satu media pembelajaran yang mendukung sesuai dengan sarana dan prasarana yang tersedia. Kegiatan awal guru menyampaikan materi serta motivasi-motivasi yang berhubungan dengan materi. Setelah itu peserta didik dibentuk kelompok untuk berdiskusi dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Keadaan kelas terlihat antusias dan aktif dalam berdiskusi. Setelah waktu berdiskusi selesai, maka guru meminta siswa maju perkelompok untuk menyampaikan hasil diskusi yang kemudian ditanggapi oleh kelompok siswa yang tidak maju kedepan. Hal ini tentu saja membuat siswa lebih semangat dan berminat dalam menerima pembelajaran dengan baik, sebab siswa terlihat aktif berinteraksi. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman masing-masing siswa, guru harus terlibat akktif juga terhadap siswa, dalam pemberian nilai dan reward guru harus bersungguhsungguh menyimak siswa agar dapat mengetahui kekurangan-kekurangan dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran brain and cooperative heart learning ini, guru harus memiliki kriteria penilaian terhadap peserta didik, hal ini dapat dilihat pada table 1. AuLEMBAR PENILAIAN TERHADAP SIKAP DAN OBSERVASI PADA KEGIATAN PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAKAy Materi : Aqidah Islam Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 NAMA TANGGUNG KERJASAMA KREATIF KETERANGAN JAWAB Nazwar Ali Cukup Anggi Pratiwi Baik sekali Hikmah Islami Baik sekali Muhammad Cukup Baik sekali Fahri Cynthia Claudia Tan Suriadi Baik Eka safarila Baik sekali Tabel 1 Lembar penilaian siswa Kolom Aspek perilaku di isi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut : Sangat baik : 4 Baik : 3 Cukup : 2 Kurang : 1 Sebelum proses pembelajaran berakhir, guru harus menyimpulkan dan menyatukan pemahaman siswa atas apa yang sudah mereka presentasikan dan paparkan. Kegiatan ini berfungsi untuk memperbaiki pemahaman siswa yang salah. Tak lupa pula guru harus memberikan nasihat dan motivasi-motivasi terhadap siswa agar tak hanya memahami materi yang diberikan hanya sebatas teori tetapi juga barus diimplementasikan didalam kehidupan Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian diatas, maka dapat dianalisis bahwa penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning dengan materi Asmaul Husna dengan menggunakan media pembelajaran, maka guru akan lebih mudah menyampaikan materi serta motivasi-motivasi kepada peserta didik tersampaikan dengan sangat baik. Konsep belajar seperti ini menjadikan kegiatan belajar dan mengajar lebih terarah dan menyenangkan. Hal ini bisa kita lihat pada Peta konsep tentang perencanaan dan penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di Mts Muhammadiyah 15 Medan. Aqidah Akhlak -RPP -Silabus Model Metode *Penyampaian Materi *Kelompok Diskusi *Media pembelajaran *Motivasi terhadap peserta didik. Gambar 3 Peta Konsep perencanaan dan penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning di MTs Muhammadiyah 15 Medan. Dalam segala kegiatan yang dilakukan tidak dipungkiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan akan menemukan suatu pendukung dan penghambat dalam mencapainya, begitu juga di MTs Muhammadiyah 15 Medan. Dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning tentu ada faktor pendukung dan penghambat, adapun hasil penelitian yang ditemukan peneliti sebagai berikut : Faktor pendukung dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning di MTs Muhammadiyah 15 Medan. Faktor pendukung adalah faktor yang sangat mendukung untuk guru dalam menerapkan model pembelajaran disekolah. Letak faktor pendukung sendiri bukan hanya terdapat pada internal sekolah, namun juga meliputi faktor eksternal sekolah. Yaitu dalam lingkungan sekolah dan juga keluarga. Hal ini sangat berpengaruh dalam kemudahan peserta didik dalam mengerti materi pembelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa faktor pendukung diantara lain : Suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan. Setelah dilakukannya observasi. Diantara factor yang mendukung dalam proses penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning di MTs Muhammadiyah 15 Medan yaitu suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, dari wawancara Bapak Syahri selaku guru Aqidah Akhlak mengatakan: AuSuasana kelas yang kondusif dan menyenangkan seperti itu tak hanya membuat guru menikmati proses pemberian pembelajaran, tapi juga membuat siswa lebih cepat dalam memahami materi sekaligus bersemangat dalam menerapkan materi didalam kehidupan sehari-hari disebabkan adanya motivasi-motivasi yang dihadirkan untuk mendukung mudahnya tersampaikan proses pembelajaran dengan terarah dan baikAy (Syahri,2. Dari hasil wawancara diatas, dinyatakan bahwa suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan tentu sangat mendukung proses penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning ini, sehingga dengan adanya konsentrasi siswa sudah tentu materi yang disampaikan akan mudah dipahami oleh siswa. Untuk penerapannya sendiri, pak syahri menuturkan jika setiap materi ia akan menyiapkan model pembelajaran yang cocok sebelum dilaksanakannya proses pembelajaran, kemudian saat dikelas menjelaskan apa saja fungsi dari media pembalajaran yang digunakan, dan bagaimana hubungannya dengan materi yang Nah motivasi-motivasi yang diberikan selalu diselipkan saat proses Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 pembelajaran berlangsung. Karna proses pembelajaran menggunakan media pembelajaran, maka pak syahri juga membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok akan memaparkan materi menggunakan media pembelajaran kemudian boleh saling ditanggapi oleh kelompok lainnya, dan yang terakhir hasil dari pemaparan akan memperoleh nilai dam reward dari guru mata pelajaran Aqidah Akhlak yaitu Pak Syahri. Dikelas VII sendiri adalah kelas yang paling menyukai model pembelajaran seperti ini, disebabkan pada usia proses pertumbuhan dari anak-anak menjadi remaja, tak heran jika mereka masih sangat antusias dalam proses pembelajaran yang menyenangkan. Ekstrakurikuler sekolah yang mendukung. Dari hasil wawancara, dinyatakan bahwa ekstrakurikuler disekolah yang ada pada saat ini sangat mendukung dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning ini, ada beberapa kegiatan rutin yang ada disekolah ini yaitu membaca pagi Bersama, sholat duha setiap pagi, dan tahfiz Quran. Seperti yang dikatakan oleh Pak Syahri bahwa: AuJadi mengapa ekstrakurikuler disekolah sangat mendukung dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning ini karena kan fokus dari penerapan model pembelajaran seperti ini bukan hanya pada proses pembelajaran dikelas saja, namun juga harus fokus pada penerapan dalam kehidupan sehari-harinya, baik itu disekolah ataupun dirumahnya. Nah pada lingkungan sekolah ini, kami selaku guru tentu masih bisa memantau sudah sejauh mana mereka menerapkan materimateri aqidah akhlak disekolah sudah mereka laksanakanAy (Syahri,2. Maka dari hasil wawancara tersebut dalam diambil kesimpulan bahwa dari beberapa ekstrakurikuler yang ada sangat berguna untuk peserta didik dalam memahami secara penuh materi-materi aqidah akhlak yang disampaikan. Ditambah motivasi-motivasi yang dihadirkan semakin menambah semangat peserta didik untuk Adapun penerapannya yaitu seperti yang disampaikan Pak Syahri bahwa setiap hari sebelum masuk kekelas, pada saat murid dibariskan maka selalu ada kegiatan membaca dilapangan setiap harinya. Buku yang dibacapun tak pernah lepas dari buku-buku yang terus menambah khazanah ilmu untuk peserta didik, dan selalu ada peserta didik yang maju kedepan untuk memaparkan apa yang sudah dibacanya. Kemudian pada waktunya duha, maka setiap peserta didik dan guru-guru Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 melaksanakan sholat duha berjamaah setiap hari. Dan memang tidak ada mata pelajaran pada jam tersebut, dan yang terakhir tahfiz Quran yang dimana berfungsi untuk terus memperbaiki bacaan Al-Quran untuk semua peserta didik. Dan ekstrakurikuler yang diterapkan sangat berhubungan pada Aqidah dan Akhlak peserta didik. Dan sangat berkaitan dengan materi-materi yang diajarkan dikelas. Hal ini tentu saja menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan dari model pembelajaran yang selama ini telah diterapkan oleh pak syahri. Perangkat media pembelajaran tersedia Dari hasil wawancara, dinyatakan bahwa perangkat media pembelajaran juga tersedia dan sedikit mendukung, meski tidak tersedia secara penuh. Namun media yang tersedia saat ini juga menjadi salah satu faktor pendukung dari keberhasilan penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning, seperti yang dinyatakan oleh pak syahri dalam wawancara bahwa : AuSelanjutnya yang menjadi faktor pendukung dari penerapan model pembelajaran ini adalah media pembelajarannya, meskipun tidak terpenuhi secara menyeluruh, namun yang ada saat ini juga sangat membantu. Seperti laptop, infokus, peralatan fardhu kifayah, speaker, dan android yang dimiliki guru-guru juga masih bisa digunakan. Dan untuk media pembelajaran lainnya, yaitu media pembelajaran yang dibuat tergantung kreatifitas gurunya sendiri, tapi memang yang sering digunakan adalah alat-alat teknologiAy (Syahri, 2. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa guru yang menggunakan penerapan pembelajaran ini sangat menggunakan media pembelajaran yang tersedia dengan sangat baik. Sebab dengan menggunakan media pembelajaran ini, materi yang diajarkan tentu saja tersampaikan dengan sangat baik. Apalagi siswa dalam masa sekolah menengah pertama merupakan seorang siswa yang selalu penasaran dengan hal baru. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Syahri dalam wawancara misalnya pada materi tata cara mengurus jenazah, dengan media pembelajaran yang tersedia tentu saja sangat memudahkan peserta didik untuk praktek langsung seperti nyata dalam mengurus jenazah, seperti memandikan, mengkafani, menyolatkan dan sebagainya. Tentu dengan praktek mereka akan lebih mudah mengerti dari pada hanya menggunakan teori-teori yang disampaikan saja, tanpa ada praktek sama sekali. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Faktor penghambat dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning di MTs Muhammadiyah 15 Medan. Alokasi jam pelajaran yang singkat Diantara faktor penghambat guru dalam menerapkan model pembelajaran brain and cooperative heart learning adalah alokasi jam pelajaran yang singkat untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan model pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran seperti ini, sebagaimana yang dinyatakan oleh Pak Syahri yaitu : AuFaktor penghambatnya terletak diwaktu yang terasa singkat, karnakan untuk menyiapkan proses pembelajaran menggunakan media pembelajaran seperti ini menggunakan banyak waktu. Paling untuk mengatasinya kalau memang peserta didik belum selesai, maka akan saya jadikan sebagai tugas dirumah, dipembelajaran selanjutnya akan selalu dikumpulkanAy (Syahri,2. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa alokasi waktu belajar tentu saja menjadi bagian penting dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning ini. Karna dalam penerapannya tentu akan dibutuhkan proses yang dalam, menyiapkan media pembelajaran, membentuk tim kelompok diskusi, pemaparan, pemberian motivasi-motivasi, sekaligus jika ada yang menanggapi, tentu saja jika jam pelajaran berakhir dalam proses pembelajaran maka diskusi yang dilakukan terhenti, dan harus masuk mata pelajaran selanjutnya. Konflik pada lingkungan sekolah Dalam wawancara juga diperoleh hal yang menjadi faktor penghambat dalam proses peneran model pembelajaran brain and cooperative heart learning adalah konflik yang terjadi dilingkungan sekolah, tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan disekitar sekolah sangat tidak baik, hal ini sudah berlangsung sangat lama, ada banyak sekali warga sekitar yang mayoritasnya pecandu narkoba, dan beberapa kali juga pernah melakukan aksi pencurian disekolah, nah disebabkan lingkungan sekolah yang tidak memiliki pagar, maka sedikit bebas untuk warga sekitar berlalu lalang memasuki arena sekolah, kadang ada juga sesekali peserta didik yang masih dipenuhi jiwa penasaran dan luput dari pantauan melakukan aksi berontak seperti bolos sekolah dan sebagainya, namun hal ini sudah sangat baik diatasi sedikit demi sedikit dengan dilakukannya pantaun penuh oleh guru yang menjadi piket dan banyak ekstrakurikuler yang membuat peserta didik tidak fokus pada hal-hal yang tidak baik pada lingkungan disekitar sekolah. Lingkungan keluarga yang tidak bisa dipantau secara penuh oleh sekolah. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Dari hasil wawancara diperoleh bahwa salah satunya adalah lingkungan keluarga peserta didik yang tidak bisa dipantau sekolah secara menyeluruh, seperti penuturan dari pak syahri bahwa : AuKalau lingkungan sekolah, selaku guru masih bisa kita pantau secara penuh sejauh mana peserta didik memahami dan menerapkan semua materi yang dipelajari, kalau dirumah kan tidak Guru juga tidak bisa mengetahui apakah semua orang tua peserta didik perduli secara penuh keadaan anaknya. Jadi itu menjadi salah satu faktor penghambatnyaAy (Syahri, 2. Dalam wawancara ini dapat disimpukan bahwa perbedaan sekolah dengan pesantren adalah pengawasan terhadap peserta didik secara penuh atau tidaknya. Jika dipesantren setiap waktu sekolah bisa memantau kegiatan peserta didik, jika disekolah biasa tentu saja tidak bisa, jadi hal ini harus disikapi dengan penyampaian motivasi-motivasi secara dalam kepada peserta didik, agar tetap berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Yaitu mengerti sekaligus dilakukan semua materi yang dipelajari tanpa terkecuali. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil temuan dalam proses perancangan model pembelajaran ini, maka banyak sekali yang harus disiapkan, dan untuk hasil dari pemahaman peserta didik, jika guru masih bisa memantau secara penuh jika disekolah sejauh mana peserta didik memahami dan menerapkan semua materi yang dipelajari, kalau dirumah kan tidak bisa. Guru juga tidak bisa mengetahui apakah semua orang tua peserta didik perduli secara penuh keadaan anaknya. Jadi itu menjadi salah satu faktor penghambatnyaelitian diatas . diperoleh bahwa penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pertama kali diterapkan oleh guru ppl yang magang disekolah, kemudian berlanjut hingga sekarang. Menurut hasil skripsi dari Safinatur Robikah . dengan judul Metode Brain Based Learning: Mengembangkan Kemampuan Berfkir Siswa Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak. Mengatakan bahwa proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran brain based learning sangat cocok digunakan dalam mata pelajaran Aqidah akhlak. Sebab materi dari aqidah akhlak sendiri banyak membahas mengenai aturan-aturan kehidupan dunia yang harus kita laksanakan dalam kehidupan. Brain based learning adalah proses pembelajaran yang menggunakan proses berfikir secara menyeluruh, menggunakan pemikiran otak kanan dan kiri, jadi bukan hanya membahas dari sisi materinya saja untuk dipahami, namun juga berisi motivasi-motivasi yang berkaitan dengan materi dan akan menumbukan semangat peserta didik untuk melaksanakan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Namun pada penelitian ini ia hanya menggunakan model pembelajaran braind based learning saja, berbeda dengan penelitian yang saya lakukan. Bahwa selain berfikir secara mendalam dan mempraktekan materi yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi dalam penyampaiannya kita juga harus menggunakan model pembelajaran yang kreatif, dengan menghadirkan media pembelajaran yang beragam dan berfungsi menambah motivasi peserta didik untuk serius dalam belajar. Dalam penerapan model pembelajaran ini, diperoleh beberapa poin keuntungan yang didapatkan, antara lain : Menumbukan minat dan semangat belajar peserta didik. Guru selalu ingin berusaha menumbuhkan minat belajar siswa dengan berbagai hal, salah satunya dalam penerapan model pembelajaran yang disukai dan diminati oleh siswa, sehingga mereka juga semangat dalam memahami materi yang disampaikan, kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan penyadaran kepada siswa tentang pentingnya aqidah akhlak dalam Pemberian penyadaran kepada siswa dilakukan dengan cara menjelaskan tentang pentingnya belajar aqidah akhlak dalam menjalani kehidupan, sebab dari awal penciptaan manusia tentu saja membutuhkan aqidah bahwa Allah swt adalah satu-satunya tuhan yang harus disembah, dan juga pentingnya akhlak dalam kehidupan bersosial yang baik terhadap seluruh manusia didunia ini. Memberi tahu hasil belajar siswa. Guru memberikan penilaian baik itu secara tertulis ataupun tersirat, sangat dibutuhkan oleh peserta didik, agar terus termotivasi dalam memperbaiki nilainya dan selalu semangat dalam belajar, yang terpenting pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Dalam proses pembelajaran khususnya pelajaran Aqidah Akhlak guru harus menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan kepada peserta didik. Agar proses pembelajaran berjalan kondusif dan terarah dengan baik maka dibutuhkan perencaan dan penerapannya. Dan untuk penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada siswa kelas VII dibutuhkan rancangan dalam penerapannya dalam beberapa point sebagai berikut : RPP dan Silabus, . Media pembelajaran, . Keadaan kelas yang kondusif, . Motivasi-motivasi pendukung. Dalam hal ini guru harus mempersiapkannya secara matang, agar tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai dengan baik. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Zuriatun Hasanah . yang berjudul MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF DALAM MENUMBUHKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA, mengatakan bahwa model pembelajaran cooperative merupakan metode belajar di mana siswa bekerja berkelompok dan bergantian secara lisan mengikhtiarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Pembelajaran model cooveratif dalam perkembangan mengalami banyak adaptasi sehingga melahirkan beberapa pengertian dan bentuk yang sedikit berbeda antara satu dengan yang lainnya. Model pembelajaran cooperative memang mendukung semangat dan minat peserta didik belajar didalam kelas. Namun pada penelitian yang saya lakukan, bukan hanya menggunakan model pembelajaran cooperative saja, namun juga menggunakan type heart learning. Yang dimana pembelajaran diskusi kelompok ini didukung dengan berbagai macam media pembelajaran yang tersedia disekolah. Pada kelas VII sendiri guru Aqidah Akhlak sering melakukan penerapan model pembelajaran seperti ini dengan menggunakan media pembelajaran yang ada dan dirancang secara kreatif. Berdasarkan hasil temuan peneliti diatas tentang faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada siswa kelas VII MTs Muhammadiyah 15 Medan adalah sebagai berikut : Faktor pendukung Suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan. Ektrakurikuler sekolah yang mendukung. Perangkat media pembelajaran tersedia. Faktor penghambat Alokasi jam pelajaran yang singkat. Konflik pada lingkungan sekitar sekolah. Lingkungan keluarga yang tidak bisa dipantau secara penuh oleh sekolah. Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam guru menerapkan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada siswa kelas VII MTs Muhammadiyah 15 Medan telah dipaparkan diatas. Untuk sebagai pendidik, guru harus bisa menjadi teladan yang baik serta selalu mendukung siswanya untuk semangat belajar meskipun terdapat beberapa hambatan diharapkan hambatan tersebut tidak menjadi beban guru dalam menerapkan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada siswa kelas VII MTs Muhammadiyah 15 Medan. Dalam hal ini proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan, konsep, teori, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang siswa jumpai dalam kehidupannya menyebabkan proses belajar menjadi lebih baik dan kreatif. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 1 Juli 2023, hal: 49-71 ISSN: 2807-6373 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 Medan, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu: Penerapan model pembelajaran pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Muhammadiyah 15 Medan Yaitu : menumbuhkan minat dan semangat belajar peserta didik, memberikan penyadaran terhadap siswa, memberitahu hasil belajar siswa dan konsep penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning . Mata pelajaran Aqidah akhlak adalah salah satu pelajaran wajib bagi setiap sekolah berbasis madrasah yang berada di bawah naungan kementrian agama dan sesuai dengan kurikulum yang dibagikan di setiap lembaga Pendidikan. Konsep yang diterapkan pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan model pembelajaran brain and cooperative heart learning tentunya sangat menyenangkan karna media pembelajaran yang kreatif serta motivasi-motivasi oleh guru akan selalu dihadirkan didalam proses pembelajaran, gunanya agar materi yang disampaikan mudah dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dengan baik dan benar. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Penerapan model pembelajaran brain and cooperative heart learning pada mata pelajaran Aqidah Akhlak terdapat faktor pendukung yaitu, suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan, ekstrakurikuler sekolah yang mendukung, perangkat media pembelajaran tersedia dan faktor penghambatnya yang dihadapi guru khususnya pada kelas VII adalah alokasi jam pelajaran yang singkat dalam menyelesaikan seluruh proses pembelajaran, konflik pada lingkungan sekitar sekolah, dan yang terakhir lingkungan keluarga yang tidak bisa dipantau secara penuh oleh sekolah. REFERENSI