Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Students' Understanding of Integrated Social Studies (IPAS) through Collaborative Learning at MI Al Mas'udiyah 4 Amiruddin1. Masripawan2 1 MI Al Mas'udiyah 4 2 MIS Nurul Ahmady Correspondence: mhalim5792@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Integrated Social Studies, collaborative learning, student engagement. MI Al Mas'udiyah ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of Integrated Social Studies (IPAS) at MI Al Mas'udiyah 4 through the application of collaborative learning strategies. The primary objective of this study is to explore how collaborative activities, such as group discussions, peer teaching, and cooperative project-based tasks, can enhance students' comprehension of various IPAS concepts, including geography, history, and social issues. The research was conducted over two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection In each cycle, students worked in groups to solve problems, analyze social phenomena, and present their findings. Data were collected through classroom observations, student assessments, and feedback from both students and teachers. The findings indicate that collaborative learning significantly improved students' ability to understand and apply IPAS concepts, as it fostered teamwork, critical thinking, and better communication skills. Students demonstrated increased engagement and enthusiasm for the subject, showing an improved ability to discuss and analyze social studies topics. This study suggests that collaborative learning provides an interactive and engaging learning environment, leading to enhanced academic performance in IPAS. It is recommended that MI Al Mas'udiyah 4 continue to implement and refine these strategies to further enhance students' understanding and engagement in social studies. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan sosial di sekolah dasar, khususnya dalam materi Integrated Social Studies (IPAS), memegang peranan penting dalam membentuk pemahaman siswa terhadap berbagai aspek sosial yang terjadi di sekitar mereka. Di MI Al Mas'udiyah 4, siswa dihadapkan dengan berbagai topik dalam IPAS yang mencakup sejarah, geografi, ekonomi, dan budaya. Namun, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami dan menghubungkan konsepkonsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS di sekolah ini belum sepenuhnya efektif dalam membangun pemahaman yang mendalam bagi siswa (Sutrisno, 2. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih interaktif dan relevan dengan pengalaman siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi IPAS. Sebagian besar pendekatan pembelajaran yang diterapkan di MI Al Mas'udiyah 4 masih bersifat tradisional, dengan banyaknya ceramah dari guru dan latihan soal yang bersifat Pendekatan ini cenderung tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk aktif berpartisipasi dan mengembangkan pemahaman mereka terhadap materi IPAS. Penelitian oleh Kurniawan . menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dapat meningkatkan keterlibatan siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan dalam Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pendekatan pembelajaran di MI Al Mas'udiyah 4 untuk menciptakan suasana yang lebih Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini adalah pembelajaran kolaboratif, di mana siswa bekerja bersama-sama dalam kelompok untuk memecahkan masalah dan membahas topik-topik yang berkaitan dengan IPAS. Pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk saling berbagi pemikiran dan pengalaman, sehingga pemahaman mereka terhadap materi menjadi lebih kuat dan aplikatif. Penelitian oleh Silalahi et al. menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa dan memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep-konsep sosial yang Selain itu, pembelajaran kolaboratif dapat mendorong siswa untuk lebih berpikir kritis dan kreatif dalam mengolah informasi yang mereka peroleh. Siswa didorong untuk menganalisis isu-isu sosial, membandingkan perspektif yang berbeda, dan mencari solusi untuk masalah sosial yang mereka temui. Hal ini akan memperkaya pemahaman mereka terhadap berbagai topik dalam IPAS dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis mereka. Penelitian oleh Desmirasari & Oktavia . menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran kolaboratif lebih aktif dalam berpikir kritis dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Namun, meskipun ada banyak potensi positif dari pembelajaran kolaboratif, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Salah satunya adalah pengelolaan waktu yang seringkali menjadi masalah dalam pembelajaran berbasis kelompok. Pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok atau proyek bersama memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pendekatan tradisional. Oleh karena itu, pengelolaan waktu yang lebih baik sangat penting untuk memastikan bahwa setiap kelompok dapat menyelesaikan tugas mereka dengan Penelitian oleh Mubarok . menunjukkan bahwa pengelolaan waktu yang baik sangat penting dalam pembelajaran berbasis kolaborasi agar pembelajaran tetap berjalan dengan lancar. Di sisi lain, keberagaman gaya belajar siswa juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran kolaboratif. Setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam memproses informasi, ada yang lebih suka bekerja sendiri, ada juga yang lebih nyaman bekerja dalam Pembelajaran kolaboratif perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa agar semua siswa dapat terlibat secara aktif dan memperoleh manfaat dari pembelajaran. Hal ini sejalan dengan temuan oleh Purwanto . , yang menyatakan bahwa keberagaman gaya belajar siswa harus diperhatikan dalam merancang kegiatan pembelajaran. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga dapat menjadi solusi untuk meningkatkan interaksi dan kolaborasi siswa dalam pembelajaran IPAS. Teknologi pendidikan, seperti aplikasi atau platform pembelajaran daring, dapat digunakan untuk memfasilitasi diskusi kelompok, berbagi materi, dan menyelesaikan tugas secara bersama-sama. Hal ini memungkinkan siswa untuk mengakses materi dengan lebih mudah dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Penelitian oleh Putra & Hidayat . menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mempercepat proses pemahaman materi. Namun, tidak semua siswa memiliki akses yang memadai ke perangkat teknologi, baik di rumah maupun di sekolah. Keterbatasan akses terhadap teknologi ini menjadi kendala yang harus diatasi dalam penerapan pembelajaran berbasis teknologi. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk memastikan bahwa semua siswa memiliki akses yang setara terhadap teknologi yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran mereka. Penelitian oleh Hendika & Musyadad . menunjukkan bahwa akses yang terbatas terhadap teknologi dapat menghambat efektivitas pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, meskipun teknologi dapat mendukung pembelajaran, keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran berbasis teknologi juga sangat menentukan keberhasilan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 implementasi metode ini. Guru perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai alat teknologi secara efektif untuk mendukung kegiatan pembelajaran kolaboratif. Silalahi et al. mengungkapkan bahwa guru yang terampil dalam menggunakan teknologi dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa. Di sisi lain, motivasi belajar siswa merupakan faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran IPAS. Banyak siswa yang merasa matematika dan ilmu sosial adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Pembelajaran yang berbasis aktivitas kolaboratif dapat meningkatkan motivasi siswa karena mereka merasa lebih terlibat dalam proses belajar. Penelitian oleh Sari & Nofriadi . menunjukkan bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar. Pembelajaran kolaboratif juga dapat membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka belajar untuk berkomunikasi, mendengarkan pendapat teman, dan menghargai Keterampilan sosial ini akan bermanfaat bagi siswa dalam berinteraksi dengan orang lain di luar konteks akademik. Temuan oleh Kurniawan . menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan kolaborasi dapat memperkuat keterampilan sosial siswa. Pembelajaran berbasis kolaborasi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan konsep IPAS dalam kehidupan nyata. Melalui proyek bersama atau diskusi kelompok, siswa dapat melihat bagaimana teori-teori yang mereka pelajari di kelas dapat diterapkan dalam dunia nyata, baik dalam konteks sosial, ekonomi, maupun budaya. Hal ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan relevansi terhadap materi yang diajarkan. Penelitian oleh Rahmawati . menunjukkan bahwa pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan nyata dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. Dengan penerapan pembelajaran berbasis kolaboratif, diharapkan siswa di MI Al Mas'udiyah 4 dapat lebih memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep dalam IPAS dengan lebih baik. Pembelajaran yang interaktif dan kolaboratif tidak hanya akan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga akan membekali mereka dengan keterampilan sosial, komunikasi, dan problem-solving yang penting dalam kehidupan mereka di luar sekolah. Oleh karena itu, penerapan pendekatan ini perlu terus dikembangkan di MI Al Mas'udiyah 4 untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS secara keseluruhan (Silalahi et al. , 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Integrated Social Studies (IPAS) di MI Al Mas'udiyah 4 melalui penerapan pembelajaran kolaboratif. Pendekatan PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan merefleksikan setiap tindakan yang diambil dalam siklus yang dapat diperbaiki secara bertahap. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengevaluasi proses pembelajaran dan melakukan perbaikan berdasarkan hasil observasi dan umpan balik yang diterima, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada siklus berikutnya (Sutrisno, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang aktivitas pembelajaran yang mengutamakan kolaborasi antar siswa. Beberapa aktivitas yang dirancang meliputi diskusi kelompok, presentasi proyek, dan pemecahan masalah berbasis situasi sosial yang relevan. Peneliti juga menyiapkan instrumen pengamatan, seperti lembar observasi, untuk menilai tingkat keterlibatan dan komunikasi siswa dalam setiap kegiatan. Selain itu, tes formatif juga digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPAS yang telah Selama tahap perencanaan, peneliti memastikan bahwa aktivitas yang dirancang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan interaktif (Desmirasari & Oktavia, 2. Pada tahap pelaksanaan, peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah dirancang, dengan siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas-tugas berbasis Setiap kelompok diberi materi terkait dengan topik IPAS yang akan dibahas, seperti sejarah, geografi, atau budaya. Setelah melakukan diskusi dan menyelesaikan tugas, masingmasing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas. Guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi, memberikan umpan balik, dan memastikan bahwa setiap siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peneliti juga melakukan pengamatan untuk menilai sejauh mana siswa terlibat dalam kegiatan kolaboratif dan bagaimana mereka menerapkan pemahaman mereka dalam menyelesaikan masalah (Kurniawan, 2. Pada tahap observasi, peneliti mengamati interaksi antara siswa selama proses pembelajaran. Pengamatan difokuskan pada cara siswa berkolaborasi dalam kelompok, kemampuan mereka untuk mengemukakan ide-ide, serta cara mereka menyelesaikan masalah bersama. Lembar observasi yang telah disiapkan digunakan untuk menilai keterampilan sosial dan komunikasi siswa selama diskusi kelompok. Selain itu, tes formatif juga diberikan untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa terhadap materi IPAS yang telah dipelajari. Data observasi ini memberikan gambaran yang jelas tentang efektivitas pembelajaran berbasis kolaborasi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPAS (Hendika & Musyadad, 2. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisis data yang diperoleh dari observasi dan tes formatif untuk menilai apakah tujuan pembelajaran telah tercapai. Peneliti melakukan evaluasi terhadap kekuatan dan kelemahan dari metode yang diterapkan dan merencanakan perbaikan untuk siklus berikutnya. Misalnya, jika terdapat siswa yang kurang aktif dalam diskusi kelompok atau belum sepenuhnya memahami materi yang diajarkan, peneliti akan menyesuaikan aktivitas untuk meningkatkan partisipasi mereka. Refleksi ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspekaspek yang perlu diperbaiki agar proses pembelajaran dapat lebih efektif dan memberi dampak positif pada pemahaman siswa terhadap materi IPAS (Putra & Hidayat, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penerapan pembelajaran berbasis kolaboratif di MI Al Mas'udiyah 4 dalam mata pelajaran Integrated Social Studies (IPAS) menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah sosial. Sebelum penerapan metode ini, banyak siswa yang kesulitan menghubungkan teori yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Mereka cenderung memahami materi secara terpisah tanpa melihat relevansinya dalam konteks sosial yang lebih luas. Namun, setelah pembelajaran berbasis kolaborasi diterapkan, siswa lebih mudah mengaitkan topik yang diajarkan dengan situasi nyata yang mereka hadapi. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Sutrisno . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kolaborasi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep sosial yang lebih kompleks. Salah satu temuan utama dalam penelitian ini adalah peningkatan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sebelumnya, siswa cenderung pasif selama pembelajaran, terutama ketika diberi tugas yang membutuhkan pemikiran kritis dan diskusi. Namun, setelah mereka terlibat dalam aktivitas berbasis kelompok, mereka mulai lebih aktif dalam berdiskusi, berbagi ide, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran berbasis kolaborasi mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran, yang sesuai dengan temuan oleh Kurniawan . , yang menyatakan bahwa kolaborasi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Selain meningkatkan keterlibatan, keterampilan sosial siswa juga mengalami peningkatan. Pembelajaran berbasis kolaborasi memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar bekerja sama Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dalam kelompok. Mereka belajar bagaimana mendengarkan pendapat orang lain, menyampaikan ide mereka dengan jelas, dan mengatasi perbedaan pendapat. Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Silalahi et al. , yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis pada interaksi kelompok dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa secara Pembelajaran berbasis kolaborasi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Sebelumnya, banyak siswa yang mengandalkan hafalan dan rutinitas untuk menyelesaikan soal-soal IPAS. Namun, setelah menerapkan pembelajaran berbasis kolaborasi, siswa mulai berpikir lebih kritis dan menganalisis berbagai perspektif yang ada. Dalam diskusi kelompok, mereka tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga membahas berbagai ide dan mencari solusi bersama. Hal ini memperkuat kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah sosial secara lebih mendalam. Penelitian oleh Rahmawati . juga mengungkapkan bahwa pendekatan berbasis kolaborasi mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis. Penerapan metode kolaboratif juga memberikan dampak positif pada keterampilan komunikasi Sebelum menggunakan metode ini, banyak siswa yang kesulitan mengungkapkan pendapat atau berbicara di depan umum. Namun, setelah terlibat dalam diskusi kelompok dan presentasi proyek, siswa mulai lebih percaya diri dalam menyampaikan ide-ide mereka. Mereka juga belajar untuk berbicara dengan jelas dan mendengarkan teman-teman sekelas Penelitian oleh Sari & Nofriadi . menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis aktivitas dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa, yang berdampak pada keberhasilan mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas berbasis kolaborasi. Namun, meskipun banyak keuntungan yang diperoleh, pengelolaan waktu selama pembelajaran berbasis kolaborasi menjadi salah satu tantangan utama. Diskusi kelompok dan proyek bersama memerlukan waktu yang lebih lama, yang kadang mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Dalam beberapa kasus, beberapa kelompok siswa tidak dapat menyelesaikan tugas mereka dalam waktu yang ditentukan. Mubarok . menyarankan bahwa pengelolaan waktu yang efektif sangat diperlukan agar pembelajaran berbasis kolaborasi dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan pembelajaran. Tantangan lainnya adalah keberagaman gaya belajar siswa, yang memengaruhi sejauh mana setiap siswa dapat mengakses pembelajaran kolaboratif. Beberapa siswa lebih nyaman bekerja secara individu dan kesulitan beradaptasi dalam kelompok. Pembelajaran berbasis kolaborasi mengharuskan setiap siswa untuk berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya, yang bisa menjadi hambatan bagi siswa yang lebih introvert atau tidak terbiasa bekerja dalam tim. Sutrisno . menunjukkan bahwa keberagaman gaya belajar harus diperhatikan agar semua siswa dapat terlibat secara efektif dalam pembelajaran berbasis kolaborasi. Selain itu, meskipun banyak siswa yang menunjukkan peningkatan pemahaman melalui diskusi kelompok, beberapa masih kesulitan dalam menghubungkan materi yang mereka pelajari dengan konteks dunia nyata. Sebagai contoh, beberapa siswa masih merasa sulit mengaplikasikan konsep geografi atau sejarah dalam menyelesaikan masalah sosial yang lebih Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode kolaborasi efektif, pendekatan yang lebih mendalam terhadap materi mungkin diperlukan untuk siswa yang masih kesulitan dalam mengaitkan teori dengan praktik. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Hendika & Musyadad . , yang menyatakan bahwa penerapan konsep dalam kehidupan nyata membutuhkan latihan berulang dan pendekatan yang lebih personal. Penerapan teknologi dalam pembelajaran berbasis kolaborasi juga memberikan dampak positif yang signifikan. Penggunaan alat bantu teknologi seperti platform daring memungkinkan siswa untuk berkolaborasi secara lebih efisien, berbagi materi, dan menyelesaikan tugas bersama meskipun berada di luar kelas. Selain itu, aplikasi matematika atau platform pembelajaran daring memungkinkan siswa untuk berlatih soal-soal IPAS secara mandiri. Penelitian oleh Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Putra & Hidayat . menunjukkan bahwa teknologi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, membantu mereka mengakses berbagai sumber belajar, dan mempercepat pemahaman mereka terhadap materi. Namun, aksesibilitas teknologi menjadi masalah di beberapa sekolah, termasuk di MI Al Mas'udiyah 4. Tidak semua siswa memiliki perangkat teknologi yang memadai atau akses internet di rumah. Hal ini dapat menghambat efektivitas pembelajaran berbasis teknologi. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki akses yang setara terhadap teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran mereka. Purwanto . juga menyarankan bahwa kesenjangan akses terhadap teknologi dapat mengurangi efektivitas pembelajaran berbasis teknologi. Pembelajaran berbasis kolaborasi juga berfungsi untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan problem-solving yang lebih baik. Melalui diskusi kelompok dan proyek bersama, siswa diajak untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah yang kompleks. Mereka diajarkan untuk menganalisis informasi, mengidentifikasi solusi yang tepat, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Penelitian oleh Silalahi et al. mendukung temuan ini, dengan menyatakan bahwa kolaborasi antar siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah secara efektif. Pembelajaran berbasis kolaborasi juga memungkinkan siswa untuk memahami IPAS dalam konteks yang lebih luas, menghubungkan topik-topik yang mereka pelajari dengan fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka. Dengan berdiskusi dan bekerja sama dalam kelompok, siswa dapat melihat relevansi konsep-konsep yang mereka pelajari dalam kehidupan seharihari. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Sari & Nofriadi . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis pada situasi nyata dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis kolaborasi terbukti meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS di MI Al Mas'udiyah 4. Siswa menjadi lebih aktif, berpikir lebih kritis, dan mengembangkan keterampilan sosial yang penting. Meskipun terdapat tantangan dalam hal pengelolaan waktu dan keberagaman gaya belajar, penerapan pembelajaran berbasis kolaborasi merupakan langkah yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah sosial. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis kolaborasi sangat dianjurkan untuk diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lain (Silalahi et , 2. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI Al Mas'udiyah 4, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kolaboratif dalam mata pelajaran Integrated Social Studies (IPAS) berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa, terutama dalam hal problem-solving dan berpikir kritis. Metode ini memungkinkan siswa untuk lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran, berdiskusi, dan saling berbagi pengetahuan serta pengalaman, yang pada gilirannya memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep-konsep IPAS seperti sejarah, geografi, dan sosial budaya. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Kurniawan . yang menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, yang berdampak pada peningkatan hasil belajar mereka. Selain itu, penerapan pembelajaran kolaboratif juga meningkatkan keterampilan sosial siswa. Dalam bekerja dalam kelompok, siswa belajar untuk berkomunikasi, menghargai perbedaan pendapat, dan berkolaborasi untuk mencari solusi bersama. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif tidak hanya efektif dalam meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga dalam mengembangkan keterampilan sosial yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Namun, tantangan yang dihadapi dalam implementasi metode ini adalah pengelolaan waktu Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 yang memadai, mengingat diskusi kelompok membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan pendekatan tradisional. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis kolaborasi terbukti memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran IPAS di MI Al Mas'udiyah 4. Meskipun ada beberapa tantangan seperti keberagaman gaya belajar siswa dan keterbatasan sumber daya, metode ini sangat efektif dalam meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pemahaman siswa terhadap Oleh karena itu, penerapan metode ini sebaiknya diperluas ke sekolah-sekolah lain guna meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam bidang IPAS. REFERENCES