DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 7, nomor 2, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/diksi. Persepsi Guru Sekolah Dasar terhadap Pengembangan Keterampilan 4C (Critical Thinking. Creativity. Communication. Collaboratio. dalam Pembelajaran Abad Ke-21 Nuryati1*. Nurrahmah2. Taufikurrahman3. Syarifudin4. Sri Nurhayati5 1,2,3,4 STKIP Taman Siswa. Bima. Indonesia Universitas Tadulako. Palu. Indonesia *Coresponding Author: nuryati110102@gmail. Article history Dikirim: 08-04-2026 Direvisi: 14-04-2026 Diterima: 16-04-2026 Key words: Persepsi guru. Keterampilan 4C. Pembelajaran abad ke21. Sekolah dasar. Abstrak: Keterampilan abad ke-21 yang dikenal dengan istilah 4C, yaitu critical thinking, creativity, communication, dan collaboration, merupakan kompetensi esensial yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar. Guru memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan keterampilan tersebut ke dalam proses pembelajaran, sehingga persepsi guru menjadi faktor penting yang memengaruhi implementasinya di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai persepsi guru sekolah dasar terhadap pengembangan keterampilan 4C pada siswa. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran . ixed method. dengan desain explanatory sequential, yang diawali dengan pengumpulan data kuantitatif dan dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif untuk memperdalam dan menjelaskan temuan kuantitatif. Subjek penelitian pada tahap kuantitatif terdiri atas 30 guru sekolah dasar dari beberapa sekolah yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket skala Likert yang mencakup empat aspek keterampilan 4C dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Selanjutnya, data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap sejumlah guru terpilih dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap pengembangan keterampilan 4C berada pada kategori baik, dengan aspek kolaborasi dan komunikasi memperoleh skor lebih tinggi dibandingkan aspek berpikir kritis dan kreativitas. Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu, tuntutan penyelesaian materi, serta orientasi penilaian pada jawaban benar menjadi faktor yang menghambat pengembangan berpikir kritis dan kreativitas siswa. Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan kapasitas guru melalui pelatihan dan pendampingan yang berfokus pada pembelajaran dan asesmen yang mendorong pengembangan keterampilan 4C secara seimbang di sekolah PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi pada abad ke-21 telah membawa perubahan mendasar dalam orientasi pendidikan (Andriani, 2022. Srivastava, 2. Pendidikan tidak lagi hanya menekankan penguasaan pengetahuan faktual, tetapi juga pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. keterampilan sosial yang diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks (Kosasih et al. , 2022. Wahyuni et al. , 2. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dituntut untuk mampu menyiapkan peserta didik yang kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif sebagai bekal menghadapi dinamika global (Burieva, 2025. Mugabekazi et al. , 2025. Sidik et al. , 2. Salah satu kerangka keterampilan abad ke-21 yang banyak dijadikan rujukan dalam dunia pendidikan adalah keterampilan 4C, yang meliputi critical thinking, creativity, communication, dan collaboration (Trilling & Fadel, 2. Keempat keterampilan ini dipandang sebagai kompetensi utama yang saling berkaitan dan perlu dikembangkan secara terpadu melalui proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan Indonesia, pengembangan keterampilan 4C sejalan dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa, penguatan profil pelajar Pancasila, serta pengembangan kompetensi abad ke-21 (Utari & Muadin, 2. Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan yang strategis dalam menanamkan dasar keterampilan 4C karena pada tahap ini siswa mulai membentuk pola pikir, sikap, dan kebiasaan belajar (Barus & Sahrul, 2024. Muttaqin & Rizkiyah. Pembiasaan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sejak dini diyakini dapat memberikan fondasi yang kuat bagi perkembangan kompetensi siswa pada jenjang pendidikan selanjutnya (Purba et al. , 2. Fujiwaty & Harida . menyatakan bahwa pengembangan keterampilan 4C di sekolah dasar berperan penting dalam membangun kemampuan berpikir dan sosial siswa secara Keberhasilan pengembangan keterampilan 4C di sekolah dasar sangat bergantung pada peran guru sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar aktif, kontekstual, dan bermakna (Panggabean & Misykah, 2. Persepsi guru terhadap keterampilan 4C menjadi faktor kunci karena persepsi tersebut memengaruhi keyakinan, sikap, dan keputusan pedagogis yang diambil dalam proses pembelajaran (Ilma et al. , 2. Guru yang memiliki persepsi positif cenderung lebih terbuka terhadap penerapan strategi pembelajaran inovatif yang mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21 (Humam & Hanif, 2. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa guru pada umumnya memiliki pemahaman dan sikap positif terhadap pentingnya keterampilan 4C. Namun demikian, implementasi keterampilan tersebut dalam praktik pembelajaran masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan pemahaman konseptual, minimnya pelatihan pedagogis, keterbatasan waktu, serta tuntutan penyelesaian materi dan penilaian yang berorientasi pada hasil akhir (Anggelia et al. , 2. Meskipun pengembangan keterampilan 4C telah menjadi fokus dalam Kurikulum Merdeka, implementasinya di tingkat sekolah dasar masih belum optimal. Guru seringkali mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas ke dalam pembelajaran (Rahim & Ismaya, 2023. Yayu et al. , 2. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih menekankan pada pengukuran atau implementasi model pembelajaran berbasis 4C, sementara kajian yang secara mendalam mengombinasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk memahami persepsi guru sekolah dasar masih relatif terbatas. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan penelitian yang tidak hanya menggambarkan tingkat persepsi guru secara kuantitatif, tetapi juga menggali secara kualitatif pengalaman, pandangan, dan tantangan guru dalam mengembangkan keterampilan 4C di kelas serta memberikan gambaran detail per indikator . ritical thinking, creativity, communication, collaboratio. Pendekatan metode campuran . ixed method. dipandang tepat untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan kontekstual mengenai fenomena tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi guru sekolah dasar terhadap pengembangan keterampilan 4C menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan pembelajaran abad ke-21 di sekolah dasar. METODE PENELITIAN Pendekatan dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran . ixed method. dengan desain explanatory sequential. Pada desain ini, pengumpulan dan analisis data kuantitatif dilakukan pada tahap awal, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan analisis data kualitatif untuk memperdalam serta menjelaskan hasil kuantitatif yang diperoleh. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai persepsi guru sekolah dasar terhadap pengembangan keterampilan abad ke-21 . C), baik dari sisi kecenderungan numerik maupun makna dan pengalaman guru dalam praktik pembelajaran. Secara umum desain penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Desain Mixed Methods (Explanatory Sequentia. Subjek dan Informan Penelitian Subjek penelitian pada tahap kuantitatif terdiri atas 30 guru sekolah dasar yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria pemilihan subjek meliputi: guru yang aktif mengajar di sekolah dasar, . memiliki pengalaman mengajar minimal satu tahun, dan . terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas. Pada tahap kualitatif, informan penelitian dipilih secara purposive dari subjek penelitian kuantitatif, yaitu sebanyak 6-8 guru yang mewakili variasi tingkat persepsi . kor tinggi dan renda. serta memiliki pengalaman mengajar yang memadai. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. Pemilihan informan bertujuan untuk memperoleh data yang mendalam dan representatif terkait temuan kuantitatif. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian kuantitatif berupa angket persepsi guru terhadap pengembangan keterampilan 4C yang disusun menggunakan skala Likert empat tingkat, yaitu Sangat Setuju . Setuju . Tidak Setuju . , dan Sangat Tidak Setuju . Angket terdiri atas 24 pernyataan yang mencakup empat aspek keterampilan 4C, yaitu berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Kisikisi angket dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Kisi-kisi Angket Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan 4C Aspek Keterampilan 4C Berpikir Kritis Kreativitas Komunikasi Kolaborasi Indikator No Item Memberikan pertanyaan pemantik Mendorong siswa menjelaskan alasan jawaban Menggunakan soal berbasis masalah Memberi kesempatan pendapat berbeda Melatih analisis masalah sederhana Mengurangi hafalan semata Memberi kebebasan ide Memberikan tugas berbasis karya Mendorong solusi alternatif Tidak membatasi jawaban siswa Menggunakan media kreatif Mendorong imajinasi siswa Kesempatan menyampaikan pendapat Presentasi hasil belajar Melatih mendengarkan Mendorong siswa bertanya Memberi umpan balik Meningkatkan keberanian berbicara Pembelajaran kelompok Kerja sama menyelesaikan tugas Menghargai pendapat teman Pembagian peran kelompok Bimbingan kerja kelompok Manfaat kerja sama Instrumen telah melalui proses validasi isi . ontent validit. melalui expert judgment oleh ahli pendidikan, serta diuji reliabilitasnya menggunakan koefisien CronbachAos Alpha. Hasil uji reliabilitas instrumen menggunakan koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,82 yang menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dan layak digunakan dalam penelitian. Instrumen penelitian kualitatif berupa pedoman wawancara semi terstruktur yang disusun untuk menggali secara mendalam pemahaman, pengalaman, serta tantangan guru dalam mengembangkan keterampilan 4C. Pedoman wawancara difokuskan pada strategi pembelajaran yang digunakan guru, kendala yang dihadapi dalam mengembangkan berpikir kritis dan kreativitas, serta dukungan kurikulum dan lingkungan sekolah. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan data kuantitatif melalui penyebaran angket kepada guru sekolah dasar. Tahap kedua adalah pengumpulan data kualitatif melalui wawancara semi terstruktur terhadap informan terpilih berdasarkan hasil analisis data kuantitatif. Sebelum pengumpulan data, peneliti menyampaikan tujuan penelitian dan menjamin kerahasiaan identitas responden. Teknik Analisis Data Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, meliputi perhitungan skor rata-rata dan persentase untuk setiap aspek keterampilan 4C. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik, yang meliputi proses reduksi data, pengkodean, pengelompokan tema, dan penarikan kesimpulan. Integrasi data kuantitatif dan kualitatif dilakukan pada tahap pembahasan dengan cara mengaitkan hasil analisis kuantitatif dengan temuan kualitatif untuk memberikan penjelasan yang lebih mendalam dan kontekstual terhadap persepsi guru sekolah dasar dalam pengembangan keterampilan 4C. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian disajikan dalam dua tahap, yaitu hasil penelitian kuantitatif dan hasil penelitian kualitatif. Penyajian ini disesuaikan dengan desain explanatory sequential, di mana data kualitatif digunakan untuk memperdalam dan menjelaskan temuan kuantitatif. Hasil Penelitian Kuantitatif Sebelum dilakukan analisis data, instrumen angket persepsi guru terhadap pengembangan keterampilan 4C diuji reliabilitasnya menggunakan koefisien CronbachAos Alpha. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai = 0,82, yang mengindikasikan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas tinggi dan layak digunakan sebagai alat pengumpulan data penelitian. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, persepsi guru sekolah dasar terhadap pengembangan keterampilan 4C secara umum berada pada kategori baik. Tabel 2. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan 4C Aspek Keterampilan 4C Berpikir Kritis Kreativitas Komunikasi Kolaborasi Rata-rata Total Skor Rata-rata 3,05 2,95 3,10 3,25 3,09 Persentase (%) 76,25 73,75 77,50 81,25 77,19 Kategori Baik Baik Baik Sangat Baik Baik Berdasarkan Tabel 2, aspek kolaborasi memperoleh skor tertinggi dengan kategori sangat baik, sedangkan aspek kreativitas memperoleh skor terendah meskipun masih berada pada kategori baik. Analisis Per Aspek Keterampilan 4C dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 3. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis Indikator Berpikir Kritis Memberikan pertanyaan pemantik Mendorong siswa menjelaskan alasan jawaban Skor Rata-rata 3,10 3,05 @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. Menggunakan soal berbasis masalah Memberi kesempatan pendapat berbeda Melatih analisis masalah sederhana Mengurangi hafalan semata Rata-rata Aspek 3,00 3,08 3,02 3,05 3,05 Tabel 3 menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif terhadap pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Guru menyadari pentingnya pertanyaan pemantik dan pembelajaran berbasis masalah, meskipun penerapannya masih perlu ditingkatkan agar lebih konsisten. Tabel 4. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Kreativitas Indikator Kreativitas Memberi kebebasan ide Memberikan tugas berbasis karya Mendorong solusi alternatif Tidak membatasi jawaban siswa Menggunakan media kreatif Mendorong imajinasi siswa Rata-rata Aspek Skor Rata-rata 3,00 2,95 2,90 2,92 3,00 2,93 2,95 Berdasarkan Tabel 4, aspek kreativitas memperoleh skor rata-rata paling rendah dibandingkan aspek lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa guru masih menghadapi tantangan dalam memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk berekspresi dan berkreasi secara optimal. Tabel 5. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Komunikasi Indikator Komunikasi Kesempatan menyampaikan pendapat Presentasi hasil belajar Melatih mendengarkan Mendorong siswa bertanya Memberi umpan balik Meningkatkan keberanian berbicara Rata-rata Aspek Skor Rata-rata 3,15 3,10 3,05 3,08 3,12 3,10 3,10 Tabel 5 menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi yang baik terhadap pengembangan keterampilan komunikasi. Hal ini mencerminkan bahwa pembelajaran di SD relatif telah memberi ruang bagi siswa untuk berkomunikasi secara lisan. Tabel 6. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Kolaborasi Indikator Kolaborasi Pembelajaran kelompok Kerja sama menyelesaikan tugas Menghargai pendapat teman Pembagian peran kelompok Bimbingan kerja kelompok Manfaat kerja sama Rata-rata Aspek Skor Rata-rata 3,30 3,25 3,28 3,20 3,22 3,35 3,25 Tabel 6 memperlihatkan bahwa aspek kolaborasi memperoleh skor tertinggi. Tingginya skor pada aspek kolaborasi menunjukkan bahwa kerja kelompok merupakan strategi pembelajaran yang paling mudah dan paling sering diterapkan oleh guru sekolah dasar dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. Hasil Penelitian Kualitatif Hasil wawancara semi-terstruktur terhadap informan penelitian menghasilkan beberapa tema utama yang menjelaskan temuan kuantitatif. Temuan kualitatif dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Temuan Hasil Wawancara Semi-Terstruktur Tema Utama Deskripsi Temuan Pengembangan Kolaborasi Pengembangan Komunikasi Kendala Berpikir Kritis dan Kreativitas Keterampilan kolaborasi mudah diterapkan karena sudah menjadi bagian dari pembelajaran Komunikasi cukup berkembang melalui kegiatan presentasi dan diskusi Pengembangan berpikir kritis dan kreativitas masih terhambat oleh berbagai faktor Kutipan/Inti Pernyataan Guru AuSiswa sudah terbiasa kerja kelompok di kelasAy AuSiswa sering pendapatAy AuWaktu terbatas dan harus mengejar materiAy Interpretasi Kolaborasi telah menjadi budaya belajar sehingga lebih mudah dikembangkan Fokus masih pada keberanian berbicara, belum pada kualitas komunikasi Terdapat hambatan struktural seperti keterbatasan waktu, tuntutan penyelesaian materi, serta orientasi penilaian pada jawaban benar Integrasi Temuan Kuantitatif dan Kualitatif Temuan kualitatif memperkuat dan menjelaskan hasil penelitian kuantitatif, khususnya terkait rendahnya skor pada aspek kreativitas dan berpikir kritis. Persepsi guru yang tergolong baik secara kuantitatif belum sepenuhnya tercermin dalam praktik pembelajaran karena adanya kendala struktural dan pedagogis yang dihadapi Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun guru memiliki persepsi positif terhadap keterampilan 4C, implementasinya masih memerlukan dukungan dan penguatan lebih lanjut. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai persepsi guru sekolah dasar terhadap pengembangan keterampilan abad ke-21 . C) melalui pendekatan mixed methods. Temuan kuantitatif memberikan gambaran umum mengenai tingkat persepsi guru, sementara temuan kualitatif berperan menjelaskan dan memperdalam makna di balik hasil kuantitatif tersebut. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap pengembangan keterampilan berpikir kritis berada pada kategori baik. Guru menyadari pentingnya pemberian pertanyaan pemantik, diskusi kelas, dan kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan pendapat yang berbeda. Temuan ini mencerminkan adanya kesadaran pedagogis guru terhadap pentingnya pembelajaran yang mendorong aktivitas berpikir siswa. Menurut Fadhilatunnisa & Bahrudin . , berpikir kritis mencakup kemampuan analisis, evaluasi, dan penarikan kesimpulan yang logis, yang perlu dilatih melalui aktivitas pembelajaran yang menantang dan reflektif. Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa kesadaran tersebut belum sepenuhnya terimplementasi secara konsisten dalam praktik pembelajaran. Guru @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. mengakui masih lebih sering menggunakan soal rutin dan latihan berorientasi pada jawaban tunggal karena keterbatasan waktu dan tuntutan penyelesaian materi. Hal ini menjelaskan mengapa indikator penggunaan soal berbasis masalah dan analisis masalah memperoleh skor yang relatif lebih rendah. Temuan ini sejalan dengan (Ilma et al. , . yang menegaskan bahwa pengembangan berpikir kritis membutuhkan pembelajaran kontekstual dan menantang, namun sering terhambat oleh budaya pembelajaran dan evaluasi yang berorientasi pada hasil akhir. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Kreativitas Aspek kreativitas memperoleh skor terendah dibandingkan aspek 4C lainnya, meskipun masih berada pada kategori baik. Secara teoritis, kreativitas merupakan kemampuan menghasilkan ide baru, fleksibel, dan orisinal dalam menyelesaikan masalah (Sefrinal et al. , 2. Dalam konteks pendidikan, kreativitas berkembang melalui lingkungan belajar yang terbuka, eksploratif, dan tidak membatasi jawaban Secara kuantitatif, guru menunjukkan sikap positif terhadap pemberian kebebasan ide dan penggunaan media kreatif. Akan tetapi, temuan kualitatif menunjukkan bahwa guru masih membatasi variasi jawaban siswa dan cenderung mengarahkan siswa pada satu jawaban yang dianggap benar. Rendahnya skor pada indikator mendorong solusi alternatif dan tidak membatasi jawaban siswa mengindikasikan adanya kekhawatiran guru terhadap ketidaksesuaian jawaban siswa dengan tujuan pembelajaran atau kriteria penilaian. Menurut Soomro et al. , . , kreativitas akan berkembang apabila siswa diberi kesempatan untuk bereksperimen dan melakukan kesalahan tanpa rasa takut. Perubahan pendekatan pembelajaran dan asesmen yang lebih menghargai proses berpikir kreatif, bukan semata-mata hasil akhir menjadi hal diperlukan. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Komunikasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap pengembangan keterampilan komunikasi berada pada kategori baik. Guru relatif sering memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat dan mempresentasikan hasil belajar. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa aktivitas komunikasi lisan telah menjadi bagian rutin dalam pembelajaran di sekolah dasar. Secara teoritis, komunikasi dalam pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan keberanian berbicara, tetapi juga kemampuan menyampaikan ide secara sistematis, jelas, dan logis (Annisa & Hamzah, 2. Integrasi temuan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa fokus pengembangan komunikasi masih terbatas pada keberanian berbicara, belum sepenuhnya mencakup kualitas komunikasi. Guru mengakui belum secara sistematis memberikan umpan balik terkait struktur penyampaian ide, penggunaan bahasa, dan kejelasan argumen siswa. Padahal, keterampilan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan keberanian berbicara, tetapi juga kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dan bertanggung jawab (Angganing et al. , 2022. Giftia et al. , 2025. Meiarni. Guru perlu mengintegrasikan bimbingan komunikasi secara eksplisit dalam proses pembelajaran Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan keterampilan komunikasi perlu diarahkan tidak hanya pada aspek partisipasi, tetapi juga pada kualitas penyampaian gagasan. Persepsi Guru terhadap Pengembangan Keterampilan Kolaborasi @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. Aspek kolaborasi memperoleh skor tertinggi dan berada pada kategori sangat Temuan kuantitatif ini diperkuat oleh hasil wawancara yang menunjukkan bahwa pembelajaran kelompok telah menjadi praktik yang umum dilakukan oleh guru sekolah dasar. Guru menilai kerja kelompok efektif dalam melatih kerja sama, toleransi, dan tanggung jawab siswa. Secara teoritis, kolaborasi merupakan bagian dari social constructivism, di mana pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial (Vygotsky, 1. Meskipun demikian, temuan kualitatif juga mengindikasikan bahwa kerja kelompok belum selalu disertai dengan pengelolaan peran dan refleksi proses kerja sama secara terstruktur. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya frekuensi kerja kelompok belum sepenuhnya menjamin berkembangnya keterampilan kolaborasi secara optimal. Guru perlu merancang aktivitas kolaboratif yang lebih terarah dan bermakna, sebagaimana disarankan oleh (Trilling & Fadel, 2. Implikasi Temuan dalam Perspektif Mixed Methods Integrasi temuan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa persepsi positif guru terhadap keterampilan 4C belum sepenuhnya diikuti oleh implementasi pembelajaran yang seimbang pada keempat aspek. Kolaborasi dan komunikasi relatif lebih mudah diterapkan, sedangkan pengembangan berpikir kritis dan kreativitas masih menghadapi kendala struktural dan pedagogis. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya program pelatihan dan pendampingan guru yang tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual tentang 4C, tetapi juga membekali guru dengan strategi pembelajaran dan asesmen yang mendorong berpikir kritis dan kreativitas secara autentik. Kebijakan pendidikan perlu memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi guru untuk berinovasi dalam pembelajaran tanpa tekanan berlebihan pada penyelesaian materi dan penilaian berbasis hasil akhir (Yulastri et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian menggunakan pendekatan metode campuran . ixed method. dengan desain explanatory sequential, dapat disimpulkan bahwa persepsi guru sekolah dasar terhadap pengembangan keterampilan abad ke-21 . C) berada pada kategori baik. Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa guru memiliki pandangan positif terhadap pentingnya pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi dalam pembelajaran di sekolah dasar. Integrasi temuan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan adanya ketimpangan dalam implementasi keterampilan 4C di kelas. Keterampilan kolaborasi dan komunikasi relatif lebih berkembang dan mudah diterapkan oleh guru, sedangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas belum terintegrasi secara optimal dalam praktik pembelajaran. Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu pembelajaran, tuntutan penyelesaian materi kurikulum, serta orientasi penilaian yang masih berfokus pada jawaban benar menjadi faktor utama yang menghambat pengembangan berpikir kritis dan kreativitas siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dengan menunjukkan bahwa persepsi positif guru terhadap keterampilan 4C tidak secara otomatis berbanding lurus dengan implementasi pembelajaran di kelas. Diperlukan penguatan kapasitas guru melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan yang menekankan pada @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Nuryati dkk. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengembangan. perancangan pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kreatif, serta asesmen autentik yang menghargai proses berpikir siswa. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah subjek penelitian yang relatif terbatas serta penggunaan data persepsi sebagai sumber utama informasi pada tahap Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah responden yang lebih besar, mengombinasikan observasi kelas, serta mengkaji hubungan antara persepsi guru dan praktik pembelajaran 4C secara lebih mendalam agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA