Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-7 Pola Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila (Oreochromis Niloticu. yang dibudidayakan Kelompok Tani Geres Kecamatan Gerung Nusa Tenggara Barat Septiana Dwiyanti 1*. Muhammad Naufal Hawari1. Muhammad Kholid Al Fauzan1 Program studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram INFO NASKAH Kata Kunci: Allometrik. Hubungan panjang berat. Ikan nila ABSTRAK Pola hubungan panjang dan berat ikan merupakan salah satu indikator dari pertumbuhan ikan, mengetahui kondisi hubungan dari panjang dan berta ikan nila yang di budidaya secara berkala akan membantu dalam mengevaluasi kegiatan Salah satu kelompok Tani yang aktif dalam budidaya ikan nila di daerah Gerung adalah kelompok pembudidaya Geres yang memiliki potensi besar dalam budidaya ikan nila yang berlokasi di Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat. Tujuan penelitian ini mengetahui pola pertumbuhan ikan nila di wilayah tersebut dapat membatu pembudidaya dalam menyesuaikan manajaemen pakan, padat tebar dan sistem pemeliharaan untuk meningkatkan produksi. Metode yang digunakan adalah metode sampling pada kolam budiaya dan dianalisis regresi. Jumlah sample yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 16 ekor ikan nila (Oreochromis niloticu. diambil secrara acak pada kolam pembesaran ikan nila di Kecamtan Gerung Kabupaten Lombok Barat. Berat rata-rata yang di peroleh pada penelitian ini berkisar antara 169-400 gr dengan rata-rata 285 gr dan panjang 25 -39 cm, sedangkan hasil regeresi statistik hubungan panjang berat ikan nila persamaan regresi di peroleh nilai Log Y=25,419X 0,7394 dengan nilai korelasi (R. 43 % dan nilai b=0,73 , sehingga b<3 yang bermakna allometric negative yang dimana kondisi ikan mengalami pertumbuhan panjang lebih cepat dari pertambahan berat Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : . Fax. Email : antiseptiana@unram. Relationship Pattern Between Length and Weight of Nile Fish (Oreochromis Niloticu. Cultivated by the Geres Farmers Group. Gerung District. West Nusa Tenggara Septiana Dwiyanti 1*. Muhammad Naufal Hawari1. Muhammad Kholid Al Fauzan1 Program studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords The pattern of the relationship between the length and weight of fish is one indicator of fish growth, knowing the condition of the relationship between the length and weight of tilapia fish that are cultivated periodically will help in evaluating cultivation One of the farmer groups that is active in tilapia cultivation in the Gerung area is the Geres farmer group which has great potential in tilapia cultivation located in Gerung District. West Lombok Regency. The purpose of this study is to determine the growth pattern of tilapia fish in the area to help farmers adjust feed management, stocking density and maintenance systems to increase production. The method used is the sampling method in the cultivation pond and regression analysisThe number of samples used in this study was 16 tilapia fish (Oreochromis niloticu. taken randomly from tilapia fish rearing ponds in Gerung District. West Lombok Regency. The average weight obtained in this study ranged from 169-400 grams with an average of 285 grams and a length of 25-39 cm, while the results of the statistical regression of the lengthweight relationship of tilapia fish regression equation obtained the value of Log Y=25. 419X 0. 7394 with a correlation value (R. of 43% and a b value of 0. 73, so that b<3 means negative allometric, where the condition of the fish experiences growth in length faster than weight gain. Allometric. Length-weight relationship. Tilapia Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : . Fax. Email : antiseptiana@unram. PENDAHULUAN Nusa Tegara Barat merupakan Provinsi di Indonesia yang memiliki potensi perikanan yang begitu luas, baik di sektor perairan tawar, payau maupun laut. Perikanan di Nusa Tenggara Barat beberapa tahun ini kian meningkat pesat, sehubung dengan program pemerintah pusat yang kian memperhatikan sektor perikanan untuk membantu pertumbuhan dan ketahanan pangan. Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-7 Sejalan dengan Al Farizi et al. Produksi perikanan di Nusa Tenggara Barat menunjukkan perikanan tawar dan perikanan laut terus mengalami peningkatan volume. Meskipun volume produksi perikanan laut mengalami peningkatan yang lebih besar dibandingkan dengan perikanan darat atau tawar, namun nilai ekonomi yang dihasilkan dari perikanan darat justru lebih tinggi, yakni rata-rata sebesar Rp 4. 902,09 miliar per tahun dibandingkan Rp 3. 348,18 miliar dari perikanan laut. Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan jenis-jenis ikan bernilai tinggi secara optimal, salah satunya ikan nila. Ikan nila (Oreochromis niloticu. merupakan salah satu komoditas ikan tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta memiliki pertumbuhan yang cepat, mudah beradaptasi dan mudah untuk di pijahkan sehingga banyak dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia (Sibagariang et al. ,2. Salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat yang memiliki potensi besar dalam budidaya ikan nila adalah Gerung yang berlokasi di Kabupaten Lombok Barat, daerah ini memiliki ketersediaan sumber air, serta adanya kebijakan pemerintah daerah yang mendorong pengembangan sektor perikanan darat Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi NTB . , sektor perikanan darat di wilayah Lombok Barat menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pendapatan masyarakat, terutama melalui komoditas unggulan seperti ikan nila. Salah satu aspek penting dalam budidaya ikan nila adalah melihat pola hubungan panjang dan berat ikan yang merupakan indikator dari pertumbuhan ikan tersebut. Menurut Dwiyanti & Muahiddah . aspek biologi berupa hubungan panjang dan berat ikan merupakakan informasi perikanan yang bertujuan mengatahui variasi berat dan panjang ikan secara individu atau kelompok sebagai indikator tentang pertumbuhan, produktivitas serta kesehatan ikan. Hubungan panjang berat juga berguna dalam estimasi umur ikan berdasarkan panjangnya serta memberikan wawasan tentang tingkat pertumbuhan ikan dari waktu ke waktu. Studi tentang hubungan panjang berat ikan Nila diperlukan dalam kegiatan budidaya ikan nila untuk mengoptimalkan pertumbuhan. Penelitian kajian hubungan panjang berat pada ikan nila yang di budidayakan telah banyak dilakukan diantanya pada penelitian Adi dan Suryana . menghasilkan pola pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticu. di fase pendederan bersifat allometric negative yang diamana pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat. Hal serupa terjadi pada penelitian Syakir et al. menunjukkan hubungan panjang berat ikan yang dibudidayakan di kolam BBI Tassililu Sinjai Barat menghasil pola pertumbuhan allometric negative. Data penelitian mengenai pola hubungan panjang berat ikan Nila yang di budidaya kan di Gerung belum banyak tersedia sebagai dasar pengambilan kebijakan teknis budidaya. Mengetahui pola pertumbuhan ikan nila di wilayah tersebut dapat membatu pembudidaya dalam menyesuaikan manajaemen pakan, padat tebar dan sistem pemeliharaan untuk meningkatkan produksi. Oleh karena itu, studi mengenai parameter biologi ikan seperti panjang berat sangat penting untuk mendukung keberlanjutan budidaya dan optimalisasi produksi lokal. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2025. Sampel penelitian diambil secar acak di kolam pembesaran ikan Nila di Gerung Kabupaten Lombok Barat. Pengukuran Panjang dan berat dilaksanakan di Laboraturium Kesehatan Ikan. Jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas Mataram. Alat dan Bahan Alat yang digunakan berupa timbangan digital, penggaris, alat tulis (ATK), nampan dan Kamera (H. Timbangan digital yang digunakan untuk menimbang berat ikan sampel yang memiliki ketelitian 1gram dan penggaris dengan ketilitian 0,1 cm untuk mengukur Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-7 panjang ikan sampel. Bahan yang digunakan berup ikan nila (Oreochramis sp. ) secara acak sebanyak 16 sampel yang diperoleh di kolam pembesaran. Analisis Data Data pengukuran hubungan panjang dan berat dinyatakan dengan rumus logaritma, yang digunakan untuk memprediksi berat pada panajng melalui persamaan allometric berdasarkan Mulfizar et al . W= Log a Lb Dimana: : Berat : Skala koefisien untuk panjang pada ukuran tertentu : Parameter untuk bentuk tubuh dari spesies yang diukur Rumus di atas ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma dan diperoleh persamaan linear, yaitu: Log W= Log a b Log L Dimana. W = Berat ikan . L = Panjang Ikan . , = Intersep . erpotongan kurva hubungan panjang-berat dengan sumbu-Y), b =Penduga pola pertumbuhan panjang-berat. Data yang diperoleh dianalisi menggunakan rancangan analysis of regression pada microsoft excel. HASIL Hasil regresi hubungan panjang berat ikan nila (Oreochromis sp. ) dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil Statistik Regresi Hubungan panjang berat ikan nila (Oreochromis Regression Statistics Multiple R 0,658281 R Square 0,433333 Adjusted R Square 0,389744 Standard Error 4,816731 Observations Hasil regresi linear dan grafik (Gambar . hubungan panjang berat sampel ikan nila (Oreochromis niloticu. yang dipeliharaan pada fase pembesaran, menghasilkan persamaan regresi Y = 25,419x 0,7394 dengan koefisien determinasi 0,4394 dan nilai b=0,74 bermakna b<3. Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-7 BERAT (G) H U B U N GA N P A N J A N G B E R A T IK A N N IL A ( O R E O C H R O M IS N IL O T IC U S ) PANJANG (CM) Gambar 1. Regresi Hubungan Panjang Berat (Oreochromis niloticus. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil perhitungan berat dan panjang sample ikan nila (Oreochromis niloticu. diperoleh berat berkisar anatar 169-400 gr dengan rata-rata 285 gr dan panjang 25 -39 cm, sedangkan hasil regeresi statistik hubungan panjang berat ikan nila (Oreochromis niloticu. dengan persamaan regresi di peroleh nilai Log W=25,419 L 0,7394 dengan nilai korelasi (R. 0,4394 (Gambar. Nilai korelasi (R. dapat diartikan bahwa koefisien determinasi yang diperoleh R2=0,4394 menunjukkan 43 % memiliki pengaruh terhadap hubungan panjang berat ikan sedangkan sisanya 57% pertambahan bobot ikan disebabkan faktor lainnya. Menurut Katarina et al. , . faktor lain di luar hubungan panjang berat ikan diantaranya faktor genetik, hormon dan ketersediaan jumlah makanan dan nutrisi alami yang ada di lingkungan juga menjadi salah satu faktor. Semakin tinggi nilai korelasi (R. maka semakin dekat hubungan panjang dan berat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Nur et al. , . menyatakan keterkaitan nilai korelasi menunjukkan bahwa panjang ikan akan mempengaruhi berat tubuh ikan, secara umum pertimbangan berat ikan beriringan dengan pertambahan panjang. Gambar 2. Sampel uji ikan nila (Oreochromis niloticu. Pola pertumbuhan ikan merupakan indikator pertambahan panjang atau berat yang terjadi dalam waktu tertentu yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Pengamatan hubungan panjang dan berat secara fisik dapat menggambarkan pertumbuhan Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-7 ikan yang erat kaitannya dengan kondisi ikan berukuran kecil, sedang atau besar (Kusmini et al. ,2018. Ibrahim et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai konstata b= 0,73 hal ini menunjukkan bahwa nila konstanta b<3 maka pertumbuhan ikan nila yang diambil bersifat allometrij negativ hal ini menunjukkan bahwa pertumbungan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat ikan nila. Muttaqin et al. , . menyatakan bahwa pola pertumbuhan allometrik terbagi menjadi dua, yaitu alometrik positif dan alometrik Jika nilai b < 3 disebut allometrik negatif yaitu, pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan bobot, dan jika nilai b > 3 disebut allometrik positif yaitu, pertambahan bobot lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan panjang. Pola pertumbuhan allometrk negative pada ikan nila (Oreochromis niloticu. juga ditemukan pada hasil penelitian Swarto et al. yang menunjukkan hubungan panjang berat ikan nila (Oreochromis niloticu. dalam media pembesaran menunjukkan nilai b bersifar allometrik negative samapi isometric dengan kisaran nilai 2,43-3,09 hal serupa terjadi pada peneltian Gaitian et al. menujukkan pola pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus yang diberikan pakan berbeda menghasilkan hubungan panjang berat allometrik negative b <3. Pola pertumbuhan allometrik negatif seringkali terjadi saat ikan tumbuh lebih besar, namun pertambahan beratnya tidak proporsional terhadap pertambahan panjangnya. Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk perubahan dalam proporsi jaringan tubuh . eperti perbandingan otot dan lema. , kebutuhan energi yang berbeda pada berbagai tahap pertumbuhan, atau faktor lingkungan yang memengaruhi efisiensi penggunaan Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Triantini et al. , . yang menyatakan bahwa perbedaan nilai pola pertumbuhan ikan yang cerminkan dari nilai b dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perbedaan umur, perkembangan gonad, jenis kelamin, kondisi habitat, kepenuhan lambung, faktor penyakit dan parasit, ketersediaan makanan, pH, suhu, dan oksigen terlarut di perairan, serta kemampuan ikan berenang secara aktif atau pasif hal ini sependapat dengan Syakir et al. pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan pakan dan kualitas air, sedangkan faktor internal meliputi aspek genetik, usia, serta kondisi kesehatan atau penyakit. Salah satu faktor internal diantaranya faktor spesies, berbagai spesies ikan memiliki perbedaan proporsi anatara panjang dan berat, hubungan dengan beberapa spesies menunjukkan hubungan linier sedangkan yang lain tidak. Menurut Katarina et al. Faktor genetik merupakan faktor dalam yang juga turut berkontribusi, karena beberapa individu mungkin memiliki warisan genetik yang membuat mereka cenderung tumbuh lebih besar atau lebih Faktor eksternal berupa faktor lingkungan meliputi ketersediaan pakan, suhu air, kualitas air, dan faktor lingkungan lainnya dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan nila. Kondisi lingkungan yang baik biasanya mendukung pertumbuhan yang optimal. Hal ini sejalan dengan pernyataan Shasia et al. , . yang menyatakan bahwa adanya perbedaan tipe perairan menyebabkan ikan yang hidup di perairan berarus lebih banyak menghabiskna energi untuk melakukan aktivitasnya mencari makan daripada ikan yang hidup di perairan Selain itu, ketersediaan dan kualitas makanan menjadi faktor luar yang mempengaruhi hubungan keeretan panjang dan berat dalam pertumbuhan ikan, di mana akses ke sumber makanan yang melimpah dan nutrisi dapat memengaruhi pertumbuhan Menurut Ramses et al . pemanfaatan makanan yang tersedia digunakan meningkatkan pertumbuhan dan energi. Faktor lingkungan seperti suhu air, kualitas air, dan kepadatan populasi juga berperan, dengan lingkungan yang stabil dan kondusif untuk Intek Akuakultur. Volume 8. Nomor 1. Tahun 2026. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-7 pertumbuhan cenderung menghasilkan ikan yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tukan & Tallo. , yaitu faktor lingkungan,tahap perkembangan ikan, jenis kelamin, tingkat kematangan gonad. Selain itu, usia ikan juga memainkan peran penting, karena ikan yang lebih tua cenderung memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan berat. Namun, faktor stres dan penyakit juga dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan, dengan ikan yang mengalami stres kronis atau penyakit mungkin tidak tumbuh dengan optimal. Pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor hubungan panjang berat ini penting untuk memahami dinamika populasi ikan, memprediksi pertumbuhan populasi, dan merancang strategi pengelolaan yang sesuai untuk memastikan keberlanjutan sumber daya KESIMPULAN Pola hubungan panjang berat ikan nila (Oreochromis niloticu. yang dibudidayakan di Gerung bersifat allometrik negatif . dengan nila b=0,73 serta nilai korelasi (R . sebesar 43%. DAFTAR PUSTAKA