ANALISIS KONTRIBUSI USAHA TERNAK SAPI POTONG TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA DI KECAMATAN BANYUASIN i KABUPATEN BANYUASIN Analysis of the Contribution of Beef Cattle Farming to Household Income in Banyuasin i District. Banyuasin Regency Warsi1 . Yudhi Zuriah Wirya Purba2 . Wardi Saleh2 . Nur Ahmadi2 Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten. Banyuasin Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti. Palembang Email: warsibanyuasin@gmail. com1 , yudhi. wardi@yahoo. com2 , wardi_saleh@yahoo. kecedekan@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya di Kecamatan Banyuasin i. Kabupaten Banyuasin. Latar belakang penelitian ini adalah kenyataan bahwa sebagian besar peternakan sapi di Indonesia masih dikelola oleh peternak rakyat berskala kecil dengan teknologi sederhana dan manajemen tradisional, sehingga kontribusinya terhadap kesejahteraan keluarga belum Kecamatan Banyuasin i dipilih secara purposive karena memiliki populasi sapi potong dan jumlah peternak yang tinggi serta potensi pengembangan yang besar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan survei. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner terhadap 35 peternak yang dipilih secara purposive sampling dari lima desa, yaitu Pangkalan Balai. Langkan. Sidang Mas. Lubuk Saung, dan Terlangu. Data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait seperti Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banyuasin serta Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis data meliputi perhitungan kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong terhadap total pendapatan rumah tangga dan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan total rumah tangga peternak sebesar Rp56. 902 per tahun, dengan rata-rata pendapatan dari usaha ternak sapi potong sebesar Rp18. 545 per tahun atau berkontribusi 33,27% terhadap pendapatan rumah tangga. Faktor jumlah kepemilikan ternak, biaya produksi, pengalaman beternak, tingkat pendidikan, dan modal usaha berpengaruh signifikan terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong. Usaha ternak sapi potong di Kecamatan Banyuasin i memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan utama melalui peningkatan manajemen, akses modal, dan teknologi modern. Kata Kunci: Kontribusi Pendapatan. Sapi Potong. Pendapatan Keluarga. Faktor Ekonomi. Banyuasin i Abstract This study aims to analyze the contribution of beef cattle farming to household income and identify Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi the factors that influence it in Banyuasin i District. Banyuasin Regency. The background of this research lies in the fact that most beef cattle farms in Indonesia are managed by small-scale farmers using simple technology and traditional management practices, resulting in suboptimal contributions to household welfare. Banyuasin i District was purposively selected because it has a relatively high cattle population, a large number of farmers, and significant development potential. The research employed a descriptive method with a survey approach. Primary data were obtained through interviews and questionnaires administered to 35 beef cattle farmers selected us ing purposive sampling from five villages: Pangkalan Balai. Langkan. Sidang Mas. Lubuk Saung, and Terlangu. Secondary data were collected from relevant institutions such as the Banyuasin Regency Of fice of Plantation and Animal Husbandry and the Central Statistics Agency (BPS). Data analysis included calculating the contribution of beef cattle farming income to total household income and conducting multiple linear regression analysis to determine the significant influencing factors. The results showed that the average total household income of beef cattle farmers was IDR 56,808,902 per year, with an average income from beef cattle farming of IDR 18,904,545 per year, contributing 33. 27% to total household income. The number of cattle owned, production costs, f arming experience, education level, and business capital significantly affected the contribution of beef cattle f arming Beef cattle farming in Banyuasin i District has great potential to be developed as a primary source of household income through improved management, better access to capital, and the adoption of modern technology. Keywords: Income Contribution. Beef Cattle Farming. Household Income. Economic Factors. Banyuasin i PENDAHULUAN Latar Belakang Sistem produksi ternak di dunia pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu sistem berbasis ternak . olely livestock production syste. dan sistem pertanian campuran . ixed farming syste. Sistem pertama mengandalkan pakan yang dihasilkan di lokasi usaha . n far. , sedangkan sistem campuran memanfaatkan hasil sampingan dari tanaman pertanian (FAO, 1. Secara global, sistem pertanian campuran berkontribusi paling besar terhadap produksi daging dunia, yaitu sekitar 53,9 persen (Steinfeld & Maki-Hokkonen, 1. negara berkembang, sistem ini sangat bergantung pada sumber daya alam seperti lahan, air, dan areal penggembalaan (FAO, 2. Kondisi tersebut juga mencerminkan situasi di Indonesia, di mana lebih dari 90 persen usaha peternakan sapi dikelola oleh peternak rakyat berskala kecil dengan modal terbatas, teknologi sederhana, serta pola pemeliharaan tradisional (Yusdja & Ilham, 2006. Sumadi dalam Purnomo et al. , 2. Berdasarkan data tahun 2020, populasi sapi potong di Indonesia mencapai 17,5 juta ekor dengan mayoritas dimiliki oleh rumah tangga petani yang memelihara kurang dari lima ekor sapi. Ternak sapi umumnya dijadikan tabungan keluarga, sumber pendapatan tambahan, atau jaminan ekonomi dalam situasi mendesak. Menurut Andini dan MaAorif . , tipologi usaha peternakan dapat diklasifikasikan menjadi empat: . usaha sambilan dengan kontribusi pendapatan ternak kurang dari 30 persen, . cabang usaha dengan kontribusi 30Ae70 persen, . usaha pokok dengan kontribusi 70Ae100 persen, dan . usaha industri dengan kontribusi 100 persen terhadap pendapatan rumah tangga. Dalam konteks pembangunan, subsektor peternakan memiliki peranan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional, peningkatan kesejahteraan petani, serta pertumbuhan ekonomi daerah. Keberhasilan usaha peternakan sapi potong ditandai oleh meningkatnya pendapatan peternak, pertumbuhan berat badan ternak, dan penambahan jumlah kepemilikan sapi (Wahyudi et al. , 2. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi Sapi potong menjadi komoditas strategis karena kebutuhan daging sapi nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan pola konsumsi. Di sisi lain, peternakan rakyat sering kali masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan modal, teknologi, pengetahuan manajemen, dan fluktuasi harga pasar yang menyebabkan kontribusi usaha terhadap pendapatan keluarga belum maksimal. Kecamatan Banyuasin i di Kabupaten Banyuasin. Provinsi Sumatera Selatan, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan usaha ternak sapi potong. Potensi tersebut didukung oleh ketersediaan lahan penggembalaan yang luas, sumber pakan alami dari limbah pertanian, serta pengalaman masyarakat dalam beternak secara turun-temurun. Selain itu, posisi geografis Banyuasin i yang dekat dengan pusat konsumsi seperti Kota Palembang menjadikan wilayah ini strategis untuk pemasaran hasil ternak. Berdasarkan data BPS . Kecamatan Banyuasin i memiliki luas wilayah 304,89 kmA dengan jumlah penduduk 68. 804 jiwa yang tersebar di 26 desa dan kelurahan. Bagi masyarakat setempat, usaha ternak sapi potong bukan hanya kegiatan sambilan, tetapi juga bagian dari strategi ekonomi keluarga. Hasil penjualan sapi sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, biaya pendidikan, pembangunan rumah, hingga Usaha ini berfungsi sebagai Aujaring pengaman ekonomiAy bagi keluarga peternak, terutama di saat pendapatan utama dari sektor pertanian mengalami penurunan. Namun demikian, produktivitas ternak masih rendah karena sebagian besar peternak belum menerapkan teknologi modern, manajemen pakan yang efisien, atau sistem reproduksi yang Oleh karena itu, analisis mendalam diperlukan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta arah pengembangannya di masa depan. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengambil judul AuAnalisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong terhadap Pendapatan Keluarga dan Prospek Pengembangannya di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin. Ay Rumusan Masalah Seberapa besar kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga di Kecamatan Banyuasin i? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi usaha ternak sapi potong di Kecamatan Banyuasin i? METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Mei 2025 sampai dengan Juni 2025. Pemilihan Lokasi penelitian dilakukan secara sengaja . dengan mempertimbangkan bahwa jumlah peternak lebih besar di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin merupakan sentra usaha ternak sapi potong. Metode Penelitian Metodologi penelitian diartikan sebagai proses atau cara ilmiah untuk mendapatkan data yang akan digunakan untuk keperluan penelitian. Metodologi berisi tentang metode Ae metode ilmiah, langkahnya, jenis Ae jenisnya sampai kepada batas Ae batas dari metode Sedangkah penelitian merupakan suatu usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan melalui bukti Ae bukti fakta dengan tata cara kerja ilmiah tertentu yang krisis dan terkendali (Alfandi, 2. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi Metodologi penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jenis survei . (Sugiyono, 2. Metode survei digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah . ukan buata. , tetapi penelitian melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, test, wawancara dan sebagainya. Lakukan survey/wawancara pada industri untuk pengukuran dan praktek yang dilakukan, dengan melakukan pengumpulan data menggunakan wawancara kualitatif untuk mendapatkan data dan informasi yang relevan sesuai problem yang diidentifikasi di langkah awal. Dengan menggunakan metode survei ini didapatkan keterangan yang teperinci serta informasi yang jelas sesuai dengan persoalan yang telah terjadi di daerah penelitian untuk mencapai tujuan dari penelitian tersebut. Melalui metode survei ini informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Dengan demikian penelitian survei adalah penelitian yang mengambil responden dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. (Miles dan Huberman, 1984 dalam Sugiyono. Melalui metode survei penelitian, peneliti mengkaji tentang analisis kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga dan prospek pengembangnnya di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan suatu cara yang ditempuh oleh peneliti untuk memperoleh data yang akan diteliti. Pengumpulan data sangatlah penting karena berkaitan dengan tersedianya data yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian sehingga kesimpulan yang diambil adalah benar. Oleh karena itu, penelitian metode pengumpulan data harus dilakukan dengan cara yang tepat. Jenis data penelitian yaitu sumber subjek dari tempat mana data bisa didapatkan. Jika peneliti memakai kuesioner atau wawancara di dalam pengumpulan datanya, maka jenis data itu dari responden, yakni orang yang menjawab pertanyaan peneliti, yaitu tertulis ataupun lisan. Sumber data berbentuk responden ini digunakan di dalam penelitian. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung . ari tangan pertam. , sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Dalam penelitian ini pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah: Data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, observasi dan data hasil wawancara peneliti dengan narasumber. Metode angket (Kusione. adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dan responden dalam arti laporan tentang pribadi aau hal-hal yang diketahui (Arunto, 1. Metode Wawancara sering disebut interview dalah sebuah dialog yang digunakan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi kegiatan wawancara ini dilakukan tanya jawab langsung dengan beberapa penyuluh setempat sebagai narasumber yang berkopenten dibidangnya. Data sekunder yaitu jenis data yang berasal dari bahan-bahan kepustakaan. Data yang dikumpulkan oleh peneliti ini, sebagai penunjang dari sumber pertamanya. Data sekunder itu, biasanya telah tersusun dalam bentuk berupa dokumen-dokumen instansi terkait, majalah, buku, jurnal, dan yang lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian Dalam penelitian ini pengambilan data primer dan data sekunder. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi Metode dokumentasi ialah metode mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, buku, transkip, surat kabar, prasasti, majalah, notulen rapat, agenda serta foto-foto Metode dokumentasi dalam penelitian ini, dipergunakan untuk melengkapi data dari hasil wawancara dan hasil pengamatan . (Arkinto, 2. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara kepada peternak sapi potong di Kecamatan Banyuasin i Kabuaten Banyuasin dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuisioner yang telah disiapkan. Sumber data sekunder diperoleh dari BPS Kabupaten Banyuasin. Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banyuasin serta beberapa literatur yang mendukung dan kompeten dalam penelitian ini. Metode Penarikan Contoh Penelitian ini menggunakan pendekatan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang dipilih secara sengaja berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2. Teknik ini sangat tepat digunakan dalam penelitian kualitatif atau eksploratif, karena menitikberatkan pada kualitas informasi yang diperoleh, bukan kuantitas responden. Penentuan Desa Sampel Dari total 26 desa dan kelurahan yang ada di Kecamatan Banyuasin i, peneliti hanya memilih 5 desa sebagai lokasi pengambilan sampel, yaitu : Pangkalan Balai. Langkan. Sidang Mas. Lubuk Saung dan Terlangu Pemilihan 5 Desa didasarkan pada pendekatan purposif dengan pertimbangan sebagai berikut : Kuantitas Peternak dan Populasi Ternak Signifikan Desa-desa yang dipilih memiliki jumlah peternak dan populasi sapi potong yang tinggi dan beragam, yang mencerminkan potensi peternakan yang aktif dan dinamis. Keragaman Sosial-Geografis Kelima desa tersebut mencerminkan variasi lokasi, mulai dari yang berdekatan dengan pusat pemerintahan hingga wilayah dengan kondisi geografis lebih rural. Hal ini memberikan representasi kondisi peternakan yang lebih beragam. Aksesibilitas untuk Penelitian Lapangan Pemilihan desa mempertimbangkan kemudahan akses dan logistik, untuk menjamin efisiensi dalam proses observasi, wawancara, dan pengambilan data. Efisiensi Waktu dan Sumber Daya Dengan jumlah desa yang terbatas namun representatif, peneliti dapat tetap memperoleh data yang berkualitas tanpa harus mencakup seluruh wilayah kecamatan, mengingat keterbatasan tenaga, waktu, dan anggaran. Kelayakan Jumlah Populasi untuk Pengambilan Sampel Desa-desa terpilih memiliki populasi peternak yang cukup besar sehingga memungkinkan pengambilan sampel yang memadai dan representatif. Untuk memberikan konteks yang lebih luas, berikut disajikan tabel populasi peternak sapi potong dan jumlah ternak di seluruh desa : Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi Tabel 1. Jumlah Peternak Sapi Potong dan Jumlah Sapi Potong di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin, 2024. No. Desa/Kelurahan Peternak Sapi Potong Sapi (Oran. (Eko. Pangkalan Balai Kedondong Raye Seterio Langkan Kayuara Kuning Pangkalan Panji Galang Tinggi Mulya Agung Ujung Tanjung Petaling Sidang Mas Regan Agung Lubuk Saung Pelajau Tanjung Agung Tanjung Beringin Tanjung Menang Terentang Rimba Alai Suka Mulya Sri Bandung Tanjung Kepayang Rimba Balai Pelajau Ilir Suka Raja Baru Terlangu Sumber : Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banyuasin, 2024. Potong Penentuan Jumlah Sampel Jumlah sampel yang diambil adalah 35 peternak sapi potong, yang diambil dari lima desa terpilih. Untuk menjaga keadilan representasi, jumlah responden dari tiap desa dihitung berdasarkan proporsi jumlah peternak. Perhitungan sampel secara proporsional mengacu pada proportional allocation sampling (Neuman, 2. , yang menyatakan bahwa dalam pengambilan sampel dari populasi yang tersebar dalam beberapa strata . alam hal ini des. , maka jumlah sampel dari masing-masing strata sebaiknya disesuaikan dengan ukuran stratum tersebut. Rumus yang digunakan : ni = ( N ) x n Keterangan : ni = jumlah sampel dari desa ke-I N i = jumlah peternak di desa ke-i Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi N = total peternak di lima desa n = total sampel yang diambil . Tabel 2. Distribusi Hasil Perhitungan Pengambilan Sampel di di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin, 2024. Desa Pangkalan Balai Langkan Sidang Mas Lubung Saung Terlangu Total Julah sampel Pemilihan individu peternak dalam tiap desa tetap dilakukan secara purposif, berdasarkan kriteria seperti : Lama usaha ternak . Skala kepemilikan sapi Keterlibatan dalam program pemerintah atau koperasi Kemampuan memberikan informasi yang mendalam Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh data yang mendalam, relevan, dan kontekstual, sekaligus tetap menjaga representasi kuantitatif antarwilayah. Metode Analisis Data Sugiyono . mengemukakan bahwa, analisis data adalah suatu proses mencari dan menyusun data secara sistematis data tersebut diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan saat observasi, dan bahan acuan yang lain, sehingga dapat dengan mudah dipahami, dan hasil temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Pendapatan Total Rumah Tangga Petani Pendapatan total rumah tangga petani merupakan indikator penting dalam mengukur kesejahteraan ekonomi rumah tangga di sektor agraris. Dalam pendekatan ekonomi rumah tangga petani, sumber pendapatan bersifat heterogen karena tidak hanya berasal dari satu jenis kegiatan usaha, melainkan dari berbagai aktivitas ekonomi yang dijalankan rumah tangga petani secara simultan. Menurut Muis & Marlin . , pendapatan total rumah tangga petani dihitung dengan menjumlahkan seluruh sumber pendapatan yang diperoleh selama satu tahun. Sumbersumber tersebut meliputi pendapatan dari kegiatan usahatani utama . saha tani A dan B), pendapatan dari kegiatan usaha non-pertanian, serta pendapatan dari usaha peternakan, khususnya ternak sapi potong. Adapun persamaan yang digunakan untuk menggambarkan total pendapatan rumah tangga petani adalah sebagai berikut : Y = X1 X2 X3 Dimana : Y = Pendapatan usaha sapi potong (Rp/tahu. X1 = Pendapatan usahatani luar sapi potong (Rp/tahu. X2 = Pendapatan luar usahatani (Rp/tahu. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi X3 = Pendapatan usaha ternak sapi potong (Rp/tahu. Pendekatan ini menunjukkan bahwa rumah tangga petani bersifat multifungsi dalam menjalankan strategi ekonomi, yang tidak hanya menggantungkan pada hasil pertanian semata, melainkan juga memanfaatkan peluang dari sektor peternakan dan non-pertanian. Diversifikasi sumber pendapatan ini merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap ketidakpastian pendapatan pertanian yang cenderung fluktuatif akibat faktor iklim, harga komoditas, dan risiko gagal panen. Dengan demikian, pemahaman terhadap komposisi dan struktur pendapatan rumah tangga petani sangat penting untuk merumuskan kebijakan peningkatan kesejahteraan petani secara lebih komprehensif dan kontekstual. Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi potong Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani Kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga petani merupakan indikator penting dalam menilai sejauh mana kegiatan peternakan berperan dalam menunjang kesejahteraan ekonomi petani. Usaha ternak sapi potong, sebagai salah satu kegiatan agribisnis, tidak hanya menyediakan sumber protein hewani, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan alternatif maupun utama bagi rumah tangga petani. Secara teoritis, kontribusi ekonomi dari suatu usaha terhadap total pendapatan rumah tangga dapat dihitung dengan membandingkan pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut terhadap pendapatan keseluruhan rumah tangga. Menurut Nurhidayat et. , besarnya kontribusi sangat bergantung pada skala usaha ternak, jumlah ternak yang dipelihara, serta pola pemeliharaan . ntensif, semi-intensif, atau ekstensi. Dalam rumah tangga petani yang memiliki kegiatan utama non-pertanian, kontribusi sapi potong bisa lebih kecil, sementara pada rumah tangga dengan fokus utama pada peternakan, kontribusinya bisa mencapai > 40%. Dalam konteks ini, kontribusi usaha ternak sapi potong dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : (Nurhidayat, et. , 2. ycU3 K= x 100% ycU Dimana : K = Kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong (%) X3 = Pendapatan usaha ternak sapi potong (Rp/tahu. Y = Pendapatan Total rumah tangga petani (Rp/tahu. Rumus ini menunjukkan persentase seberapa besar pendapatan dari usaha ternak sapi potong menyumbang terhadap keseluruhan pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi nilai K, maka semakin besar peran ekonomi usaha ternak sapi potong dalam menopang kehidupan rumah tangga petani. Hal ini menjadi penting dalam perumusan kebijakan pengembangan peternakan, strategi pemberdayaan petani, serta dalam merancang program peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong terhadap Pendapatan Keluarga Peternak di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Untuk mengetahui dan mengukur secara objektif faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga peternak, digunakan pendekatan kuantitatif. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk melihat hubungan sebab-akibat antar variabel dan mengukur pengaruhnya secara statistik. Dalam konteks ini, variabel usaha ternak sapi potong ditetapkan sebagai variabel dependen (Y), sedangkan beberapa faktor yang diduga berpengaruh seperti jumlah kepemilikan ternak. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi biaya produksi, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, akses pasar, dan modal usaha dijadikan sebagai variabel independen (XCA. XCC, . XCI). Untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen, digunakan model regresi linear berganda(Muthahharah & Inayanti Fatwa, 2. Rumus umum regresi linear berganda adalah sebagai berikut: Y=0 1X1 2X2 3X3 4X4 5X5 6X6 A Keterangan: = Usaha ternak sapi potong = Konstanta regresi . ilai Y saat seluruh X = . 1Oe6 = Koefisien regresi masing- masing variabel independen = Jumlah kepemilikan ternak . = Biaya produksi . upiah/bula. = Tingkat pendidikan peternak . kala: SD = 1. SMP = 2, dst. = Lama pengalaman beternak . = Akses pasar . ummy: 1 = akses mudah, 0 = suli. = Modal usaha . = Error term . aktor lain yang tidak terobservas. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendapatan Total Rumah Tangga Petani Pendapatan total rumah tangga petani adalah jumlah keseluruhan penerimaan yang diperoleh oleh satu rumah tangga petani dari berbagai sumber selama satu tahun, baik yang berasal dari sektor pertanian maupun non-pertanian. Dalam konteks penelitian ini, pendapatan total dihitung dari penjumlahan antara pendapatan usaha ternak sapi potong . ebagai bagian dari sektor pertania. dan pendapatan luar usahatani seperti dari pekerjaan buruh, perdagangan, maupun sumber non-pertanian lainnya. Pendapatan ini mencerminkan tingkat kesejahteraan ekonomi petani secara menyeluruh dan menjadi indikator penting untuk mengevaluasi kontribusi relatif dari masing-masing sumber pendapatan terhadap kelangsungan ekonomi rumah tangga. Tabel 3. Pendapatan Total Rumah Tangga Petani No Variabel Notasi Rata-rata (Rp/Tahu. Pendapatan Sapi Potong Usahatani Pendapatan Luar Usahatani Non Keterangan Misalnya dari karet, padi dan Misalnya perdagangan, dll. Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong Hasil utama dari usaha ternak Jumlah Total Pendapatan Rumah Tangga Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa rata-rata total pendapatan rumah tangga petani peternak sapi potong sebesar Rp56. 902 per tahun. Pendapatan tersebut berasal dari dua komponen utama, yaitu pendapatan dari usaha ternak sapi potong (X. sebesar Rp18. 545, dan pendapatan luar usahatani (X. sebesar Rp22. 000 per tahun. Serta Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi pendapatan usahatani non sapi potong (X. sebesar Rp. 214, karena seluruh responden dalam penelitian ini hanya mengelola ternak sapi potong sebagai usaha tani Komposisi ini dapat dilihat secara jelas pada Tabel 3. Struktur pendapatan tersebut menunjukkan bahwa meskipun usaha ternak sapi potong merupakan sumber pendapatan utama dari sektor pertanian, petani tetap mengandalkan pendapatan dari luar sektor pertanian untuk menunjang kebutuhan rumah tangga. Pendapatan luar usahatani ini meliputi aktivitas seperti buruh, perdagangan, jasa, atau pekerjaan lain di luar pertanian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa struktur ekonomi rumah tangga petani bersifat campuran, dengan ketergantungan yang relatif seimbang antara sektor peternakan dan sumber pendapatan non-pertanian. Hal ini sekaligus menegaskan pentingnya keberlanjutan usaha ternak sapi potong dalam mendukung stabilitas ekonomi rumah tangga Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi potong Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani Analisis kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga adalah suatu metode untuk mengukur seberapa besar peran pendapatan dari kegiatan beternak sapi potong dalam membentuk total pendapatan rumah tangga petani. Analisis ini dilakukan dengan membandingkan pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi potong dengan total pendapatan rumah tangga dari seluruh sumber . aik dari sektor pertanian maupun nonpertania. , yang kemudian dinyatakan dalam bentuk persentase. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui sejauh mana usaha ternak sapi potong menjadi sumber utama atau pendukung dalam struktur ekonomi rumah tangga petani. Hasil analisis ini juga dapat menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan pengembangan usaha ternak secara lebih fokus dan berorientasi pada peningkatan pendapatan petani. Kontribusi yang tinggi menunjukkan bahwa ternak merupakan sektor andalan, sementara kontribusi rendah dapat mengindikasikan bahwa usaha ternak masih bersifat sampingan atau belum dioptimalkan secara maksimal. Tabel 4. Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi potong Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani Nilai Kontribusi No Variabel (Rp/Tahu. (%) 1 Rata-rata Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong 2 Rata-rata Total Pendapatan Rumah Tangga Rata-rata Kontribusi Usaha Ternak terhadap Total Ae Pendapatan Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4, diketahui bahwa rata-rata pendapatan dari usaha ternak sapi potong sebesar Rp18. 545 per tahun, sementara rata-rata total pendapatan rumah tangga petani adalah sebesar Rp56. 902 per tahun. Dari perbandingan kedua nilai tersebut, diperoleh bahwa rata-rata kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap total pendapatan rumah tangga petani adalah sebesar 33,27%. Hal ini menunjukkan bahwa hampir separuh pendapatan rumah tangga petani berasal dari aktivitas beternak sapi potong, sehingga usaha ini memegang peranan yang cukup penting dalam struktur ekonomi rumah tangga petani. Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi Temuan ini sejalan dengan pendapat Soekartawi . yang menyatakan bahwa sektor peternakan, khususnya ternak ruminansia seperti sapi potong, sering menjadi sumber pendapatan utama maupun pendapatan tambahan yang signifikan bagi petani di pedesaan. Selain itu, kontribusi ini juga mencerminkan bahwa ternak bukan hanya berfungsi sebagai aset atau tabungan hidup, tetapi juga sebagai komoditas produktif yang mampu menghasilkan arus kas tahunan bagi peternak (Ilham & Hartono, 2. Meskipun kontribusinya cukup besar, kenyataan bahwa sebagian besar petani juga mengandalkan sumber pendapatan lain di luar usaha ternak menunjukkan bahwa diversifikasi pendapatan tetap menjadi strategi penting bagi rumah tangga petani, terutama untuk mengurangi risiko ekonomi yang bersifat musiman atau akibat fluktuasi harga pasar ternak (Sudaryanto & Swastika, 2. Oleh karena itu, pengembangan usaha ternak sapi potong secara intensif dan berkelanjutan dapat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga petani. Faktor yang Mempengaruhi Kontribusi Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong Faktor-faktor yang diduga memengaruhi kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong (Y) adalah jumlah kepemilikan ternak (X. , biaya produksi (X. , tingkat pendidikan peternak (X. , lama pengalaman beternak (X. , dan modal usaha (X. Untuk mengetahui besar pengaruh masing-masing variabel terhadap kontribusi pendapatan, digunakan model regresi linear berganda. Dalam penelitian ini digunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh beberapa variabel bebas terhadap satu variabel terikat, yaitu kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong (%). Metode yang digunakan dalam pemilihan model adalah backward elimination, yaitu salah satu metode dalam stepwise regression di mana seluruh variabel independen dimasukkan terlebih dahulu ke dalam model, kemudian secara bertahap variabel yang tidak signifikan dihilangkan satu per satu berdasarkan nilai signifikansi . -valu. tertinggi hingga hanya tersisa variabel-variabel yang signifikan secara statistik. Model 1 merupakan model awal dalam metode regresi linear berganda dengan teknik backward elimination, di mana seluruh variabel independen dimasukkan secara bersamaan ke dalam model tanpa seleksi awal. Meskipun Model 1 mencakup seluruh variabel (X1AeX. , model ini tidak dipilih sebagai model terbaik karena pertimbangan statistik dan efisiensi Model 1 tidak digunakan karena hanya satu variabel yang signifikan, banyak variabel tidak relevan secara statistik, dan model cenderung terlalu kompleks. Sebaliknya. Model 2 sebagai hasil dari proses seleksi backward lebih efisien, sederhana, dan memenuhi kriteria statistik serta ekonometrika. Oleh karena itu. Model 2 lebih layak digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan penelitian. Hasil analisis regresi disajikan pada Tabel 5 berikut. Tabel 5. Nilai Parameter Dugaan Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kontribusi Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong di Kelurahan Karya Jaya Variabel Constanta Jumlah kepemilikan ternak Biaya produksi Tingkat pendidikan peternak Modal usaha Nilai Parameter -,038 ,047 1,461E-8 ,036 -6,713E-9 Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Nilai t Tingkat -,441 4,087 ,848 2,626 -,996 ,665 ,001 ,408 ,018 ,333 Koliniaritas Statistik Tolerance VIF ,231 ,200 ,443 ,440 4,329 5,007 2,258 2,274 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi R2 = 94,8 . F = 0,904 . dw = 2,353 . df = 1 Evaluasi Hasil Persamaan Regresi Kriteria Ekonomi Dilihat dari Model 2 dalam output regresi, koefisien regresi menunjukkan bahwa seluruh variabel independen, kecuali modal usaha, memiliki pengaruh positif terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong. Variabel jumlah kepemilikan ternak (X. berpengaruh positif dengan nilai koefisien sebesar 0,047, yang secara logis menunjukkan bahwa semakin banyak ternak yang dimiliki, maka semakin besar pula kontribusi usaha ternak terhadap total pendapatan peternak. Biaya produksi (X. juga menunjukkan pengaruh positif dengan nilai koefisien sebesar 1,461E-8 atau 0,0000000146, meskipun nilainya sangat kecil, namun tetap sejalan dengan logika ekonomi bahwa semakin tinggi biaya produksi yang dikeluarkan mencerminkan skala usaha yang lebih besar. Tingkat pendidikan peternak (X. memiliki koefisien positif sebesar 0,036, menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi cenderung mendorong kontribusi pendapatan usaha ternak menjadi lebih besar, kemungkinan karena pengelolaan usaha yang lebih baik. Demikian pula, lama pengalaman beternak (X. memiliki koefisien positif sebesar 0,011, yang berarti semakin lama pengalaman peternak, maka semakin besar pula kontribusinya terhadap pendapatan, walaupun pengaruhnya tidak signifikan. Sebaliknya, modal usaha (X. menunjukkan koefisien negatif sebesar -6,713E-9 atau 0,000000006713, yang secara ekonomi kurang sesuai karena modal seharusnya mendorong peningkatan pendapatan. Namun demikian, karena nilai signifikansi dari variabel ini tidak memenuhi syarat statistik, maka pengaruh negatif tersebut tidak menjadi perhatian utama dalam interpretasi model. Secara umum, tanda koefisien regresi sudah sesuai dengan teori ekonomi kecuali untuk variabel modal usaha. Kriteria Statistik Evaluasi persamaan regresi menggunakan kriteria statistik dilakukan dengan menilai nilai koefisien determinasi (RA), hasil uji F, dan uji t. Berdasarkan hasil regresi pada Model 2, nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 94,5%, yang berarti bahwa sebanyak 94,5% variasi kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen dalam model, yaitu jumlah kepemilikan ternak, biaya produksi, tingkat pendidikan, lama pengalaman beternak, dan modal usaha. Nilai RA ini tergolong sangat tinggi, sehingga menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediksi yang sangat baik terhadap variabel dependen. Namun demikian, karena tujuan utama analisis regresi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka perhatian utama tetap diberikan pada hasil uji t terhadap masing-masing koefisien regresi. Hasil uji t menunjukkan bahwa dari lima variabel independen, terdapat dua variabel yang signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. , yaitu jumlah kepemilikan ternak (X. dengan nilai signifikansi 0,001 dan tingkat pendidikan peternak (X. dengan nilai signifikansi 0,018. Artinya, kedua variabel ini berpengaruh nyata terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong. Sementara itu, variabel lainnya yaitu biaya produksi (X. , lama pengalaman beternak (X. , dan modal usaha (X. tidak berpengaruh secara signifikan karena nilai signifikansi > 0,05. Meskipun output nilai F-hitung tidak ditampilkan secara eksplisit, namun karena model akhir (Model . dihasilkan dari prosedur regresi backward yang mempertahankan Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi variabel signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa model secara simultan juga signifikan. Dengan demikian, berdasarkan kriteria statistik, model regresi yang digunakan sudah sangat baik dan dapat diandalkan untuk menjelaskan variasi kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong. Kriteria Ekonometrika Berdasarkan hasil pengujian asumsi klasik, model regresi ini tidak mengandung masalah multikolinearitas, yang ditunjukkan oleh nilai tolerance seluruh variabel lebih besar dari 0,1 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) kurang dari 10. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi korelasi tinggi antar variabel independen dalam model. Selain itu, masalah autokorelasi dapat diabaikan karena data yang digunakan merupakan data cross section, sehingga kecil kemungkinan terjadi hubungan antara error satu observasi dengan observasi lainnya. Masalah heteroskedastisitas juga tidak ditemukan, sebagaimana terlihat dari grafik sebaran residual yang tidak menunjukkan pola tertentu. Dengan terpenuhinya ketiga asumsi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi ini telah memenuhi kriteria ekonomi, statistik, dan ekonometrika, sehingga layak digunakan untuk analisis lebih lanjut dan penarikan kesimpulan. Pengaruh Masing-Masing Variabel Jumlah Kepemilikan Ternak (X. Variabel jumlah kepemilikan ternak (X. memiliki koefisien regresi sebesar 0,047 dan nilai signifikansi 0,001, yang menunjukkan bahwa variabel ini berpengaruh nyata secara statistik terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. Koefisien positif ini mengindikasikan bahwa setiap penambahan satu ekor ternak akan meningkatkan kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong sebesar 4,7 persen poin, dengan asumsi variabel lainnya tetap. Secara ekonomi, hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin banyak ternak yang dimiliki seorang peternak, maka semakin besar pula skala usahanya, sehingga pendapatan yang dihasilkan dari sektor ternak akan semakin tinggi. Peternak dengan jumlah ternak yang lebih banyak umumnya juga memiliki kapasitas produksi yang lebih besar, serta cenderung memiliki motivasi, pengalaman, dan keterlibatan yang lebih dalam kegiatan usaha ternak (Syahza et al. , 2. Selain itu, jumlah ternak juga berkorelasi dengan penggunaan teknologi dan akses terhadap modal, yang turut memperkuat kontribusi pendapatan ternak terhadap total pendapatan rumah tangga (Sartika & Hasnudi, 2. Oleh karena itu, jumlah kepemilikan ternak dapat dikategorikan sebagai faktor utama dalam peningkatan kontribusi pendapatan peternak. Biaya Produksi (X. Variabel biaya produksi (X. dalam model regresi memiliki koefisien sebesar 1,461E8 atau 0,0000000146 dan nilai signifikansi sebesar 0,408, yang berarti bahwa secara statistik, variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. Meskipun arah pengaruhnya positif, namun nilai koefisien yang sangat kecil dan tidak signifikan menunjukkan bahwa peningkatan biaya produksi tidak secara langsung meningkatkan kontribusi pendapatan dari usaha ternak. Kondisi ini dapat dijelaskan oleh variasi efisiensi penggunaan biaya antarpeternak, di mana tidak semua biaya yang dikeluarkan dialokasikan secara produktif atau menghasilkan output yang optimal. Beberapa peternak mungkin mengeluarkan biaya tinggi namun tidak Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi sebanding dengan hasil produksi karena perbedaan dalam manajemen usaha, keterampilan teknis, atau akses terhadap input yang efisien (Sulastri dan Hidayat, 2. Selain itu, biaya produksi yang tinggi tidak selalu mencerminkan skala usaha yang besar, terutama jika tidak diimbangi dengan praktik manajemen yang efektif. Oleh karena itu, variabel ini tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kontribusi pendapatan Tingkat Pendidikan Peternak (X. Variabel tingkat pendidikan peternak (X. menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,036 dengan nilai signifikansi sebesar 0,018, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 5% ( = 0,. Secara statistik, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh nyata dan positif terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan rumah tangga peternak. Artinya, setiap kenaikan satu tingkat pendidikan . isalnya dari SMP ke SMA) akan meningkatkan kontribusi pendapatan dari usaha ternak sebesar 3,6 persen, dengan asumsi variabel lain tetap konstan. Nilai p yang signifikan . < 0,. menolak hipotesis nol, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh tersebut tidak terjadi secara kebetulan dan dapat dipercaya secara statistik. Secara ekonomi, hubungan positif ini mencerminkan bahwa semakin tinggi pendidikan peternak, semakin besar kapasitasnya dalam mengelola usaha ternak secara efisien dan Peternak yang berpendidikan lebih mudah memahami informasi teknis, mengakses sumber daya, dan menerapkan inovasi seperti manajemen pakan, perencanaan reproduksi, serta pencatatan usaha. Pendidikan juga mendorong kemampuan pengambilan keputusan yang lebih rasional dan strategis, sehingga berdampak pada meningkatnya kontribusi pendapatan dari usaha ternak (Firmansyah et al. , 2. Dengan demikian, baik secara statistik maupun ekonomi, variabel tingkat pendidikan terbukti menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan usaha ternak sapi potong. Lama Pengalaman Beternak (X. Variabel lama pengalaman beternak (X. memiliki koefisien regresi sebesar 0,011 dengan nilai signifikansi . -valu. sebesar 0,322, yang berarti bahwa secara statistik variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong. Nilai p yang lebih besar dari 0,05 ( = 5%) mengindikasikan bahwa hipotesis nol tidak dapat ditolak, sehingga peningkatan pengalaman beternak tidak dapat dijelaskan sebagai faktor yang secara signifikan meningkatkan kontribusi pendapatan dari usaha ternak. Dengan kata lain, meskipun arah koefisien positif, secara statistik pengaruhnya lemah dan tidak Secara ekonomi, hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa lamanya seseorang beternak belum tentu diikuti dengan peningkatan kapasitas produktif atau manajerial yang lebih baik. Beberapa peternak mungkin sudah lama menjalankan usaha, namun tetap menggunakan cara-cara tradisional yang kurang efisien atau tidak beradaptasi terhadap teknologi dan perubahan pasar. Kurangnya pelatihan, akses informasi, dan inovasi dalam praktik beternak juga dapat menjadi penyebab mengapa pengalaman bertahun-tahun belum memberikan pengaruh nyata terhadap kontribusi pendapatan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pengalaman hanya akan memberikan dampak positif jika disertai dengan peningkatan keterampilan dan pengetahuan yang relevan (Yusdja et al. Oleh karena itu, meskipun secara teori pengalaman dianggap aset penting, dalam konteks ini belum terbukti berperan signifikan secara statistik dalam meningkatkan Jimanggis. Vol. No. Desember 2025 Analisis Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Banyuasin i Kabupaten Banyuasin Warsi. Yudhi Zuriah Wirya Purba. Wardi Saleh. Nur Ahmadi kontribusi ekonomi dari usaha ternak sapi potong. Modal Usaha (X. Variabel modal usaha (X. dalam model regresi memiliki koefisien sebesar -6,713E-9 dengan nilai signifikansi sebesar 0,333, yang berarti bahwa pengaruhnya terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong tidak signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. Nilai p yang melebihi batas signifikan menunjukkan bahwa modal usaha tidak memiliki pengaruh yang nyata dalam menjelaskan variasi kontribusi pendapatan ternak dalam populasi peternak yang diteliti. Selain tidak signifikan, arah koefisiennya juga negatif, yang bertentangan dengan teori ekonomi yang menyatakan bahwa modal seharusnya memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan pendapatan usaha. Secara ekonomi, tanda negatif ini dapat dijelaskan oleh kemungkinan bahwa modal yang dimiliki peternak tidak seluruhnya dialokasikan untuk kegiatan produktif pada usaha ternak sapi potong. Sebagian modal mungkin digunakan untuk kegiatan konsumtif, usaha non-peternakan, atau investasi yang tidak berdampak langsung terhadap peningkatan produksi dan kontribusi pendapatan dari ternak. Selain itu, rendahnya literasi keuangan dan kurangnya pendampingan usaha bisa membuat penggunaan modal tidak efisien, sehingga tidak berdampak nyata pada hasil usaha. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa efektivitas modal sangat bergantung pada alokasi dan manajemen usaha yang tepat (Anindita dan Fitriani, 2. Oleh karena itu, meskipun modal merupakan input penting dalam teori produksi, pengaruhnya dalam konteks ini belum terbukti signifikan. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda metode backward, diperoleh bahwa dari lima variabel bebas yang dianalisis, hanya dua variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong, yaitu jumlah kepemilikan ternak (X. dan tingkat pendidikan peternak (X. Sementara itu, variabel biaya produksi (X. , pengalaman beternak (X. , dan modal usaha (X. tidak berpengaruh signifikan secara statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong terhadap total pendapatan rumah tangga petani adalah sebesar 47,50%. Angka ini mencerminkan bahwa hampir setengah dari pendapatan rumah tangga peternak berasal dari usaha ternak sapi potong, menjadikannya sebagai sumber pendapatan utama bagi sebagian besar petani. DAFTAR PUSTAKA