Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 POTENSI PUPUK HAYATI MIKORIZA PADA BAWANG DAUN (Allium fistulosum L. ) DI ANDOSOL WONOBOYO. TEMANGGUNG JAWA TENGAH 1,2,3 Fahrizal Hazra*1. Indri Hapsari Fitriyani2. Sayyidatul Alfi Syifa3 Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. IPB University. Bogor. Indonesia. KP16680 E-Mail : fhazra2011@yahoo. com (*Corresponding autho. Submit: 20-07-2025 Revisi: 17-10-2025 Diterima: 27-10-2025 ABSTRAK Potensi Pupuk Hayati Mikoriza pada Bawang Daun (Allium Fistulosum L. ) di Andosol Wonoboyo. Temanggung-Jawa Tengah. Bawang daun (Allium fistulosum L. ) merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi dengan potensi ekspor, terutama ke pasar Asia Timur. Namun, budidayanya pada tanah andosol menghadapi tantangan berupa rendahnya ketersediaan fosfor akibat fiksasi oleh mineral tanah dan sistem perakaran tanaman yang dangkal. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi pupuk hayati mikoriza dan pupuk P terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman bawang daun (Allium fistulosum L. ) yang ditanam pada andosol di Kec. Wonoboyo. Temanggung, serta mengevaluasi perubahan kandungan hara NPK tanah, tingkat infeksi mikoriza pada akar tanaman, juga jumlah sporanya. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dua faktor: dosis mikoriza . dan 500 kg/h. dan pupuk P . dan 200 kg/h. Hasil menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada 12 dan 13 MST berbeda nyata antar perlakuan, di mana perlakuan mikoriza tanpa pupuk P (M1P. menghasilkan tinggi tanaman secara signifikan lebih tinggi dibanding kontrol dan kombinasi M1P1. Parameter kimia tanah setelah penanaman juga tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. Perlakuan M1P0 memberikan respon terbaik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman, serta menghasilkan jumlah spora mikoriza dan tingkat infeksi akar tertinggi dengan genus spora dominan adalah Glomus. Kata kunci : Andosol. Bawang Daun. Mikoriza. Pupuk Fosfor. ABSTRACT Mycorrhizal Biofertilizer Potential on Scallion (Allium Fistulosum L. ) in Andosol Of Wonoboyo. Temanggung Ae Central Jawa. Scallion (Allium fistulosum L. ) is a horticultural commodity with high economic value and export potential, particularly to East Asian markets. However, its cultivation on andosol soils faces challenges due to low phosphorus availability caused by fixation by soil minerals and the plant's shallow root This study aimed to determine the effect of applying of mycorrhizal biofertilizer and phosphorus fertilizer on the growth and productivity of scallion (Allium fistulosum L. ) cultivated on andosol soil in Wonoboyo. Temanggung. It also aimed to evaluate changes in soil NPK nutrient content, the level of root colonization by mycorrhiza, and the number of spores produced. The experiment was arranged in a factorial randomized block design with two factors: mycorrhiza . and 500 kg/h. and P fertilizer . and 200 kg/h. The results showed that plant height at 12 and 13 weeks after planting (WAP) differed significantly among treatments, with the treatment using mycorrhiza without P fertilizer (M1P. producing significantly taller plants compared to the control and M1P1 combination. Soil chemical properties after planting also showed no significant differences among treatments. The M1P0 treatment provided the best response in plant growth and productivity, and also resulted in the highest number of mycorrhizal spores and root colonization, with Glomus identified as the dominant spore genus. Key words : Andosol. Mycorrhiza. Phosphorus Fertilizer. Scallion. PENDAHULUAN Penggunaan pupuk hayati berbasis mikoriza menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan dalam meningkatkan efisiensi serapan hara, khususnya fosfor, pada lahan dengan ketersediaan P rendah seperti tanah andosol. Mikoriza mampu melepaskan P terikat (Al-P. Fe-P. Ca-P. P This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Potensi Pupuk Hayati Mikoriza . yang terjerap oleh mineral amorf, dan Porgani. ke dalam bentuk tersedia melalui mengaktifkan enzim fosfatase yang berfungsi dalam mengurai senyawa Porganik, dengan demikiantanaman yang bersimbiosis dengan mikoriaz mampu menyerap P lebih banyak dibandingkan dibandingkan tanaman tanpa inokulasi mikoriza, terutama pada tanah dengan ketersediaan P rendah (Robifahmi et al. Selain itu, mikoriza juga diketahui mampu meningkatkan penyerapan hara makro dan mikro, aktivitas enzim fotosintetik, serta kualitas dan hasil panen tanaman (Alam et al. , 2023. VilcatomaMedina et al. , 2. Salah satu komoditas hortikultura yang potensial mendapat manfaat dari aplikasi mikoriza adalah bawang daun (Allium fistulosum L. ), anggota famili Alliaceae yang umum digunakan sebagai bumbu penyedap dalam masakan Indonesia. Permintaan terhadap bawang daun terus meningkat, baik di tingkat rumah tangga maupun industri makanan instan (Fera et al. , 2. Data Direktorat Jenderal Hortikultura . mencatat luas panen bawang daun selama 20192023 sebesar 49. 005 ha dengan produksi 603,321 ton dan rata-rata produktivitas 10,08 ton/ha. Konsumsi nasional mencapai 551,2 ton per tahun pada periode 2016-2020 (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2. Varietas hibrida unggul bawang daun yang dikembangkan saat ini memiliki karakter morfologis seragam, berukuran besar, hijau tua, tegap, dan genjah, serta memenuhi standar mutu ekspor ke negaranegara Asia Timur seperti Tiongkok. Jepang, dan Korea Selatan (Kim et al. Bawang dibudidayakan di dataran tinggi dan hasilnya akan optimal jika budidaya dilakukan pada ketinggian >1000 mdpl. Jenis tanah yang banyak dijumpai di Hazra et. daerah dataran tinggi adalah andosol, tanah ini terbentuk dari bahan vulkanik dan kaya bahan organik. Andosol memiliki sifat andik dan mampu menyimpan air serta unsur hara, namun rendahnya ketersediaan fosfor akibat fiksasi oleh mineral alofan. Al, dan Fe, khususnya pada pH rendah (Sukarman & Dariah, 2014. Sari et al. , 2. Padahal, fosfor sangat penting dalam mendukung pertumbuhan akar, pembentukan bunga, dan jaringan penguat tanaman, serta meningkatkan ketahanan terhadap rebah dan serangan patogen (Virgiawan et al. Berdasarkan penelitian ini dilakukan untuk bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi pupuk hayati mikoriza terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman bawang daun (Allium fistulosum L. ) pada andosol Wonoboyo. Temanggung, mengevaluasi perubahan kandungan hara NPK tanah, tingkat infeksi mikoriza pada akar, dan jumlah sporanya. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Desa Wates. Kec. Wonoboyo. Kab. Temanggung. Jawa Tengah, yang secara geografis terletak pada 7o13Ao27Ay LS dan 109o57Ao21Ay BT dengan ketinggian tempat A1746 mdpl. Memiliki curah hujan 765,03 mm, suhu udara 21,27%, kelembaban udara 73%, dan intensitas cahaya 39,953 lux. Kegiatan analisis infeksi akar dan identifikasi spora dilakukan di PT. Anugerah Sarana Hayati (ASHA) Bogor, sementara analisis kimia tanah dan tanaman dilaksanakan di Laboratorium Kesuburan Tanah. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. IPB. Bahan dan Alat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Bahan yang digunakan diantaranya adalah bibit bawang daun varietas TM Plaza, pupuk NPK 15:15:15 dan pupuk kandang ayam pedaging sebagai pupuk dasar, kemudian pupuk P (Fertiphos: P2O5 20%. MgO 0,1%. CaO 15%. S 1%. B 0,5%, dan SiO2 10%), dan pupuk hayati mikoriza (Fumyco mengandung 3 genus spora: Glomus. Acaulospora, dan Entrophospor. sebagai perlakuan yang diujikan, serta bahan kimia penunjang Alat digunakan diantaranya alat kerja lapangan seperti cangkul, gelas ukur, penggaris, jangka sorong, timbangan, spidol, plastik, dan alat tulis, higrometer, dan lux meter. Alat kerja laboratorium yang digunakan diantaranya saringan bertingkat 225, 125, dan 60 AAm, gelas piala, cawan petri, gunting, pinset, kaca pereparat dan cover glass, mikroskop stereo, mikroskop AAS, penunjang analisis lainnya. Rancangan Penelitian Rancangan digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk hayati mikoriza . kg/ha dan 500 kg/h. , faktor kedua adalah pupuk P . kg/ha dan 200 kg/h. Terdapat 4 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali, sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Dilakukan juga pengaplikasian pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha dan pupuk NPK 15:15:15 500 kg/ha pada seluruh perlakuan sebagai pupuk dasar Teknik Budidaya Lahan diolah dengan kultivator dan ditanam bawang daun varietas TM Plaza . sia 2 bulan persemaia. , dengan jarak tanam 15 y 60 cm. Pemupukan dasar menggunakan NPK 15:15:15 sebanyak 500 kg/ha dan pupuk kandang 5 ton/ha pada persiapan lahan. Penanaman ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 dilakukan secara tugal . -4 bibit/luban. Satu bulan setelah tanam, diberikan pupuk kandang susulan sebanyak 5 ton/ha, serta aplikasi pupuk hayati mikoriza dan P sesuai perlakuan. Pemeliharaan meliputi penyiraman sebanyak 3 kali/minggu, penyiraman tersebut dilakukan selama 8 jam menggunakan irigasi sprinkler. Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan pembumbunan dan dilakukan sebanyak 6 kali selama masa tanam. Pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida berbahan aktif Klorotalonil 75%. Difenokanozol, dan Azoksistrobul sebanyak 15 kali selama masa tanam, dimana dosis fungisida disesuaikan dengan usia tanaman dan intensitas serangan penyakit. Pengumpulan Data Parameter vegetatif yang diukur adalah tinggi tanaman dan diameter batang, dengan pengamatan mingguan dari 5 hingga 13 MST. Tinggi tanaman diukur mulai dari permukaan tanah hingga pucuk, ditambah 4 cm kedalaman akibat pembumbunan, sedangkan diameter batang diukur pada bagian putih tanaman. Pada saat panen . MST), diamati parameter generatif meliputi panjang batang . hite par. , luas daun, panjang dan berat akar, volume akar, bobot tajuk, bobot brangkasan basah dan kering, bobot batang . hite par. , bobot panen per petak, dan bobot panen per hektar. Pengamatan dilakukan pada seluruh tanaman sampel dari semua perlakuan dan Infeksi menggunakan metode Phyllip dan Hyman . , dan jumlah spora mikoriza dihitung melalui teknik penyaringan bertingkat . , 125, dan 60 AA. Dilakukan juga analisis kimia tanah sebelum dan setelah penanaman, serta analisis serapan hara tanaman. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kimia Tanah Sebelum Penanaman This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Potensi Pupuk Hayati Mikoriza . Tanah di lokasi penelitian termasuk jenis andosol yang memiliki karakteristik khas akibat dominasi unsur aktif seperti Fe. Al, dan mineral amorf . lofan, imogolit, ferihidri. Sifat khas andosol meliputi daya tahan air tinggi. Hazra et. kemampuan mengikat P yang kuat, bobot isi rendah, agregat stabil, dan tekstur tanah yang gembur (Anda & Dahlgren, 2020. Takahashi & Dahlgren, 2. Hasil analisis kimia tanah sebelum penanaman disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Sifat kimia tanah sebelum penanaman. Parameter Hasil Kriteria pH H2O 6,78 Netral N-Total (%) 0,468 Sedang P-Total . g/100. 1584,181 Sangat Tinggi P-Tersedia . 8,374 Sedang K-Total . g/100. 4,832 Sangat Rendah KA . e/100g tana. 0,496 Sedang C-organik (%) 4,798 Tinggi KTK . e/100g tana. 16,489 Rendah Keterangan: Kriteria berdasarkan Petunjuk Teknis Tabel Kriteria Penilaian Hasil Analisis Kimia Tanah Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk . Berdasarkan hasil analisis kimia tanah sebelum penanaman (Tabel . , tanah di lokasi penelitian memiliki pH netral, netralnya pH tanah berperan dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara. Selain itu, pH juga menjadi faktor penting yang memengaruhi ketersediaan unsur mikro maupun makro. pH terlalu rendah ketersediaan P pada andosol (Siswanto. Kandungan N total sebesar 0,468% termasuk sedang dan menunjukkan potensi cukup baik untuk mendukung Kandungan C-organik sebesar 4,798% tergolong tinggi, sehingga rasio C/N adalah 10,25, menunjukkan kondisi ideal untuk mineralisasi nitrogen (Sukmawati et al. , 2. P-total tergolong sangat tinggi namun ketersediaan P sedang, hal ini dapat terjadi karena P terikat oleh mineral amorf seperti alofan dan imogolit (Rizqiyah et al. , 2. Ktotal hanya 4,832 mg/100g dan tergolong sangat rendah, mencerminkan terbatasnya kalium dalam tanah baik itu yang tersedia maupun terikat. KTK tanah sebesar 16,489 me/100g tergolong rendah, meskipun demikian, kadar KA tergolong sedang . ,496 me/100. , hal tersebut kemungkinan ditopang oleh tingginya kandungan C-organik (Hanudin et al. Secara umum, tanah menunjukkan potensi kesuburan yang baik melalui pH optimal, kandungan C-organik tinggi, dan N-total sedang. Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Bawang Daun Berdasarkan Tabel pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi mikoriza, baik dengan maupun tanpa pupuk P, cenderung meningkatkan tinggi tanaman bawang daun secara nyata dibanding perlakuan tanpa mikoriza. Perlakuan M0P1 menghasilkan tinggi tanaman tertinggi pada 13 MST sebesar 80,75 cm. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman bahkan tanpa tambahan fosfor anorganik, melalui simbiosis mutualistik dengan akar yang mendukung peningkatan serapan hara P. Zn, dan S, di samping juga memperbaiki daya tahan tanaman terhadap kekeringan. (Rosmiah et al. Mikoriza juga memicu produksi hormon pertumbuhan seperti auksin dan sitokinin yang mendukung pemanjangan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. sel dan pertumbuhan tinggi tanaman (Mutiarahma et al. , 2. Namun, tidak terdapat perbedaan nyata antara kontrol kemungkinan karena pupuk dasar yang diberikan merata dan dalam jumlah cukup tinggi, sehingga kebutuhan hara tanaman telah terpenuhi. Penambahan pupuk P juga ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 tidak meningkatkan tinggi tanaman secara nyata. Hal ini diduga karena kebutuhan P tanaman telah tercukupi, sehingga penambahan lebih lanjut justru dapat menyebabkan stagnasi atau bahkan meningkatkan resiko keracunan (Nuryani. Tabel 2. Hasil pengamatan pertumbuhan vegetatif tanaman bawang daun. Perlakuan Kontrol M1P0 M0P1 M1P1 MST 40,27 38,27 37,63 37,27 MST 44,53 42,20 42,08 40,83 MST 48,97 47,12 46,13 45,15 Tinggi tanaman . MST MST MST MST 53,05 56,12 58,03 61,97 b 53,90 56,71 58,64 61,53 ab 51,33 53,73 55,09 58,72 a 51,19 54,49 56,87 59,35 a Diameter batang/white part . MST MST MST MST MST MST MST Kontrol 6,75 8,75 10,79 13,55 15,62 17,16 19,06 M1P0 6,96 9,49 10,99 13,67 15,84 17,56 19,26 M0P1 6,83 9,13 10,92 13,93 16,14 18,05 19,57 M1P1 6,75 9,07 10,70 13,80 15,29 17,39 19,43 Keterangan: Huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji duncan taraf 95% Perlakuan Diameter batang bawang daun pada Tabel 2 juga menunjukkan tren yang relatif seragam antar perlakuan, dengan nilai tertinggi sebesar 22,90 mm pada 13 MST oleh perlakuan M0P1, meskipun tidak berbeda nyata secara statistik. Hal ini mengindikasikan bahwa diameter batang tidak responsif terhadap perlakuan mikoriza maupun pupuk P. Temuan ini sejalan dengan Prihantoro et al. , . yang menyatakan bahwa efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik seperti kadar hara, pH, dan suhu, serta faktor biotik seperti jenis mikoriza dan interaksi mikroba. Diameter batang juga berkorelasi dengan laju fotosintesis yang sangat tergantung pada pencahayaan. Secara umum, seluruh perlakuan menghasilkan diameter batang yang cukup besar dan mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman. 12 MST 13 MST 66,23 b 65,96 b 61,89 a 64,17 a 77,93 a 80,75 b 74,67 a 78,37 a 12 MST 13 MST 20,17 20,65 20,49 20,54 22,31 22,90 22,73 21,66 Pertumbuhan Generatif Tanaman Bawang Daun Tabel 3 menunjukkan bahwa aplikasi mikoriza, pupuk P, maupun kombinasinya tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap parameter pertumbuhan generatif, sejalan dengan hasil vegetatif pada Tabel 2. Meskipun tidak berbeda nyata, produktivitas tertinggi diperoleh pada perlakuan mikoriza tanpa pupuk P (M1P. , sedangkan terendah pada kombinasi mikoriza dan pupuk P (M1P. Fenomena tersebut sesuai dengan Penelitian yang dilakukan oleh Rosa et al. , di mana ketika mikoriza dikombinasikan dengan pemberian pupuk P 75%, produktivitasnya lebih rendah dibandingkan produktivitas tanaman yang menggunakan dosis pupuk P 50% dan tanpa pupuk P, selain itu, tanaman yang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Potensi Pupuk Hayati Mikoriza . Hazra et. produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang tidak diinokulasi. Fenomena ini diduga terjadi karena ketersediaan P yang tinggi dari pupuk anorganik dapat menurunkan efektivitas simbiosis mikoriza. Ketika tanah mengandung fosfor yang cukup tinggi, sehingga koloni mikoriza menjadi kurang penyerapan hara menurun. Unsur P pada dasarnya memiliki peran penting dalam berbagai proses seluler pada tanaman, seperti menjaga fungsi membran, sintesis biomolekul, dan produksi energi untuk ATP, dan menjadi sumber energi utama dalam metabolisme tumbuhan misalnya pembelahan sel dan Kekurangan P dapat pertumbuhan tanaman, dan pertumbuhan dan produktivitas tanaman pada tanah yang miskin fosfor. Namun, ketika ketersediaan P tanah telah mencukupi, perlakuan tambahan tidak lagi pertumbuhan tanaman. (Rosa et al. , 2. Tabel 3. Hasil pengamatan pertumbuhan generatif tanaman bawang daun pada 13 MST. Perlakuan Kontrol M1P0 M0P1 M1P1 Panjang batang/white part 25,59 26,79 25,24 25,41 Luas permukaan daun . 220,66 244,87 226,08 214,31 Bobot Perlakuan Bobot akar . Volume akar . Kontrol 10,43 10,80 231,09 M1P0 11,09 11,70 255,97 M0P1 10,14 9,80 236,22 M1P1 8,72 9,20 223,04 Bobot batang/ Bobot panen/ Perlakuan Indeks panen (%) white part . Kontrol 122,19 53,53 31,01 M1P0 136,85 55,06 33,61 M0P1 125,43 53,70 31,73 M1P1 116,83 52,89 30,81 Keterangan: Huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji duncan taraf 95%. Penelitian yang dilakukan oleh Pu et , . juga menyatakan hasil yang sama, bahwa pengaplikasian P dapat mengurangi manfaat mikoriza untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. pemberian pupuk P dan mikoriza tidak dapat meningkatkan bobot segar tanaman secara signifikan, dan penambahan pupuk P dapat menghambat pertumbuhan mikoriza, karena akumulasi senyawa bioaktif oleh mikoriza dapat dihambat oleh pupuk P. Pada dasarnya simbiosis 863,86 947,74 851,12 789,44 Bobot tajuk . Panjang akar . 27,89 29,41 29,15 28,63 Bobot brangkasan kering . 11,49 12,47 12,23 11,12 Bobot panen/ha . 61,10 65,14 62,32 59,95 membantu dan meningkatkan kemampuan inang untuk menahan kondisi lingkungan pertumbuhan tanaman, serta mendukung kelangsungan hidup jamur mikoriza (Wang et al. , 2. , namun berdasarkan penelitian El-Sherbeny et al. , . menemukan bahwa terdapat korelasi terbalik antara kadar P di rhizosfer dengan tingkat kolonisasi mikoriza, dimana ketika kondisi P dianggap cukup untuk This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. pertumbuhan tanaman, hal tersebut dapat menurunkan kolonisasi mikoriza dan menghambat pertumbuhan tanaman. Perbedaan respon tanaman terhadap ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 kombinasi perlakuan tersebut tercermin pada morfologi ditunjukkan pada Gambar Gambar 1. Morfologi tajuk 13 MST. Gambar 2. Morfologi 13 MST Tidak terdapat perbedaan nyata pada perakaran antar perlakuan (Gambar . , kemungkinan karena kandungan hara pertumbuhan tanaman. Pernyataan ini didukung oleh (Umam et al. , 2. bahwa peningkatan dosis mikoriza dan pupuk dapat menambah berat dan volume akar, efeknya menurun saat dosis Infeksi mikoriza pada akar juga dipengaruhi oleh ketersediaan hara, terutama fosfor. Jika hara melimpah, infeksi akar oleh mikoriza cenderung menurun, sementara dalam kondisi hara terbatas, infeksi meningkat (Hartini et al. Analisis Kimia Penanaman Tanah Setelah Berdasarkan Tabel 4, perlakuan mikoriza dan pupuk P menunjukkan pengaruh terhadap perubahan beberapa sifat kimia tanah terutama pada unsur N. P, dan K. Ketersediaan fosfor (P-tersedi. perlakuan, hal ini sejalan dengan peningkatan P-total. Peningkatan ini terutama terjadi pada perlakuan mikoriza, dimana salah satu mekanisme mikoriza dalam mendukung penyerapan fosfor oleh tanaman adalah melalui pelepasan asam organik, khususnya untuk melarutkan P yang terikat kuat pada mineral tanah. Asam-asam tersebut bekerja dengan melonggarkan ikatan antara fosfor dengan logam, sehingga P dapat tersedia dan mudah diambil tanaman (Andrino et al. Pelepasan fosfor juga dapat berlangsung secara biologis melalui This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Potensi Pupuk Hayati Mikoriza . Hazra et. sekresi enzim fosfatase dan fitase oleh mikoriza, baik dari akar tanaman maupun Enzim kemudian berfungsi dalam mineralisasi bahan organik dengan memecah senyawa fosfat organik menjadi fosfat anorganik yang tersedia bagi tanaman. (Musafa et al. Kalium total (K-tota. yang awalnya perlakuan, dengan nilai tertinggi pada perlakuan mikoriza dan terendah pada perlakuan tanpa mikoriza. Seiring dengan peningkatan nilai K-total, kadar KA juga mengalami peningkatan, temuan ini penyerapan hara, khususnya kalium, sangat dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara tanaman inang, kapasitas tanah, kebutuhan hara tanaman, serta kemampuan jamur dalam menginfeksi dan menyediakan hara bagi inangnya. (Nuridayati et al. , 2. Sebaliknya, kandungan nitrogen total (N-tota. sedikit menurun setelah penanaman, akan tetapi penurunan tersebut tidak signifikan dan tetap berada dalam kategori sedang. Penurunan ini diduga akibat sifat nitrogen yang mobile dan mudah hilang melalui pencucian, denitrifikasi, volatilisasi, dikonsumsinya N oleh mikroorganisme, serta diserap oleh tanaman (Hartono et al. Nariratih et al. , 2. Secara umum, aplikasi mikoriza bersama pupuk P dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara esensial, terutama P dan K, yang kesuburan tanah serta pertumbuhan Tabel 4. Kandungan hara NPK tanah setelah penanaman. Perlakuan M1P0 M0P1 M1P1 0,46 0,45 0,43 0,46 P-Total . g/100. 627,80 824,41 647,68 814,97 P-Tersedia . 11,84 12,56 8,92 11,08 K-Total . g/100. 5,21 6,77 5,58 6,23 K . e/100g tana. 1,22 1,60 1,36 1,45 Parameter Kontrol N-Total (%) Keterangan: Huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji duncan taraf 95% Kolonisasi Akar oleh Mikoriza Salah satu indikator keberhasilan interaksi mikoriza adalah tingkat kolonisasi akar tanaman oleh mikoriza serta derajat infeksinya. Semakin tinggi tingkat kolonisasi dan infeksi, umumnya peningkatan kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi dari tanah melalui This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tabel 5. Infeksi akar tanaman bawang daun oleh mikoriza pada 13 MST. Perlakuan Infeksi Akar (%) Kriteria Kontrol Sedang M1P0 Tinggi M0P1 Sedang M1P1 Sedang Infeksi akar tanaman oleh mikoriza diklasifikasikan berdasarkan kriteria Rajapakse dan Miller, . dan derajat infeksi akar dihitung berdasarkan rumus Giovannetti dan Mosse, . Tabel pengamatan persentase kolonisasi akar oleh mikoriza, kolonisasi tertinggi adalah pada perlauan M1P0 yaitu 70% dan termasuk pada kriteria tinggi dan kolonisasi terendah adalah pada perlakuan M1P1 yaitu sebesar 46%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Liu et al. , . tingkat kolonisasi mikoriza meningkat seiring dengan penurunan input P pada tanaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat input P yang mikoriza sehingga dapat meningkatkan P dan kolonisasi akar tanaman oleh Inokulasi mikoriza pada akar dapat diidentifikasi dari munculnya hifa, spora, vesikula, dan arbuskula. Kolonisasi akar oleh mikoriza diukur melalui persentase infeksi, yang dalam penelitian ini terlihat dari adanya hifa internal serta (Gambar . Gambar 3. Infeksi mikoriza pada akar tanaman 13 MST. Hifa internal yang dibentuk oleh mikoriza memiliki fungsi dalam membentuk arbuskula, yang memiliki peran penting sebagai tempat pertukaran unsur hara dan karbon antara mikoriza dan tanaman (Muryati et al. , 2. Penambahan pupuk P dengan dosis yang tinggi pada banyak penelitian dan berbagai jenis tanaman telah membuktikan bahwa keadaan tersebut dapat menurunkan kolonisasi mikoriza terhadap tanaman inangnya seperti pada perlakuan M1P1 yang memiliki kolonisasi akar paling rendah (Tabel . Fenomena tersebut terjadi karena sistem perakaran tanaman sangat lingkungan dan kandungan nutrisi pada tanah, ketika ketersediaan P meningkat, maka tanaman tidak dapat menghasilkan pembentukan simbiosis dengan mikoriza. Pembentukan asosiasi mikoriza pada ketersediaan hara P yang tinggi justru dapat menghambat pertumbuhan tanaman This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Potensi Pupuk Hayati Mikoriza . Hazra et. karena mikoriza terus memakan karbon dari tanaman tanpa kontribusi untuk memenuhi nutrisi tanaman, sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Trejo et al. , 2. Spora berdasarkan karakteristik morfologinya, karakteristik tersebut meliputi warna spora, ukuran, dan bentuk spora. Berikut merupakan sebaran genus spora mikoriza pada tanaman bawang daun usia 13 MST di setiap perlakuan. Jumlah dan Jenis Spora M1P1 M0P1 M1P0 Kontrol Acaulospora sp1 Glomus sp2 Glomus sp3 Glomus sp1 Gambar 4. Jumlah dan jenis spora mikoriza pada tanaman 13 MST. Gambar 4 menunjukkan jumlah spora terbanyak pada perlakuan M1P0 dan terendah pada M1P1. Genus dominan di semua perlakuan adalah Glomus, yang dikenal memiliki daya adaptasi tinggi dan toleran terhadap kondisi lingkungan ekstrim (Hazra et al. , 2. Ditemukan dua genus spora mikoriza yang berasosiasi dengan tanaman bawang daun yaitu Glomus dan Acaulospora. Glomus berperan dalam penyerapan hara seperti P. Ca. Fe. Mn. Zn, dan N, serta mendukung ketahanan tanaman terhadap stres dan berperan sebagai agen bioremediasi (Rodrigues dan Rodrigues, 2. Acaulospora merupakan genus kedua yang paling sering ditemukan pada area keanekaragaman tinggi. Sama halnya dengan Glomus. Acaulospora juga pemanfaatan dan pengelolaan tanah, khususnya pada daerah semi kering. (Silva et al. , 2. Gambar 5. Jenis spora . Glomus sp 1. Glomus sp 2. Glomus sp 3. Acaulospora sp 1. KESIMPULAN Perlakuan menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada 12 dan 13 MST berbeda nyata antar perlakuan, di mana perlakuan mikoriza tanpa pupuk P (M1P. menghasilkan tinggi tanaman secara signifikan lebih tinggi dibanding kontrol dan kombinasi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 24 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. M1P1. Parameter kimia tanah setelah penanaman juga menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antar Perlakuan M1P0 memberikan respon terbaik terhadap pertumbuhan dan menghasilkan jumlah spora mikoriza dan tingkat infeksi akar tertinggi dengan genus spora dominan adalah Glomus. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih kepada PT. Kelola Agro Makmur. Temanggung dan PT. Anugerah Sarana Hayati (ASHA). Bogor atas kesempatan dan dukungan yang diberikan dalam bentuk fasilitas, alat, dan bahan penelitian. Terimakasih juga kepada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. IPB University yang sudah memfasilitasi kegiatan penelitian. DAFTAR PUSTAKA