Vol. No. Juli 2025, pp. E ISSN 2721-1819 | P ISSN 2721-2416 CURRENT Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini https://current. KECENDERUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN TAX EVASION: PERSPEKTIF REGRESI MULTINOMIAL INDIVIDUAL TAXPAYERS' TENDENCY TO UNDERTAKEN TAX EVASION: A MULTINOMIAL RERGRESSION PERSPECTIVE Nur Wachidah Yulianti1*. Fina Afifka2 1,2 Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta *Email: wachi@uinjkt. Keywords Abstract Rational Attitude. Love of Money. Materialism. Financial Condition. Tax Evasion In recent years, the phenomenon of tax evasion has become increasingly prevalent. Tax evasion is an unethical behavior of Individual Taxpayers (WPOP) which is not impossible to change the behavior of other WPOPs. Other WPOPs may imitate this behavior, especially if they have poor financial conditions and psychological factors within themselves such as rational behavior, love of money, and materialism. This study aims to identify factors that can influence the tendency of Individual Taxpayers (WPOP) to commit tax evasion such as rational attitudes, love of money, materialistics and financial conditions. The respondents in this study were 116 individual taxpayers. The method used to determine the sample was convenience sampling, while the method for data processing was multinomial logistic regression analysis. The results of multinomial logistic regression showed that the variables love of money and materialism did not have a significant effect on the tendency of Individual Taxpayers to commit tax evasion. On the other hand, the variables rational attitude and financial conditions had a significant effect on the tendency of Individual Taxpayers to commit tax evasion. Article informations Received: 2025-04-28 Accepted: 2025-07-22 Available Online: 2025-07-24 PENDAHULUAN Pembangunan nasional dapat dijalankan Pemerintah Indonesia dengan adanya dukungan anggaran yang tidak sedikit. Di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terdapat tiga komponen pendapatan yaitu penerimaan perpajakan. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan hibah (Tempo, 2. Untuk mengurangi pinjaman dari luar negeri, pemerintah harus dapat melakukan berbagai cara yaitu salah satunya adalah dengan cara mengoptimalisasikan penerimaan perpajakan (CNN Indonesia, 2. Pajak merupakan iuran yang bersifat wajib untuk dibayarkan oleh orang atau badan kepada negara dalam rangka memberikan dukungan untuk kegiatan pemerintahan dan mendapatkan imbalan secara tidak langsung sebagai balasan atas dukungan tersebut. Selain itu, pajak bersifat memaksa berdasarkan pada undang-undang dan ketentuan hukum lainnya yang berlaku (UU No 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, 2. Pajak memiliki peranan yang penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan keamanan Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Riau Nur Wachidah Yulianti. Fina Afifka KECENDERUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN TAX EVASION: PERSPEKTIF REGRESI MULTINOMIAL masyarakat Indonesia sehingga pajak merupakan tulang punggung Negara dan fondasi dalam perekonomian nasional (Kompas. com, 2. Namun sayangnya, beberapa tahun ke belakang, fenomena penggelapan pajak semakin marak terjadi. Tercatat dari berbagai sumber, beberapa kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi (WPOP), sebagaimana terlihat dalam Tabel 1 berikut. Tabel 1 Kasus Penggelapan Pajak Tahun Kasus Penggelapan pajak dilakukan oleh konsultan pajak sebesar lebih dari Rp2 Miliar di Kota Pekan Baru. Riau (Kompas. com, 2. Penggelapan pajak oleh pegawai honorer di UPT samsat Pangururan. Samosir. Sumatra Utara senilai Rp2,5 miliar (CNN Indonesia, 2. Rafael Alun Trisambodo diketahui tidak membayar pajak dan tidak melaporkan pajak . com, 2. Sumber: Diolah dari berbagai referensi Penggelapan pajak merupakan perilaku tidak etis yang melanggar ketentuan perpajakan (Yunus, 2. Beberapa kasus penggelapan pajak di atas, merupakan perilaku tidak etis Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang bukan tidak mungkin dapat mengubah perilaku WPOP WPOP lain bisa jadi mencontoh perilaku tersebut, terlebih lagi jika mereka memiliki kondisi keuangan yang tidak baik serta faktor psikologi yang ada di dalam dirinya sendiri seperti perilaku rasional, kecintaan terhadap uang, dan materialistik. Perilaku rasional menitikberatkan pada alur pengambilan keputusan yang memberikan manfaat optimal bagi individu. Perilaku rasional ini menjadi inti dari teori pilihan rasional, yaitu teori ekonomi yang mengasumsikan bahwa individu akan membuat keputusan yang menghasilkan manfaat pribadi tertinggi (Investopedia, 2. Dalam konteks penggelapan pajak, kecenderungan WPOP untuk menggelapkan pajak, dikarenakan mereka telah memperhitungkan secara rasional terkait faktor kecilnya kemungkinan terdeteksi serta jumlah denda yang akan dibayarkan tidak lebih besar daripada manfaat yang mereka dapatkan (Allingham. Micheal G. Sandmo, 1. Rasa cinta terhadap uang oleh (Tang. Thomas Li-Ping. Chen, 2. dinilai sebagai alat ukur terhadap nilai seseorang, apakah mereka butuh uang atau menginginkan uang, melihat makna dan pentingnya uang serta perilaku mereka terhadap uang. Berdasarkan definisi tersebut, maka love of money menurut (Basri, 2. adalah rasa cinta berlebihan seseorang terhadap uang yang menjadikannya berperilaku tidak etis. Lebih lanjut hasil penelitian (Basri, 2. membuktikan bahwa, seseorang yang memiliki love of money yang tinggi, maka persepsi terhadap etika penggelapan pajaknya pun juga semakin tinggi. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa seseorang yang tinggi money eticsnya cenderung untuk melakukan penggelapan pajak karena bagi mereka hal itu adalah etis. Menurut (Khoerunissah et al. , 2. , materialistics adalah kecenderungan individu yang menganggap bahwa kepemilikan harta benda adalah sumber kebahagiaan sehingga menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sikap materialistics ini dapat dikaitkan dengan etika yang lebih rendah. Perilaku penggelapan pajak lebih memungkinkan terjadi pada individu dengan tingkat materialisme yang tinggi dan etika yang kurang diperhatikan (Hafizhah, 2. Kondisi keuangan . inancial conditio. adalah keadaan dan kemampuan orang atau badan dalam menggambarkan kekayaan atau harta yang dimilikinya (Hutauruk, 2. Kondisi keuangan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan penggelapan pajak (Adhimatra & Noviari, 2. , (Hendrawati et al. Berdasarkan penjabaran atas permasalahan terkait penggelapan pajak tersebut, tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dari faktor E ISSN 2721-1819 | P ISSN 2721-2416 CURRENT: Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini. Vol. No. Juli 2025, pp. seperti sikap rasional, love of money, materialisme, dan kondisi keuangan untuk mendorong kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan tax evasion. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan terkait perpajakan yang lebih terarah dan sesuai dengan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. PENGEMBANGAN HIPOTESIS Penggelapan pajak adalah strategi yang dilakukan oleh wajib pajak untuk memperkecil beban pajak mereka dengan cara melanggar ketentuan perpajakan secara illegal (Mardiasmo, 2. yang salah satunya menurut (Pohan, 2. adalah dengan menyembunyikan informasi yang sebenarnya. Penggelapan pajak merupakan hal yang biasa karena tindakan tersebut tergolong mudah untuk dilakukan (Ernandi. Izzah, & Ummah, 2. Terdapat tindakan yang dapat dilakukan wajib pajak untuk melakukan penggelapan pajak, seperti dengan pelaporan beban pajak yang relatif kecil, memalsukan laporan keuangan, serta memberikan suap kepada pegawai pajak agar pajaknya yang kurang bayar dapat menjadi kecil (Rismauli. Eprianto, & Pramukty, 2. Pengaruh Sikap Rasional terhadap Kecenderungan Penggelapan Pajak Merujuk pada rational choice theory, bahwa sikap rasional adalah inti dari teori tersebut yang mengasumsikan bahwa setiap individu akan bertindak sesuai atau berdasarkan keputusan rasionalnya dengan melihat pada manfaat optimal yang akan diperoleh. Minimnya pendeteksian tindak penggelapan pajak dan rendahnya biaya sanksi menjadi pilihan rasional WPOP untuk cenderung melakukan penggelapan pajak (Allingham. Micheal G. Sandmo, 1. WPOP melakukan penggelapan pajak dengan mempertimbangkan kalkulasi rasional atas potensi keuntungan dari tidak membayar pajak . umlah pajak yang digelapka. dengan risiko tertangkap dan membayar denda. Dalam ketidakpastian bisnis, para penggelap pajak bertindak berdasarkan manfaat yang diharapkan dari sikap rasional mereka yaitu keuntungan dari tidak membayar pajak. Mereka akan terus menggelapkan pajak selama manfaat tersebut lebih besar dari biaya yang nantinya mereka keluarkan. Namun, jika kemungkinan tertangkap cukup tinggi, atau dendanya cukup berat, biaya yang nantinya dikeluarkan mungkin akan menjadi lebih tinggi dari manfaat yang mereka dapat, sehingga penggelapan pajak menjadi tidak berlaku (Almaas, 2. Alwiyah et al . dalam hasil risetnya menunjukkan jika wajib pajak merasa terbebani dengan dilakukannya pembayaran pajak dan merasa tidak mendapatkan manfaat secara langsung dalam membayarkan pajak, maka wajib pajak cenderung untuk menyembunyikan dan tidak melakukan tanggung jawabnya untuk memenuhi kewajiban perpajakannya karena secara rasional dengan membayar pajak tidak membawa manfaat bagi dirinya dan hanya memberikan kerugian. Berdasarkan pernyataan di atas maka, hipotesis yang diajukan sebagai berikut. H1: Sikap rasional berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan tax evasion. Pengaruh Love of Money terhadap Kecenderungan Penggelapan Pajak The meaning of Money Revisited adalah artikel yang ditulis oleh akademisi bernama Thomas Li-Ping Tang pada tahun 1992 yang memuat konsep love of money. Love of money di dalam artikel tersebut merupakan konsep untuk mengukur perasaan subjektif seseorang terhadap uang. Lebih lanjut, dalam penelitian yang lain. Thomas Li-Ping Tang mendefinisikan love of money sebagai perilaku, keinginan dan aspirasi seseorang terhadap uang. Dalam perkembangannya konsep love of money seringkali diteliti hubungannya dengan perilaku etis seseorang (Ferdian, 2. Seseorang dengan sifat love of money yang tinggi dan menaruh minat yang besar terhadap uang akan cenderung memiliki sikap yang kurang etis jika dibandingkan dengan orang dengan sifat love of money yang rendah (Ariyanto, 2. Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Riau Nur Wachidah Yulianti. Fina Afifka KECENDERUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN TAX EVASION: PERSPEKTIF REGRESI MULTINOMIAL Seseorang yang memiliki sikap mencintai uang akan menempatkan nilai yang tinggi pada uang sebagai suatu kepentingan yang utama (Aji. Erawati, & Dewi, 2. Dalam penelitian (Hadian & Ernandi, 2. dinyatakan bahwa jika adanya perasaan subjektif individu yang berlebih terhadap uang, maka individu tersebut akan cenderung untuk lebih jarang menggunakan uang yang dimilikinya. (Ferdian, 2. menyatakan bahwa seseorang yang memiliki sikap love of money yang tinggi akan mempertimbangkan secara rasional dalam mengeluarkan uang mereka, terlebih untuk membayar pajak yang notabene-nya bukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi mereka. Menurut (Ernandi et al. , 2. Sikap love of money yang tinggi, membuat individu berfikir uang adalah segalanya, sehingga individu rela berperilaku kurang etis, termasuk penggelapan pajak. Merujuk pada teori pihan rasional, maka sikap cinta terhadap uang merupakan pilihan rasional individu yang yakin bahwa menggelapkan pajak memberikan AukeuntunganAy daripada membayar pajak (Ferdian, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hadian & Ernandi . menunjukkan bahwa love of money berpengaruh positif terhadap tax evasion. Penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan dan (Lestari, 2. yang menyatakan bahwa love of money memberikan pengaruh positif terhadap tax evasion. Berdasarkan pernyataan di atas maka, hipotesis yang diajukan sebagai berikut. H2: Love of money berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan tax evasion. Pengaruh Materialisme terhadap Kecenderungan Penggelapan Pajak Materialisme adalah suatu pandangan yang mencakup sikap, keyakinan, dan nilai-nilai kehidupan yang menekankan terhadap kebanggaan seseorang yang diperolehnya dengan membeli atau memiliki suatu barang (Silmi, 2. Selain terhadap barang, materialisme juga dapat digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kecintaan yang melekat terhadap kepemilikan duniawi (Khoerunissah. Aprilina. , & Maysaroh, 2. Menurut (Silmi, 2. materialis dengan keinginan yang kuat untuk membeli atau memiliki suatu barang akan memberikan dampak psikologis yang sangat kuat. Materialis akan memandang bahwa dengan memiliki barang merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupannya. Selain untuk kepuasan tersendiri, dengan memiliki barang, materialis akan memiliki harapan bahwa barang tersebut akan memberikan dampak atau keuntungan psikologis terhadap dirinya, seperti kebahagiaan, identitas, dan eksistensi nya dalam sosial masyarakat (Silmi, 2. Akibat dari kecintaan yang berlebih, materialis cenderung boros untuk membeli atau memiliki barang-barang yang mewah (Khoerunissah. Aprilina, & Maysaroh, 2. Menurut (Silmi, 2. , barang-barang mewah yang dibeli oleh seorang materialis akan memberikan dampak yang sangat kuat bagi dirinya karena mereka tidak hanya berhasil membeli barang tersebut, melainkan karena adanya harapan dalam keuntungan psikologis yang akan didapatkannya, seperti eksistensi, identitas, dan kebahagiaan. Menurut (Mutingatun, 2. materialis cenderung berfikir bahwa membayar pajak hanya akan mengurangi kekayaannya. Penelitian yang dilakukan oleh Hadian & Ernandi . dengan kesimpulan bahwa penggelapan pajak dapat dipengaruhi oleh money ethics, materialism, love of money, dan religiosity dan kondisi keuangan sebagai variabel moderasi dapat memperkuat hubungan Sedangkan untuk penelitian yang dilakukan oleh Ansar. Mahdi, & Susi . menyimpulkan bahwa penggelapan pajak dipengaruhi oleh materialisme. Berdasarkan pernyataan di atas maka, hipotesis yang diajukan sebagai berikut. H3: Materialisme berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan tax evasion. Pengaruh Kondisi Keuangan terhadap Kecenderungan Penggelapan Pajak Financial condition . ondisi keuanga. adalah kemampuan suatu individu atau badan E ISSN 2721-1819 | P ISSN 2721-2416 CURRENT: Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini. Vol. No. Juli 2025, pp. dalam menggambarkan keadaan sesungguhnya terkait kekayaan, harta, atau keuangan yang dimilikinya dan biasanya keadaan tersebut dapat dilihat dari tingkat profitabilitas dan arus kas masuk (Hutauruk, 2. Wajib pajak dengan kondisi keuangan yang tidak bagus akan cenderung merasa tertekan jika harus melakukan pembayaran pajak (Hutauruk, 2. Kondisi keuangan yang buruk pernah dialami oleh hampir semua WPOP saat masa Covid-19 beberapa tahun silam. Meskipun pemerintah memberikan insentif pajak, namun beberapa penelitian membuktikan bahwa kondisi keuangan saat pandemic Covid-19 berpengaruh terhadap peningkatan penggelapan pajak (Muliana, 2. Berdasarkan pernyataan di atas maka, hipotesis yang diajukan sebagai berikut. H4: Kondisi keuangan berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan tax evasion. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk menganalisa hubungan kausalitas antara variabel independen, yaitu sikap rasional, love of money, materialisme, dan kondisi keuangan terhadap variabel dependen, yaitu kecenderungan wajib pajak untuk melakukan tax evasion. Sampel pada penelitian ini adalah Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) di DKI Jakarta yang diambil dengan metode non-probability sampling dengan teknik convenience sampling. Dikarenakan jumlah populasi WPOP tidak diketahui atau sulit diidentifikasi, maka jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini akan dihitung dengan menggunakan rumus Lemeshow . sebagai berikut (Handoko, 2. ycu = ycu = ycs 2 ycu ycy . Oeyc. ycc2 1,962 ycu 0,5 . Oe0,. 0,12 ycu = 96,04 Dimana, n adalah jumlah sampel. Z adalah nilai Z pada tingkat kepercayaan 95% atau sebesar 1,96, p adalah maksimal estimasi dan d adalah sampling error sebesar 10%. Berdasarkan hasil rumus di atas, maka responden dalam penelitian ini paling sedikit adalah 96 Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi logistik multinomial dengan menggunakan software SPSS versi 26. Metode analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran terkait karakteristik suatu data sampel . emografi responde. yang digunakan dalam penelitian ini dengan berdasarkan pada nilai rata-rata jawaban . , jawaban tertinggi . , jawaban terendah . , jumlah . , dan standar deviasi. Pengujian selanjutnya dilakukan dengan uji kualitas data yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas digunakan untuk menilai apakah pertanyaan maupun pernyataan yang terdapat dalam kuesioner sudah sah dan valid (Ghozali, 2. Sedangkan uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur tingkat konsistensi dari jawaban responden dalam mengisi kuesioner. Selanjutnya dilakukan uji asumsi klasik terhadap data yang telah diperoleh. Uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji multikolinearitas untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antar variabel independen yang digunakan dalam model penelitian. Setelah uji asumsi klasik dilakukan, selanjutnya dilakukan uji multinomial logistic regression. Metode multinomial logistic regression digunakan ketika data yang terdapat dalam variabel dependen (Y) memiliki lebih dari dua kategori. Dalam metode ini, variabel dependen juga dapat diinterpretasikan Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Riau Nur Wachidah Yulianti. Fina Afifka KECENDERUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN TAX EVASION: PERSPEKTIF REGRESI MULTINOMIAL secara numerik yaitu 1, 2, 3 dan seterusnya. Sedangkan jika dihubungkan dengan penelitian ini, maka variabel dependen akan diinterpretasikan sebagai . wajib pajak tidak melakukan tax evasion, . wajib pajak rentan untuk melakukan tax evasion, . wajib pajak melakukan tax Berdasarkan pada Laerd Statistics . , terdapat enam asumsi yang harus dipenuhi sebelum melakukan pengujian regresi logistik multinomial, yaitu sebagai berikut. Pertama, variabel dependen yang digunakan memiliki kategori lebih dari dua. Kedua, data memiliki satu atau lebih variabel independen yang bersifat kontinu, ordinal, atau nominal. Ketiga, variabel dependen memiliki kategori yang lengkap. Keempat, terbebas dari gejala multikolinearitas. Kelima, terdapat hubungan linear antara variabel independen kontinu dan transformasi logit dari variabel dependen. Keenam, tidak adanya outlier. Pengujian ini dilakukan dengan beberapa tahapan pengolahan data yaitu, estimasi parameter, pengujian signifikansi parameter . ji simultan dan uji parsia. , uji kesesuaian model, pseudo R-square, likelihood ratio test, dan ketepatan klasifikasi. Untuk model logit dalam analisis multinomial ini, sebagaimana terlihat dalam persamaan berikut. Model Logit 1 ycEycycnyccycayco ycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu yaycu ycyceycuycycaycu ycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu = yca0 yca1 ycu1 yca2 ycu2 yca3 ycu3 yca4 ycu4 ycy Model Logit 2 ycEycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu yaycu ycyceycuycycaycu ycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu = yca0 yca1 ycu1 yca2 ycu2 yca3 ycu3 yca4 ycu4 ycy Setelah diketahui parameter estimasi () yang memiliki nilai signifikan, maka dapat dibentuk model logit terbaik. Dalam regresi logistik multinomial, terdapat nilai odds ratio . ksponensial Bet. yang menunjukkan perubahan harapan peningkatan atau penurunan peluang untuk satu kategori hasil dibandingkan dengan kategori referensi, saat variabel independen berubah. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Seperti telah disampaikan di atas bahwa populasi penelitian ini adalah WPOP di wilayah DKI Jakarta yang tidak diketahui dan sulit diidentifikasi jumlahnya sehingga ukuran sampel dihitung dengan menggunakan rumus lemeshow . Meskipun hasil perhitungan sampel berdasarkan rumus lemeshow . adalah sebanyak 96 responden, namun di lapangan, karena keterbatasan waktu dan tenaga, peneliti hanya mampu menyebarkan kuesioner sebanyak 133 kuesioner. Kuesioner tersebut disebar secara online maupun offline melalui google form dan kuesioner dalam bentuk hardcopy. Sebanyak 116 kuesioner yang dapat kami olah dari 133 kuesioner yang kami sebar. Hal ini disebabkan sebanyak 9 kuesioner tidak dapat kami pergunakan dikarenakan responden tidak memjawab beberapa pernyataan dan 8 kuesioner merupakan data outlier yang harus dieliminasi. Profil responden dalam penelitian ini sebagaimana terlihat dalam Tabel 4. Berdasarkan tabel tersebut, diketahui 58,6% responden berjenis kelamin perempuan, 55,2% berusia dari 20 hingga 30 tahun, 62,9% memiliki pendidikan terakhir pada jenjang strata 1, 52,6% memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta, 45,7% memiliki penghasilan per bulan sebesar Rp5. hingga Rp10. 000 dan 100% responden memiliki NPWP. Tabel 2 Profil Responden Demografi Frekuensi Persen Jenis Kelamin E ISSN 2721-1819 | P ISSN 2721-2416 CURRENT: Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini. Vol. No. Juli 2025, pp. Demografi Laki-laki Perempuan Usia 20 - 30 tahun 31 Ae 40 tahun Lebih dari 41 tahun Pendidikan terakhir Diploma 4 ke bawah Strata 1 Strata 2 Pekerjaan Wirausaha Pegawai Negeri Pegawai Swasta Lainnya Penghasilan/bulan (R. <= 5. 001 Ae 10. 001 Ae 15. 001 Ae 20. >20. Kepemilikan NPWP Tidak Sumber: Data primer diolah, 2024 Frekuensi Persen 41,4% 58,6% 55,2% 32,7% 12,1% 30,2% 62,9% 6,9% 22,4% 14,7% 52,6% 10,3% 36,2% 45,7% 15,5% 1,7% 0,9% Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan corrected item total correlation, yaitu dengan membandingkan nilai Correlated Item Ae Total Correlation (Rhitun. dengan hasil perhitungan Rtabel. Berdasarkan pada hasil uji validitas sebagaimana terlihat dalam Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil uji validitas yang dilakukan terhadap seluruh item pernyataan pada tiap variabel telah valid karena memiliki nilai R hitung yang lebih besar dari Rtabel = 0,1824. Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap Rasional (X. Love of Money (X. Materialisme (X. Item SR1 SR2 SR3 SR4 SR5 SR6 LoM1 LoM2 LoM3 LoM4 LoM5 LoM6 LoM7 LoM8 LoM9 Rhitung ,495 ,553 ,609 ,708 ,673 ,779 ,806 ,838 ,819 ,797 ,754 ,759 ,834 ,836 ,716 ,845 Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Riau Rtabel ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 Hasil Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Nur Wachidah Yulianti. Fina Afifka KECENDERUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN TAX EVASION: PERSPEKTIF REGRESI MULTINOMIAL Variabel Kondisi Keuangan (X. Penggelapan Pajak (Y) Item KK1 KK2 KK3 KK4 KK5 KK6 KK7 PP1 PP2 PP3 PP4 PP5 Rhitung ,811 ,811 ,360 ,938 ,905 ,884 ,808 ,847 ,663 ,842 ,812 ,854 ,646 ,967 ,951 ,991 ,988 ,955 Rtabel ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 ,1824 Hasil Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Data Primer yang diolah, 2024 Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan nilai dari CronbachAos Alpha pada tiap variabel yang digunakan. Berdasarkan pada hasil uji reliabilitas sebagaimana terdapat dalam Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap seluruh item pernyataan pada variabel yang digunakan telah reliabel karena memiliki nilai CronbachAos Alpha lebih besar dari 0,70. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa jawaban yang diberikan oleh responden terhadap tiap item pernyataan yang diberikan telah Tabel 4 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Sikap Rasional Love of Money Materialisme Kondisi Keuangan Penggelapan pajak Sumber: Data Primer yang diolah, 2024 CronbachAos alpha ,711 ,928 ,902 ,894 ,984 Ket Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Pengujian multikolinearitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melihat nilai dari Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Model regresi dapat dikatakan telah terbebas dari gejala multikolinearitas apabila nilai Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10,00 (Ghozali, 2. Berdasarkan hasil uji pada Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai tolerance > 0,10. Sedangkan hasil perhitungan nilai VIF juga menunjukkan hasil yang sama, yaitu nilai VIF < Sehingga berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen. Tabel 5 Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Sikap Rasional Love of Money Materialisme Kondisi Keuangan Tolerance ,683 ,350 ,355 ,745 VIF 1,465 2,859 2,815 1,343 E ISSN 2721-1819 | P ISSN 2721-2416 CURRENT: Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini. Vol. No. Juli 2025, pp. Sumber: Data Primer yang diolah, 2024 Berdasarkan hasil uji regresi logistik multinomial pada Tabel 5 menunjukkan bahwa variabel penggelapan pajak terdiri dari 3 kategori. Untuk kategori . wajib pajak tidak melakukan tax evasion terdiri dari 103 responden yang termasuk dalam kategori ini. Selanjutnya untuk kategori . wajib pajak rentan melakukan tax evasion terdiri dari 3 Terakhir, untuk kategori . wajib pajak melakukan tax evasion terdiri dari 10 Sehingga berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa banyaknya data yang diolah yaitu sebesar 116 (N = . , artinya data telah valid dan tidak adanya data yang tidak teramati . Tabel 6 Case Processing Summary Penggelapan Pajak Kategori Tidak melakukan tax evasion Rentan melakukan tax evasion Melakukan tax evasion Valid Missing Total Sumber: Data Primer yang diolah, 2024 Berdasarkan pada ke-3 kategori yang sebelumnya telah diklasifikasikan, akan dipilih salah satu kategori sebagai kategori referensi untuk pembanding dalam analisis. Berdasarkan hal tersebut, dipilih kategori Ao. Rentan melakukan tax evasionAo sebagai kategori referensi yang nantinya digunakan sebagai acuan pembanding dari kategori Ao. Tidak melakukan tax evasionAo dan . Melakukan tax evasion. Setelah dilakukannya penentuan kategori pembanding, maka hasil uji estimasi parameter sebagaimana terlihat pada Tabel 7. Tabel 7 Estimasi Parameter Model Multinomial Logit Ket. Variabel Konstanta Sikap Rasional Love of Money Materialisme Kondisi Keuangan Konstanta Sikap Rasional Love of Money Materialisme Kondisi Keuangan Sumber: Data Primer yang diolah, 2024 Sig. 7,823 -,472 -,505 ,262 ,735 4,279 -,766 -,385 ,485 ,685 ,291 ,196 ,098 ,252 ,047 ,587 ,044 ,230 ,060 ,071 Odds ratio (Exp ) ,624 ,603 1,299 2,085 ,465 ,680 1,625 1,938 Berdasarkan hasil estimasi parameter pada Tabel 7, maka dapat diketahui bahwa variabel kondisi keuangan merupakan variabel yang signifikan berpengaruh pada model logit 1 . value = 0,. dan varaibel sikap rasional merupakan variabel yang signifikan berpengaruh pada model logit 2 . value = 0,. Dengan demikian persamaan model logit 1 dan logit 2 yang terbentuk adalah sebagai berikut ycEycycnyccycayco ycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu ya1 ycyycyceycuycycaycu ycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu = 7,823 0,735ycu4 Program Studi Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Riau Nur Wachidah Yulianti. Fina Afifka KECENDERUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN TAX EVASION: PERSPEKTIF REGRESI MULTINOMIAL ycEycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu ya2 ycyycyceycuycycaycu ycoyceycoycaycoycycoycaycu ycycaycu yceycycaycycnycuycu = 4,279 Oe 0,766ycu1 Pembahasan Pengaruh Sikap Rasional terhadap Kecenderungan WPOP untuk melakukan Tax Evasion Berdasarkan pada hasil analisis regresi logistik multinomial yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada hasil logit 1, variabel sikap rasional tidak berpengaruh terhadap terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan penggelapan pajak. Namun, pada model logit 2, variabel sikap rasional memiliki nilai signifikansi sebesar 0,044 atau lebih kecil dari < 0,05. Dengan demikian pada model logit 2, variabel sikap rasional berpengaruh signifikan dengan arah negative terhadap kecenderungan WPOP melakukan tax Hal ini sejalan dengan teori pilihan rasional, dimana dinyatakan bahwa individu yang melakukan penggelapan pajak merasa memiliki manfaat yang lebih besar bila dibandingkan dengan kecilnya kemungkinan mereka akan tertangkap. Dengan demikian hipotesis H1 Nilai odds ratio pada variabel sikap rational dalam model logit 2 sebesar 0,465 menunjukkan bahwa peluang sikap rasional WPOP untuk terjadinya tax evasion sebesar 0,465 lebih kecil daripada rentan melakukan tax evasion. Pengaruh Love of Money terhadap Kecenderungan WPOP untuk melakukan Tax Evasion Berdasarkan pada hasil analisis regresi logistik multinomial yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel love of money tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan penggelapan pajak baik dalam model logit 1 maupun logit 2. Variabel love of money pada kedua logit model logistik memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 sehingga hipotesis kedua (H. Hal ini mengindikasikan bahwa sikap love of money, tidak memengaruhi pertimbangan rasional WPOP dalam menggelapkan pajak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Choiriyah & Damayanti, 2. yang menyatakan bahwa love of money tidak berpengaruh terhadap penggelapan pajak dikarenakan membayar pajak merupakan kewajiban dan mereka tidak merasa dirugikan dengan melakukan hal tersebut. Pengaruh Materialisme terhadap Kecenderungan WPOP untuk melakukan Tax Evasion Berdasarkan pada hasil analisis regresi logistik multinomial yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel materialisme tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan penggelapan pajak. Variabel materialisme pada kedua logit model logistik memiliki nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 sehingga hipotesis ketiga (H. Jika dilihat dari perspektif teori pilihan rasional yang menitikberatkan pada keputusan yang memiliki manfaat optimal, maka sikap materialistics tidak menjadi alasan bagi mereka untuk menggelapkan pajak dikarenakan sikap materialistics tidak memiliki nilai manfaat dalam melakukan penggelapan pajak. Pengaruh Kondisi Keuangan terhadap Kecenderungan WPOP untuk melakukan Tax Evasion Berdasarkan pada hasil analisis regresi logistik multinomial yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada hasil logit 1, variabel kondisi keuangan berpengaruh signifikan terhadap terhadap kecenderungan wajib pajak orang pribadi untuk melakukan penggelapan Hal ini dikarenakan nilai signifikansi sebesar 0,044 atau lebih kecil dari alpha 0,05. Namun, pada model logit 2, variabel kondisi keuangan tidak memiliki pengaruh terhadap penggelapan pajak. Hal ini sejalan dengan teori pilihan rasional, dimana dinyatakan bahwa E ISSN 2721-1819 | P ISSN 2721-2416 CURRENT: Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini. Vol. No. Juli 2025, pp. individu yang melakukan penggelapan pajak merasa kondisi keuangan tidak baik sehingga pilihan rasional mengarah pada penggelapan pajak guna menutupi keuangan yang sedang Dengan demikian hipotesis H4 diterima. Nilai odds ratio pada variabel kondisi keuangan dalam model logit 1 sebesar 2. menunjukkan bahwa peluang kondisi keuangan WPOP untuk terjadinya tax evasion sebesar 085 daripada rentan melakukan tax evasion. SIMPULAN Kesimpulan hasil penelitian ini yaitu 1. ) sikap rasional berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan WPOP untuk melakukan penggelapan pajak. ) love of money tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan WPOP untuk melakukan penggelapan ) materialisme tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan WPOP untuk melakukan penggelapan pajak. kondisi keuangan berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan WPOP untuk melakukan penggelapan pajak. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut. Pertama, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berjumlah 116 data responden sehingga diharapkan bagi penelitian berikutnya untuk memperluas jumlah responden. Kedua, penelitian ini hanya menggunakan empat variabel independen, sehingga diharapkan bagi penelitian selanjutnya untuk menambahkan variabel lain seperti religiusitas dan moral pajak. REFERENSI