Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025. ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Pengetahuan Remaja tentang Lesbian. Gay. Biseksual dan Transgender (LGBT) TeenagersAo Knowledge towards Lesbian. Gay. Biseksual dan Transgender (LGBT) Fitry Afrida1. Syarifah Rauzatul Jannah2. Aiyub2 Mahasiswa Program Studi Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh Correspondence*: syarifah_rauzatul_jannah@usk. ABSTRAK Lesbian. Gay. Biseksual dan Transgender (LGBT) telah menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius. Masyarakat Indonesia menganggap LGBT sebagai perilaku menyimpang karena tidak sesuai dengan orientasi seksual yang sesuai dengan norma sosial dan agama. Guna meminimalisir perilaku menyimpang ini, peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sangatlah penting khususnya bagi remaja. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi level pengetahuan remaja tentang LGBT. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Sebanyak 276 siswa SMA di Banda Aceh direkrut menjadi sampel menggunakan metode cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 204 responden . ,9%) memiliki pengetahuan tentang LGBTdengan kategori tinggi, sekitar 36 responden . %) berada pada kategori sedang dan 36 responden . %) berada pada kategori Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja SMA Negeri1 Banda Aceh memiliki pengetahuan dalam kategori tinggi. Situasi ini menjadi modal bagi sekolah dan petugas kesehatan dalam upaya meminimalisir perilaku menyimpang termasuk LGBT. Kata Kunci: Remaja. Pengetahuan. Penyimpangan Seksual. LGBT ABSTRACT Lesbian. Gay. Bisexual, and Transgender (LGBT) has become a crucial issue that requires serious attention. Indonesian society views LGBT as deviant behavior because it does not align with sexual orientations that conform to social and religious norms. To minimize this deviant behavior, increasing knowledge about reproductive health is very important, especially for adolescents. This study aims to identify the level of adolescents' knowledge about LGBT. It is a quantitative descriptive study with a cross-sectional approach. A total of 276 high school students in Banda Aceh were recruited as samples using the cluster random sampling method. The results showed that 204 respondents . 9%) had high Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 knowledge about LGBT, around 36 respondents . %) were in the medium category, and 36 respondents . %) were in the low category. The findings indicate that the adolescents of SMA Negeri 1 Banda Aceh have a high level of This situation serves as a foundation for schools and health workers in efforts to minimize deviant behavior, including LGBT. Keywords: Adolescents. Knowledge. Sexual Deviance. LGBT PENDAHULUAN Masa remaja merupakan waktu kematangan fisik, kognitif, emosional dan sosial yang cepat pada anak laki-laki dan wanita untuk mempersiapkan diri menjadi individu dewasa (Nugraha, dkk,. Erik Erikson . menjelaskan remaja termasuk pada fase Identity versus Confusion yang terjadi rentang usia 1218 tahun, dimana masa ini merupakan masa pencarian identitas. Pada masa ini remaja diperhadapkan untuk menemukan eksistensi dirinya . iasa disebut dengan pencarian jati dir. Akan ada berbagai macam gangguan yang harus diatasi agar dapat mencapai identitasnya. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik pula. Jika tidak, maka akan terjadi krisis identitas (Kitchens dan Abell, 2. Oleh karena itu, remaja sangat beresiko memiliki disorientasi seksual. Orientasi seksual mengacu pada pola perasaan, emosi, dan/atau hasrat yang berkelanjutan terhadap pria, wanita, atau kedua jenis kelamin. Orientasi seksual secara umum dibagi menjadi tiga kategori: heteroseksual, gay/lesbian dan Heteroseksual adalah seseorang yang mempunyai ketertarikan emosional, romantis atau seksual terhadap lawan jenisnya, gay/lesbian adalah seseorang yang mempunyai ketertarikan emosional, romantis atau seksual terhadap sesama jenisny. dan biseksual adalah seseorang yang mempunyai ketertarikan emosional, romantis atau seksual. ketertarikan seksual terhadap pria dan wanita. Sedangkan transgender adalah istilah umum untuk orang-orang yang identitas gendernya, ekspresi gendernya, atau perilakunya tidak sesuai dengan gender yang diberikan kepada mereka saat lahir (American Psycological Assosciation, 2. American Psychiatric Assosciation . , melaporkan sekitar 9 juta . ,8% dari jumlah pendudu. Amerika mengidentifikasi diri sebagai lesbian atau gay . ,7%), biseksual . ,8%), atau transgender . ,3%), sekitar 19 juta . ,2% dari jumlah pendudu. orang Amerika melaporkan terlibat dalam perilaku seksual sesama jenis, dan hampir 25,6 juta . % dari jumlah pendudu. orang Amerika memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis. Sementara data dari Kemenkes RI tahun 2012 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 1. mengidentifikasi diri sebagai gay di Indonesia. Angka ini jauh meningkat dibadingkan tahun 2009 yang hanya sekitar 800 ribu jiwa. Hal ini bisa disimpulkan bahwa dalam waktu 3 tahun perilaku disorientasi seksual meningkat tajam . %) (Yudiyanto, 2. Hasil survei Kantor Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) Kota Banda Aceh tahun 2015, mendapatkan bahwa jumlah kelompok LGBT di Banda Aceh sudah mencapai 530 orang. Dari Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 angka ini, sekitar 70% di dominasi oleh kaum gay dan sisanya adalah lesbian, biseksual dan transgender (Prasetyo dan Amri, 2. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perilaku LGBT pada remaja yaitu: faktor keluarga, faktor lingkungan dan pergaulan, faktor pendidikan, faktor genetik, dan faktor akhlak dan moral (Mariati, 2. Hasil penelitian dari Elistiana . tentang AuPengaruh Lingkungan Terhadap perubahan Jati Diri Remaja akhir . Yang Mengarah ke LGBT (Studi di Cafe Cozy Jl. KH Ahmad Dahla jomban. Ay dari 40 responden yang diteliti menyatakan bahwa hasil remaja yang berada pada lingkungan sebagian buruk sebanyak 24 orang . ,5%) dan remaja yang jati dirinya sebagian besar negatif sebanyak 25 orang . ,5%). Kesimpulan pada penelitian ini yaitu ada pengaruh lingkungan terhadap perubahan jati diri remaja yang mengarah ke LGBT. Perubahan jati diri disebabkan kurangnya perhatian serta mendidik orang tua dan lingkungan pergaulan yang salah. Selanjutnya hasil penelitian Haerati dan Asri . tentang AuPola Asuh Orang Tua Pada Transgender di Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten BulukumbaAy dari 37 responden didapatkan 20 responden . ,1%) memiliki pola asuh permisif, 11 responden . ,7%) memiliki pola asuh otoriter, dan 6 responden . ,2%) memiliki pola asuh demokratis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifkan antara pola asuh orang tua pada perilaku trangender. Ayun . menyatakan bahwa orang tua menggunakan tiga jenis model pengasuhan ketika mengasuh anaknya. Model pola asuh yang pertama adalah pola asuh otoriter. Pola asuh ini mencerminkan sikap orang tua yang keras dan biasanya diskriminatif. Model pola asuh lainnya adalah pola asuh demokratis, model pola asuh ini meliputi pengakuan terhadap kemampuan anak oleh orang tua, anak selalu diberikan kesempatan untuk menjadi mandiri. Pola asuh ini mengasuh dan memberikan kebebasan bertanggung jawab pada anak. Ketiga pola asuh permisif membiarkan anak bertindak semaunya, orang tua tidak memberikan hukuman dan pengawasan. Pemilihan metode pengasuhan yang salah sangat mempengaruhi perkembangan perilaku anak. LGBT mempunyai dampak besar terhadap permasalahan kesehatan, baik secara fisik maupun mental (Hamdan. Junaedi. Rianti dan Haerudin, 2. Salah satu dampak LGBT terhadap kesehatan adalah resiko penyebaran HIV/AIDS. Sifilis. Gonore bahkan bisa menyebabkan gangguan reproduksi (Mariati, 2. Sementara, dampak psiokologis yang dialami pelaku LGBT yaitu depresi, gangguan kecemasan dan resiko bunuh diri akibat penindasan, stigma dan diskriminasi (Moagi, et al. , 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa, pelaku LGBT menghadapi masalah yang lebih kompleks didalam kehidupan mereka, seperti, isolasi, penolakan, menyakiti diri sendiri, serta kekerasan sehingga membuat kesehatan mereka lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental (Wilson dan Cariola, 2. Pengetahuan berkaitan dengan banyaknya informasi yang dimiliki individu, semakin banyak informasi yang dimiliki seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2. Tingkat pengetahuan remaja yang rendah tentang LGBT akan mengakibatkan kesalahan dalam memahami suatu LGBT. Kurangnya pemahaman dapat menyebabkan remaja menganggap LGBT sebagai train yang pasitif sehingga mendorong mereka mengadopsi perilaku LAGBT. Hasil penelitian dilakukan Susila . pada 103 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 responden (SMA perkotaa. dan 67 responden (SMA dipedesaa. didapatkan bahwa pengetahuan remaja tentang penyimpangan seksual sebagian besar 47 responden . ,6%) berada pada kategori cukup, dan 29 responden . ,3%) berada pada kategori kurang. Hasil penelitian yang sama yang dilakukan Supriati, . mendapatkan 40 responden . ,7%) memiliki pengetahuan kurang tentang LGBT, hanya 20 responden. ,3%) yang memiliki pengetahuan baik. Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang pengetahuan remaja di Banda Aceh tentang LGBT dengan judul AuGambaran pengetahuan remaja tentang Lesbian. Gay. Biseksual dan Transgender (LGBT) di SMA Banda AcehAy. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi sekolah dan semua stakeholder terkait dalam upaya meminimalisir perilaku seksual menyimpang pada remaja di sekolah. METODE Penilitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran pengetahuan remaja SMA di Kota Banda Aceh tentang LGBT. Sampel Penelitian Terdapat 276 siswa SMA Negeri 1 Banda Aceh direkrut menjadi sampel. Perekrutan sampel menggunakan metoda cluster random sampling, yang dilakukan dengan mengundi 4 kelas dari masing-masing kelas X. XI, dan XII, kemudian 8 kelas yang terpilih dijadikan sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan pada 30 Mei Ae 4 Juni 2024. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner pengtahuan yang dikembangkan Ayu Anita . tentang LGBT. Kusioner ini terdiri dari 27 pernyataan positif dan negatif dengan menggunakan skala guttman benar atau salah. Semuanya penyataan dinyatakan valid dengan index correlation Uji validitas construct penelitian ini menggunakan uji product moment dimana nilai validitas kuesioner dikatakan valid dengan indeks korelasi . Serta uji reliabilitas kuesioner pengetahuan didapatkan nilai reliabilitas 0,947. Analisis Data Analsis univariat dengan memaparkan data pengetahuan remaja tentang LGBT dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase digunakan sebagai metoda analisis data. Penelitian sudah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala dengan kode penelitian 111102040324 pada tanggal 20 Maret 2024. HASIL Tabel 1. Analisis Deskriptif Usia Responden . Mean 16,15 Median Mode Range Min Max Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata usia responden yaitu 16,15, dengan Standar Deviasi (SD) 0. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden . = . Data Demografi Jenis Kelamin Laki-laki Prempuan Usia Kelas Pernah mendengar tentang LGBT Pernah Belum pernah Sumber informasi tentang LGBT Media massa Media Sosial Orang lain Belum pernah mendengar tentang LGBT Tabel 2. menunjukkan bahwa manyoritas usia responden adalah 15-16 tahun 182 responden . ,9%), rata-rata berjenis kelamin perempuan 175 . ,4%), dan kebanyakan dari mereka adalah siswa kelas XI . ,1%) 131 . ,1%). Kemudian mayoritas responden 238 . ,2%) sudah pernah mendengar tentang LGBT, dan sebagian besar dari mereka 186 responden . ,6%) mendapatkan informasi tentang LGBT dari media sosial. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Lesbian. Gay. Biseksual, dan Transgender . = . Pengatahuan Tinggi Sedang Rendah Jumlah Berdasarkan tabel 3. mayoritas responden . ,9%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Tabel 4. Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja tentang LGBT berdasarkan Karakteristik Demografi . = . Data Demografi Menurut jenis kelamin Laki-laki Tinggi Sedang Rendah Perempuan Tinggi Sedang Rendah Menurut usia Remaja awal . -16 Tahu. Tinggi Sedang Rendah Remaja akhir . -18 Tahu. Tinggi Sedang Rendah Menurut kelas Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah Menurut ketersediaan informasi Pernah Tinggi Sedang Rendah Belum pernah Tinggi Sedang Rendah Menurut sumber informasi Media sosial Tinggi Sedang Rendah Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Media massa Tinggi Sedang Rendah Orang lain Tinggi Sedang Rendah Belum pernah Tinggi Sedang Rendah Berdasarkan tabel 4. dapat disimpulkan bahwa bila dilihat dari jenis kelamin, maka mayoritas responden laki-laki . ,5%) dan perempuan . %) memiliki pengetahuan yang tinggi tentang LGBT. Bila dilihat dari kelompok umur, maka remaja awal . -16 tahu. dan remaja akhir . -18 tahu. sama-sama memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang LGBT. Sementaera bila dilihat dari distribusi kelas, maka kelas X dan XI juga sama-sama memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang LGBT . % dan 84,4%). Selain itu, hasil analisis data juga menunjukkan bahwa 85,7 % responden yang pernah mendapatkan informasi tentang LGBT memiliki tingkat pengetahuan tingi, dan 89,5% responden yang belum pernah mendengar informasi tentang LGBT memiliki tingkat pengetahuan Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Tentang Lesbian. Gay. Biseksual, dan Transgender Berdasarkan Komponen Pengetahuan . = . Komponen Pengetahuan Pengertian LGBT Tinggi Sedang Rendah Penyebab LGBT Tinggi Sedang Rendah Dampak LGBT Tinggi Sedang Rendah Pencegahan LGBT Tinggi Sedang Rendah Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Tabel 5. memberi informasi kepada kita bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang tinggi tentang pengertian LGBT sebanyak 73,2%, penyebab LGBT sebanyak 71,7%, dampak LGBT sebanyak 58,3%, dan pencegahan LGBT sebanyak 85,9%. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden lakilaki dan perempuan memiliki tingkat pengetahuan tinggi. Bila dilihat lebih jauh, maka persentase pengetahuan dengan kategori tinggi pada perempuan lebih besar dibadingkan laki-laki . %:70,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian Panjaitan. Andyana. Teresa. Martani dan Mutiasari . menyatakan bahwa tingkat pengetahuan berdasarkan jenis kelamin, tingkat pengetahuan paling baik yaitu perempuan 83 mahasiswi . ,7%), sedangkan pada laki-laki tingkat pengetahuan nya hanya 78 mahasiswa . ,5%) yang pengetahuan baik. Seperti yang dijelaskan Suwaryo dan Wuyono . dalam penelitiannya bahwa, jenis kelamin sebenarnya belum sepenuhnya dapat dikatakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan secara kognitif, adapun beberapa literatur juga belum ada yang mejelaskan bahwa laki-laki atau perempuan memiliki tingkat pengetahuan atau secara kognitif yang berbeda. Berdasarkan karakteristik demografi, usia siswa yang mejadi sampel didominasi oleh usia siswa berusia 15-16 tahun . emaja awa. yaitu sebanyak 182 . ,9%) namun, bila dilihat dari tingkat pengetahuan siswa usia 17-18 . emaja akhi. lebih tinggi dari pada siswa usia 15-16 tahun . ,7%:71,4%). Usia 15-18 tahun termasuk dalam rentang usia remaja madya . iddle adolescen. dimana pada usia ini merupakan periode ada kecenderungan mencintai diri sendri dengan menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih (Nugraha, dkk,. Menurut Notoatmodjo pengetahuan adalah usia. Usia akan mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir Usia dapat mewakili kematangan fisik, psikologis dan sosial seorang Hasil penelitian ini sejalan dengan Musmiler dan Eliwarti . , menunjukkan bahwa remaja pada umur 16 tahun sebanyak 45 orang . ,9%) memiliki pengetahuan yang rendah tentang LGBT. Sehingga dapat disimpulkan semakin semakin dewasa seseorang, maka tingkat pengetahuan dan kematangan pemikiran seseorang akan lebih baik. Berdasarkan penerimaan informasi tentang LGBT mayoritas responden yang pernah mendapatkan informasi tentang LGBT memili pengetahuan pada kategori tinggi sebanyak 204 . ,7%) hal ini lebih besar dibandingkan mereka yang belum pernah mendapatkan informasi tentang LGBT. Adanya informasi baru memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya suatu pengetahuan. Lingkungan dapat mempengaruhi proses masuknya pengetahuan kedalam seseorang yang berada dalam lingkungan tersebut. Walaupun demikian masih banyak di antara remaja yang belum pernah mendegarkan informasi tentang LGBT. Hal ini bisa terjadi karena masih banyak remaja yang menganggap LGBT merupakan hal yang masih baru untuk diketahui serta remaja kurang aktif untuk mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan permaslahan kesehatan khususnya penyimpangan seksual. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Dari hasil penelitian menunujukkan mayoriats responden mendapatkan informasi tentang LGBT memalui media sosial 159 . ,5%). Hasil dari penelitian Fitriani . menyebutkan bahwa aplikasi media sosial yang popular digunakan di Indonesia adalah YouTube yaitu 93,8 persen dari total keseluruhan pengguna Kemudian untuk Instragram yaitu 86,6 persen. Facebook yaitu 85,5 persen dan TikTok 38,7 persen dari total keseluruhan pengguna internet. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai media penyajian untuk konten edukasi atau pembelajaran digital. Dimana pemanfaatan media sosial sebagai media penyajian untuk konten edukasi digital membantu para penggunanya dalam menambah ilmu pengetahuan maupun wawasan baru dan juga membantu penggunanya dalam memahami materi edukasi atau pembelajaran digital yang disajikan di platform media sosial. Berbagai macam jenis sumber informasi dapat mudah dijangkau oleh remaja kapanpun dan di manapun. Media massa, media social, teman, guru, keluarga, ataupun informasi yang didapatkan baik dari pendidikan formal ataupun norformal dapat memberikan pengaruh pada jangka pendek sehingga menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan. Berdasarkan hasil penelitian dari 276 responden menunjukkan bahwa sejumlah besar responden 204 . ,9%) memiliki Tingkat pengetahuan pada kategori tinggi tentang LGBT. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nugraha, dkk,. yang menyatakan bahwa pengetahuan remaja tentang Lesbian. Gay. Biseksual, dan Transgender di SMA X Garut sebagian besar berada pada kategori baik, dengan persentase baik 221 . ,1%), cukup 42 . ,4%), dan kurang 4 . ,5%). Pengetahuan responden tentang LGBT yang baik, bisa saja terjadi karena responden sudah pernah terpapar dengan informasi mengenai LGBT baik dari sekolah, teman, lingkungaan masyarakat, media masa ataupun media sosial, dimana pada masa sekarang informasi sangatlah mudah untuk dijangkau oleh siapapun. Hal ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian Musmiler dan Erlliwarti . yang menunjukkan hasil dari 82 orang remaja di SMA Kartika 1-5 Padang terdapat lebih dari separuh 49 . ,8%) remaja memiliki pengetahuan rendah tentang LGBT. Perbedaan hasil ini bisa terjadi karena masih banyak remaja yang menganggap LGBT merupakan hal yang masih baru untuk diketahui. Rendahnya pengetahuan tentang penyimpangan seksual di kalangan remaja khususnya LGBT terkait kurangnya pendidikan seksual sejak dini oleh orangtua, dan kurangnya pendidikan atau penyuluhan sekolah tentang penyimpangan seksual, dan sikap menutup diri seseorang dari semua informasi yang tersedia terkait dengan masalah tersebut akan sangat berpengaruh pada pengetahuan Bila dilihat dari komponen pengetahuan, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen pencehagan LGBT paling banyak diketahui oleh remaja pada kategori tinggi yaitu sebanyak 237 . ,%), diikuti dengan komponen pengertian sebanyak 202 . ,2%), komponen penyebab sebanyak 198 . ,7%) dan komponen dampak sebanyak 161 . ,3%). Maka terlihat, responden memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah pada komponen dampak LGBT. Pengetahuan ini sangatlah penting bagi remaja, karena dengan mengetahui tentang dampak LGBT, remaja dapat menerapkan pengetahuannya dalam mengenal masalah LGBT yang ada dalam lingkungan sehari-hari sehingga lebih waspada terhadap lingkungan sekitarnya, membatasi pergaulan bebas, dan menjauhkan diri Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 mereka dari perilaku-perlaku yang akan menjerumuskan mereka kearah perilaku LGBT, sebagaimana diungkapkan oleh Notoadmodjo . bahwa pengetahuan tindakan seseorang. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang LGBT sebagain besar responden memiliki tingkat pengetahuan pada kategori tinggi. Berdasarkan penerimaan informasi mereka yang mendapatkan informasi memiliki tingkat pengetahuan lebih tinggi dibandingkan siswa yang belum pernah mendapatkan informasi tentang LGBT. Informasi yang tetang LGBT banyak didapatkan dari media sosial. Diharapkan pengetahuan yang sudah diperoleh dapat terus dipertahankan untuk kedepannya. Diharapkan sekolah juga dapat menyediakan berbagai informasi dalam bentuk poster tentang penyimpangan seksual serta berkolaborasi dengan pihak puskesmas atau pemerintahan untuk melakukan penyuluhan rutin disekolah. Saat ini media sosial bisa dijadikan sarana untuk medapatkan informasi yang lebih cepat dibandingkan dengan penyuluhan. Siswa disarankan untuk memperhatikan informasi-informasi yang didapatkan dari media sosial dan dapat memilih dengan cerdas informasi yang didapatkan. DAFTAR PUSTAKA