Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Available Online at: https://prin. id/index. php/JURRIKES Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen Cindy Amelia Agustin1*. Witriyani2. Ikrima Rahmasari3 Universitas Duta Bangsa Surakarta. Indonesia Alamat: Jl. Pinang No. Jati. Cemani. Kec. Grogol. Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah 57552 Korespondensi Penulis: cindyyameliaagustin19@gmail. Abstract. Personal hygiene during menstruation is a crucial aspect in maintaining the reproductive health of adolescent girls. Failure to adhere to personal hygiene practices during menstruation can potentially lead to various health problems, such as reproductive tract infections, pruritus vulvae, and vaginal discharge. Parents play a crucial role in shaping healthy behaviors in adolescent girls by providing education regarding the reproductive process and how to properly care for their genitals. Parents' roles in this context are considered effective if they actively provide reproductive health education, establish open communication, and model healthy This education includes providing accurate information about reproductive organ function, techniques for cleaning genitalia during menstruation, and discussing health issues related to menstruation. This study aims to determine the relationship between parental role and menstrual personal hygiene practices among adolescent girls at SMP Negeri 1 Sambirejo. Sragen. The study used a quantitative method with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach. The study sample consisted of 81 respondents, selected using a purposive sampling technique. The instruments used were questionnaires on parental roles and menstrual personal hygiene The results showed that 53 respondents . 4%) had parents with good roles, and 62 respondents . 5%) had good menstrual personal hygiene practices. Data analysis using the Spearman Rank test resulted in a p value = 0. < 0. , which indicates that the alternative hypothesis (H. is accepted and the null hypothesis (H. is rejected. Thus, there is a significant relationship between parental roles and menstrual personal hygiene practices in adolescent girls at SMP Negeri 1 Sambirejo. This finding underscores the importance of parents' role in supporting proper menstrual hygiene practices through providing accurate information, open communication, and examples of healthy behavior, thus contributing to the prevention of reproductive health disorders among adolescents. Keywords: Adolescent Girls. Menstruation. Personal Hygiene. Role of Parents. Abstrak. Personal hygiene selama menstruasi merupakan aspek krusial dalam menjaga kesehatan reproduksi remaja putri. Ketidakpatuhan terhadap praktik kebersihan diri pada masa menstruasi berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti infeksi saluran reproduksi, pruritus vulvae, dan keputihan. Orang tua memegang peranan penting dalam membentuk perilaku sehat remaja putri dengan memberikan edukasi terkait proses reproduksi dan cara merawat organ genitalia secara tepat. Peran orang tua dalam konteks ini dinilai baik apabila mereka secara aktif menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi, membangun komunikasi terbuka, dan memberikan teladan perilaku sehat. Edukasi yang diberikan meliputi penyampaian informasi yang akurat mengenai fungsi organ reproduksi, teknik membersihkan organ genitalia saat menstruasi, serta pembahasan isu kesehatan terkait menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo. Sragen. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 81 responden, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner peran orang tua dan tindakan personal hygiene menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 53 responden . ,4%) memiliki orang tua dengan peran baik, dan 62 responden . ,5%) memiliki tindakan personal hygiene menstruasi yang baik. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menghasilkan nilai p value = 0,000 . < 0,. , yang menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Dengan demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya peran orang tua dalam mendukung praktik kebersihan menstruasi yang tepat melalui pemberian informasi yang akurat, komunikasi terbuka, dan contoh perilaku sehat, sehingga dapat berkontribusi pada pencegahan gangguan kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Kata kunci: Menstruasi. Peran Orang Tua. Personal Hygiene. Remaja Putri Received: 17 Juli, 2025. Revised: 31 Juli, 2025. Accepted: 09 Agustus, 2025. Online Available: 11 Agustus, 2025 Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen LATAR BELAKANG Personal hygiene merupakan tindakan memelihara kebersihan untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikologis individu(Aufa et al. , 2. Personal hygiene terutama saat menstruasi yang kurang tepat dapat menimbulkan beberapa penyakit infeksi pada genitalia seperti vaginitis bacterial, candidiasis, servisitis flour albus, endometritis. Non Gonococcal Urethtritis (NGU), dan kanker serviks. Risiko masalah kesehatan reproduksi pada remaja disebabkan oleh beberapa kesalahan dalam melakukan praktik kebersihan diri saat menstruasi. Remaja usia sekolah perlu diperhatikan dalam melakukan praktik kebersihan ketika menstruasi (Hasnani et , 2. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku personal hygiene remaja putri saat menghadapi menstruasi (Mara et al. , 2. Menstruasi dapat menyebabkan kelembaban pada organ genitalia yang disebabkan oleh darah menstruasi yang keluar serta keringat pada area berlipat dan tertutup. Kelembaban ini dapat menyebabkan berkembangnya jamur candida albican yang dapat menyebabkan rasa gatal pada organ genitalia. Personal hygiene yang buruk berada pada nomor 3 dari sepuluh faktor resiko utama penyebab penyakit reproduksi dan kesehatan reproduksi berada pada nomor 8. Menurut World Health Organization (WHO, 2. , sekitar 35% perempuan mengalami gangguan kesehatan reproduksi yang dipicu oleh buruknya kebersihan diri selama menstruasi. Sebagai negara beriklim tropis di Asia Tenggara. Indonesia memiliki tingkat kelembapan tinggi yang menyebabkan area tubuh yang tertutup dan berlipat, seperti organ genital, mudah berkeringat dan lembap. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada saluran reproduksi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas, pada tahun 2022, jumlah remaja di Indonesia mencapai 66,74 juta jiwa atau sekitar 24,2% dari total populasi sebesar 275,77 juta jiwa. Remaja, terutama remaja perempuan, merupakan kelompok yang rentan terhadap kebiasaan hidup kurang sehat, termasuk dalam hal menjaga kebersihan organ reproduksi selama masa menstruasi. BPS mencatat jumlah remaja putri usia 10Ae14 tahun 700 jiwa, dan remaja usia 15Ae19 tahun sebanyak 10. 600 jiwa (BPS. Di Provinsi Jawa Tengah, dengan total populasi 37. 962 jiwa, sebanyak 22,04% penduduknya tergolong remaja usia 10Ae24 tahun. Di wilayah ini, kasus pruritus seperti kandidiasis dan servisitis pada remaja perempuan mengalami peningkatan hingga 79,4%. Sebanyak 82% kasus tersebut disebabkan oleh jamur Candida albicans yang berkembang cepat di lingkungan lembap, seperti kondisi area genital selama menstruasi. Kurangnya pengetahuan remaja putri menenai personal hygiene menstruas dapat memicu peningkatan penyebab jamur candida albican (Novia Nur Hanifah, 2. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Personal hygiene yang buruk dapat menyebabkan beberapa masalah pada kesehatan reproduksi salah satunya adalah pruritus. Pruritus menjadi masalah kesehatan karena dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Garukan akibat rasa gatal dapat memicu cedara pada kulit, infeksi dan jaringan parut (Kemenkes, 2. Manoppo et al . menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan vulva hygiene dengan kejadian pruritus vulva dengan P= 0,000 dan r= - 0,658. Pruritus vulva sering dialami remaja yang berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi yaitu gatal pada organ genitalia ketika menstruasi. Ketika menstruasi, darah dan keringat keluar serta menempel pada area genitalia sehingga menyebabkan area genitalia lebih lembab. Apabila remaja tidak menjaga kebersihan pada area genitalia dengan benar maka jamur dan bakteri akan tumbuh sehingga menyebabkan rasa gatal. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap remaja putri yang sedang mengalami menstruasi, khususnya dalam memberikan pemahaman mengenai sistem reproduksi serta cara merawat organ genital dengan benar. Pemberian edukasi kesehatan kepada remaja putri menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi mereka. Dengan demikian, remaja tidak merasa sungkan atau malu untuk berdiskusi dengan orang tuanya. Salah satu faktor yang memengaruhi kualitas personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri adalah keterlibatan orang tua. Pola komunikasi antara orang tua dan anak memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan kebersihan diri yang baik. Ketika komunikasi dalam keluarga rendah, risiko remaja menjalankan perilaku personal hygiene yang kurang tepat menjadi lebih besar. Peran orang tua yaitu memberi informasi, membantu dan mengarahkan anak agar terhindar dari kemungkinan yang salah dalam mengambil keputusan yang dapat mengakibatkan hal buruk bagi diri (Irvani et al. , 2. Mitaba et al . mengungkapkan bahwa hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,00 atau p < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku vulva hygiene pada remaja Penelitian yang dilakukan di SMP Darul Ishlah. Kabupaten Tangerang, tahun 2022 tersebut menyimpulkan bahwa dukungan keluarga memegang peran penting terhadap perilaku kebersihan area genital pada remaja. Siswi dengan tingkat dukungan keluarga yang rendah memiliki risiko 24,917 kali lebih besar untuk memiliki perilaku vulva hygiene yang buruk dibandingkan dengan siswi yang memperoleh dukungan keluarga yang baik. Berbeda dengan temuan tersebut, penelitian Mesquita et al . menyatakan bahwa tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku personal hygiene remaja saat Menurut peneliti, meskipun dukungan keluarga dalam penelitian tersebut tergolong cukup, perilaku kebersihan remaja tetap rendah. Hal ini disebabkan oleh sumber Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen informasi yang beragamAitidak hanya dari keluarga, tetapi juga dari guru, teman sebaya, dan Banyak remaja cenderung lebih terbuka kepada teman dibandingkan keluarga, sehingga informasi dari teman sering kali menjadi rujukan utama. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mengkaji hubungan antara peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo. Bentuk penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional yang menekankan waktu pengukuran dari variable independent dan dependent hanya satu kali dalam periode tertentu. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswi remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo dengan total keseluruhan 408 orang dengan sampel penelitian sebanyak 81 orang yang ditentukan dengan rumus slovin. Pengambilan data pada penelitian ini diambil dengan cara purposive sampling menggunakan kuesioner. Analisa data penelitian dengan cara analisa univariat dan analisa bivariat. Analisa bivariat digunakan untuk menganalisis signifikansi hubungan antar variable dengan menggunakan spearman rank. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Remaja Berdasarkan Usia Usia 12 Tahun 13 Tahun 14 Tahun 15 Tahun Total 6,2 % 48,1% 43,2% 2,5% Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 13 tahun sebanyak 39 orang . ,1%) sedangkan usia responden paling rendah adalah 15 tahun sebanyak 2 orang . ,5%). Responden dengan usia 12 tahun sebanyak 5 orang . ,2%) dan usia 14 tahun sebanyak 35 orang . ,2%). Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa responden memasuki tahap remaja awal dengan rentang usai 12-15 tahun. Berikut ini penjelasan untuk Sub judul Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Remaja Berdasarkan Usia Menarche Usia Menarche 6 Tahun 10 Tahun 11 Tahun 12 Tahun 1,2% 8,6% 51,9% 30,9% Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. 13 Tahun Total 7,4% Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa usia menarche responden didominasi pada usia 11 tahun sebanyak 42 . ,9%) dan usia menarche paling rendah adalah 6 tahun sebanyak 1 . ,2%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Demografi Orang Tua Berdasarkan Usia Usia 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun 56-65 tahun Lainnya Total Ayah 3,7% 54,3% 33,3% 4,9% 3,7% Ibu 25,9% 51,9% 17,3% 1,2% 3,7% Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas usia orangtua adalah 36-45 tahun, usia ayah sebanyak 44 . ,3%) dan usia ibu sebanyak 42 . ,9%). Tabel 4 Distribusi Frekuensi Demografi Orang Tua Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan PNS Wiraswasta Wirausaha Karyawan Guru Pedagang Petani Buruh IRT Lainnya Total Ayah 1,2% 39,5% 12,3% 12,3% 8,6% 6,2% 4,9% 14,8% Ibu 17,3% 6,2% 6,2% 2,5% 7,4% 2,5% 50,6% 7,4% Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa status pekerjaan ayah sebagian besar adalah wiraswasta sebanyak 32 . ,5%) sedangkan status pekerjaan ibu sebagian besar adalah ibu rumah tangga sebanyak 41 . ,6%). Tabel 5 Distribusi Frekuensi Demografi Orang Tua Berdasarkan Pendidikan Pendidikan SMP SMA/SMK/ Sederajat Perguruan Tinggi Lainnya Total Ayah 25,9% 29,6% 33,3% Ibu 12,3% 43,2% 37,0% 6,2% 4,9% 3,7% 3,7% Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa pendidikan terakhir ayah sebagian besar adalah SMA/SMK/Sederajat sebanyak 27 . ,3%) sedangkan pendidikan terakhir ibu mayoritas adalah SMP sebanyak 35 . ,2%). Tabel 6 Distribusi Parameter Peran Orang Tua Peran Orang Tua Baik Cukup Kurang Total 65,4% 33,3% 1,2% Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa peran orang tua pada remaja saat menstruasi dengan kategori baik sebanyak 53 . ,4%), pada kategori cukup sebanyak 27 . ,3%) dan yang paling rendah pada kategori kurang yaitu 1 . ,2%). Tabel 7 Distribusi Parameter Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Baik Cukup Kurang Total 76,5% 22,2% 1,2% Berdasarkan tabel 7 menunjukan bahwa tindakan personal hygiene remaja saat menstruasi mayoritas berkategori baik yaitu sebanyak 62 . ,5%) dan yang berkategori kurang hanya 1 . ,2%), sedangkan berkategori cukup sebanyak 18 . ,2%). Tabel 8 Tabulasi Silang Hubungan Peran orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada remaja Putri Di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen Peran Tua Orang Baik Cukup Kurang Total Spearman Rank Test Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Baik Cukup Kurang 100% 18 100% 1 p = 0,000 Total Tabel 8 menunjukkan hasil analisa bivariat menggunakan uji statistik spearman rank yang menunjukan hubungan peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p value = 0,000 . <0,. yang berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Hasil uji statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar siswi di SMP Negeri 1 Sambirejo mendapatkan peran orang tua yang baik sebanyak 53 responden dengan presentase 65,4%. Peran orang tua dalam hal kesehatan reproduksi terutama personal hygiene saat menstruasi remaja dikatakan baik ketika orang tua secara aktif memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, menciptakan komunikasi terbuka dan menjadi contoh perilaku yang Peran ini termasuk memberikan informasi yang akurat dan sesuai mengenai fungsi organ reproduksi, cara membersihkan dan membahas isu kesehatan tentang reproduksi khususnya Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap remaja putri ketika menghadapi Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang disampaikan oleh responden melalui kuesioner yang mayoritas reponden mendapat peran yang baik dari orang tuanya. Orang tua menjadi pendidik dalam hal memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi serta menjadi contoh dalam berperilaku yang sehat. Dalam konteks peran orang tua, ibu cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap anak perempuannya, terutama karena pengalaman pribadi yang dimiliki terkait dengan menstruasi. Oleh karena itu, ibu dapat menjadi panutan dalam mengajarkan perilaku personal hygiene selama masa menstruasi. Sebaliknya, ayah umumnya memiliki keterbatasan dalam memahami aspek kesehatan reproduksi perempuan, sehingga anak perempuan merasa kurang nyaman atau bahkan enggan untuk mendiskusikan topik menstruasi dengan ayah mereka (Hamidah et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni & Putri ( 2. yang menunjukkan bahwa sebagian besar peran orang tua sebagai pendidik dalam kategori baik sebanyak 83 siswa dengan presentase . %) yang diperoleh melalui data kuesioner penelitian yang dilakukan pada siswa SMP Negeri 3 Kota Blitar. Penelitian lain yang dilakukan oleh Irvani et al . yang dilakukan pada remaja putri di SMP N 1 Kalianda didapatkan hasil komunikasi orang tua mengenai menstruasi dalam kategori baik yang dibuktikan dengan pernyataan responden yang sebagian besar menunjukkan komunikasi orang tua tentang menstruasi dalam kategori baik sebanyak 110 responden dengan presentase . ,4%). Peran orang tua sangat penting dalam mendidik anak perempuannya, terutama dalam melakukan tindakan personal hygiene saat mentruasi. Orang tua dengan pendidikan yang baik dapt memberikan informasi terkait menstruasi termasuk tindakan yang harus dilakukan saat Orang tua terutama ibu berperan sebagai sumber informasi dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan anaknya, sehingga memudahkan untuk menyampaikan informasi mengenai tindakan personal hygiene menstruasi. Remaja tidak akan malu untuk bertanya Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen kepada ibu mereka sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan melakukan tindakan personal hygiene menstruasi dengan baik (Hamidah et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan tabel 7 menunjukkan bahwa mayoritas responden melakukan tindakan personal hygiene menstruasi berkategori baik yaitu sebanyak 62 dengan presentase . ,5%). Tindakan personal hygiene yang dilakukan siswi SMP Negeri 1 Sambirejo sebagian besar adalah melakukan penggunaan pembalut dengan benar dan kebersihan organ genital, untuk poin kebersihan tubuh dan rambut ada yang rutin melakukan dan tidak, sebagian kecil responden kurang melakukan dalam kebersihan pakaian dalam. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Mesquita et al . , yang membahas hubungan antara dukungan keluarga dan perilaku kebersihan diri remaja putri saat menstruasi. Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa 82,5% responden memiliki perilaku hygiene yang baik, sedangkan 17,5% sisanya menunjukkan perilaku yang kurang baik. Perilaku ini berkaitan dengan upaya menjaga kebersihan area genital, yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan individu. Secara umum, pembentukan perilaku personal hygiene dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal mencakup aspek pengetahuan, emosi, dan motivasi pribadi, sementara faktor eksternal mencakup kondisi lingkungan, status sosial ekonomi, serta nilai-nilai budaya di sekitar individu. Berbeda dengan hasil tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Mara et al . menunjukkan bahwa sebagian besar responden sebanyak 44 orang . ,9%) memiliki perilaku personal hygiene yang kurang Hal ini disebabkan oleh faktor internal, salah satunya adalah minimnya pengetahuan remaja putri terkait pentingnya menjaga kebersihan organ intim selama menstruasi. Personal hygiene saat menstruasi merupakan serangkaian praktik kebersihan diri yang dilakukan oleh perempuan untuk menjaga kesehatan, kenyamanan, serta mencegah infeksi selama periode Beberapa tindakan yang termasuk dalam praktik ini adalah mencuci area genital dengan air bersih, memakai celana dalam berbahan katun, mengganti celana dalam minimal dua kali sehari, mengganti pembalut setiap 3Ae4 jam, serta mandi secara teratur dua kali dalam Penelitian yang dilakukan oleh Hamidah et al . menambahkan bahwa berbagai faktor turut memengaruhi perilaku personal hygiene remaja putri, antara lain latar belakang pendidikan orang tua khususnya ibu, kondisi sosial ekonomi, usia remaja, tingkat pengetahuan, ketersediaan sarana pendukung, serta pengaruh mitos yang masih beredar di masyarakat. Berdasarkan analisis hubungan peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo yang ditunjukkan pada tabel 8 dengan responden sebanyak 81 siswi, dengan melakukan pengisian kuesioner menunjukkan bahwa responden yang memiliki orang tua dengan peran baik sebanyak 53 orang . ,4%) hal ini Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki orang tua dengan peran yang baik. Responden dengan tindakan personal hygiene menstruasi baik sebanyak 62 responden . ,5%), hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden melakukan tindakan personal hygiene menstruasi dengan baik. Hasil uji statistik dengan spearman rank menunjukkan hubungan peran orang tua dengan tindakan personal hygiene mesntruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo diperoleh nilai p value = 0,000 . < 0,. yang berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Hasil uji statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antar peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo. Personal hygiene selama menstruasi sangat penting untuk menjaga kesehatan organ reproduksi perempuan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi mencuci area kewanitaan dengan air bersih, menggunakan celana dalam berbahan katun yang dapat menyerap keringat, mengganti celana dalam setidaknya dua kali sehari, mengganti pembalut setiap 3 hingga 4 jam, serta mandi dua kali sehari. Ketika menstruasi, tubuh biasanya mengeluarkan lebih banyak keringat, minyak, dan cairan, sehingga kebersihan diri, terutama pada area intim, harus tetap dijaga dengan baik (Tanda et al. , 2. Peran orang tua merupakan faktor penting untuk remaja agar dapat melakukan tindakan personal hygiene yang benar. Remaja yang dapat melakukan tindakan personal hygiene yang benar akan terhindar dari penyakit seperti pruritus, keputihan dan penyakit infeksi saluran Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap remaja putri ketika menghadapi Semakin besar dukungan orang tua kepada anak, semakin besar kemungkinan anak melakukan tindakan personal hygiene dengan baik dan benar. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Khasanah . di SMK Kusuma Bangsa Bogor tahun 2020 kepada 60 responden didapatkan hasil orang tua tidak berperan dalam personal hygiene sebesar 51,7 %, sedangkan yang berperan sebesar 48%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara peran orang tua dengan personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri dengan nilai p value = 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja akan mengalami personal hygiene yang kurang baik ketika orang tua kurang berperan dalam memberikan pengetahuan mengenai personal hygiene. Sari . dalam penelitiannya yang berjudul Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Personal Hygiene Saat Menstruasi pada Remaja Awal di SMPN 1 Sawahan Kabupaten Madiun menemukan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dan perilaku kebersihan diri saat Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 52 remaja perempuan usia 11Ae14 tahun yang sudah menstruasi. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara proporsional. Hasil analisis menunjukkan bahwa 63,5% Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tindakan Personal Hygiene Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen responden memperoleh dukungan keluarga yang cukup, dan 48,1% menunjukkan perilaku personal hygiene yang tergolong cukup. Uji statistik Spearman rank menghasilkan nilai p sebesar 0,048, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku personal hygiene pada siswi SMPN 1 Sawahan. Penelitian yang dilakukan oleh (Syahda & Elmayasari . dari 44 responden yang tidak mendapatkan peran aktif dari orang tuanya, 11 di antaranya tetap memiliki perilaku personal hygiene yang positif. Sementara dari 28 responden yang orang tuanya berperan, 8 orang justru menunjukkan perilaku yang negatif. Peneliti menyatakan bahwa terdapat hubungan peran orang tua dengan perilaku personal hygiene menstruasi dengan uji statistik diperonel niali p value = 0,000 . <0,. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan tindakan personal hygiene menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sambirejo Sragen dengan nilai p value = 0,000 (<0,. Penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lagi dengan menguji intervensi untuk menilai sejauh mana tindakan personal hygiene menstruasi yang dilakukan remaja sehingga tidak terjadi tindakan personal hygiene mentruasi yang kurang. UCAPAN TERIMA KASIH