e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 UJI PROPORSI POPULASI TANAMAN PADA TUMPANGSARI KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L var. PM . DAN KACANG TANAH (Archis hypogaea var. Kanci. TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TEST OF PLANT POPULATION PROPORTIONS IN A TRIP OF FLOWER CUBISH (Brassica oleracea L var. PM . AND PEANUT (Archis hypogaea Kanci. ON GROWTH AND YIELD Pasha Rizki Faturrahman1*. Devie Rienzani Supriadi1. Darso Sugiono1 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Singaperbangsa Jl. HS. Ronggo Waluyo. Puseurjaya. Telukjambe Timur. Karawang. Jawa Barat 41361 ABSTRAK Tumpangsari merupakan pola tanam dengan melibatkan lebih dari satu tanaman yang ditanam secara bersamaan pada satu area lahan yang sama selama perioede tanam tertentu. Proporsi tanaman adalah sebuah komposisi jumlah tanam pada satu area lahan dengan jarak tanam yang disesuaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dan proporsi jumlah tanaman terbaik berdasarkan nilai parameter evaluasi tumpangsari pada tanaman kubis bunga (Brassica oleracea L var. PM . dan kacang tanah (Arachis hypogaea var. Kanci. Penelitian dilakukan di Lahan Percobaan. Desa Telukjambe. Kecamatan Telukjambe Timur. Kabupaten Karawang dimulai pada bulan Januari 2023 hingga April 2023. Penelitian menggunakan metode eksperimental rancangan lingkungan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktor tunggal, dengan 5 ulangan. K1 = 100% kubis bunga . K2 = 25% kubis bunga dan 75% kacang tanah. K3 = 50% kubis bunga dan 50% kacang tanah. K4 = 75% kubis bunga dan 25% kacang tanah. K5 = 100% kacang tanah . Data dianalisis secara statistik dengan uji F tabel 5% dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Proporsi terbaik adalah perlakuan K4 = 75% kubis bunga dan 25% kacang tanah dengan menghasilkan nilai Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) sebesar 1,13 Kata Kunci : Tumpangsari, proporsi jumlah tanaman, kubis bunga, kacang tanah. Nilai Kesetaraan Lahan ABSTRACT Intercropping is a cropping pattern involving more than one crop grown simultaneously on the same area of land during a certain planting period. The proportion of plants is a composition of the number of plants on one land area with an adjusted planting distance. This study aims to determine plant growth and the best proportion of the number of plants based on the value of intercropping evaluation parameters in flower cabbage (Brassica oleracea L var. PM . and peanut (Arachis hypogaea var. Kanci. The research was conducted at the Experimental Field. Telukjambe Village. East Telukjambe Sub-district. Karawang Regency starting in January 2023 until April 2023. The research used an experimental method of single-factor Randomised Group Design (RAK) environmental design, with 5 replications. K1 = 100% flower cabbage . K2 = 25% flower cabbage and 75% peanut. K3 = 50% flower cabbage and 50% peanut. K4 = 75% flower cabbage and 25% peanut. K5 = 100% peanut . Data were statistically analysed with the F table test at 5% and the Least Significant Difference (BNT) test at the 5% level. The best proportion is treatment K4 = 75% flower cabbage and 25% peanuts by producing a Land Equivalency Value (NKL) of Keywords: Intercropping, proportion of number of plants, flower cabbage, peanut. Land Equivalency Value -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail: pasharizkykrw. 14@gmail. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam kurun waktu yang lebih cepat (Bay, 2. Pada sistem tumpangsari tentunya akan terjadi persaingan dalam perebutan unsur hara dalam satu area lahan yang sama. Proporsi jumlah tanaman dalam sistem tumpangsari menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Penentuan proporsi jumlah tanaman yang tidak tepat akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil produksi akhir yang didapat. Hal tersebut terjadi disebabkan adanya interaksi tanaman dalam persaingan unsur hara, cahaya, air, dan ruang Faktor tersebut merupakan komponen yang sangat penting dalam pertumbuhan tanaman pada sistem tumpangsari. Menurut Pasau et al. untuk mengurangi terjadinya kompetisi antar tanaman dalam tumpangsari dapat dilakukan dengan memilih jenis tanaman yang cocok, mengatur waktu tanam, jarak tanam, populasi tanaman per satuan luas, ukuran tinggi dan umur tanaman. Pemilihan karakteristik antar tanaman yang kemudian disesuaikan dengan proporsi jumlah tanaman akan memberikan kondisi yang optimum bagi tanaman untuk Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan proporsi jumlah tanaman terbaik pada tumpangsari tanaman kubis bunga (Brassica oleracea L var. PM . dan kacang tanah (Arachis hypogaea var. Kanci. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi petani mengenai proporsi jumlah tanaman untuk sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah terbaik sehingga menjadi acuan agar mendapatkan hasil tanaman yang maksimal. Pendahuluan Indonesia merupakan negara agraris dimana masyrakatnya mayoritas berprofesi sebagai petani, terutama dalam menghasilkan berbagai macam jenis tanaman sayuran. Salah satu sayuran yang dibudidayakan adalah kubis bunga. Kubis bunga (Brassica oleraceae L) memiliki banyak kandungan gizi dan mengandung berbagai vitamin seperti vitamin A. B3. B5. B6. C serta mineral seperti Ca. Fe. Na. P yang bermanfaat dalam membantu sistem pencernaan dan mentralkan zat asam (Pracaya, 2006 dalam Luthfiana 2. Pada umumnya budidaya kubis bunga dilakukan secara monokultur. Sistem pola tanam monokultur diketahui dapat menimbulkan kerentanan tanaman terhadap serangan penyakit, tidak memberikan hasil tambahan dan akan membuat tanah menjadi lebih cepat menurun kesuburannya (Mahrizal et al. , 2. Selain itu, saat ini terdapat permasalahan lainnya dimana berkurangnya area pertanaman yang tersedia. Peralihan fungsi lahan dari sektor pertanian menuju sektor industri saat ini semakin marak meningkatnya pertumbuhan manusia. Sistem tanam tumpangsari bisa menjadi salah satu opsi dalam mengatasi permasalahan Tumpangsari merupakan teknik menanam dengan menggunakan lebih dari satu komoditi yang ditanam dengan waktu yang sama (Putra et al. , 2. Pada sistem tanam tumpangsari diketahui memiliki Nilai Kesetaraan Tanah (NKT) yang lebih tinggi 1,0 jika dibandingkan dengan sistem tanam monokultur. Berdasarkan hal tersebut, tumpangsari dapat meningkatkan hasil panen per lahan jika dibandingkan dengan monokultur (Rodrigo et al. Salah satu tanaman yang dapat ditanam bersamaan dengan kubis bunga adalah kacang Kacang tanah memiliki karakter yang menguntungkan bagi tanaman kubis bunga dalam membantu proses pertumbuhannya. Kacang tanah menghasilkan nitrogen yang berasal dari simbiosis dengan Rhizobium sp. Nitrogen yang dihasilkan tersebut akan dimanfaatkan oleh Selain itu kacang tanah juga merupakan tanaman yang menghasilkan bahan organik bagi tanah sehingga dapat membantu Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan lingkungan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 kali ulangan sehingga diperoleh 25 unit percobaan dengan pengambilan 4 sampel pada setiap Perlakuan tersebut diantaranya K1 . % kubis bunga dengan jarak tanam 50 cm x 50 c. K2 . % kubis bunga 75% kacang tanah dengan jarak tanam masing-masing 50 cm x 50 cm dan 40 cm x 20 c. K3 . % kubis bunga 50% kacang tanah dengan jarak tanam masing-masing 50 cm x 50 cm dan 40 cm x 20 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 c. K4 . % kubis bunga 25% kacang tanah dengan jarak tanam masing-masing 50 cm x 50 cm dan 40 cm x 20 c. , dan K5 . % kacang tanah dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm. Adapun model linear dari Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal menurut Gomez . adalah Yijk = AA Ei j Aijk dimana Yijk = pengamatan pada satuan ke-I, perlakuan kelompok ke-j dan tanaman ke-k. AA = rata Ae rata populasi. Ei = pengaruh dari ulangan ke-i, j = pengaruh dari perlakuan . ke-j, dan Aijk = pengaruh acak dari ulangan ke-I, perlakuan kej, dan tanaman ke-k. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji F dengan taraf 5%. Jika hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan yang nyata, maka untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan hasil tertinggi, analisis data diuji lanjut dengan Beda Nyata Terkecil atau Least Significant Difference (LSD) pada taraf 5% (Gomez dan Gomez, 2. BNT = t(/. bG) x Oo2yaycNya/yc mengganggu pada area percobaan. Tujuannya adalah untuk mengurangi keberadaan gulma atau tanaman pengganggu lainnya sehingga tidak adanya persaingan dalam penyerapan unsur hara. Setelah dibersihkan dari gulma, selanjutnya dilakukan pengolahan sebanyak dua kali sebelum ditanami tanaman. Pengolahan pertama dengan membalikkan tanah sedalam 20 Ae 30 cm, yang kemudian membentuk bongkahan dan didiamkan selama satu minggu. Pada pengolahan kedua yaitu menghancurkan bongkahan tersebut untuk mendapatkan tekstur tanah yang gembur setelah itu dibuat petakan dengan ukuran panjang 2 m dan lebar 2 m dengan jarak setiap petakan 0,5 m. Pembibitan Setelah dibersihkan dari gulma, selanjutnya dilakukan pengolahan sebanyak dua kali sebelum ditanami tanaman. Pengolahan pertama dengan membalikkan tanah sedalam 20 Ae 30 cm, yang kemudian membentuk bongkahan dan didiamkan selama satu minggu. Pada pengolahan kedua yaitu menghancurkan bongkahan tersebut untuk mendapatkan tekstur tanah yang gembur setelah itu dibuat petakan dengan ukuran panjang 2 m dan lebar 2 m dengan jarak setiap petakan 0,5 m. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada lahan sawah yang terletak di Desa Telukjambe. Kecamatan Telukjambe Timur. Kabupaten Karawang. Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan selama kurun waktu 3 bulan terhitung dari bulan Januari 2023 hingga April 2023. Penanaman Penanaman dilakukan pada saat umur bibit kubis bunga sudah mencapai umur 28 hss, sedangkan tanaman kacang tanah mulai ditanam secara langsung pada lahan percobaan bersamaan dengan pindah tanam kubis bunga. Penanaman kubis bunga dilakukan dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm sedangkan kacang tanah memiliki jarak tanam 40 cm x 20 cm. Penanaman pada tanaman kubis bunga dan kacang tanah dilakukan saat sore Alat dan Bahan Penelitian dilakukan dengan menggunakan bahan seperti benih kubis bunga varietas PM 126, kacang tanah varietas Kancil, pupuk kandang kambing, insektisida berbahan aktif Prefenofoss 500g/l, herbisida berbahan aktif Parakuat Diklorida 138 g/l, pupuk urea, pupuk SP36, dan pupuk KCl, pupuk ZA. Sementara itu alat yang digunakan berupa cangkul, emrat, tray semai, sprayer, dan arit serta terdapat alat lain juga yang membantu selama proses penelitian berlangsung seperti buku catatan, penggaris, alat tulis, timbangan analitik, dan thermohygrometer. Pemeliharaan Penyiraman pada tanaman kubis bunga dan kacang tanah dilakukan rutin sebanyak 2 kali dalam sehari. Waktu yang baik adalah pada pagi dan sore hari. Pada tanaman kubis bunga perlu diperhatikan agar tidak mengalami kekeringan atau kekurangan air , terutama pada fase awal pertumbuhan dan ketika pembentukan bunga (Rukmana, 1. Penyiangan dilakukan agar menghindari pertumbuhan gulma yang terjadi pada area Pelaksanaan Penelitian Persiapan Lahan Lahan yang digunakan pada penelitian ini terlebih dahulu dibersihkan dari keberadaan gulma ataupun sisa-sisa tanaman yang e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 pertanaman atau budidaya. Gulma atau tanaman pengganggu yang tumbuh akan menyebabkan terjadinya persaingan dalam memperoleh unsur Penyiangan segera dilakukan ketika tanaman pengganggu atau gulma sudah mulai tumbuh atau terlihat dan dilakukan selama proses budidaya berlangsung. Pembubunan merupakan salah satu upaya untuk memperkuat tanaman muda. Upaya tersebut dengan menggunakan penambahan tanah pada area sekitar pangkal batang tanaman. Pembubunan dilakukan pada saat tanaman berumur 14 hst dan 28 hst. Pengendalian hama dan penyakit merupakan faktor penting dalam penentu keberhasilan pertumbuhan tanaman. Tanaman perlu dilindungi dari keberadaan hama dan penyakit karena dapat menimbulkan penurunan kualitas bahkan menyebabkan kerugian produksi apabila dibiarkan begitu saja. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida untuk tanaman yang terserang hama dan fungisida untuk tanaman yang terkena penyakit atau bisa juga dilakukan eradikasi pada tanaman yag terserang secara (Balits. , 2. Untuk budidaya kacang tanah diberikan pupuk sesuai anjuran yaitu Urea sebanyak 50 kg/ha. TSP 100 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha. Pupuk tersebut dapat diberikan dengan cara disebar merata pada petakan tanah yang Untuk pemberian pupuk kandang kambing 7,5 ton/ha berdasarkan penelitian (Wijaya et at. memberikan pengaruh pada pertumbuhan luas daun, jumlah bunga, jumlah ginofor, jumlah polong total, jumlah polong isi, berat 100 biji dan hasil panen. Selama masa pertumbuhannya tanaman kubis bunga dan kacang tanah diberikan pupuk susulan pada umur 10 hst, 20 hst, dan 30 Parameter Pengamatan Pada penelitian ini terdapat peengamatan yang dilakukan diantaranya jumlah daun kubis bunga dan kacang tanah, bobot krop per tanaman kubis bunga . , bobot biji per tanaman kacang tanah . , hasil tanaman per petak kubis bunga . dan kacang tanah, dan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL). Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini dilakukan pemupukan dasar menggunakan pupuk organik dan anorganik untuk budidaya tanaman kubis bunga. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang kambing sebanyak 20 ton/ha diberikan 2 minggu sebelum masa tanam. Untuk pupuk anorganik yang digunakan berupa Urea sebanyak 100 kg/ha. SP-36 250 kg/ha, dan KCl 200 kg/ha. ZA 250 kg/ha (Balai Penelitian Tanaman Sayuran Kubis Bunga Jumlah Daun . Berdasarkan hasil analisis ragam, diketahui pengaruh uji proporsi jumlah tanaman dalam sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun usia 7 hst kubis bunga. Tabel 1. Rata Ae Rata Jumlah Daun Kubis Bunga Umur 7, 14, 21, dan 28 hst Pada Tumpangsari Kubis Bunga dengan Kacang Tanah Kode Perlakuan Rata Ae Rata Jumlah Daun Kubis Bunga 7 hst 6,85 abc 14 hst 9,35 a 21 hst 13,20 a 28 hst 16,60 a 100% Kubis Bunga 25% Kubis Bunga dan 6,00 d 9,00 a 12,15 a 15,10 a 75% kacang Tanah 50% Kubis Bunga dan 7,05 ab 9,50 a 12,55 a 15,60 a 50% Kacang Tanah 75% Kubis Bunga dan 7,15 a 9,45 a 13,15 a 16,30 a 25% Kacang Tanah Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti dengan huruf yang sama pada setiap kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Perlakuan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. memberikan nilai rerata tertinggi sebesar 7,15 helai, berbeda nyata dengan perlakuan K2 . % kubis bunga dan 75% kacang tana. ysng memberikan nilai rerata 6,00 helai, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1 . % kubis bung. dan K3 . % kubis bunga dan 50% kacang tana. yang memberikan nilai rerata masing-masing 6,85 dan 7,05 helai. Pertumbuhan jumlah daun yang berbeda diduga dapat terjadi karena faktor genetik ataupun Proses adaptasi tanaman terhadap lingkungan yang baru saat pemindahan tanam juga dapat mempengaruhi faktor tumbuh Proses pemindahan tanam yang tidak tepat dapat menjadikan proses adaptasi tanaman akan terhambat. Menurut Effendi . , kerusakan akar yang terjadi pada saat proses mengeluarkan bibit untuk dipindahkan pada area pertanaman yang baru dapat mempengaruhi proses adaptasi dan pertumbuhan tanaman Hal tersebut sesuai dengan pendapat Akmalia dan Suharyanto . yang menyatakan bahwa proses adaptasi yang dilakukan oleh tanaman terhadap lingkungan merupakan bentuk adanya respon fisiologis dari Pengaruh respon fisiologis tersebut nantinya akan sangat berkaitan bagi tanaman dalam hal produktivitas yang dihasilkan. Pada umur 7 hst, tanaman masih berada pada fase adaptasi dengan lingkungan yang baru sehingga pertumbuhan kubis bunga Hal tersebut diduga belum adanya persaingan yang terjadi dikarenakan tanaman kacang tanah masih dalam tahap perkecambahan dan belum membutuhkan unsur hara. Perkecambahan sangat bergantung pada ketersediaan air dalam media pertumbuhan. Menurut Agustina . dalam Junaidi . keberadaan air sangat penting pada saat perkecambahan karena akan diabsorpsi dan dimanfaatkan untuk memicu aktivitas enzim Ae enzim metabolisme perkecambahan. Sementara itu pada umur 14, 21, dan 28 hst tanaman kubis bunga sudah mampu menyeseuaikan dengan memberikan pertumbuhan yang optimal terhadap jumlah daun tanaman. Bobot Krop Kubis Bunga . Berdasarkan menunjukkan bahwa pengaruh uji proporsi jumlah tanaman dalam sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah pengaruh nyata pada setiap perlakuannya. Tabel 2. Rata Ae Rata Bobot Krop Kubis Bunga Pada Tumpangsari Kubis Bunga dengan Kacang Tanah Rata Ae Rata Bobot Krop Kubis Bunga . Kode Perlakuan 100% Kubis Bunga 292,55 a 25% Kubis Bunga dan 75% Kacang Tanah 168,35 b 50% Kubis Bunga dan 50% Kacang Tanah 226,01 ab 75% Kubis Bunga dan 25% Kacang Tanah 256,75 ab Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% Berdasarkan hasil uji BNT taraf 5%, pada pengamatan bobot krop kubis bunga (Brassica oleracea L var. PM . menunjukkan bahwa perlakuan K1 . % kubis bung. memberikan nilai rata-rata tanaman tertinggi yaitu sebesar 292,55 gram, berbeda nyata dengan perlakuan K2 . % kubis bunga dan 75% kacang tana. tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan K3 . % kubis bunga dan 50% kacang tana. dan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. Pertumbuhan menghasilkan bobot krop yang baik sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara didalam Pada perlakuan K1 . % kubis bung. yang ditanam secara monokultur, penyerapan unsur hara berlangsung sangat baik sehingga mampu memberikan hasil bobot krop tertinggi e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 diantara perlakuan yang lainnya. Pada perlakuan K2 . % kubis bunga dan 75% kacang tana. yang ditanam sela dengan kacang tanah, serapan unsur hara oleh kubis bunga berlangsung kurang baik dikarenakan adanya kompetisi dalam satu area pertanaman dimana jumlah proporsi tanaman pada perlakuan tersebut didominasi oleh kacang Sementara itu pada perlakuan K3 . % kubis bunga dan 50% kacang tana. dan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. proporsi tanaman kacang tanah tidak mendominasi dan memberikan ruang tumbuh terhadap kubis bunga sehingga tanaman kubis bunga masih mampu melakukan penyerapan unsur hara dengan baik dan menghasilkan bobot krop yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan K1 . % kubis bung. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Mauidzotussyarifah et al. , . , kompetisi antar tanaman yang dibudidayakan secara tumpangsari sering sekali memiliki masalah seperti ketersediaan unsur hara, kebutuhan air, cahaya matahari, nutrisi dan ruang tumbuh yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan monokultur. Hal tersebut akan sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jika tidak dapat Banyaknya proporsi tanaman kacang tanah pada area petakan, menyebabkan terjadinya kerapatan antara kubis bunga dan kacang tanah sehingga kubis bunga tidak memiliki ruang untuk mendapatkan serapan unsur hara yang baik dalam mendukung pertumbuhannya. Menurut Sunarto . , perubahan yang terjadi pada fase vegetatif menuju generatif adalah sebuah perubahan yang sangat berbeda dikarenakan struktur jaringannya yang berbeda, maka dari itu proses pembungaan merupakan fenomena fisiologi yang tidak Hasil Tanaman Per Petak . Berdasarkan menunjukkan uji proporsi jumlah tanaman pada sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah memberikan pengaruh nyata terhadap produksi per petak kubis bunga usia panen 52 hst. Berdasarkan hasil uji BNT taraf 5%, pada pengamatan produksi per petak kubis bunga (Brassica oleracea L var. PM . menunjukkan bahwa perlakuan K1 . % kubis bung. memberikan nilai rata-rata bobot produksi tertinggi yaitu sebesar 4,134 kg, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal tersebut diduga karena proporsi jumlah tanaman yang lebih banyak pada K5 jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuwariah et al. , . , bahwa tanaman kedelai yang ditanam secara monokultur memberikan hasil sebesar 508,8 g/petak . ,13 ton/h. , sedangkan tanaman kedelai yang ditumpangsarikan dengan jagung memberikan hasil berkisar 101,45 Ae 158,40 g/petak. Faktor yang menyebabkan rendahnya hasil kedelai tersebut dimungkinkan adanya persaingan dengan jagung terkait tempat tumbuh dan memperoleh Tabel 3. Rata Ae Rata Hasil Tanaman Per Petak Kubis Bunga Pada Tumpangsari Kubis Bunga dan Kacang Tanah Rata Ae Rata Hasil Tanaman Per Petak Kubis Bunga Kode Perlakuan 100% Kubis Bunga 4,134 a 25% Kubis Bunga dan 75% kacang Tan 0,562 d 1,653 c 50% Kubis Bunga dan 50% Kacang Tanah 3,445 b 75% Kubis Bunga dan 25% Kacang Tanah Keterangan : Nilai rata - rata yang diikuti dengan huruf yang sama pada setiap kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Kacang Tanah dalam sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun 42 hst. Jumlah Daun . Berdasarkan hasil analisis ragam, menunjukkan pengaruh uji berbagai proporsi jumlah tanam Tabel 4. Rata Ae Rata Jumlah Daun Kacang Tanah Umur 14, 21, 35, 42 hst Pada Tumpangsari Kubis bunga dengan Kacang Tanah Kode Rata Ae Rata Jumlah Daun Kacang Tanah Perlakuan 14 hst 19,05 a 21 hst 26,70 a 35 hst 42,25 a 42 hst 50,45 b 25% Kubis Bunga dan 75% kacang Tanah 50% Kubis Bunga dan 50% Kacang 19,10 a 26,95 a 42,90 a 49,80 b Tanah 75% Kubis Bunga dan 25% Kacang 18,65 a 25,90 a 41,90 a 49,25 b Tanah 100% Kacang Tanah 19,20 a 26,90 a 43,50 a 53,25 a Koefisien Keragaman (%) 2,34 3,48 3,53 3,49 Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti dengan huruf yang sama pada setiap kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% Berdasarkan hasil uji BNT taraf 5%, perlakuan K5 . % kacang tana. memberikan nilai rerata tertinggi sebesar 53,25 helai, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pengaruh jumlah daun yang berbeda diduga terjadi karena adanya persaingan dalam hal kebutuhan unsur hara. Pada usia 42 hst tanaman kacang tanah sedang berada dalam fase pertumbuhan generatif salah satunya adalah pembentukan daun. Fase vegetatif tanaman sangat bergantung pada proses fotosintesis tanaman karena karbohidrat yang digunakan berdasarkan hasil fotosintesis akan membantu tanaman dalam pembentukan struktur tanaman seperti batang, akar, dan daun. Keberadaan unsur hara N didalam tanah sangat berperan dalam proses fotosintesis sehingga membantu pula bagi tanaman dalam pertumbuhan Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Munawar . , bahwa unsur hara N (Nitroge. termasuk kedalam unsur hara makro yang sangat berperan bagi tanaman dalam menyusun klorofil sehingga bertanggung jawab dalam proses Jika ketersediaan unsur hara N tercukupi bagi tanaman maka proses fotosintesis dapat berjalan dengan baik yang ditandai dengan warna daun lebih hijau dan pertumbuhan vegetatif berjalan dengan baik. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Pertumbuhan vetegatif jumlah daun tanaman kacang tanah pada perlakuan K2 . % kubis bunga 75% kacang tana. K3 . % kubis bunga dan 50% kacang tana. , dan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. kurang berjalan dengan baik sehingga terdapat perbedaan banyaknya jumlah daun. Hal tersebut diduga tanaman kubis bunga yang ada dalam satu area pertanaman sedang berada dalam fase generatif sehingga membutuhkan unsur hara yang cukup juga untuk mendukung pertumbuhannya. Pada fase tersebut tanaman akan membutuhkan N dalam menghasilkan karbohidrat yang nantinya akan disimpan dan digunakan dalam proses pembungaan tanaman. Proporsi jumlah tanaman kubis bunga yang terdapat pada perlakuan tumpangsari K2 . % kubis bunga dan 75% kacang tana. K3 . % kubis bunga dan 50% kacang tana. , dan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. membuat adanya kompetisi dalam hal penyerapan unsur hara. Sementara itu pada umur 14, 21, dan 35 hst kacang tanah masih mampu memberikan pertumbuhan jumlah daun yang optimal walaupun dimungkinkan terjadinya kompetisi dengan kubis bunga. Hal tersebut diduga kerena kemampuan tanaman kacang tanah dalam memfiksasi N di udara sehingga membuat keberadaan unsur hara N didalam tanah masih terpenuhi untuk kedua tanaman. Bobot Biji Kacang Tanah . Berdasarkan menunjukan bahwa pengaruh uji proporsi jumlah tanaman dalam sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah tidak memberikan pengaruh nyata pada setiap perlakuannya. Tabel 5. Rata Ae Rata Bobot Biji Kacang Tanah Pada Tumpangsari Kubis Bunga dengan Kacang tanah Rata Ae Rata Bobot Biji Kacang Tanah Per Tanaman . 25% Kubis Bunga dan 75% kacang Tanah 23,50 a 50% Kubis Bunga dan 50% Kacang Tanah 24,15 a 75% Kubis Bunga dan 25% Kacang Tanah 24,45 a 100% Kacang Tanah 23,75 a Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% Kode Perlakuan Pada penelitian ini, pemberian proporsi populasi tanaman tidak memberikan pengaruh nyata pada bobot biji kacang tanah per tanaman. Hal tersebut diduga karena sudah tidak adanya persaingan antar tanaman yang terjadi pada saat memasuki fase pembentukan buah sehingga memungkinkan tanaman untuk tumbuh secara Tidak adanya kompetisi tumbuh antar tanaman memungkinkan pertumbuhan dalam memanfaatkan sumberdaya menjadi lebih baik sehingga dapat menghindari resiko kegagalan atau perbedaan tumbuh antar tanaman. Kebutuhan unsur hara menjadi penting bagi tanaman terutama pada saat pembentukan biji. Menurut Irwan dan Nurmala . dalam Elfiza & Nilahayati . , unsur hara makro fosfor sangat dimanfaatkan dalam pembentukan bunga. Bunga yang terbentuk akan sangat mempengaruhi jumlah polong yang terbentuk sehingga berkolerasi pula pada berat biji yang dihasilkan. Keberadaan N dalam tanah juga sangat berpengaruh dalam pembentukan berat biji Menurut Donggulo et al. , . tanaman akan membutuhkan pasokan N yang relatif tinggi pada saat pengisian biji untuk berfotosintesis, jika pasokan N kurang atau tidak memenuhi maka pengisian biji akan berkurang e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 yang berbeda akan berpengaruh terhadap hasil akhir produksi suatu tanam. Semakin besar proporsi tanam yang diterapkan maka akan semakin besar pula hasil panen yang akan Pada perlakuan K5, tanaman kacang tanah mampu menyerap unsur hara dengan baik walaupun memiliki proporsi jumlah tanaman Hal tersebut sejalan dengan penelitian Rusbiyati et al. , . yang mengatakan proporsi populasi tanaman tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah tanaman dikarenakan masih terciptanya lingkungan yang optimal sehingga tanaman mampu memanfaatkan faktor tumbuh dengan baik. Hasil Tanaman Per Petak . Berdasarkan menunjukan bahwa uji proporsi jumlah tanaman dalam sistem tumpangsari kubis bunga dan kacang tanah memberikan pengaruh nyata terhadap produksi per petak usia 94 hst. Berdasarkan hasil uji BNT taraf 5%, perlakuan K5 . % kacang tana. memberikan nilai rerata tertinggi sebesar 0,990 kg, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal tersebut terjadi karena proporsi tanam yang berbeda pada setiap petak percobaan. Proporsi jumlah tanaman Tabel 6. Rata Ae Rata Hasil Tanaman Per Petak Kacang Tanah Pada Tumpangsari Kubis Bunga dengan Kacang Tanah Rata Ae Rata Hasil Tanaman Per Petak Kacang Tanah Kode Perlakuan 25% kubis bunga dan 75% kacang tanah 0,774 b 50% Kubis Bunga dan 50% kacang tanah 0,552 c 0,300 d 75% Kubis Bunga dan 25% kacang tanah 0,990 a 100% kacang tanah Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT sistem tumpangsari dinilai mampu memberikan dampak positif untuk lingkungan jika dibandingkan dengan budidaya monokultur. Menurut Edi et al. , . dalam Mileniawati et , . sistem budidaya tumpangsari biasanya dilakukan dengan olah tanah minimum sehingga dengan cara tersebut mampu meminimalisir pelindian unsur hara, meningkatkan laju infiltrasi air hujan dan mengurangi laju erosi tanah terutama pada lahan kering. Mariani . menyatakan dengan pertanaman tumpangsari dapat memberikan keuntungan jika dibandingkan dengan sistem monokultur karena produktivitas lahan yang semakin tinggi dan juga resiko untuk mendapatkan kegagalan panen akan lebih kecil Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) Berdasarkan perhitungan Nilai Kesetaraan Lahan (NKL), perlakuan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. memberikan nilai sebesar 1,13 sehingga dinilai menguntungkan untuk Sementara itu pada perlakuan K2 dan K3 memiliki nilai <1 sehingga proporsi tanam tersebut kurang menguntungkan jika diterapkan dalam sistem tumpangsari. Budidaya tumpengsari akan menguntungkan secara agronomis apabila memiliki nilai NKL >1 (Rifai et al. , 2014 dalam Rusbiyati et al. , 2. Tumpangsari merupakan teknik budidaya tanaman yang bisa diterapkan selain monokultur atau pertanaman tunggal. Budidaya dengan e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Tabel 7. Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) Pada Tumpangsari Kubis Bunga dan Kacang Tanah Kode Perlakuan Nilai Kesetaraan Lahan 25% Kubis bunga dan 75% Kacang tanah 0,916 50% Kubis bunga dan 50% Kacang tanah 0,956 75% Kubis bunga dan 25% Kacang tanah 1,13 Sawit (Elaeis Jac. Agosamudra. Jurnal Penelitian. : 22 Ae Kesimpulan Terdapat perngaruh nyata dalam uji porporsi jumlah tanaman dalam sistem tumpangsari kubis bunga (Brassica oleracea L. dan kacang tanah (Arachis hypogaea L. Kanci. pertumbuhan jumlah daun kubis bunga 7 hst, jumlah daun kacang tanah 42 hst, bobot krop kubis bunga, dan hasil tanaman per petak kubis bunga dan kacang tanah. Sementara itu pada peneitian ini tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada pengamatan jumlah daun kubis bunga 14, 21, 28 hst, jumlah daun kacang tanah 14, 21, 35 hst, dan bobot biji per tanaman kacang tanah. Pada penelitian ini memberikan hasil yaitu proporsi jumlah tanaman terbaik dalam sistem tumpangsari ditunjukkan pada perlakuan K4 . % kubis bunga dan 25% kacang tana. yang memberikan nilai NKL (Nisbah Kesetaraan Laha. sebesar 1,13 sehingga dinilai menguntungkan untuk dilakukan budidaya secara tumpangsari. Elfiza. dan Nilahayati. Respon Pemberian Beberapa Konsentrasi Pupuk Organik Keragaan Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogaea L. Jurnal Agrium. Vol. : 157 Ae 165. Gomez. Kwanchai dan Arturo. Gomez. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian edisi Kedua. Universitas Indonesia. Jakarta. Junaidi. Ahmad. Pengaruh Suhu Perendaman Terhadap Pertumbuhan Vigor Biji Kopi Lampung (Coffeacanophor. Junral Inovasi Penelitian. Vol. Luthfina. Haryono. Historiawati. Hasil tanaman Kubis Bunga (Brassica oleracea var. botrytis L. ) Pada Jarak Tanam dan Mulsa Organik. Jurnal Ilmu Pertanian dan Subtropika. : 18 Ae 23. Daftar Pustaka