Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. Evaluasi Morfometrik dan Umur Kawin Pertama Kambing Peranakan Ettawa Betina di Kota Samarinda Rizky Zein1A. Surya Nur Rahmatullah2 Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman A Email: riskyzein96@gmail. Abstrak Kambing Peranakan Ettawa (PE) termasuk keragaman hayati Indonesia penghasil daging dan susu. Penelitian bertujuan mengetahui kesesuaian bobot badan (BB) dari hubungan morfometrik Tinggi Bahu (TB). Panjang Badan (PB) dan Lingkar Dada (LD) kambing PE di Kota Samarinda menurut SNI, dan rata-rata umur kawin pertama. Penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling, berdasarkan kriteria peternak memiliki populasi kambing PE, umur antara 8-12 bulan. Sampel sasaran 44 ekor kambing betina, parameter yang diukur meliputi bobot badan, tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, dan umur kawin Analisis data menggunakan regresi linier sederhana, untuk mengetahui koefisien korelasi dan koefisien determinasi. Perfoma reproduksi kambing perah PE berada pada umur kawin pertama 10,23A0,60 bulan . , bobot badan dan morfometrik 8-12 bulan, memiliki keeratan tinggi di bandingkan morfometrik antara bobot badan dan panjang badan berdasarkan koefisien korelasi R= 0,618, serta koefisien determinasi R2= 0,382. Analisis menunjukkan persentase kambing PE betina 81,82% sesuai SNI 7352. 1: 2015, sebesar 81,82%. Kata kunci: Kambing peranakan ettawa betina. Morphometrics Evaluation and First Mating Age of Crossbreed Female Ettawa in Samarinda City Abstract The Ettawa Crossbreed Goat (ECG) is one of the Indonesian biodiversity which produces meat and milk. This study aims to determine the suitability of the body weight (BW) of the morphometric relationship of Shoulder Height (SH). Body Length (BL), and Chest Circumference (CC) of ECG in Samarinda City according to SNI, and what is the average age at first mating. The research was conducted in three North Samarinda Districts. Kunjang and Sambutan, during the implementation of June-July 2018. The sampling method was purposive sampling, sampling namely techniques with limits determined by the researcher by deliberately following certain criteria. The determination of a sample of goat breeder respondents was carried out with the criteria of goats aged 8-12 months. The target sample was 44 ewe goats, with measurement parameters such as body weight, shoulder height, body length, and chest circumference, using scales and measuring tape. The results of the study were to determine the age at first and the morphometrics of ewe ECG in Samarinda City. Data were analyzed using correlation and simple regression analysis methods. The reproductive performance of PE dairy goats in Samarinda City, namely 10. 23A0. 60 months or around 333 days from the age of first mating. Weight and morphometric 8-12 months who have a high closeness compared to other morphometric ie. between body weight and body length with R= 0. 618, and R2= 0. The percentage of ewe ECG in Samarinda City according to SNI 7352. 1: 2015 amounted to 81. The study showed that the percentage of female ECG in Samarinda City that conforms to SNI 7352. 1: 2015 is 81. Key words: Ettawa crossbreed goat. Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. PENDAHULUAN Kambing ruminansia kecil, banyak dipelihara masyarakat dalam skala kecil maupun Kambing memiliki prospek baik pemeliharaan relatif sederhana, dan Kambing Peranakan Ettawa (PE) memiliki potensi yang besar sebagai ternak dwiguna . enghasil daging dan sus. dalam pengembangan usaha, sehingga banyak masyarakat mulai tertarik untuk memeliharanya (Garantjang, 2. Kambing PE tersebar luas di Indonesia diantranya di Samarinda. Kalimantan Timur. Kambing PE tahan terhadap penyakit, mampu beradaptasi dengan baik dan tergolonglincah. Bobot badan kambing dapat diketahui melalui dua metode, yaitu: penimbangan secara langsung dan pendugaan. Peternak yang curang biasanya akan memberikan pakan sebanyak mungkin sebelum menjual kambing untuk meningkatkan bobot badan kambing, oleh karena itu pendugaan bobot badan perlu dilakukan dengan cara mengukur tubuh seperti tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada untuk mendapatkan hasil badan yang lebih akurat (Victori et al. , 2. Perkembangbiakan kambing melalui perkawinan dilakukan menghasilkan dan melanjutkan keturunan sesuai yang diharapkan, secara kuantitas maupun Perkawinan ternak kambing dapat dilakukan pada umur 6-8 bulan atau 10. bulan setelah mencapai dewasa tubuh dengan cara menggabungkan betina yang sedang birahi dengan pejantan dalam satu kendang pada waktu yang tepat, yaitu: 1218 jam setelah birahi pertama (Setiawan dan Tanius, 2. Kambing PE yang dipilih untuk dijadikan bibit harus memiliki kualitas baik, kuantitatif, maupun umur kawin pertama, agar diperoleh keturunan yang memiliki produktivitas tinggi. Persyaratan mengenai kriteria bibit kambing PE telah ditetapkan dalam SNI 7325: 2015 (BSN, 2. Guna mempersiapkan bibit kambing PE di Kota Samarinda berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian tentang evaluasi morfometrik dan umur kawin pertama kambing PE di Kota Samarinda. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2018 di Kota Samarinda Kecamatan Samarinda Utara. Sambutan. Sungai Kunjang. Penelitian menggunakan 44 ekor kambing PE betina umur 8-12 bulan. Peralatan yang digunakan adalah timbangan gantung jarum 50 kg, pita ukur dengan panjang 150 cm . ingkat ketelitian 0,1 c. , alat tulis, kamera untuk dokumentasi dan recording umur kawin pertama kambing PE. Penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahapan, pengumpulan data menggunakan metode survei, dibantu dengan kuensioner (Sugiyono, 2. Survei awal dilakukan untuk mendata dan mengetahui jumlah populasi kambing PE betina untuk mengetahui bobot badan dan ukuran statistik vital, yang ada Kecamatan Samarinda Utara. Kecamatan Sambutan dan Kecamatan Sungai Kunjang. Data penelitian berupa data primer dan Data primer dikumpulkan dari wawancara langsung dengan pemilik Data sekunder disuport dari data yang ada di Dinas Pertanian Kota Samarinda dan peternak. Data yang diperoleh pada penelitian ini ditabulasi dan dianalisa menggunakan aritimatik mean dan standar deviasi. Data masing masing ternak dibandingkan dengn standar SNI, persentase kambing, korelasi dan regresi ternak yang memiliki sifat kuantitatif kambing PE betina sesuai Berikut pendekatan rumus yang digunakan untuk mengukur persentase kambing PE betina bibit yang memenuhi SNI. Persentase Kambing PE: yo yaOyaoyayauyayaya yaayaE yauyayayayayao yaeyasyaO ya yayaya % . yaeyayauyayayaya yayayayauyaoya yayaoyayayayau Perhitungan korelasi dan regresi (Nurgiartiningsih, 2. Koefisien korelasi sederhana (R): Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. yoyoya yoOe . o yoya ya yoy. oyoya y. Oo. oyoyaya Oe }. oyo ya Oe yea ya Kofisien determinasi (R. ycya = . ya yeo yayaya% . Koefisien regresi sederhana . yeE= . oyoya ). oyoya ) ya . oyeoya Oe yoyeoya yoOe A . Konstanta . yeC= . oyoOeyeEyoyoya ) yea A . Persamaan regresi sederhana yo = yeC yeEyeo A . Keterangan: Y = Bobot Badan X = Ukuran Tubuh a = Konstanta b = Koefisienregresi n = Jumlah sampel HASIL DAN PEMBAHASAN Morfometrik Kambing PE Betina Hasil penelitian menunjukan bahwa kambing PE betina di Kota Samarinda memiliki karakteristik fisik seperti muka cembung, tanduk pendek, telinga Panjang terkulai, warna bulu coklat putih dan hitam putih, memiliki bulu rewos. Data rataan morfometrik (Tabel . Tabel 1. Nilai Rataan dan Standar Deviasi Karakteristik Morfometrik Kambing PE Betina . -12 bula. Rata-rata SD Karakteristik Betina . Bobot Badan . 23,84 A 4,28 Tinggi Pundak . 62,20A 3,90 Panjang Badan . 55,14A 2,80 Lingkar Dada . 66,27A 4,35 Sumber: Data Primer, 2018 Nilai rata-rata bobot badan, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada secara berurutan, yaitu: 23,84A4,28 kg, 62,20A3,90 55,14A2,80 66,27A4,35 cm di Samarinda. Faktor-Faktor Mempengaruhi Morfometrik Kambing PE Morfometrik kambing PE di Kota Samarinda tergantung pada dua faktor, yaitu: lingkungan dan genetik yang berpengaruh terhadap ukuran-ukuran tubuh dan bobot badan. Lingkungan: Kualitas kambing dipengaruhi oleh lingkungan seperti kandang, suhu dan . Kandang merupakan suatu tempat untuk melindungi ternak dari dampak negative lingkungan dan hewan pemangsa, tempat berteduh dari hujan dan panas matahari, serta sebagai tempat untuk beristirahat pada siang hari dan tidur pada malam hari (Wiradarya dan Murca, . Suhu: suhu dan kelembaban udara merupakan dua factor iklim yang mempengaruhi produksi dan reproduksi ternak, karena dapat menyebabkan perubahan keseimbangan panas dalam keseimbangan energi, dan keseimbangan tingkah laku ternak. Pakan: Ketersediaan pakan yang baik dan berkualitas sangat produktivitas ternak. Genetik: Faktor yang menetukan tingkat keberhasilan dalam peternakan adalah tersedianya bibit yang baik dan memenuhi kriteria bibit. Program seleksi dapat dilakukan berdasarkan pada ukuran vital tubuh pada anak . menurut tipe kelahirannya. Ukuran tubuh ternak termasuk hal paling penting untuk mengetahui ukuran-ukuran vital tubuh ternak yang memiliki bentuk tubuh normal atau tidak. Berdasarkan informasi tentang ukuran vital tubuh anak kambing tipe kelahiran, diharapkan dapat menjadi pedoman untuk usaha sedini mungkin dalam meningkatkan produktivitas ternak kambing di Indonesia. Cempe yang berasal dari kelahiran tunggal mempunyai ukuran vital yang lebih besar dari pada anak kambing yang berasal dari kelahiran kembar dua, tiga (Faozi et al. , 2. Korelasi Morfometrik terhadap Bobot Badan Hasil perhitungan nilai koefisien didapatkan nilai korelasi dan koefisien determinasi morfometrik terhadap bobot badan kambing PE di Samarinda (Tabel . Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. Tabel 2. Interprestasi terhadap koefisien korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 Ae 0,199 Sangat endah 0,20 Ae 0,399 Rendah 0,40 Ae 0,599 Sedang 0,60 Ae 0,799 Kuat 0,80 Ae 1,000 Sangat Kuat Data koefisien korelasi dan koefisien determinasi morfometrik terhadap bobot badan di Samarinda (Tabel . Tabel 3. Koefisien korelasi (R) dan koefisien determinansi (R. antara morfometrik dengan bobot kambing PE betina di Samarinda. Koefisien Koefisien Ukuran Umur Korelasi Determinasi Tubbuh (R) (R. 0,360 0,130 Bakalan TP-BB PB-BB 0,618 0,382 LD-BB 0,530 0,281 Sumber: Data Primer, 2018. Keterangan: BB= Bobot Badan. TP= Tinggi Pundak. PB= Panjang Badan. dan LD Lingkar Dada. Koefisien korelasi antara tinggi Pundak dengan bobot badan kambing PE betina, yaitu: 0,360, artinya tinggi pundak dan bobot badan memiliki hubungan rendah Tinggi Pundak akan berkembang dengan cepat dan berangsurAeangsur akan pertumbuhan pundak menunjukan tulang penyusun kaki mengalami pertumbuhan yang baik dan berfungsi sebagai menyanggah tubuh ternak (Septian et al. Nilai koefisien determinansi 0,130 mempengaruhi tinggi pundak dengan bobot badan sebesar 13,0%. Persamaan Regresi Morfometrik Kambing PE Betina Data persamaan regresi morfometrik kambing PE betina umur. -12 bula. di Samarinda (Tabel . Tabel 4. Persamaan regresi sederhana morfometrik dengan bobot badan kambing PE betina di Samarinda. Umur PersmaanRegresi (Y) Keterangan Bibit Y = -696 0,394 Signifikan (Tinggi Punda. Y = -28,151 0,943 Bulan Signifikan (Panjang Bada. Y = -10,641 0,520 Signifikan (Lingkar Dad. Sumber: Data Primer, 2018 Hasil uji-t koefisien ukuran tubuh dan nilai probabilitas . <0,. , nilai t hitung lebih besar di bandingkan t tabel dan nilai probabilitas di bawah . <0,. , artinya variabel (X) atau TP. PB. LD berpengaruh terhadap varibel (Y), yaitu: bobot badan diperoleh nilai t hitung tinggi pundak umur 8-12 bulan signifikan . <0,. , nilai t hitung panjang badan signifikan . <0,. dan nilai t hitung lingkar dada signifikan . <0,. Karakteristik Fenotipe Karakteristik fenotipe . kambing PE betina bibit menurut SNI 1: 2015, yaitu: . memiliki warna . telinga panjang. terdapat bulu rewos/ gembyeng/ surai, dan ekor kecil menggantung terkulai. Karakteristik fenotip ekambing PE di Kota Samarinda Fenotipe kambing PE betina memiliki warna bulu dominan putih-hitam sesuai dengan indukanya atau tetuanya dengan jenis yang sama, yaitu: kambing PE dengan warna bulu hitam-putih. Sifat kulitatif kambing yang ada di Kota Samarinda (Tabel . Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. Tabel 5. Karateristik fenotipe kambing PE betina bibit di Samarida. Fenotipe Karakteristik Warna Warna bulu kombinasi putih, hitam dan coklat Bentuk Muka cembung dan tanduk Muka Bentuk Telinga panjang terkulai dan Telinga Bulu Paha belakang terdapat bulu rewos/ gembyeng Sumber: Data Primer, 2018. Kambing PE di Kota Samarinda yang telah diteliti memiliki warna bulu hitam-putih dan putih coklat, telinga yang panjang dan melipat, bagian tubuh paha belakang memiliki rewos/ gembyeng, memliki muka cembung dan tanduk yang Karateristik fenotipe di Kota Samarinda memiliki persamaan yang sesuai dengan kualitatif SNI 7352. 1: 2015 (BSN, 2. SNI Kambing PE Betina di Samarinda Hasil persentase Standar Nasional Indonesia (SNI) setiap parameter dan jumlah ternak yang sesuai dengan SNI 2015 di Kota Samarinda (Tabel . Tabel 6. Persentase SNI antaraMorfometrik dan bobot badan kambing PE betina di Samarinda. Persentase % Parameter Sesuai Tidak Sesuai SNI SNI Bobot Badan 86,36 13,63 Tinggi Pundak 95,45 4,55 Panjang Badan 95,45 4,55 Lingkar Dada 100,00 Sumber: Data Primer, 2018. Karakteristik kambing PE betina umur 8-12 bulan di Kota Samarinnda telah sesuai sesuai dengan SNI . Paramater lingkar dada dan panjang badan memiliki kesesuaian tinggi terhadap SNI mencapai 100,00%, dan 95,45%, serta parameter bobot badan memiliki kesesuain rendah sebesar 86,36%. Korelasi antara morfometrik dengan bobot tertinggi, yaitu: persentase sesuai SNI, yaitu: 95,45%, dan tidak sesuai SNI sebesar 4,55%. Tabel 7. Jumlah kambing PE betina bibit yang sesuai SNI di Samarinda. Tidak Sesuai Uraian Sesuai Total SNI SNI Jumlah ternak . Persentase (%)81,82 18,18 100,00 Sumber: Data Primer, 2018. Berdasarkan hasil pengukuran dari jumlah ternak sampel sasaran 44 ekor, kesesuaian terhadap SNI mencapai 36 ekor . ,82%), dan tidak sesuai 8 ekor . ,18%). Lingkungan yang mampu memberikan pengaruh terhadap kualitas kambing bibit PE, antara lain: kandang, suhu lingkungan kandang, pakan dan Pakan memberikan pengaruh positif terhadap pemenuhan standar SNI, pakan dipenuhi melalui pemberian hijauan berupa sebanyak dua kali sehari. Umur Kawin Pertama (First Mating Ag. Data umur kawin pertama kambing PE di kota Samarinda berdasarkan hasil penelitian (Tabel . Tabel 8. Umur Kawin Pertama Kambing PE di Kota Samarinda Analisis deskriptif UKP . Rataan 10,23 0,60 Sumber: Data Primer, 2018. Keterangan: UKP = Umur Kawin Peratama, n . = 44 ekor Proses perkawinan kambing yang terjadi di peternak yang ada di Kota Samarinda pernyatan (Atabany, 2. , yakni: kambing sebaiknya dikawinkan pada saat sudah mencapai dewasa tubuh yakni pada umur10-12 bulan dengan rataan bobot badan 30-40kg. Hasil penelitian lain yang mendukung untuk kawin pertama ternak kambing yakni 10-12 buan (Pralonkam et , 1. Ketidak seragaman umur kawin pertama kambing PE betina dikarenakan perbedaan lajut ingkat pertumbuhan ternak pemeliharaan ternak dan pengalaman Rata-rata umur kawin pertama kambing PE betina di Samarinda 10,23 Jurnal Peternakan Lingkungan Tropis Vol. 3 No. 2 (September, 2. Hal. bulan, atau 333 hari (Tabel . Kambing betina dikawinkan secara alami, karena peternak memiliki banyak kambing pejantan, dan bisa dikawinkan dengan pejantan dari peternak lain. Garantjang. Pertumbuhan anak kambing kacang pada berbagai umur induk yang dipelihara Sains dan Teknologi 4 . : 40-45. SIMPULAN Nurgiartiningsih. Evaluasi genetic pejantan Boer berdasarkan performans hasil persilangan dengan kambing lokal. Jurnal Ternak Tropika 12 . : 82-88. Evaluasi morfometrik dan umur kawin pertama kambing peranakan ettawa betina di Kota Samarinda, dapat disimpulkan: Kesesuaian bobot badan, ukuran lingkar dada, panjang badan dan tinggi badan kambing PE betina . -12 bula. mencapai persentase . ,82%), sesuai SNI 7352. 1:2015. Rataan umur kawin pertama kambing betina PE berkisar anta 10,23A0,60 bulan, atau selama 333 hari. Karakteristik fenotipe kambing PE betina telah memenuhi standar SNI 7352. 1: 2015, ditujukkan pada warna buluh kombinasi hitam putih dan coklat putih, telinga panjang dan melipat, dan bagian paha kaki belakang terdapat buluh rewos/ gembyeng/ DAFTAR PUSTAKA