Volume 5 Nomor 1 . Juni GENITRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN ISSN: 2964-7010 Kader Cerdas Gizi: Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Edukasi Gizi dalam Upaya Pencegahan Stunting pada Balita Fitria. Ni Wayan Noviani,G. A Martha Winingsih. Ni Made Darmiyanti Department of Midwifery. Poltekkes Kartini Bali. Indonesia Jl. Tukad Barito Timur No. Denpasar. Bali. Indonesia Corresponding author: Fitria Email: kirei25fitria@gmail. ABSTRAK Stunting pada balita masih menjadi salah satu permasalahan gizi yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Pencegahan stunting memerlukan keterlibatan berbagai pihak, salah satunya melalui penguatan peran kader posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam melakukan edukasi gizi sebagai upaya pencegahan stunting pada balita. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam pencegahan stunting balita melalui program Kader Cerdas Gizi. Kegiatan melibatkan ibu kader posyandu sebanyak 40 orang di Desa Dawan Kaler. Metode kegiatan meliputi penyuluhan pemenuhan gizi ibu balita, penyuluhan pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader dalam melakukan edukasi gizi serta pemantauan status gizi. Program Kader Cerdas Gizi dapat menjadi strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif dan berkelanjutan dalam mendukung percepatan penurunan stunting pada balita. Kata Kunci: Kader posyandu. Stunting, 1. 000 HPK. Edukasi Gizi ABSTRACT Stunting in toddlers remains a nutritional problem that impacts physical growth, cognitive development, and the quality of human resources in the future. Stunting prevention requires the involvement of various parties, one of which is through strengthening the role of Posyandu cadres as the spearhead of health services in the This community service activity aims to improve the knowledge and skills of Posyandu cadres in providing nutrition education as an effort to prevent stunting in toddlers. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of Posyandu cadres in preventing stunting in toddlers through the NUTRITIONAL KADER SMART program. The activity involved 40 Posyandu cadre mothers in Dawan Kaler Village. The activity methods included counseling on fulfilling nutritional needs for mothers of toddlers, counseling on the use of local foods as a source of nutritious food, and mentoring cadres in providing education to families. The results of the activity showed an increase in the knowledge and skills of cadres in providing nutrition education and monitoring nutritional status. The NUTRITIONAL KADER SMART program can be an effective and sustainable community empowerment strategy to support the acceleration of stunting reduction in Keyword: Posyandu cadres, stunting, 1,000 HPK. Nutrition Education. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/index PENDAHULUAN Stunting pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian global karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, kemampuan belajar, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia di masa mendatang (WHO. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang terjadi terutama pada periode 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun (WHO & Bank, 2. Prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, namun masih menjadi permasalahan kesehatan yang Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting nasional mencapai 19,8% atau sekitar 4,48 juta balita, menurun dibandingkan tahun 2023 sebesar 21,5%. (Kemenkes RI. , 2. Angka stunting di Provinsi Bali lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional, namun diperlukan perhatian program berkelanjutan. Kabupaten Klungkung merupakan kabupaten paling kecil ke-2 dari 9 Kabupaten dan Kodya di Bali. Data UPTD Puskesmas Dawan I yang mewilayahi Desa Dawan Kaler tidak ada AKI dan AKB, tetapi masih terdapat dua orang dari 51 . ,9%) balita Desa Dawan Kaler(Kabupaten Klungkung Pemerintah, 2. Stunting merupakan masalah multifaktorial yang dipengaruhi oleh kurangnya asupan gizi, praktik pemberian makan bayi dan anak yang belum optimal, penyakit infeksi berulang, sanitasi yang kurang baik, serta rendahnya pengetahuan keluarga mengenai kesehatan dan gizi anak (Black et al. , 2. Oleh karena itu, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan komprehensif melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif yang dilakukan secara berkelanjutan sejak periode 1. 000 HPK . (WHO & Bank, 2. Salah satu upaya strategis dalam pencegahan stunting adalah melalui penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, termasuk optimalisasi peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. Kader posyandu berperan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat dalam kegiatan pemantauan pertumbuhan balita, penyuluhan kesehatan, deteksi dini masalah gizi, serta pendampingan keluarga dalam menerapkan praktik gizi yang tepat (Kemenkes RI, 2. Namun, keterampilan kader dalam memberikan edukasi gizi masih menjadi tantangan yang dapat memengaruhi efektivitas upaya pencegahan Program Kader Cerdas Gizi merupakan bentuk pemberdayaan kader posyandu melalui edukasi gizi dan pendampingan untuk meningkatkan kompetensi kader, diharapkan kader mampu menjadi agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran keluarga sehingga dapat mendukung percepatan penurunan angka stunting pada balita. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Pendekatan ini dilakukan melalui peningkatan kapasitas kader posyandu sebagai agen perubahan dalam upaya pencegahan stunting pada balita. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan kader, penyusunan media edukasi, pelaksanaan penyuluhan, pelatihan keterampilan, serta evaluasi kegiatan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Dawan Kaler. Kabupaten Klungkung. Provinsi Bali pada bulan Mei tahun 2026 Sasaran kegiatan adalah kader posyandu yang aktif di wilayah Desa Kusamba. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah peserta sebanyak 40 kader posyandu yang memenuhi kriteria sebagai peserta Metode pelaksanaan kegiatan terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan Pada tahap persiapan dilakukan koordinasi dengan pemerintah desa, petugas puskesmas, serta kader posyandu untuk mengidentifikasi permasalahan gizi yang ada di Selain itu, dilakukan penyusunan materi edukasi mengenai konsep 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pencegahan KEK pada ibu hamil, pencegahan stunting pada balita, pemantauan status gizi, dan pemanfaatan pangan lokal bergizi. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan program. Evaluasi pengetahuan kader dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test yang berisi pertanyaan mengenai stunting, dan pemenuhan gizi balita. Keberhasilan kegiatan ditentukan berdasarkan peningkatan skor pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi. Selain itu, dilakukan evaluasi keterampilan kader melalui lembar observasi saat kader melakukan simulasi edukasi gizi dan pengukuran status gizi balita. Gambar 1. Koordinasi dengan pihak terkait Tahap pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan penyuluhan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, serta Media dan sarana yang digunakan meliputi materi, leaflet, alat tulis. LCD. Kegiatan pendampingan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam menyampaikan edukasi kepada keluarga balita. Gambar 3. Pengisian Kuesioner pada Ibu Kader Posyandu Data hasil pre-test dan post-test dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan nilai rata-rata sebelum dan sesudah kegiatan. Program dinyatakan berhasil apabila terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan peserta dalam menjawab kuesioner dan mampu melakukan edukasi gizi dengan kategori baik berdasarkan lembar observasi dan peserta menunjukkan keterlibatan aktif selama seluruh rangkaian Gambar 2. Penyuluhan Gizi dan Stunting pada Ibu Kader Posyandu Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Distibusi Frekuensi Pengetahuan Ibu kader Posyandu tentang kebutuhan gizi ibu balita dan stunting Jenis Tes Pretest Min Max Mean 13,63 0,952 Posttest 14,63 0,586 Hasil menunjukkan bahwa pemberian edukasi kepada ibu kader posyandu dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kebutuhan gizi balita, pencegahan stunting, serta pemanfaatan rengginang sebagai alternatif cemilan sehat berbasis pangan lokal. Peningkatan tersebut terlihat dari nilai rata-rata pengetahuan responden yang mengalami kenaikan dari 13,63 pada saat pre-test menjadi 14,63 pada post-test. Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Peningkatan nilai minimum dari 11 pada pretest menjadi 13 pada post-test menunjukkan bahwa kader yang sebelumnya memiliki tingkat peningkatan setelah mendapatkan intervensi Selain itu, penurunan nilai standar 0,952 0,586 pengetahuan antar peserta menjadi lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa penyampaian materi melalui metode sosialisasi dapat memberikan pemahaman yang lebih merata kepada seluruh Keberhasilan peningkatan pengetahuan kader dipengaruhi oleh metode pendidikan kesehatan yang menggunakan komunikasi dua arah, seperti ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab yang dapat meningkatkan penerimaan dan pemahaman informasi kesehatan(Notoatmodjo, 2. Kader posyandu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik berperan penting sebagai agen perubahan dalam memberikan edukasi kesehatan, melakukan pemantauan pertumbuhan balita, serta mendukung upaya pencegahan stunting di masyarakat (RI, 2. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi akibat kekurangan asupan gizi dalam waktu lama, penyakit infeksi berulang, serta berbagai faktor sosial ekonomi dan lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan anak (WHO, 2. (WHO & Bank, 2. Dampak stunting tidak hanya menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi berkaitan dengan keterlambatan perkembangan kognitif, menurunnya kemampuan belajar, dan produktivitas pada masa dewasa (Black et al. , 2. (Maria Gabriela Yuniati. Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemenuhan kebutuhan gizi yang optimal, praktik pemberian makan bayi dan anak yang tepat, serta pemantauan pertumbuhan secara rutin (Kemenkes RI, 2023. WHO, 2. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas kader posyandu melalui program edukasi menjadi strategi penting untuk memperkuat promosi kesehatan dan perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi balita (RI, 2. Pemanfaatan pangan lokal sebagai cemilan sehat dengan bahan sumber protein, dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan variasi konsumsi makanan bergizi pada balita karena mudah diterima masyarakat dan sesuai dengan budaya konsumsi setempat Pengembangan pangan lokal juga mendukung ketahanan pangan keluarga serta pemanfaatan sumber daya daerah secara berkelanjutan (WHO, 2. (Organization. Hasil pengabdian ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menyatakan bahwa intervensi pendidikan kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan kader maupun ibu balita mengenai gizi dan pencegahan stunting, sehingga kader yang memiliki pengetahuan baik dapat berperan lebih optimal dalam mendukung penurunan angka stunting di masyarakat (Notoatmodjo, 2018. Kemenkes RI, 2. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm SIMPULAN DAN SARAN UCAPAN TERIMAKASIH