Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Student Engagement in Islamic Studies through Interactive Learning in RAM 204 Tunas Bangsa: A Classroom Action Research Silvia Eka Widiawati 1. Nafiyah 2 1 RAM 204 Tunas Bangsa 2 BA Aisyiyah Bungur 2 Correspondence: Silviaekawidiawati87@gmail . Com Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Interactive Learning. Islamic Studies. Classroom Action Research. RAM 204 Tunas Bangsa. Student Engagement. Teaching Methods. Islamic Education. Student-Centered Learning. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) explores the impact of interactive learning methods on student engagement and understanding in Islamic Studies at RAM 204 Tunas Bangsa. Islamic Studies is an essential part of the curriculum in Islamic schools, and fostering an engaging learning environment is critical for ensuring students' deep understanding of the Traditional lecture-based teaching often fails to actively engage students, limiting their participation and interest in the subject. This study seeks to implement and evaluate the effectiveness of interactive learning techniques, such as group discussions, role-playing, and multimedia resources, to enhance students' involvement and comprehension in Islamic Studies. The research was conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. The participants were 30 students from a class at RAM 204 Tunas Bangsa. Data were collected through observations, student assessments, and feedback surveys before and after the implementation of interactive learning activities. The findings reveal a noticeable improvement in student engagement, with increased participation in discussions and activities. Students also demonstrated a better understanding of Islamic concepts and principles, particularly in applying them to real-life scenarios. This study highlights the importance of incorporating interactive and student-centered learning strategies in Islamic Studies education. The results suggest that when students are actively involved in the learning process, they are more likely to retain knowledge, improve critical thinking, and develop a positive attitude toward the subject. The research contributes to the ongoing efforts to modernize teaching methods in Islamic education, offering valuable insights for educators looking to enhance the quality of learning in Islamic schools. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa di sekolah-sekolah Islam. Namun, meskipun pendidikan agama Islam dianggap krusial, banyak sekolah masih mengandalkan metode pembelajaran yang tradisional, seperti ceramah atau hafalan, yang tidak selalu efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Pendekatan ini sering kali membuat siswa kurang terlibat dalam pembelajaran, sehingga mempengaruhi kualitas pendidikan yang mereka terima. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk memperkenalkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif. (Budi, 2. Metode pembelajaran tradisional cenderung memisahkan siswa dari pengalaman langsung dalam belajar. Dalam pembelajaran agama Islam, ini berarti bahwa siswa seringkali hanya menghafal teks dan ajaran tanpa benar-benar memahami bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis pengalaman, seperti Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 diskusi kelompok, proyek, dan pemecahan masalah, bisa menjadi alternatif yang lebih efektif dalam membangun pemahaman agama yang lebih mendalam dan aplikatif. (Fatimah, 2. Salah satu pendekatan yang dapat diimplementasikan untuk menggantikan metode tradisional adalah interactive learning. Pendekatan ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar, mendorong mereka untuk terlibat dalam diskusi, bermain peran, dan menggunakan berbagai media yang relevan dengan topik yang dipelajari. Dengan menggunakan metode ini, siswa dapat lebih mudah mengaitkan pelajaran agama dengan kehidupan mereka sehari-hari, membuat materi menjadi lebih relevan dan mudah dipahami. (Febriana, 2. Pentingnya pendidikan yang melibatkan siswa secara langsung tidak hanya berlaku untuk pengetahuan akademis, tetapi juga untuk pembentukan karakter. Pendidikan agama Islam yang berfokus pada pengembangan akhlak dan nilai-nilai moral harus mampu memotivasi siswa untuk menginternalisasi ajaran agama dalam tindakan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, metode yang dapat memfasilitasi proses ini perlu diterapkan agar siswa tidak hanya tahu, tetapi juga dapat mengaplikasikan ajaran agama dengan baik. (Siti, 2. Di RA Al-Huda, metode yang digunakan dalam pembelajaran agama Islam umumnya masih bergantung pada ceramah dan hafalan, yang seringkali tidak mampu menarik minat siswa. Dalam konteks ini, sangat penting untuk menerapkan metode yang mengajak siswa untuk berinteraksi lebih banyak dengan materi yang dipelajari. Metode pembelajaran interaktif seperti permainan peran atau diskusi kelompok dapat menjadi cara yang efektif untuk mengaktifkan siswa dan membuat mereka lebih tertarik pada pelajaran. (Kurniawan, 2. Penerapan metode interactive learning dapat mengatasi beberapa masalah yang ada dalam pendidikan agama Islam di RA Al-Huda. Salah satu keunggulan utama dari metode ini adalah meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang bersifat interaktif memungkinkan siswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, yang sangat penting dalam pembelajaran agama yang berbasis nilai. (Widodo, 2. Dalam penelitian yang dilakukan di beberapa sekolah lain, penerapan pembelajaran berbasis interaksi terbukti meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Misalnya, pada sebuah penelitian di Jakarta, model pembelajaran berbasis diskusi kelompok dan permainan peran dalam pembelajaran agama Islam meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep agama serta kemampuan mereka dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. (Hanafi, 2. Pembelajaran yang berbasis pada interaksi juga dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, komunikasi, dan empati. Dalam diskusi kelompok, siswa tidak hanya belajar untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain. Ini adalah keterampilan penting yang mendukung perkembangan pribadi mereka, terutama dalam konteks pembelajaran agama Islam yang menekankan pada nilai-nilai sosial dan moral. (Purnama, 2. Namun, meskipun interactive learning menunjukkan hasil yang positif, tantangan utama dalam implementasinya adalah pengelolaan waktu yang tepat. Pembelajaran yang melibatkan aktivitas diskusi dan permainan peran memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, perencanaan yang matang dalam alokasi waktu dan kegiatan yang dilakukan sangat penting agar pembelajaran tetap berjalan dengan lancar dan efektif. (Tika, 2. Di sisi lain, interactive learning juga dapat memperkaya pengalaman belajar dengan menggunakan teknologi, seperti video, aplikasi mobile, atau platform e-learning. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran agama Islam di RA Al-Huda dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan dapat mengakses berbagai sumber informasi yang relevan dengan materi yang diajarkan. Teknologi juga dapat membantu guru untuk lebih mudah Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memantau perkembangan siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan (Suhartini, 2. Adopsi teknologi dalam pembelajaran agama Islam tentu membutuhkan pelatihan yang memadai bagi guru. Guru di RA Al-Huda perlu diberikan pembekalan dalam penggunaan teknologi pendidikan agar mereka dapat mengintegrasikan alat-alat digital dengan cara yang Hal ini penting untuk memastikan bahwa penggunaan teknologi tidak hanya menjadi alat tambahan, tetapi juga menjadi bagian integral dari proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa. (Marzuki, 2. Selain itu, meskipun penggunaan teknologi dapat memperkaya pembelajaran, sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi digunakan dengan bijak dan sesuai dengan karakteristik Teknologi tidak boleh menggantikan interaksi langsung antara siswa dan guru, tetapi harus digunakan untuk mendukung dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Pembelajaran agama Islam di RA Al-Huda harus tetap berfokus pada pembentukan karakter dan pemahaman moral yang mendalam. (Sigit, 2. Meskipun tantangan dalam mengintegrasikan metode pembelajaran interaktif dan teknologi dalam pendidikan agama Islam di RA Al-Huda ada, hasil yang diperoleh dari implementasi model ini sangat menjanjikan. Penerapan metode interaktif terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman mereka terhadap ajaran agama Islam, serta keterampilan sosial mereka. Oleh karena itu, ada potensi besar untuk memperluas penerapan metode ini di sekolah-sekolah Islam lainnya. (Rizki, 2. Penting untuk terus mengevaluasi dan menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakan untuk memastikan bahwa pembelajaran agama Islam di RA Al-Huda dapat terus berkembang dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih aktif dan berbasis interaksi, diharapkan pendidikan agama Islam dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan pemahaman agama yang kuat dan aplikatif. (Kurniawan, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan interactive learning dalam pendidikan agama Islam dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di RA Al-Huda. Diharapkan bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman, serta memberikan wawasan baru bagi para pendidik di sekolah-sekolah Islam. (Tika. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. PTK dipilih karena metode ini memungkinkan peneliti untuk langsung memecahkan masalah dalam pembelajaran dan secara langsung mengamati hasil perubahan yang dilakukan dalam kelas. Melalui tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. PTK memberi kesempatan bagi peneliti untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan dalam proses pembelajaran yang berlangsung di RA Al-Huda. (Budi, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti merancang rencana pembelajaran yang lebih interaktif dan melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas seperti diskusi kelompok, permainan peran, dan penggunaan media pembelajaran yang relevan. Pembelajaran ini dirancang agar siswa dapat mengaplikasikan nilai-nilai Islam yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta lebih aktif dalam diskusi dan kegiatan kelompok. Rencana ini dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik siswa di RA Al-Huda. (Fatimah, 2. Pada tahap tindakan, guru akan melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun Siswa akan dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran interaktif yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap materi agama Islam. Peneliti juga Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 akan bertindak sebagai pengamat untuk memantau dan mencatat setiap aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Selain itu, peneliti juga mengamati keterlibatan siswa dalam kegiatan yang dilakukan dan respons mereka terhadap metode yang diterapkan. (Febriana, 2. Pada tahap observasi, peneliti melakukan pengamatan secara langsung terhadap dinamika pembelajaran yang terjadi di kelas. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan instrumen observasi yang telah disiapkan sebelumnya, yang mencatat aspek-aspek seperti tingkat partisipasi siswa, interaksi antara siswa dan guru, serta hasil pembelajaran yang dicapai. Data yang diperoleh dari observasi ini akan dianalisis untuk mengetahui seberapa efektif penerapan metode pembelajaran interaktif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman mereka terhadap materi agama Islam. (Siti, 2. Tahap terakhir adalah refleksi, di mana peneliti dan guru bersama-sama menganalisis hasil dari siklus yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil observasi dan tes, peneliti akan mengevaluasi keberhasilan penerapan metode pembelajaran interaktif dan menentukan langkah perbaikan untuk siklus berikutnya. Refleksi ini penting untuk memastikan bahwa pembelajaran yang diterapkan benar-benar memenuhi tujuan yang telah ditetapkan, serta memberikan umpan balik yang berguna untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran di masa depan. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan metode pembelajaran interaktif di RA Al-Huda menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam tingkat keterlibatan siswa. Sebagian besar siswa yang sebelumnya cenderung pasif mulai lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan permainan peran. Kegiatan interaktif ini berhasil menciptakan suasana yang lebih hidup dalam kelas, di mana siswa merasa lebih terlibat dan tertarik pada pelajaran agama Islam. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang merasa canggung dan kesulitan untuk mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode ini meningkatkan keterlibatan, beberapa siswa masih membutuhkan dorongan lebih untuk berbicara dan berinteraksi lebih aktif (Budi, 2. Salah satu temuan penting pada siklus pertama adalah peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Melalui diskusi kelompok dan permainan peran, siswa mampu mengaitkan ajaran agama Islam dengan situasi kehidupan sehari-hari mereka. Mereka lebih mudah memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita nabi dan ajaran Islam lainnya. Namun, beberapa siswa masih kesulitan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pemahaman konsep dasar agama meningkat, penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari masih memerlukan penguatan lebih lanjut melalui kegiatan yang lebih aplikatif (Fatimah, 2. Pada siklus kedua, dilakukan perbaikan dengan menambahkan variasi kegiatan, seperti penggunaan alat bantu visual dan media pembelajaran digital. Hasilnya, keterlibatan siswa dalam pembelajaran meningkat secara signifikan. Penggunaan video dan aplikasi berbasis game membantu siswa untuk lebih tertarik dan fokus pada materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga menjadi lebih percaya diri dalam berdiskusi dan mengungkapkan pendapat mereka di depan kelas. Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan teknologi dalam pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan membuat mereka lebih terlibat secara aktif dalam proses belajar (Febriana, 2. Namun, meskipun keterlibatan siswa meningkat, tantangan dalam pengelolaan waktu tetap menjadi masalah utama. Pembelajaran yang melibatkan banyak aktivitas interaktif memerlukan waktu yang lebih lama, sehingga tidak semua kegiatan dapat dijalankan dengan maksimal dalam waktu yang terbatas. Beberapa aktivitas terpaksa dipersingkat atau dihilangkan demi memastikan bahwa pembelajaran tetap berjalan sesuai dengan jadwal. Oleh karena itu, penting untuk merencanakan waktu dengan lebih hati-hati agar setiap aktivitas dapat berlangsung efektif dan sesuai dengan tujuan pembelajaran (Siti, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada aspek sosial, interaksi antar siswa meningkat pesat setelah penerapan metode pembelajaran interaktif. Dalam diskusi kelompok, siswa belajar untuk bekerja sama, mendengarkan pendapat teman, serta menghargai perbedaan. Pembelajaran berbasis kolaborasi ini juga membantu membangun rasa solidaritas di antara siswa dan mempererat hubungan Meskipun demikian, beberapa siswa yang lebih introvert masih merasa kesulitan dalam berinteraksi dengan teman-teman mereka. Untuk itu, perlu ada pendekatan yang lebih personal bagi siswa yang cenderung lebih tertutup agar mereka dapat lebih percaya diri dalam berpartisipasi dalam diskusi kelompok (Sigit, 2. Peningkatan keterampilan sosial juga terlihat dari kemampuan siswa untuk menyampaikan pendapat secara lebih jelas dan terstruktur. Pembelajaran yang mengedepankan diskusi kelompok dan permainan peran memungkinkan siswa untuk berlatih berbicara di depan umum dengan cara yang lebih santai dan menyenangkan. Sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan kemampuan berbicara mereka, yang juga berpengaruh pada keberanian mereka untuk mengungkapkan ide atau pendapat di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dapat meningkatkan keterampilan komunikasi siswa secara efektif (Rizki, 2. Di sisi lain, meskipun ada peningkatan dalam keterlibatan sosial dan komunikasi, beberapa siswa tetap menunjukkan ketidaktertarikan terhadap beberapa aktivitas yang dianggap Terutama dalam kegiatan yang lebih terstruktur dan membutuhkan waktu yang lebih lama, beberapa siswa mulai kehilangan fokus dan perhatian. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode pembelajaran interaktif umumnya lebih menarik, tetap dibutuhkan variasi dalam jenis aktivitas yang dilakukan agar semua siswa tetap terlibat sepanjang proses pembelajaran (Hanafi, 2. Meskipun sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan dalam pemahaman agama, beberapa masih kesulitan dalam menghubungkan ajaran Islam dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa siswa hanya mengingat materi yang diajarkan tanpa benar-benar memahami aplikasinya dalam tindakan nyata. Ini menunjukkan bahwa meskipun metode interaktif memperbaiki pemahaman kognitif, lebih banyak upaya diperlukan untuk memperkuat penghubungan antara pengetahuan agama dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, lebih banyak kegiatan berbasis praktik yang menghubungkan ajaran Islam dengan kehidupan nyata perlu diterapkan (Suhartini, 2. Namun, penggunaan teknologi sebagai bagian dari metode pembelajaran interaktif membawa dampak positif yang signifikan. Penggunaan video, aplikasi pembelajaran berbasis game, dan alat bantu visual lainnya terbukti meningkatkan antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran. Mereka merasa lebih terlibat dan tertarik pada materi yang disajikan. Meskipun demikian, penggunaan teknologi memerlukan infrastruktur yang memadai dan pelatihan bagi guru agar dapat memanfaatkan teknologi secara maksimal dalam pembelajaran agama Islam (Marzuki. Salah satu tantangan besar yang muncul adalah kurangnya kesiapan beberapa siswa dalam menggunakan teknologi yang diperkenalkan dalam pembelajaran. Beberapa siswa merasa canggung dan membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan media pembelajaran digital yang digunakan. Oleh karena itu, dalam implementasi teknologi dalam pembelajaran, diperlukan pendampingan lebih intensif untuk siswa agar mereka dapat memanfaatkan alat ini secara efektif dalam mendukung pembelajaran agama Islam (Kurniawan, 2. Pada siklus kedua, perubahan yang lebih positif dapat diamati dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab siswa terhadap tugas-tugas mereka. Dengan adanya metode pembelajaran yang lebih menarik, siswa menjadi lebih bersemangat dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, baik itu tugas individu maupun kelompok. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran yang lebih menyenangkan dan beragam dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif terlibat dalam proses belajar (Purnama, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Secara keseluruhan, penerapan metode pembelajaran interaktif berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran agama Islam di RA Al-Huda. Siswa tidak hanya lebih terlibat dalam pelajaran, tetapi juga mulai menginternalisasi ajaran agama yang mereka pelajari dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Meskipun terdapat beberapa tantangan dalam hal pengelolaan waktu dan penggunaan teknologi, hasil yang diperoleh dari siklus pertama dan kedua menunjukkan bahwa model pembelajaran ini efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan di RA Al-Huda, penerapan metode pembelajaran interaktif dalam pembelajaran agama Islam memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pemahaman, keterlibatan, dan keterampilan sosial siswa. Pembelajaran berbasis interaksi yang melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan aktif, seperti diskusi kelompok, permainan peran, dan penggunaan teknologi, terbukti mampu meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran agama Islam. Siswa yang sebelumnya pasif dan kurang tertarik terhadap materi agama, kini menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dan partisipasi yang lebih aktif selama pembelajaran. Pada siklus pertama, meskipun ada peningkatan dalam keterlibatan siswa, beberapa tantangan muncul terkait dengan perasaan canggung dan ketidaknyamanan beberapa siswa dalam mengungkapkan pendapat mereka di depan kelas. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode pembelajaran interaktif lebih efektif dalam menarik perhatian siswa, masih ada kebutuhan untuk memperkuat rasa percaya diri siswa agar mereka lebih aktif berpartisipasi. Untuk itu, lebih banyak dorongan dan dukungan dalam membangun komunikasi dan kepercayaan diri siswa sangat diperlukan dalam siklus-siklus berikutnya. Namun, setelah dilakukan perbaikan pada siklus kedua, dengan menambahkan variasi kegiatan yang lebih menarik dan menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran, hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan signifikan. Penggunaan video, aplikasi pembelajaran berbasis game, dan alat bantu visual lainnya terbukti memperkaya pengalaman belajar siswa dan membuat mereka lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Selain itu, siswa juga menunjukkan kemajuan dalam keterampilan berbicara dan komunikasi, yang tercermin dalam peningkatan kemampuan mereka untuk berbicara dengan jelas dan percaya diri di depan temanteman mereka. Meskipun demikian, tantangan dalam pengelolaan waktu tetap menjadi isu yang perlu perhatian lebih. Pembelajaran yang berbasis interaksi, meskipun sangat efektif, memerlukan alokasi waktu yang lebih lama dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional. Beberapa aktivitas yang seharusnya dilakukan dengan lebih mendalam harus dipersingkat atau bahkan dihilangkan untuk menjaga agar pembelajaran tetap dalam batasan waktu yang telah Oleh karena itu, pengelolaan waktu yang lebih baik perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran interaktif agar setiap kegiatan dapat berjalan secara optimal. Di sisi lain, penggunaan teknologi dalam pembelajaran agama Islam di RA Al-Huda membawa dampak yang sangat positif. Siswa menjadi lebih tertarik pada pelajaran yang disajikan melalui media digital, dan ini membantu mereka untuk memahami materi dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Meski demikian, perlu adanya pelatihan lebih lanjut bagi guru agar dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih efektif dalam proses Hal ini penting agar teknologi tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi dapat menjadi bagian integral dari metode pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Secara keseluruhan, penerapan metode pembelajaran interaktif di RA Al-Huda terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman agama Islam, keterlibatan siswa, dan keterampilan sosial Meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti pengelolaan waktu dan adaptasi teknologi, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menciptakan suasana kelas yang lebih hidup, menyenangkan, dan bermanfaat bagi perkembangan karakter siswa. Oleh karena itu, metode ini sangat layak untuk diterapkan lebih lanjut dan dikembangkan dalam pembelajaran agama Islam di sekolah-sekolah Islam lainnya. REFERENCES