JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis https://journal. id/index. php/jawamiulkalim/index Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr Moral Values in Character Formation According to auu al-BukhAr Fadlia. Siti Aisyah Karab. Abdul Rahman Sakkac aInstitut Agama Islam (IAI) Stiba Makassar. Indonesia. Email: m. fadli@stiba. bUniversitas Islam Negeri Alauddin (UIN)Makassar . Email: siti. aisyah@uin-alauddin. c Universitas Islam Negeri Alauddin (UIN)Makassar. Email: abdrsakka@gmail. Abstract This study examines the moral values of character formation as reflected in the ProphetAos hadiths within auu alBukhAr. It arises from the contemporary crisis of morality and character, emphasizing the need to revitalize prophetic ethics and spiritual values in Islamic education. The aim of this research is to describe the concept of character formation in the ProphetAos traditions, identify key moral values, and analyze their relevance to modern character Employing a qualitative method with a thematic . approach, primary data were collected from auu al-BukhAr and supported by secondary literature on hadith interpretation and Islamic education. Data were analyzed descriptively and contextually to uncover the relationship between moral values and practical character The findings reveal that the hadiths highlight fundamental virtues such as honesty . , trustworthiness . mAna. , patience . , and humility . awAsuA. as the foundation of a noble Muslim personality. These values establish harmony between the humanAeGod relationship . abl min AllA. and interpersonal ethics . abl min al-nA. Theoretically, this research enriches thematic hadith studies in the discipline of Islamic education. practically, it contributes to developing a hadith-based framework for moral and character education relevant to the challenges of the modern era. Keywords: Moral Values. Character. Hadith. Islamic Education, auu al-BukhAr Abstrak Penelitian ini membahas nilai-nilai akhlak dalam pembentukan karakter berdasarkan hadis-hadis Nabi yang terdapat dalam auu al-BukhAr. Kajian ini berangkat dari fenomena degradasi moral dan krisis karakter yang melanda masyarakat modern, sehingga dibutuhkan penguatan nilai-nilai spiritual dan etika profetik dalam pendidikan Islam. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan konsep pembentukan karakter dalam hadis Nabi, mengidentifikasi nilainilai akhlak yang terkandung di dalamnya, serta menjelaskan relevansinya terhadap pendidikan karakter di era Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tematik . , di mana data primer bersumber dari auu al-BukhAr dan data sekunder dari literatur tafsir hadis dan pendidikan Islam. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menemukan korelasi antara nilai akhlak dan praksis pendidikan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis-hadis dalam auu al-BukhAr memuat nilai inti seperti kejujuran . , amanah . mAna. , kesabaran . , dan ketawaduan . awAsuA. yang menjadi dasar pembentukan kepribadian Muslim Nilai-nilai tersebut menyeimbangkan hubungan manusia dengan Allah . abl min AllA. dan dengan sesama manusia . abl min al-nA. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian hadis tematik dalam bidang pendidikan Islam, sedangkan secara praktis, memberikan kontribusi dalam perumusan model pendidikan karakter berbasis hadis Nabi yang relevan dengan tantangan moral modern. Kata kunci: Nilai-Nilai Akhlak. Karakter. Hadis. Pendidikan Islam, auu al-BukhAr Article Info: How to cite: Received: 12 July 2025 Revised: 20 August 2025 Accepted: 15 September 2025 Fadli. Aisyah Kara. AuNilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhArAy. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis 3. No. : 155-166. doi: 10. 36701/jawamiulkalim. JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Published: 30 September 2025 PENDAHULUAN Fenomena degradasi moral dan krisis karakter yang melanda masyarakat modern menjadi perhatian serius di berbagai negara, termasuk di kalangan umat Islam. Kemajuan teknologi dan globalisasi yang pesat tidak selalu diiringi dengan penguatan nilai-nilai akhlAq, sehingga melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi lemah secara Data dari berbagai lembaga pendidikan menunjukkan meningkatnya kasus pelanggaran etika, perilaku kekerasan, dan penyalahgunaan teknologi di kalangan pelajar dan mahasiswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang berbasis nilai spiritual dan moral perlu diperkuat kembali melalui pendekatan keislaman yang autentik, salah satunya melalui kajian hadis Nabi. Hadis memiliki peran penting dalam membentuk pribadi Muslim yang berkarakter, karena memuat nilai-nilai akhlAq yang aplikatif dan bersumber langsung dari keteladanan Rasulullah saw. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mengangkat persoalan tentang bagaimana konsep pembentukan karakter dalam hadis Nabi, khususnya yang termuat dalam auu al-BukhAr, serta bagaimana nilai-nilai akhlAq tersebut dapat diimplementasikan dalam konteks kehidupan kontemporer. Bagaimana konsep pembentukan karakter dalam hadis-hadis Nabi yang terdapat dalam auu al-BukhAr. Nilai-nilai akhlAq apa saja yang terkandung dalam hadis-hadis tersebut dan Bagaimana relevansi nilai-nilai akhlAq tersebut terhadap pembentukan karakter umat Islam masa kini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis konsep pembentukan karakter berdasarkan hadis-hadis Nabi dalam auu al-BukhAr, mengidentifikasi nilai-nilai akhlAq yang terkandung di dalamnya, serta mengungkap relevansi nilai-nilai tersebut terhadap pendidikan karakter di era modern. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan studi hadis tematik . dan kontribusi praktis bagi dunia pendidikan Islam, khususnya dalam pembentukan karakter berbasis nilai profetik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan tematik . Data primer penelitian ini berasal dari kitab auu al-BukhAr, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur tafsir hadis, buku-buku pendidikan Islam, dan karya ilmiah terkait nilai akhlAq. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menelusuri tema-tema akhlAq dalam hadis-hadis pilihan dan mengaitkannya dengan konteks sosial keagamaan masa kini. Penelitian terdahulu yang relevan antara lain karya Nuruddin . yang mengkaji pendidikan karakter dalam hadis-hadis RiyAs al-Aliun dengan fokus pada pembentukan kepribadian religius, serta penelitian Rahmawati . yang membahas nilai moral dalam hadis-hadis auu Muslim. Namun, penelitian ini memiliki kebaruan . karena secara khusus menelaah auu al-BukhAr secara tematik dengan fokus pada konstruksi nilai akhlAq sebagai dasar pembentukan karakter. Dengan demikian, penelitian ini memperluas wacana kajian hadis dengan menawarkan pendekatan tematik yang integratif antara teks hadis, nilai moral, dan relevansi pendidikan karakter Islam di era modern. 156 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. PEMBAHASAN Urgensi Pembentukan Karakter Pengertian AkhlAq secara Bahasa dan Istilah Secara bahasa, kata AkhlAq (A )EECAberasal dari kata khuluq (A ) aEaCAyang berarti tabiat, perangai, atau kebiasaan jiwa. Ibn Maner dalam LisAn al-AoArab menjelaskan: a ca aAEEaCA aAOIA aa a AaEOacaaOEace aaOEA: Artinya : Khuluq adalah tabiat, watak, dan juga agama . erilaku keagamaa. AyDalam istilah para ulama Kata Aual-khuluqAy (A )E aEaCAdalam Al-QurAoan disebutkan hanya dua kali. Pertama, dalam firman Allah, aAIOA a AaEa aCaeE acaOEA a AaN aauaacEA a Aua eIA Terjemahnya: AuIni tidak lain hanyalah kebiasaan orang-orang dahulu2Ay. Ayat ini merupakan ucapan kaum Nabi Hd kepada beliau. Maksud mereka, apa yang dibawa Nabi Hd hanyalah kebiasaan orang-orang terdahulu yang mereka karang dan ajarkan. Mereka juga menganggap kehidupan dan kematian hanyalah tradisi lama yang terus dijalani manusia, serta agama yang mereka anut hanyalah mengikuti adat dan kebiasaan nenek moyang. Karena itu, makna Aukhuluq al-awwalnAy ( aA ) aEa aC E a acOEaOIAdi sini adalah agama, adat, kebiasaan, dan pandangan hidup orang-orang dahulu, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn AoAbbAs. QatAdah, al-FarrAAo. Ibn al-AAorAb, dan Muuammad ibn Yazd. Kedua. Firman Allah dalam QS. Al-Qalam . : 4, a aO sIA a AaOuaIA a AOaEa sCA a acEaEa aEA Terjemahnya: AuDan sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung3Ay. Menurut Imam al-abar, maksud ayat ini adalah bahwa Nabi Muhammad saw berada di atas adab yang agung, yaitu adab Al-QurAoan yang Allah ajarkan kepadanya yakni Islam dengan seluruh syariatnya. Para mufasir seperti Ibn AoAbbAs. MujAhid. Ibn Zayd, dan al-UauuAk juga menafsirkan bahwa khuluq Aoaem berarti agama yang agung, yaitu Islam. Sedangkan Imam al-MAward menjelaskan bahwa maksudnya adalah Nabi memiliki tabiat yang mulia dan watak yang luhur. Dengan demikian, karakter . adalah ekspresi dari kondisi batin . yang tercermin dalam perilaku lahiriah . Keduanya saling berkaitan. batin melahirkan kebaikan lahiriah. 4 Pembentukan karakter dalam Islam, . akwn alsyakhiyyah al-IslAmiyya. berakar pada prinsip bahwa kesempurnaan iman terwujud melalui kemuliaan akhlak. Rasulullah saw. menegaskan bahwa misi kerasulannya bukan Muuammad ibn Mukarram Ibn Maner. LisAn al-AoArab. Jilid 10 (Bayrt: DAr Adir, 1. , h. Alquran dan Terjemahnya. Alquran dan terjemahnya. Muuammad ibn Aumad Al-Qurub. Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn. Jilid 18 (Bayrt: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , h. 157 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. hanya menyampaikan hukum dan ibadah, tetapi menyempurnakan perilaku manusia. Dalam sebuah hadis Beliau saw. Bersabda : a a eAuaacacIa aE aCA e AaI aE aaIaeEA a a a AaeEaa aIA Artinya: AuSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Ay Hadis ini menegaskan bahwa akhlak merupakan ruh dari risalah Islam. ibadah, muamalah, dan syariat memiliki tujuan akhir untuk melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Dalam hadis lain. Rasulullah saw. menyatakan keutamaan luar biasa bagi orang yang berakhlak baik: s AaIIA aa a a e aIaEaEa aCA a e a AaIA a Aa eOaae aC aE aIE aOIaI eIA Artinya: AuTidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan amal pada hari kiamat selain akhlak yang baik. 5Ay Para ulama seperti Ibn ajar al-AoAsqalAn dan al-Nawaw menjelaskan bahwa maksud Aulebih berat di timbanganAy adalah karena akhlak yang baik mencerminkan kesempurnaan iman dan kematangan spiritual, melebihi ibadah fisik semata. Bahkan dalam hadis lain yang diriwayatkan al-BukhAr dan Muslim. Rasulullah saw menegaskan bahwa orang yang berakhlak mulia akan memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah, sejajar dengan orang yang banyak berpuasa dan shalat malam . iyAm al-lay. a a Aua acIaEeI eaIIaEaO e aaE a aIA aEaIaEe aCaaIA ca a a aA a AaEaCNA a ea a a a Artinya: AuSesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik dapat mencapai derajat orang yang berpuasa di siang hari dan mendirikan shalat di malam hari6. Ay Sebaliknya. Rasulullah saw juga memperingatkan bahwa ibadah tanpa akhlak tidak bernilai di sisi Allah. Dalam auu al-BukhAr disebutkan kisah seorang wanita yang dikenal rajin berpuasa dan shalat malam, namun menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi saw bersabda: a AacEaeOaONA AaN aO aEIac aUAA a aa Artinya: AuTidak ada kebaikan padanya. ia termasuk penghuni nerakaAy7. Hadis-hadis ini menunjukkan keseimbangan yang menjadi inti pembentukan karakter Islam: ibadah ritual harus disertai dengan kesalehan sosial dan moral. Akhlak bukan pelengkap, tetapi inti dari iman dan ukuran sejati keberagamaan seseorang. Dalam konteks modern, di mana manusia sering terjebak dalam formalitas ibadah tetapi lalai terhadap etika sosial seperti kejujuran, empati, dan kasih sayang pesan Nabi saw. sangat relevan. Akhlak yang baik membangun peradaban, memperkuat kepercayaan sosial, dan menjadi benteng terhadap krisis moral zaman modern. Maka pembentukan Muuammad ibn AosA al-Tirmi. Sunan al-Tirmi, (Bayrt: DAr al-Kutub al-AoIlmiyyah, 1. , no. YauyA ibn Syaraf al-Nawaw. Syaru auu Muslim. Jilid 16 (Bayrt: DAr al-MaAorifah, 1. , hlm. Muuammad ibn IsmAAol al-BukhAr, auu al-BukhAr, (Bayrt: DAr awq al-NajAt, 1422 H). KitAb al-Adab, no. 158 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. karakter Islami masa kini harus dimulai dari internalisasi nilai-nilai akhlak Rasulullah saw agar lahir manusia yang bukan hanya taat secara ritual, tetapi juga lembut dalam budi dan mulia dalam interaksi sosial. Klasifikasi Nilai-nilai Karakter dalam Hadis Nabi Nilai idq (Kejujura. a AaO acaIaa aOaIaIeIAOsaIaOa sEaIA a acEEa aEacOA ca A aOA a aeINA a acEEA a ea a ea a a ea U a a Aa eIaEIaacA a a e a acaIae aI aIae aIa a ca AaeA a e AaEA e aCaO N aOa uaaEaEea aaOua acIaEeaacaO N aO auaaEA a AacEEA a AEa ua acIA acaOa aEO aIA a aO aEac aIa CA ca AaOua acIA a aca e aE a aEa EaOA ea ea a AA a aCA a AaeEIacA a AaEaeONA aa a a a AaOa eN aOauaaEaEe aA aOaA aeI aA ca AaOua acIA a AaE a aEaEaOaEeA a AaOua acIaEe aEA a AA a AOaOa eNOauaEaEIac aA a AaOu acIaEe aA aA a AAO UCA a acaOaEeA 8 ca a AA aU AacEEa aEA ca Artinya : AuTelah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa`il dari Abdullah ra. dari Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendustaAy. Sabda Nabi saw Hendaklah kalian selalu jujur. Ungkapan AuAoalaykum bi-idqAy . endaklah kalian juju. disebut oleh para ahli nahwu sebagai bentuk al-ighrAAo, yaitu ungkapan yang bermakna dorongan kuat atau anjuran sungguh-sungguh. Kejujuran di sini mencakup tiga hal: akidah, ucapan, dan perbuatan. Kejujuran dalam akidah Maksudnya adalah mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, menjauhi segala bentuk syirik baik yang tampak maupun yang tersembunyi serta mengikuti pemahaman para salaf dalam menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana mestinya. Kejujuran dalam perbuatan Yaitu ketika perbuatan seseorang sesuai dengan ajaran syariat. Ia melakukan amal yang benar dan tidak menyalahi tuntunan 9 Kejujuran dalam ucapan Yaitu berkata sesuai dengan kenyataan. Jika seseorang berbicara tentang sesuatu, maka ucapannya benar-benar menggambarkan keadaan yang sebenarnya, tidak dilebihkan atau dikurangi. Sabda Nabi saw. : AuSesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan . l-bir. Ay Kalimat ini menjelaskan alasan mengapa kita diperintahkan untuk jujur, karena kejujuran akan membawa kepada al-birr, yaitu segala bentuk kebaikan dan kebajikan. Dan sesungguhnya kebaikan menuntun menuju surgaAy Ini adalah tahap berikutnya. Artinya, orang yang senantiasa berbuat baik akan layak masuk surga dan setiap orang beriman pasti berharap mencapai surga yang penuh kenikmatan. Semoga Allah mengaruniakan itu kepada kita semua. Muuammad ibn IsmAAol al-BukhAr, auu al-BukhAr. KitAb al-Adab, no. Aumad ibn Al ibn ajar al-AoAsqalAn. Fatu al-BAr. Jilid 10 (Bayrt: DAr al-MaAorifah, 1. , 159 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Sabda Nabi saw: AuSeseorang terus-menerus berkata jujur dan berusaha mencari Kata AumA yazAluAy menunjukkan sesuatu yang dilakukan terus-menerus. Maksudnya, bila seseorang terus berbuat jujur dan selalu berusaha memastikan kebenaran dalam ucapannya, maka ia akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang benar . Kata AuyaduqAy berarti mengatakan kebenaran dengan yakin, sedangkan AuyatauarrA aidqAy artinya berusaha mencari kejujuran sekuat tenaga berpegang pada apa yang diyakininya benar, walaupun kadang hanya berdasarkan dugaan kuat . hann gAli. Hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur . Ay Orang yang seperti ini akan mendapat kedudukan mulia di sisi Allah. Di dunia pun, orang yang jujur biasanya dihormati dan dipercaya masyarakat. Orang lain menerima perkataannya tanpa ragu, karena mereka sudah tahu ia tidak pernah berdusta ini adalah balasan baik yang cepat . i duni. Selanjutnya Nabi saw bersabda: AuDan jauhilah oleh kalian sifat dusta. Ay Ini adalah peringatan keras agar tidak berbohong. AuSesungguhnya dusta menuntun kepada kefajiran . l-fuj. Ay dan fujr adalah lawan dari birr . Allah berfirman: AuSekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka berada di Sijjn. Ay (QS. AlMuaffifn . : . Sebaliknya. AuSesungguhnya catatan orang-orang baik berada di AoIlliyyn. Ay (QS. Al-Muaffifn . : . AuDan sesungguhnya kefajiran menuntun ke Ay Sebagaimana firman Allah: AuSesungguhnya orang-orang durhaka benar-benar berada dalam neraka Jahiim. Ay (QS. Al-InfiAr . : . Jadi, kefajiran membawa seseorang menuju neraka. AuDan seseorang terus-menerus berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga dicatat oleh Allah sebagai pendusta. Ay Yakni termasuk golongan para pendusta dan para pendusta tempatnya di neraka. Hadis Nabi saw tentang kejujuran AuHendaklah kalian jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan dan kebaikan menuntun ke surgaAy memiliki relevansi yang sangat kuat dengan sabdanya yang lain tentang tanda-tanda kemunafikan: AuApabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat. 10Ay Kedua hadis ini menggambarkan dua kutub moral yang berlawanan: kejujuran sebagai jalan menuju iman dan surga, serta kedustaan sebagai jalan menuju nifaq dan neraka. Dalam pandangan Islam, kejujuran bukan sekadar etika sosial, tetapi fondasi akidah yang menghubungkan antara lisan, hati, dan amal. Orang yang jujur tidak hanya benar dalam perkataan, tetapi juga dalam keyakinan dan tindakan sebagaimana dijelaskan oleh ulama bahwa idq mencakup akidah, ucapan, dan perbuatan. Para ulama klasik seperti Ibn ajar al-AoAsqalAn dan Imam al-Nawaw menegaskan bahwa kebiasaan berdusta merupakan ciri kemunafikan dalam amal . ifAq Aoamal. , meskipun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam. Ibn ajar menyebut bahwa Audusta yang berulang tanpa penyesalan menumbuhkan sifat nifaq dalam hati. Ay Imam al-Nawaw menambahkan bahwa orang yang terus-menerus menipu atau memutarbalikkan kebenaran akan kehilangan tsiqah . dari manusia dan keberkahan dari Allah. 11 Dengan demikian, dua hadis tersebut membentuk etika universal umat Islam untuk menjadikan kejujuran sebagai karakter dasar baik dalam kehidupan YauyA ibn Syaraf al-Nawaw. Syaru auu Muslim. Jilid 2 (Bayrt: DAr al-MaAorifah, 1. , hlm. Hamka. Tasauf Modern (Jakarta: Republika, 2. , hlm. 160 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. pribadi, sosial, maupun profesional sebagai benteng dari kemunafikan moral dan Namun, di era digital saat ini, tantangan untuk menjaga kejujuran semakin berat. Teknologi yang seharusnya menjadi sarana penyebaran ilmu dan kebenaran justru sering digunakan untuk menyebar berita palsu . , pemalsuan data, dan pencitraan palsu di media sosial. Banyak orang tergoda untuk menampilkan versi diri yang tidak sesuai dengan kenyataan sebuah bentuk dusta modern yang mencerminkan gejala nifaq zaman Dalam konteks ini, pesan Rasulullah saw menjadi sangat relevan: kejujuran harus tetap dijaga meskipun teknologi memungkinkan kebohongan terlihat indah dan mudah 12 Maka, kejujuran di era digital bukan sekadar ucapan benar, melainkan sikap tanggung jawab terhadap kebenaran di ruang maya dan nyata. Ini adalah ujian spiritual baru bagi umat Islam modern untuk tetap menjadi iddqn di tengah derasnya arus informasi yang menipu. Nilai AmAnah (Tanggung Jawa. a aAIaacaIaEaOaIaEaOI aIaacaIA a AaNaE aEaIaEa sOaIaa aa aIaOa saIaNO a s a aA aOA a ae a ae a e a acaIaIa acI aae aIaIA a aea a e a a a e a e a a a e aca AOEA a AOaacEEA aOA a a CA a Aa aA a aAEa CA a aeINaaCA ca ca AaeE aaIIa AaIea a eA a auA a AaO aEac aIa ua aA e AaOa aA a a AEa aEeOA a AaEA a aca caEA a acEEA a acEEA a Aa aNA a AaEaeONA a AEA a a acEEaaCA a Aa aA ca AOEA ca aIa aaeE eaI aauaaEa a aeOa eaNEa aNaIea a eA a AaEA e AEaua a Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Hilal bin Ali dari 'Atho' bin yasar dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. " Ada seorang sahabat bertanya. 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? ' Nabi menjawab. "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu. Hadis ini termasuk salah satu hadis yang menggambarkan tanda-tanda kerusakan moral dan sosial umat manusia menjelang kehancuran atau hari kiamat. Ungkapan Nabi Aufa intaeir as-sAAoahAy bukan hanya menunjuk kepada Kiamat KubrA . ari kiamat sesungguhny. , tetapi juga bisa bermakna kehancuran sosial, moral, dan sistem nilai umat di dunia. Menurut Ibn ajar al-AoAsqalAn dalam Fatu al-BAr. AusayAo al-amAnahAy . enyianyiaan amana. berarti hilangnya rasa tanggung jawab, kejujuran, dan integritas dalam menjalankan tugas atau jabatan. Amanah mencakup semua hal yang dipercayakan kepada seseorang, baik dalam agama, urusan publik, maupun kehidupan pribadi. Jika amanah diserahkan kepada orang yang tidak layak . hayr ahli. , maka sistem keadilan dan keseimbangan dalam masyarakat akan rusak, dan kehancuran sosial pun pasti datang. Imam al-Nawaw menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Auurusan diserahkan kepada yang bukan ahlinyaAy mencakup setiap posisi atau tanggung jawab Ai dari kepemimpinan politik, hukum, ekonomi, pendidikan, hingga urusan kecil dalam rumah Beliau berkata: Quraish Shihab. Wawasan al-QurAoan (Bandung: Mizan, 2. , hlm. Al-BukhAr, auu al-BukhAr. KitAb al-AoIlm, no. 161 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Amanah adalah pokok segala urusan agama dan dunia. Hilangnya amanah berarti hilangnya kehidupan yang bermartabat. 14 Amanah dalam Islam bukan hanya tanggung jawab administratif, tetapi nilai spiritual yang bersumber dari keyakinan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya: AuSesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak Ay (QS. al-NisAAo . : . Di masa lalu, amanah menjadi ciri utama orang beriman. Nabi dikenal oleh masyarakat Makkah sebelum diutus menjadi rasul dengan gelar al-Amn. Auorang yang Ay Gelar ini bukan sekadar pujian sosial, tetapi pengakuan moral bahwa integritas adalah fondasi dakwah. Di masa kini, konsep amanah menghadapi ujian yang lebih kompleks. Dunia digital dan globalisasi membuka ruang yang luas untuk penyalahgunaan kepercayaan: manipulasi data, korupsi, plagiarisme akademik, penyebaran informasi palsu, dan ketidakjujuran dalam transaksi daring. Banyak individu diberi kekuasaan atau tanggung jawab besar namun tanpa kompetensi dan integritas yang memadai. 15 Inilah wujud modern dari sabda Nabi: AuApabila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Ay Nilai amAnah menuntut tanggung jawab moral dan profesional dalam setiap aspek Nabi bersabda: AuJika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Ay (HR. al-BukhA. Hadis ini menunjukkan bahwa rusaknya tatanan masyarakat bermula dari hilangnya rasa tanggung jawab dan ketidaktepatan dalam penempatan amanah. Dalam konteks modern, amanah berarti menjalankan tugas dengan jujur, adil, dan profesional, serta menolak segala bentuk korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan Di era digital, amanah juga mencakup menjaga privasi, keaslian informasi, dan etika bermedia. Dengan menegakkan nilai amanah, umat Islam tidak hanya membangun kepercayaan sosial, tetapi juga menghidupkan kembali semangat tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Nilai ilm (Kesabaran dan Ketenanga. a AIOaIaEa saIaNO a a AaIa aA aOA e a a AaN aOae aIA a AOA e Aa acaaIA a Aa aIaOaa eE sA e a s a e a s caOA a aO aaOae aIaOA a aea a e a a a a aIa UaEaCA a AOaacEEaEaO aNaOEacIaaOA ae AA a ac a aaIa UaCA a aIaCA ca a AEaacEaa eA a AEaacEaa eA a acEEA a AEaEEIaacA e a a a e a aca caEA eAA a a ca AaeINa Artinya : AuTelah menceritakan kepadaku Yahya bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr yaitu Ibnu Ayyasy dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. "Berilah aku wasiat?" beliau bersabda: "Janganlah kamu marah. " Laki-laki itu mengulangi katakatanya, beliau tetap bersabda: "Janganlah kamu marahAy. Nilai uilm . esabaran dan ketenanga. merupakan salah satu akhlak agung yang sangat ditekankan oleh Rasulullah saw. Dalam hadis riwayat Ab Hurairah ra. , seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata: AuBerilah aku wasiat. Ay Nabi menjawab: AuJanganlah engkau marah. Ay Laki-laki itu mengulang permintaannya beberapa kali, namun Nabi tetap menjawab: AuJanganlah engkau marah. Ay (HR. al-BukhA. Ungkapan ini bukan sekadar larangan untuk menahan ekspresi marah secara lahir, tetapi merupakan Al-Nawaw. Syaru auu Muslim. Jilid 2, hlm. Ysuf al-QarasAw. Al-AkhlAq al-IslAmiyyah (Al-QAhirah: Maktabah Wahbah, 2. , hlm. Al-BukhAr, auu al-BukhAr. KitAb al-Adab, no. 162 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. perintah agar seorang Muslim memiliki kontrol diri, ketenangan hati, dan kemampuan berpikir jernih di tengah situasi emosional. Imam al-Nawaw menjelaskan bahwa makna Aujangan marahAy adalah jangan melakukan akibat dari amarah seperti berkata kasar, memukul, atau berbuat zalim. 17 Larangan ini menunjukkan pentingnya menundukkan hawa nafsu, karena marah adalah pintu utama bagi syaitan untuk menjerumuskan manusia pada dosa dan penyesalan. Secara psikologis dan spiritual, uilm adalah kemampuan menahan diri ketika terprovokasi serta membalas keburukan dengan kebaikan. Allah berfirman: AuDan orangorang yang menahan amarahnya dan memaafkan . orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Ay (QS. Ali AoImrAn . : . Dalam pandangan ulama, sifat uilm merupakan cabang dari sabar dan ciri khas orang yang memiliki akhlak mulia, sebab ia mampu mengendalikan diri tanpa kehilangan Dalam kehidupan Rasulullah saw. sifat ini tampak jelas: beliau tidak membalas caci maki dengan kemarahan, tetapi dengan doa dan kasih sayang, sebagaimana saat penduduk Aif melempari beliau dengan batu, beliau justru mendoakan mereka agar mendapat hidayah. Dalam konteks modern, tantangan untuk menjaga uilm semakin besar, terutama di era media sosial dan kehidupan yang serba cepat. Ledakan informasi, provokasi daring, dan tekanan hidup sering memancing reaksi emosional yang tidak terkendali, sehingga menimbulkan konflik dan ujaran kebencian. Di sinilah nilai hadis AulA taghsabAy menemukan relevansinya: seorang Muslim yang berkarakter kuat adalah yang mampu mengendalikan diri di tengah provokasi. Dengan menanamkan sifat uilm, seseorang tidak hanya menjaga hubungan sosial agar harmonis, tetapi juga membangun kedewasaan spiritual yang menjadi benteng dari dosa dan kehancuran moral. 18 Maka, uilm adalah kunci ketenangan batin, keharmonisan sosial, dan bukti nyata kematangan iman dalam menghadapi kerasnya kehidupan masa kini. Nilai ini sejalan dengan hadis: a aAua aE aIaO OIA a UIA e a a aE eIaEaOa eAA e aA aaOacEaOA a Aa Ua eaOaCaaEaNaEeOa aC eEauaacIA a a ea a acNa a aua eIAUAA e AA aA a AA eOIaA 19 a Artinya : AuApabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: AoSesungguhnya aku sedang berpuasa. AoA. (HR. alBukhA. Hadis ini memperkuat nilai tawAsuAo dan uilm . enahan dir. , bahwa ibadah sejati bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menahan ego, amarah, dan ucapan Dalam konteks modern, karakter semacam ini amat relevan untuk menghadapi budaya konflik verbal dan intoleransi digital. Solusinya ialah menumbuhkan kesadaran spiritual dan etika sosial yang seimbang agar puasa, salat, dan seluruh ibadah tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga membentuk pribadi berakhlak lembut dan rendah hati di tengah kerasnya realitas sosial. Metode dan Strategi Pembentukan Karakter dalam Hadis Metode Keteladanan (Uswa. Al-Nawaw. Syaru auu Muslim. Jilid 16, hlm. Aumad ibn Al ibn ajar al-AoAsqalAn. Fatu al-BAr. Jilid 10, hlm. Al-BukhAr, auu al-BukhAr. KitAb al-awm, no. Ibn Rajab al-anbal. JAmiAo al-AoUlm wa al-ikam, (Bayrt: DAr al-MaAorifah, 1. , hlm. 163 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. Metode pertama dan paling efektif dalam pembentukan karakter adalah keteladanan . Nabi Muhammad saw merupakan teladan utama dalam seluruh aspek kehidupan baik dalam ibadah, interaksi sosial, maupun akhlak pribadi. Allah AA menegaskan dalam firman-Nya: aca AOEA a AEa aC ea aE aIaEa aEI a acEEaa aEa UeOaA ca AOaacEEa aaOEeOa eOaIaeE aa aaOa aEaA ca Aa aIaUaEa aI eIa aE aIaOae aA e acEEaA a UAa aOA aa e Terjemahnya : AuSungguh, telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari akhir serta banyak mengingat Allah. Ay (QS. Al-AuzAb . : . 21 Aisyah rasiyallAhu AoanhA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. AaEa aCNaaEe aC e aaIA a AaE aIA Artinya : AuAkhlak beliau adalah . erwujudan dar. Al-QurAoan. Ay (HR. Muslim, no. Dari sini terlihat bahwa Nabi saw. mendidik dengan memberi contoh nyata, bukan hanya dengan ucapan. Teladan beliau menanamkan nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, sabar, dan amanah secara praktis dalam kehidupan para sahabat. Metode Pendidikan Bertahap dan Berkesinambungan Karakter tidak terbentuk secara instan. Rasulullah saw. menanamkan nilai-nilai akhlak secara bertahap sesuai dengan usia, kemampuan, dan kesiapan seseorang. Salah satu contoh jelas terdapat dalam hadis tentang pendidikan salat sejak dini: a ca a aa a AaIOa eaOacE a aE eIA aOAa aCaOaaeO Ia aN eI aU e AaOAU a aO aN eIaaeIaA a AON eIA a Aae aaIA a aA aA a aAEAaE aaO aN eIaaeIaA a Aa e sA a AaEaeO aNA a AIOA 23 a aA aA a AEe aIA Artinya : AuPerintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka . engan lembut sebagai bentuk disipli. jika meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka. Ay (HR. Ab DAwud, no. Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan akhlak dan ibadah harus dilakukan sejak usia dini dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan disiplin bertahap. Dalam metode ini. Rasulullah saw. menanamkan nilai dasar . rinsip utam. sebelum nilai cabang . urunan perilak. agar karakter tumbuh secara konsisten dan kokoh. Metode Nasihat (MauAoieah asana. dan Teguran Selain dengan keteladanan dan pembiasaan. Nabi saw. juga menggunakan nasihat yang lembut dan teguran yang mendidik untuk menumbuhkan kesadaran moral. Salah satu contoh terkenal adalah wasiat beliau tentang pengendalian emosi: Al-QurAoan dan Terjemahnya Muslim ibn al-ajjAj al-Qusyair al-NaisAbr, auu Muslim, no. Ab DAwud. SulaymAn ibn al-AshAoath. Sunan Ab DAwud, no. 164 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. a aOAUacEEA ae AA a aCAUa aac a aaIa UA. a aCA. aIA a aO aa aA:AEA a a aa a UEauaaEaEIaaca aCA a acEaa eA:AEA a acEaa eA:AEA e ca AOEA eAA Artinya : AuSeorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku Beliau bersabda: Jangan marah. Orang itu mengulang permintaannya berkali kali, dan beliau tetap berkata: Jangan marah. Ay(HR. al-BukhAr, no. Hadis ini menunjukkan bahwa nasihat yang singkat namun tepat sasaran dapat menjadi metode efektif dalam memperbaiki perilaku. Selain itu. Rasulullah A Ajuga menegur dengan lembut, sebagaimana ketika beliau melihat seseorang makan dengan tangan kiri: AOEA aa aOaE eE aIacaOaEAU ca Aa aIAU a aOaE eEaaOa aIOIAU a aOaE aIA a AEA a acEEA Artinya: AuWahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu. Ay (HR. al-BukhAr, no. Muslim, no. Metode Pembiasaan (Tadarrub / Praktik Langsun. Pembentukan karakter juga dilakukan melalui pembiasaan amal saleh secara berulang dan konsisten. Nabi A Amenanamkan akhlak bukan hanya dengan teori, tetapi dengan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari. Beliau bersabda: aca AaI aEauaaEA aOua eIaCa acEA ca a a a acEEa ea aOaI aNA a e AaeEA Artinya : AuAmalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit. Ay (HR. al-BukhAr, no. Muslim, no. Melalui pembiasaan seperti salat sunah, sedekah, zikir, dan akhlak baik dalam interaksi sosial, seseorang membangun karakter moral yang stabil dan otomatis. Inilah inti dari metode tadarrub . atihan bertaha. dalam Islam karena karakter bukanlah hasil hafalan, melainkan buah dari kebiasaan yang diulang hingga menjadi sifat jiwa 27. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam hadis tentang larangan berkata keji dan bertindak bodoh ketika berpuasa memiliki relevansi moral dan spiritual yang mendalam. Nilai kejujuran, pengendalian diri, dan kesabaran menjadi inti dari pembentukan karakter seorang Muslim sejati yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan serta perilakunya. Hadis AuInni shaAoimAy memperkuat makna tersebut dengan menegaskan bahwa kesadaran seseorang terhadap status puasanya menjadi benteng moral untuk menghindarkan diri dari perilaku tercela. Dengan demikian, puasa dalam perspektif pendidikan Islam bukan sekadar ritual ibadah, tetapi sarana efektif untuk menanamkan disiplin moral, memperkuat kontrol diri, dan membentuk pribadi berakhlak mulia yang berdampak positif bagi kehidupan sosial. Al-BukhAr, auu al-BukhAr. KitAb al-Adab, no. Muslim, auu Muslim, no. Al-BukhAr, auu al-BukhAr, no. Al-Nawaw. RiyAs al-Aliun, (Bayrt: DAr al-MaAorifah, 1. , hlm. 165 | M. Fadli. Aisyah Kara Nilai-nilai Akhlak dalam Pembentukan Karakter Menurut auu al-BukhAr JAWAMIAoUL KALIM: Jurnal Kajian Hadis Vol. No. : 155-166 doi: 10. 36701/jawamiulkalim. DAFTAR PUSTAKA