Dinamika Ekonomi dan Politik Hubungan ASEAN-Jepang Kusnanto ANGGORO Bermacam argumen dapat dikemukakan untuk menunjukkan bahwa pembentukan ASEAN sekitar dua dasawarsa yang lalu dilandasi keinginan agar ia dapat memberi sumbangan pada kesinambungan pembangunan nasional negara-negara anggotanya. Bidang-bidang kerjasama ekonomi, sosial dan kebudayaan yang digariskan dalam Deklarasi Bangkok dan kemudian kerjasama politik yang dirumuskan dalam Deklarasi Kerukunan ASEAN niscaya mencerminkan semangat negara-negara anggota ASEAN dalam membina stabilitas dan ketahanan nasionalnya. Menurut pandangan mereka, stabilitas dan ketahanan nasional itu merupakan soko-guru terciptanya stabilitas dan ketahanan regional di kawasan Asia Tenggara. Perjalanan ASEAN selama duapuluh tahun terakhir ini memperlihatkan bahwa kemiripan dengan beberapa perkecualian bagi Singapura, persamaan orientasi dan pandangan politik dalam pembangunan ekonomi merupakan faktor pengikat kebersamaan bagi tumbuh dan berkembangnya regionalitas. Pada saat yang sama hal itu juga menumbuhkan harapan-harapan baru bahwa, sesuai dengan peranannya sebagai badan kerjasama dari beberapa negara yang memiliki potensi dan prioritas nasional yang tidak selalu sama. ASEAN seharusnya mampu merumuskan kebijakan tertentu yang dengan sendirinya meningkatkan bobot diplomasinya dalam menjalin hubungan dengan pihak ekstra- ASEAN. struktur ekonomi. Harapan itu ternyata tidak sepenuhnya terpenuhi. ASEAN bukanlah suatu badan kerjasama regional yang dapat dibandingkan dengan Masyarakat Eropa yang lebih dijiwai semangat integrasi daripada koordinasi. Selain karena tidak terdapatnya supranasionalisme, batu sandungan utama dalam setiap usaha peningkatan diplomasi ASEAN itu tampaknya adalah non-komplementaritas produk-produk primer di antara negara-negara anggotanya. Keduduk- an mereka sebagai negara berkembang dan penghasil bahan mentah merupa- HUBUNGAN ASEAN- JEPANG kan salah satu sebab pokok mengapa prinsip komplementaritas justru lebih dipenuhi dalam hubungan mereka dengan negara-negara industri maju daripada dalam hubungan di antara mereka sendiri. Dan dalam hal ini Jepang merupakan negara industri maju yang paling potensial menjalin hubungan dengan negara-negara ASEAN, terutama karena faktor kedekatan gCOgrafis dan kultural serta kelangkaan sumberdaya alamnya. Dalam kenyataannya Asia Tenggara memang menduduki prioritas utama dalam kalkulasi politik luar negeri Jepang. Kedudukan geostrategisnya di persilangan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia telah menempatkan Asia Tenggara sebagai simpul kehidupan ekonomi Jepang. Selat Malaka dan Selat Lombok memainkan peranan kunci bagi kesinambungan pemasokan minyak bumi dari Timur Tengah dan sebagai urat nadi perdagangan Jepang dengan berbagai negara di kawasan Asia Barat Daya. Afrika serta Eropa. Lagipula, negara-negara yang tergabung dalam ASEAN pun merupakan pemasok penting berbagai mineral strategis, seperti minyak bumi, gas alam, bauksit dan tembaga yang sangat vital bagi kelangsungan hidup industri dan ekonomi Jepang. Selain itu potensi penduduk negara-negara ASEAN yang mencapai lebih dari 275 juta jiwa jelas akan menjadi pas'aran yang potensial bagi produk-produk Jepang. Lebih dari itu, struktur demografi ASEAN yang memiliki mayoritas penduduk berusia muda dengan sendirinya sesuai dengan kebijakan penanaman modal Jepang yang dalam kurun waktu tertentu didorong oleh keinginannya mendapat tenaga kerja murah. Melihat keunggulan-keunggulan komparatif ASEAN itu dapat diperkirakan bahwa kebijakan ekonomi Jepang akan dipusatkannya pada bagaimana ia menciptakan pengamanan pasar dan pemasokan sumberdaya. Sementara di pihak lain, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai negara berkembang yang isedang mengalami perubahan ke arah terbentuknya masyarakat industrial, negara-negara anggota ASEAN mengharapkan berbagai sumberdaya finansial imaupun industrial tertentu yang merupakan keunggulan komparatif Jepang. <01eh karenanya, yang terjadi kemudian adalah hubungan yang diwarnai komplementaritas sehingga dengan sendirinya juga menumbuhkan saling kettergantungan. Kesinambungan pembangunan negara-negara ASEAN mung- Ikin tidak dapat dipertahankan tanpa kehadiran Jepang. Sebaliknya. ASEAN . un merupakan unsur penting bagi kehidupan ekonomi Jepang. Tentu saja ikeduabelah pihak akan menggunakan keunggulan komparatifnya melalui sstrategi perdagangan dan/atau penanaman modal sebagai piranti diplomasi. Meskipun demikian, hubungan ASEAN-Jepang tidak selamanya berjalan Ini ditentukan oleh perhitungan-perhitungan ekonomi, politik maupun Semangat trilateralisme Amerika Serikat. Masyarakat Eropa dan IJepang yang menguat setelah berakhirnya Perang Vietnam, peningkatan komrpetisi pemasokan bahan mentah, keberhasilan Jepang meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya, dan tahap masing-masing pihak ANALISA 1987-10 adalah sebagian dari beragam faktor yang mempengaruhi pasang-surut hubungan ASEAN-Jepang. Tulisan ini akan memperlihatkan bahwa sesungguhnya ASEAN lebih tergantung pada Jepang daripada sebaliknya. Lebih dari itu akan ditunjukkan pula bahwa kehadiran Jepang tidak selalu merupakan "dewa penolong" bagi cita-cita pembangunan negara-negara anggota ASEAN. Ini beranjak dari ang- gapan bahwa makna kehadiran negara maju dalam kalkulasi pembangunan ekonomi negara berkembang hendaknya dilihat bukan hanya dari neraca perimbangan transaksi ekonomi semata-mata tetapi juga dari kemampuan transaksi itu mengangkat taraf penghidupan di pihak negara berkembang. Dalam batas-batas tertentu, kehadiran Jepang sebagai faktor kesinambungan pembangunan negara-negara anggota ASEAN tampaknya justru mempertajam persoalan-persoalan mendasar dan/atau menimbulkan masalah-masalah baru yang mungkin dapat mengancam stabilitas nasional setiap negara anggota ASEAN. DIPLOMASI EKONOMI JEPANG DAN STRATEGI PEMBANGUNAN ASEAN Hampir selalu menjadi pertanyaan menarik dan mengundang pembicaraan luas tentang mengapa Jepang, yang dilucuti koloninya dan hancur karena Perang Dunia II, mampu bangkit dan mengukuhkan dirinya sebagai superpower ekonomi. Keuletan bangsa Jepang dan kemampuannya menangkap tanda-tanda zaman jelas merupakan salah satu faktor penting. Tetapi selain itu sejarah juga menunjukkan bahwa perkembangan politik internasional, khususnya pertikaian Timur-Barat di Dunia Ketiga, turut menciptakan situasi yang kondusif bagi kebangkitan ekonomi Jepang. Kecenderungan negaranegara berkembang meniru tahapan pembangunan yang semula ditempuh negara-negara maju semakin memperkuat kondusifitas situasi itu menjadi kemampuan nyata Jepang. Dan pola pembagian kerja internasional antarnegara industri maju, "jerat industrialisasi" ASEAN dan pasang-surut keunggulan komparatif dalam hubungan ASEAN-Jepang terutama sejak krisis minyak bumi dalam awal dasawarsa 1970-an tampaknya semakin memperte- guh kedudukan Jepang dalam peta ekonomi internasional. Dalam batas-batas tertentu. Perang Dunia II justru menjadi rakhmat dan berkah bagi kebangkitan kembali ekonomi Jepang. ' Perjanjian Keamanan Jepang- Amerika Serikat (September 1. secara tidak sengaja membuka peluang bagi tumbiih dan berkembangnya Jepang sebagai imperium ekonomi 'Osamu Okada, "Ekspansi Ekonomi Jepang ke Asia Tenggara: Tinjauan Perdagangan Jepang dan ASEAN," Prisma no. 11 (November 1. : hal. Lihat juga M. Chung and R. Hirono . ASEAN-Japan Industrial Relations: An Overview (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1. , hal. HUBUNGAN ASEAN- JEPANG yang tunduk pada strategi global Amerika. Meningkatnya iklim Perang Dingin setelah Uni Soviet berhasil meledakkan bom atom dan kegagalan strategi pembendungan Amerika dengan munculnya Republik Rakyat Cina serta di lain pihak kekhawatiran Amerika akan pulihnya semangat militerisme Jepang, yang kemudian mendorong penandatanganan Perjanjian Keamanan Jepang- Amerika Serikat itu, menyudutkan pemerintahan PM Yoshida sehingga ia terpaksa merumuskan politik luar negeri Jepang dengan menitikberatkannya pada "diplomasi ekonomi" . eizai gaik. Atas dasar titik-berat ini pula Jepang merancang berbagai langkah promosi perdagangan dan kerjasama ekonomi yang dijiwai semangat bina stabilitas kawasan. Asia Tenggara jelas tidak mungkin luput dari langkah Jepang itu. Sebagai negara yang baru membangun kembali reruntuhan Perang Dunia. Yoshida sebenarnya tergantung pada keberhasilan program pemerintahan jaminan pasar produk-produk Jepang. Dan dalam hal ini tampaknya Jepang berhasil memanfaatkan berbagai penjelmaan konflik Timur-Barat di Dunia Ketiga. Perang Korea maupun Perang Vietnam secara tidak sengaja merupakan pengumpil keberhasilan ekonomi Jepang. Titik pijak pertama keberhasilan ekonomi Jepang sesudah perang adalah perolehan khusus dari permintaan pasukan Amerika dalam Perang Korea di penghujung dasawarsa 1950-an. Pendapatan nasional Jepang dari perang itu melebihi pendapatan ekspor Jepang pada waktu itu. Berlainan dari pengalaman Perang Korea yang memberinya manfaat lang:sung. Jepang juga berhasil memanfaatkan peluang atas situasi yang tercipta oleh Perang Vietnam. Kecemasan Amerika atas meluasnya ancaman komunis- me di Asia Tenggara seiring dengan ketidakpastian Perang Vietnam dan ke- inginannya mendesak Jepang agar mengambil bagian yang lebih besar dalam strategi pembendungan komunis melalui kemampuan ekonomi serta kekayaan sumberdaya alam dan potensi pasar Asia Tenggara merupakan faktor-faktor . enting yang mengawali ekspansi ekonomi Jepang ke negara-negara Asia Tenggara non-komunis. Permulaan paruhan kedua dasawarsa 1960-an adalah ssaat pertama kalinya Jepang mampu memperoleh surplus neraca perdagang- =annya. Selain peluang yang timbul dari Perang Korea dan Perang Vietnam, ssesungguhnya Jepang juga mampu menimba manfaat dari apa yang semula cdianggap sebagai "politik etis" Jepang. Pernjanjian-perjanjian pampasan -perang dengan beberapa negara Asia Tenggara yang mulai ditandatanganinya tahun 1955, yaitu tahun pertama ketika Jepang berhasil meraih kembali ting- kkaP pendapatan per kapitanya sebelum perang, dalam kenyataannya menganddung ironi. Memapg. Jepang telah membayar kurang-lebih Au500 juta dalam waktu duapuluh tahun atas dasar perjanjian itu. Tetapi sebenarnya 'keuntungan, langsung maupun tidak, yang diperoleh pihak Jepang dari perjanjian pampasan perang itu jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarA '