ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 BEBAN KERJA BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PERAWAT DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RAHAYU GUNUNGKIDUL Veronica Fitri Astuti1*. Bernadetta Eka Noviati2. Christina Ririn Widianti3 STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: vheerofitri@gmail. STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia ABSTRAK Latar belakang: Perawat merupakan tenaga kesehatan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien secara langsung, khususnya di ruang rawat inap. Tuntutan pekerjaan yang tinggi sering kali menimbulkan beban kerja berlebih yang berdampak pada kondisi psikologis, termasuk kecemasan. Kecemasan akibat beban kerja berlebih pada perawat dapat meningkatkan risiko kesalahan tindakan, menurunkan keselamatan pasien, dan berdampak pada penurunan mutu asuhan keperawatan serta kepercayaan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Tujuan: mengetahui hubungan antara beban kerja dengan tingkat kecemasan perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 44 perawat pelaksana yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner beban kerja Nursalam dan Zung Self Anxiety Scale (ZSAS). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: menunjukkan bahwa sebagian besar . ,4%) perawat mengalami beban kerja berat, serta sebagian besar responden . ,4%) berada dalam kategori kecemasan berat. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai p-value sebesar 0,001 dan koefisien korelasi 0,479, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara beban kerja dan kecemasan perawat, dengan kekuatan korelasi Kesimpulan: semakin tinggi beban kerja yang dirasakan perawat, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami. Kata kunci: Beban kerja, kecemasan, perawat rawat inap. ZSAS ABSTRACT Background: Nurses are health workers who play an important role in providing direct services to patients, especially in inpatient wards. High job demands often result in excessive workloads that affect psychological conditions, including anxiety. Anxiety due to excessive workloads in nurses can increase the risk of errors, reduce patient safety, and have an impact on the quality of nursing care and patient trust in hospital services. Objective: To determine the relationship between workload and anxiety levels among nurses in the Inpatient Ward of Panti Rahayu Hospital in Gunungkidul. Methods: This study used a descriptive correlational design with a quantitative approach and a crosectional design. The study sample consisted of 44 practicing nurses selected using purposive The instruments used were the Nursalam workload questionnaire and the Zung Self Anxiety Scale (ZSAS). Data analysis was performed using Spearman's correlation test. Veronica Fitri Astuti. Bernadetta Eka Noviati. Christina Ririn Widianti Beban Kerja Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul Results: The results showed that most . 4%) nurses experienced heavy workloads, and most respondents . 4%) were in the severe anxiety category. The correlation test results showed a p-value 001 and a correlation coefficient of 0. 479, which means that there is a significant and positive relationship between workload and anxiety among nurses, with a weak correlation strength. Conclusion: the higher the workload experienced by nurses, the higher the level of anxiety Keywords: Workload, anxiety, inpatient nurses. ZSAS PENDAHULUAN Perawat merupakan komponen utama dalam pelayanan kesehatan yang berperan langsung terhadap mutu dan keselamatan asuhan keperawatan. Peran ini mencakup pelaksanaan tindakan keperawatan, komunikasi terapeutik, serta kolaborasi interprofesional dalam menunjang kualitas pelayanan (Wahyudi & Handiyani, 2. Di ruang rawat inap, kompleksitas pelayanan dan kontinuitas perawatan selama 24 jam menuntut kesiapan fisik dan psikologis perawat dalam menangani pasien dengan kondisi yang beragam (Istiqomah. Kondisi tersebut menyebabkan perawat rawat inap rentan mengalami beban kerja berlebih yang berpotensi memengaruhi kinerja dan kondisi psikologis dalam pemberian asuhan keperawatan. Beban kerja yang tinggi pada perawat di setting rawat inap, yang ditandai dengan kontinuitas pelayanan 24 jam, kompleksitas kondisi pasien, serta tuntutan klinis dan administratif, merupakan faktor utama yang dapat menurunkan konsentrasi, meningkatkan kelelahan, dan memicu gangguan psikologis seperti kecemasan (Apriyanti et al. , 2. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan perawat, tetapi juga berisiko menurunkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa kesehatan mental tenaga kesehatan merupakan prioritas global karena berkaitan langsung dengan mutu layanan dan patient safety (WHO, 2. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan adanya variasi beban kerja dan kecemasan perawat di Indonesia. Istiqomah . melaporkan 50,9% perawat di RSI Sultan Agung Semarang memiliki beban kerja ringan, sedangkan Angin et al. menemukan mayoritas perawat di RSJ Prof. Ildrem mengalami beban kerja sedang. Hasil berbeda ditemukan oleh Lestari . yang mencatat 92,5% perawat di RSNU Jombang memiliki beban kerja berat. Dari sisi kecemasan, penelitian Marpaung . menemukan sebagian besar perawat hanya mengalami kecemasan ringan, sementara Monalisa Siregar et al. melaporkan adanya 29,3% perawat mengalami kecemasan sedang dan 10,9% kecemasan Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa konteks rumah sakit dapat memengaruhi tingkat beban kerja dan kecemasan. ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 Studi pendahuluan di Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul menunjukkan adanya indikasi beban kerja tinggi pada perawat di instalasi rawat inap, yang ditandai dengan banyaknya jenis dan volume tugas yang harus dilakukan dalam satu shift kerja. Indikasi berkesinambungan, mobilisasi pasien pasca operasi, perawatan luka, observasi pasien dengan kondisi klinis kompleks, serta pelaksanaan tugas administratif secara bersamaan. Kondisi kerja yang menuntut pelaksanaan berbagai aktivitas klinis dan non-klinis dalam waktu yang terbatas tersebut mencerminkan tingginya tuntutan kerja yang berpotensi menimbulkan kelelahan dan tekanan psikologis, termasuk kecemasan. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dengan tingkat kecemasan perawat di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara variabel independen berupa beban kerja perawat dengan variabel dependen yaitu tingkat kecemasan perawat. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul pada bulan Maret hingga Agustus 2025. Populasi penelitian adalah seluruh perawat di instalasi rawat inap yang berjumlah 64 Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 44 responden yang memenuhi syarat sebagai perawat pelaksana, bekerja minimal satu tahun di rawat inap, dan bersedia menjadi responden. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Beban kerja diukur menggunakan instrumen Nursalam yang terdiri dari 13 pernyataan dengan skala Likert empat poin. Instrumen ini telah digunakan secara luas dalam penelitian keperawatan dengan nilai validitasnya dalam rentang 0,317-0,706. Skor hasil pengukuran dikategorikan menjadi beban kerja ringan . Ae. , sedang . Ae. , dan berat . Ae. Tingkat kecemasan diukur dengan Zung Self Anxiety Scale (ZSAS) yang terdiri dari pernyataan favourable dan unfavourable. Instrumen ZSAS merupakan alat ukur yang telah tervalidasi secara internasional, dengan nilai uji validitas dari rentang 0,663-0,918 dan uji reliabilitas menggunakan Cronvbach Alpha nilainya 0,829. Skoring dilakukan dengan sistem terbalik untuk pernyataan positif, kemudian hasilnya dikategorikan menjadi kecemasan ringan . Ae. , sedang . Ae. , berat . Ae. , dan panik . Ae. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui Google Form dengan tetap memperhatikan prinsip etik penelitian, termasuk pemberian informed consent secara Veronica Fitri Astuti. Bernadetta Eka Noviati. Christina Ririn Widianti Beban Kerja Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul langsung, jaminan kerahasiaan data responden, serta hak responden untuk berpartisipasi secara sukarela tanpa paksaan. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan distribusi beban kerja dan tingkat kecemasan perawat, serta bivariat menggunakan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. HASIL PENELITIAN Tujuan umum penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan antara beban kerja dengan tingkat kecemasan perawat di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik perawat berdasarkan jenis kelamin, umur, lama bekerja, dan pendidikan, mengetahui tingkat beban kerja, mengukur tingkat kecemasan, serta menganalisis hubungan antara beban kerja dengan tingkat kecemasan perawat. Tabel 1 Distribusi Responden Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Jenis Kelamin Perempuan 81,8% Laki-laki 18,2% Umur 21-30 tahun 90,9% 31-40 tahun 6,8% 41-50 tahun 2,3% Lama Bekerja 1-10 tahun 97,7% 11-20 tahun 21-30 tahun 2,3% Jenjang Pendidikan D3 Keperawatan 86,4% S1 Ners 13,6% Sumber : data primer, 2025 Berdasarkan tabel 1. menunjukan karakteristik demografi responden menunjukkan bahwa perawat di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 36 orang . ,8%), dari rentang umur sebagian besar antara 21Ae30 tahun sebanyak 40 . ,9%). Karakteristik lama kerja sebagian besar antara1Ae10 tahun 43 orang . ,7%), serta karakteristik dari jenjang pendidikan sebagian besar perawat D3 Keperawatan sebanyak 38 . ,4%). Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Beban Kerja Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul Tingkat Beban Kerja Frekuensi . Persentase (%) Ringan Sedang 13,6% Berat 86,4% Total ICare : Jurnal Keperawatan STIKes Panti Rapih. Vol. 6 No. 2 Tahun 2025 Sumber : data primer, 2025 Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar perawat . ,4%) di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul mengalami beban kerja berat selama bekerja dan hanya sebagian kecil merasakan beban kerja sedang. Tidak ada perawat yang berada dalam kategori beban kerja ringan dikarenakan ruang rawat inap mempunyai karakteristik pelayanan yang menuntut perawatan pasien selama 24 jam secara berkesinambungan serta pasien yang dirawat merupakan pasien kompleks yang membutuhkan observasi intensif. Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Kecemasan Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul Tingkat Kecemasan Frekuensi . Persentase (%) Ringan 2,3% Sedang 36,4% Berat 61,4% Panik Total Sumber : data primer, 2025 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa lebih dari separuh perawat . ,1%) di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul mengalami kecemasan berat. Tidak ada responden yang termasuk dalam kategori panik. Tingginya angka kecemasan ini mencerminkan bahwa kondisi kerja yang dihadapi perawat cukup berat dan menuntut secara fisik maupun mental. Tabel 4 Distribusi Hubungan Tingkat Beban Kerja Dengan Tingkat Kecemasan Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul Tingkat Kecemasan Tingkat Beban Kerja 0,479 p-value 0,001 Sumber : data primer, 2025 Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat beban kerja dengan tingkat kecemasan perawat di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rahayu Gunungkidul dengan nilai p-value : 0,001 . < 0,. , koefisien korelasi positif . , dan kekuatan dalam kategori lemah. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi beban kerja yang dirasakan oleh perawat, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang mungkin dialaminya. Tabel 5 Distribusi Tingkat Kecemasan Berdasarkan Tingkat Beban Kerja Perawat di Instalasi Rawat Inap Tingkat Kecemasan Kecemasan Kecemasan Panik Total Beban kerja Ringan Sedang Berat Veronica Fitri Astuti. Bernadetta Eka Noviati. Christina Ririn Widianti Beban Kerja Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul ,3%) ,3%) ,6%) ,7%) ,3%) ,4%) ,4%) Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar perawat dengan beban kerja berat mengalami kecemasan berat . ,4%), sedangkan perawat dengan beban kerja sedang cenderung mengalami kecemasan sedang. Pola ini memperkuat hasil uji korelasi yang menunjukkan hubungan positif antara beban kerja dan tingkat kecemasan, di mana perawat dengan beban kerja lebih tinggi lebih rentan mengalami kecemasan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat berada pada kategori beban kerja berat . ,4%), yang berkaitan dengan tuntutan pelayanan rawat inap berupa perawatan berkesinambungan, penanganan pasien kompleks, tindakan keperawatan langsung, dan tugas administratif dalam satu shift kerja. Sebagian besar perawat juga mengalami kecemasan berat . ,4%) yang, berdasarkan Zung Self Anxiety Scale (ZSAS), ditandai dengan gejala tegang berlebihan, kelelahan, dan gangguan konsentrasi. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dan tingkat kecemasan perawat . = 0,001. r = 0,. , meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah, yang mengindikasikan adanya faktor lain yang turut memengaruhi kecemasan perawat. Temuan ini konsisten dengan penelitian Lestari . di RSNU Jombang yang menemukan mayoritas perawat memiliki beban kerja berat, serta penelitian Istiqomah . yang membuktikan adanya hubungan signifikan antara beban kerja dan kecemasan di RSI Sultan Agung Semarang. Secara teori, hasil ini sejalan dengan model Job Demand-Resource (JD-R) yang menjelaskan bahwa tuntutan kerja yang tinggi . ob deman. tanpa diimbangi dengan sumber daya memadai dapat meningkatkan stres kerja dan memicu kecemasan (Bakker & Demerouti, 2. Tingkat kecemasan perawat pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan penelitian Marpaung . di RS Santa Elisabeth Medan, yang menemukan sebagian besar perawat hanya mengalami kecemasan ringan. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh kondisi kontekstual, antara lain keterbatasan jumlah tenaga perawat, kompleksitas pasien, serta tingginya beban administratif. Kompleksitas ini sesuai dengan teori stres Lazarus & Folkman . yang menyatakan bahwa kecemasan muncul ketika individu menilai tuntutan lingkungan melebihi kemampuan yang dimiliki. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada konteks rumah sakit swasta di Gunungkidul yang memperlihatkan mayoritas perawat mengalami beban kerja dan kecemasan dalam Veronica Fitri Astuti. Bernadetta Eka Noviati. Christina Ririn Widianti Beban Kerja Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul kategori berat. Hal ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang melaporkan distribusi lebih merata pada kategori ringan hingga sedang (Angin et al. , 2021. Marpaung. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa beban kerja tinggi pada perawat dapat secara langsung memengaruhi kondisi psikologis, khususnya kecemasan, dalam konteks pelayanan kesehatan yang terbatas sumber daya. Implikasi praktis dari hasil penelitian ini sangat penting. Pihak manajemen rumah sakit perlu mengevaluasi distribusi kerja, menambah dukungan psikologis berupa konseling atau pendampingan, serta memberikan pelatihan manajemen stres bagi perawat. Upaya ini sejalan dengan rekomendasi WHO . tentang pentingnya intervensi kesehatan mental bagi tenaga kesehatan. Selain itu, penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan variabel lain seperti dukungan sosial, pola shift, atau konflik interpersonal untuk memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan perawat. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rahayu Gunungkidul berada pada kategori beban kerja berat dan mengalami kecemasan berat. Selain itu, terdapat hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dan tingkat kecemasan perawat, di mana peningkatan beban kerja cenderung diikuti oleh peningkatan tingkat kecemasan. Temuan ini mengindikasikan bahwa beban kerja yang tinggi berpotensi memengaruhi kondisi psikologis perawat dan perlu menjadi perhatian manajemen rumah sakit dalam upaya menjaga kesejahteraan perawat dan mutu pelayanan keperawatan. Diperlukan pengelolaan yang optimal untuk mengevaluasi dan menyeimbangkan distribusi beban kerja perawat rawat inap serta menyediakan dukungan kesehatan mental dan pelatihan manajemen stres untuk menurunkan kecemasan perawat. DAFTAR PUSTAKA