JURNAL VASTUKARA: JURNAL DESAIN INTERIOR. BUDAYA, DAN LINGKUNGAN TERBANGUN e-ISSN 2798-1703 Hal 212-222 Volume 3 Nomor 2 September 2023 DOI: https://doi. org/10. 59997/vastukara. MAKNA ELEMEN ARSITEKTUR PADA BANGUNAN CANDRA NAYA Muhammad Farel Juliansyah1. Nadhimatul Hanifah2. Aida AndrianawatiA 1,2,3Program Studi Desain Interior. Fakultas Industri Kreatif. Telkom University E-mail : 1fareljul@student. id , 2nadyahnfh@student. 3andriana@telkomuniversity. ABSTRAK Warisan budaya merupakan suatu peninggalan penting dari suatu kebudayaan yang memiliki nilai sejarah dan melambangkan ciri khas dari suatu masyarakat atau kaum yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Warisan budaya ada yang berbentuk benda dan ada yang tak benda. Salah satu warisan budaya berbentuk benda itu ialah Bangunan cagar budaya Candra Naya yang memiliki arsitektur Cina yang khas. Candra Naya terletak di Jalan Gajah Mada 188 Jakarta Barat. Bangunan ini telah mengalami beberapa perubahan karena dinamika isu politik, ekonomi, dan sosial budaya yang terjadi di kota Jakarta. Bangunan Candra Naya memiliki sejarah yang dalam serta menarik dari segi visual dan makna. Dengan memahami sejarah dari bangunan candra naya lebih jauh, kita dapat mengetahui tujuan dan makna dari bangunan Candra Naya, fungsi bangunan dan ruang pada Candra Naya, dan nilai nilai budaya yang terkandung pada bangunan ini. Diharapkan penelitian ini dapat melengkapi dan memperkuat teori dari penelitian sebelumnya sehingga dapat memberi pengetahuan baru dan inspirasi bagi penelitian berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena pengambilan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara, dan pengumpulan data melalui studi literatur. Teori yang digunakan adalah Theory about Architecture menurut Kate Nesbitt yang menjelaskan pentingnya makna dan pengaruh arsitektur berdasarkan konteks sosial budaya yang dapat digunakan dan diterima oleh masyarakat. Kata kunci : Kebudayaan. Bangunan. Makna. Fungsi. Candra Naya. ABSTRAK Cultural heritage is an important relic of a culture that has historical value and symbolizes the characteristics of a society or people inherited from previous generations. There are cultural heritage in the form of objects and some are One of the cultural heritages in the form of objects is the Candra Naya cultural heritage building which has a distinctive Chinese architecture. Candra Naya is located at Jalan Gajah Mada 188. West Jakarta. This building has undergone several changes due to the dynamics of political, economic, and socio-cultural issues that occur in the city of Jakarta. The Candra Naya building has a deep and interesting history in terms of visuals and meaning. understanding the history of the Candra Naya building further, we can find out the purpose and meaning of the Candra Naya building, the function of the building and space in Candra Naya, and the cultural values contained in this building. It is hoped that this research can complement and strengthen the theory of previous research so that it can provide new knowledge and inspiration for future research. This study uses qualitative research methods because data collection is done by means of field observations, interviews, and data collection through literature studies. The theory used is Theory about Architecture according to Kate Nesbitt which explains the importance of the meaning and influence of architecture based on the socio-cultural context that can be used and accepted by the community. Keywords : Culture. Building. Meaning. Function. Candra Naya. Diterima pada 23 Juni 2022 Direvisi pada 12 Februari 2023 Disetujui pada 23 Agustus 2023 PENDAHULUAN Warisan budaya adalah tradisi atau ekspresi hidup yang diwarisi oleh nenek moyang dan diteruskan kepada keturunannya. Warisan budaya terbagi menjadi warisan budaya benda dan tak benda. Warisan budaya tidak hanya berlingkup pada monumen dan koleksi bendabenda, melainkan tradisi lisan, ritual, pertunjukan, pengetahuan dan praktek tentang alam, dan keterampilan untuk menghasilkan kerajinan tradisional. Warisan budaya berbentuk benda adalah warisan yang memiliki bentuk fisik dan terbagi menjadi warisan budaya benda bergerak dan tak bergerak. Mengingat bahwasannya cagar budaya adalah warisan dari leluhur yang tidak bergerak serta memiliki makna dan nilai tinggi, maka diperlukan langkah untuk menjaga dan A2023 Penulis. Dipublikasikan oleh UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-NC-SA. Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 213 melestarikan cagar budaya tersebut agar dapat diteruskan dan dipelajari lebih lanjut oleh generasi berikutnya. Bangunan Cagar budaya di Jakarta tersebar di beberapa wilayah. Terdapat 168 unit cagar budaya yang terbanyak terdapat di Jakarta Pusat. Kriteria cagar budaya sudah tertulis dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 yaitu bangunan yang memiliki usia 50 tahun atau lebih, memiliki gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Bangunan cagar budaya di Jakarta akan terus dilindungi karena sudah tertulis dalam Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan bangunan Cagar Budaya. Salah satu cagar budaya yang dilestarikan di Jakarta yaitu Candra Naya yang terletak di Jalan Gadjah Mada 188 Jakarta Barat. Candra Naya telah mengalami perubahan karena adanya dinamika isu politik, ekonomi, dan sosial budaya di kota Jakarta. Candra Naya tidak banyak diketahui oleh orang awam karena posisi bangunan tersebut tertutupi oleh bangunan di sekitarnya dan menyebabkan bangunan tersebut tidak terlihat dalam peta digital sehingga menimbulkan kurangnya ketertarikan masyarakat untuk mengunjungi dan melakukan riset pada Candra Naya. Candra Naya menjadi salah satu dari sedikit bangunan yang menampilkan arsitektur bergaya Cina pada masa kolonial Belanda. Candra Naya dibangun pada akhir abad ke-19 saat tahun kelinci dan merupakan salah satu dari tiga tempat tinggal yang dibangun oleh keluarga Khouw Tian Sek, seorang pejabat Tiongkok. Kemudian bangunan ini menjadi kediaman Khouw Kim An, pejabat eksekutif distrik Tionghoa terakhir dan penanggung jawab kepentingan komunitas Tionghoa di Batavia pada masa kolonial Belanda. Candra Naya telah berkembang sebagai situs aktivitas politik dan sosial Tionghoa-Indonesia selama sekitar satu abad. Pada tahun 1992 Candra Naya dijual kepada perusahaan Tionghoa-Indonesia. Modern Group dan pada tahun 2012 gedung utama dan bangunan sayap Candra Naya dapat diselamatkan dengan dibangun ulang setelah sebelumnya hampir dibongkar total karena ingin dipindahkan ke Taman Mini Indonesia Indah. Candra Naya merupakan salah satu cagar budaya dari hasil kekayaan arsitektur nusantara yang dimiliki oleh Indonesia. Menurut Hidayatun . Auarsitektur nusantara merupakan sebuah konsep berarsitektur yang berpedoman pada lingkungan alam dan budaya setempat, yang tercermin dalam nilai-nilai dan makna yang terkandung dibalik perwujudan fisiknyaAy. Hal tersebut terlihat pada pembangunan Candra Naya dimana bangunan ini dibangun dengan arsitektur bergaya Cina namun tetap menyesuaikan dengan lingkungan dan iklim yang ada pada Indonesia. Dengan mengobservasi bangunan dan sejarah Candra Naya, kami dapat mengetahui dan mempelajari makna gaya arsitektur Cina pada masa pembangunan Candra Naya, sehingga kami dapat memaparkan makna dan tujuan dari pembangunan gedung Candra Naya. Dengan demikian cagar budaya khususnya Candra Naya dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas dan dapat dipelajari lebih lanjut oleh generasi berikutnya sehingga dapat terus dilestarikan. METODE Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu Theory about Architecture menurut Kate Nesbitt. Teori ini menjelaskan pentingnya makna dan pengaruh arsitektur berdasarkan konteks sosial budayanya serta dapat digunakan dan diterima oleh masyarakat. Hal ini sejalan dengan jurnal penelitian kami yaitu ingin mengetahui dan memaparkan mengenai tujuan dan makna bangunan Candra Naya pada masa pembangunan. Menurut Nesbitt . 6:16-. bahwa, di dalam disiplin arsitektur, teori adalah wacana yang menjelaskan praktek dan produksi arsitektur dan menguraikan tantangan. Teori ini juga membahas tentang arsitektur dan alam yang dikembangkan melalui pembangunan bangunan, merombak sifat fluktuasi dari simpati, harmoni dan integrasi dari alam. Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 214 Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono . , metode penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang digunakan untuk meneliti pada objek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Penelitian kualitatif bertujuan mempertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitas-kualitasnya, alihalih mengubahnya menjadi entitas-entitas kuantitatif (Mulyana, 2008: . Adapun cara pengambilan data yang dilakukan melalui observasi lapangan dan melakukan wawancara kepada masyarakat lingkungan sekitar serta pengumpulan data melalui studi Penelitian ini akan menghasilkan jurnal deskriptif dengan data yang dikumpulkan berupa gambar dan penjabaran kata kata serta pengembangan data dimana kami menganalisis maksud dan arti dari dibangunnya bangunan Candra Naya pada masa itu. Menurut Sugiyono . metode analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam metode kualitatif ini berupa observasi lapangan, wawancara, dan pengambilan data dari studi literatur. Observasi Lapangan Menurut Widoyoko . , observasi merupakan Aupengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitianAy. Observasi yang kami lakukan pada penelitian ini adalah pengamatan pada bentuk dan arti bangunan Candra Naya, fungsi ruang, dan catatan sejarah pada bangunan. Wawancara Menurut Esterberg dalam Sugiyono . wawancara adalah pertemuan yang dilakukan oleh dua orang untuk bertukar informasi maupun suatu ide dengan cara tanya jawab, sehingga dapat dikerucutkan menjadi sebuah kesimpulan atau makna dalam topik tertentu. Wawancara dilakukan dengan cara semi-terstruktur dengan memberi pertanyaan terbuka dan bebas kepada pengurus dan pengelola untuk mendapatkan data yang mendalam dan akurat serta membangun teori mengenai bangunan Candra Naya. Studi Literatur Warsiah . Studi Literatur adalah merupakan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku buku, majalah yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Pengumpulan data dari studi literatur didapatkan dari jurnal penelitian Hal ini diperlukan pada penelitian untuk memperluas wawasan, analisis, informasi dan cakupan teori yang berkaitan dengan pembangunan gedung Candra Naya. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Arsitektur Candra Naya . Bentuk Atap Lengkung Bangunan Candra Naya dibangun dengan arsitektur khas Cina yang memiliki bentuk atap yang menarik dan istimewa. Rumah dengan penggayaan arsitektur Cina dapat terlihat dari bentuk atapnya yang melengkung. Selain itu, atap bangunan Cina juga terdapat hiasan ornamen dekoratif dengan material keramik pada bagian ujungnya yang berbentuk hewan mitologi dengan maksud untuk menolak api dan menolak bala. Sistem atap seperti ini sudah ada sejak dinasti han. Menurut Ismail . , rumah dengan arsitektur tradisional cina biasanya menggunakan ekstensi atap berbentuk ekor walet atau pucuk jerami untuk menunjukan hirarki status sosial yang lebih tinggi. Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 215 Gambar 1. Atap Lengkung Candra Naya (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. Pada bangunan Candra Naya selain ada atap pelana, ada juga terdapat bentuk atap melengkung yang terbelah dua pada bagian ujungnya seperti ekor walet atau Yanwei. Penggunaan atap lengkung biasanya digunakan untuk menunjukan status sosial penghuninya. Pemilik bangunan yang memiliki rumah dengan atap lengkung biasanya adalah seorang pejabat atau orang penting pada masanya. Bentuk atap seperti ekor walet pada bangunan Candra Naya merupakan hak spesial yang diberikan oleh pemerintah kolonial belanda kepada pejabat Tionghoa seperti mayor, kapten, dan sebagainya. Selain itu bentuk atap melengkung juga menunjukan status sosial penghuninya dari segi ekonomi dan pendidikan. Selain itu, bentuk atap lengkung juga digunakan pada bangunan keagamaan atau kelenteng pada bangunan orang Tionghoa di Indonesia. Courtyard Courtyard merupakan suatu area terbuka tanpa atap yang biasa terdapat pada rumah orang Tionghoa yang bermakna AukeyakinanAy. Area courtyard ini membentuk suatu dunia kecil atau dunia sendiri yang membawa energi ke dalam bangunan bagi penghuninya. Agar energi terbagi ke seluruh bangunan, maka courtyard biasanya diletakan di tengah/pusat bangunan sebagai sumbu utama. Courtyard ini berbentuk ruang kosong terbuka yang dikelilingi oleh bangunan lain yang terhubung satu sama lain. Courtyard biasanya bersifat private dan terhubung dengan taman atau kebun. Fungsi utama dibangunnya courtyard ini yaitu untuk memaksimalkan pencahayaan alami, sirkulasi udara yang besar dan pembatas atau pemisah. Pada rumah dengan arsitektur Cina di Indonesia, courtyard ini biasanya diganti dengan teras dengan ukuran yang sedikit lebih besar karena kurangnya lahan. Menurut unsur Feng Shui, biasanya menghadap timur searah dengan terbitnya matahari untuk mendapat kehangatan. Selain itu, menghadap selatan juga menjadi arah yang diminati. Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 216 Gambar 2. Courtyard Belakang (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. Terdapat 4 area courtyard pada bangunan Candra Naya. Courtyard pertama terletak di tengah bangunan utama. Courtyard kedua terletak pada area belakang banguna dan terdapat gazebo pada area tersebut. Courtyard ketiga dan keempat terletak pada bagian kanan dan kiri main building yang menjadi pemisah antara main building dengan side building. Pada pembangunan Candra Naya, kamar kamar utama dibangun sejajar dan menghadap courtyard agar mendapat pencahayaan dan penghawaan alami. Pembangunan courtyard ini juga memiliki makna sebagai simbol keseimbangan dan keharmonisan kehidupan di dunia. Gambar 3. Courtyard Samping (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. Sumur Langit Pada gedung utama Candra Naya, area Courtyard terletak di tengah bangunan yang memisahkan antara ruang utama untuk tamu dengan ruang untuk keluarga. Pada area Courtyard ini, terdapat sebuah skylight yang biasa disebut sumur langit atau Tien Ching. Pada rumah dengan arsitektur Cina pada umumnya, sumur langit ini biasanya menjadi area tanpa atap yang menjadi ruangan terbuka di tengah bangunan. Sumur langit dibuat terbuka dan tanpa atap dibuat sedemikian rupa dengan maksud menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, sumur langit bisa memberikan rezeki dan keuntungan lebih kepada penggunanya sekaligus dapat menjadi tempat ibadah dengan memiliki hubungan Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 217 langsung dengan Tuhan dengan menggunakan langit-langit rumah tanpa pembatas apapun antara bangunan dengan langit. Selain itu, fungsi utama dari sumur langit ini juga untuk sirkulasi udara, pencahayaan alami, dan ruang bersama anggota keluarga. Gambar 4. Skylight Candra Naya (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. Pada bangunan Candra Naya, seiring berjalannya waktu, keluarga Khouw Kim An telah memahami dan mengenali iklim di Indonesia dengan curah hujan yang tinggi, sehingga pada saat dibangun. Candra Naya langsung diberi skylight atau atap bening yang tembus pandang untuk menyesuaikan lingkungan tersebut. Sehingga walaupun ruangan menjadi tertutup, pencahayaan alami dari matahari dan sinar bulan tetap dapat menerangi ruangan courtyard tanpa menghilangkan makna dari sumur langit itu sendiri. Jendela dan Gerbang Bulan Pada bagian gedung utama, terdapat sebuah jendela yang memisahkan antara courtyard utama dengan courtyard samping. Jendela ini bernama moon gate atau gerbang bulan. Gerbang ini biasanya terdapat di taman rumah dengan gaya arsitektur Cina pada umumnya khususnya untuk orang-orang kaya sehingga moon gate ini juga menunjukan simbol status sosial Moon gate ini awalnya dibangun oleh bangsawan Cina dan sudah ada sejak berabad-abad lalu. Gerbang ini biasanya berbentuk bukaan lingkaran penuh dan dibangun bersamaan dan sejajar dengan dinding. Pada rumah orang Tionghoa, moon gate memiliki fungsi sebagai lorong pada taman tetapi memiliki bagian dan bentuk yang bermakna. Bentuk lengkung pada bagian atas moon gate diartikan seperti bulan sabit yang menjadi simbol kelahiran dan pembaruan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, gerbang ini seperti sebuah portal sambutan yang memberi keberuntungan dan keuntungan bagi siapapun yang melewatinya. Sehingga, gerbang ini banyak digunakan untuk acara seremonial seperti upacara pernikahan, dimana pasangan yang baru menikah berjalan melewati moon gate secara bersama-sama untuk keberuntungan dan kehidupan yang bahagia. Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 218 Gambar. Jendela Bulan atau Moon Gate Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2022 Pada bangunan Candra Naya, terdapat 4 Jendela bulan. Jendela ini masing-masing memiliki ukuran dengan diameter A180 cm. Fungsi utama dari moon gate pada Candra Naya yaitu sebagai penghubung visual antara 2 ruangan yang dipisahkan . ari main building ke side buildin. sekaligus pemisah antara dunia dalam . dan dunia luar . Makna dari moon gate ini adalah memberikan kesan bentuk bulan yang lingkaran sempurna yang mewakili kelengkapan dan kekompakan keluarga untuk merayakan kebahagiaan satu sama lain. Selain itu, bentuk lingkaran sempurna ini juga seperti menyediakan para anggota keluarga jalan masuk untuk kembali ke rumah dan disambut oleh anggota keluarga yang lain. Pintu Utama Rumah yang dibangun dengan langgam dan gaya arsitektur Cina, biasanya memiliki pintu utama yang ukurannya lebih besar dari pintu pada umumnya. Candra Naya memiliki 2 pintu utama dengan ukuran yang besar yang terletak pada depan dan belakang bangunan. Kedua pintu utama ini memiliki ukuran yang cukup besar yaitu dengan ketinggian A3 m dan lebar A2 m. Pintu utama pada Candra Naya sengaja di buat besar karena rumah ini dibangun berdasarkan unsur Feng Shui, yaitu ilmu atau geomansi warisan budaya dan kepercayaan masyarakat Tionghoa yang digunakan untuk menata dan mengatur komposisi, struktur, orientasi, arah, tempat, dan bangunan dalam suatu lingkungan agar selaras dan seimbang sehingga penghuni tempat tersebut dapat hidup dengan makmur, harmonis, dan penuh kedamaian. Menurut shevcenko . , gerbang atau pintu suatu rumah dapat menunjukan status sosial dan kemakmuran finansial pemiliknya. Gambar 6. Pintu Utama Candra Naya Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2022 Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 219 Dengan menggunakan pintu dengan ukuran besar, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa hal ini akan mempermudah masuknya rezeki dan keberuntungan kepada penghuni dan tempat Selain pada pintu utama, penerapan unsur Feng Shui juga dapat ditemukan pada bagian dalam bangunan utama pada partisi bangunannya yang menjadi sumbu akses untuk orang yang melewatinya. Partisi tersebut juga dibuat dengan ukuran yang besar dengan panjang A6 m dan tinggi A4 m. Gambar 7. Partisi Candra Naya (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. Pembuatan partisi ini dibangun berdasarkan kepercayaan masyarakat Tionghoa agar rezeki dan kemakmuran yang masuk dari pintu utama bagian depan, tidak bocor atau lari melalui pintu belakang, sehingga rezeki tersebut akan terus bertambah dan tinggal dengan penghuni dan bangunan tersebut. Fungsi Ruangan Candra Naya . Ruang Tamu Ruangan ini merupakan ruangan umum serta ruangan pertama setelah teras dan pintu masuk. Ruangan ini difungsikan sebagai ruang penerima tamu oleh Mayor Khow Kim An. Ruang Tamu ini berada diantara dua buah ruang yang simetris di kanan dan kirinya. Kedua ruangan ini juga diperuntukkan sebagai tempat kerja Mayor Khow Kim An serta menerima tamu rekan kerjanya menyangkut persoalan bisnis dan pemerintahan setempat. Pada Ruang kedua di khususkan untuk penerima tamu yang sudah akrab dan keluarga Gambar 8. Teras Depan Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2022 Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 220 Gambar 9. Ruang Tamu (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. Ruang Tengah Ruang Tengah ini merupakan ruang semi privat. Ruangan ini dinamakan sebagai courtyard yang berada di antara ruang tamu dan ruang depan yang hanya tamu akrab dan keluarga yang diperkenankan masuk. Pada bagian atap courtyard menggunakan atap tembus pandang atau Terletak sebuah ruangan yang dilengkapi altar untuk memuja para dewa-dewi dihadapan courtyard. Ruang sembahyang ini terletak diantara dua ruang di sebelah kanan dan kirinya yang sejajar dengan ruang kerja Mayor Khow Kim An. Ruang Keluarga Ruangan ini merupakan ruang privat sebagai hunian keluarga. Ruangan ini terdiri dari dua lantai, lantai satu terdapat beranda yang cukup besar dan memiliki fungsi sebagai tempat berkumpul keluarga terdekat dan tamu-tamu yang sudah sangat akrab. Ruangan beranda ini berhubungan langsung dengan ruang sembahyang yang diapit oleh kamar tidur utama, salah satunya adalah kamar Mayor Khouw Kim An. Pada lantai satu juga terdapat sebuah courtyard dengan tamannya dan pada lantai dua terdapat deretan kamar seperti lantai satu. Ruang Service Ruangan ini adalah ruangan yang terdapat dapur, ruang bagi para selir dan anak-anak. Dapur terletak pada bagian depan sedangkan dibelakangnya terdapat ruang untuk penerimaan tamu bagi para isteri. Setelah itu terdapat deretan kamar yang tersusun ke belakang untuk para istri dan anak-anak mereka. Ruang service dan ruang Private dihubungkan oleh sebuah koridor yang memotong courtyard . Courtyard Ruangan ini adalah ruang yang diberi atap tembus pandang atau skylight. Fungsi dari courtyard adalah untuk memisahkan suatu ruang dengan ruang yang lain, ruang tamu yang terletak di depan dan ruang sembahyang yang terletak di belakang dipisahkan oleh courtyard, antara ruang sembahyang dan ruang keluarga dipisahkan lagi oleh courtyard yang lebih besar dari yang di depan. Begitu juga dengan ruang service dan ruang penerimaan tamu juga dipisahkan oleh courtyard yang memanjang sejajar dengan bangunan ruang service. Ruangan utama ditata menghadap courtyard sehingga udara segar dapat masuk dengan leluasa ke segala ruangan. Terdapat pula courtyard di bagian kanan dan kiri massa bangunan uatama untuk memisahkan ruang-ruang service dengan ruang-ruang dalam bangunan utama. Courtyard utama belakang dengan courtyard samping dihubungkan dengan moon gate, agar setiap ruang tampak menyatu satu dengan yang lainnya. Jurnal Vastukara. Volume 3 Nomor 2 September 2023 | 221 Gambar 10. Courtyard Kanan Kiri Bangunan Utama (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2. SIMPULAN Dari hasil pengamatan dan pengumpulan data diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa makna pada masa pembangunan Candra Naya. Hal tersebut berupa penggunaan atap lengkung atau ekor walet dilakukan untuk menunjukan status sosial penghuninya. Atap lengkung ini biasa digunakan oleh orang kaya, pejabat, dan orang berpendidikan. Courtyard pada Candra Naya memiliki makna keyakinan, keharmonisan, dan keseimbangan dalam kehidupan manusia. Selain itu, courtyard juga berfungsi untuk memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami agar masuk ke dalam bangunan. Skylight pada Candra Naya memiliki makna sebagai sumur langit agar memiliki hubungan langsung dengan Tuhan serta mendapatkan rezeki lebih. Moon gate memiliki makna keberuntungan dan kebahagiaan bagi siapapun yang melewatinya. Selain itu, moon gate juga berarti kelengkapan dan kekompakan dalam suatu keluarga. Fungsi utama dari moon gate yaitu sebagai penghubung visual dan pemisah antara dunia dalam dan dunia luar. Penggunaan pintu besar pada pintu utama Candra Naya dimaksud untuk mempermudah rezeki dan keberuntungan masuk ke dalam bangunan, dan penggunaan partisi dilakukan untuk mencegah rezeki dan keberuntungan tersebut bocor atau keluar melalui pintu belakang. Setiap ruang memiliki fungsi nya tersendiri. Pada ruang tamu merupakan ruang publik yang dijadikan sebagai ruang menerima tamu dan terdapat dua ruang berbeda yang difungsikan sebagai tempat kerja dan menerima rekan kerjanya. Pada ruang tengah yang disebut courtyard ini merupakan ruang semi privat, yang dimana pada atapnya menggunakan skylight dan hanya tamu akrab dan keluarga yang diperkenankan masuk. Ruang keluarga sudah pasti merupakan ruang privat karena sebagai tempat berkumpul keluarga terdekat dan tamu-tamu yang sudah sangat akrab dan juga terdapat kamar tidur utama yang ditempati oleh Mayor Khow Kim An. Pada Ruang service terdapat dapur dan juga kamar para selir dan anak-anak, dapur dan kamar para selir dan anak dihubungkan oleh sebuah koridor yang memotong courtyard. Ruang terakhir yaitu courtyard yang berfungsi sebagai pemisah suatu ruang dengan ruang lainnya. Courtyard ini terletak di beberapa ruang diantaranya ruang tamu dengan ruang sembahyang , ruang keluarga dengan ruang sembahyang, ruang service dengan kamar para selir dan anakanak, dan ruang service dengan ruang tamu dengan bentuk courtyard yang memanjang. DAFTAR PUSTAKA