Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 e-mail: pahlawanjurnal@gmail. com | P-ISSN: 2338-0853 | E-ISSN: 2685-9920 Hal. 182-192 | DOI: https://doi. org/10. 57216/pah. PENGARUH CIRCLE PERTEMANAN TERHADAP EFEKTIVITAS KELOMPOK BELAJAR MAHASISWA Siti Nur Aeni1*. Mirna Nur Alia Abdullah2, & Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura3 *1-3 Universitas Pendidikan Indonesia *Koresponden e-mail: siti. nuraeni@upi. Submit Tgl: 06-April-2025 Diterima Tgl: 20-Mei-2025 Diterbitkan Tgl: 01-Oktober-2025 Abstract: This study aims to explore the influence of friendship circles on the effectiveness of study groups among university students. Friendship circles play a significant role in shaping group dynamics, particularly in terms of academic achievement, comfort in discussion, and the provision of social support among members. This research employed a descriptive qualitative method, collecting data through interviews with students from various academic backgrounds. The findings reveal that study groups composed of individuals within the same friendship circle tend to be more effective in fostering a supportive, communicative, and tolerant environment. Students reported feeling more comfortable expressing ideas and collaborating on academic tasks. However, some challenges were also identified, such as peer pressure and social conformity, which may hinder focus manifested in tendencies to engage in excessive chatting or procrastination. Therefore, friendship circles can serve as both supporting and inhibiting factors in the effectiveness of study groups, depending on the interpersonal dynamics and maturity of each member. It is hoped that the results of this study can serve as a reference for students and educational institutions in improving the quality of collaborative learning processes. Keywords: Friendship Circle. Study Group. Effectiveness. University Students Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh circle pertemanan terhadap efektivitas kelompok belajar di kalangan mahasiswa. Circle pertemanan memiliki peran yang signifikan dalam membentuk dinamika kerja kelompok, baik dari segi pencapaian akademik, kenyamanan dalam berdiskusi, hingga dukungan sosial yang diberikan antar anggota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada beberapa mahasiswa dari berbagai latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok belajar yang terdiri dari circle pertemanan cenderung lebih efektif dalam menciptakan suasana yang suportif, komunikatif, dan penuh Mahasiswa merasa lebih nyaman dalam menyampaikan ide dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Namun demikian, terdapat pula hambatan seperti tekanan teman sebaya dan konformitas sosial yang dapat mengganggu fokus belajar, misalnya kecenderungan untuk mengobrol atau menunda tugas. Dengan demikian, circle pertemanan dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat efektivitas kelompok belajar, tergantung pada dinamika hubungan dan kedewasaan masing-masing individu dalam Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi mahasiswa dan institusi pendidikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran Kata kunci: Circle Pertemanan. Efektivitas. Kelompok Belajar. Mahasiswa Lisensi CC-BY | https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Cara mengutip Aeni. Abdullah. , & Mujayapura. Pengaruh Circle Pertemanan terhadap Efektivitas Kelompok Belajar Mahasiswa. Pahlawan Jurnal Pendidikan-SosialBudaya, 21. , 182Ae192. https://doi. org/10. 57216/pah. Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A Copyright A 2025: Siti Nur Aeni. Mirna Nur Alia Abdullah, & Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura PENDAHULUAN Kerja kelompok merupakan metode belajar yang melibatkan dua orang atau lebih untuk menyelesaikan tugas secara lebih efektif. Dalam kelompok, anggota dapat bertukar pikiran, berbagi pemahaman, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan akademik. Nugraheni et al. menyatakan bahwa kerja kelompok memungkinkan tugas diselesaikan lebih cepat dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Kerja kelompok juga dinilai lebih efektif karena melibatkan kolaborasi beberapa individu yang memiliki beragam pemikiran dan perspektif. Selain itu. Efektivitas kerja kelompok dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang berpengaruh dalam efektivitas kerja kelompok adalah circle Selain menjadi sumber dukungan emosional, circle pertemanan juga membentuk sikap dan perilaku akademik individu (Barrett & Randall, 2004. Frederickson et al. , 2. Circle pertemanan biasanya terbentuk karena kesamaan minat, tujuan, atau kebiasaan, yang kemudian membentuk dinamika sosial dalam kelompok belajar. Jacobson . dalam teori identitas sosial menjelaskan bahwa individu cenderung mengelompokkan diri berdasarkan identitas sosial dan personal. Hogg & Abrams . menambahkan bahwa orang yang memiliki kesamaan akan membentuk kelompok . , sedangkan yang berbeda akan dikategorikan sebagai kelompok luar . Sikap dan perilaku anggota kelompok belajar dapat dipengaruhi oleh norma yang berlaku dalam circle pertemanan. Misalnya, kecenderungan untuk menghindari konflik dapat menghambat diskusi kritis, sementara dukungan sosial dalam kelompok dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi dalam belajar (Arslan et al. , 2. Penelitian sebelumnya telah menyoroti dampak umum circle pertemanan terhadap prestasi akademik (Hermanto et al. , 2023. Hutajulu et al. , 2. Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa circle pertemanan yang suportif dapat meningkatkan motivasi dan pencapaian akademik. Namun, penelitian-penelitian tersebut cenderung belum secara spesifik mengeksplorasi bagaimana dimensi-dimensi pengaruh sosial dalam circle pertemanan, seperti norma kelompok, dukungan sosial, dan tekanan teman sebaya yang berhubungan dengan berbagai aspek efektivitas kelompok belajar itu sendiri. Dukungan sosial dapat meningkatkan semangat mahasiswa dalam hal akademik dan membuat mereka bertahan di situasi perkuliahan yang sulit. Mahasiswa yang mempersepsi bahwa mereka mendapat dukungan dari orangtua, teman dan orang terdekat akan mempunyai ketahanan dalam menghadapi kesulitan, kecemasan dan tuntutan akademik di universitas (Dawson & Pooley, 2. Berbeda dengan fokus penelitian sebelumnya, studi ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam pengaruh circle pertemanan mahasiswa dengan berbagai aspek efektivitas kelompok belajar, termasuk faktor pendukung dan faktor penghambat circle pertemanan terhadap efektivitas kelompok belajar. Secara lebih spesifik, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan mengenai seberapa efektif kelompok belajar mahasiswa ini ketika anggotanya berasal dari circle pertemanan yang sama. Penelitian ini melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi, universitas, dan tingkatan semester. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai pembentukan kelompok belajar yang lebih efektif serta peran circle pertemanan dalam mendukung efektivitasnya. Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur dan wawancara mendalam untuk menganalisis pengaruh sosial dalam circle pertemanan terhadap efektivitas kelompok belajar mahasiswa. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai fenomena yang dikaji, baik melalui data konseptual dari literatur maupun narasi empiris dari pengalaman partisipan. Kajian literatur dilakukan secara sistematis dengan menelusuri artikel dan jurnal ilmiah yang relevan dari berbagai basis data akademik, seperti Google Scholar. ResearchGate, dan ScienceDirect. Literatur yang dipilih memiliki keterkaitan langsung dengan topik circle pertemanan, dinamika kelompok, serta efektivitas kerja kelompok dalam konteks pendidikan tinggi. Wawancara mendalam dilaksanakan secara daring melalui platform WhatsApp, melibatkan lima mahasiswa aktif dari berbagai program studi, universitas, dan tingkatan semester. Pemilihan partisipan dilakukan dengan teknik purposive sampling, berdasarkan kriteria keterlibatan aktif dalam kelompok belajar serta memiliki interaksi sosial yang erat dalam circle pertemanan mereka. Wawancara dilakukan dalam format semi-terstruktur, menggunakan panduan pertanyaan terbuka untuk menggali pengalaman dan pandangan partisipan mengenai dinamika kelompok belajar, pengaruh circle pertemanan, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat efektivitas kerja kelompok. Sebelum wawancara dilakukan, seluruh partisipan diberi penjelasan mengenai tujuan penelitian dan memberikan persetujuan partisipasi secara sukarela. Data hasil wawancara direkam dan ditranskripsi secara verbatim, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Tahapan analisis meliput reduksi data, pemberian kode pada segmen data yang relevan, pengelompokan kode menjadi tematema utama terkait pengaruh circle pertemanan terhadap efektivitas kelompok belajar, dan interpretasi temuan berdasarkan konteks literatur yang telah dikaji. HASIL DAN PEMBAHASAN Circle Pertemanan Sebagai Faktor Pendukung Efektivitas Kelompok Belajar Kepercayaan dan kenyamanan dalam kelompok belajar Lingkaran pertemanan memainkan peranan penting dalam menentukan efektivitas kelompok belajar, khususnya dalam aspek kepercayaan dan kenyamanan antaranggota Mahasiswa cenderung memilih anggota kelompok belajar dari kalangan teman dekat yang sudah terjalin relasi interpersonal yang kuat dan positif, untuk meminimalisir konflik dan meningkatkan efisiensi kerja kelompok. Arslan et al. mengemukakan bahwa mahasiswa biasanya membentuk kelompok belajar berdasarkan hubungan sosial yang sudah terjalin sebelumnya untuk menjamin kualitas kerja sama dalam penyelesaian tugas akademik serta menjaga capaian nilai akademik mereka. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa pertemanan yang sehat dan suportif memberikan dampak psikologis yang signifikan terhadap proses belajar. Dalam konteks mahasiswa yang hidup di perantauan, jauh dari dukungan keluarga, circle pertemanan memiliki nilai strategis yang lebih dari sekadar hubungan sosial. Teman dekat tidak hanya menjadi sumber dukungan emosional, melainkan juga menjadi teman belajar yang efektif dalam menghadapi tekanan akademik dan sosial di lingkungan Seorang partisipan menyampaikan. AuSangat penting, apalagi jika pertemanannya Meskipun sebagai mahasiswa harus bersikap mandiri, namun tidak kalah penting memiliki lingkaran pertemanan yang positif. Merasa kuliah lebih mudah mau sesulit apa pun keadaannya. Ay Pernyataan ini menunjukkan bagaimana relasi sosial yang kuat dapat Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A Copyright A 2025: Siti Nur Aeni. Mirna Nur Alia Abdullah, & Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura berperan sebagai faktor protektif terhadap stres akademik serta meningkatkan ketahanan psikologis mahasiswa dalam menjalani kehidupan kampus. Barrett dan Randall . menekankan bahwa lingkaran pertemanan berfungsi sebagai salah satu sumber utama dukungan sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan emosional mahasiswa. Frederickson et al. menambahkan bahwa teman dekat berperan dalam memengaruhi sikap dan perilaku akademik mahasiswa, termasuk dalam hal membentuk motivasi belajar dan disiplin akademik. Dalam setting kelompok belajar, keberadaan teman dekat memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih terbuka dan kooperatif, karena didukung oleh rasa percaya dan minimnya kecanggungan. Komunikasi yang efektif, keterbukaan dalam menyampaikan ide, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara konstruktif lebih mudah terwujud dalam kelompok yang terbentuk dari lingkaran Temuan dari hasil wawancara dengan partisipan penelitian memperkuat teori Beberapa partisipan menyatakan bahwa mereka merasa lebih leluasa dan percaya diri saat berada dalam kelompok belajar yang terdiri dari teman-teman dekat Partisipan A mengungkapkan. AuKetika bekerja dalam kelompok dengan teman dekat, saya merasa lebih nyaman. Saya tidak merasa malu atau canggung ketika berbicara atau bertanya tentang materi. Selain itu, kelompok tersebut juga lebih mudah diatur dan lebih mudah diajak bekerja sama. Ay Pernyataan ini mencerminkan bahwa hubungan emosional yang sudah terjalin dalam circle pertemanan berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan belajar yang suportif dan efektif. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif teori identitas sosial yang dikemukakan oleh Jacobson . , yang menyatakan bahwa individu membentuk identitas diri berdasarkan kategori personal maupun sosial. Dalam proses perbandingan sosial . ocial compariso. , individu cenderung mengelompokkan diri ke dalam kategori ingroup apabila mereka merasa memiliki kesamaan nilai, tujuan, atau karakteristik sosial tertentu dengan anggota kelompok lainnya (Hogg & Abrams, 1. Keberadaan dalam kelompok ingroup menciptakan rasa keterikatan emosional, solidaritas, dan saling pengertian yang lebih tinggi dibandingkan dengan outgroup. Dalam konteks kelompok belajar, mahasiswa lebih cenderung menunjukkan sikap terbuka, saling membantu, dan termotivasi secara kolektif saat berada dalam kelompok yang terdiri dari anggota ingroup, yaitu teman-teman dekatnya sendiri. Pencapaian akademik yang sangat baik Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan circle pertemanan yang suportif berkontribusi secara signifikan terhadap efektivitas kelompok belajar dan berdampak pada pencapaian akademik mahasiswa. Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok pertemanan dengan kebiasaan belajar yang baik cenderung memiliki kinerja akademik yang lebih unggul dibandingkan dengan mereka yang berada di luar lingkungan sosial yang mendukung. Hal ini tercermin dari beberapa indikator, seperti kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas tepat waktu, partisipasi aktif dalam diskusi kelas, serta pencapaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang secara umum berada di atas angka Temuan ini selaras dengan penelitian oleh Hutajulu et al. , yang menyatakan bahwa frekuensi serta intensitas interaksi dalam circle pertemanan memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial sekaligus akademik mahasiswa. Semakin intens hubungan sosial yang terjalin dalam kelompok pertemanan, semakin besar pula pengaruh positifnya terhadap pencapaian akademik. Mahasiswa yang memiliki hubungan sosial yang erat dan aktif berinteraksi dengan teman-teman terdekatnya cenderung menunjukkan IPK yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang jarang berinteraksi Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 secara mendalam dengan lingkaran sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa circle pertemanan bukan sekadar wadah untuk bersosialisasi, tetapi juga berfungsi sebagai sistem pendukung yang komprehensif, meliputi aspek emosional, motivasional, serta pertukaran informasi akademik. Teman dekat dalam kelompok pertemanan mampu memberikan dukungan emosional dalam menghadapi tekanan studi, serta menjadi sumber motivasi dalam menyelesaikan berbagai tugas akademik. Lingkungan yang kondusif ini turut memperkuat semangat belajar mahasiswa melalui dorongan dan kolaborasi yang terjadi dalam dinamika sosial kelompok tersebut. Oleh karena itu, keberadaan circle pertemanan yang aktif dan suportif dapat dianggap sebagai salah satu faktor penting yang mendukung kesuksesan akademik mahasiswa secara menyeluruh. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap partisipan juga memperkuat temuan tersebut. Seluruh partisipan menyatakan bahwa bekerja dalam kelompok belajar yang terdiri dari teman-teman dekat atau circle mereka sendiri menciptakan atmosfer belajar yang lebih menyenangkan, terbuka, dan memotivasi. Salah satu partisipan, yaitu Partisipan C, menyampaikan. AuWah kalau itu pastinya membuat aku lebih semangat setiap kerja kelompok dengan circle. Mudah untuk diajak berdiskusi maupun untuk bertukar pikiran. Ay Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan emosional dalam hubungan pertemanan mampu meningkatkan antusiasme mahasiswa dalam kegiatan belajar kelompok. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa kualitas hubungan dalam circle pertemanan memiliki implikasi langsung terhadap performa akademik Hubungan yang erat dan konstruktif tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, tetapi juga memberikan stimulus psikologis yang mendorong peningkatan motivasi dan produktivitas akademik. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk tidak hanya mendorong kolaborasi akademik, tetapi juga memfasilitasi pengembangan hubungan sosial yang sehat di antara mahasiswa sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan secara holistik. Preferensi mahasiswa terhadap kelompok belajar berdasarkan circle pertemanan Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa partisipan, ditemukan bahwa sebagian besar mahasiswa cenderung lebih memilih untuk bergabung dalam kelompok belajar yang anggotanya berasal dari circle pertemanan mereka sendiri. Preferensi ini muncul meskipun dalam beberapa kasus terdapat opsi untuk bergabung dengan mahasiswa lain yang secara akademik lebih unggul, namun tidak memiliki kedekatan relasional secara personal. Partisipan B. D, dan E secara konsisten menyatakan bahwa mereka merasa lebih nyaman, aman secara emosional, serta memperoleh pengalaman belajar kelompok yang lebih positif ketika berada dalam satu tim dengan teman-teman dekat mereka. Faktor utama yang mendasari pilihan ini adalah adanya rasa saling mengenal, pemahaman terhadap karakter dan gaya komunikasi masing-masing individu, serta interaksi yang lebih terbuka dan informal. Hal tersebut dinilai mampu menciptakan suasana kerja kelompok yang lebih kondusif, kolaboratif, dan suportif, yang pada akhirnya mendukung efektivitas proses Namun demikian, terdapat pula pandangan berbeda yang disampaikan oleh Partisipan A. Ia menyatakan bahwa dirinya lebih memilih untuk bergabung dalam kelompok belajar dengan individu yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi, meskipun mereka bukan bagian dari circle pertemanannya. Menurutnya, bekerja dengan mahasiswa yang unggul secara akademik dapat memberikan struktur kerja yang lebih sistematis, terarah, dan produktif. Ia berpendapat bahwa kehadiran anggota yang kompeten secara akademik menjadi aset penting dalam pencapaian tujuan kelompok Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A Copyright A 2025: Siti Nur Aeni. Mirna Nur Alia Abdullah, & Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura karena mereka cenderung dapat menyelesaikan tugas secara efisien dan memberikan kontribusi bermakna dalam diskusi akademik. Dengan demikian, perspektif Partisipan A ini bertentangan dengan pengalaman yang diungkapkan oleh partisipan lainnya. Sebagian besar partisipan menyampaikan bahwa bekerja dengan individu yang pintar tetapi tidak memiliki kedekatan emosional justru sering menimbulkan dinamika kelompok yang tidak seimbang. Misalnya. Partisipan B mengungkapkan bahwa mahasiswa yang tergolong cerdas secara akademik cenderung menyelesaikan tugas secara individual tanpa melibatkan anggota kelompok lainnya secara aktif. Mereka juga dinilai kurang terbuka dalam membagikan pengetahuan atau informasi penting, sehingga meminimalisasi kontribusi anggota kelompok lainnya. Hal serupa juga diungkapkan oleh Partisipan C yang merasa bahwa dalam kelompok semacam itu, ide-ide dari anggota lain sering kali diabaikan atau tidak mendapatkan perhatian yang layak. Akibatnya, terjadi kesenjangan dalam komunikasi dan berkurangnya rasa saling menghargai antarpersonal di dalam kelompok. Partisipan D dan E turut memperkuat pandangan tersebut. Mereka menegaskan bahwa bekerja dalam kelompok yang terdiri dari teman-teman dekat justru menghadirkan suasana kerja yang lebih harmonis, terbuka, dan kolaboratif. Dalam lingkungan tersebut, mereka merasa lebih leluasa dalam mengekspresikan gagasan, tidak merasa takut untuk melakukan kesalahan, serta lebih mudah dalam memberikan dan menerima bantuan ketika menghadapi kendala akademik. Dinamika kelompok yang terbentuk pun menjadi lebih cair dan natural, tanpa tekanan psikologis yang berlebihan, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas serta kenyamanan dalam proses belajar kelompok. Dari keseluruhan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa secara umum lebih menikmati dan merasakan manfaat yang lebih besar ketika bekerja dalam kelompok belajar yang terdiri dari anggota circle pertemanan mereka sendiri. Hubungan sosial yang telah terbentuk sebelumnya memberikan fondasi yang kuat bagi terbentuknya interaksi yang saling menghargai, keterbukaan dalam komunikasi, serta dukungan emosional yang signifikan. Semua faktor tersebut secara sinergis menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, mendorong kolaborasi yang efektif, dan meningkatkan efisiensi serta keberhasilan dalam pelaksanaan tugas-tugas akademik. Temuan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek relasional dalam pembentukan kelompok belajar, sebagai strategi untuk mengoptimalkan pengalaman belajar mahasiswa di lingkungan pendidikan tinggi. Peran dukungan sosial dalam efektivitas kelompok belajar mahasiswa Konsep dukungan sosial dalam konteks interaksi sosial mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan terhadap efektivitas kerja kelompok dalam proses House . 7, dalam Prilyanti & Supriyantini, 2. mendefinisikan dukungan sosial sebagai bentuk bantuan yang tidak hanya bersifat instrumental atau praktis, tetapi juga mencakup dimensi emosional dan informatif yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membantu individu dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk tekanan akademik yang umum dialami oleh mahasiswa. Bantuan tersebut dapat berupa pemberian informasi yang relevan, saran atau nasihat yang konstruktif, hingga tindakan konkret yang mampu meringankan beban individu dalam menjalankan tanggung jawab akademiknya. Lebih lanjut. Laura . alam Malwa, 2. menekankan bahwa dukungan sosial juga mencerminkan kualitas hubungan timbal balik dalam interaksi antarpersonal, di mana individu merasa dihargai, disayangi, dan diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya. Rasa keterlibatan dalam komunikasi yang hangat, terbuka, dan penuh tanggung jawab Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 menciptakan kedekatan emosional yang memperkuat keterikatan sosial atau yang dikenal dengan istilah sense of belonging. Ketika seseorang merasa diterima dan didukung dalam kelompok sosialnya, ia akan memiliki motivasi yang lebih tinggi serta cenderung menunjukkan performa yang lebih optimal, termasuk dalam konteks pembelajaran kelompok di lingkungan perguruan tinggi. Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap para partisipan menunjukkan bahwa pemahaman dan pengalaman mereka sejalan dengan konsep-konsep teoritis tersebut. Para partisipan secara umum mengungkapkan bahwa dukungan sosial yang mereka peroleh dari circle pertemanan memberikan pengaruh yang sangat positif terhadap efektivitas dan dinamika kelompok belajar. Salah satu partisipan, yaitu Partisipan E, menyatakan bahwa keberadaan teman-teman dekat dalam kelompok belajar berkontribusi terhadap terciptanya diskusi akademik yang lebih berkualitas. Ia mengamati bahwa diskusi tidak hanya berlangsung secara aktif dan produktif, tetapi juga disertai dengan semangat kolaborasi yang tinggi, di mana setiap anggota kelompok menunjukkan kepedulian dan kesiapan untuk saling membantu, khususnya ketika salah satu anggota mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa dukungan sosial dalam circle pertemanan berfungsi sebagai fondasi psikologis yang kuat dalam menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif. Adanya rasa saling percaya, perhatian, serta tanggung jawab antar anggota kelompok mendorong terciptanya stabilitas emosional yang sangat dibutuhkan dalam menjalani proses pembelajaran yang efektif. Dukungan ini tidak hanya memberikan rasa aman dan nyaman, tetapi juga mendorong motivasi belajar serta meningkatkan keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan kelompok. Dalam konteks ini, dukungan sosial tidak sekadar berperan sebagai faktor eksternal yang memengaruhi perilaku akademik, melainkan telah menjadi bagian integral dari dinamika internal kelompok yang memperkuat kohesi, memperlancar komunikasi, serta memperkuat kerja sama antarpersonal dalam mencapai tujuan akademik bersama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberadaan dukungan sosial dalam circle pertemanan merupakan elemen penting dalam proses pembelajaran berbasis Hubungan sosial yang sehat dan penuh dukungan tidak hanya meningkatkan kenyamanan emosional mahasiswa, tetapi juga menjadi katalisator dalam membentuk lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan produktif. Temuan ini menegaskan kembali pentingnya dimensi sosial dalam strategi pembelajaran di perguruan tinggi, terutama dalam pembentukan kelompok belajar yang efektif dan berkelanjutan. Faktor Penghambat dalam Circle Pertemanan yang Mempengaruhi Efektivitas Kelompok Belajar Tekanan teman sebaya sebagai hambatan dalam efektivitas kelompok belajar Meskipun keberadaan circle pertemanan dalam kelompok belajar memberikan banyak manfaat yang mendukung proses akademik, terdapat juga sejumlah kendala yang dapat menghambat efektivitas kerja kelompok tersebut. Salah satu kendala yang sering muncul dalam dinamika kelompok pertemanan adalah tekanan dari teman sebaya. Tekanan teman sebaya dapat diartikan sebagai bentuk pengaruh sosial yang terjadi antarindividu dalam suatu kelompok yang memiliki kesamaan dalam hal usia, minat, latar belakang sosial, dan status ekonomi, yang kemudian mendorong terjadinya perubahan pada aspek emosional maupun psikologis individu (Weinfeld, 2. Fenomena tekanan teman sebaya sering kali dikaitkan dengan perilaku berisiko yang cenderung dilakukan oleh remaja atau mahasiswa, seperti keterlibatan dalam tindak kriminal, konsumsi zat Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A Copyright A 2025: Siti Nur Aeni. Mirna Nur Alia Abdullah, & Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura adiktif, hingga perilaku menyimpang lainnya. Tekanan ini tidak selalu berdampak Dalam beberapa kondisi, tekanan dari teman sebaya justru dapat memunculkan pengaruh positif, misalnya mendorong individu untuk meningkatkan prestasi akademik, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, atau terlibat dalam aktivitas kerja sosial yang bermanfaat bagi masyarakat (Kellie, 2. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa tekanan teman sebaya bersifat dualistik yang berarti dapat memberikan kontribusi yang membangun maupun yang merugikan tergantung pada konteks sosial dan karakteristik Dalam konteks kelompok belajar berbasis circle pertemanan, pengaruh teman sebaya dapat terlihat dari persamaan perilaku dan cara pandang antar anggota kelompok. Persamaan ini sering ditafsirkan sebagai hasil dari tekanan kelompok, namun menurut Kremer dan Levy . , masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah kemiripan tersebut murni berasal dari tekanan yang diberikan oleh kelompok atau justru karena adanya preferensi dan tujuan bersama yang sudah dimiliki sejak awal oleh individu-individu dalam kelompok tersebut. Penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Deepika dan Prema . menunjukkan bahwa tekanan dari teman sebaya dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya perilaku menyimpang yang kemudian berdampak negatif pada pencapaian akademik mahasiswa. Tekanan teman sebaya tidak bisa secara langsung dikategorikan sebagai penyebab utama penurunan prestasi akademik, melainkan merupakan salah satu faktor yang bekerja melalui variabel perantara, yaitu perilaku Tekanan dari lingkungan sosial sebaya tidak bisa dianggap sebagai faktor dari keberhasilan atau kegagalan akademik, namun tetap merupakan hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam menganalisis dinamika kelompok belajar. Secara keseluruhan, tekanan teman sebaya dalam circle pertemanan memiliki potensi untuk menjadi hambatan dalam mencapai efektivitas kelompok belajar. Walaupun tekanan ini bisa memotivasi pencapaian positif, namun dalam kasus tertentu juga dapat mendorong munculnya perilaku yang negarif terhadap proses akademik. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam mengenai bentuk, intensitas, dan dampak dari tekanan teman sebaya sangat penting untuk mengelola interaksi kelompok agar tetap kondusif untuk keberhasilan akademik para anggota kelompoknya. Konformitas sosial sebagai hambatan dalam efektivitas kelompok belajar Selain tekanan dari teman sebaya, salah satu hambatan signifikan yang dapat memengaruhi efektivitas kelompok belajar dalam konteks circle pertemanan adalah konformitas sosial. Konformitas merujuk pada proses penyesuaian sikap, perilaku, atau keyakinan individu terhadap norma, nilai, atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu kelompok sosial tertentu. MaAorufah et al. menjelaskan bahwa konformitas terjadi ketika individu merasa terdorong untuk menyesuaikan diri dengan harapan kelompok, baik karena adanya tekanan sosial yang eksplisit maupun karena persepsi atau imajinasi mengenai ekspektasi kelompok. Dalam hal ini, motivasi utama individu bukan sematamata karena kesesuaian nilai secara pribadi, tetapi lebih kepada kebutuhan untuk diterima dan diakui sebagai bagian dari kelompok sosial tersebut. Dorongan untuk mempertahankan afiliasi sosial menjadikan individu cenderung mengikuti pola perilaku mayoritas kelompok, termasuk dalam aspek perilaku belajar. Ketika circle pertemanan menunjukkan kecenderungan untuk bersikap santai, kurang fokus terhadap tanggung jawab akademik, atau lebih sering melakukan aktivitas nonakademik, maka individu di dalamnya memiliki kemungkinan besar untuk menyesuaikan diri dengan gaya tersebut. Fenomena ini dapat berdampak negatif terhadap produktivitas Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A https://ojs. id/index. php/pahlawan/ Jurnal Pahlawan | Vol. No. 2: Oktober Tahun 2025 dan efektivitas kerja kelompok, terutama jika individu mengorbankan motivasi belajar atau tujuan akademik pribadi demi menjaga keharmonisan dalam kelompok. Temuan lapangan yang diperoleh melalui wawancara dengan partisipan mendukung asumsi teoritis mengenai dampak konformitas dalam kelompok pertemanan. Partisipan B, misalnya, mengungkapkan bahwa keberadaan dalam kelompok belajar yang terdiri dari anggota circle pertemanannya justru mengganggu efektivitas belajar. Au. ya jika satu kelompok dengan circle sendiri pastinya 80% nya kebanyakan mengobrol terus belajarnya yang hanya 20%Ay. Hal ini mengindikasikan bahwa interaksi sosial yang seharusnya mendukung proses belajar justru berubah menjadi distraksi yang mengurangi fokus dan intensitas pembelajaran. Senada dengan itu. Partisipan C juga menyampaikan bahwa distraksi menjadi tantangan utama saat belajar dalam kelompok yang terdiri dari teman-teman dekat. Ia mengatakan. Au. pasti, satu kelompok dengan circle lebih sering terdistraksi. Mengerjakan tugas sambil mengobrol di luar konteks akademik dan lebih parahnya sambil makan-makan sampai kenyang sehingga menunda dalam mengerjakan tugasAy. Pernyataan kedua partisipan tersebut mencerminkan bagaimana konformitas sosial dapat menjadi hambatan nyata dalam pelaksanaan kegiatan belajar kelompok yang Individu yang sebelumnya memiliki intensi akademik yang tinggi berpotensi menurunkan kualitas keterlibatannya dalam pembelajaran karena adanya tekanan sosial yang mengarah pada perilaku non-produktif. Konformitas semacam ini meskipun muncul dari dorongan interpersonal yang positif seperti keinginan untuk menjaga kedekatan emosional dapat menjadi kontraproduktif apabila tidak diimbangi dengan kontrol diri yang kuat dan kesadaran akan tujuan akademik. Dengan demikian, penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kesadaran kritis terhadap pengaruh sosial yang muncul dalam lingkup pertemanan, terutama dalam konteks kegiatan akademik seperti kelompok belajar. Mahasiswa perlu mampu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk diterima secara sosial dengan tanggung jawab akademik yang diemban. Upaya ini dapat diwujudkan melalui peningkatan regulasi diri, keterampilan manajemen waktu, serta pengembangan sikap asertif dalam menyikapi dinamika sosial kelompok. Apabila tidak dikelola dengan baik, konformitas sosial dalam circle pertemanan berpotensi menjadi hambatan tersendiri bagi pencapaian efektivitas kelompok belajar dan kemajuan akademik mahasiswa secara keseluruhan Prokrastinasi sebagai hambatan efektivitas kelompok belajar Prokrastinasi merupakan istilah yang merujuk pada kecenderungan individu untuk secara sadar menunda pelaksanaan tugas atau aktivitas yang seharusnya segera Menurut Tuckman, prokrastinasi adalah suatu bentuk perilaku yang mencerminkan upaya sengaja dari seseorang untuk menghindari, menunda, atau meninggalkan tanggung jawab terhadap penyelesaian tugas yang telah menjadi Akerina dan Wibowo . mengelompokkan prokrastinasi ke dalam dua kategori utama, yakni prokrastinasi akademik dan prokrastinasi non-akademik. Kedua jenis prokrastinasi ini dapat berdampak negatif terhadap keberfungsian individu, baik dalam konteks pribadi maupun sosial. Secara internal, prokrastinasi dapat memunculkan dampak psikologis seperti perasaan putus asa, rasa bersalah, penyesalan yang mendalam, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan yang terjadi akibat keterlambatan dalam menyelesaikan tanggung jawab. Sementara itu, dari sisi eksternal, perilaku prokrastinasi dapat mengganggu dinamika kerja kelompok, menghambat Aeni. , dkk. Pengaruh Circle Pertemanan A Copyright A 2025: Siti Nur Aeni. Mirna Nur Alia Abdullah, & Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura pencapaian akademik, serta menyebabkan hilangnya peluang yang berpotensi mendukung pengembangan diri dan karier akademik individu (Sari & Fatimah, 2. Dalam konteks kerja kelompok dalam lingkungan akademik, seluruh partisipan dalam penelitian ini menunjukkan kecenderungan yang serupa, yakni adanya peningkatan frekuensi perilaku menunda tugas ketika mereka tergabung dalam kelompok belajar yang terdiri dari anggota-anggota yang berasal dari lingkaran pertemanan yang sama. Fenomena ini diilustrasikan melalui pernyataan salah satu partisipan, yaitu partisipan E, yang menyampaikan bahwa berada dalam kelompok dengan teman dekat sering kali membuat proses penyelesaian tugas menjadi tertunda, karena adanya kecenderungan untuk lebih mengutamakan aktivitas di luar kepentingan akademik. Pernyataan ini memberikan indikasi bahwa kedekatan emosional antar anggota kelompok dapat membentuk pola relasi yang permisif, yang pada gilirannya mengurangi tingkat urgensi dalam menyelesaikan tugas bersama. Dengan demikian, hubungan pertemanan yang terlalu akrab dalam satu kelompok belajar dapat menjadi salah satu faktor yang memfasilitasi terjadinya prokrastinasi dalam pelaksanaan tugas akademik secara kolektif. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Circle pertemanan memiliki peran penting dalam mendukung efektivitas kelompok belajar mahasiswa. Hubungan yang dilandasi kepercayaan dan kenyamanan dapat mendorong komunikasi yang terbuka, kolaborasi yang efektif, dan memberikan dukungan emosional serta akademik. Circle pertemanan juga berkontribusi pada pencapaian akademik yang lebih baik dan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan. Namun, circle pertemanan juga dapat menjadi hambatan jika tidak dikelola dengan baik. Tekanan teman sebaya, konformitas sosial, serta kecenderungan untuk menunda tugas merupakan tantangan yang perlu diwaspadai dalam kelompok belajar yang terdiri dari teman dekat. Saran