https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 DOI: https://doi. org/10. 38035/jgpp. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Respons Perkecambahan Benih Kopi Arabika (Coffea Arabica ) Terhadap Perendaman Dalam Berbagai Konsentrasi Vitamin B1 Kovertina Rakhmi Indriana1*. Rosalina Noor Azahra2. Universitas Winaya Mukti. Bandung. Indonesia, kovertina. indriana@unwim. Universitas Winaya Mukti. Bandung. Indonesia. Corresponding Author: kovertina. indriana@unwim. Abstract: Arabica coffee germination can be hampered by dormancy factors, both physically and physiologically. This research aimed to study response of Arabica coffee seed germination to immersion in various concentration of thiamine, to break dormancy that occurs physiologically, in Arabica coffee seeds. This research was conducted in the experimental garden of the Faculty of Agriculture,Winaya Mukti University. Sumedang at an altitude of 850 masl, the research was conducted on June 2021 Ae September 2021. The environmental design used in thisexperiment was a simple randomized block design, with experimental factors namely immersion in various concentrations of thiamine, with 6 experimental levels (A = 0 mg L-1 . B = 20 mg L-1. C = 40 mg L-1. D = 60 mg L-1. E = 80 mg L-1, and F = 100 mg L-. and 4 replications. The experimental result showed that immersion in various concentrations of thiamine did not respond to arabica coffee Keywords: Arabica coffee. Germination. Thiamine. Abstrak: Perkecambahan kopi arabika dapat terhambat oleh faktor dormansi, baik secara fisik maupun fisiologis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respons perkecambahan benih kopi arabika terhadap perendaman berbagai konsentrasivitamin B1 . , untuk memecah dormansi yang terjadi secara fisiologis pada benih kopi arabika. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti. Sumedang pada ketinggian tempat 850 mdpl, penelitian dilakukan pada Juni 2021 Ae September 2021. Rancangan lingkungan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana, dengan faktor percobaan yaitu perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1, dengan 6 taraf percobaan (A = 0 mg L-1 . B = 20 mg L-1. C = 40 mg L-1. D = 60 mg L-1. E = 80 mg L-1, dan F = 100 mg L-. dan diulang sebanyak 4 Hasil percobaan menunjukan bahwa perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 tidak memberikan respons terhadap perkecambahan benih kopi arabika. Kata Kunci: Kopi arabika. Perkecambahan. Vitamin B1. 46 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 PENDAHULUAN Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai nilai ekonomi penting bagi Indonesia. Pada tahun 2018, luas perkebunan kopi mencapai 1. 500 ha dengan 500 ton kopi beras (Badan Pusat Statistik, 2. Indonesia juga menduduki peringkat keempat sebagai produsen kopi dunia setelah Brasil. Vietnam, dan Kolombia, dengan ekspor kopi nasional pada tahun 2017 sebesar 464. 000 ton. Nilai ekspor industri kopi per tahun mencapai USD 1,2 miliar atau setara dengan Rp. 16,8 triliun jika mengacu pada kurs Rp. 000/USD (Badan Pusat Statistik, 2. Data dari International Coffee Organization (ICO) menunjukkan bahwa konsumsi kopi Indonesia pada periode 2000Ae2016 mengalami kenaikan. Pada tahun 2000 hingga 2016, konsumsi kopi nasional melonjak lebih dari 174%, dari 100 ribu ton menjadi 270 ribu ton. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, konsumsi kopi nasional pada tahun 2016 mencapai sekitar 250 ribu ton dan tumbuh 10,54% menjadi 276 ribu Konsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016Ae2021 diprediksi tumbuh rata-rata 8,22% per tahun. Pada tahun 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795. 000 ton dengan konsumsi 000 ton, sehingga terjadi surplus sebanyak 425. 000 ton. Terdapat tiga jenis kopi yang dapat tumbuh baik di Indonesia. Namun, yang banyak dibudidayakan adalah kopi jenis robusta dan arabika karena kedua jenis tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Kementerian Pertanian, 2. Budidaya kopi arabika dapat dilakukan secara vegetatif maupun generatif. Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara setek, cangkok, okulasi, dan kultur jaringan, sedangkan pembiakan secara generatif dapat dilakukan dengan penyemaian biji. Perkembangbiakan secara generatif melalui perkecambahan biji memerlukan waktu sekitar 3Ae8 minggu untuk berkecambah, tergantung pada jenis dan kondisi Banyak teknologi dikembangkan untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman kopi yang masih memasuki fase vegetatif ini. Dengan perpaduan teknologi dan sistem budidaya yang baik, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas mutu tanaman kopi arabika di Indonesia. Perkebunan kopi di Indonesia mayoritas . ,46%) merupakan perkebunan rakyat (PR) yang diusahakan oleh 1. 401 petani, sedangkan sebagian kecil lainnya dikelola oleh perkebunan negara dan swasta. Luas areal perkebunan kopi mengalami peningkatan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir (Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian, 2. Akan tetapi, produktivitas dan mutu hasil dari pengolahan kopi di Indonesia belum maksimal seperti yang diharapkan. Perluasan areal perkebunan kopi membutuhkan penyediaan benih dalam jumlah yang besar, di mana proses pembenihan kopi memerlukan waktu yang relatif lama sehingga dapat berpengaruh pada peningkatan produksi tanaman kopi. Pada benih dikenal dengan istilah dormansi, yaitu suatu keadaan di mana benih mengalami masa tidur atau tidak akan mengalami pertumbuhan maupun perkecambahan walaupun ditanam dalam kondisi optimum. Dormansi pada benih memiliki keuntungan sebagai mekanisme untuk mempertahankan hidup lebih lama dan memberikan ketahanan dalam Namun, bagi konsumen benih, hal ini kurang menguntungkan karena apabila benih ditanam, tidak akan langsung tumbuh, dan jika tumbuh, pertumbuhannya tidak seragam. Lamanya benih mengalami dormansi atau persistensi berbeda-beda tergantung pada jenis spesies dan varietasnya. Terdapat dua tipe dormansi benih, yaitu dormansi fisik . dan dormansi fisiologis . Dormansi fisik disebabkan oleh adanya pembatas struktural terhadap perkecambahan, seperti kulit biji yang keras dan kedap air sehingga menghalangi masuknya air atau gas pada berbagai jenis tanaman. Sementara itu, dormansi fisiologis disebabkan oleh embrio yang belum sempurna pertumbuhannya atau belum matang. Benih dengan dormansi fisiologis memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah dan bertahan lebih lama dalam penyimpanan. 47 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 Dormansi dapat diatasi dengan pemberian perlakuan tertentu pada benih. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mematahkan dormansi benih, seperti pengurangan ketebalan kulit benih . , perendaman dalam air, perlakuan dengan zat kimia, serta penyimpanan benih dalam kondisi lembap dengan suhu dingin atau hangat . Secara fisik, benih kopi memiliki kulit biji yang keras sehingga impermeabel terhadap air dan memiliki masa dormansi yang cukup lama. Perkecambahan benih kopi di dataran rendah dengan suhu 30ACAe35AC memerlukan waktu 3Ae4 minggu (Putra et al. , 2. Menurut Hedty . , upaya pematahan dormansi biji kopi perlu dilakukan karena biji kopi mengalami dormansi akibat hambatan fisik dari kulit bijinya yang keras. Selain dari sifat fisik benih, dormansi pada benih kopi juga dapat disebabkan oleh kandungan kafeinnya yang dapat menghambat aktivitas enzim amilase, sehingga proses perkecambahan akan terhambat. Kopi arabika mengandung kafein sebesar 1Ae1,1%, sedangkan kopi robusta mengandung kafein 1,9Ae 2,2% (Thio Guan Loo, 1983 dalam Wahyuni, 1. Hambatan yang terjadi pada setiap fase perkecambahan akan mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya. Semakin lama waktu perkecambahan, semakin besar peluang terjadinya hambatan pada pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan perkecambahan benih kopi, perlu dilakukan perlakuan sebelum penanaman. Berbagai perlakuan dapat diberikan untuk mematahkan dormansi benih kopi. Selain skarifikasi secara fisik, dapat juga dilakukan perendaman benih menggunakan air atau larutan kimia serta beberapa zat pengatur tumbuh. Banyak zat pengatur tumbuh, baik alami maupun sintetis, yang digunakan untuk mematahkan dormansi benih kopi. Salah satu zat yang sering digunakan adalah vitamin B1. Penelitian yang dilakukan oleh Khairunnisa . menunjukkan bahwa penambahan vitamin B1 pada budidaya tanaman gandaria (Bouea oppositifoli. memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun dan tinggi tanaman pada tahap awal pertumbuhan benih. METODE Percobaan ini dilaksanakan dikebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti,Tanjungsari. Sumedang yang memiliki ketinggian tempat 850 mdpl. Waktu pelaksanaan percobaan ini dimulai pada bulan Juni 2021 sampai dengan bulan September 20 Percobaan ini menggunakanRancangan Acak Kelompk (RAK) non faktorial, terdiri dari 6 taraf perlakuan yaitu konsentrasi vitamin B1 yang diulang sebanyak 4 kali, dengan demikian terdapat 24 satuan percobaan, setiap satuan percobaanterdapat 25 benih, sehingga terdapat 600 benih kopi arabika (Coffea Arabica L) . Adapun konsentrasi vitamin B1 yangdigunakan dalam perendaman biji kopi arabika adalah sebagai berikut : A = 0 mg L-1 . B = 20 mg L-1. C = 40 mg L-1. D = 60 mg L1 E = 80 mg L-1. F = 100 mg L-1. Pengamatan utama adalah pengamatan yang datanya akan dianalisis secara statistik setiap petak percobaan, meliputi : Persentase Perkecambahan (%) Pengamatan Perkecambahandilakukan dengan cara menghitung jumlah biji berkecambah pada setiap satuan percobaan pada hari ke 56 HSS. Persentase perkecambahan dihitung menggunakan rumussebagai berikut : Persentase Perkecambahan = Jumlah biji ycayceycycoyceycaycaycoycaycaEa Jumlah benih yang yccycnycyceycoycaycn Laju Perkecambahan (% etma. Laju perkecambahan diukur setelah benih dikecambahkan dengan menghitung jumlah 48 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 hari yang diperlukan untuk munculnya radikula atau plumula setiap hari hingga 56 HSS. Perhitungan laju perkecambahan menggunakan formulasi Sutopo . sebagai berikut : Keterangan : N = Jumlah biji yang berkecambah pada satuan waktu tertentu T = Menunjukkan jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dan interval tertentu suatu pengamatan. Kecepatan Tumbuh Benih . Kecepatan tumbuh diukur dengan jumlah tambahan perkecambahan setiap hari atau etmal pada kurun waktu perkecambahan dalam kondisi optimum, (Sadjaj, 1. Dengan formula sebagai berikut : K yaycN = ycA1 ycA2 ycAyca ycO1 ycO2 ycOyca Keterangan : KCT = Kecepatan tumbuh = Persentase kecambah normal W = Periode waktu perkecambahan . tmal 24 ja. Tinggi Kecambah . Tinggi kecambah diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh. Pengukuran tinggi kecambah dengan menggunakan mistar. Tinggi kecambah diukur pada saat berumur 56 HSS. Bobot Basah Kecambah . Penimbangan bobot segar kecambah dilakukan pada lima tanaman sampel destruktif dari tiap perlakuan dan ditimbang secara terpisah bagian atas tanaman . atang dan dau. dan bagian bawah tanaman . Sebelum ditimbang tanaman dibersihkan dengan air dan dikering Pengamatan ini dilakukan pada 56 HSS. Bobot Kering Kecambah . Bahan dimasukkan ke dalam amplop dan diberi label sesuai dengan perlakuan lalu dikering ovenkan pada 70o C hingga mencapai berat yang konstan, setelah itu sampel dikeluarkan dari lemari pengering dan ditimbang. Laju Pertumbuhan Kepel Laju pertumbuhan kepel diukur setelah benih yang dikecambahkan tumbuh menjadi kepel dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya kepel setiap hari hingga 99 HSS. Perhitungan laju perkecambahan menggunakan formulasi Sutopo . sebagai berikut : Keterangan: 49 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 = Jumlah kecambah yang membentuk kepel pada satuan waktu tertentu = Menunjukkan jumlah waktuantara awal pengujian sampai denganakhir dan interval tertentu suatu pengamatan HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap persentase perkecambahan. Perlakuan Persentase Perkecambahan (%) Keterangan: Angka rata-rata yang ditandai dengan hurufyang sama menunjukan berbedatidak nyata menurut Uji Jarak BergandaDuncan pada tarafnyata 5%. Tabel 3. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap laju perkecambahan. Perlakuan Rata-rata hari 36,97 a 34,84 a 41,16 a 37,66 a 38,85 a 36,98 a Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Tabel 4. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap kecepatan tumbuh benih. Perlakuan Kecepatan 1,69 a 1,80 a 2,18 a 2,00 a 2,09 a 1,93 a Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Tabel 5. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagaikonsentrasi vitamin B1 terhadap tinggi kecambah. 50 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 Perlakuan Tinggi kecambah . 4,55 a 4,57 a 4,54 a 4,24 a 4,33 a 4,52 a Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Tabel 6. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap bobot basah kecambah. Perlakuan Bobot basah . 0,51 b 0,51 b 0,52 b 0,46 a 0,51 b 0,50 ab Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Tabel 7. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap bobot keringkecambah. Perlakuan Bobot kering . 0,16 a 0,16 a 0,17 a 0,15 a 0,16 a 0,15 a Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Tabel 8. Respon perkecambahan benih kopi arabika (Coffea Arabica L. ) terhadap perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap laju pertumbuhan kepel Perlakuan Rata-rata hari 90,10 a 90,48 a 89,25 a 89,25 a 89,63 a 90,34 a Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. 51 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP Vol. No. Februari 2025 Hasil pengamatan dan analisis data respon berbagai konsentrasi vitamin B1 terhadap perkecambahan benih kopi arabika (Coffea arabica L. ) menunjukan pada parameter persentase perkecambahan, laju perkecambahan, kecepatan tumbuh benih, tinggi kecambah, bobot kering kecambah, dan laju pertumbuhan kepel tidak memberikan respon, sedangkan pada parameter bobot basah kecambah pemberian berbagai konsentrasi vitamin B1 memberikan respon terhadap perkecambahan benih kopi arabika. Rata-rata hasil analisis data pengamatan menunjukan perkecambahan benih dan pertumbuhan yang seragam, hal ini diduga karena asal benih yang digunakan sebagai bahan baku berasal dari biji kopi dari buah matang sempurna. Tingkat kematangan buah merah dimana merupakan stadia pemasakan biji terbaik untuk memicu perkecambahan, sesuai pendapat Icshan . ada dua faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih yaitu dari faktor dalam . ingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormans. dan faktor luar . ir, temperatur, oksigen dan cahay. KESIMPULAN Perendaman berbagai konsentrasi vitamin B1 tidak memberikan respons terhadap perkecambahan benih kopi arabika. REFERENSI