Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol. No. 1 April 2024 e-ISSN : 2715-7687 P-ISSN : 2715-8748 Survei Penerapan Prinsip Who dan Unicef Dalam Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) ( Studi Eksplanator. Endang Siti Mawarni. Kusmayra Ambarwati. Yuna Trisuci Aprillia Prodi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Indonesia endang@urindo. Abstrak Angka stunting dan gizi tidak baik masih tinggi di indonesia. Banyak faktor yang berhubungan dengan hal ini. Salah satunya adalaha pola pemberian makan yang tidak tepat. Gencarnya pemberian makanan ultra proses berhubungan dengan hal ini. Padahal organisasi kesehatan dunia telah memberikan panduan yang tepat dalam pemberian makanan ini. Akan tetapi angka gizi buruk dan stunting semakin tinggi. Ditambah lagi tidak adanaya regulasi yang tegas mengatur konsumsi makanan yang diproses secara pabrikan. Hal ini meimbulkan pertanyaan besar apakah pedoman yang diberikan dilakukan dengan baik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pedoman pemberian makanan yang tepat oleh para ibu, kader dan stakeholder terkait. Studi ini menggunakan metode campuran dengan spesifikasi strategi eksplanatoris skuensial. Ini dicapai dengan melakukan analisis kuantitatif, analisis kualitatif, dan kesimpulan bersama. Sekitar sebelas kader penyuluh mpasi terlibat pada survey ini dan dua ibu yang memiliki anak di bawah 24 bulan, serta petugas kesehatan setempat dan stakeholder setempat. Kegiatan ini dilakukan pada bulan januari 2023 di wilayah kerja posyandu Wijaya Kusuma, kelurahan. Kedaung Sawangan Depok. Hasil studi yang telah dilakukan, diketahui bahwa kader dan ibu masih belum menerapkan standar pemberian mp-asi dengan tepat, terutama pada pemberian jenis makanan dan prinsip aktif responsive. Perlu adanya edukasi menyeluruh, baik mulai tenaga kesehatan setempat, kader hingga para orang tua. Kata kunci: MP-ASI, anak, stunting Abstract The rate of stunting and malnutrition is still high in Indonesia. Many factors are associated with this. One of them is improper feeding patterns. The incessant feeding of ultra-processed feeding is related to this. The World Health Organization has provided proper guidelines for this feeding. However, malnutrition and stunting rates are getting higher. Plus, there are no strict regulations governing the consumption of manufacturer-processed foods. This raises a big question as to whether the guidelines provided are done well. This study aims to determine the implementation of appropriate feeding guidelines by mothers, cadres and relevant stakeholders. This study used a mixed method with a specification of a sequential explanatory strategy. This is achieved by conducting quantitative analysis, qualitative analysis, and joint conclusions. Around eleven cadres were involved in this survey and two mothers who had children under 24 months, as well as local health workers and local stakeholders. this activity was carried out in January 2023 in the working area of Posyandu Wijaya Kusuma. Kedaung Sawangan Depok. The results of studies that have been conducted, it is known that cadres and mothers still have not applied the standards of breastfeeding appropriately, especially in the provision of types of food and the principle of active responsiveness. There needs to be comprehensive education, both from local health providers and cadres to parents Keywords : Complementary Feeding. Children. Stunting http://ejournal. id/index. php/jukmas Article History : Submitted 14 Maret 2024. Accepted 29 April 2024. Published 30 April 2024 Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) pada awal kehidupan memiliki efek negatif PENDAHULUAN Periode disebut makanan pendamping ASI dan dimulai pada usia enam bulan, dengan kesiapan koordinasi rongga mulut untuk menerima makanan baru. Hal ini mewakili perubahan kebiasaan makan berdasarkan pola menyusui makanan sehat, akan menjaga kualitas proses menyusui dan makan hingga dua tahun atau . Kebiasaan makan yang berkembang pada anak usia dini mempengaruhi preferensi makanan di masa depan . ingga dewas. tumbuh kembang, serta risiko penyakit kronis di masa dewasa. Pedoman makan anak dan bayi telah dirancang untuk memastikan anak memenuhi kebutuhan gizi unik mereka karena cepat. Namun, penelitian global telah menunjukkan bahwa asupan makanan balita tidak memenuhi gizi nabati, total gula dan rekomendasi makanan tambahan. , . , yang dapat meningkatkan risiko penyakit terkait Penelitian terbaru juga melaporkan bahwa diet tinggi makanan Ultra Process Food (UPF) dikaitkan dengan peningkatan asupan energi secara keseluruhan dan akibatnya penambahan berat badan dan risiko obesitas . , . , serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. , kematian . pada orang dewasa. Kurang gizi ireversibel pada otak dan perkembangan neurokognitif . Ketersediaan lingkungan makanan yang lebih luas telah terbukti menjadi pendorong obesitas, dan industri makanan memainkan peran penting dalam membantu menciptakan lingkungan Saat ini, banyak anak kecil terpapar pada lingkungan makanan yang buruk yang makanan yang rendah kualitas gizinya . Hal ini tentu saja akan memperburuk kondisi stunting di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa hanya setengah dari anak Indonesia yang memenuhi rekomendasi WHO dalam hal pemberian ASI Ekslusif hingga enam bulan dan melanjutkan pemberian ASI hingga dua tahun atau lebih. Selain itu, stunting masih menjadi Pada tahun 2014, balita yang Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. Hal ini berarti, banyak bayi dan balita di Indonesia yang tidak diberikan makan secara optimal dan sesuai dengan pedoman global dimasa periode emas kehidupan. Selain itu data lain menyebutkan bahwa terkait hal ini di Indonesia cukup banyak praktik pemberian UPF yang dilakukan orang tua pada masa keemas an anak termasuk susu formula. Padahal telah diketahi Hampir http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) mengandung tambahan sukrosa dan/atau konsumsi makanan yang diproses secara Hal ini meimbulkan pertanyaan rekomendasi bahwa susu pertumbuhan tidak boleh mengandung keduanya. Komposisi dan dilakukan dengan baik. Sesungguhnya dari hasil ini dapat termasuk laktosa, saat ini membuat susu diketahui bahwa produk Ae produk UPF tidak pertumbuhan tidak sesuai untuk dimasukkan sesuai diberikan pada bayi dan anak balita kedalam asupan makanan anak-anak. Saat ini terutama dalam konteks konsumsi rutin hampir tiga perempat dari susu pertumbuhan termasuk makanan bayi instan. Sesunggunya tidak memberikan informasi yang cukup untuk UNICEF telah memberikan panduan lengkap dinilai berdasarkan Model Nutrient Profiling tentang PMBA / IYCF yang tepat dengan pola oleh Food Standards Agency Inggris, dan dari gizi seimbang dan makanan lokal yang yang dapat diprofilkan, lebih dari sepertiga Tetapi, pada kenyataanya hal produk tidak dianggap sehat, berdasarkan inilah yang sedang terjadi di Indonesia. kepadatan energi, lemak jenuh, gula total, dan kandungan natriumnya. Selain itu, hampir tiga METODE Studi ini menggunakan metode campuran. Startegi memiliki kadar gula tinggi yang perlu diberikan skuensial/tahap . etode berdasarkan klasifikasi gula pada sisi muka eksplanatoris skuensial. Ini dicapai dengan kemasan produk oleh Food Standards Agency Inggris. kualitatif, dan kesimpulan bersama. Dalam Angka stunting dan gizi tidak baik pelaksananya juga dilandaskan dengan masih tinggi di Indonesia. Banyak faktor yang campuaran triangulasi kongruen dimana data berhubungan dengan hal ini. Salah satunya kuantitatif dan kualitatif dihimpun bersama adalaha pola pemberian makan yang tidak dan dibandingkan. Sekitar sebelas kader Gencarnya pemberian makanan ultra penyuluh MP-ASI terlibat pada survey ini dan proses berhubungan dengan hal ini. Padahal dua ibu yang memiliki anak di bawah 24 bulan. Organisasi Kesehatan Dunia telah memberikan Selain itu petugas kesehatan setempat dan stakeholder setempat juga dilibatkan untuk makanan ini. Akan tetapi angka gizi buruk dan verifikasi dan triangulasi sebanyak dua orang. stunting semakin tinggi. Ditambah lagi tidak Kegiatan ini dilakukan pada Bulan Januari 2023 di wilayah kerja posyandu Wijaya http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Kusuma, kelurahan. Kedaung Sawangan Depok. Pengumpulan dan validasi data menggunakan Gambar 2 menunjukkan bahwa mayoritas kuesioner dan wawancara, triangulasi, dan kader memiliki pengalam menjadi kader lebih Untuk data kuantitatif, analisis dari 10 tahun. Umumnya, kader ini sudah deskriptif sederhana dilakukan, dan analisis lanjut usia. hasil wawancara dilakukan untuk memperkuat dan mendukung hasil uji kuantitatif. Penelitian ini telah melalui kaji etik komite etik penelitian Tabel 1. Demografi Kader di Wilayah Posyandu Universitas Respati Indonesia dengan Nomor: Wijaya Kusuma. Kelurahan Kedaung Sawangan 09/SK. KEPK/UNR/I/2022 Depok. Komponen <35 tahun C35 tahun Total SMP SMA Total <5 tahun 5-10 thaun 10-20 tahun >20 tahun Total HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kuantitatif Usia Pendidikan Gambar 1. Grafik Prosentase Penerapan Lama Menjadi Pemberian MP -ASI Kader Gambar 1 menunjukkan bahwa mayoritas . definisi MP-ASi secara tepat serta waktu pemberian MP-ASI yang tepat. Sumber: Data Primer Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas kader partisipan studi berusia lebih dari 35 tahun, berpendidikan SMA, dan memiliki lama Gambar 2. Grafik . alam tahu. Perbandingan Usia Kader dan Lama Pengalaman menjadi pengalaman menjadi kader kurang dari 5 Kader. http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tabel 2. Deskripsi Umum Partisipan Ibu Hasil wawancara perwakilan kader : Kader puskesmas setempat terkait pemberian MPTabel ASI pada bayi. Akan tetapi, titak seluruh kader partisipan wawancara mendalam dalam studi mengikuti pelatihan ini. Perwakilan kader juga tidak langsung mensosialisasikanya kepada sejawat mereka. Hasil wawancara terkait Tabel 3. Pengalaman Pemberian MP-ASI pemberian MP-ASI yang tepat menurut standar WHO dan UNICEF ternyata tidak dipahami sepenuhnya oleh para kader. Hal Ae Tabel 3 menunjukkan bahwa partisipan ibu pemberian makanan yang belum diketahui dalam studi ini tidak memberikan MP-ASI meliputi jenis makanan yang diberikan, serta pertama dengan tekstur yang tidak tepat, prinsip aktif responsive. jenus yang kurang bervariasi, dan tidak Verifikasi dan Triangulasi (Kelompo. menerapkan prinsip aktif responsive dalam Hasil sesi diskusi meliputi keyakinan ibu pemberian makan. dan kader bahwa awal pemberian makan bayi Hasil Kualitatif Individu makanan saja, padahal rekomendasi standar Hasil wawancara ibu partisipan studi ini yang dianjurkan adalah dengan berbagai antara lain adalah: macam jenis makanan, meskipun pada awal Ibu A: Ibu memberikan MP-ASI pertama pemberian makan. Temuan berikutnya adalah berupa makanan instan bayi, dengan cara bahwa orang tua dan stkaholder terkait belum digendong sambal berjalan Ae jalan berkeliling. Ibu B: Karena kekhawatirannya pada berat pemberian makan aktif responsive. Sehingga badan anaknya, ia meberikan MP-ASI pada memberikan makakan dengan berjalan Ae jalan, ketidaktahuan ibu, ibu membuat bubur regal menonton TV adalah hal yang wajar. Padahal dan kemasan pada awal pemberian,ibu hal ini adalah praktik makan yang tidak memberikan ini karena melihat iklan di sosial Sebab, anak tidak akan menyadari media dan televisi, memberikan makan bayi bahwa dia sedang melakukan aktifitas makan. sambal melihat TV atau video di HP. Isu lain yang muncul dari diskusi terkait jenis makanan, adalah informasi yang kurang tepat http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) apada pengalaman serta pengetahuan dan penyuluh, terkait pemberian telur yang hanya diijinkan menggunakan bagian putih. Padahal. Dimungkinkan pemberian protein dari telur sebaiknya tidak Hal ini dapat dilihat dari ada Batasan kecuali ada reaksi alergi pada Baik bagian putih atau bagian kuning mengetahui prinsip terkini terkait pemberian telur dapat diberikan semua. MP Ae ASI yang tepat sealin itu praktik yang Berdasarkan diaplikasikan oleh para ibu juga belum tepat. dapat dilihat dari gambar 1 bahwa Hal ini diperparah dengan adanya info dan mayoritas kader tidak tahu . %) prinsip iklan di sosial media yang tidak tepat terkait pemberian MP Ae ASI Gizi seimbang. Hal ini pemberian MP-ASI. juga didukung dari hasil wawancara ibu serta verivikasi kelompok. Umumnya mereka tidak tahu karena belum mendapat informasi yang tepat sebelumnya , mendapatkan informasi dari iklan produk dan sosial media. Hal ini selaras dengan hasil Ae hasil penelitian sebelumnya, umumnya ibu , tenaga kesehatan sangat mudah tergiur iklan makanan bayi yang dapat merubah praktik pemberian makanan bayi yang kurang tepat. Ae. Sealin itu KESIMPULAN Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan, diketahui bahwa kader dan ibu masih belum MP-ASi dengan tepat, terutama pada pemberian jenis makanan dan prinsip aktif responsive. Perlu adanya edukasi menyeluruh, baik mulai tenaga kesehatan setempat, kader hingga para orang tua . erutama ib. itu sendiri. diketahui bahwa penggunaan produk Ae produk mengakibatkan penyakit tidak menular pada anak dan juga di bawah standar nilai gizi yang . Ae. , . Ae. Grafik Ucapan Terimakasih : Terimakasih Universitas Respati Indonesia dan LPPM Universitas Respati Indonesia yang telah memeberikan dukungan pada proses berjalannya penelitian ini. dibandingkan dengan usianya, apabila ditelaah bersama dengan tabel 1 , menunjukkan selama minimal 5 tahun. Namun, terdapat gap yang besar juga, dimana beberapa kader telah masuk masa lansia dan memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun. Hal ini akan berhubungan Daftar Pustaka :