COGNITIVE: JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN http://ejournal. org/index. php/cognitive ISSN: 3026-1686 (Onlin. ISLAMISASI DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Muhammad Jamaluddin1*. Kholili Hasib2. Ardiansyah3 1 Universitas Islam Negeri Madura. Indonesia 2,3 Universitas Islam Internasional Dalwa Bangil Pasuruan. Indonesia *jamal_aldien@iainmadura. Keywords Abstract Globalization. Science. Islamization The phenomena of globalization and modernity have had a significant impact on the development of science and education in the Muslim world, particularly through the dominance of a secular paradigm that separates rationality from spirituality. This situation has given rise to an epistemological crisis that has led to the fragmentation of knowledge and the emergence of intellectual and spiritual identity confusion. This study aims to examine the concepts of Islamization and the integration of science from the perspective of Syed Muhammad Naquib al-Attas, highlighting their theoretical and practical implications for Islamic education. The method used is qualitative with a literature study, through the stages of source identification, literature search, selection based on relevance criteria, recording and documentation, to data organization for further analysis. The analysis is carried out descriptively-analytically and criticallycomparatively to find patterns of meaning that are in harmony with the Islamic worldview. The results of the study show that the Islamization of science is interpreted as an effort to liberate knowledge from the hegemony of Western secularism, while the integration of science emphasizes the importance of uniting religion, science, and ethics with tawhid as its main foundation. This concept affirms the position of adab as the core of education, while also offering alternatives in curriculum development, policy formulation, and strategies for empowering Muslims in facing the challenges of globalization. From a theoretical perspective, this research enriches the discourse on Islamic epistemology, while in practical terms it presents an applicable framework for education that is more contextual and oriented towards the formation of civilized human Thus, these findings open up new opportunities in contemporary Islamic scientific studies, especially in formulating a holistic and transformative educational paradigm. Kata Kunci Abstrak Globalisasi, ilmu Islamisasi Fenomena globalisasi dan modernitas memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di dunia Muslim, terutama melalui dominasi paradigma sekuler yang memisahkan rasionalitas dari spiritualitas. Situasi ini melahirkan krisis epistemologis yang berimplikasi pada terfragmentasinya pengetahuan serta munculnya kebingungan identitas, baik secara intelektual maupun spiritual. Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji konsep Islamisasi dan integrasi ilmu pengetahuan dalam perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas, dengan menyoroti implikasi teoretis sekaligus praktisnya bagi pendidikan Islam. 16 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi pustaka, melalui tahapan identifikasi sumber, penelusuran literatur, seleksi berdasarkan kriteria relevansi, pencatatan serta dokumentasi, hingga pengorganisasian data untuk dianalisis lebih lanjut. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis serta kritis-komparatif guna menemukan pola makna yang selaras dengan worldview Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu dimaknai sebagai upaya membebaskan pengetahuan dari hegemoni sekularisme Barat, sedangkan integrasi ilmu menekankan pentingnya penyatuan agama, sains, dan etika dengan tauhid sebagai fondasi utamanya. Konsep tersebut menegaskan posisi adab sebagai inti pendidikan, sekaligus memberikan tawaran alternatif dalam pengembangan kurikulum, perumusan kebijakan, serta strategi pemberdayaan umat Islam dalam menghadapi tantangan Dari sisi teoretis, penelitian ini memperkaya diskursus epistemologi Islam, sementara secara praktis ia menyajikan kerangka aplikatif bagi pendidikan yang lebih kontekstual dan berorientasi pada pembentukan manusia beradab. Dengan demikian, temuan ini membuka peluang baru dalam kajian keilmuan Islam kontemporer, terutama dalam merumuskan paradigma pendidikan yang holistik dan transformatif. A Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Pendidikan is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Fenomena globalisasi dan modernitas membawa dampak besar terhadap perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan di dunia Muslim. Dalam arus modernitas, pendidikan dan sains kerap terperangkap dalam kerangka sekuler yang menempatkan rasionalitas terpisah dari spiritualitas. Keadaan ini menimbulkan jurang epistemologis yang berujung pada terabaikannya nilai-nilai transendental dalam bangunan ilmu, sehingga masyarakat Muslim sering menghadapi krisis identitas, baik secara intelektual maupun spiritual. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membawa berbagai kemajuan, namun kemajuan tersebut tidak terlepas dari pengaruh paradigma modernitas yang cenderung sekuler, rasionalistik, dan materialistic (Husnaini, 2. Kondisi tersebut mempertegas kebutuhan mendesak untuk menghadirkan model pendidikan Islam yang mampu memadukan ilmu modern dengan nilai-nilai keislaman. Bagi generasi muda Muslim yang berproses di lembaga pendidikan, dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sekuler seringkali menimbulkan kebingungan dalam membangun identitas akademik maupun spiritual. Ilmu pengetahuan diposisikan sebagai entitas netral, bebas nilai, dan hanya sah apabila diperoleh melalui metode empiris dan rasional (Husnaini, 2. Akibatnya, pendidikan yang semestinya menjadi Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 17 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. sarana pembentukan adab dan integrasi ilmu justru melahirkan fragmentasi Urgensi penelitian ini semakin terlihat jelas pada konteks kekinian. Indonesia, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan dalam merancang kurikulum yang tidak sekadar adaptif terhadap tuntutan zaman, tetapi juga tetap berpijak pada nilai tauhid dan akhlak. Sementara pada level global, gelombang sekularisasi dan arus globalisasi pendidikan menuntut perumusan konsep Islamisasi ilmu yang lebih nyata serta dapat diimplementasikan. Globalisasi dan sekularisasi telah menantang konsep tradisional pendidikan Islam sehingga menuntut rekonstruksi konsep pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan esensi Islami (Fauzi, 2. Kajian pustaka menunjukkan bahwa gagasan Syed M. Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi memiliki pengaruh penting dalam wacana Islamisasi ilmu. Syed Naquib al-Attas mengembangkan konsep pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pemahaman adab sebagai inti pendidikan, sementara Ismail Raji al-Faruqi menawarkan pendekatan berbasis tauhid dengan penekanan pada integrasi ilmu (Fauzi, 2. Namun demikian, kebanyakan kajian masih sebatas teori dan belum menyentuh ranah aplikatif dalam pendidikan modern. Kekosongan ini memperlihatkan kebutuhan akan penelitian yang lebih praktis dan aplikatif. Analisis terhadap gagasan mereka akan membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan, sehingga dapat dirumuskan model pendidikan Islam yang lebih komprehensif (Fauzi, 2. Transformasi epistemologis tidak dapat berhenti pada kritik filosofis saja, melainkan juga harus diikuti dengan rekonstruksi kurikulum, pelatihan pendidik, serta metodologi riset yang berakar pada nilai Islam (Zainuddin et al. , 2. Selain itu, sebagian besar penelitian terdahulu cenderung membahas al-Attas dan al-Faruqi secara terpisah, sehingga potensi sintesis epistemologis antara keduanya sering terabaikan. Meskipun memiliki kesamaan visi, pendekatan mereka berbeda secara signifikan. Al-Faruqi lebih pragmatis dan institusional, sementara al-Attas lebih filosofis (Hasanah et al. , 2. Oleh karena itu, analisis komparatif menjadi penting untuk memperkaya model pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini bertujuan secara khusus untuk menganalisis dan membandingkan pemikiran al-Attas dan al-Faruqi tentang Islamisasi ilmu dengan menitikberatkan Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 18 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. implikasinya pada pendidikan. Lingkup kajian mencakup kritik terhadap epistemologi Barat, formulasi konsep adab dan tauhid sebagai fondasi pendidikan Islam, serta kemungkinan sintesis metodologis di antara keduanya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah artikel ilmiah, buku, dan makalah konferensi yang relevan (Lestari et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberi kontribusi berarti dalam memperkaya diskursus Islamisasi ilmu sebagai proyek peradaban yang menyeluruh. Pada aspek praktis, hasil kajian dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang integratif, sekaligus membangun paradigma akademik yang responsif terhadap tantangan global tanpa kehilangan otentisitas nilai Islam. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya menegaskan relevansi gagasan Islamisasi ilmu, tetapi juga menawarkan alternatif baru bagi perancangan pendidikan Islam yang lebih kontekstual dan transformatif. METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan . ibrary researc. Pilihan metode tersebut didasarkan pada sifat kajian yang bersifat konseptual-reflektif, yakni berfokus pada telaah kritis atas gagasan Islamisasi serta integrasi ilmu pengetahuan dalam kerangka pemikiran Syed Muhammad Naquib alAttas. Studi pustaka dipandang tepat karena penelitian ini bertujuan menelaah teks, gagasan filosofis, dan temuan penelitian terdahulu untuk membangun landasan teoretis yang komprehensif, bukan untuk menguji variabel melalui pendekatan empiris (Sari & Asmendri, 2. Proses pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen dengan menelaah beragam literatur yang meliputi karya klasik maupun kontemporer, jurnal ilmiah, artikel, serta laporan penelitian yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptifanalitis dan kritis-komparatif dengan menekankan pada pengidentifikasian konsepkonsep kunci seperti adab, tauhid, dan epistemologi Islam, sehingga dapat dirumuskan sintesis teoritis yang relevan dengan tantangan keilmuan masa kini (Malahati et al. Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 19 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Intelektual Syed Muhammad Naquib al-Attas Syed Muhammad Naquib al-Attas dikenal luas sebagai salah satu intelektual Muslim paling berpengaruh di era kontemporer, khususnya dalam menggagas konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Biografi intelektualnya memperlihatkan bahwa gagasan besar tersebut tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui interaksi panjang dengan tradisi keilmuan Islam klasik serta pergumulan kritis terhadap modernitas Barat. Bagi al-Attas, ilmu pengetahuan modern yang bercorak sekuler menghadirkan tantangan besar bagi umat Islam, sebab transfer keilmuan dari Barat justru melahirkan kebingungan dalam sistem pendidikan Islam (Irawati & Aprisonn, 2. Dengan demikian, sejak awal riwayat hidupnya tidak dapat dilepaskan dari konteks pertarungan Al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor. Jawa Barat, dari keluarga bangsawan Arab-Hadhrami dan Sunda. Latar belakang keluarganya menempatkannya dalam tradisi spiritual Islam yang kuat, karena garis keturunan ayahnya bersambung hingga kepada Nabi Muhammad melalui Imam Husain. Ia tumbuh dalam keluarga religius yang sarat dengan nilai-nilai Islam (Ansor dan Zaitun, 2. Lingkungan inilah yang menjadi fondasi awal pembentukan adab dan kesadaran religius, yang kemudian mendasari seluruh gagasan keilmuannya. Sejak masa kecil, al-Attas telah memperoleh pendidikan berbasis Islam. menempuh pendidikan di Madrasah al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi, lalu melanjutkan studi di English College Johor Baru. Perpaduan ini memperlihatkan keterhubungan antara tradisi Islam klasik dan pendidikan kolonial modern. Pengalaman tersebut membentuk dialektika intelektual antara Timur dan Barat (Ansor dan Zaitun, 2. Dialektika inilah yang kelak membentuk karakter reflektif sekaligus kritis terhadap dominasi epistemologi Barat. Perjalanan akademiknya semakin berkembang ketika ia melanjutkan studi ke luar negeri. Al-Attas meraih gelar M. di McGill University Kanada dalam bidang Studi Islam dan kemudian menuntaskan program doktoralnya di University of London. Masa studinya di Kanada dan Inggris mempertemukannya secara langsung dengan paradigma sekularisme Barat (Ansor dan Zaitun, 2. Pengalaman ini kian Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 20 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. mempertajam kritiknya terhadap positivisme dan rasionalisme yang menjadi ciri khas ilmu pengetahuan modern. Salah satu temuan penting dari biografinya adalah bahwa konsep Islamisasi ilmu tidak lahir dari ruang kosong, melainkan merupakan respons terhadap pengalaman eksistensial menghadapi modernitas Barat. Transformasi keilmuan yang datang dari Barat yang lebih menekankan pada rasionalitas dan mengesampingkan nilai-nilai ilahiah berdampak pada lepasnya nilai teologis pada sains (Irawati & Aprisonn, 2. Oleh sebab itu, gagasan Islamisasi ilmu yang ditawarkan al-Attas dapat dipahami sebagai bentuk kritik atas sekularisasi dan dehumanisasi dalam epistemologi modern. Dari sisi metodologis, al-Attas menekankan bahwa proses Islamisasi ilmu harus dimulai dari pembenahan worldview. Menurutnya. Islamisasi merupakan upaya membebaskan manusia dari pengaruh sekularisasi dalam pemikiran maupun Bahasa (Sartika & Zulmuqim, 2. Hal ini memperlihatkan bahwa biografi intelektualnya tidak hanya berupa catatan perjalanan hidup, melainkan juga berakar kuat pada pengalaman filosofis lintas tradisi. Kontribusi sosial al-Attas melalui gagasannya juga penting diperhatikan. menawarkan alternatif bagi umat Islam yang terpinggirkan oleh dominasi epistemologi Barat. Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai Aufklarung bagi umat Islam diharapkan dapat melahirkan pribadi muslim universal (Irawati & Aprisonn, 2. Dengan demikian, biografinya tidak semata berhubungan dengan perkembangan pribadi, tetapi juga menyangkut perjuangan kolektif umat Islam melawan kolonialisme epistemik. Refleksi atas biografi intelektual ini menunjukkan bahwa riwayat hidup al-Attas harus dipahami bukan sekadar kronologi, melainkan sebagai fondasi untuk rekonstruksi keilmuan Islam. Ia adalah figur sarjana Muslim yang mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan keotentikan Islam. Dengan gagasan Islamisasi ilmu, alAttas berupaya membebaskan umat Islam dari hegemoni Barat dalam ilmu pengetahuan maupun kebudayaan (Irawati & Aprisonn, 2. Dengan demikian, kajian atas biografi intelektual Syed Muhammad Naquib alAttas memperlihatkan betapa pentingnya riwayat hidup dalam memahami gagasan besar seorang pemikir. Biografi tersebut menjadikan Islamisasi ilmu tidak hanya sebagai konsep normatif, melainkan sebagai respons historis dan otentik yang lahir dari pergumulan antara tradisi, sejarah, dan modernitas. Hal ini menjadi kontribusi Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 21 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. signifikan bagi perkembangan pemikiran Islam kontemporer, khususnya dalam upaya membangun paradigma keilmuan alternatif yang bertumpu pada nilai tauhid. Konsep Islamisasi Ilmu Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas Islamisasi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas tidak dapat dipahami sekadar sebagai upaya menyisipkan unsur keagamaan ke dalam sains modern, melainkan sebagai sebuah proyek epistemologis yang bersifat mendasar. Gagasan ini dimaknai sebagai usaha untuk melepaskan ilmu dari dominasi worldview Barat yang sekuler, sekaligus menegakkan kembali pandangan dunia Islam sebagai dasar Islamisasi ilmu merupakan respon Islam terhadap perkembangan sains modern dan penolakan terhadap sekularisme (Saripuddin et al. , 2. Dengan demikian, inti pemikiran al-Attas terletak pada rekonstruksi ilmu yang berakar pada prinsip tauhid dan wahyu. Landasan pemikiran ini lahir dari kritiknya terhadap positivisme dan rasionalisme Barat. Al-Attas menilai bahwa ilmu pengetahuan modern cenderung mengesampingkan wahyu dengan mengedepankan akal dan pengalaman empiris sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Positivisme logis yang menjadi pondasi sains modern jelas meminggirkan wahyu sebagai sumber kebenaran, sehingga hanya mengandalkan akal dan pancaindra (Azrul Kiromil & Enri Auni, 2. Kritik tersebut menegaskan bahwa Islamisasi ilmu memiliki dimensi dekolonial, yakni membebaskan umat Islam dari hegemoni epistemologi modern yang menafikan aspek metafisik. Bagi al-Attas. Islamisasi harus berawal dari pembenahan worldview. Dalam kerangka ini, ilmu dipahami bukan hanya sebagai alat praktis, tetapi juga sebagai jalan menuju pengenalan kepada Tuhan. Islamisasi ilmu adalah proses pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional yang bertentangan dengan Islam, serta dari paham sekuler dalam bahasa dan pemikiran (Sartika & Zulmuqim, 2. Oleh sebab itu. Islamisasi menuntut transformasi radikal dalam cara pandang terhadap Untuk mewujudkan gagasannya, al-Attas menawarkan dua langkah metodologis yang saling melengkapi. Pertama, melakukan pemisahan terhadap elemen-elemen Barat yang bertentangan dengan Islam. Kedua, memasukkan konsep-konsep kunci Islam ke dalam disiplin ilmu kontemporer. Al-Attas menjelaskan perlunya pemisahan elemen Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 22 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Barat, lalu memasukkan konsep utama Islam dalam cabang ilmu modern (Sartika & Zulmuqim, 2. Melalui proses ini, umat Islam tidak lagi hanya menjadi konsumen ilmu, melainkan pencipta paradigma alternatif yang mandiri. Aspek etika menjadi komponen penting dalam gagasan Islamisasi al-Attas. menempatkan konsep adab sebagai pusat sistem keilmuan yang ditawarkannya. Konsep adab menjadi pusat sistem pemikiran al-Attas dan inti dari ajaran Islam (Elit & Arif. Adab di sini tidak sekadar dimaknai sebagai tata krama, melainkan sebagai kesadaran metafisis mengenai kedudukan manusia, ilmu, dan Tuhan. Dengan demikian. Islamisasi ilmu tidak hanya bersifat epistemologis, tetapi juga merupakan proses etis untuk membentuk manusia beradab. Dari sisi sosial, gagasan Islamisasi ilmu membawa dampak signifikan bagi umat Islam yang sering termarginalkan oleh dominasi sains sekuler. Islamisasi ilmu diharapkan mampu melahirkan pribadi Muslim universal yang terbebas dari hegemoni Barat (Saripuddin et al. , 2. Artinya. Islamisasi berperan dalam memperkuat identitas kolektif umat Islam, baik secara intelektual maupun spiritual. Selain itu, posisi sosial-budaya turut mewarnai tafsir atas konsep ini. Dalam konteks marginalisasi epistemik yang dialami umat Islam. Islamisasi ilmu hadir sebagai bentuk resistensi intelektual. Dengan demikian, gagasan al-Attas memiliki arti penting tidak hanya dalam ranah filosofis, tetapi juga strategis dalam merumuskan paradigma alternatif yang relevan dengan kebutuhan zaman. Islamisasi ilmu dalam pandangan al-Attas merupakan tawaran besar untuk membangun peradaban Islam yang berdaulat. Ia menegaskan bahwa Islamisasi bukan hanya sekadar proyek akademis, melainkan sebuah agenda peradaban yang bertujuan mengembalikan otoritas pengetahuan kepada wahyu. Dengan demikian. Islamisasi ilmu menjadi jawaban otentik umat Islam terhadap modernitas yang cenderung menyingkirkan nilai spiritual, sekaligus menghadirkan sintesis yang utuh antara akal, wahyu, dan realitas sosial. Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 23 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Integrasi Ilmu Pengetahuan dalam Syed Muhammad Naquib Al-Attas Konsep integrasi ilmu pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas berangkat dari worldview Islam yang menempatkan tauhid sebagai fondasi utama Ia menolak adanya dikotomi antara agama dan ilmu sebagaimana diwariskan tradisi Barat pasca-Pencerahan, karena pemisahan tersebut dinilai telah menimbulkan krisis epistemologis yang menjauhkan ilmu dari wahyu. Ilmu sejati harus dipahami sebagai jalan untuk mengenal Tuhan, bukan sekadar hasil spekulasi rasional yang bebas nilai (Nugroho et al. , 2. Bagi al-Attas, integrasi ilmu menegaskan bahwa sains dan agama tidak dapat dipisahkan, melainkan harus dipahami sebagai dua dimensi yang saling melengkapi dalam kerangka pemahaman yang holistik. Ilmu yang dikembangkan manusia harus selalu diletakkan dalam bingkai wahyu Ilahi. Jika dipisahkan dari dimensi spiritual, ilmu akan kehilangan arah etis dan berpotensi menimbulkan kekacauan makna. Ilmu yang dilepaskan dari wahyu hanya akan melahirkan fragmentasi pengetahuan (Siti Maulidiya Agustin, 2. Dalam kerangka tersebut, al-Attas merumuskan Islamisasi ilmu sebagai sebuah proses epistemologis yang berfungsi untuk membebaskan pengetahuan dari dominasi pandangan dunia sekuler. Islamisasi bukan sekadar penyematan simbol keagamaan, tetapi merupakan usaha fundamental untuk mengembalikan orientasi ilmu ke dalam kerangka tauhid. Islamisasi ilmu adalah proses dewesternisasi pengetahuan sekaligus pengembalian orientasi ilmu kepada pandangan dunia Islam (Nurry MarfuAoah. Eva Dewi, 2. Gagasan ini memperlihatkan keberanian al-Attas dalam mengkritisi modernitas yang terlalu menekankan rasionalisme dan empirisme. Dengan menjadikan tauhid sebagai pusat epistemologi, ia menawarkan paradigma alternatif atas hegemoni Barat. Hal ini menegaskan bahwa integrasi ilmu bukan hanya persoalan metodologis, melainkan juga mencakup dimensi ontologis, etis, dan spiritual. Dari sisi sosial, gagasan integrasi ini memiliki makna yang signifikan bagi umat Islam yang hidup di tengah derasnya arus globalisasi ilmu dan teknologi. Krisis epistemologis yang ditandai dengan limpahan informasi tetapi minim hikmah dapat diatasi melalui integrasi ala al-Attas. Dengan mengembalikan orientasi ilmu kepada Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 24 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. tujuan spiritual, umat Islam dapat membangun peradaban yang kokoh secara material sekaligus berakar pada nilai transendental. Lebih jauh, konsep integrasi ini juga hadir sebagai respon terhadap marginalisasi pengalaman religius dalam tradisi keilmuan modern. Ilmu yang dilepaskan dari agama Dengan mengintegrasikan keduanya, al-Attas berupaya menempatkan agama kembali pada posisi sentral dalam proses pencarian kebenaran. Integrasi ilmu menempatkan agama bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai dasar dari seluruh bangunan pengetahuan (Siti Maulidiya Agustin, 2. Dalam konteks pendidikan, pemikiran ini memberikan implikasi lahirnya paradigma baru yang tidak hanya mengutamakan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan adab. Pendidikan Islam, menurut al-Attas, harus mengintegrasikan aspek intelektual dan spiritual secara seimbang, sehingga mampu melahirkan manusia beradab, bukan sekadar tenaga kerja terampil. Konsep integrasi ini juga memiliki relevansi dalam meredam konflik antara kelompok modernis dan tradisionalis dalam Islam. Dengan menyatukan ilmu modern dan agama dalam kerangka tauhid, al-Attas menghadirkan sintesis yang dapat menjembatani ketegangan epistemologis. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi ilmu tidak hanya bernilai teoritis, tetapi juga strategis bagi penguatan identitas keilmuan Islam di era global. Konteks sosial-budaya turut memengaruhi bagaimana gagasan ini ditafsirkan. Indonesia, misalnya, tarik-menarik antara sekularisasi pendidikan dan Islamisasi ilmu masih berlangsung. Dalam situasi demikian, konsep integrasi ala al-Attas dapat menjadi kerangka alternatif untuk membangun sistem pendidikan dan keilmuan yang lebih Dengan demikian, integrasi ilmu tidak hanya berhenti pada level ide, tetapi juga menawarkan solusi praktis bagi kebutuhan lokal maupun global. Secara keseluruhan, integrasi ilmu menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dapat dipahami sebagai proyek peradaban yang menyatukan agama, ilmu, dan etika dalam satu kesatuan tauhid. Kontribusi teoritisnya memperkaya epistemologi Islam, sementara kontribusi praktisnya memberi arah bagi pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Hal ini menegaskan bahwa integrasi ilmu tidak hanya relevan bagi Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 25 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. diskursus akademis, tetapi juga strategis dalam membangun peradaban Islam yang mandiri serta berakar kuat pada nilai spiritual. KESIMPULAN Gagasan Islamisasi dan integrasi ilmu pengetahuan menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas berpijak pada prinsip tauhid sebagai landasan epistemologis. Islamisasi dipahami sebagai proses pembebasan pengetahuan dari dominasi pandangan dunia sekuler sekaligus pengembalian orientasi ilmu kepada wahyu. Sementara itu, integrasi ilmu dimaknai sebagai penyatuan antara agama, sains, dan etika dalam suatu kerangka yang menyeluruh. Temuan ini menegaskan bahwa pemikiran al-Attas tidak berhenti pada level teoretis-akademis, melainkan merupakan strategi peradaban yang ditujukan untuk menjawab krisis identitas intelektual umat Islam serta menghadirkan paradigma alternatif yang lebih adil, beradab, dan berlandaskan spiritualitas. Penelitian ini memperkaya teori pendidikan Islam dengan menggarisbawahi urgensi adab sebagai inti dari seluruh bangunan keilmuan. Adapun dalam ranah praktis, gagasan tersebut memberi pedoman bagi pengembangan kurikulum, perumusan kebijakan pendidikan, serta strategi resistensi terhadap dominasi epistemologi Barat. Implikasi nyata dari pemikiran al-Attas tidak hanya tercermin dalam pembentukan peserta didik yang berkarakter dan beradab, tetapi juga membuka ruang bagi rekonstruksi sosial dan budaya umat Islam di tengah arus globalisasi. Dengan demikian. Islamisasi dan integrasi ilmu dapat dipandang sebagai agenda strategis untuk membangun peradaban Islam yang kuat, mandiri, dan berakar pada nilainilai transendental. DAFTAR RUJUKAN Ansor dan Zaitun. SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS: ISLAMIZATION OF KNOWLEDGE BY DEVELOPING GENUINE ISLAMIC PARADIGM. Jurnal ISLAMIKA, 4. , 167Ae186. Azrul Kiromil, & Enri Auni. TELAAH KRITIS AKSIOLOGI SAINS MODERN PERSPEKTIF NAQUIB AL-ATTAS DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KOMUNITAS ILMIAH Azrul Kiromil Enri Auni. 3, 2021. Elit. , & Arif. Department of Islamic Theology and Philosophy . Afkar, 24. , 409Ae446. Fauzi. KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRAN SYED NAQUIB AL ATTAS DAN ISMAIL RAJI AL FARUQI. , 124. Hasanah. Masyhudi. , & Zalnur. Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan : Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A 26 COGNITIVE: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. No. 3 (Desember, 2. Studi Kritis Terhadap Pemikiran Ismail Raji. KHIDMAT: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2. , 423. Husnaini. dan M. ISLAMISASI ILMU DI TENGAH ARUS MODERNITAS: ANALISIS TANTANGAN DAN PELUANG BERDASARKAN PANDANGAN AL-FARUQI DAN AL-ATTAS. ALHIKMAH : Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Islam, 7. , 112. Irawati. , & Aprisonn. Menguak Islamisasi Ilmu Pengetahuan Melalui Gerakan Aufklarung. Indonesian Research Journal on Education, 4. , 98Ae105. https://doi. org/10. 31004/irje. Lestari. Amrillah. Agustina. , & Indra. Islamization of Science : Exploring Seyyed Hossein Nasr Ao s Perspective on Building a Bridge between Science and Faith. Jurnal Nasional Holistic Science, 4. , 574Ae577. Malahati. Jannati. Qathrunnada. , & Shaleh. Kualitatif : Memahami Karakteristik Penelitian Sebagai Metodologi. Jurnal Pendidikan Dasar, 11. , 341Ae348. https://doi. org/10. 46368/jpd. Nugroho. Affand. Rosyadi. Isman, & Muthoifin. Problem Epistemology Chatgpt: Worldview Islam Perspective Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Profetika: Jurnal Studi Islam, 24. , 381Ae392. Nurry MarfuAoah1. Eva Dewi. INTEGRASI AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF NAQUIB AL-ATTAS. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10. Sari. , & Asmendri. Penelitian Kepustakaan (Library Researc. dalam Penelitian Pendidikan IPA. Natural Science, 6. , 41Ae53. https://doi. org/10. 15548/nsc. Saripuddin. Syukri. , & Badarussyamsi. Islam Dan Sains: Antara Islamisasi Ilmu. Pengilmuan Islam. Dan Transintegrasi Ilmu. Refleksi Jurnal Filsafat Dan Pemikiran Islam, 21. , 140Ae164. https://doi. org/10. 14421/ref. Sartika. , & Zulmuqim. Islamisasi Dan Pertumbuhan Institusi-Institusi Islam. Khususnya Institusi Pendidikan Islam. Jurnal Ilmiah Al-Furqan: AlQurAoan Bahasa Dan Seni, 9. , 156Ae177. https://doi. org/10. 69880/alfurqan. Siti Maulidiya Agustin. Integrasi Agama dan Sains dalam Perspektif M. Naquib Al-Attas. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8. , 50009Ae50015. https://doi. org/10. 61966/ghiroh. Zainuddin. Muttaqin. Amir. Nafisah. , & Paizaluddin. Epistemological Synthesis of Al-Attas and Al-Faruqi : Islamization of Knowledge . Adab , and Contemporary Decolonization of Knowledge. ISEDU: Islamic Education Journal, 3. , 18. https://doi. org/10. 59966/isedu. Jamaluddin. al - Islamisasi dan Integrasi Ilmu A