JSIP 11 . Journal of Social and Industrial Psychology http://journal. id/sju/index. php/sip Innovative Working Behavior Pada Karyawan Perusahaan Startup dan Aparatur Sipil Negara Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al FatihA Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Info Artikel Abstrak ________________ ___________________________________________________________________ Keywords: Innovative woeking behavior, company, employee, startup, state civil ____________________ Saat ini menjadi pekerja yang kreatif dan inovatif sangatlah penting dalam mengimbangi perkembangan zaman. Selain itu setiap perusahaan maupun instansi memiliki bentuk kepemimpinan, budaya organisasi dan karakteristik pekerjaan yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi innovative working behavior yang dimiliki oleh pekerjanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan innovative working behavior pada karyawan perusahaan startup dan Aparatur Negeri Sipil (ASN), mengetahui gambaran innovative working behavior pada karyawan perusahaan startup di Jakarta dan mengetahui gambaran innovative working behavior pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif. Populasi penelitian ini adalah karyawan perusahaan startup dan Aparatur Negeri Sipil (ASN). Sampel dalam penelitian ini sebanyak 115 karyawan perusahaan startup dan 115 Aparatur Negeri Sipil (ASN) dengan menggunakan teknik non-probability sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala innovative working behavior yang berisi 48 item dengan koefisien reliabilitas = 0,945. Hasil penghitungan mendapatkan hasil bahwa innovative pada kedua kelompok subyek penelitiani berada dalam kategori tinggi. Uji hipotesis dilakukan dengan teknik analisis MannWhitney U test memperoleh nilai Z sebesar -3. 129 dengan nilai signifikansi . ) 0,002. Dengan demikian, hipotetis yang berbunyi terdapat perbedaan innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta diterima. Abstract ___________________________________________________________________ Currently being a creative and innovative worker is very important in keeping pace with the times. In addition, each company and agency have a different form of leadership, organizational culture and job characteristics so that it can affect the innovative working behavior of its employees. know the description of innovative working behavior of employees of startup companies in Jakarta and know the description of innovative working behavior of the State Civil Apparatus (ASN) in Jakarta. This research is comparative quantitative research. The population of this study are employees of startup companies and the state civil apparatust. The sample in this study was 115 employees of startup companies and 115 state civil apparatus using non-probability sampling technique. Data was collected using an innovative working behavior scale which contains 48 items with a reliability coefficient = 0. The results of the calculation assisted by data processing software, found that the innovativeness of the two groups of research subjects was in the high category. Hypothesis testing was carried out using the Mann-Whitney U test analysis technique, obtaining a Z value of -3. 129 with a significance value . ) of 0. Thus, the hypothesis which reads that there is a difference in innovative working behavior between employees of startup companies and the civil cervant in Jakarta is accepted. Alamat korespondensi: Gedung A1 Lantai 2 FIP Unnes Kampus Sekaran. Gunungpati. Semarang, 50229 E-mail: abdirabbirasul@students. ISSN 2964-4135 Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al Fatih / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . PENDAHULUAN Saat ini menjadi pekerja yang kreatif dan inovatif sangatlah penting dalam mengimbangi revolusi industri 4. 0 yang memaksa pekerja dalam sebuah organisasi menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif yang dapat diaplikasikan karena salah satu cara bagi organisasi untuk menjadi lebih inovatif adalah dengan memanfaatkan kemampuan karyawan mereka untuk berinovasi (Jong & Hartog, 2. Perkembangan dan perubahan teknologi di era digitalisasi yang terus terjadi membuat negara Indonesia harus mampu mengimbangi dan beradaptasi untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas dengan berinovasi. Hal ini menjadi landasan banyaknya perusahaan startup di Indonesia yang mulai terbentuk karena memiliki kemampuan dalam manajemen inovasi merupakan salah satu faktor keberhasilan pertumbuhan perusahaan startup dimana perusahaan startup dapat mengelola inovasi sehingga dapat menjalankan proses pengembangan produknya dengan cepat dan menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi karena ketidakpastian merupakan ciri khas dari produk digital (Prasetiawan & Tricahyono, 2. Indonesia masuk kedalam 5 besar negara yang memiliki banyak perusahaan startup di dunia. jumlah perusahaan startup di Indonesia mencapai 2. 219 perusahaan. Nomor satu diduduki oleh Amerika Serikat (AS) dengan jumlah perusahaan startup sebanyak 66. 806 perusahaan, disusul oleh India dengan 9. 349 perusahaan. Inggris dengan 5. 548 perusahaan dan Kanada dengan 2. perusahaan (Medcom. id, 2. Selain terbentuknya berbagai macam perusahaan startup, dampak dari perkembangan dan perubahan teknologi di era digitalisasi turut serta berpengaruh dalam transformasi e-government dalam instansi pemerintahan Indonesia. Aparatur Sipil Negara (ASN) berperan penting dalam proses inovasi untuk dapat melakukan transformasi digital pada sistem pelayanan sehingga dapat menjadi e-goverment dan meningkatkan kinerja program pelayanan publik agar dapat bermanfaat bagi masyarakat umum. Namun, transformasi pemerintah Indonesia untuk dapat menjadi Egoverment tidak secepat laju pertumbuhan dan perkembangan perusahaan startup di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SBPE) untuk dapat bertransformasi menjadi e-goverment. Berdasarkan hasil survei e-Goverment Development Index (EGDI) yang diselenggarakan oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 88 dari 193 negara di tahun 2020 (Menpan. id, 2. Terdapat tiga dimensi ukuran kinerja yang ada dalam EGDI, antara lain indeks pelayanan daring atau online service index (OSI), indeks infrastruktur telekomunikasi atau telecommunication infarstructure index (TII), dan indeks sumber daya manusia atau human capital index (HCI). Selain transformasi digital yang diciptakan, pengembangan proses dan perbaikan cara kerja juga merupakan bentuk dari innovative working behavior yang dimiliki oleh masing-masing pekerja. Pandemi covid-19 yang melanda Indonesia pada sektor pendidikan. Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya tenaga pendidik mampu beradaptasi untuk terus dapat mengajar ditengah pandemi yang melanda dengan merubah cara kerja dan sistem belajar anak didiknya dengan memngembangkan modul pembelajaran jarak jauh maupun dengan cara mengajar secara online. Kemampuan beradaptasi secara cepat dan tepat di tengah kesulitan ini merupakaan salah satu bentuk inovasi dan kreativitas yang dimiliki oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) tenaga pendidik. Perbedaan bentuk pertumbuhan serta perkembangan inovasi pada karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat disebabkan oleh innovative working behavior yang Janssen . menyatakan bahwa inovative working behavior merupakan intensi untuk mencipta, memproduksi dan mengaplikasikan ide-ide baru dalam bekerja sesuai peran bagi kelompok maupun organisasi yang bertujuan untuk menguntungkan pekerjaan individu, kelompok, atau organisasi. Sejalan dengan pernyataan Janssen yang membahas ide-ide baru. Carmeli dkk Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al Fatih / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . menjelaskan bahwa innovative working behavior merupakan proses identifikasi permasalahan pada pekerjaan oleh karyawan dengan tujuan mengembangkan ide dan solusi yang baru untuk menyelesaikan permasalahan, kemudian mengumpulkan dukungan terhadap ide dan solusi baru yang telah di kembangkan agar dapat tertanam dalam organisasi. Setiap perusahaan maupun instansi pemerintah memiliki bentuk kepemimpinan, budaya organisasi dan karakteristik pekerjaan yang berbeda-beda menyesuaikan nilai-nilai yang dianut dalam menjalankan visi dan misi instansi atau perusahaan itu sendiri. Pada hasil penelitian yang dilakukan Esha dan Dwipayani . mendapatkan simpulan bahwa variabel kepemimpinan dan budaya organisasi memiliki tingkat hubungan atau pengaruh kuat terhadap innovative working Hal ini memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Scott dan Bruce . yang menemukan bahwa perilaku inovatif terkait dengan kualitas hubungan atasan dengan bawahan. Penelitian yang dilakukaan oleh Khasanah dan Himam . mendapati bahwa kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan perilaku kerja inovatif. Penelitian yang dilakukan oleh Hammond dkk . menunjukkan bahwa karakteristik pekerjaan berperan dalam memahami kreativitas dan inovasi dalam pekerjaan. karakteristik pekerjaan juga berpengaruh terhadap innovative working behavior yang mana pekerjaan kompleks menuntut lebih banyak inovasi dalam sifatnya sehingga membuat individu untuk dapat fokus pada berbagai aspek pekerjaan mereka (Oldham & Cummings, 1. Hal-hal tersebut tentu akan sangat berpengaruh terhadap innovative working behavior yang dimiliki pekerja dalam suatu perusahaan startup maupun instansi Terdapat perbedaan bentuk dari inovasi yang dilakukan baik dari karyawan perusahaan startup dan Aparatur Sipil Negara (ASN). Inovasi pada karyawan perusahaan startup lebih banyak berfokus pada produk yang dapat digunakan seperti aplikasi atau layanan-layanan digital sehingga dapat memudahkan penggunanya, sedangkan inovasi pada Aparatur Sipil Negara (ASN) lebih banyak berfokus pada cara bekerja dan aturan-aturan yang ada seperti mereformasi birokrasi, merubah atau mereduksi aturan-aturan yang memperlambat serta merumuskan kebijakan yang bermanfaat, merubah atau menyesuaikan sistem kerja yang tepat dan sesuai sehingga dapat meningkatkan kualitas dan efektifitas dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan innovative working behavior karyawan perusahaan startup dan Aparatur Negeri Sipil (ASN), mengetahui gambaran innovative working behavior pada karyawan perusahaan startup di Jakarta dan mengetahui gambaran innovative working behavior pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta sehingga hasil dari perbandingan innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara bisa menjadi bentuk penilaian terhadap keberhasilan pengaplikasian core value atau budaya pada suatu organisasi, bentuk kepemimpinan serta karakteristik pekerjaan dengan melihat tinggi atau rendahnya innovative working behavior yang dimiliki oleh pekerja di perusahaan startup atau instansi pemerintahan serta evaluasi terhadap prosesi inovasi agar terciptanya peroduk inovasi yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu masyarakat usia produktif memiliki referensi untuk dapat berkarir sebagai karyawan perusahaan startup maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan melihat innovative working behavior pekerja di perusahaan startup atau instansi pemerintah serta meningkatkan kualitas sistem maupun produk dan pelayanannya. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif. Arikunto . menjelaskan bahwa penelitian komparasi adalah jenis penelitian yang berusaha mencari perbedaan. Variabel pada penelitian ini adalah innovative working behavior. Definisi dari innovative working behavior adalah perilaku seorang individu dalam berperan menciptakan, mengembangkan. Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al Fatih / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . mengaplikasikan serta mencari dukungan terhadap suatu ide baru di tempat kerja dengan menghasilkan inovasi yang dapat berupa solusi, proses, produk ataupun program baru yang lebih baik dari sebelumnya. Aspek-aspek dalam dalam variabel innovative working behavior pada penelitian ini didasarkan dari aspek-aspek yang dikemukakan oleh Janssen . yaitu menciptakan ide . dea generatio. , promosi ide . dea promotio. , dan realisasi ide . dea realizatio. Populasi pada penelitian ini adalah karyawan perusahaan startup dan Aparatur Negeri Sipil (ASN) yang bekerja di Jakarta. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 115 karyawan perusahaan startup dan 115 Aparatur Negeri Sipil (ASN) dengan menggunakan teknik non-probability sampling dengan cara incidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala innovative working behavior yang berisi 48 item dengan koefisien reliabilitas = 0,945. Hasil penghitungan dibantu dengan software pengolah data, mendapatkan hasil bahwa innovative pada kedua kelompok subyek penelitian berada dalam kategori tinggi. Uji hipotesis dilakukan dengan teknik analisis MannWhitney U test serta menggunakan teknik analisa deskriptif untuk mengetahui gambaran dari kedua variabel HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian uji hipotesis menggunakan teknik analisis Mann-Whitney U test menunjukkan hasil sebagai berikut: Tabel 1 Hasil Uji Hiptesis Mann-Whitney U IWB Wilcoxon W Asymp. Sig. -taile. Grouping Variable: Kelompok Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan teknik Mann-Whitney U test dengan bantuan software statistik, innovative working behavior memperoleh nilai Z sebesar -3. dengan nilai signifikansi . ) 0,002 lebih kecil dari probabilitas 0,05. Sehingga dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi innovative working behavior pada seorang individu, hal ini dapat mempengaruhi perbedaan dari innovative working behavior yang dimiliki oleh karyawan perusahaan startup dan Aparatur Sipil Negara (ASN). Li dan Zheng . , menjelaskan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi innovative working behavior karyawan pada tingkat individu dan ditingkat Pada tingkat individu, innovative working behavior dapat dipengaruhi oleh faktor komitmen organisasi dan psychological capital. Komitmen organisasi mengacu pada keadaan mental dimana karyawan bersedia untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi, menunjukkan tujuan karyawan mengapa tetap bekerja, sedangkan pada psychological capital adalah karyawan bersedia mengambil risiko kegagalan inovasi dan berpartisipasi aktif dalam inovasi yang sesuai dengan karakteristik psikologis mereka maka karyawan dengan psychology capital akan memiliki perilaku yang lebih inovatif (Li & Zheng, 2. Psychology capital terdiri dari aspek kepercayaan, harapan, optimisme, dan ketahanan. Tidak berbeda jauh dengan Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al Fatih / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . pernyataan Li dan Zheng . Hammond dkk . menjelaskan salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya innovative working behavior pada karyawan adalah individual difference dan motivation. Hal tersebut juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi innovative working behavior karyawan pada tingkat individu. Berdasarkan penelitian Etikariena . , bahwa karakteristik individu, khususnya usia, latar belakang pendidikan, dan masa kerja karyawan memiliki hubungan yang signifikan dengan innovative working behavior. Pada tingkat organisasi, innovative working behavior dapat dipengaruhi oleh organizational innovation atmosphere, leadership, social capital, work characteristics (Li & Zheng, 2. Organizational innovation atmosphere merupakan persepsi lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi kerja kreatif yang akan menjadi benih dari semua inovasi didalam organisasi (Amabile dkk, 1. Lingkungan kerja yang baik adalah lingkungan yang mendukung terciptanya suatu proses inovasi, baik itu dari segi pelayanan, produk maupun sistem yang ada di organisasi tersebut. Dengan adanya organizational innovation atmosphere dalam suatu organisasi maka dapat mengembangankan innovative working behavior yang dimiliki oleh individu. Pada perusahaan startup dan institusi pemerintahan memiliki atmospir serta budaya organisasi yang berbeda yang akan mempengaruhi terjadinya proses inovasi yang dilakukan oleh individu didalam organisasi. Aparatur Sipil Negara (ASN) memiki core value yang diimplementasikan dalam kata AuBerakhlakAy dan merupakan akronim dari berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif. Sedangkan untuk perusahaan startup itu sendiri memiliki core value yang berbeda pada masingmasing Leadership . , pada hasil penelitian yang dilakukan Esha dan Dwipayani . mendapatkan simpulan bahwa variabel kepemimpinan dan budaya organisasi memiliki tingkat hubungan atau pengaruh kuat terhadap innovative working behavior. Penelitian yang dilakukaan oleh Khasanah dan Himam . mendapati bahwa kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan perilaku kerja inovatif. Selain itu peran pemimpin melalui penggunaan pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual akan mampu menyelaraskan kembali nilai dan norma karyawan, serta menginspirasi karyawan untuk mencapai tingkat inovasi dan efektivitas yang lebih tinggi (Liua & Phillips, 2. Karyawan perusahaan startup dan Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki bentuk dan tipe kepemimpinan yang berbeda. Hal tersebut akan mempengaruhi perbedaan tingkat innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN). Salah satu contoh bentuk kepemimpinan di Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah menggunakan gaya kepemimpinan berokratis. Gaya kepemimpinan birokratis adalah perilaku memimpin yang ditandai dengan adanya keketatan pelaksanaan suatu prosedur yang telah berlaku untuk pemimpin dan anak buahnya. pemimpin yang birokratis, secara umum akan membuat segala keputusan itu berdasarkan dari aturan yang telah berlaku (Mattayang, 2. Sedangkan pada karyawan perusahaan startup aturan-aturan kerja yang ada tidak sekomplek yang dimiliki oleh Aparatur Sipil Negara (ASN). Social capital . odal sosia. , konsep modal sosial muncul dari pemikiran bahwa anggota masyarakat tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Diperlukan adanya kebersamaan dan kerjasama yang untuk mengatasi masalah tersebut (Syahra, 2. Interaksi sehari-hari dengan rekan kerja dan teman mampu memberikan informasi, ide, dan pengetahuan (Madjar, 2. Selain itu hubungan antara pelanggan dan karyawan juga akan berdampak pada perilaku inovatif karyawan. Komunikasi dengan pelanggan dapat membuat karyawan lebih mudah memahami karakteristik, kebutuhan, dan tren pengembangan layanan yang berbeda serta dapat meningkatkan pengetahuan mereka dalam mengembangkan pemikiran kreatif (Li & Zheng, 2. Perbedaan dinamika sosial yang ada di perusahaan startup dengan institusi pemerintahan akan mempengaruhi proses inovasi yang ada. Sehingga hal tersebut dapat menyebabkan perbedaan innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN). Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al Fatih / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . Work characteristics . arakteristik pekerjaa. Ketika pekerjaan dirasa kompleks dan menantang, individu akan cenderung bersemangat melakukan aktivitas kerja mereka dan tertarik untuk menyelesaikannya tanpa adanya kontrol atau kendala eksternal. Selain itu, pekerjaan yang kompleks akan menuntut hasil kreatif dengan mendorong karyawan untuk fokus pada berbagai dimensi pekerjaan mereka (Oldham & Cummings, 1. Selain itu tingkat rutinitas kerja akan mempengaruhi perilaku inovatif karyawan. Pengulangan yang tinggi serta karyawan yang sering bekerja sesuai aturan akan membentuk pemikiran yang kokoh, dan niat inovasi mereka sangat rendah dan sangat sulit untuk mempromosikan perilaku inovatif (Li & Zheng, 2. Karyawan perusahaan startup dan Aparatur Sipil Negara (ASN) mempunya work characteristics yang berbeda. Beberapa perusahaan startup menerapkan fleksibelitas dalam bekerja seperti work from anywhere, membebaskan gaya berbusana dan lain-lain sedangkan Aparatur Sipil Negara (ASN) sangat terikat dengan aturan birokrasi yang ada. Perbedaan work characteristics tersebut akan mempengaruhi innovative working behavior pada karyawan perusahaan startup dan Aparatur Sipil Negara (ASN). Perbedaan-perbedaan yang ada pada perusahaan startup dengan isntitusi pemerintahan baik ditingkat individu maupun pada tingkat organisasi dapat mempengaruhi innovative working behavior pada masing-masing pekerja sehingga dapat menjawab hipotesis penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. Sedangkan dari hasil analisa deskriptif didapatkan hasil bahwa kedua kelompok subyek baik karyawan perusahaan startup maupun Aparatur Negeri Sipil (ASN) berada pada kategori tinggi. Namun mean empirik yang dimiliki oleh karyawan perusahaan startup lebih besar dibandingkan mean empirik yang dimiliki oleh Aparatur Negeri Sipil (ASN). Berikut adalah tabel hasil uji statistik deskriptif dari kedua kelompok subyek: Tabel 2 Hasil Uji Statisik Deskriptif Std. Deviation Minimum Maximum Sum Mean Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic Innovative Working Behavior Karyawan Startup Innovative Working Behavior ASN Valid N . Berdasarkan hasil analisis data penelitian, didapati bahwa innovative working behavior pada karyawan perusahaan startup memiliki mean empirik yang lebih besar dibandingkan dengan Aparatur Sipil Negara (ASN), yaitu 160,26 pada karyawan perusahaan startup dan 152,67 pada Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain itu pada hasil kategorisasi dapat diketahui bahwa sebesar 82% responden dari karyawan perusahaan startup berada pada kategori tinggi, jumlah tersebut lebih besar dibandingkan pada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang hanya terdapat 63% responden berada pada kategori tinggi. Maka, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan antara innovative working behavior pada karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN), dengan nilai innovative working behavior yang didapat lebih tinggi pada karyawan perusahaan startup dibanding ASN. Muhammad Abdirabbirasul AoAzam Al Fatih / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai perbedaan innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN), dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan innovative working behavior antara karyawan perusahaan startup dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta. Innovative working behavior pada kedua kelompok subyek penelitian berada pada kategori tinggi dengan karyawan perusahaan startup lebih tinggi dari pada Aparatur Sipil Negara (ASN). Hasil dari penelitian yang diperoleh, dapat diterapkan bagi perusahaan startup, instansi pemerintah dan peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan dan mempertahankan innovative working behavior yang dimiliki oleh pekerjanya. Penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan seperti peneliti tidak mengontrol posisi maupun jabatan yang dimiliki oleh responden baik dari karyawan perusahaan startup maupun Aparatur Sipil Negara (ASN). Peneliti juga tidak mengontrol secara demografi seperti usia dan jenis kelamin, dari kedua responden baik itu dari karyawan perusahaan startup maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) serta uji validitas yang digunakan pada instrumen penelitian ini hanya dengan validitas isi secara kualitatif dari seorang expert judgment yang idealnya adalah lebih dari satu orang. Beberapa hal tersebut nantinya dapat dijadikan sebagai pengembangan pada peneliti DAFTAR PUSTAKA