JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung (Zea mays L. ) pada Kondisi Normal di lahan Kering Gina Juniarti Rachman1*. I Wayan Sudika1. Ni Wayan Sri Suliartini1 Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia *Corresponding author email: sudikawayanms@gmail. Article Info Article history: ABSTRACT Received September 03, 2025 Approved October 15, 2025 Keywords: Corn, dry land, genetic diversity, heritability. S4 This study aims to determine the level of genetic diversity of each S4 corn line in terms of leaf angle, harvest age, and dry kernel weight per plant . under normal conditions in dry fields, as well as to estimate the broad-sense heritability of quantitative traits of S4 corn lines in dry fields. The study was conducted using a nonfactorial randomized block design (RAK) with 16 genotypes as treatments, consisting of 15 S4 lines and one comparative hybrid line (NK. Each treatment was repeated twice, resulting in 32 experimental units. The traits observed included plant height, number of leaves, stem diameter, leaf area, leaf angle, harvest age, cob length, cob diameter, dry cob weight at harvest, 1,000-seed weight, and dry shelled seed weight per plant . The results showed that the S. 10 line had a relatively uniform level of genetic diversity in terms of leaf angle, harvest age, and yield. Meanwhile, the other lines showed varying levels of genetic diversity in these three characteristics. general, the quantitative characteristics of the S4 corn line grown on dry land had heritability values ranging from low to moderate. Low heritability values were found in the characteristics of number of leaves, leaf angle, cob length, cob diameter, and dry shelled seed weight . Meanwhile, moderate heritability values were obtained in the characteristics of plant height, stem diameter, leaf area, dry cob weight at harvest, and 1,000-seed weight. Selfing to form the fifth generation needs to be done by selecting taller plants. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keragaman genetik setiap galur S4 tanaman jagung terhadap karakter sudut daun, umur panen, dan bobot biji kering pipil per tanaman . pada kondisi normal di lahan kering, serta untuk mengetahui nilai heritabilitas arti luas dari karakter-karakter kuantitatif galur S4 tanaman jagung di lahan kering. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) nonfaktorial dengan 16 genotipe sebagai perlakuan, yang terdiri atas 15 galur S4 dan satu galur hibrida pembanding (NK. Setiap perlakuan diulang sebanyak dua kali sehingga diperoleh 32 unit percobaan. Karakter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, luas daun, sudut daun, umur panen, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol kering panen, bobot 1. 000 biji, serta bobot biji kering pipil per tanaman . Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur S. 10 memiliki tingkat keragaman genetik yang tergolong seragam pada karakter sudut daun, umur panen, dan hasil. Sementara itu, galur-galur lainnya menunjukkan tingkat keragaman genetik yang berbeda pada ketiga karakter tersebut. Secara umum, karakter kuantitatif Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A - 2385 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . galur S4 tanaman jagung yang ditanam di lahan kering memiliki nilai heritabilitas dengan kategori rendah hingga sedang. Nilai heritabilitas rendah ditemukan pada karakter jumlah daun, sudut daun, panjang tongkol, diameter tongkol, dan bobot biji kering pipil . Sedangkan nilai heritabilitas sedang diperoleh pada karakter tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot tongkol kering panen, dan bobot 1. Selfing untuk membentuk generasi kelima perlu dilakukan dengan memilih tanaman yang lebih tinggi. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Rachman. Sudika. , & Suliartini. Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung (Zea mays L. ) pada Kondisi Normal di lahan Kering. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2385Ae2396. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Jagung (Zea mays L. ) adalah sumber karbohidrat utama setelah beras, memiliki kandungan gizi yang tinggi dan hampir sama dengan beras (Karim et al. , 2. Setiap tahun, permintaan jagung meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan industri pakan ternak. Produksi jagung Indonesia ditargetkan mencapai 30,71 juta ton pada tahun 2024 dengan kadar air 14%. pada tahun 2023, produksi terus menurun sampai 14,46 juta ton dengan kadar air yang sama (Badan Pusat Statistik, 2. Untuk mencapai tujuan tersebut, beberapa wilayah, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dirancang untuk menjadi pusat produksi jagung. Menurut Lubis . , intensifikasi dan ekstensifikasi di lahan kering adalah cara untuk mendorong seluruh lahan tanam untuk meningkatkan produksi jagung. Salah satu lokasi lahan kering di NTB yaitu di Kabupaten Lombok Utara. Karakteristik lahan kering adalah ketersediaan air yang terbatas, rendahnya bahan organik dan tanah yang kurang subur. Penggunaan lahan kering untuk budidaya jagung memiliki tantangan utama, yaitu kurangnya pasokan air, sehingga tanaman beresiko mengalami cekaman kekeringan. Salah satu cara untuk mengurangi kerugian akibat kekeringan adalah dengan menanam jagung varietas unggul yang tahan terhadap kondisi Varietas ini dapat diperoleh melalui proses pemuliaan tanaman, salah satunya melalui hibridisasi untuk membentuk populasi dasar (Azrai et al. , 2. Sudika et al. melakukan persilangan antara Sinta Unram dengan NK212 menghasilkan galur F1. Sinta Unram merupakan populasi hasil seleksi indeks dasar siklus ke-8 dan merupakan varietas yang potensial untuk lahan kering dengan kelebihan umur panen super genjah . Ae76 har. , tetapi memiliki kelemahan berupa sudut daun yang lebar . ebih dari 50%) dan hasil relatif rendah . ,08 ton/h. Beberapa galur F1 menunjukkan sudut daun lebih sempit serta hasil lebih tinggi dibandingkan Sinta Unram (Sudika et al. , 2. Populasi F1 dikembangkan kembali untuk membentuk populasi F2. Populasi F2 ini telah diduga komponen ragam genetiknya. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa ragam dominan pada sudut daun, umur panen, dan hasil lebih besar daripada ragam aditif. Oleh karena itu, dapat dijadikan dasar varietas hibrida dibentuk (Adeputri et al. , 2. Proses pembentukan varietas hibrida dilakukan melalui selfing selama 5-6 generasi. Selfing menyebabkan perubahan signifikan pada karakter kuantitatif (Hikmah et al. , 2. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa selfing pada generasi S2 mengubah sepuluh karakter kuantitatif (Pratiwi et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik setiap galur S4 untuk karakter sudut daun. Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2386 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . umur panen dan bobot biji kering pipil pertanaman (Hasi. tanaman jagung pada kondisi normal di lahan kering dan untuk mengetahui nilai heritabilitas arti luas karakter kuantitatif galur S4 tanaman jagung di lahan kering. METODE Penelitian ini menggunakan metode ekperimental dengan penanaman di lahan kering yang sumber airnya berasal dari sumur pompa. Eksperimen dilakukan di Dusun Amor-Amor di Desa Gumantar. Kecamatan Kayangan. Kabupaten Lombok Utara, di ketinggian 204 meter di atas permukaan laut . Percobaan dilakukan dari bulan Mei hingga Agustus 2024. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat olah tanah, alat tugal, busur derajat, buku, bolpoint, cangkul, ember, penggaris kayu ukuran 1 meter, sabit, stepler, timbangan digital, dan jangka sorong. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih hasil selfing keempat (S. Calaris 550 SC. Furadan 3G, isi stepler, kantong plastik, pupuk Petroganik 600 kg/ha. Phonska 15:15:15. Meurtier 30 SC. Saromyl 35 SD, tali rapia. Urea 200 kg/ha, dan Gramoxon 276SL. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial, dengan perlakuan sebanyak 16 genotipe yaitu 15 galur S4 dan 1 hibrida NK212. Setiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali sehingga diperoleh 32 unit percobaan. Lahan percobaan terlebih dahulu disiapkan lalu dilakukan penyemprotan herbisida Gramoxon, kemudian dilakukan pembajakan dan penggaruan untuk memperbaiki struktur Lahan percobaan dibagi menjadi 2 blok dengan ukuran masing-masing 12,0 y 5 m, jarak antar blok 1 m. Jarak tanam yang digunakan yaitu 20 y 60 cm. Setiap baris merupakan satu Benih jagung galur S4 yang akan ditanam terlebih dahulu diberi perlakuan fungisida Saromyl 35 SD. Penanaman dilakukan secara tugal dua benih per lubang. Pada lubang tanam di beri Furadan 3G sebagai insektisida dan pupuk Petroganik dengan dosis 600 kg/ha sebagai pupuk dasar. Pemupukan menggunakan Phonska 300 kg/ha dan Urea 200 kg/ha dilakukan dua kali, yaitu saat tanam dan pada umur 28 HST, diikuti dengan pembumbunan untuk memperkokoh batang tanaman. Pengairan pertama dilakukan sehari sebelum penanaman. Pengairan berikutnya dilakukan setiap seminggu sekali, mulai umur 10 HST dilanjutkan pada umur 17,24,31,38,45,52,59 sampai dengan umur 66 HST. Pengairan dilakukan dengan sistem leb. Pengendalian hama dilaksanakan dengan penyemprotan insektisida Meurtier 30 SC pada umur 16 dan 35 HST, sedangkan pengendalian gulma dilakukan menggunakan herbisida Calaris 550 SC pada umur 14 HST. Panen dilakukan apabila minimal sekitar 85% tanaman menunjukkan kriteria panen, yaitu kelobot berwarna cokelat dan biji tidak meninggalkan bekas saat ditekan dengan kuku. Parameter yang diamati yaitu: tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, sudut daun, diameter batang, umur panen, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol kering panen, 000 butir biji, dan bobot biji kering pipil per tanaman. Pengambilan sampel dilakukan secara systematic random sampling sebanyak 10 tanaman per baris. Sampel pertama ditentukan secara acak kemudian sampel berikutnya ditetapkan dengan selang 2 tanaman. Tanaman pinggir tidak diambil sebagai sampel. Analisis Data pada penelitian ini adalag dengan menghitung ragam genotip setiap galur S4 dengan langkah sebagai berikut: Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2387 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Ragam fenotipik (SAF) untuk setiap galur S4 dihitung dengan menggunakan statistik sederhana dengan rumus (Farabi, 2. Ragam fenotip hibrida sebagai pendugaan untuk ragam lingkungan dihitung dengan . uaAE) = . uaAy NK. = yuaAy=(Xi-X)A/n Ragam genetik setiap galur S4 dihitung dengan menggunakan rumus (Sudika et al. , 2. uaAG) n = . uaAy G. Ae . uaAy NK. yuayaycu = yuaAyaycu Dengan yuayaycu = merupakan simpangan baku genetik galur ke-n Suatu karakter mempunyai keragaman genetik tergolong luas jika ragam genetik lebih besar dari dua kali simpangan baku ragam genetiknya (E2g > 2E. dan tergolong sempit jika ragam genetik lebih kecil atau sama dengan dua kali simpangan baku ragam genetiknya (E2g O 2E. (Pineria et al. , 1995 dalam Munthe et al. , 2. Heritabilitas: Data hasil percobaan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), kemudian menghitung heritabilitas arti luas (HA) dengan langkah-langkah sebagai berikut: Ragam genetik dihitung dengan rumus (Ujianto et al. , 2. aycNya Oe yaycNy. yc Ragam fenotip dihitung dengan rumus (Ujianto et al. , 2. yuaAya = yuaAycE = yuaAya yaycNya Heritabilitas arti luas (HA) dihitung dengan rumus (Ujianto et al. , 2. HA= y 100% Keterangan: yuaAG : Ragam genetik total yuaAP : Ragam fenotip Nilai heritabilitas arti luas (H. diklasifikasikan sebagai berikut: Rendah <20%. Sedang 20-50%. Tinggi >50%. (Elrod dan Stansfield, 2002 dalam Hikmah, et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Genetik Dalam Galur Nilai ragam genetik sangat penting untuk diketahui karena ragam tersebut dapat kepada keturunannya. Semakin tinggi keragaman genetik, semakin mudah memperoleh varietas unggul baru (Hapsari. Adanya keragaman genetik pada suatu populasi terdapat variasi nilai genotip antar individu dalam populasi tersebut. Keragaman genetik dalam galur menyediakan kombinasi karakter yang terdapat dalam individu dalam satu populasi Hasil analisis statistik sederhana terhadap karakter kuantitatif pertumbuhan tanaman jagung pada 15 galur hasil selfing generasi keempat (S. yang ditanam di lahan kering ditampilkan pada Tabel 1-3. Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2388 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Tabel 1. Ragam Genetik setiap galur S4 untuk tinggi tanaman dan jumlah daun Galur Tinggi Tanaman Jumlah Daun SDG SDG E E E G S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. Keterangan: EAP: Ragam Fenotip. EAG: Ragam Genetik. EAE: Ragam Lingkungan. SDG: Standar Deviasi Genetik. S: Seragam ( EAG C 2,0 SDG). B: Beragam ( EAG Ou 2,. Analisis statistik sederhana untuk semua galur memiliki ragam genetik kategori beragam pada karkter tinggi tanaman kecuali galur S4. Ragam genetik jumlah daun per tanaman seluruh galur S4 memiliki kategori seragam (Tabel . Tabel 2. Ragam Genetik setiap galur S4 untuk luas daun dan diameter batang Luas Daun Diameter Batang Galur SDG SDG E P E E E G E P E E E G S4. S4. S4. S4. 0,06 S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. Keterangan: EAP: Ragam Fenotip. EAG: Ragam Genetik. EAE: Ragam Lingkungan. SDG: Standar Deviasi Genetik. S: Seragam ( EAG C 2,0 SDG). B: Beragam ( EAG Ou 2,0 SDG). Ragam genetik luas daun per tanaman seluruh galur S4 memiliki kriteria beragam. Ragam genetik diameter batang per tanaman seluruh galur S4 memiliki kategori seragam (Tabel Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2389 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Tabel 3. Ragam Genetik setiap galur S4 untuk sudut daun dan umur panen Galur Sudut Daun Umur Panen SDG SDG E P E E E G E P E E E G S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. Keterangan: EAP: Ragam Fenotip. EAG: Ragam Genetik. EAE: Ragam Lingkungan. SDG: Standar Deviasi Genetik. S: Seragam ( EAG C 2,0 SDG). B: Beragam ( EAG Ou 2,0 SDG). Keragaman genetik galur S4. S4. S4. S4. 14 memiliki ragam genetik sudut daun kategori seragam, sedangkan galur S4 lainnya beragam. Keragaman genetik umur panen pada galur S4. S4. 3 dan S4. 15 memiliki kategori beragam, sedangkan galur S4 lainnya seragam (Tabel . Hasil analisis keragaman genetik dalam galur S4 karakter kuantitatif setelah panen disajikan pada Tabel 4. dan Tabel 5. Tabel 4. Ragam Genetik setiap galur S4 untuk panjang tongkol dan diameter tongkol Galur Panjang Tongkol Diameter Tongkol SDG SDG E E E G S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. Keterangan: EAP: Ragam Fenotip. EAG: Ragam Genetik. EAE: Ragam Lingkungan. SDG: Standar Deviasi Genetik. S: Seragam ( EAG C 2,0 SDG). B: Beragam ( EAG Ou 2,0 SDG). Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2390 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Keragaman genetik karakter panjang tongkol pada galur S4. S4. S4. S4. S4. memiliki kategori beragam, sedangkan galur S4 lainnya seragam. Ragam genetik diameter tongkol per tanaman seluruh galur S4 memiliki kategori seragam (Tabel . Tabel 5. Ragam Genetik setiap galur S4 untuk bobot tongkol kering panen dan bobot biji kering pipil Galur Bobot Tongkol Kering Panen Bobot Biji Kering Pipil (Hasi. SDG SDG E P E E E G E P E E E G S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. S4. Keterangan: EAP: Ragam Fenotip. EAG: Ragam Genetik. EAE: Ragam Lingkungan. SDG: Standar Deviasi Genetik. S: Seragam ( EAG C 2,0 SDG). B: Beragam ( EAG Ou 2,0 SDG). Ragam genetik bobot tongkol kering panen per tanaman seluruh galur S4 memiliki kategori beragam. Ragam genetik bobot biji kering pipil per tanaman (Hasi. galur S4. memiliki kategori seragam, sedangkan galur S4 lainnya beragam (Tabel . Tingginya tingkat keragaman, baik secara genetik maupun fenotipik, menunjukkan adanya variasi yang luas dalam populasi. Menurut Kristamtini et al. , bahwa tingginya keragaman genetik dan fenotipik memberi peluang seleksi kepada sifat-sifat yang diinginkan secara optimal. Homogenitas individu dalam suatu populasi menunjukan keragaman genetik yang sempit, sehingga efektivitas seleksi terhadap karakter tersebut menjadi terbatas. Sebaliknya, apabila keragaman genetik luas, maka peluang keberhasilan seleksi untuk meningkatkan varietas unggul akan lebih besar (Haq et al. 2008 dalam Munthe et al. Ketiga karakter kuantitatif sudut daun, umur panen dan hasil . erat biji kering pipil pertanama. memiliki keragaman genetik kategori seragam, diperoleh pada galur S4. Keragaman genetik dengan kriteria seragam mengindikasikan bahwa variasi genotipe memiliki keragaman yang rendah karena memiliki variasi yang kecil, sehingga menimbulkan keseragaman . dalam galur (Susanto et al. , 2. Keseragaman dalam galur dapat dipengaruhi oleh selfing yang merupakan salah satu langkah dalam pembentukan galur inbrida. Pengaruh selfing menyebabkan keragaman genetik dan keragaman fenotip menjadi sempit pada karakter yang diamati. Hal ini terjadi karena selfing yang dilakukan akan meningkatkan homozigositas galur, sehingga galur yang diuji menjadi seragam (Fiddin et al. , 2. Hasil analisis keragaman genetik dalam galur diperoleh variasi karakter kuantitatif yang memiliki kriteria seragam pada semua galur yaitu diameter batang, jumlah daun dan diameter Keragaman genetik dengan kriteria seragam menunjukkan semua galur S4 homozigot. Kondisi ini sesuai dengan penelitian Sudika et al. di mana kriteria kuantitatif untuk Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2391 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . diameter batang, jumlah daun, dan diameter tongkol sangat sempit. Galur S4 merupakan galur yang telah dilakukan empat kali selfing dari populasi dasar (Fiddin et al. , 2. Karakter kuantitatif yang memiliki kriteria seragam dan beragam pada galur-galur S4 yaitu tinggi tanaman dan panjang tongkol. Karakter kuantitatif tinggi tanaman memiliki kriteria beragam pada galur S4. 15 dan galur lainnya memiliki kriteria seragam. Karakter kuantitatif panjang tongkol memiliki kriteria beragam pada galur S4. S4. S4. S4. S4. 11 dan galurnya memiliki kriteria seragam. Galur-galur yang memiliki kriteria seragam terjadi karena pengaruh dari selfing. Semakin homogen suatu galur maka semakin banyak keseragaman pada karakter dalam galur. (Draseffi et al. , 2. Galur-galur memiliki kriteria beragam menunjukkan perbedaan gen dan pengaruh dari lingkungan. Rosliana et al. menyatakan gen dan faktor lingkungan dapat mempengaruhi karakter kuantitatif, sehingga akan ada kemungkinan kriteria yang muncul dari masing-masing galur dapat berbeda. Menurut Mustofa et al. dalam Cantika . , bahwa masing-masing gen menentukan adanya perbedaan dan persamaan antar galur pada karakter kuantitatif, sifat yang sama disebabkan oleh gen penyusun fenotip yang Karakter kuantitatif yang memiliki kriteria beragam pada semua galur S4 tanaman jagung yaitu luas daun dan berat tongkol kering panen. Keberhasilan seleksi dalam perbaikan karakter ditentukan oleh besarnya keragaman genetik dalam suatu populasi. Keragaman genetik yang tinggi merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan program seleksi terhadap genotipe yang diseleksi (Julianto et al. , 2. Fauza et al. dalam Sari et al. menyatakan bahwa peningkatan variabilitas genetik menjadi komponen utama dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Dengan adanya variabilitas genetik yang luas, proses seleksi dapat berlangsung lebih efektif karena meningkatkan kemungkinan diperolehnya genotipe dengan sifatsifat unggul yang diharapkan. Heritabilitas Berdasarkan kuadrat tengah dalam tabel analisis sidik ragam, dihitung ragam genetik, ragam fenotip dan heritabilitas. Hasil perhitungan tersebut disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai Ragam Genetik. Ragam Fenotip, dan Nilai Heritabilitas Seluruh Karakter Kuantitatif S4 Tanaman Jagung yang diamati di lahan kering. No. Karakter yang diamati H2 % Kriteria E G E P Tinggi Tanaman Sedang Jumlah Daun Rendah Sudut Daun Rendah Diameter Batang Sedang Luas Daun Sedang Umur Panen Rendah Panjang Tongkol Rendah Diameter Tongkol Rendah Bobot Tongkol Kering Panen Sedang Bobot Biji Kering Pipil Rendah Bobot 1000 Biji Sedang Keterangan: EAP: Ragam Fenotip. EAG: Ragam Genetik. H2: Nilai Heritabilitas. Karakter kuantitatif tanaman yang memiliki kriteria heritabilitas rendah terdapat pada jumlah daun, sudut daun, umur panen, panjang tongkol, diameter tongkol dan bobot biji kering Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2392 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . Kriteria heritabilitas sedang diperoleh pada karakter tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot tongkol kering panen dan bobot 1000 biji (Tabel . Heritabilitas merupakan salah satu parameter genetik yang berfungsi untuk menilai sejauh mana suatu karakter dipengaruhi oleh faktor genetik dibandingkan dengan pengaruh Melalui nilai heritabilitas, dapat diketahui tingkat keterwarisan suatu sifat, sehingga memberikan indikasi mengenai peluang pewarisan sifat tersebut kepada generasi selanjutnya (Samudin et al. , 2. Tabel 6 menunjukan nilai heritabilitas arti luas dengan kategori rendah diperoleh pada karakter jumlah daun . ,97%), sudut daun . ,12%), umur panen . ,97%), panjang tongkol . ,95%), diameter tongkol . ,12%), dan bobot biji kering pipil . ,12%). Nilai heritabilitas yang rendah mengindikasikan bahwa pengaruh lingkungan lebih besar dibandingkan pengaruh genetik, sehingga proses seleksi terhadap karakter-karakter tersebut kurang efektif (Farhah et al. , 2. Faktor lingkungan yang berpengaruh ialah kondisi lahan kering. Kondisi ini seringkali tidak stabil dan memiliki keterbatasan sumberdaya air dan nutrisi (Mustakim et al. Nilai heritabilitas arti luas dengan kriteria sedang diperoleh pada karakter tinggi tanaman . ,77%), diameter batang . ,48%), luas daun . ,30%), bobot tongkol kering panen . ,79%), 000 biji . ,54%). Karakter dengan kategori heritabilitas sedang menunjukkan bahwa pengaruh faktor genetik dan faktor lingkungan terhadap hasil bersifat seimbang, masing-masing berkontribusi sekitar 50% (Priyanto et al. , 2. Pada tingkat heritabilitas sedang, proses seleksi tidak sepenuhnya ditentukan oleh variasi genotipik, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi Oleh karena itu, efektivitas seleksi genetik dalam memperbaiki suatu karakter menjadi terbatas, karena hasil seleksi masih dapat dipengaruhi oleh variasi lingkungan yang cukup besar (Idris, 2. Pernyataan ini sejalan dengan temuan Samudin . yang menyatakan bahwa nilai heritabilitas dengan kategori sedang cenderung menghasilkan seleksi yang kurang efektif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa galur jagung S4. 10 yang ditanam pada lahan kering memiliki tingkat keragaman genetik dengan kategori seragam pada karakter sudut daun, umur panen, dan hasil. Sementara itu, galur-galur lainnya menunjukkan perbedaan tingkat keragaman genetik pada ketiga karakter tersebut. Karakter kuantitatif galur-galur S4 tanaman jagung yang dibudidayakan di lahan kering menunjukkan variasi nilai heritabilitas pada kategori sedang dan rendah. Nilai heritabilitas rendah ditemukan pada karakter jumlah daun, sudut daun, panjang tongkol, diameter tongkol, dan bobot biji kering Karakter dengan nilai heritabilitas sedang meliputi tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot tongkol kering panen, serta bobot 1. 000 bij. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Mataram atas dana PNBP tahun 2024 yang telah diberikan, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan mengikut sertakan Tim juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala LPPM beserta staf yang telah membantu sejak pengajuan proposal hingga pelaporan. Semoga amal baik bapak/ibu, mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Keragaman Genetik Dalam Galur dan Heritabilitas Galur-Galur S4 Tanaman Jagung A- 2393 Rachman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 4 . DAFTAR PUSTAKA