Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 14-25 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Tersedia : https://journal. id/index. php/jbpab Peran Sosial dan Keagamaan Manggala di Vihara Surya Putra Dusun Ngadisari Studi Kepemimpinan Spiritual Buddhis Pedesaan Danu Aryanto 1*. Hesti Sadtyadi 2 Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya. Indonesia Email: aryantodanu10@gmail. com 1, 15hestisadtyadi@gmail. *Penulis Korespondensi: suttaap@gmail. Abstract. This study examines the social and religious roles of a Manggala within the Buddhist community, with a case study in Dusun Ngadisari. Tempuran Village. Kaloran District. Temanggung Regency. Central Java. The Manggala is a local religious figure who serves as both an elder and leader of the community in various religious rituals such as weddings, funerals, patidAna, and traditional ceremonies including gendurenan, nyadran kubur, and village selametan. In Buddhist communities without a pandita, the Manggala plays a central role as a spiritual guide and preserver of local traditions. This research employs a qualitative descriptive approach using observation, in-depth interviews, and documentation methods. The selection of a Manggala is conducted through communal deliberation, based on spiritual and ritual competence, particularly in the aspects of sla, samAdhi, and payyA. The findings show that the Manggala in Dusun Ngadisari fulfills his role with great dedication, both in guiding the community's spiritual life and participating in social matters such as conflict mediation, community empowerment, and maintaining social harmony among villagers. Keywords: Buddhist Leadership. Javanese Traditions. Local Community. Manggala. Religious Rituals. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sosial dan keagamaan seorang Manggala dalam masyarakat Buddhis, dengan studi kasus di Dusun Ngadisari. Desa Tempuran. Kecamatan Kaloran. Kabupaten Temanggung. Jawa Tengah. Manggala adalah tokoh keagamaan lokal yang berperan sebagai sesepuh dan pemimpin umat dalam berbagai ritual keagamaan seperti pernikahan, kematian, patidana, serta upacara tradisional seperti gendurenan, nyadran kubur, dan selamatan desa. Dalam komunitas Buddhis yang belum memiliki pandita. Manggala menjadi figur sentral sebagai pembina spiritual dan pelestari tradisi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Pemilihan Manggala dilakukan melalui musyawarah berdasarkan kemampuan dalam praktik spiritual dan ritual, dengan penekanan pada nilai-nilai sla, samAdhi, dan payyA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Manggala di Dusun Ngadisari menjalankan perannya dengan penuh dedikasi, baik dalam membina kehidupan spiritual umat maupun berkontribusi dalam aspek sosial, seperti mediasi konflik, pemberdayaan umat, dan menjaga kerukunan Kata kunci: Buddhisme Pedesaan. Kepemimpinan Buddha. Komunitas Lokal. Manggala. Ritual Keagamaan PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman budaya dan agama, termasuk di dalamnya agama Buddha yang telah berakulturasi dengan tradisi-tradisi lokal. Di beberapa wilayah pedesaan, seperti di Kabupaten Temanggung, agama Buddha tidak hanya dipraktikkan sebagai ajaran spiritual semata, tetapi juga melekat kuat dalam kehidupan sosial dan adat Dalam konteks ini, muncul peran tokoh keagamaan lokal yang disebut Manggala, yang memiliki fungsi unik dan penting dalam menjaga kelangsungan praktik keagamaan sekaligus tradisi lokal. Manggala merupakan tokoh non-ordained . ukan bhikkhu atau pandit. yang dihormati oleh umat karena kemampuannya dalam memimpin upacara-upacara keagamaan Naskah Masuk: 19 Januari 2025. Revisi: 23 Februari 2025. Diterima: 28 Maret 2025. Terbit: 30 Maret 2025 Peran Sosial dan Keagamaan Manggala di Vihara Surya Putra Dusun Ngadisari Studi Kepemimpinan Spiritual Buddhis Pedesaan serta memahami nilai-nilai moral dan adat setempat. Keberadaan Manggala menjadi sangat krusial, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki pandita. Dalam masyarakat Buddhis pedesaan. Manggala tidak hanya memimpin ritual keagamaan seperti pernikahan, kematian, dan patidAna, tetapi juga aktif dalam berbagai upacara tradisional seperti gendurenan, nyadran kubur, dan selamatan desa. Hal ini menunjukkan bahwa Manggala memainkan peran ganda, yakni sebagai pemimpin spiritual dan penjaga budaya lokal. Studi tentang kepemimpinan keagamaan lokal dalam Buddhisme Indonesia masih terbatas, khususnya yang mengkaji peran tokoh seperti Manggala yang berada di luar struktur monastik formal. Sebagian besar penelitian tentang Buddhisme Indonesia cenderung berfokus pada sejarah, doktrin, atau perkembangan institusional, sementara dinamika kepemimpinan spiritual di tingkat akar rumput kurang mendapat perhatian. Padahal, dalam konteks masyarakat Buddhis pedesaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, keberadaan tokoh seperti Manggala menjadi tulang punggung keberlangsungan praktik keagamaan umat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dinamika peran Manggala dalam komunitas Buddhis pedesaan, dengan fokus pada studi kasus di Dusun Ngadisari. Desa Tempuran. Kecamatan Kaloran. Kabupaten Temanggung. Dusun Ngadisari dipilih karena komunitas Buddhis di wilayah tersebut masih mempertahankan tradisi Manggala secara konsisten, dan peran tokoh ini sangat sentral dalam kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat setempat. Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan: . Bagaimana peran sosial dan keagamaan Manggala dalam komunitas Buddhis pedesaan?. Bagaimana proses pemilihan dan legitimasi Manggala?. Apa saja tantangan yang dihadapi oleh Manggala dalam menjalankan perannya? Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada studi kepemimpinan spiritual dalam konteks agama minoritas dan masyarakat pedesaan. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana umat Buddha di Indonesia, khususnya di daerah yang tidak memiliki akses terhadap pandita atau bhikkhu, mengorganisir kehidupan keagamaan mereka melalui tokoh lokal yang dipilih dan dipercaya oleh komunitas. Penelitian ini juga berkontribusi pada diskursus akademik tentang pluralisme agama di Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan keragaman agama yang luar biasa memerlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana komunitas-komunitas agama minoritas seperti umat Buddha mengorganisir kehidupan keagamaan mereka, mempertahankan identitas mereka, dan berinteraksi dengan komunitas mayoritas. Studi tentang Manggala memberikan Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 14-25 wawasan tentang strategi survival dan adaptasi yang dikembangkan oleh komunitas Buddhis pedesaan dalam konteks demografis dan geografis yang menantang. Lebih jauh, penelitian ini juga relevan dengan diskusi global tentang lokalisation dan globalisation dalam agama Buddha. Sementara Buddhisme semakin global dengan penyebaran ke berbagai negara di luar Asia, pada saat yang sama terdapat proses lokalisation di mana Buddhisme beradaptasi dengan konteks lokal yang spesifik. Fenomena Manggala di Indonesia dapat dipahami sebagai bagian dari proses lokalisation ini, di mana struktur dan praktik Buddhis disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan demografis Indonesia, menciptakan bentuk Buddhisme yang unik dan khas Indonesia. Akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi komunitas Buddhis Indonesia secara lebih luas. Model kepemimpinan Manggala yang demokratis, partisipatif, dan berbasis komunitas dapat menjadi inspirasi bagi vihara-vihara lain dalam mengembangkan struktur kepemimpinan yang sesuai dengan konteks mereka. Pengalaman Dusun Ngadisari dalam mengintegrasikan ajaran Buddha dengan tradisi lokal juga dapat menjadi pembelajaran berharga tentang bagaimana membangun Buddhisme yang berakar kuat dalam budaya Indonesia tanpa kehilangan identitas Buddhisnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam peran sosial dan keagamaan seorang Manggala dalam komunitas Buddhis di Dusun Ngadisari. Desa Tempuran. Kecamatan Kaloran. Kabupaten Temanggung. Penelitian kualitatif pada dasarnya adalah kegiatan sistematis untuk menemukan suatu teori dalam sebuah realitas sosial, bukan menguji teori atau hipotesis (Safrudin et al. , 2. Lokasi penelitian adalah Dusun Ngadisari yang masih mempertahankan peran Manggala dalam struktur keagamaan komunitasnya. Subjek penelitian terdiri atas Pak Saidi sebagai Manggala di Vihara Surya Putra sebagai informan utama, serta beberapa informan pendukung yang terdiri dari pengurus vihara dan anggota komunitas Buddhis setempat. Pemilihan informan dilakukan secara purposive, yaitu memilih informan yang dianggap paling mengetahui dan memahami peran Manggala dalam komunitas. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: . Wawancara mendalam dengan informan utama dan pendukung untuk menggali informasi mengenai peran, fungsi, serta pandangan masyarakat terhadap Manggala. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur, di mana peneliti telah menyiapkan pedoman wawancara namun tetap fleksibel dalam Peran Sosial dan Keagamaan Manggala di Vihara Surya Putra Dusun Ngadisari Studi Kepemimpinan Spiritual Buddhis Pedesaan mengembangkan pertanyaan sesuai dengan dinamika percakapan (Thalib, 2. Observasi partisipatif terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang dipimpin oleh Manggala, termasuk upacara kematian, pernikahan, dan ritual tradisional lainnya. Dokumentasi berupa foto kegiatan dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tematik dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Analisis ini lebih mementingkan subjek, proses, dan makna yang ada dalam penelitian, dengan berfokus untuk menjelaskan objek penelitian (Darma et al. , 2. Proses analisis dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyusunan data ke dalam tema-tema tertentu, dan interpretasi naratif untuk memahami peran Manggala dalam konteks kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Buddhis setempat. HASIL DAN PEMBAHASAN Kedudukan Sosial-Religius Seorang Manggala dalam Komunitas Buddhis Pedesaan Dalam struktur keagamaan komunitas Buddhis di Dusun Ngadisari, peran Manggala menempati posisi sentral sebagai pemimpin umat yang tidak hanya mengemban tanggung jawab spiritual, tetapi juga sosial dan kultural. Istilah Manggala berasal dari kata "manggolo" atau pemuka, yang secara harfiah berarti "yang didepankan". Hal ini ditegaskan oleh Pak Saidi. Manggala Vihara Surya Putra, yang menyatakan: "Kalau Manggala itu manggolo, orang yang Ibaratnya kalau di kerajaan itu senopati, kalau di tentara itu panglima. Dari pernyataan ini, terlihat bahwa Manggala diposisikan sebagai tokoh utama yang mengatur arah kehidupan keagamaan umat. Tidak sekadar pelaksana ritual, tetapi juga representasi otoritas religius yang dihormati, diakui, dan dipercayai oleh masyarakat. Fungsi Manggala menjadi krusial karena dalam konteks komunitas Buddhis pedesaan seperti di Temanggung, keberadaan pandita atau bhikkhu sering kali terbatas. Maka. Manggala menjadi alternatif struktural yang lahir dari kebutuhan umat akan pembina spiritual yang dekat, terjangkau, dan relevan dengan konteks budaya setempat. Dalam konteks Buddhisme, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengarahkan atau mengorganisasi, tetapi juga dengan nilai-nilai moralitas dan kebijaksanaan. Konsep kepemimpinan dalam tradisi Jawa, sebagaimana tertuang dalam Asta Brata, mengajarkan bahwa pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat luhur seperti Dewa Indra yang memberi kesejahteraan, atau Dewa Yama yang menegakkan keadilan (Benawa, 2. Prinsipprinsip ini tercermin dalam peran Manggala yang tidak hanya memimpin ritual, tetapi juga menjadi panutan moral bagi komunitas. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 14-25 Tanggung Jawab dan Fungsi Keagamaan Tugas-tugas seorang Manggala mencakup kegiatan keagamaan inti seperti memimpin upacara pernikahan, kematian, patidAna, pembacaan paritta, serta memberikan ceramah Sebagaimana dijelaskan oleh Pak Saidi: "Yang saya tahu, seorang Manggala itu tugasnya merawat orang meninggal, membantu persiapan pernikahan, dan membaca doa. Dalam komunitas seperti Dusun Ngadisari yang tidak memiliki pandita. Manggala menggantikan posisi tersebut dengan melaksanakan peran serupa berdasarkan tradisi dan kearifan lokal. Lebih lanjut. Pak Saidi menekankan pentingnya penguasaan aspek-aspek dasar keagamaan: "Seorang Manggala itu harus bisa hafal paritta, jaga moral, bisa dhamma desana, dan memimpin ritual. " Ini menunjukkan bahwa kualitas seorang Manggala tidak hanya diukur dari kemampuannya dalam memimpin upacara, tetapi juga dari integritas moral dan kemampuan membina umat melalui ajaran Buddha. Dengan demikian, keberadaan Manggala menjadi penopang utama berlangsungnya praktik keagamaan umat Buddha di tingkat akar Peran Sosial dan Kultural: Menjaga Tradisi. Memperkuat Komunitas Selain fungsi keagamaan, seorang Manggala juga berperan dalam pelestarian budaya Dalam konteks masyarakat Jawa yang sangat kental dengan tradisi, praktik seperti selamatan desa, gendurenan, dan nyadran kubur tidak dapat dipisahkan dari identitas religius Pak Saidi menjelaskan: "Selain memimpin ritual agama, juga pimpin tradisi adat umat Buddha di sini. " Melalui peran ini. Manggala menjadi jembatan antara agama dan budaya, menjaga kesinambungan nilai-nilai lokal sekaligus mengintegrasikannya ke dalam ajaran Buddha. Pemimpin vihara bukan hanya sebagai pengelola tetapi juga sebagai figur spiritual yang membimbing umat dalam perjalanan rohani. Sebagai figur spiritual, pemimpin vihara memiliki peran yang signifikan dalam menyampaikan ajaran dan menjadi panutan moral (Darma et al. Dalam pelaksanaan kegiatan seperti anjangsana. Manggala juga memberikan siraman rohani yang dimaksudkan untuk mempererat hubungan sosial sekaligus menumbuhkan keyakinan keagamaan. Pak Saidi menyatakan: "Saya juga kasih siraman rohani, biasanya pas Untuk memperkuat hubungan antarumat dan memperkuat keyakinan. " Kegiatan ini menunjukkan dimensi informal dari kepemimpinan spiritual yang berbasis pada kedekatan emosional dan sosial antara pemimpin dan umat. Peran Sosial dan Keagamaan Manggala di Vihara Surya Putra Dusun Ngadisari Studi Kepemimpinan Spiritual Buddhis Pedesaan Proses Pemilihan dan Pembaruan Kepemimpinan Keagamaan Dalam tradisi terdahulu, seorang Manggala menjabat seumur hidup. Namun, di bawah kepemimpinan Pak Saidi, sistem ini diubah untuk memberi ruang regenerasi dan memperbarui struktur kepemimpinan keagamaan. Pak Saidi menjelaskan: "Dulu seorang Manggala masa jabatannya dibawa sampai habis nyawa. Kalau sekarang saya sedang jalankan program baru: masa jabatan Manggala berakhir setelah lima tahun. " Perubahan ini mencerminkan sikap progresif dari komunitas Buddhis setempat yang sejalan dengan arahan dari Sangha TheravAda Indonesia (STI). Pemilihan Manggala dilakukan secara musyawarah atau pemilihan umum oleh umat Pak Saidi menjelaskan: "Manggala itu ditentukan oleh umat. Dipilih umat setempat lewat musyawarah atau pemilihan seperti pemilihan kepala desa. " Dengan demikian, kepemimpinan Manggala tetap berbasis kepercayaan masyarakat, namun kini dilengkapi dengan sistem periodisasi yang memungkinkan evaluasi kinerja dan penyegaran tokoh. Konsep kepemimpinan pelayan telah dikenal dalam tradisi Jawa, sebagaimana tertuang dalam Asta Brata yang mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang baik (Benawa, 2. Tantangan Kepemimpinan dan Etos Pengabdian Pak Saidi mengungkapkan bahwa menjalankan tugas sebagai Manggala bukanlah hal yang mudah. Beliau menyatakan: "Berat. cuma berhubung sudah ditugaskan sama umat, walaupun berat ya saya jalani semampu saya. " Ungkapan ini menunjukkan bahwa peran Manggala tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga ketulusan, komitmen, dan kekuatan mental. Menjadi pemimpin umat berarti bersedia menjadi contoh dan rujukan dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip sukarela dan kesiapan membantu memperkuat solidaritas sosial dalam komunitas (Darma et al. , 2. Tugas Manggala dijalani tanpa imbalan finansial. Pak Saidi menjelaskan: "Manggala tidak digaji. Tapi dari desa dikasih tanah sebagai ucapan terima kasih. Tanah itu nanti turun ke Manggala selanjutnya. " Penghargaan dalam bentuk tanah bersifat simbolik dan kolektif, bukan sebagai hak pribadi melainkan sebagai bentuk amanah yang dilanjutkan oleh penerusnya. Ini memperlihatkan bahwa Manggala adalah jabatan berbasis pengabdian, bukan jabatan untuk mencari keuntungan material. Lebih jauh. Pak Saidi mengakui keterbatasannya: "Saya sendiri masih banyak Bahkan kadang puja bakti saja saya bawa HP karena belum hafal. " Namun, sikap rendah hati ini justru menunjukkan ketulusan dan kesadarannya akan tanggung jawab yang Beliau juga menekankan pentingnya kerja sama: "Semua bisa terlaksana karena kebersamaan, bukan karena saya pribadi. Manggala dan Ketua Vihara tidak bisa apa-apa tanpa Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 14-25 dukungan umat. " Pernyataan ini mencerminkan pemahaman bahwa kepemimpinan spiritual adalah tanggung jawab kolektif, bukan individual. Manggala sebagai Model Kepemimpinan Spiritual Lokal Peran Manggala di Dusun Ngadisari mencerminkan bentuk kepemimpinan spiritual yang berakar pada konteks lokal dan kebutuhan komunitas. Berbeda dengan struktur monastik formal yang hierarkis, kepemimpinan Manggala bersifat demokratis dan partisipatif. Legitimasi Manggala tidak berasal dari otoritas eksternal seperti ordinasi monastik, melainkan dari kepercayaan dan pengakuan komunitas. Dalam Dasa Raja Dhamma, pemimpin harus menjaga keseimbangan dalam kebijakan dan memastikan bahwa tindakan tidak merugikan atau menciptakan konflik. Seorang pemimpin yang adil dan bijaksana akan menjaga keharmonisan di antara orang-orang yang dipimpinnya, dengan menghindari favoritisme dan diskriminasi (Benawa, 2. Prinsipprinsip ini tercermin dalam cara Pak Saidi menjalankan perannya, yang selalu menekankan musyawarah dan kebersamaan. Manggala juga berfungsi sebagai mediator dalam konflik sosial dan penjaga kerukunan Dalam masyarakat pedesaan yang erat dan komunal, konflik personal dapat dengan mudah meluas menjadi konflik komunal. Keberadaan figur seperti Manggala yang dihormati dan dipercaya dapat membantu meredakan ketegangan dan memfasilitasi rekonsiliasi. Lebih jauh, melalui aktivitas keagamaan dan sosial yang dipimpinnya. Manggala memperkuat ikatan sosial dan solidaritas dalam komunitas Buddhis, sekaligus memelihara identitas keagamaan mereka di tengah masyarakat yang mayoritas non-Buddhis. Kontekstualisasi dalam Buddhisme Indonesia Kontemporer Keberadaan Manggala menunjukkan bagaimana Buddhisme beradaptasi dengan konteks lokal Indonesia. Berbeda dengan negara-negara Buddhis lainnya seperti Thailand. Myanmar, atau Sri Lanka di mana Sangha monastik sangat kuat dan tersebar luas. Buddhisme di Indonesia menghadapi tantangan geografis dan demografis yang unik. Komunitas Buddhis tersebar di berbagai wilayah, sering kali dalam jumlah kecil dan terisolasi, dengan akses terbatas terhadap bhikkhu atau pandita. Dalam kondisi seperti ini, munculnya figur Manggala adalah respons kreatif dan adaptif dari komunitas Buddhis untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Hal ini sejalan dengan prinsip upAya . killful mean. dalam Buddhisme, di mana ajaran dan praktik disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi umat. Manggala dapat dipahami sebagai bentuk lokalisation atau pribumisasi Buddhisme, di mana struktur dan praktik keagamaan disesuaikan dengan konteks budaya dan sosial setempat tanpa mengorbankan esensi ajaran Buddha. Peran Sosial dan Keagamaan Manggala di Vihara Surya Putra Dusun Ngadisari Studi Kepemimpinan Spiritual Buddhis Pedesaan Fenomena Manggala juga menunjukkan pentingnya agency . komunitas dalam membentuk praktik keagamaan mereka. Alih-alih pasif menunggu bhikkhu atau pandita datang, komunitas Buddhis di Dusun Ngadisari secara aktif mengorganisir kehidupan keagamaan mereka dengan memilih dan memberikan mandat kepada Manggala. Ini mencerminkan vitalitas dan kreativitas Buddhisme grassroots di Indonesia. Komparasi dengan Model Kepemimpinan Spiritual Lainnya Untuk memahami keunikan peran Manggala, perlu dilakukan komparasi dengan model kepemimpinan spiritual lainnya dalam konteks Buddhisme Asia Tenggara. Di Thailand, misalnya, sistem kepemimpinan spiritual sangat terstruktur dan hierarkis, dengan Sangha yang memiliki otoritas formal dari tingkat nasional hingga lokal. Bhikkhu bukan hanya pemimpin spiritual tetapi juga bagian dari struktur birokrasi negara yang diakui secara resmi (Tambiah. Berbeda dengan Thailand, di Indonesia khususnya di daerah pedesaan seperti Dusun Ngadisari, struktur kepemimpinan spiritual lebih fleksibel dan adaptif terhadap kondisi lokal. Di Myanmar, kepemimpinan spiritual juga sangat terpusat pada Sangha monastik, namun terdapat juga peran penting dari umat awam yang mendukung kehidupan monastik melalui sistem dAna . yang sangat kuat (Kawanami, 2. Dalam konteks Lao, spiritualitas Buddhis sangat terjalin dengan kepercayaan animistik lokal, di mana bhikkhu sering kali juga berperan sebagai mediator dengan roh-roh lokal (Holt, 2. Model Manggala di Indonesia memiliki kemiripan dengan konteks Lao dalam hal integrasi antara Buddhisme dan tradisi lokal, namun berbeda dalam hal bahwa Manggala adalah tokoh awam yang dipilih demokratis, bukan bhikkhu yang ditahbiskan. Komparasi ini menunjukkan bahwa model Manggala merupakan respons kreatif dan adaptif terhadap konteks spesifik Indonesia, di mana komunitas Buddhis merupakan minoritas yang tersebar dan memiliki akses terbatas terhadap struktur monastik formal. Model ini mencerminkan agency dan kreativitas komunitas lokal dalam mengorganisir kehidupan keagamaan mereka, sekaligus mempertahankan esensi ajaran Buddha. Implikasi untuk Pengembangan Buddhisme Indonesia Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting untuk pengembangan Buddhisme di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap pandita atau Pertama, model Manggala dapat dijadikan referensi untuk pengembangan kepemimpinan spiritual awam yang terlatih dan kompeten. Organisasi Buddhis nasional seperti Sangha TheravAda Indonesia (STI) atau Walubi dapat mengembangkan program pelatihan sistematis untuk calon-calon Manggala, yang mencakup penguasaan paritta, kemampuan memimpin ritual, pemahaman Dhamma, serta keterampilan kepemimpinan dan mediasi sosial. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 14-25 Kedua, pengalaman Dusun Ngadisari dalam mengimplementasikan sistem periodisasi jabatan Manggala dapat menjadi best practice untuk komunitas Buddhis lainnya. Sistem ini memungkinkan regenerasi kepemimpinan, evaluasi kinerja, dan pembaruan ide, sekaligus mencegah stagnasi dan monopoli kekuasaan. Sistem demokratis dalam pemilihan Manggala juga sejalan dengan semangat musyawarah dalam budaya Indonesia dan prinsip Sangha dalam Buddhisme. Ketiga, peran Manggala dalam mengintegrasikan ajaran Buddha dengan tradisi lokal Jawa menunjukkan pentingnya inkulturasi dalam pengembangan Buddhisme di Indonesia. Buddhisme yang dapat berdialog dengan budaya lokal akan lebih mudah diterima dan berakar dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip upAya-kauualya . killful mean. yang menekankan pada fleksibilitas dan adaptasi metode sesuai dengan konteks, tanpa mengorbankan esensi ajaran. Keempat, penelitian ini menunjukkan pentingnya dukungan struktural dan material bagi pemimpin spiritual awam seperti Manggala. Meskipun dedikasi sukarela sangat penting, komunitas dan organisasi Buddhis perlu memastikan bahwa Manggala memiliki sumber daya yang memadai untuk menjalankan perannya secara efektif. Ini dapat berupa pelatihan berkelanjutan, akses terhadap literatur Dhamma, atau dukungan material yang memadai tanpa mengubah esensi pengabdian sukarela. Terakhir, fenomena Manggala mengingatkan kita bahwa vitalitas agama tidak hanya bergantung pada institusi formal, tetapi juga pada agency dan kreativitas komunitas lokal. Dalam konteks Indonesia yang plural dan beragam, kemampuan komunitas agama untuk beradaptasi dengan konteks lokal sambil mempertahankan identitas keagamaan mereka adalah kunci keberlangsungan dan perkembangan agama tersebut. Model Manggala memberikan inspirasi bagaimana komunitas Buddhis dapat tetap hidup dan berkembang meskipun dalam kondisi yang menantang. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Manggala memiliki peran yang sangat penting dan multidimensi dalam menjaga kehidupan keagamaan dan sosial komunitas Buddhis di Dusun Ngadisari. Kabupaten Temanggung. Sebagai pemimpin spiritual. Manggala tidak hanya memimpin upacara keagamaan seperti pernikahan, kematian, dan patidAna, tetapi juga aktif dalam pelestarian tradisi lokal seperti gendurenan, nyadran kubur, dan selamatan desa. Peran ini menjadikan Manggala sebagai jembatan antara ajaran Buddha dan budaya Jawa, memfasilitasi integrasi harmonis antara keduanya. Peran Sosial dan Keagamaan Manggala di Vihara Surya Putra Dusun Ngadisari Studi Kepemimpinan Spiritual Buddhis Pedesaan Dalam aspek sosial. Manggala berfungsi sebagai mediator konflik, pembina moral umat, dan pemerkuat solidaritas komunitas. Keberadaan Manggala sangat krusial dalam lingkungan yang tidak memiliki akses terhadap pandita atau bhikkhu, menjadikannya tulang punggung keberlangsungan praktik keagamaan umat Buddha di tingkat akar rumput. Pemilihan Manggala dilakukan secara demokratis melalui musyawarah umat, dengan kriteria utama adalah kemampuan dalam praktik spiritual dan ritual, serta komitmen terhadap nilai-nilai sla, samAdhi, dan payyA. Sistem kepemimpinan Manggala telah mengalami evolusi, dari jabatan seumur hidup menjadi sistem periodik lima tahunan. Perubahan ini mencerminkan sikap progresif dari komunitas Buddhis setempat dalam menyeimbangkan antara tradisi dan kebutuhan akan regenerasi kepemimpinan. Meskipun tidak menerima gaji. Manggala dihargai secara simbolis melalui pemberian tanah dari desa, yang mencerminkan apresiasi komunitas atas Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa peran Manggala mencerminkan model kepemimpinan spiritual yang bersifat demokratis, partisipatif, dan berbasis kepercayaan Legitimasi Manggala tidak berasal dari otoritas eksternal, melainkan dari pengakuan dan kepercayaan umat. Model kepemimpinan ini selaras dengan prinsip-prinsip Dasa Raja Dhamma dan konsep kepemimpinan pelayan dalam tradisi Jawa, yang menekankan pada moralitas, keadilan, dan pelayanan kepada masyarakat. Keberadaan Manggala juga menunjukkan bagaimana Buddhisme beradaptasi dengan konteks lokal Indonesia, mencerminkan kreativitas dan agency komunitas Buddhis dalam mengorganisir kehidupan keagamaan mereka di tengah keterbatasan akses terhadap struktur monastik formal. Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk lokalisation atau pribumisasi Buddhisme, di mana praktik keagamaan disesuaikan dengan kondisi sosial-budaya setempat tanpa mengorbankan esensi ajaran Buddha. Penelitian ini merekomendasikan agar peran Manggala mendapat pengakuan dan dukungan lebih luas dari organisasi Buddhis nasional, termasuk penyediaan pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan kapasitas Manggala dalam menjalankan perannya. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengkaji fenomena serupa di wilayah lain di Indonesia, guna memahami keragaman model kepemimpinan spiritual dalam Buddhisme Indonesia dan memberikan kontribusi pada diskusi akademik tentang lokalisation dan adaptasi agama dalam konteks plural dan multikultural. Sebagai penutup, penelitian ini menegaskan bahwa kekayaan dan keragaman praktik keagamaan di Indonesia, termasuk dalam komunitas Buddhis, mencerminkan dinamika Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 1 Maret 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 14-25 interaksi antara ajaran universal dan konteks lokal yang spesifik. Manggala sebagai tokoh kepemimpinan spiritual lokal bukan sekadar pengganti sementara dalam ketiadaan pandita, melainkan representasi dari kreativitas dan resiliensi komunitas Buddhis Indonesia dalam menjaga kesinambungan praktik keagamaan mereka. Keberadaan Manggala menunjukkan bahwa Buddhisme Indonesia memiliki karakteristik unik yang berbeda dari Buddhisme di negara-negara lain, namun tetap autentik dalam esensi ajarannya. Dengan demikian, studi tentang Manggala memberikan kontribusi penting bagi pemahaman kita tentang keragaman ekspresi Buddhisme dalam konteks global yang semakin terhubung namun tetap beragam. UCAPAN TERIMA KASIH