Atmosfer: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Budaya, dan Sosial Humaniora Volume 3. Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. DOI: https://doi. org/10. 59024/atmosfer. Available Online at: https://pbsi-upr. id/index. php/atmosfer Menelusuri Jejak Kisah Merbau Bersiram Darah: Kajian Khazanah Budaya Melayu Riau Halimatu SaAodiah 1*. Jarir 2 Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Datuk Laksemana Bengkalis. Riau. Indonesia Korespondensi Penulis : halimatussadiah. nulis89@gmail. Abstract. Folklore is a cultural artifact that stores local wisdom and timeless character education value. One of the folk tales from the Malay coast of Bengkalis that is full of meaning is Merbau Bersiram Blood, a legend about betrayal, slander and a fight for honor between two royal commanders. Using a qualitative-descriptive approach, this article traces the story as a representation of moral education in the construction of Malay culture. Narrative analysis of story line, characters, and symbolism shows how values such as honesty, loyalty, and the consequences of injustice are subtly but powerfully embedded in the structure of the story. This story not only tells of a bloody tragedy, but also reflects the social mechanisms of Malay society in responding to betrayal and cultivating ethics. By re-exploring this story, this article raises the urgency of revitalizing oral traditions as a contextual and meaningful character learning medium, especially in local culture-based education ecosystems. Blood-Drenched Merbau is not just a legend, but a moral voice that echoes from the past for the future generation of Malays. Keywords: Traces of Stories. Merbau Drenched in Blood. Treasure Study. Malay Culture. Riau Abstrak. Cerita rakyat merupakan artefak budaya yang menyimpan kearifan lokal dan nilai pendidikan karakter yang tak lekang oleh waktu. Salah satu cerita rakyat dari pesisir Melayu Bengkalis yang sarat makna adalah Merbau Bersiram Darah, sebuah legenda tentang pengkhianatan, fitnah, dan pertarungan kehormatan antara dua panglima kerajaan. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, artikel ini menelusuri jejak kisah tersebut sebagai representasi pendidikan moral dalam konstruksi budaya Melayu. Analisis naratif terhadap alur cerita, tokoh, dan simbolisme memperlihatkan bagaimana nilai-nilai seperti kejujuran, kesetiaan, dan konsekuensi dari ketidakadilan ditanamkan secara halus namun kuat dalam struktur kisah. Cerita ini tak hanya mengisahkan tragedi berdarah, tetapi juga mencerminkan mekanisme sosial masyarakat Melayu dalam merespons pengkhianatan dan menyemai etika. Dengan menggali kembali kisah ini, artikel ini mengangkat urgensi revitalisasi tradisi lisan sebagai media pembelajaran karakter yang kontekstual dan bermakna, khususnya dalam ekosistem pendidikan berbasis budaya lokal. Merbau Bersiram Darah bukan sekadar legenda, tetapi suara moral yang menggema dari masa lalu untuk masa depan generasi Melayu. Kata kunci: Jejak Kisah. Merbau Bersiram Darah. Kajian Khazanah. Budaya Melayu. Riau PENDAHULUAN Cerita rakyat adalah khazanah budaya yang tidak hanya memuat nilai estetika sastra, tetapi juga berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter dan penyemaian nilai moral. tengah perkembangan teknologi dan era disrupsi informasi, cerita rakyat berpotensi menjadi media reflektif yang menghadirkan kembali suara-suara lokal sebagai rujukan dalam membangun pendidikan yang bermakna. Cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan representasi struktur sosial, kepercayaan, dan etika suatu komunitas. Dalam masyarakat Melayu, cerita rakyat memiliki posisi yang istimewa. Melalui cerita lisan, masyarakat diajarkan nilai-nilai hidup yang luhur, seperti hormat kepada orang tua, pentingnya kejujuran, keberanian membela kebenaran, hingga kehati-hatian terhadap fitnah. Nilai-nilai tersebut disampaikan tidak secara normatif dan kaku, melainkan melalui simbol. Received: April 30, 2025. Revised: May 15, 2025. Accepted: June 09, 2025. Online Available: June 11, 2025 Menelusuri Jejak Kisah Merbau Bersiram Darah: Kajian Khazanah Budaya Melayu Riau peristiwa, dan tokoh yang hidup di dalam cerita. Hal ini menjadikan cerita rakyat sebagai alat pendidikan yang tidak menggurui, namun menyentuh sisi batin dan moral pendengarnya. Namun, dalam era pendidikan modern yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan teknis, peran cerita rakyat sebagai sarana pendidikan karakter mulai terpinggirkan. Pembelajaran sering kali terlepas dari konteks budaya peserta didik, sehingga nilai-nilai yang ditanamkan pun terasa asing dan sukar diinternalisasi. Dalam konteks ini, cerita rakyat dapat kembali dihidupkan sebagai media yang menyatu dengan identitas lokal peserta didik, memberikan kedekatan emosional dan spiritual dalam proses pendidikan. Bengkalis sebagai wilayah pesisir dengan akar budaya Melayu yang kuat menyimpan banyak cerita rakyat yang belum banyak terangkat dalam kajian ilmiah. Salah satu kisah yang sarat akan nilai edukatif dan historis adalah Merbau Bersiram Darah. Cerita ini bukan hanya legenda tentang pertarungan dua panglima, tetapi merupakan cerminan konflik moral, pengkhianatan, serta kejatuhan nilai akibat kelalaian menegakkan keadilan. Kisah ini memiliki daya tarik naratif yang tinggi sekaligus kedalaman nilai budaya. Dalam cerita tersebut. Panglima Ali tokoh yang dikenal setia dan bijaksana difitnah oleh Panglima Abbas yang haus kekuasaan dan cinta. Fitnah ini menyebabkan Raja menjatuhkan hukuman tanpa penyelidikan yang adil. Konflik antara keduanya tidak hanya menjadi cerita tentang kekuatan fisik, tetapi juga pertempuran antara integritas dan kebusukan Melalui tragedi berdarah di Negeri Merbau, kisah ini menyampaikan pesan bahwa fitnah bukan hanya menghancurkan satu individu, tetapi bisa meruntuhkan seluruh tatanan Tragedi dalam kisah ini menjadi titik balik dalam sejarah budaya lisan masyarakat Bengkalis. Masyarakat Melayu mewariskan kisah ini tidak hanya sebagai kenangan sejarah, tetapi sebagai peringatan moral tentang pentingnya tabayun, keadilan, dan kewaspadaan terhadap hasutan. Dalam sudut pandang pedagogi, cerita ini menyimpan kekayaan nilai pendidikan karakter yang dapat menjadi sumber penguatan kurikulum berbasis budaya lokal. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kesetiaan, dan keberanian dalam cerita Merbau Bersiram Darah sangat relevan dengan prinsip pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka saat ini. Di tengah krisis integritas dan disorientasi moral yang sering muncul dalam kehidupan pelajar, penyajian nilai melalui cerita kontekstual seperti ini berpotensi lebih efektif daripada pendekatan teoritis yang abstrak. Selain itu, penggunaan cerita rakyat dalam pendidikan memiliki kelebihan dari sisi pedagogi naratif. Cerita menyentuh emosi, membangun imajinasi, dan menanamkan nilai melalui pengalaman tidak langsung. Dalam konteks masyarakat Melayu Bengkalis, cerita ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. seperti Merbau Bersiram Darah mengandung struktur simbolik yang kaya, sehingga mampu menyampaikan pendidikan karakter dalam cara yang halus namun mendalam. Meskipun demikian, keberadaan cerita rakyat ini masih belum banyak dikaji secara akademik, terutama dalam bingkai pendidikan karakter. Padahal revitalisasi cerita lokal dapat menjadi strategi penting dalam pendidikan berbasis budaya, terutama di daerah yang memiliki Bengkalis. Diperlukan mendokumentasikan, menganalisis, dan mengintegrasikan cerita rakyat ke dalam ekosistem Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk menelusuri kembali jejak kisah Merbau Bersiram Darah sebagai media pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal. Melalui pendekatan kualitatif dan analisis naratif, tulisan ini tidak hanya menggali makna kisah, tetapi juga merefleksikan bagaimana cerita rakyat dapat berkontribusi dalam membentuk akhlak generasi muda secara kontekstual dan berakar pada identitas budaya mereka sendiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitik yang bertujuan untuk mengungkap makna, nilai, dan fungsi pendidikan karakter dalam cerita rakyat Merbau Bersiram Darah yang berkembang di masyarakat Melayu Bengkalis. Data primer diperoleh melalui transkripsi narasi cerita rakyat yang ditelusuri dari sumber lisan dan tertulis, termasuk versi syair, lagu, serta dokumentasi cerita dalam bentuk pertunjukan budaya Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, wawancara semi-struktural dengan tokoh budaya dan budayawan lokal, serta observasi terhadap tradisi penceritaan lisan dalam komunitas Melayu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, serta konfirmasi langsung kepada narasumber lokal untuk memastikan kesesuaian makna dan konteks budaya. Fokus utama dari metode ini adalah mengungkap dimensi pendidikan karakter yang terkandung dalam struktur naratif cerita, simbol tokoh, serta konteks sosial yang melingkupi kemunculannya, sehingga mampu memberikan gambaran holistik terhadap nilai-nilai yang diwariskan melalui cerita Merbau Bersiram Darah. Menelusuri Jejak Kisah Merbau Bersiram Darah: Kajian Khazanah Budaya Melayu Riau HASIL DAN PEMBAHASAN Cerita Merbau Bersiram Darah merupakan salah satu kisah lisan khas Melayu Bengkalis yang menyimpan tragedi sosial dalam balutan nilai budaya dan etika moral. Kisah ini berkembang dari tradisi tutur yang hidup di tengah masyarakat pesisir, dan telah menjadi bagian dari identitas kultural lokal. Menurut Zainuddin . , cerita rakyat seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan informal yang mengajarkan norma-norma sosial kepada generasi muda. Dalam cerita ini, masyarakat dikenalkan pada dampak destruktif dari fitnah dan pengkhianatan, serta pentingnya keadilan yang berbasis pada hati nurani dan kebenaran. Latar tempat kisah ini mengambil lokasi di sebuah kerajaan bernama Merbau, yang konon terletak di kawasan pesisir timur Pulau Sumatra, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kepulauan Meranti. Riau. Cerita ini disampaikan dari mulut ke mulut, seringkali melalui bentuk syair atau dendang tradisional yang dilagukan dalam acara adat atau malam kebudayaan (Rahim, 2. Ini menunjukkan bahwa kisah Merbau Bersiram Darah tidak hanya hidup sebagai teks naratif, melainkan juga sebagai representasi estetik dalam kesenian Melayu. Penggabungan antara narasi dan musik membuat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya lebih mudah diresapi dan membekas dalam ingatan kolektif masyarakat. Dalam konteks pendidikan karakter, cerita ini menyimpan pesan kuat tentang pentingnya integritas, kehormatan, dan tanggung jawab sosial. Tokoh Panglima Ali digambarkan sebagai pribadi yang jujur dan berprinsip, tetapi harus menjadi korban karena kezaliman kekuasaan yang mudah terpengaruh hasutan. Sebaliknya. Panglima Abbas mewakili watak ambisius yang tega mencederai kebenaran demi kepentingan pribadi. Seperti dinyatakan oleh Aziz & Mahyuddin . , cerita rakyat Melayu kerap menempatkan tokoh-tokoh dengan karakter ekstrem sebagai cara untuk memperjelas batas antara nilai yang diteladani dan yang harus dijauhi. Oleh karena itu, kisah ini bukan hanya pengisahan tragedi, melainkan juga pendidikan moral yang ditanamkan secara simbolik dan kontekstual. Nilai pertama yang muncul dengan kuat dalam kisah Merbau Bersiram Darah adalah Tokoh Panglima Ali digambarkan sebagai pribadi yang teguh memegang kebenaran meski berada dalam tekanan kekuasaan dan ancaman fitnah. Ia tidak membalas dusta dengan dusta, tetapi memilih mempertahankan harga dirinya melalui keberanian dan kehormatan. Hal ini selaras dengan pandangan Sudrajat . yang menyatakan bahwa kejujuran merupakan fondasi utama dalam pendidikan karakter karena membentuk pribadi yang dapat dipercaya, jujur terhadap fakta, dan konsisten dalam prinsip. ATMOSFER - VOLUME 3. NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2964-982X . p-ISSN: 2962-1232. Hal. Nilai kedua yang dominan adalah keadilan. Ketika Raja menjatuhkan hukuman kepada Panglima Ali tanpa tabayun atau pemeriksaan yang adil, cerita ini secara implisit mengkritik kekuasaan yang lalai terhadap prinsip keadilan. Dalam masyarakat tradisional Melayu, keadilan bukan hanya persoalan hukum formal, tetapi juga berkaitan dengan pertimbangan nurani dan tanggung jawab moral seorang pemimpin terhadap rakyatnya (Abdullah, 2. Ketiadaan keadilan dalam kisah ini menyebabkan kehancuran sosial. Selain itu, terdapat nilai kesetiaan dan tanggung jawab sosial yang diperlihatkan oleh Panglima Ali, serta nilai keburukan fitnah yang tercermin dari watak Panglima Abbas. Ali bukan hanya setia pada negara dan rajanya, tetapi juga pada nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Sebaliknya. Abbas menjadi simbol dari karakter destruktif yang lahir dari iri hati dan ambisi yang tak terkendali (Yunus & Salim, 2. Selain itu, terdapat nilai kesetiaan dan tanggung jawab sosial yang diperlihatkan oleh Panglima Ali, serta nilai keburukan fitnah yang tercermin dari watak Panglima Abbas. Ali bukan hanya setia pada negara dan rajanya, tetapi juga pada nilai-nilai kebenaran yang Sebaliknya. Abbas menjadi simbol dari karakter destruktif yang lahir dari iri hati dan ambisi yang tak terkendali (Yunus & Salim, 2. Nilai berikutnya yang patut digarisbawahi adalah pentingnya keberanian moral dalam mempertahankan kebenaran. Panglima Ali tidak menggunakan kekerasan sebagai alat utama, tetapi mengedepankan prinsip dan kehormatan diri dalam menghadapi fitnah yang menghancurkan reputasinya. Dalam pendidikan karakter, keberanian seperti ini termasuk dalam aspek tangguh dan percaya diriAidua komponen penting dalam membentuk ketahanan moral peserta didik (Hidayat, 2. Sikap ini dapat menjadi inspirasi bagi pelajar untuk tetap menjunjung prinsip meski menghadapi tekanan sosial. Cerita ini juga menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya kepemimpinan yang adil dan bijak. Sosok raja dalam cerita menggambarkan bagaimana kekuasaan yang tanpa verifikasi dan pengambilan keputusan tergesa dapat membawa kehancuran. Dalam konteks pendidikan kepemimpinan dan karakter, ini menjadi pelajaran bahwa pemimpin sejati tidak cukup dengan kekuasaan, tetapi harus memiliki kemampuan mendengar, menimbang, dan memutuskan secara jernih (Tanjung, 2. Kesalahan raja dalam kisah ini menjadi cermin bahwa pemimpin yang lalai terhadap prinsip keadilan berpotensi menciptakan kerusakan sistemik. Dengan berbagai nilai tersebut. Merbau Bersiram Darah menjadi cerita yang tidak hanya hidup sebagai bagian dari identitas budaya Melayu Riau, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran etika yang relevan bagi pendidikan karakter masa kini. Kisah ini memperlihatkan Menelusuri Jejak Kisah Merbau Bersiram Darah: Kajian Khazanah Budaya Melayu Riau bahwa cerita rakyat, jika dimaknai secara kritis, mampu menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang jujur, adil, dan bertanggung jawab secara sosial dan spiritual. SIMPULAN Cerita rakyat Merbau Bersiram Darah bukan sekadar kisah lama yang dituturkan dari generasi ke generasi, tetapi merupakan cerminan nilai-nilai luhur yang hidup dalam budaya Melayu Bengkalis. Di balik tragedi pengkhianatan dan pertumpahan darah, tersimpan ajaran tentang kejujuran, keadilan, kesetiaan, dan bahaya fitnah yang dapat menghancurkan tatanan Kisah ini membuktikan bahwa tradisi lisan memiliki daya hidup sebagai sarana pendidikan karakter yang kontekstual, emosional, dan relevan hingga kini. Melalui pendekatan kualitatif dan analisis naratif, penelitian ini menegaskan bahwa cerita rakyat seperti Merbau Bersiram Darah layak direvitalisasi sebagai media pembelajaran akhlak yang berakar pada identitas lokal. Dalam konteks pendidikan modern yang kerap kehilangan sentuhan nilai, warisan budaya seperti ini menjadi oase yang menawarkan kebijaksanaan, kedalaman makna, dan arah moral yang kuat bagi generasi muda. Oleh karena itu, pengintegrasian cerita rakyat ke dalam ekosistem pendidikan berbasis budaya bukan hanya penting, tetapi juga mendesak. DAFTAR PUSTAKA