JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Strategi Pembelajaran Fikih Berbasis Kitab Turats di Pesantren Modern 1,2,3 *Khairul Umam1. Saifullah2. Tarmizi Ninoersy3. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Aceh. Indonesia Email: khairulumam07092017@gmail. Abstract Fiqh learning based on classical Islamic texts . utub al-turAt. remains a distinctive characteristic of Islamic boarding schools in Indonesia. however, at the Aliyah level it still faces challenges such as limited proficiency in classical Arabic, low active learning engagement, and the need for adaptation to modern educational demands. This study aims to describe the fiqh learning strategies based on kitab turats and analyze the challenges encountered in their implementation for second-year Aliyah students at Tgk. Chiek Oemar Diyan Modern Islamic Boarding School and Dayah Insan QurAoani in Aceh Besar. This research employed a qualitative descriptive method involving fiqh teachers and students as informants, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that learning strategies involve sorogan, bandongan, and individual mentoring methods supported by pedagogical adaptation to improve contextual comprehension of classical texts. The main challenges include studentsAo limited Arabic proficiency, a shortage of teachers specializing in classical texts, and limited instructional time. Keywords: Fiqh Learning. Kitab Turats. Learning Strategies. Modern Pesantren. Aliyah Students. Abstrak Pembelajaran fikih berbasis kitab turats merupakan karakter utama pendidikan pesantren, namun pada tingkat Aliyah masih menghadapi kendala dalam penguasaan bahasa Arab klasik, partisipasi belajar aktif, dan penyesuaian dengan tuntutan pendidikan modern. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats serta menganalisis tantangan dalam implementasinya pada santri kelas 2 Aliyah di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan informan guru fikih dan santri, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan meliputi metode sorogan, bandongan, dan bimbingan individual, dengan adaptasi pedagogis untuk meningkatkan pemahaman teks klasik secara kontekstual. Kendala utama meliputi keterbatasan kemampuan bahasa Arab, kurangnya guru ahli kitab klasik, serta alokasi waktu yang terbatas. Kata Kunci: Pembelajaran Fikih. Kitab Turats. Strategi Pembelajaran. Pesantren Modern. Santri Aliyah. *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan pesantren di Indonesia memiliki akar yang kuat dalam pengajaran kitab-kitab klasik . utub al-turAt. , khususnya dalam bidang fikih yang merupakan inti dari pendidikan keislaman. Kitab-kitab turats tidak hanya menjadi sumber ilmu keislaman yang mendalam, tetapi juga merepresentasikan kekayaan tradisi intelektual Islam yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi (Roviin & Hafidz, 2. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang berperan penting dalam melestarikan ajaran Islam melalui pembelajaran kitab-kitab klasik . utub al-turAt. , terutama dalam bidang fikih yang menjadi inti pendidikan Islam (Azra, 2019. Dhofier, 2. Kitab turats tidak hanya mengandung hukum Islam secara komprehensif, tetapi juga mencerminkan khazanah intelektual yang diwariskan lintas generasi serta menjadi panduan metodologis dalam pengambilan hukum (Amrullah & Mutholingah, 2. Beberapa madrasah yang berada dalam lingkungan pesantren memiliki keistimewaan tersendiri karena tetap mempertahankan tradisi pembelajaran kitabkitab turats. Kitab-kitab turats masih dijadikan sebagai bahan ajar utama dalam mendalami ilmu fikih secara komprehensif. Kitab-kitab tersebut tidak hanya memuat hukum-hukum keislaman secara rinci, tetapi juga mencerminkan warisan intelektual dan metodologi berpikir yang telah teruji selama berabad-abad dalam khazanah keilmuan Islam. Model integrasi antara tradisi keilmuan klasik dan kurikulum modern sebagaimana diterapkan di Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani menunjukkan upaya menjaga kesinambungan tradisi sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan kontemporer (Bashori et al. , 2. Namun, pembelajaran fikih berbasis kitab turats menghadapi berbagai tantangan, terutama bagi santri tingkat Aliyah yang berada pada fase penting dalam memperdalam pemahaman fikih mereka. Kitab-kitab turats umumnya ditulis dalam bahasa Arab klasik tanpa harakat . , dengan struktur kalimat yang kompleks serta istilah-istilah yang memerlukan pemahaman kontekstual. Kondisi ini kerap menyulitkan sebagian santri dalam membaca, memahami, dan menafsirkan isi kitab secara mandiri, apalagi ketika harus mengaitkannya dengan realitas kehidupan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Di sisi lain, metode pembelajaran seperti bandongan dan sorogan yang selama ini menjadi ciri khas tradisi pesantren, meskipun memiliki nilai historis dan keotentikan tersendiri, dalam praktiknya belum sepenuhnya mendukung keterlibatan aktif santri dan pengembangan kemampuan berpikir kritis (Harahap. Tantangan zaman saat ini menuntut lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah yang berada di lingkungan pesantren untuk mulai mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih interaktif, partisipatif, dan kontekstual. Inovasi ini perlu dilakukan tanpa meninggalkan ruh tradisi keilmuan yang telah lama menjadi fondasi pendidikan pesantren. Penelitian sebelumnya lebih banyak mengkaji efektivitas pembelajaran kitab kuning di pesantren salaf atau aspek linguistiknya (Daulay et al. , 2. Masih terbatas penelitian yang menganalisis strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats di pesantren modern yang mengintegrasikan kurikulum nasional dan tuntutan pedagogis abad ke-21. Dengan demikian, penelitian ini memiliki novelty pada konteks lembaga pendidikan modern dan fokus pada strategi pembelajaran fikih yang aplikatif di tingkat Aliyah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats yang diterapkan pada santri kelas 2 Aliyah dan menganalisis tantangan dalam implementasinya di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani Kabupaten Aceh Besar. Secara teoretis dan praktis, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam merumuskan pola pembelajaran fikih yang tetap berpijak pada tradisi keilmuan pesantren, tetapi adaptif terhadap kebutuhan pendidikan masa kini, sehingga mampu meningkatkan literasi turats dan kompetensi karakter santri. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats pada santri kelas 2 Aliyah di lingkungan pesantren modern. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengkaji fenomena yang terjadi secara alami beserta pemaknaan subjek terhadap pengalaman belajar mereka (Creswell, 2. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya memahami interaksi antara guru dan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. santri, pemanfaatan kitab klasik sebagai sumber belajar, serta dinamika pembelajaran dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian dilaksanakan di dua lembaga pendidikan yang memadukan karakteristik pesantren tradisional dan madrasah modern, yaitu Madrasah Aliyah Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Madrasah Aliyah Dayah Insan QurAoani. Kabupaten Aceh Besar. Informan terdiri atas kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, serta guru fikih yang mengampu pembelajaran kitab turats, sedangkan santri kelas 2 Aliyah menjadi objek observasi dalam proses Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di kelas untuk memperoleh gambaran autentik strategi penyampaian materi dan respon santri dalam memahami kitab klasik. Selain itu, wawancara semi-terstruktur digunakan untuk mengeksplorasi lebih mendalam perspektif guru dan pengelola pendidikan mengenai implementasi strategi pembelajaran dan kendala yang dihadapi (Sugiyono, 2. Dokumentasi berupa silabus, jadwal pelajaran, daftar kitab yang digunakan, serta arsip pembelajaran turut digunakan sebagai sumber data sekunder guna memperkuat analisis. Data dianalisis secara deskriptif melalui tiga langkah utama, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagaimana diuraikan oleh Miles dan Huberman . Analisis dilakukan secara simultan selama proses pengumpulan data untuk memastikan temuan yang diperoleh valid, konsisten, dan merefleksikan kondisi empiris di lapangan (Miles et al. , 2. Prosedur ini memungkinkan peneliti untuk mengungkap strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats secara komprehensif sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya dalam meningkatkan pemahaman santri terhadap teks-teks klasik. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi Pembelajaran Fikih Berbasis Kitab Turats pada Santri Kelas 2 Aliyah Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani Kabupaten Aceh Besar Strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats pada santri kelas 2 Aliyah di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani Kabupaten JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Aceh Besar merupakan komponen sentral dalam sistem pendidikan pesantren Strategi ini dirancang untuk memastikan bahwa santri tidak hanya mengontekstualisasikannya dalam kehidupan nyata. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, dan guru fikih, strategi pembelajaran ini bersifat terencana, terstruktur, dan berorientasi pada integrasi antara tradisi keilmuan klasik dan kebutuhan pembelajaran modern. Perencanaan Pembelajaran Fikih Berbasis Kitab Turats Perencanaan pembelajaran adalah aspek fundamental yang menentukan arah dan tujuan proses belajar mengajar. Di kedua pesantren, guru fikih menyiapkan pembelajaran dengan memperhatikan keselarasan antara kurikulum pesantren dan kurikulum nasional. Guru fikih memastikan tujuan pembelajaran selaras dengan kurikulum pesantren yang mengutamakan penguasaan teks kitab turats. Kurikulum ini diperkaya dengan materi yang relevan dengan konteks kehidupan santri. Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Dayah Insan QurAoani menjelaskan: AuKami berprinsip bahwa kitab turats adalah pilar utama pendidikan. Kurikulum fikih disusun secara hirarkis, di mana santri mulai dari kitab dasar hingga kitab yang lebih tinggi. Kitab-kitab yang dipilih menjadi acuan utama untuk memastikan sanad keilmuan. Ay Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala madrasah bidang kurikulum Dayah Insan QurAoani menegaskan bahwa kitab turats merupakan identitas pesantren dan menjadi fondasi bagi pembentukan sanad keilmuan yang Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kepala Madrasah Tgk. Chiek Oemar Diyan yang menyatakan bahwa penggunaan kitab turats adalah jantung dari visi pesantren untuk melahirkan ulama yang memiliki sanad keilmuan jelas. Temuan ini sejalan dengan pendapat Dhofier . yang menyebutkan bahwa kitab kuning tidak hanya berfungsi sebagai sumber ilmu, tetapi juga simbol kesinambungan tradisi intelektual Islam di Nusantara (Dhofier, 2. Dengan demikian, perencanaan yang berorientasi pada kitab turats tidak sekadar kurikuler, tetapi juga ideologis, yakni menjaga kesinambungan warisan keilmuan Islam klasik di tengah modernisasi pendidikan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Metode Pembelajaran: Sorogan dan Bandongan Guru menyesuaikan dengan karakteristik santri dan membuat pembelajaran lebih efektif. Metode yang dominan adalah sorogan dan bandongan. Seorang guru fikih di Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan menjelaskan: AuKami sering menggunakan metode sorogan dan bandongan. Dalam bandongan, guru membaca dan menjelaskan kitab, sementara santri menyimak dan membuat catatan. Metode sorogan memberikan bimbingan individual bagi santri untuk menguasai teks. Ay Guru fikih di Dayah Insan QurAoani menambahkan bahwa metode bandongan dan sorogan sangat efektif. Dalam metode ini, santri yang lebih mahir didorong untuk membantu teman-temannya. Hal ini menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan partisipatif, di mana santri tidak hanya belajar dari guru tetapi juga dari teman sebaya. Temuan ini mengonfirmasi karakter pedagogis pesantren yang berbasis interaksi langsung dan transmisi keilmuan dari guru ke murid . aAolim wa taAoallu. Sejalan dengan penelitian Azra . , metode ini mengandung dimensi spiritual dan epistemologis yang tidak tergantikan oleh sistem pendidikan formal modern, karena menanamkan adab dan kedalaman pemahaman teks (Azra, 2. Media Pembelajaran dan Adaptasi terhadap Karakteristik Santri Media pembelajaran utama adalah kitab turats itu sendiri. Namun, guru juga memanfaatkan papan tulis dan kitab syarah sebagai alat bantu untuk menjelaskan istilah sulit dan struktur gramatikal. Strategi ini menunjukkan adanya bentuk adaptasi pedagogis terhadap karakteristik santri yang beragam, terutama dalam penguasaan bahasa Arab. Guru fikih di Dayah Insan QurAoani menyatakan: AuMedia utama kami adalah kitab turats. Namun, untuk teks yang sulit, kami sering menggunakan papan tulis untuk menjelaskan i'rab . nalisis gramatika. atau makna kata. Syarah kitab juga menjadi alat bantu yang Kemudian, kami memiliki strategi khusus untuk santri yang kemampuan bahasa Arabnya masih lemah. Mereka ditempatkan di kelompok kecil untuk mendapatkan bimbingan intensif, di mana kami menggunakan pendekatan yang lebih sederhana seperti terjemahan per Ay Penggunaan media ini diperkuat oleh pengakuan guru fikih di Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan bahwa mereka juga merujuk pada kitab syarah lain untuk JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. memperjelas makna dan konteks dari teks yang sedang dipelajari dan memberikan bimbingan tambahan di luar jam pelajaran bagi santri yang membutuhkan. Guru di kedua pesantren mengembangkan pendekatan diferensiasi, yaitu membagi santri dalam kelompok kecil berdasarkan tingkat kemampuan bahasa Arab. Santri dengan kemampuan dasar diberi bimbingan tambahan menggunakan metode terjemahan kata per kata. Praktik ini memperlihatkan adanya penerapan prinsip individualized learning dalam konteks tradisional pesantren. Sebagaimana dikemukakan oleh Suprihatiningrum . , diferensiasi pengajaran menjadi kunci efektivitas pembelajaran pada lingkungan yang heterogen (Suprihatiningrum. Evaluasi dan Refleksi Pembelajaran Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan rencana pembelajaran berjalan sesuai tujuan. Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan menjelaskan: AuEvaluasi sangat penting untuk memastikan kurikulum turats efektif. Kami mengadakan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) internal setiap akhir semester untuk membahas capaian dan tantangan pembelajaran. Ay Evaluasi ini diperkuat oleh pengakuan guru fikih yang menyatakan bahwa masukan dari santri terkait metode atau materi yang mereka sukai juga membantu guru menyusun rencana pembelajaran yang lebih efektif. Evaluasi pembelajaran dilakukan secara berkala, baik melalui penilaian formal maupun forum musyawarah guru (MGMP interna. Evaluasi tidak hanya menilai capaian akademik, tetapi juga refleksi terhadap proses belajar-mengajar. Masukan santri menjadi bagian dari proses revisi metode dan materi, menunjukkan pola reflective teaching practice sebagaimana direkomendasikan oleh Zeichner & Liston (Zeichner & Liston, 2. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats di kedua pesantren ini dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dan terstruktur. Guru-guru di kedua pesantren tidak hanya berfokus pada penguasaan teks kitab, tetapi juga menggunakan metode pembelajaran yang variatif, menyesuaikan dengan karakteristik santri, dan melakukan evaluasi berkala untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendekatan ini memastikan bahwa JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. proses pembelajaran berjalan efektif, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan santri. Tantangan dan Kendala dalam Implementasi Strategi Pembelajaran Fikih Berbasis Kitab Turats Bagian ini mengidentifikasi dan menganalisis tantangan serta kendala yang dihadapi dalam penerapan strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats pada santri kelas 2 Aliyah di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani Kabupaten Aceh Besar. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala madrasah, wakil kepala madrasah bidang kurikulum, dan para guru, ditemukan beberapa tantangan utama yang bersifat teknis dan institusional. Keterbatasan Kemampuan Bahasa Arab Santri Salah satu kendala paling signifikan adalah kemampuan bahasa Arab santri yang tidak merata menjadi kendala utama dalam memahami kitab gundul. Sebagian santri masih kesulitan dalam membaca dan menganalisis teks tanpa harakat. Seorang guru fikih di Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan menjelaskan: AuTantangan utamanya adalah kurangnya minat sebagian santri dalam mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Ini membuat proses membaca dan memahami teks kitab turats menjadi lebih sulit. Ay Senada dengan itu, guru di Dayah Insan Qur'ani juga menyampaikan bahwa ketidakseragaman kemampuan bahasa Arab santri memerlukan pendekatan yang lebih personal dan intensif. Hal ini diperkuat oleh pengakuan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Dayah Insan QurAoani yang menyatakan bahwa pemetaan kelas berdasarkan tingkat kemampuan bahasa Arab menjadi penting untuk mengatasi kendala ini. Temuan ini sejalan dengan penelitian Anwar . yang menemukan bahwa rendahnya kompetensi linguistik menjadi penghambat utama literasi kitab kuning di kalangan santri madrasah. Oleh karena itu, penguatan kurikulum bahasa Arab dan pelatihan membaca teks klasik menjadi kebutuhan strategis dalam memperkuat literasi turats. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Keterbatasan Waktu dan Sumber Daya Proses pembelajaran kitab turats membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak hanya untuk membaca teks tetapi juga untuk mendiskusikan berbagai syarah . dan i'rab . nalisis gramatika. Guru di Dayah Insan Qur'ani AuTantangan terbesar adalah keterbatasan referensi kitab syarah dan minimnya waktu yang tersedia untuk pendalaman materi. Kami seringkali harus menyeimbangkan antara kurikulum turats dengan materi umum. Ay Hal ini juga menjadi perhatian Kepala Madrasah Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan yang menyatakan bahwa menjaga motivasi santri di tengah tuntutan kurikulum modern menjadi tantangan signifikan. Pesantren harus memastikan kurikulum fikih tetap kuat tanpa mengabaikan ilmu-ilmu umum yang juga dibutuhkan santri. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Nuraeni . di Pondok Pesantren Baitul Kitab Parepare, yang menunjukkan bahwa keterbatasan waktu, sarana, dan lingkungan merupakan faktor penghambat utama dalam pembelajaran kitab turats. Menurutnya, keterbatasan waktu menyebabkan guru tidak dapat mendalami isi kitab secara menyeluruh, sementara kurangnya sarana seperti kitab syaru dan fasilitas pembelajaran turut memperlambat proses pengajaran. Dengan demikian, hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa keterbatasan waktu dan sumber daya merupakan tantangan struktural yang umum dihadapi lembaga pesantren modern (Nuraeni, 2. Keterbatasan Guru Ahli Kitab Turats Ketersediaan guru yang memiliki kompetensi tinggi dalam membaca dan mengajarkan kitab klasik juga masih terbatas. Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Dayah Insan QurAoani menjelaskan: AuTantangan utama dalam mengintegrasikan kitab turats adalah menemukan ustadz/ustadzah yang memiliki kompetensi mumpuni. Tidak semua guru memiliki kemampuan yang sama dalam membaca kitab gundul dan menjelaskan ijtihad di dalamnya. Ay Untuk mengatasi hal ini, kedua pesantren memiliki strategi masing-masing, seperti pembinaan internal oleh ustadz senior atau pengiriman guru untuk mengikuti pelatihan dan seminar. Temuan ini sejalan dengan penelitian Efendi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. yang menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru pesantren, khususnya dalam pembelajaran kitab kuning, merupakan prasyarat utama untuk mempertahankan kualitas pendidikan Islam berbasis tradisi. Efendi menemukan bahwa banyak guru pesantren belum memiliki kemampuan metodologis yang kuat dalam mengajarkan teks klasik, sehingga diperlukan pelatihan sistematis berbasis active learning untuk mengembangkan pedagogi yang relevan dengan kebutuhan zaman (Efendi & Promadi, 2. Keseimbangan antara Tradisi dan Modernisasi Pesantren dihadapkan pada dilema antara mempertahankan tradisi perkembangan zaman. Kepala Madrasah Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan AuTantangan paling signifikan dalam pelaksanaan pembelajaran kitab turats adalah menjaga motivasi santri di era digital. Kami harus bisa menunjukkan bahwa kitab turats tetap relevan dan tidak ketinggalan zaman. Ay Kepala Madrasah Dayah Insan QurAoani menambahkan bahwa Pesantren dihadapkan pada tantangan menjaga nilai-nilai tradisional di tengah modernisasi dan digitalisasi pendidikan. Guru berupaya menjadikan kitab turats tetap relevan dengan konteks kehidupan modern dengan cara mengaitkan topik fikih dengan fenomena sosial kontemporer. Praktik ini sejalan dengan prinsip contextual teaching and learning (Johnson, 2. , yang menekankan pentingnya menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata agar lebih bermakna dan aplikatif (Johnson. Dengan demikian, pesantren modern berperan sebagai institusi pendidikan mengintegrasikannya dengan kebutuhan zaman. Dukungan Fasilitas dan Kebijakan Dukungan institusional, seperti fasilitas dan kebijakan yang mendukung, juga menjadi faktor penting. Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan menjelaskan: JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. AuMasukan yang paling sering kami terima dari guru adalah perlunya modul atau buku panduan yang lebih terstruktur untuk pembelajaran turats. Ay Fasilitas pembelajaran dan ketersediaan referensi masih perlu ditingkatkan. Guru berharap adanya modul pembelajaran yang lebih sistematis dan koleksi kitab syarah yang lebih lengkap di perpustakaan. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan guru akan modul pembelajaran yang lebih terstruktur dan koleksi kitab syarah yang lengkap bukan hanya menjadi persoalan lokal di dua pesantren yang diteliti, tetapi juga menjadi tantangan sistemik dalam pendidikan kitab turats di lembaga Islam. Sebagaimana dikemukakan oleh Wafa & Kuswandi . yang menyatakan bahwa aspek kebijakan dan kapasitas guru merupakan faktor kritis dalam efektivitas pembelajaran turats, maka dukungan kelembagaan berupa modul, sumber belajar, dan kebijakan jelas menjadi fondasi bagi keberhasilan strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats (Wafa & Kuswandi, 2. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tantangan dan kendala dalam implementasi strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats sangat bervariasi, mulai dari aspek teknis seperti kemampuan santri dan metode pengajaran, hingga aspek institusional seperti ketersediaan guru dan dukungan kurikulum. Upaya untuk mengatasi tantangan ini memerlukan sinergi dari semua pihak, termasuk pimpinan pesantren, guru, dan santri. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran fikih berbasis kitab turats di Pesantren Modern Tgk. Chiek Oemar Diyan dan Dayah Insan QurAoani Aceh Besar dilaksanakan secara terstruktur dengan memadukan metode sorogan dan bandongan serta pendekatan partisipatif yang disesuaikan dengan karakteristik santri. Strategi ini tidak hanya mempertahankan tradisi keilmuan Islam klasik, tetapi juga meningkatkan pemahaman dan keterlibatan aktif santri dalam pembelajaran fikih secara kontekstual. Kendati demikian, pembelajaran kitab turats masih menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan waktu, kurangnya referensi syarah, serta keterbatasan guru ahli kitab klasik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kelembagaan yang kuat melalui pembinaan kompetensi guru, penyediaan sumber JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. belajar yang memadai, serta penguatan kebijakan kurikulum yang adaptif. Pengembangan strategi pembelajaran yang memadukan nilai tradisi dan inovasi diharapkan dapat menjadikan pesantren tetap relevan dan berdaya saing di tengah dinamika pendidikan Islam modern. *** DAFTAR PUSTAKA