Jurnal Pendidikan Vokasi Raflesia ISSN 2776-3897 . ISSN 2776-3978 . Volume 5 Ae Nomor 2. Oktober 2025, 98-103 https://doi. org/10. 53494/jpvr. Available online at: https://ejournal. id/index. php/JPVR/article/view/787 Pendidikan Kejuruan dan Realita Pengangguran: Solusi untuk Masa Depan Lulusan SMK di Indonesia Azizah Nur Kamila1*. Azizah Virnanda P2. Cantika Purna Ardhis Syahfrina3. Chesta Nahda Tigaprilarda4. Chillie Aurora MeydianoAA 1,2,3,4,5DTSP FT Universitas Negeri Malang *Corresponding Author: Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima: 28 Maret 2025 Direvisi: 30 Juni 2025 Disetujui: 11 Agustus 2025 Kata Kunci: Vocational Curriculum. Vocational High Shcool. Unemployment. 2405216@students. Abstrak. Artikel kajian ini mengkaji korelasi antara pendidikan vokasi dan tingginya angka pengangguran di Indonesia, menekankan solusi prospektif bagi lulusan sekolah menengah kejuruan dan merumuskan strategi untuk mengurangi tingginya angka pengangguran di negara ini. Angka pengangguran di Indonesia tergolong tinggi, dan sekolah menengah kejuruan yang dimaksudkan untuk menyiapkan siswa untuk dunia kerja dan mengurangi pengangguran tidak sejalan dengan tujuan yang diinginkan. Indonesia, banyak perusahaan. PT, dan industri menawarkan lowongan pekerjaan. meskipun demikian, sejumlah besar individu tetap menganggur dan bingung tentang cara mendapatkan pekerjaan. Kajian ini menggunakan metodologi penelitian deskriptif yang dirancang untuk menggambarkan fakta secara sistematis dan akurat melalui deskripsi dan representasi yang terperinci. Pendekatan pengumpulan data melibatkan peninjauan materi ilmiah secara cermat, termasuk jurnal, artikel, buku, dan sumber lainnya. Solusi strategis untuk mengatasi tantangan ini meliputi pelatihan dan pendidikan siswa sekolah menengah kejuruan, mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa dan keberlanjutan terhadap dunia industri, meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pendidikan, dan memanfaatkan teknologi dalam Dengan penerapan strategi tersebut diharapkan kurikulum akan lebih efektif dan relevan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik sehingga memperoleh hasil belajar yang lebih optimal dan dapat mengurangi pengangguran di Indonesia. How to Cite: Kamila. Virnanda P. Syahfrina. Tigaprilarda. , & Meydiano. Pendidikan Kejuruan dan Realita Pengangguran: Solusi untuk Masa Depan Lulusan SMK di Indonesia. Jurnal Pendidikan Vokasi Raflesia, 5. , 98Ae103. https://doi. org/10. 53494/jpvr. Penerbit: Politeknik Raflesia jpvraflesia@gmail. PENDAHULUAN Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Pendidikan Kejuruan didefinisikan sebagai program yang mengajarkan keterampilan khusus yang dibutuhkan siswa untuk bekerja di suatu industri tertentu. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 1990 memberikan definisi yang lebih tepat tentang pendidikan kejuruan, yang didefinisikan sebagai kurikulum sekolah menengah yang menekankan pada penyiapan siswa untuk pekerjaan tertentu. Pasal 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Sekolah Nasional mendefinisikan SMK sebagai satuan pendidikan menengah yang terutama melatih siswa untuk pekerjaan tertentu (Mahande, 2. Pendidikan kurikulum juga membekali siswa dengan kompetensi dan keterampilan khusus, mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja dan memberikan kontribusi yang berarti di bidang pilihan mereka. pendidikan kejuruan bertujuan untuk menghasilkan pekerja profesional yang beretika dan mampu menghasilkan barang berkualitas tinggi yang dapat bersaing dalam skala global. Namun pada kenyataanya,di Indonesia masih terdapat banyak strategi kurikulum yang belum di implementasikan secara efektif. Hal ini menjadi masalah besar di Indonesia,terutama terkait dengan tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan. Tujuan pendidikan Copyright . 2025 Kamila et al. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Kamila et al. Pendidikan Kejuruan dan Realita Pengangguran: Solusi untuk Masa Depan Lulusan SMK di Indonesia Jurnal Pendidikan Vokasi Raflesia. Volume 5. Nomor 2. Oktober 2025, 98-103 vokasi adalah menyiapkan siswa agar siap kerja, namun banyak lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kurikulum tidak sesuai dengan kebutuhan sektor Pada bulan Agustus 2024, sebanyak 7,47 juta orang tercatat sebagai pengangguran menurut survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah ini menunjukkan penurunan sebanyak 390 ribu orang di banding tahun sebelumnya. Dari segi pendidikan, lulusan D4,S1,S2,dan S3 mengalami peningkatan dalam hal kesempatan untuk bekerja. Selain itu, terdapat juga penurunan tingkat pengangguran di kalangan lulusan SD hingga SMP. Di sisi lain, tingkat pengangguran di Indonesia sangat tinggi di kalangan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jumlahnya masih lebih banyak daripada lulusan jenjang lainnya, meskipun angkanya terus menurun dari tahun ke tahun. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu suatu proses penelitian yang melibatkan pengumpulan informasi dan data dari berbagai sumber pustaka, termasuk buku referensi, artikel, catatan, jurnal, dan penelitian terdahulu yang Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan jawaban atas permasalahan terkini dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menarik kesimpulan dari data menggunakan metodologi atau prosedur tertentu (Sari & Asmendri, 2. Tinjauan pustaka merupakan suatu metode pengumpulan informasi dengan cara membaca dan menganalisis sejumlah sumber yang berkaitan dengan masalah yang sedang Membaca berbagai sumber, membuat catatan, dan menganalisis data yang diperoleh merupakan langkah-langkah dalam mengumpulkan informasi yang diperlukan, yang kemudian digunakan untuk mengembangkan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran dan tujuan pendidikan vokasi dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa sangatlah krusial dan strategis. Sistem sekolah menengah kejuruan di Indonesia dikenal sebagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan terletak pada jenjang pendidikan menengah. Bagian penting dari SMK adalah membantu siswa mengembangkan keterampilan yang mereka perlukan untuk berhasil dalam karier yang mereka pilih. Dalam prosesnya. SMK telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan menghasilkan tenaga kerja yang terampil. Mengingat pentingnya peran dan fungsi SMK, pendidikan vokasi secara konsisten telah menjadi tolok ukur keberhasilan suatu daerah dan kini menjadi pusat perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Sebagai hasil dari pengenalannya. SMK telah memicu kontroversi sengit mengenai apakah SMK efektif dalam mempersiapkan siswa untuk dunia kerja (Oroh, 2. Di Indonesia,implementasi kurikulum masih menghadapi tantangan besar karena banyak strategi yang belum terlaksana dengan baik. Akibatnya, angka pengangguran di kalangan lulusan tetap tinggi. Meskipun pendidikan kejuruan di rancang untuk mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja,kesenjangan antara kurikulum yang di terapkan dan kebutuhan industi menyebabkan banyak lulusan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Selain itu, kualitas pendidikan yang kurang memadai dan kurangnnya keterampilan yang relevan juga memperburuk situasi,sehingga menimbulkan hambatan serius dalam pengembangan tenaga kerja di Indonesia. Data pengangguran di Indonesia menunjukkan bahwa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tetap menjadi penyumbang terbesar dalam angka pengangguran, meskipun terjadi penurunan dari tahun ke tahun. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik . , terdapat sekitar 7,47 juta orang yang menganggur, di mana 9,01 persen di antaranya adalah lulusan SMK. Meskipun angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, lulusan SMK masih Copyright . 2025 Kamila et al. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Kamila et al. Pendidikan Kejuruan dan Realita Pengangguran: Solusi untuk Masa Depan Lulusan SMK di Indonesia Jurnal Pendidikan Vokasi Raflesia. Volume 5. Nomor 2. Oktober 2025, 98-103 mendominasi jumlah pengangguran dibandingkan dengan lulusan dari jenjang pendidikan Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah data tingkat pengangguran berdasarkan pendidikan dari tahun 2019 hingga 2024: Tabel1. Tingkat Pengangguran 2019-2024. Tahun Persentase 10,36 13,55 11,13 9,42 9,31 9,01 Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), "Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia," Agustus 2024. Dengan tantangan-tantangan ini, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Penerapan Kurikulum Merdeka di SMK menjadi salah satu langkah yang diharapkan dapat menjembatani kesenjangan ini dengan memberikan pendekatan yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan industri. Meskipun terdapat banyak tantangan dalam implementasinya, keberhasilan dalam pendidikan vokasi akan sangat berkontribusi terhadap pengurangan angka pengangguran dan peningkatan kualitas tenaga kerja di Indonesia. Menurut Tita,Beberapa faktor lain yang berkontribusi pada tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan adalah : Pertumbuhan Penduduk yang Cepat Peningkatan jumlah pendidik di Indonesia yang terus menerus telah memberikan tekanan pada pasar tenaga kerja negara ini yang sudah kewalahan. Kesenjangan Pendidikan Penyebab umum pengangguran struktural adalah ketidaksesuaian antara tuntutan pasar kerja dan kesempatan pendidikan yang tersedia bagi masyarakat umum. Sayangnya, banyak lulusan baru tidak memiliki keterampilan yang dapat dipasarkan Pertumbuhan Ekonomi yang tidak seimbang Meskipun perekonomian Indonesia membaik, tidak semua lapangan pekerjaan baru yang tercipta berada di sektor formal. Keterbatasan Penampilan Banyak orang tidak memiliki pengetahuan atau kemampuan yang diperlukan untuk bekerja di industri informasi, teknologi, manufaktur canggih, dan jasa saat ini. Kurangnya Keterlibatan Industri Lulusan mengalami kesulitan untuk memasuki dunia kerja karena adanya kesenjangan antara pembelajaran di kelas dan tuntutan dunia nyata dari pemberi kerja. Implikasi-implikasi yang telah di uraikan dapat di atasi menggunakan beberapa strategi penanggulangan pengangguran di Indonesia meliputi: Copyright . 2025 Kamila et al. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Kamila et al. Pendidikan Kejuruan dan Realita Pengangguran: Solusi untuk Masa Depan Lulusan SMK di Indonesia Jurnal Pendidikan Vokasi Raflesia. Volume 5. Nomor 2. Oktober 2025, 98-103 Wirausaha Menanamkan pola pikir kewirausahaan sangat penting untuk menurunkan angka pengangguran karena memungkinkan orang untuk menghayati sifat dan prinsip wirausahawan yang sukses dan menggunakannya sebagai landasan bagi semua tindakan mereka. Tujuan dari mendorong semangat kewirausahaan adalah untuk memberikan para pengangguran keyakinan untuk memulai bisnis mereka sendiri, yang diharapkan akan mengarah pada penciptaan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang lain. (Munthe & Nanawi,2. Balai Latihan Kerja (BLK) Berdasarkan hasil penelitian. Balai Latihan Kerja (BLK) di Kabupaten Pidie memiliki peran signifikan dalam mengurangi tingkat pengangguran melalui program pelatihan berbasis kompetensi. Dalam lima tahun terakhir. BLK berhasil melatih 5. 220 peserta, dengan 55% lulusan telah bekerja, 35% masih mencari pekerjaan, dan 10% belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Metode pelatihan yang berfokus pada praktik . %) dibandingkan teori . %) terbukti meningkatkan keterampilan teknis dan kepercayaan diri peserta, sehingga mereka lebih siap memasuki dunia kerja atau menciptakan lapangan kerja secara mandiri (Zulfikar &Zulkifli,2. UMKM UMKM memiliki peran yang sangat signifikan dalam kebijakan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran melalui berbagai mekanisme, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penguatan ekonomi berbasis komunitas. UMKM menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama bagi kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang terbatas, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di berbagai daerah. Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah telah diterapkan untuk mendukung peran UMKM dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Program-program seperti bantuan permodalan, subsidi bunga kredit, pelatihan keterampilan usaha, serta penyederhanaan regulasi perizinan telah memberikan dampak positif bagi pertumbuhan UMKM. Misalnya, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memberikan akses permodalan dengan bunga rendah telah membantu banyak pelaku usaha kecil dalam mengembangkan bisnis mereka. Selain itu, kebijakan yang mendukung digitalisasi UMKM, seperti pelatihan e-commerce dan akses ke pasar digital, juga berperan dalam meningkatkan daya saing UMKM di era globalisasi (Harahap,DKK,2. Beberapa simpulan penting mengenai hubungan antara pendidikan kejuruan dan kenyataan pengangguran di Indonesia dapat diambil dari analisis data dan pembahasan yang telah diberikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lulusan sekolah menengah kejuruan memiliki tingkat pengangguran yang jauh lebih tinggi daripada seluruh penduduk, yang bertentangan dengan tujuan pendidikan kejuruan, yaitu menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Meskipun lapangan pekerjaan di berbagai sektor industri terlihat terbuka, sejumlah faktor seperti kualitas lulusan, relevansi kurikulum, dan ketersediaan fasilitas pendidikan menjadi tantangan signifikan dalam penyerapan tenaga kerja lulusan SMK. Solusi strategis yang telah diidentifikasi, yaitu peningkatan kualitas pelatihan dan pendidikan siswa SMK, pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan industri, serta pembenahan fasilitas pendidikan, menjadi krusial untuk menjembatani kesenjangan ini. Implementasi solusi-solusi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing lulusan SMK dan pada akhirnya berkontribusi pada penurunan Copyright . 2025 Kamila et al. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Kamila et al. Pendidikan Kejuruan dan Realita Pengangguran: Solusi untuk Masa Depan Lulusan SMK di Indonesia Jurnal Pendidikan Vokasi Raflesia. Volume 5. Nomor 2. Oktober 2025, 98-103 angka pengangguran di Indonesia. Dengan demikian, pendidikan kejuruan dapat memainkan perannya secara lebih efektif dalam mempersiapkan generasi muda yang kompeten dan produktif bagi masa depan bangsa. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Di Indonesia, lulusannya dipersiapkan dengan baik untuk memasuki dunia kerja berkat pendidikan vokasi, khususnya dalam bentuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Meskipun demikian, para lulusan menghadapi tingkat pengangguran yang signifikan karena ketidaksesuaian kurikulum antara sekolah kejuruan dan kebutuhan industri. Persentase pengangguran tersebut telah menurun, meskipun mereka yang memiliki ijazah sekolah menengah kejuruan masih merupakan mayoritas. Masalah ini diperburuk oleh sejumlah penyebab, seperti populasi yang terus meningkat, kesenjangan pendidikan, pembangunan ekonomi yang tidak merata, tidak adanya kandidat yang berkualitas, dan kurangnya keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum. Saran Peningkatan Kualitas Kurikulum: Diperlukan pengembangan kurikulum yang lebih adaptif dan relevan terhadap kebutuhan industri saat ini. Kolaborasi antara pendidikan dan sektor industri harus diperkuat untuk memastikan bahwa siswa memperoleh keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja. Pelatihan Praktis yang Lebih Banyak: Mendorong institusi pendidikan untuk menyediakan lebih banyak pelatihan berbasis praktik, yang dapat meningkatkan keterampilan teknis dan kesiapan lulusan untuk terjun ke dunia kerja. Penguatan Program Kewirausahaan: Mendorong pendidikan kewirausahaan di kalangan siswa SMK agar mereka memiliki kompetensi untuk menciptakan lapangan kerja melalui usaha mandiri. Peningkatan Program Balai Latihan Kerja (BLK): Memperkuat dukungan terhadap BLK agar dapat lebih efektif dalam memberikan pelatihan yang tepat guna dan meningkatkan peluang kerja bagi para peserta didik. DAFTAR PUSTAKA